Apa yang dimaksud dengan Karies Gigi?

Karies gigi

Karies gigi adalah sebuah penyakit infeksi yang merusak struktur gigi. Penyakit ini menyebabkan gigi berlubang. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, penanggalan gigi, infeksi, berbagai kasus berbahaya, dan bahkan kematian.

Apa yang dimaksud dengan Karies Gigi ?

Karies gigi adalah suatu proses kronis, regresif yang dimulai dengan larutnya mineral email, sebagai akibat terganggunya keseimbangan antara email dan sekelilingnya yang disebabkan oleh pembentukan asam mikrobial dari substrat (medium makanan bagi bakteri) yang dilanjutkan dengan timbulnya destruksi komponen-komponen organik yang akhirnya terjadi kavitasi (pembentukan lubang) (Kennedy, 2002).

Karies dentis merupakan proses patologis berupa kerusakan yang terbatas di jaringan gigi mulai dari email kemudian berlanjut ke dentin. Karies dentis ini merupakan masalah mulut uatama pada anak dan remaja, periode karies paling tinggi adalah pada usia 4-8 tahun pada gigi sulung dan usia 12-13 tahun pada gigi tetap, sebab pada usia itu email masih mengalami maturasi setelah erupsi, sehingga kemungkinan terjadi karies besar. Jika tidak mendapatkan perhatian karies dapat menular menyeluruh dari geligi yang lain (Behrman, 2002).

Jenis karies gigi

Menurut Widya (2008), jenis karies gigi berdasarkan tempat terjadinya :

  1. Karies Insipiens
    Merupakan karies yang terjadi pada permukaan email gigi (lapisan terluar dan terkaras dari gigi), dan belum terasa sakit hanya ada pewarnaan hitam atau cokelat pada email.

  2. Karies Superfisialis
    Merupakan karies yang sudah mencapai bagian dalam dari email dan kadang-kadang terasa sakit.

  3. Karies Media
    Merupakan karies yang sudah mencapai bagian dentin ( tulang gigi ) atau bagian pertengahan antara permukaan gigi dan kamar pulpa. Gigi biasanya terasa sakit bila terkena rangsangan dingin, makanan asam dan manis.

  4. Karies Profunda
    Merupakan karies yang telah mendekati atau bahkan telah mencapai pulpa sehingga terjadi peradangan pada pulpa. Biasanya terasa sakit secara tiba-tiba tanpa rangsangan apapun. Apabila tidak segera diobati dan ditambal maka gigi akan mati, dan untuk perawatan selanjutnya akan lebih lama dibandingkan pada karies-karies lainnya.

Proses Terjadinya Karies Gigi

Proses terjadinya karies gigi dimulai dengan adanya plak di permukaan gigi, sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri berproses menempel pada waktu tertentu yang berubah menjadi asam laktat yang

akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5) yang akan menyebabkan demineralisasi email berlanjut menjadi karies gigi (Suryawati, 2010).

Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan ke arah dentin melalui lubang fokus tetapi belum sampai kavitasi (pembentukan lubang). Kavitasi baru timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Namun kadang-kadang begitu banyak mineral hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara mekanis, yang menghasilkan kavitasi yang makroskopis dapat dilihat.

Pada karies dentin yang baru mulai yang terlihat hanya lapisan keempat (lapisan transparan, terdiri atas tulang dentin sklerotik, kemungkinan membentuk rintangan terhadap mikroorganisme dan enzimnya) dan lapisan kelima (lapisan opak/ tidak tembus penglihatan, di dalam tubuli terdapat lemak yang mungkin merupakan gejala degenerasi cabang-cabang odontoblas). Baru setelah terjadi kavitasi, bakteri akan menembus tulang gigi. Pada proses karies yang amat dalam, tidak terdapat lapisan-lapisan tiga (lapisan demineralisasi, suatu daerah sempit, dimana dentin partibular diserang), lapisan empat dan lapisan lima (Suryawati, 2010).

Plak merupakan momok bagi mulut dan tidak terlihat oleh mata. Plak ini akan bergabung dengan air ludah yang mengandung kalsium, membentuk endapan garam mineral yang keras. Plak muncul sebagai substansi yang lembut dan liat/lengket yang melekat pada gigi hampir seperti selai melekat di sendok.

Pertumbuhan plak dipercepat dengan meningkatnya jumlah bakteri dalam mulut dan terakumulasinya bakteri dan sisa makanan. Jika tidak dibersihkan, maka plak akan membentuk mineral yang disebut dengan karang gigi yang meningkatkan resiko karies gigi (Muttaqin dkk, 2010).

Karies gigi merupakan proses multifactor, yang terjadi melalui interaksi antara gigi dan saliva sebagai host, bakteri normal di dalam mulut, serta makanan terutama karbohidrat yang mudah difermentasikan menjadi asam melalui proses glikolisis.

Bakteri yang berperan dalam glikolisis adalah Streptococcus mutans dan Lactobacillus acidophilus, sedangkan asam organic yang terbentuk antara lain asam piruvat dan asam laktat yang dapat menurunkan pH saliva, pH plak dan pH cairan sekitar gigi sehingga terjadi demineralisasi gigi (Kidd & Bechal, 1992).

