Apa yang dimaksud dengan Karakter Manusia?

Character (karakter) adalah penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (banar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.

Istilah karakter dihubungkan dan dipertukarkan dengan istilah etika, ahlak, dan atau nilai dan berkaitan dengan kekuatan moral, berkonotasi “positif” bukan netral.

Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) merupakan sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.

Dengan demikian karakter adalah nilai-nilai yang unik-baik yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku. Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang.

Karakter juga sering diasosiasikan dengan istilah apa yang disebut dengan temperamen yang lebih memberi penekanan pada definisi psikososial yang dihubungkan dengan pendidikan dan konteks lingkungan.

Sedangkan karakter dilihat dari sudut pandang behaviorial lebih menekankan pada unsur somatopsikis yang dimiliki seseorang sejak lahir.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa proses perkembangan karakter pada seseorang dipengaruhi oleh banyak faktor yang khas yang ada pada orang yang bersangkutan yang juga disebut faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture) dimana orang yang bersangkutan tumbuh dan berkembang.

  • Faktor bawaan boleh dikatakan berada di luar jangkauan masyarakat dan individu untuk mempengaruhinya. Sedangkan faktor lingkungan merupakan faktor yang berada pada jangkauan masyarakat dan ndividu. Jadi usaha pengembangan atau pendidikan karakter seseorang dapat dilakukan oleh masyarakat atau individu sebagai bagian dari lingkungan melalui rekayasa faktor lingkungan.

  • Faktor lingkungan dalam konteks karakter seseorang memiliki peran yang sangat penting. Dengan kata lain pembentukan dan rekayasa lingkungan sangat berpengaruh pada karakter seseorang, dimana faktor lingkungan tersebut mencakup diantaranya lingkungan fisik dan budaya pendidikan, manajemen pendidikan, kurikulum, pendidik, dan metode mengajar.

Pembentukan karakter melalui rekayasa faktor lingkungan dapat dilakukan melalui strategi: (1) keteladanan, (2) intervensi, (3) pembiasaan yang dilakukan secara konsisten, dan (4) penguatan.

Dengan kata lain perkembangan dan pembentukan karakter memerlukan pengembangan keteladanan yang ditularkan, intervensi melalui proses pembelajaran, pelatihan, pembiasaan terus-menerus dalam jangka panjang yang dilakukan secara konsisten dan penguatan serta harus dibarengi dengan nilai-nilai luhur.

Konfigurasi Karakter

Karakter seseorang dalam proses perkembangan dan pembentukannya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor lingkungan (nurture) dan faktor bawaan (nature). Tinjauan teoretis perilaku berkarakter secara psikologis merupakan perwujudan dari potensi Intellegence Quotient (IQ), Emotional Quentient (EQ), Spritual Quotient (SQ) dan Adverse Quotient (AQ) yang dimiliki oleh seseorang.

Sedangkan seseorang yang berkarakter menurut pandangan agama pada dirinya terkandung potensi-potensi, yaitu: sidiq, amanah, fathonah, dan tablig.

Berkarakter menurut teori pendidikan apabila seseorang memiliki potensi kognitif, afektif, dan psikomotor yang teraktualisasi dalam kehidupannya.

Adapun menurut teori sosial, seseorang yang berkarakter mempunyai logika dan rasa dalam menjalin hubungan intra personal, dan hubungan interpersonal dalam kehidupan bermasyarakat.

Perilaku seseorang yang berkarakter pada hakekatnya merupakan perwujudan fungsi totalitas psikologis yang mencakup seluruh potensi individu manusia (kognitif, afektif, konatif, dan psikomotorik) dan fungsi totalitas sosial kultural dalam konteks interaksi (dalam keluarga, satuan pendidikan, dan masyarakat) dan berlangsung sepanjang hayat.

Konfigurasi karakter dalam konteks totalitas proses psikologis dan sosial-kultural tersebut dapat dikelompokan dalam: Olah Hati (Spiritual and emotional development), Olah Pikir (intellectual development), Olah Raga dan Kinestetik (Physical and kinestetic development), dan Olah Rasa dan Karsa (Affective and Creativity development).

