Apa yang Dimaksud dengan Kasih Sayang dalam Islam?

Kasih sayang merupakan suatu perasaan emosional, yang melibatkan kedekatan, keintiman, dan sensitivitas terhadap orang lain. Psychology Dictionary

Kasih sayang merupakan sesuatu yang mengalir di antara manusia, diterima, dan diberikan. Untuk memberikan maupun merasakan kasih sayang, seseorang membutuhkan suatu bentuk usaha.

Apa yang dimaksud dengan kasih sayang didalam Islam ?

3 Likes

Dalam Al-Qur’an, kasih sayang dipresentasikan dalam kata Ar-Rahmah (kasih sayang). Kasih sayang merupakan sifat Allah yang paling banyak diungkapkan dalam al-Qur`an dalam bentuk kata yang berbeda yaitu Ar-Rahman yang biasanya dirangkaikan dengan kata Ar-Rahim yang berarti pengasih dan penyayang yang menunjukkan sifat-sifat Allah. Kata rahman dan rahim merupakan sifat Allah yang paling banyak diungkapkan dalam Al-Quran, yaitu sebanyak 114 kali.

Menurut Abdullah Nashih Ulwan, kasih sayang dapat diartikan kelembutan hati dan kepekaan perasaan sayang terhadap orang lain.

Menurut Jalaluddin, penyebutan sebanyak itu bermakna bahwa Allah memberikan kepada manusia sifat-sifat-Nya sendiri untuk menjadi potensi yang dapat dikembangkan. Kemudian dalam hubungannya dengan sifat Maha Pengasih dan Maha Penyayang ini, Allah memerintahkan agar manusia bersifat pengasih dan penyayang, jika mereka ingin memperoleh kasih sayang dari Allah.

Baik Ar-Rahman maupun Ar-Rahim pada dasarnya memiliki pengertian yang sama, akan tetapi Ar-Rahman cenderung pada sifat kasih sayang Allah di akhirat, sedangkan Ar-Rahim cenderung pada sifat kasih sayang Allah di dunia.

Selain itu ada bentuk kata lain dalam Al-Quran yang mempunyai arti kasih sayang yaitu Mahabbah, Ar-rahmah dan mawaddah.

  • Mahabbah merupakan bentuk kata yang berasal dari kata hubb yang artinya cinta atau mencintai, baik dalam konteks ke-Tuhanan (cinta Allah kepada makhluk- Nya dan cinta makhluk kepada Allah), maupun konteks kemanusiaan.

  • Ar-rahmah dan mawaddah, keduanya memiliki arti yang sama, yaitu kasih sayang, namun Ar-rahmah cenderung pada kasih sayang yang bersifat ukhrawi, sedangkan mawaddah cenderung pada kasih sayang yang bersifat duniawi.

Dalam Asmaul Husna, banyak sekali nama-nama Allah yang menunjukkan sifat- sifat kasih sayang sayang-Nya, antara lain Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Latif, Al-Hakim, dan Al-Ghafur. Semuanya memiliki arti yang berbeda secara lughawi namun secara ma`nawi memiliki arti yang sama, yaitu menunjukkan sifat-sifat kasih sayang Allah.

Dasar Kasih Sayang


Kasih sayang merupakan salah satu sifat mulia yang ditanamkan Allah kepada manusia, dan karena sifat inilah Allah akan mengampuni dosa manusia yang mau bertaubat dengan sungguh- sungguh sebagai wujud kasih sayangnya. Firman Allah:

Katakanlah: “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi”. Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang. Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Orang-orang yang meragukan dirinya mereka itu tidak beriman. (Q. S. Al- An’am:12).

Dalam ayat lain disebutkan:

Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang yaitu bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kebodohan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (Q. S. Al- An`am: 54).

Allah telah menjadikan kasih sayang sebagai bagian dari penciptaan bumi dan segala isinya. Seperti yang terdapat dalam hadis Nabi saw.:

“Dari Abi Hurairah, ia berkata: saya mendengar Rasulullah saw. berkata: Allah menciptakan rasa kasih sayang itu menjadi seratus bagian. Sembilan puluh sembilan daripadanya disimpan di sisi- Nya, sedangkan satu bagian diturunkan ke bumi. Dengan kasih sayang yang satu bagian itulah para makhluk saling berkasih sayang, sehingga sehingga kuda pun mengangkat kakinya karena takut anaknya terinjak.” (H. R. Muslim).

Rasulullah bersabda:

“Dari abu Jarir Ibnu Abdillah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda, Barang siapa yang tidak mengasihi manusia maka tidak akan dikasihi oleh Allah azza wajalla.” (H. R. Muslim).