Streptococcus mutans adalah organisme yang paling sering diisolasi dari lesi karies manusia. Bila kavitasi terjadi, laktobasili menjadi organisme yang menonjol (Alpers, 2006). Mineralisasi plak (pengerasan struktur plak karena pembentukan kristal kalsium, dan mineral-mineral lain dari saliva yang terkumpul dalam plak) terjadi setelah 24 jam, dan menjadi sepenuhnya mengeras dan berubah menjadi karang gigi (calculus) antara 12-20 hari. Setelah itu, plak baru akan terbentuk diatas kalkulus yang telah ada dan membentuk lapisan kalkulus yang baru. Oleh karena itu, kalkulus biasanya ditemukan berlapis-lapis (Muttaqin dkk, 2010).

Karies gigi merupakan penyakit multifaktorial dengan 4 faktor utama yang saling mempengaruhi yaitu hospes (saliva dan gigi), mikroorganisme, substrat atau diet, sebagai faktor tambahan yaitu waktu. Faktor sekunder lain yang penting adalah praktik hygiene oral, aliran saliva (Alpers, 2006). Karies gigi adalah sebuah penyakit infeksi yang merusak struktur gigi. Penyakit ini menyebabkan gigi berlubang. Jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, penanggalan gigi, infeksi, berbagai kasus berbahaya, dan bahkan kematian (Muttaqin dkk, 2010).

Karies gigi merupakan sebuah penyakit infeksi yang merusak struktur gigi, penyakit ini menyebabkan gigi berlubang. Jika tidak ditangani, penyakit ini akan menyababkan nyeri, gangguan tidur, penanggalan gigi, infeksi, berbagai kasus berbahaya, dan bahkan kematian. Penyebab penyakit tersebut karna konsumsi makanan yang manis dan lengket, malas atau salah dalam menyikat gigi, kurangnya perhatian kesehatan gigi dan mulut atau bahkan tidak pernah sama sekali memeriksa kesehatan gigi (Listiono, 2012).

Menekankan pentingnya memasukkan aspek kualitas hidup dalam menilai hasil- hasil program pelayanan kesehatan gigi dan mulut, penelitian yang dilakukan oleh Situmorang yang melakukan penelitian tentang dampak karies gigi dan penyakit periodontal yaitu keterbatasan fungsi, rasa sakit, dan ketidaknyamanan psikis. Buruknya gambaran perilaku kesehatan gigi penduduk dapat dilihat dari tingginya presentasi penduduk yang meyakini semua orang akan mengalami karies gigi (79,16 %), karies gigi sembuh tanpa perawatan dokter (24,44%), perawatan gigi menimbulkan rasa sakit (31,94), demikian juga dalam hal kebiasaan menyikat gigi presentase penduduk yang menyikat gigi pada waktu yang tepat yaitu sesudah makan sangat rendah (27,50%) (Situmorang, 2005).

Etiologi Karies


Mulut kita penuh akan bakteri yang terdapat pada gigi dalam bentuk plak, yang berasal dari saliva, maupun berasal dari sisa-sisa makanan. Disini, bakteri- bakteri tersebut memakan sisa-sisa makanan tang tertinggal pada gigi, kemudian bakteri tersebut menghasilkan atau memproduksi asam. Asam yang dihasilkan oleh bakteri inilah yang memakan lapisan email gigi sehingga terbentuk suatu kavitas.

Normalnya, ketika asam menggerogoti email, tidak terasa sakit. Tetapi karena tidak dirawat, asam yang menimbulkan kavitas tersebut menembus ke lapisan dentin dan sampai ke rongga pulpa dari gigi, sehingga dapat menimbulkan rasa sakit. Kavitas yang tidak dirawat, lambat dapat menghancurkan lapisan dentin dan pulpa serta dapat mematikan syaraf dari gigi tersebut.

Pencegahan karies


Pencegahan karies didasarkan pada upaya penambahan resistensi gigi, mengurangi jumlah organisme dalam mulut, mengubah diet dan kebiasaan makan. Resistensi gigi dapat ditingkatkan dengan menggunakan optimal flourida dan menutup oklusi. Mengurangi jumlah mikroorganisme dicapai dengan pembuangan menyeluruh plak setiap hari dengan menyikat dan membilas. Menggosok gigi harus mulai sesegera mungkin pada gigi pertama erupsi. Benang sutera (floss) gigi digunakan untuk membersihkan daerah tempat gigi berkontak langsung dan tidak dapat disikat. Penyikatan dapat dipermudah dengan menggunakan pegangan (Houwink, 1993).

Perlindungan terhadap gigi dapat dilakukan dengan cara, yaitu silen dan penggunaan flour dan klorheksidin (Angela, 2005).

  • Klorheksidin
    Klorheksidin merupakan antimikroba yang digunakan sebagai obat kumur, pasta gigi, permen karet.

  • Silen
    Silen harus ditempatkan secara selektif pada pasien yang beresiko karies tinggi prioritas diberikan pada molar pertama permanen di antara usia 6-8 tahun, molar kedua permanen di antara usia 11-12 tahun. Bahan silen yang digunakan dapat berupa resin. Silen resin digunakan pada gigi yang telah erupsi sempurna.

  • Penggunaan flour
    Flour telah digunakan secara luas untuk mencegah karies. Penggunaan flour dapat dilakukan dengan flourida air minum, pasta gigi dan obat kumur yang mengandung flour, pemberian tablet flour.