Keempat proses psikososial (olah hati, olah pikir, olah raga, dan olahrasa dan karsa) tersebut secara holistik dan koheren memiliki saling keterkaitan dan saling melengkapi, yang bermuara pada pembentukan karakter yang menjadi perwujudan dari nilai-nilai luhur. Secara diagramatik, koherensi keempat proses psikososial tersebut dapat digambarkan diagram Ven sebagai berikut.

image
Gambar Koherensi Karakter dalam Konteks Totalitas Proses Psikososial

Masing-masing proses psikososial (olah hati, olah pikir, olah raga, dan olahrasa dan karsa) secara konseptual dapat diperlakukan sebagai suatu klaster atau gugus nilai luhur yang di dalamnya terkandung sejumlah nilai. Keempat proses psikologis tersebut, satu dengan yang lainnya saling terkait dan saling memperkuat. Karena itu setiap karakter, seperti juga sikap, selalu bersifat multipleks atau berdimensi jamak.

Pengelompokan nilai tersebut sangat berguna untuk kepentingan perencanaan. Dalam proses intervensi (pembelajaran, pemodelan, dan penguatan) dan proses habituasi (pensuasanaan, pembiasaan, dan penguatan) dan pada akhirnya menjadi karakter, keempat kluster nilai luhur tersebut akan terintegrasi melalui proses internalisasi dan personalisasi pada diri masing-masing individu.

1 Like

Karakter berasal dari bahasa Ingris yakni character yang berarti kualitas mental dan moral, kekuatan moral, nama atau reputasi. Sedangkan menurut kamus, adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat atau watak. Berkarakter sendiri berati mempunyai watak dan mempunyai kepribadian.

Sedangkan menurut psokilogi, karakter adalah kepribadian yang ditinjau dari titik tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang yang biasanya berkaitan dengan sifat-sifat yang relatif tetap. Karakter menurut psokilogi juga berarti integrasi atau sintese dari sifat-sifat individual dalam bentuk satu unitas atau kesatuan dan juga berarti dari kepribadian seseorang yang dipandang dari titik etis dan titik moral.

Karakter secara terminologis berarti kumpulan tata nilai yang menuju pada suatu sistem yang melandasi pemikiran, sikap, dan perilaku yang ditampilkan. M Furqon Hidayatullah menyatakan bahwa karakter adalah kualitas atau kekuatan mental atau moral, akhlak atau budi pekerti individu yang merupakan kepribadian khusus yang menjadikan pendorong dan penggerak, serta menjadi pembeda antara individu satu dengan individu yang lain.

Dari beberapa pengertian karakter diatas dapat disimpulkan, bahwasanya karakter siswa adalah kepribadian yang menjadikan karakteristik seorang pelajar yang sedang membuka potensi baik itu dalam rana intelektual maupun rana sosial yang dimana karateristik tersebut menjadikan gaya atau sifat khas dari seseorang yang tercipta dari bentukan-bentukan yang telah dia terima dari lingkangan mapun bawaan dari setiap individu itu sendiri. Oleh karenaya karakter yang baik bisa dibentuk oleh lingkungan yang baik pula, baik itu dalam suatu ruang lingkup lembaga ataupun didalam ruang lingkup suatu keluarga.

Menurut Michael Novak karakter merupakan “campuran kompatibel dari seluruh kebaikan yang diidentifikasi oleh tradisi religius, cerita sastra, kaum bijaksana, dan kumpulan orang berakal sehat yang ada dalam sejarah."

Sementara itu, Masnur Muslich menyatakan bahwa karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Selanjutnya, Muchlas Samani berpendapat bahwa karakter dapat dimaknai sebagai nilai dasar yang membangun pribadi seseorang, terbentuk baik karena pengaruh hereditas maupun pengaruh lingkungan, yang membedakannya dengan orang lain, serta diwujudkan dalam sikap dan perilakunya dalam kehidupan sehari-hari. Pendapat senada juga disampaikan oleh Agus Wibowo, bahwa karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

image

Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, dan merupakan mesin yang mendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, dan merespon sesuatu. Selanjutnya, menurut Maksudin yang dimaksud karakter adalah ciri khas setiap individu berkenaan dengan jati dirinya (daya qalbu), yang merupakan saripati kualitas batiniah/rohaniah, cara berpikir, cara berperilaku (sikap dan perbuatan lahiriah) hidup seseorang dan bekerja sama baik dalam keluarga, masyarakat, bangsa maupun negara.