Dalam hadis lain disebutkan bahwa Rasulullah saw. sangat menyayangi anak kecil, seperti salah satu hadis berikut:

“Dari Aisyah, beliau berkata: Ada seorang Arab dusun yang datang kepada Nabi saw., sambil berkata: engkau menciun anak-anak itu, sedangkan kami tidak pernah mencium mereka. Lalu Nabi saw. menjawab: Apakah dayaku, jika Allah telah mencabut kasih sayang dari hatimu.” (H. R. Muslim).

Begitulah baik dalam Al-Quran maupun hadis, kasih sayang merupakan bagian terpenting dari diturunkannya Islam ke dunia, dan yang pasti karena kasih sayanglah risalah Islam sampai kepada kita.

Selain dasar-dasar dari Al-Quran dan hadis di atas, kita bisa mengambil dasar filosofis, bahwa pada dasarnya manusia dilahirkan atas dasar kasih sayang, dengan membawa potensi kasih sayang, dan membutuhkan kasih sayang. Potensi dan kebutuhan tersebut menjadikan manusia berusaha memberi dan memperoleh kasih sayang dengan berbagai cara. Di samping itu sebagai makhluk sosial, dan dalam berinteraksi sosial, kasih sayang merupakan dasar utama yang harus dipegang dalam pergaulan sehari-hari – baik antara individu dengan individu, ataupun individu dengan masyarakat.

Kasih Sayang Sebagai Fitrah

Semua makhluk ciptaan Allah di dunia ini memiliki kondisi dan potensi masing- masing. Begitu juga manusia, dalam kapasitasnya sebagai makhluk yang paling sempurna – dengan akal, perasaan, dan nafsu yang dimilikinya. Manusia adalah satu-satunya makhluk ciptaan Allah yang mampu mewujudkan bagian tertinggi dari kehendak Allah dan menjadikan adanya sejarah. Selain itu manusia juga makhluk kosmis yang sangat penting, karena dilengkapi dengan semua pembawaan dan syarat-syarat yang diperlukan sebagai makhluk.

Di sisi lain, manusia merupakan puncak ciptaan dan makhluk Allah yang paling tinggi, yang memiliki keistimewaan dengan status dan tanggungjawabnya sebagai khalifah Allah di bumi. Atas dasar itu manusia dipercaya untuk memikul amanat berupa tugas untuk menciptakan tata kehidupan yang bermoral dan berkebudayaan dengan akal dan perasaan yang dimilikinya.

Dalam fitrah manusia sebagai makhluk yang mempunyai perasaan, salah satu potensi yang dimiliki oleh manusia adalah potensi rasa kasih sayang yang ada pada dirinya sejak lahir. Kasih sayang adalah fitrah karena merupakan bagian dari kebutuhan manusia. Fitrah ini merupakan kemuliaan yang ditanamkan oleh Allah dalam setiap hati manusia yang kadarnya sama. Hanya saja, berkembang atau tidaknya fitrah ini tergantung seberapa besar fitrah ini diasah dalam fase-fase berikutnya.

Bagi orang tua, menyayangi dan mencintai anak merupakan fitrah yang agung dan mulia yang diberikan oleh Allah – terutama ibu – dalam mendidik anak-anak nya. Rasulullah saw. bersabda:

“Dari Ibnu Abbas, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Bukan termasuk golongan kami, orang yang tidak mengasihi (orang yang) lebih kecil, dan (orang yang) tidak mengetahui hak orang yang lebih besar.” (H. R. Muslim).

Fitrah ini – seperti juga fitrah-fitrah yang lain – juga memerlukan bimbingan dan latihan. Jika tidak, maka akan mengalami salah penyesuaian. Sejak dini, jika anak telah diajarkan atas dasar kasih sayang, maka pada tahap berikutnya secara konsisten anak akan mengaplikasikannnya – bahkan tanpa disadarinya. Sedangkan sebaliknya, jika sejak dini anak tidak diajarkan bagaimana berinteraksi dengan dan atas dasar kasih sayang, maka sudah dapat diduga apa yang akan terjadi selanjutnya.

Bentuk-Bentuk Kasih Sayang dalam Islam.

Islam dengan keuniversalannya merupakan agama yang paling lengkap menjelaskan tentang semua aspek dalam kehidupan - termasuk kasih sayang. Ada beberapa bentuk perwujudan kasih sayang yang dijelaskan dalam Al- Qur`an, yaitu shilaturrahim (silaturrahmi) dan ukhuwah (persaudaraan).