    Flour air minum merupakan cara yang paling efektif untuk menurunkan masalah karies pada anak secara umum. Penyikatan gigi dua kali sehari dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung flour terbukti dapat menurunkan karies. Obat kumur yang mengandung flour dapat menurunkan karies sebanyak 20-50% (angela, 2005).

    Menggunakan pasta gigi yang berflourida bisa menguatkan gigi dengan cara memasuki struktur gigi dan mengganti mineral-mineral yang hilang akibat pengaruh asam, proses ini disebut remineralisasi.

    Potter dan Perry (2005) mengungkapkan bahwa pemberian flour dalam air minum telah memainkan peran besar dalam mencegah karies gigi. Namun, semakin banyak menelan flourida akan mengakibatkan perubahan warna pada email gigi.

    Pasta gigi pada umumnya berwarna putih. Sebagai bahan pemolis biasanya digunakan kalsium fosfat, kalsium karbonat atau alumunium hidroksida, maksudnya adalah agar dapat menghilangkan lebih baik endapan berwarna pada gigi. Juga bahan pengaktif permukaan dimaksudkan untuk meningkatkan pembersihan. Pasta gigi digunakan dalam menggosok gigi karena berbagai alasan, pertama menyenangkan menyikat gigi karena rasanya dan dengan demikian menaikkan kebersihan mulut (Houwink, 1993).

  • Diet makanan
    Untuk mencegah kerusakan gigi, seseorang harus mengubah kebiasaan makan, mengurangi asupan karbohidrat, terutama kudapan manis diantara waktu makan. Makanan manis atau yang mengandung tepung akan menempel pada permukaan gigi. Setelah memakan yang manis, seseorang harus menggosok gigi dalam waktu 30 menit untuk mengurangi aksi plak. Makanan buah yang menganduk asam (mis. Apel dan makanan berserat seperti sayuran segar) juga mengurangi plak (Potter & Perry, 2005).

    Kebiasaan mengkonsumsi makanan dan minuman yang mengandung gula di anatara jam makan pada saat makan berhubungan dengan peningkatan karies yang besar. Faktor makanan yang dihubungkan dengan terjadinya karies adalah jumlah fermentasi, konsumsi dan bentuk fisik (bentuk cair, tepung) dari karbohidrat yang dikonsumsi, retensi dimulut, frekuensi makan dan snacks serta lamanya interval waktu makan. Anak yang beresiko karies tinggi sering mengkonsumsi makanan minuman manis di antara makan. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Suyuti, terdapat 50 % yang suka makanan manis dan lengket (Suyuti, 2010).

    Tindakan pencegahan karies tinggi lebih menekankan pada pengurangan konsumsi dan pengendalian frekuensi asupan gula yang tinggi. Hal ini dapat dilaksanakan dengan cara nasehat diet dan bahan pengganti gula. Nasehat yang dianjurkan adalah memakan makanan yang cukup jumlah protein dan fosfat yang dapat menambah sifat basa dari saliva, memperbanyak makan sayuran dan buah- buahan yang berserat dan berair yang akan bersifat membersihkan dan merangsang sekresi saliva, menghindari makanan yang manis dan lengket serta membatasi jumlah makanan menjadi tiga kali sehari serta menekan keinginan untuk makan di antara jam makan.

    Xylitol dan sorbitol merupakan bahan pengganti gula yang sering digunakan, berasal dari bahan alami serta mempunyai kalori yang sama dengan glukosa dan sukrosa. Xylitol dan sorbitol dapat dijumpai dalam bentuk tablet, permen karet, minuman ringan, farmasi dan lain-lain. Xylitol dan sorbitol mempunyai efek menstimulasi daya alir saliva dan menurunkan kolonisasi dari S. Mutans (Angela, 2005).

Faktor-Faktor Penyebab Karies gigi


Menurut Alpers, (2006) karies gigi merupakan multifaktor dengan 4 faktor utama yang saling mempengaruhi yaitu hospes (saliva dan gigi), mikroorganisme, substrat atau diet, sebagai faktor tambahan yaitu waktu.

Faktor di dalam mulut yang berhubungan langsung dengan proses terjadinya karies gigi, antara lain :

  • Host (saliva)
    Air liur yang sedikit mempermudah terjadinya karies karena fungsi saliva bukan saja sebagai pelumas yang membantu proses mengunyah makanan tetapi juga untuk melindungi gigi terhadap proses demineralisasi. Saliva ini berguna sebagai pembersih mulut dari sisa-sisa makanan termasuk karbohidrat yang mudah difermentasi oleh mikroorganisme mulut. Saliva juga bermanfaat untuk membersihkan asam-asam yang terbentuk akibat proses glikolisis karbohidrat oleh mikroorganisme (Kidd & Bechal, 1992)

  • Substrat (sukrosa)
    Sukrosa adalah jenis karbohidrat yang merupakan media untuk pertumbuhan bakteri dan dapat meningkatkan koloni bakteri Streptococci mutans. Kandungan sukrosa dalam makanan seperti permen, coklat, makanan dengan manis merupakan faktor pertumbuhan bakteri yang pada akhirnya akan meningkatkan proses terjadinya karies gigi (Kidd & Bechal, 1992).