Dari pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa karakter adalah sesuatu yang terdapat pada individu yang menjadi ciri khas kepribadian individu yang berbeda dengan orang lain berupa sikap, pikiran, dan tindakan. Ciri khas tiap individu tersebut berguna untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Referensi

http://repository.radenintan.ac.id/2236/4/Bab_II.pdf

kata karakter berasal dari bahasa latin “kharakter”, “kharassein”, “kharax”, dalam bahasa Inggris: character dan Indonesia “karakter”, Yunani character, dari charassein yang berarti membuat tajam, membuat dalam. Dalam kamus Poerwadaminta, karakter diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak dan budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain. Sedangkan menurut Kamus Bahasa Indonesia karakter diartikan sebagai watak, tabiat, pembawaan, kebiasaan.

Sedangkan secara terminologi, istilah karakter diartikan sebagai sifat manusia pada umumnya dimana manusia mempunyai banyak sifat yang tergantung dari faktor kehidupannya sendiri. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang. Definisi dari “The stamp of individually or group impressed by nature, education or habit.

Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Sedangkan Imam Ghazali menganggap bahwa karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak perlu dipikirkan lagi. Hermawan Kertajaya, mendefinisikan karakter sebagai “ciri khas” yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas tersebut adalah asli, dalam artian tabiat atau watak asli yang mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, dan merupakan mesin pendorong bagaimana seseorang bertindak, bersikap, berujar, serta merespon sesuatu.

Karakter adalah sesuatu yang terdapat pada individu yang menjadi ciri khas kepribadian individu yang berbeda dengan orang lain berupa sikap, pikiran, dan tindakan. Ciri khas tiap individu tersebut berguna untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.

Komponen-Komponen Karakter yang Baik


Ada tiga komponen karakter yang baik (components of good character) yang dikemukakan oleh Lickona, sebagai berikut:

1. Pengetahuan Moral

Pengetahuan moral merupakan hal yang penting untuk diajarkan. Keenam aspek berikut ini merupakan aspek yang menonjol sebagai tujuan pendidikan karakter yang diinginkan.

  1. Kesadaran Moral Aspek pertama dari kesadaran moral adalah menggunakan pemikiran mereka untuk melihat suatu situasi yang memerlukan penilaian moral dan kemudian untuk memikirkan dengan cermat tentang apa yang dimaksud dengan arah tindakan yang benar. Selanjutnya, aspek kedua dari kesadaran moral adalah memahami informasi dari permasalahan yang bersangkutan.

  2. Pengetahuan Nilai Moral
    Nilai-nilai moral seperti menghargai kehidupan dan kemerdekaan, tanggung jawab terhadap orang lain, kejujuran, keadilan, toleransi, penghormatan, disiplin diri, integritas, kebaikan, belas kasihan, dan dorongan atau dukungan mendefinisikan seluruh cara tentang menjadi pribadi yang baik. Ketika digabung, seluruh nilai ini menjadi warisan moral yang diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mengetahui sebuah nilai juga berarti memahami bagaimana caranya menerapkan nilai yang bersangkutan dalam berbagai macam situasi.

  3. Penentuan Perspektif
    Penentuan perspektif merupakan kemampun untuk mengambil sudut pandang orang lain, melihat situasi sebagaimana adanya, membayangkan bagaimana mereka akan berpikir, bereaksi, dan merasakan masalah yang ada. Hal ini merupakan prasyarat bagi penilaian moral.

  4. Pemikiran Moral Pemikiran moral melibatkan pemahaman apa yang dimaksud dengan moral dan mengapa harus aspek moral. Seiring anak-anak mengembangkan pemikiran moral mereka dan riset yang ada menyatakan bahwa pertumbuhan bersifat gradual, mereka mempelajari apa yang dianggap sebagai pemikiran moral yang baik dan apa yang tidak dianggap sebagai pemikiran moral yang baik karena melakukan suatu hal.