1. Shilaturrahim (silaturrahmi).

Silaturrahmi, yang dalam Islam biasa disebut shilaturrahim, adalah kata majemuk yang diambil dari dua kata, shilat dan rahim. Kata shilat berakar dari kata washal, yang berarti menyambung dan menghimpun. Sedangkan kata rahim, pada mulanya berarti kasih sayang yang kemudian berkembang sehingga berarti pula peranakan (kandungan), karena anak yang di kandung selalu mendapatkan curahan kasih sayang. Salah bukti yang paling konkret tentang shilaturrahim yang berintikan rasa kasih sayang adalah pemberian yang tulus tanpa mengharapkan balasan yang diberikan oleh orang tua, terutama ibu kepada anak.

Menurut Azyumardi Azra, secara harfiyah silaturrahmi berarti menghubungkan kasih sayang. Hubungan kasih sayang yang sarat dengan nilai-nilai persaudaraan dan kesetiakawanan baik antara sesama muslim, maupun antara sesama manusia.

Silaturrahmi merupakan keutamaan dalam Islam dan bagian penting dari agama Islam. Silaturrahmi merupakan sarana yang paling ampuh untuk mewujudkan persaudaraan menuju persatuan. Silaturrahmi mencakup hal-hal yang mendorong suatu pergaulan yang harmonis antara individu dengan individu, dan individu dengan masyarakat.

Silaturrahmi merupakan unsur penting dalam membina ukhuwah Islamiyah. Seseorang yang mempraktekkan nilai silaturrahmi secara lebih luas, maka dengan sendirinya akan terbina persaudaraan. Dari silaturrahmi akan terjadi ta`aruf atau saling mengenal.

Dalam tradisi Islam, ada satu tradisi yang biasa dinamakan halal bihalal. Menurut pakar-pakar hukum Islam, halal bihalal dalam tinjauan hukum adalah adanya hubungan yang halal. Dengan demikian, dalam konteks ini halal bihalal akan menjadikan sikap yang tadinya haram atau berdosa, menjadi halal atau tidak berdosa lagi. Namun jika kita lihat dari konteks ini, maka halal bihalal akan sedikit bergeser dari makna shilaturrahmi.

Meskipun demikian, baik shilaturrahim maupun halal bihalal keduanya mengandung unsur maaf-memaafkan, untuk kemudian berbuat baik terhadap orang yang pernah melakukan kesalahan. Halal bihahal bukan saja menuntut seseorang untuk memaafkan orang lain, tetaapi juga agar berbuat baik kepada siapapun. Itulah landasan filosofis dalam setiap aktivitas manusia yang dimaksud dalam Al- Quran, yang juga dijadikan sebagai landasan filosofis bagi siapa saja yang melakukan halal bihalal agar kembali pada tujuan semula, yakni menyambung tali silaturrahmi.

Dalam tradisi kaum sufi, silaturrahmi ini disebut dengan ziarah.mereka sangat menganjurkan – bahkan menjadi ajaran utama bagi kaum sufi, sebab hakikat dari shilaturrahmi adalah menjalin dan menebarkan kasih sayang. Menebarkan kasih sayang itulah yang menjadi dari ajaran kaum sufi, baik kasih sayang kita kepada Allah, sesama manusia, maupun sesama makhluk.

Silaturrahmi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan. Sebagai amalan, shilaturrahmi dapat dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan bertemu dan saling mendoakan sesuai dengan maknanya yang berarti menghubungkan kasih sayang. Bagi orang mukmin silaturrahmi adalah keniscayaan, karena ia berkomunikasi dan berinteraksi dengan orang lain, masyarakat dan lingkungannya.

Banyak manfaat yang bisa kita peroleh dalam bersilaturrahmi. Rasulullah saw. Bersabda:

“Dari Anas Ibnu Malik, sesungguhnya Rasululah saw. telah bersabda: Barang siapa yang ingin diperbanyak rezekinya, dan dipanjangkan usianya, hendaklah ia menyambung silaturrahmi.” (H. R. Muslim).

Kontekstualisasi dari silaturrahmi ini bisa dilakukan kapanpun dan di manapun, baik dalam konteks individu, keluarga, masyarakat, bahkan dalam konteks berbangsa dan bernegara.

2. Ukuwah (persaudaraan).

Ukhuwah pada mulanya berarti “persamaan dan keserasian dalam banyak hal”- baik persaudaraan karena keturunan maupun persaudaraan karena persamaan sifat- sifat.