  • Mikroorganisme
    Type dari mikroorganisme yang berkoloni pada plak gigi. Dalam hal ini bakteri yang paling penting dan kariogenik adalah streptococcus mutans dan laktobacillus acidophilus (Fitrohpiyah, 2009). Bakteri memetabolisir sukrosa sehingga menghasilkan asam laktat yang akan menurunkan pH, jika pH turun dibawah 5,5 akan menyebabkan demineralisasi enamel yang akan berlanjut akan menghasilkan karies (Kidd & Bechal, 1992).

  • Waktu
    Adanya kemampuan saliva untuk mendepositkan kembali mineral selama berlangsungnya proses karies memberikan tanda bahwa proses karies terdiri dari periode perusakan dan perbaikan yang silih berganti, oleh sebab itu saliva ada dalam lingkungan gigi maka karies tidak menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu melainkan dalam bulan atau tahun. Dengan demikian dapat dilihat ada kesempatan untuk menghentikan terjadinya karies gigi (Kidd & Bechal, 1992).

Faktor luar sebagai faktor predisposisi dan penghambat yang berhubungan secara tidak langsung dengan proses terjadinya karies, antara lain :

  • Jenis kelamin
    Jenis kelamin memperlihatkan terdapat perbedaan persentase karies pada jenis laki-laki sebesar 22,5% lebih rendah dibandingkan dengan perempuan sebesar 24,5% (Depkes, 2007). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Sekar dkk tahun 2012 keterampilan menggosok gigi pada anak perempuan lebih baik dari pada anak laki-laki.

  • Usia
    Usia sekolah adalah usia 6-12 tahun yng sering disebut sebagai masa- masa yang rawan, karena pada masa ini gigi susu mulai tanggal satu persatu dan gigi permanen pertama mulai tumbuh (Potter & Perry, 2005). Usia mempengaruhi perilaku seseorang sehingga mempengaruhi terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia maka akan bertambah pula daya tangkap dan pola pikirnya (Sekar dkk, 2012).

  • Pengetahuan
    Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan kognitif merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang.

  • Kebiasaan menggosok gigi
    Menurut Potter & Perry (2005), menggosok gigi adalah membersihkan gigi dari sisa-sisa makanan, bakteri, dan plak. Dan tujuan menggosok gigi adalah membuang plak serta menjaga kesehatan gigi dan mulut. Menyggosok gigi yang baik yaitu dengan gerakan yang pendek dan lembut serta dengan tekanan yang ringan, pusatkan pada daerah yang terdapat plak yaitu ditepi gusi (Rahmadhan, 2010).

Karies gigi adalah kerusakan gigi yang progresif akibat karbohidrat melekat pada permukaan gigi dan menyebabkan aktifnya metabolisme bakteri kariogenik di dalam plak. Asam organik yang terbentuk dari fermentasi karbohidrat oleh bakteri tersebut akan menyebabkan hilangnya mineral gigi sehingga mengakibatkan demineralisasi, kavitasi, dan hancurnya jaringan keras gigi.

Etiologi Karies Gigi


Ada berbagai macam faktor yang dapat menyebabkan timbulnya karies gigi. Hal ini sangat erat kaitannya dengan stabilitas dari lingkungan rongga mulut, artinya sangat bergantung pada pemeliharaan keseimbangan homeostatis di antara faktor-faktor yang dapat menyebabkan timbulnya karies gigi,4 di antaranya:

1. Akumulasi dan retensi plak

Akumulasi dan retensi plak dapat meningkatkan kesempatan fermentasi karbohidrat oleh bakteri asidogenik yang terdapat di dalam oral biofilm sehingga menghasilkan asam organik pada permukaan gigi. Plak merupakan lapisan polisakarida yang melekat kuat terhadap permukaan gigi dan mengandung organisme patogen. Banyak bakteri di dalam rongga mulut yang mampu berkoloni pada permukaan gigi dan membentuk plak secara terus- menerus, dan bakteri Streptococcus mutans merupakan bakteri yang paling banyak dijumpai pada plak.

Proses pembentukan plak diawali oleh deposisi pelikel pada permukaan gigi. Pelikel merupakan suatu lapisan glikoprotein yang berasal dari saliva, dan merupakan bagian dari lapisan biologis yang dapat melindungi permukaan gigi dari difusi ion asam ke gigi. Kemudian terjadi kolonisasi bakteri pada pelikel, terutama S. mutans dan S. sanguis, dalam kurun waktu 24 jam. Akibat adanya karbohidrat, terutama sukrosa, kolonisasi bakteri ini membentuk polisakarida intraseluser dan ekstraseluler yang berperan dalam perlekatan, pembentukan, dan resistensi plak. Polisakarida ekstraseluler akan membentuk susbtansi yang lengket yang mengikat plak menjadi satu kesatuan dan menjaga perlekatannya ke permukaan gigi, sementara polisakarida intraseluler akan menyediakan nutrisi secara terus-menerus bagi bakteri di dalam plak, bahkan di saat tidak ada substrat yang terpajan ke dalam mulut. Selanjutnya, bakteri- bakteri lainnya secara progresif ikut berkoloni di dalam plak ini sehingga menambah ketebalan plak.