  5. Pengambilan Keputusan
    Mampu memikirkan cara seseorang bertindak melalui permasalahan moral dengan cara ini merupakan keahlian pengambilan keputusan reflektif. Apakah konsekuensi yang ada terhadap pengambilan keputusan moral telah diajarkan bahkan kepada anak-anak pra usia sekolah.

  1. Pengetahuan Pribadi
    Mengetahui diri sendiri merupakan jenis pengetahuan moral yang paling sulit untuk diperoleh, namun hal ini perlu bagi pengembangan karakter. Mengembangkan pengetahuan moral pribadi mengikutsertakan hal menjadi sadar akan kekuatan dan kelemahan karakter individual kita dan bagaimana caranya mengkompensasi kelemahan kita, di antara karakter tersebut.

2. Perasaan Moral

Sifat emosional karakter telah diabaikan dalam pembahasan pendidikan moral, namun di sisi ini sangatlah penting. Hanya mengetahui apa yang benar bukan merupakan jaminan di dalam hal melakukan tindakan yang baik. Terdapat enam aspek yang merupakan aspek emosi yang harus mampu dirasakan oleh seseorang untuk menjadi manusia berkarakter.

  1. Hati Nurani
    Hati nurani memiliki empat sisi yaitu sisi kognitif untuk mengetahui apa yang benar dan sisi emosional untuk merasa berkewajiban untuk melakukan apa yang benar. Hati nurani yang dewasa mengikutsertakan, di samping pemahaman terhadap kewajiban moral, kemampuan untuk merasa bersalah yang membangun. Bagi orang-orang dengan hati nurani, moralitas itu perlu diperhitungkan.

  2. Harga Diri
    Harga diri yang tinggi dengan sendirinya tidak menjamin karakter yang baik. Tantangan sebagai pendidik adalah membantu orang-orang muda mengembangkan harga diri berdasarkan pada nilai-nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, dan kebaikan serta berdasarkan pada keyakinan kemampuan diri mereka sendiri demi kebaikan.

  3. Empati
    Empati merupakan identifikasi dengan atau pengalaman yang seolah-olah terjadi dalam keadaan orang lain. Empati memungkinkan seseorang keluar dari dirinya sendiri dan masuk ke dalam diri orang lain. Hal tersebut merupakan sisi emosional penentuan pesrpektif.

  4. Mencintai Hal yang Baik
    Bentuk karakter yang tertinggi mengikutsertakan sifat yang benar-benar tertarik pada hal yang baik. Ketika orang-orang mencintai hal yang baik, mereka senang melakukan hal yang baik. Mereka memiliki moralitas keinginan, bukan hanya moral tugas.

  5. Kendali Diri
    Emosi dapat menjadi alasan yang berlebihan. Itulah alasannya mengapa kendali diri merupakan kebaikan moral yang diperlukan. Kendali diri juga diperlukan untuk menahan diri agar tidak memanjakan diri sendiri.

  6. Kerendahan Hati
    Kerendahan hati merupakan kebakan moral yang diabaikan namun merupakan bagian yang esensial dari karakter yang baik. kerendahan hati merupakan sisi afektif pengetahuan pribadi. Kerendahan hati juga membantu seseorang mengatasi kesombongan dan pelindung yang terbaik terhadap perbuatan jahat.

3. Tindakan Moral

Tindakan moral merupakan hasil atau outcome dari dua bagian karakter lainnya. Apabila orang-orang memiliki kualitas moral kecerdasan dan emosi maka mereka mungkin melakukan apa yang mereka ketahui dan mereka rasa benar. Tindakan moral terdiri dari beberapa aspek sebagai berikut.

  1. Kompetensi
    Kompetensi moral memiliki kemampuan untuk mengubah penilaian dan perasaan moral ke dalam tindakan moral yang efektif. Kompetensi juga bermain dalam situasi moral lainnya. Untuk membantu orang lain yang mengalami kesusahan, seseorang harus mampu merasakan dan melaksanakan rencana tindakan.