Ukhuwah berasal dari kata dasar akh yang berarti saudara, teman akrab atau sahabat. Bentuk jamak dari akh dalam Al- Quran ada dua macam. Pertama, ikhwan yang biasanya digunakan untuk persaudaraan dalam arti tidak sekandung. Kedua, ikhwah yang digunakan untuk makna persaudaraan satu keturunan. Dalam Al- Quran, hubungan aantar kaum mukmin disebut ikhwah bukan ikhwan, yang berarti bahwa orang mukmin bukan sekedar teman bagi mukmin yang lain, namun lebih dari itu adalah saudara.

Namun dalam ayat lain juga disebutkan sebagai ikhwan. Struktur kata uhuwah sama dengan kata bunuwah dari kata ibnun yang artinya anak laki-laki. Ukhuwah sering di sandingkan dengan kata islamiyah yang berarti persaudaraan sesama muslim, yang merupakan salah satu pokok ajaran Islam yang mengajarkan persamaan. Konsep ini merupakan satu tawaran bagi ummat manusia (dibedakan dari konsep ummah) untuk merujuk kemanusiaan. Konsep ukhuwah yang dinukil dalam Al-Quran ini mengandung perluasan makna sebagai persamaan dan keserasian dalam banyak hal.

Kalau kita mengartikan ukhuwah dalam arti persamaan, maka paling tidak kita akan menemukan ukhuwah tersebut tercermin dalam beberapa hal yaitu:

  • Ukhuwah fi al-Ubudiyyat, yang mengandung arti persamaan dalam ciptaan dan ketundukan kepada Allah sebagai Pencipta. Persamaan seperti ini mencakup persamaan antara sesama makhluk ciptaan Allah.

  • Ukhuwah fi al-Insaniyyat, yang mengandung pengertian bahwa manusia memiliki persamaan dalam asal keturunan (dari Adam dan Hawa). Persamaan ini menjadikan manusia memiliki dasar persaudaraan kemanusiaan dalam ruang lingkup yang luas dan permanen. Luas dalam arti universal (tidak terbatas pada letak geografis, bahasa, suku dan sebagainya), dan permanen dalam arti berlaku sepanjang zaman selama masih hidup.

  • Ukhuwah fi al-Wahdaniyyat wa an-Nasab, yang meletakkan dasar persamaan pada unsur bangsa dan hubungan pertalian darah.

  • Ukhuwah fi Din al-Islam, yang mengacu pada persamaan keyakinan (agama) yang dianut, yaitu Islam. Dasar persamaan ini menempatkan kaum muslimin sebagai saudara, karena memiliki akidah yang sama. Komunitas muslim yang memiliki identitas sama atas dasar persamaan akidah seperti ini dikenal sebagai ummah. Jaadi, merekaa yang seiman, adalah bersaudara.

Menurut Quraish Shihab, ukhuwah Islamiyah mengarah pada arti yang lebih luas dari sekadar persaudaraan sesama muslim. Konsep ukhuwah islamiyah lebih diartikan sebagai persaudaraan yang bersifat Islam, atau persaudaraan secara Islam.

Tampaknya, apa yang diungkapkan oleh Quraish Shihab tersebut bisa lebih diterima, terutama dalam kaitannya dengan amanat yang dibebankan kepada manusia yang bertugas sebagai khalifah di bumi dan bertanggungjawab dalam pengelolaan kehidupan di bumi.

Uhkuwah Islamiyah, seperti halnya hubungan persaudaraan antar anggota keluarga tertentu, sebagai suatu komunitas tentu mengandung nilai-nilai pengikat tertentu, yang tumbuh dari keyakinan dogmatis maupun yang tumbuh secara naluriah atau fitriyah. Tetapi meskipun ada pengikat yang kuat, masing-masing pasti memiliki ciri khas, watak, dan latar belakang yang berbeda.

Seperti diketahui, perbedaan sudah merupakan kodrat manusia. Padahal dalam memelihara kehidupan, sebagai khalifah manusia dituntut untuk membina kerukunan. Dan kerukunan perlu ditopang oleh unsur persamaan dan persaudaran dalam arti luas. Keduanya hanya mungkin berjalan secara harmonis, bila didasarkan atas rasa kasih sayang yang sekaligus menjadi identitasnya. Dalam konteks inilah, kasih sayang sangat diperlukan bagi tugas kekhalifahan manusia dalam memakmurkan bumi.

Persaudaraan antara sesama muslim merupakan ikatan kasih sayang. Kasih sayang antar sesama muslim merupakan indikator keimanan seseorang, seperti hadis Nabi “tidak sempurna iman seseorang hingga ia mau mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri”.