Produksi asam yang terbentuk dari aktivitas plak dianggap berperan besar dalam mengawali serangan karies gigi. Bertahannya pH plak pada kondisi asam ini dapat berlangsung cukup lama karena dipengaruhi beberapa faktor, yaitu adanya produksi asam dari asam berkonsentrasi tinggi di antara plak sehingga menghambat efek dapar lokal untuk sementara waktu, sifat diffusion-limited yang dimiliki oleh plak (plak menghalangi difusi sistem dapar dari saliva) sehingga lepasnya asam ke dalam saliva bertahan cukup lama, adanya produksi asam yang terus berlanjut dari polisakarida intraseluler bakteri, serta adanya karbohidrat yang dapat difermentasi yang tertahan di dalam rongga mulut.

2. Frekuensi konsumsi karbohidrat yang dapat difermentasi seperti gula.

Karies gigi tidak akan berkembang jika tidak terdapat karbohidrat yang dapat difermentasi pada makanan yang dikonsumsi.5 Karbohidrat yang dapat difermentasikan seperti sukrosa berperan penting dalam mendukung aktivitas plak sehingga menyebabkan turunnya pH dan merusak email.

Gula dalam bentuk struktur kimia terdiri dari sukrosa, glukosa, fruktosa, maltosa, dan laktosa yang merupakan mikromolekul dengan berat molekul yang rendah, siap berdifusi melalui plak dengan cepat, mudah larut, dan siap difermentasi. Gula tersebut dengan karakteristiknya masing-masing dapat berfungsi sebagai sumber energi bagi mikroorganisme.

Dari percobaan yang dilakukan oleh Stephan, terungkap bahwa frekuensi konsumsi gula sangat bermakna dalam meningkatkan keaktifan karies gigi. Frekuensi konsumsi karbohidrat dianggap lebih berpengaruh dalam menimbulkan karies gigi dibandingkan dengan konsentrasi dan jumlah
totalnya. Jika sukrosa ini dikonsumsi berulang kali dalam jangka waktu singkat, hal ini dapat mempertahankan suplai substrat bagi bakteri sehingga memungkinkan produksi asam oleh bakteri bertahan secara persisten pada tingkat destruktif.

3. Frekuensi pemaparan gigi terhadap asam.

Pemaparan asam pada permukaan gigi dapat menyebabkan penurunan pH di dalam rongga mulut dengan cepat dan mempercepat proses demineralisasi. Sumber asam yang umum dikonsumsi oleh masyarakat di antaranya berasal dari minuman ringan dan jus buah.

4. Faktor pelindung alami dari pelikel dan saliva yang dapat mencegah terjadinya karies gigi atau memperlambat perkembangannya.

Pelikel merupakan suatu lapisan glikoprotein yang berasal dari saliva, dan merupakan bagian dari lapisan biologis yang dapat melindungi permukaan gigi dari difusi ion asam ke gigi. Pelikel dapat menunda inisiasi proses karies gigi dan larutnya email ketika pH di dalam rongga mulut rendah.

5. Fluoride dan elemen-elemen lainnya yang turut berkontribusi dalam mengontrol perkembangan karies gigi.

Secara umum, interaksi di antara faktor-faktor tersebut di dalam rongga mulut dapat digambarkan sebagai berikut

Faktor-faktor etiologi karies gigi
Gambar Faktor-faktor etiologi karies gigi.

Interaksi faktor-faktor etiologi karies gigi.
Gambar Interaksi faktor-faktor etiologi karies gigi.

Patogenesis Karies Gigi


Konsep proses terjadinya karies gigi telah mengalami perkembangan dalam beberapa dekade terakhir. Saat ini disadari bahwa dalam keadaan normal terjadi pertukaran ion-ion antara permukaan gigi dan lapisan biologis yang menutupinya (pelikel/plak/saliva) setiap setelah konsumsi makanan dan minuman. Demineralisasi apatit dapat dikembalikan dengan cepat melalui simpanan ion-ion kalsium dan fosfat yang ada dalam saliva. Meskipun demikian, proses demineralisasi ini dapat melebihi kemampuan remineralisasi tubuh sehingga menyebabkan hilangnya sejumlah mineral baik pada email maupun pada dentin dan akhirnya terjadilah karies gigi. Kegagalan dalam mencegah dan menggantikan mineral yang hilang akibat proses demineralisasi akan menyebabkan terbentuknya kavitas pada permukaan gigi.

Pada hakikatnya, proses karies gigi berjalan lambat. Proses karies umumnya juga sudah terjadi lama sebelum tanda-tanda klinis terlihat. Oleh karena itu, karies gigi dapat disebut juga sebagai penyakit multifaktor yang kronis.

Bila proses demineralisasi telah terjadi, maka hasil selanjutnya akan ditentukan oleh kekuatan remineralisasi. Kemungkinan yang dapat terjadi bisa berupa terhentinya perkembangan karies gigi jika kemampuan remineralisasi cukup kuat untuk menanggulangi proses demineralisasi atau terbentuk karies gigi yang kronis jika proses demineralisasi berlangsung lambat sementara proses remineralisasi cukup aktif. Selain itu, kemungkinan lainnya bisa berupa terbentuknya karies rampan jika proses remineralisasi tidak cukup kuat untuk mengimbangi proses demineralisasi yang cepat atau berkembangnya erosi jika
proses demineralisasi yang tidak diimbangi dengan proses remineralisasi sedikit pun.