  2. Keinginan
    Pilihan yang benar dalam situasi moral biasanya merupakan pilihan yang sulit. Menjadi orang baik sering memerlukan tindakan keinginan yang baik, suatu penggerakan energi moral untuk melakukan apa yang seseorang pikirkan harus dilakukan. Keinginan berada pada inti dorongan moral.

  3. Kebiasaan
    Dalam situasi yang besar, pelaksanaan tindakan moral memperoleh manfaat dari kebiasaan. Seseorang sering melakukan hal yang baik karena dorongan kebiasaan. Sebagai bagian dari pendidikan moral, anak-anak memerlukan banyak kesempatan untuk mengembangkan kebiasaan yang baik, banyak praktik dalam hal menjadi orang yang baik. Hal ini berarti pengalaman yang diulangi dalam melakukan apa yang membantu, apa yang ramah, dan apa yang adil.

Seseorang yang mempunyai karakter yang baik memiliki pengetahuan moral, perasaan moral, dan tindakan moral yang bekerja sama secara sinergis. Pendidikan karakter hendaknya mampu membuat peserta didik untuk berperilaku baik sehingga akan menjadi kebiasaan dalam kehiduapan sehari-hari.

Nilai-Nilai Karakter yang Harus Ditanamkan


Nilai-nilai karakter dan budaya bangsa berasal dari teori-teori pendidikan, psikologi pendidikan, nilai-nilai sosial budaya, ajaran agama, Pancasila dan UUD 1945, dan UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, serta pengalaman terbaik dan praktek nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Kemendiknas mengidentifikasi ada 18 nilai untuk pendidikan budaya dan karakter bangsa sebagai berikut ini:

  1. Religius: sikap dan perilaku patuh dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun dengan pemeluk agama lain.

  2. Jujur: perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan dan pekerjaan.

  3. Toleransi: sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain yang berbeda dari dirinya.

  4. Disiplin: tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan.

  5. Kerja Keras: perilaku yang menunjukkan upaya sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar dan tugas, serta menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya.

  6. Kreatif: berpikir dan melakukan sesuatu untuk menghasilkan cara atau hasil baru dari apa yang telah dimiliki.

  7. Mandiri: sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas.

  8. Demokratis: cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan orang lain.

  9. Rasa Ingin Tahu: sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk mengetahui lebih mendalam dan meluas dari apa yang dipelajarinya, dilihat, dan didengar.

  10. Semangat Kebangsaan: cara berpikir, bertindak, dan wawasan yang menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya.

  11. Cinta Tanah Air: cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsanya.

  12. Menghargai Prestasi: sikap dan tindakan yang mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi masyarakat, dan mengakui, dan menghormati keberhasilan orang lain.

  13. Bersahabat dan Komunikatif: tindakan yang memperlihatkan rasa senang berbicara, bergaul, dan bekerjasama dengan orang lain.

  14. Cinta Damai: sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan orang lain merasa senang dan aman atas kehadirannya.

  15. Gemar Membaca: kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca berbagai bacaan yang memberikan kebajikan baginya.

  16. Peduli Lingkungan: sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah kerusakan pada lingkungan alam di sekitarnya, dan mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki kerusakan alam yang sudah terjadi.

  17. Peduli Sosial: sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi bantuan bagi orang lain dan masyarakat yang membutuhkan.

  18. Tanggung jawab: sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya yang seharusnya dia lakukan, terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan alam, sosial, dan budaya), negara dan Tuhan Yang Maha Esa.

Sementara itu, Ratna Megawangi berpendapat bahwa terdapat 9 pilar karakter yang berasal dari nilai-nilai luhur universal, yaitu:

  1. Cinta Tuhan dan segenap ciptaan-Nya,
  2. Kemandirian dan tanggungjawab,
  3. Kejujuran atau amanah,
  4. Hormat dan santun,
  5. Dermawan, suka tolong menolong dan gotong royong atau kerjasama,
  6. Percaya diri dan pekerja keras,
  7. Kepemimpinan dan keadilan,
  8. Baik dan rendah hati, dan
  9. Toleransi, kedamaian, dan kesatuan.