Selain kasih sayang, unsur pengikat yang dalam upaya menumbuhkan ukhuwah Islamiyah adalah keimanan atas Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW. ikatan akidah inilah yang paling kuat daripada ikatan darah atau keturunan, dan merupakan pondasi yang kokoh dalam membangun ukhuwah Islamiyah. Rasa dan keyakinan satu Tuhan, satu Rasul dan sati iman, akan menumbuhkan rasa kasih sayang yang kemudian diwujudkan dalam sikap dan perilaku sehari-hari.

Ukhuwah yang benar akan melahirkan perasaan-perasaan mulia dan sikap positif untuk saling menolong antar satu dengan yang lain. Oleh karena itu, Islam mewajibkan persaudaraan di jalan Allah. Ketentuan-ketentuan dan keharusannya telah dijelaskan dalam beberapa ayat dan hadis, antara lain:

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah di antara kedua saudaramu.” (Q. S. Al- Hujurat: 10).

“Kami akan membantumu dengan saudaramu.” (Q.S. Al-Qashash: 35).

“Dan ingatlah akan nikmat-nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu jadilah kamu, karena nikmat Allah sebagai orang-orang yang bersaudara.” (Q. S. Ali Imran: 103).

“Dari Anas Bib Malik, Rasulullah saw. bersabda: Tidak sempurna iman seseorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (H. R. Muslim).

Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa kasih sayang merupakan bagian dari keimanan seseorang. Orang yang tidak mengasihi saudaranya direpresentasikan sebagai orang yang tidak sempurna imannya – walaupun kuat ibadahnya.

Rasulullah saw. mengibaratkan mukmin satu dengan yang lainnya bagaikan satu bangunan dan satu tubuh, yang saling menunjang antara satu bagian dengan baagian yang lainnya. Jika kehilangan satu bagian saja, maka tubuh atau bangunan tersebut tidak akan sempurna dan kokoh. Atau jika satu bagian dari tubuh menderita sakit, maka bagian tubuh yang lain juga akan merasakan sakit. Rasulullah saw. bersabda:

“Dari Nu`man Ibnu Basyir, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Perumpamaan bagi orang-orang yang beriman dalam saling mencintati, saling mengasihi, dan saling tolong menolong seperti sebatang tubuh. Kalau ada salah satu anggota tubuh yang terkena penyakit, maka seluruh batang tubuh ikut menderita tidak dapat tidur dan menderita panas.” (H. R. Muslim).

Dalam hadis lain disebutkan:

“Dari Abu Musa, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: Orang mukmin dengan mukmin yang lain bagaikan saatu bangunan yang saling menguatkan antara satu dengan yang lain.” (H. R. Muslim).

Di samping itu masih banyak lagi ayat dan hadis yang secara implisit menjelaskan tentang pentingnya ukhuwah dalam bersosialisasi di manapun dan dengan siapapun. Al-Quran dan hadis tidak pernah menjelaskan secara eksplisit tentang definisi ukhuwah Islamiyah, tetapi metode yang digunakan adalah dengan memberikan contoh- contoh yang nyata tentang ukhuwah itu. Ini berarti, Islam lebih menekankan ukhuwah Islamiyah pada persoalan praktis daripada sekedar teoritis. Dengan demikian, praktik yang sebenarnya dari ukhuwah Islamiyah akan menunjukkan pada manusia hasil- hasil yang konkret dalam kehidupan. Dan untuk memantapkannya, yang dibutuhkan bukan sekadar ukhuwah yang menyangkut perbedaan persepsi, tetapi lebih dari itu bagaimana langkah- langkah bersama yang dilakukan sebagai tindakan yang lebih reflektif dari makna ukhuwah Islamiyah yang sebenarnya.

Demikian juga ukhuwah yang menimbulkan sikap saling pengertian, saling melengkapi kekurangan dengan dasar keikhlasan demi kemaslahatan, merupakan potensi yang selalu didambakan oleh semua ummat. Tentu saja dalam hal ini masing-masing harus berada pada porsinya sesuai dengan potensi yang dimiliki, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dengan demikian, ukuwah – secara universal - akan berjalan selaras, serasi, dan seimbang.

Referensi
  • Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam; Pendidikan Sosial Anak, (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1996).
  • M. Quraish Shihab, Membumikan Al- Quran, (Bandung: Mizan, 2000).
  • Jalaluddin, Teologi Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002),
  • Jalaluddin Abu Bakar As-Suyuthi, Al- Jami` Al- Shaghir, Juz 1-2 (Mesir: Darul Kutub Al- Ilmiyah, t. th.), hlm. 471.
  • Hamim Thohari, Shilarurrahmi dalam Perspektif Tasawwuf, (Gontor: Majalah Gontor, Edisi. 7, Nopember 2004).
3 Likes