Demineralisasi

Komponen mineral gigi tersusun atas hidroksiapatit (Ca10(PO4)6(OH)2). Dalam keadaan lingkungan netral, mineral hidroksiapatit ini berada dalam kondisi seimbang dengan lingkungan lokal (saliva) yang bersupersaturasi dengan ion kalsium dan fosfat.

Hidroksiapatit bersifat reaktif terhadap ion hidrogen ketika lingkungan berada dalam kondisi pH di bawah 5,5 (pH kritis). Ketika hal ini terjadi, ion PO 3- akan berubah menjadi HPO 2- karena penambahan ion H+. Akibatnya, HPO 2- yang terbentuk ini tidak mampu menjaga hidroksiapatit dalam kondisi seimbang sehingga akhirnya kristal hidroksiapatit larut).

Reaksi kimia dari proses demineralisasi pada permukaan gigi.
Gambar Reaksi kimia dari proses demineralisasi pada permukaan gigi.

Remineralisasi

Proses demineralisasi yang disebutkan sebelumnya dapat dikembalikan jika pH dinetralisir sehingga terdapat cukup ion kalsium (Ca2+) dan fosfat (HPO43-) di lingkungan rongga mulut. Kondisi remineralisasi ini dapat dicapai baik melalui kemampuan dapar saliva maupun melalui ion Ca2+ dan HPO43- yang tersimpan di dalam saliva. Adanya ion fluoride (F-) dapat memperkuat reaksi ini.

Reaksi kimia dari proses remineralisasi pada permukaan gigi.
Gambar Reaksi kimia dari proses remineralisasi pada permukaan gigi.

Remineralisasi dapat menghambat proses larutnya kristal hidroksiapatit lebih lanjut dan membangun kembali bagian kristal apatit yang telah larut akibat proses demineralisasi sebelumnya. Frekuensi dan durasi dari remineralisasi akan bergantung pada kekuatan asam yang terpajan di dalam rongga mulut.

Karies merupakan suatu penyakit jaringan keras gigi, yaitu email, dentin dan cementum, yang disebabkan oleh aktivitas suatu jasad renik dalam suatu karbohidrat yang dapat diragikan. Tandanya adalah adanya demineralisasi jaringan keras gigi yang kemudian diikuti oleh kerusakan bahan organiknya. Akibatnya, terjadi invasibakteri dan kemampuan pulpa serta penyebaran infeksinya kejaringan periapeks yang dapat menyebabkan nyeri. Walaupun demikian, mengingat mungkinnya remineralisasi terjadi, pada stadium yang sangat dini penyakit ini dapat dihentikan. (Kidd, 2013)

Faktor Penyebab Karies

Faktor utama penyebab karies menurut Hermawan ( 2010) adalah:

  1. Gigi dan air ludah Bentuk gigi yang tidak beraturan dan air ludah yang banyak mempermudah terjadinya karies

  2. Adanya bakteri penyebab karies Bakteri penyebab karies adalah dari jenis Streptococcus dan lactobacillus.

  3. Makanan yang kita konsumsi Makanan yang mudah lengket dan menempel di gigi seperti permen dan coklat, memudahkan terjadinya karies Menurut Kidd, (2013) Faktor penyebab karies adalah plak, peran karbohidrat makanan, kerentanan permukaan gigi, dan waktu .

    image

    • Plak Plak gigi merupakan lengketan yang berisi bakteri beserta produk-produknya, yang terbentuk pada semua permukaan gigi. Akumulasi bakteri ini tidak terjadi secara kebetulan melainkan terbentuk melalui serangkaian tahapan. Jika email yang bersih terpapar dirongga mulut maka akan ditutupi oleh lapisan organic yang amorf yang disebut pelikel. Pelikel ini terutama terdiri atas glikoprotein yang diendapkan dari saliva dan Poltekes Kemenkes Yogyakarta terbentuk segera setelah penyikatan gigi. (Kidd, Edwina A. M, 2013)

      Bakteri yang mula-mula menghuni pelikel terutama yang terbentuk kokus, yang paling banyak adalah streptokokus. Organisme tersebut tumbuh, berkembang biak dan mengeluarkan gel ekstra-sel yang lengket dan akan menjerat berbagai bentuk bakteri ang lain. Dalam beberapa hari plak ini akan bertambah tebal dan terdiri dari berbagai macam mikroorganisme. Akhirnya, flora plak yang tadinya didominasi oleh bentuk kokus berubah menjadi flora campuran yang terdiri atas kokus, batang dan filament. (Kidd, Edwina A. M, 2013)

    • Peran Karbohidrat Makanan Dibutuhkan waktu minimum tertentu bagi plak dan karbohidrat yang menempel pada gigi untuk membentuk asam dan mampu mengakibatkan demineralisasi email. Karbohidrat ini menyediakan substrat untuk pembuatan asam bagi bakteri dan sintesa polisakharida ekstra sel. Walaupun demikian, tidak semua karbohidrat sama derajat kariogeniknya. (Kidd, Edwina A. M, 2013).