Pengertian Karakter

Dalam pengertiannya, kata karakter berasal dari bahasa Latin yaitu ‘ kharassein “, “ kharakter “, “ kharax ” yang memiliki arti membuat tajam. Sedangkan secara umum, karakter memiliki pengertian sebuah ciri khas yang dimiliki oleh setiap individu dan melekat pada setiap individu. Karakter yang dimiliki oleh seseorang juga dapat mempengaruhi bagaimana orang tersebut dalam bersifat dan bertindak.

Pengertian Karakter Menurut Para Ahli

Untuk lebih memahami pengertian karakter, mari kita simak beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian karakter berikut ini.

1. Doni Kusuma

Menurut Doni Kusuma, Pengertian karakter adalah ciri, gaya, sifat atau karakteristik diri seseorang yang berasal dari pembentukan atau tempaan yang di peroleh dari lingkungan sekitar.

2. W.B. Saunders

Menurut W.B. Saunders, pengertian karakter adalah sifat yang nyata dan berbeda yang terlihat dari seorang individu. Karakter ini dapat dilihat dari berbagai macam atribut yang ada dalam tingkah laku seseorang.

3. Gulo W

Menurut Gulo W, Arti karakter adalah sebuah kepribadian yang terlihat dari titik tolak etis atau moral seperti kejujuran dan pada umumnya karakter ini memiliki sifat yang tetap.

4. Maxwell

Menurut Maxwell, karakter adalah hal yang lebih baik dari sekedar kata – kata karena karakter adalah pilihan yang menentukan kesuksesan.

5. Wyne

Menurut Wyne, Pengertian karakter adalah tanda tentang cara atau teknis untuk memfokuskan pelaksanaan nilai kebaikan kedalam tindakan dan tingkah laku.

6. Kamisa

Definisi karakter menurut Kamisa adalah Sifat kejiwaan, akhlak serta budi pekerti yang bisa menjadikan seseorang berbeda dengan orang lain.

7. KBBI

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Pengertian karakter adalah tabiat, watak, sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan orang lain.

8. Kamus Sosiologi

Pengertian karakter adalah ciri khusus dari struktur dasar kepribadian seseorang (watak).

Jenis-Jenis Karakter Manusia

Setiap manusia tentunya memiliki karakter atau kepribadian yang berbeda – beda. Secara mum jenis karakter manusia di bagi menjadi empat kategori. Adapun keempat kategori tersebut yaitu sebagai berikut.

1. Sanguinis

Manusia yang memiliki karakter sanguinis pada umumnya suka bersosialisasi dengan orang lain dan cenderung memiliki sifat extrovert . Selain itu, seseorang yang memiliki karakter ini juga memiliki kepribadian yang menarik, memiliki rasa humor, dan sebagainya. Mereka juga seseorang yang antusias, ekspresif, periang, dan memiliki rasa ingin tau yang tinggi. Namun kelemahan mereka yaitu egois, tidak suka di kritik, dan pelupa.

2. Melankolis

Seorang manusia yang memiliki karakter melankolis pada umumnya memiliki sifat tidak suka berinteraksi dengan orang lain atau introvert , seorang pemikir, dan memiliki sifat pesimis. Mereka suka berpikir secara mendalam, serius, tekun suka berkorban, dan cenderung idealis. Meskipun memiliki sifat introvert namun mereka memiliki jiwa sosial yang tinggi dan suka membantu permasalahan yang sedang di hadapi orang lain.

3. Koleris

Seseorang yang memiliki karakter koleris pada umumnya sangat cocok di jadikan sebagai seorang pemimpin. Karena mereka sangat suka mengatur, berpetualang, tidak mudah menyerah, tegas dalam mengambil keputusan, dan senang akan tantangan. Dibalik kelebihannya, ternyata seseorang yang memiliki karakter koleris memiliki kekurangan suka membuat kontroversi karena mereka senang memerintah, terlalu kaku, dan sering membuat keputusan yang tergesa – gesa.