    • Kerentanan Permukaan Gigi Morfologi Gigi : Daerah yang Rentan Plak yang mengandung bakteri merupakan awal bagi terbentuknya karies. Oleh karena itu kawasan gigi yang memudahkan pelekatan plak sangat mungkin diserang karies. Kawasan-kawasan yang mudah diserang karies tersebut adalah :

      1. Pit dan fisur pada permukaan oklusal molar dan premolar.
        image

      2. Permukaan halus didaerah aproksimal sedikit dibawah titik kontak.
        image

      3. Karies pada tepian di daerah leher gigi sedikit diatas tepi gingiva.
        image

      4. Permukaan akar yang terbuka, yang merupakan daerah tempat melekatnya plak pada pasien dengan resesi gingiva karena penyakit periodontium.
        image

    • Waktu Adanya kemampuan saliva untuk mendepositkan kembali mineral selama
      berlangsungnya proses karies, menandakan bahwa proses karies tersebut terdiri atas periode perusakan dan perbaikan yang silih berganti. Oleh karena itu bila saliva ada dilingkungan gigi, maka karies tidak menghancurkan gigi dalam hitungan hari atau minggu, melainkan dalam bulan atau tahun. Dengan demikian sebenarnya terdapat kesempatan yang baik untuk menghentikan penyakit ini.

Karies gigi adalah suatu proses penghancuran setempat jaringan kalsifikasi yang dimulai pada bagian permukaan gigi melalui proses dekalsifikasi lapisan email gigi yang diikuti oleh lisis struktur organik secara enzimatis sehingga terbentuk kavitas (lubang) yang bila didiamkan akan menembus email serta dentin dan dapat mengenai bangian pulpa (Dorland, 2010).

Karies gigi merupakan proses kerusakan gigi yang dimulai dari enamel terus ke dentin. Proses tersebut terjadi karena sejumlah faktor (multiple factors) di dalam rongga mulut yang berinteraksi satu dengan yang lain. Faktor-faktor tersebut meliputi faktor gigi, mikroorganisme, substrat dan waktu (Chemiawan, 2004).

Patofisiologi Karies Gigi

Karies gigi bisa terjadi apabila terdapat empat faktor utama yaitu gigi, substrat, mikroorganisme, dan waktu. Beberapa jenis karbohidrat makanan misalnya sukrosa dan glukosa yang dapat diragikan oleh bakteri tertentu dan membentuk asam sehingga pH plak akan menurun sampai dibawah 5 dalam tempo 3-5 menit. Penurunan pH yang berulang-ulang dalam waktu tertentu mengakibatkan demineralisasi permukaan gigi (Kidd, 2012).

Proses terjadinya karies dimulai dengan adanya plak dipermukaan gigi. Plak terbentuk dari campuran antara bahan-bahan air ludah seperti musin, sisa-sisa sel jaringan mulut, leukosit, limposit dan sisa makanan serta bakteri. Plak ini mula-mula terbentuk, agar cair yang lama kelamaan menjadi kelat, tempat bertumbuhnya bakteri (Suryawati, 2010).

Selain karena adanya plak, karies gigi juga disebabkan oleh sukrosa (gula) dari sisa makanan dan bakteri yang menempel pada waktu tertentu yang berubah menjadi asam laktat yang akan menurunkan pH mulut menjadi kritis (5,5) yang akan menyebabkan demineralisasi email yang berlanjut menjadi karies gigi. Secara perlahan-lahan demineralisasi interna berjalan ke arah dentin melalui lubang fokus tetapi belum sampai kavitasi (pembentukan lubang).

Kavitasi baru timbul bila dentin terlibat dalam proses tersebut. Namun kadang-kadang begitu banyak mineral hilang dari inti lesi sehingga permukaan mudah rusak secara mekanis, yang menghasilkan kavitasi yang makroskopis dapat dilihat. Pada karies dentin yang baru mulai, yang terlihat hanya lapisan keempat (lapisan transparan, terdiri atas tulang dentin sklerotik, kemungkinan membentuk rintangan terhadap mikroorganisme dan enzimnya) dan lapisan kelima (lapisan opak/ tidak tembus penglihatan, di dalam tubuli terdapat lemak yang mungkin merupakan gejala degenerasi cabang-cabang odontoblas). Baru setelah terjadi kavitasi, bakteri akan menembus tulang gigi.

Pada proses karies yang amat dalam, tidak terdapat lapisan-lapisan tiga (lapisan demineralisasi, suatu daerah sempit, dimana dentin partibular diserang), lapisan empat dan lapisan lima (Suryawati, 2010). Patofisiologi karies gigi menurut Miller, Black dan William adalah awalnya asam ( ) terbentuk karena adanya gula (sukrosa) dan bakteri dalam plak (kokus). Gula (sukrosa) akan mengalami fermentasi oleh bakteri dalam plak hingga akan terbentuk asam ( ) dan dextran.

Desxtran akan melekatkan asam ( ) yang terbentuk pada permukaan email gigi. Apabila hanya satu kali makan gula (sukrosa), maka asam ( ) yang terbentuk hanya sedikit. Tapi bila konsumsi gula (sukrosa) dilakukan berkali-kali atau sering maka akan terbentuk asam hingga pH mulut menjadi ±5 (Chemiawan, 2004).

Asam ( ) dengan pH ±5 ini dapat masuk ke dalam email melalui ekor enamel port (port d’entre). Tapi permukaan email lebih banyak mengandung kristal fluorapatit yang lebih tahan terhadap serangan asam sehingga asam hanya dapat melewati permukaan email dan akan masuk ke bagian bawah permukaan email. Asam yang masuk ke bagian bawah permukaan email akan melarutkan kristal hidroksiapatit yang ada.

Etiologi Terjadinya Karies Gigi

Ada yang membedakan faktor etiologi dengan faktor risiko karies yaitu etiologi adalah faktor penyebab primer yang langsung mempengaruhi biofilm (lapisan tipis normal pada permukaan gigi yang berasal dari saliva) dan faktor risiko karies adalah faktor modifikasi yang tidak langsung mempengaruhi biofilm dan dapat mempermudah terjadinya karies. Karies terjadi bukan disebabkan karena satu kejadian saja seperti penyakit menular lainnya tetapi disebabkan serangkaian proses yang terjadi selama beberapa kurun waktu. Karies dinyatakan sebagai penyakit multifaktorial yaitu adanya beberapa faktor yang menjadi penyebab terbentuknya karies (Chemiawan, 2004).

Ada tiga faktor utama yang memegang peranan yaitu faktor host atau tuan rumah, agen atau mikroorganisme, substrat atau diet dan ditambah faktor waktu, yang digambarkan sebagai tiga lingkaran yang bertumpang-tindih. Untuk terjadinya karies, maka kondisi setiap faktor tersebut harus saling mendukung yaitu tuan rumah yang rentan, mikroorganisme yang kariogenik, substrat yang sesuai dan waktu yang lama (Chemiawan, 2004).

  1. Faktor Host Atau Tuan Rumah
    Ada beberapa faktor yang dihubungkan dengan gigi sebagai tuan rumah terhadap karies yaitu faktor morfologi gigi (ukuran dan bentuk gigi), struktur enamel, faktor kimia dan kristalografis. Pit dan fisur pada gigi posterior sangat rentan terhadap karies karena sisa-sisa makanan mudah menumpuk di daerah tersebut terutama pit dan fisur yang dalam. Selain itu, permukaan gigi yang kasar juga dapat menyebabkan plak mudah melekat dan membantu perkembangan karies gigi. Enamel merupakan jaringan tubuh dengan susunan kimia kompleks yang mengandung 97% mineral (kalsium, fosfat, karbonat, fluor), air 1% dan bahan organik 2%. Bagian luar enamel mengalami mineralisasi yang lebih sempurna dan mengandung banyak fluor, fosfat dan sedikit karbonat dan air.

    Kepadatan kristal enamel sangat menentukan kelarutan enamel. Semakin banyak enamel mengandung mineral maka kristal enamel semakin padat dan enamel akan semakin resisten. Gigi pada anak-anak lebih mudah terserang karies dari pada gigi orang dewasa. Hal ini disebabkan karena enamel gigi mengandung lebih banyak bahan organik dan air sedangkan jumlah mineralnya lebih sedikit. Selain itu, secara kristalografis kristal-kristal gigi pada anak-anak tidak sepadat gigi orang dewasa. Mungkin alasan ini menjadi salah satu penyebab tingginya prevalensi karies pada anak-anak (Chemiawan, 2004).

  2. Faktor Agen Atau Mikroorganisme
    Plak gigi memegang peranan peranan penting dalam menyebabkan terjadinya karies. Plak adalah suatu lapisan lunak yang terdiri atas kumpulan mikroorganisme yang berkembang biak di atas suatu matriks yang terbentuk dan melekat erat pada permukaan gigi yang tidak dibersihkan. Mikroorganisme yang menyebabkan karies gigi adalah kokus gram positif, merupakan jenis yang paling banyak dijumpai seperti Streptokokus mutans, Streptokokus sanguis, Streptokokus mitis dan Streptokokus salivarius serta beberapa strain lainnya.

    Selain itu, ada juga penelitian yang menunjukkan adanya laktobasilus pada plak gigi. Pada penderita karies, jumlah laktobasilus pada plak gigi berkisar 10.000-100.000 sel/mg plak. Walaupun demikian, Streptokokus mutans yang diakui sebagai penyebab utama karies oleh karena Streptokokus mutans mempunyai sifat asidogenik dan asidurik (resisten terhadap asam) (Chemiawan, 2004).

  3. Faktor Substrat Atau Diet
    Faktor substrat atau diet dapat mempengaruhi pembentukan plak karena membantu perkembangbiakan dan kolonisasi mikroorganisme yang ada pada permukaan enamel. Selain itu, dapat mempengaruhi metabolisme bakteri dalam plak dengan menyediakan bahan-bahan yang diperlukan untuk memproduksi asam serta bahan lain yang aktif yang menyebabkan timbulnya karies.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang yang banyak mengonsumsi karbohidrat terutama sukrosa cenderung mengalami kerusakan pada gigi, sebaliknya pada orang dengan diet yang banyak mengandung lemak dan protein hanya sedikit atau sama sekali tidak mempunyai karies gigi. Hal ini penting untuk menunjukkan bahwa karbohidrat memegang peranan penting dalam terjadinya karies gigi (Chemiawan, 2004).

  4. Faktor Waktu
    Secara umum, karies dianggap sebagai penyakit kronis pada manusia yang berkembang dalam waktu beberapa bulan atau tahun. Lamanya waktu yang dibutuhkan karies untuk berkembang menjadi suatu kavitas cukup bervariasi, diperkirakan 6-48 bulan (Chemiawan, 2004).