4. Plegmatis

Manusia yang mempunyai karakter plegmatis dapat di katakan juga seseorang yang cenderung cuek dan santai. Seseorang yang memiliki karakter ini cenderung menghadapi hidupnya dengan damai meskipun sedang memiliki masalah yang sulit. Karakter plegmantis ini dapat dikatakan sebagai kebalikan dari karakter melankolis.

Karena karakter plegmatis ini lebih suka memendam rasa kecewa dan dendam yang meraka rasakan. Selain itu sifat yang mudah berteman dan cinta damai ini malah membuat dia sering di manfaatkan oleh orang lain. Bahkan dapat dikatakan bahwa orang yang memiliki karakter plegmatis ini tidak memiliki tujuan hidup, karena mereka hidup seperti air mengalir.

Proses Pembentukan Karakter

Manusia sejak lahir hingga mencapai umur tiga atau bahkan sampai lima tahun, sifat nalar dalam berpikir belum tumbuh sehingga pikiran bawah sadar mereka masih bisa menerima semua informasi dan stimulus yang masuk tanpa adanya penyeringan mana yang di anggap baik dan tidak baik. Maka dari itu pada umur tersebut pembentukan karakter sudah di mulai.

Pembentukan karakter tersebut dapat di pengaruhi oleh lingkungan sekitar, televisi, buku, internet, ataupun sumber lainnya yang bisa menambah pengetahuan dan juga kemampuan dalam menganalisis objek luar. Disinilah peran pikiran sadar sangat dominan dalam penyaringan informasi melalui panca indra sehingga akan lebih mudah dalam di terima pikiran.

Dengan banyaknya informasi yang masuk ke dalam pikiran, maka akan semakin tinggi kepercayaan dan pola pikir seseorang. Sehingga hal tersebut dapat membangun kebiasaan dan karakter yang berbeda dari setiap masing – masing individu. Hal inilah yang akan membuat setiap individu mempunyai sistem kepercayaan (belief system) , citra diri (self image) , dan kebiasaan unik (habit) .

Jika sistem kepercayaan dalam manusia selaras dan benar, maka seorang individu akan mempunyai karakter yang baik. Begitupun sebaliknya, jika seseorang memiliki kepercayaan yang tidak selaras dan tidak benar, maka seorang individu tersebut akan mempunyai karakter yang tidak baik.

Faktor Pembentukan Karakter

Tentu saja karakter yang dimiliki setiap individu tidak dapat terbentuk dengan sendirinya, namun terdapat beberapa faktor yang memengaruhi pembentukan karakter seseorang. Adapun dua faktor yang dapat memengaruhi pembentuk karakter manusia adalah sebagai berikut.

1. Faktor Biologis

Faktor pertama yang dapat memengaruhi pembentukan karakter dalam diri seorang manusia yaitu faktor biologis manusia tersebut. Karena faktor biologis ini berasal dari dalam diri manusia itu sendiri dan juga dapat berasal dari faktor keturunan atau bawaan sejak lahir.

2. Faktor Lingkungan

Faktor kedua yang dapat memengaruhi pembentukan karakter dalam diri manusia yaitu faktor lingkungan baik itu lingkungan masyarakat, lingkungan sekolah, lingkungan tempat tinggal, dan semua faktor eksternal lainnya yang dapat memengaruhi pembentukan karakter seorang manusia.

Adat istiadat dan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari – hari juga dapat memengaruhi pembentukan karakter seorang manusia. Dalam hal ini keluarga adalah lingkungan pertama yang dapat memengaruhi pembentukan karakter seseorang melalui kebiasaan dan mencontoh orang tuanya.

Karakter berasal dari bahasa Yunani yang arti dalam bahasa Inggrisnya adalah “to mark” yaitu menandai dan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, tempramen, watak”. Menurut wynne (1991) kata karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana megaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindkan atau tingkah laku.

Oleh sebab itu seseorang yangberperilaku tidak jujur, kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkarakter jelek, sementara orang yang berperilaku jujur, suka menolong, dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang, dimana seseorang bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah moral.

Berkowitz (1998) menyatakan bahwa kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbuiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing), karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah, bukan karena tingginya penghargaan akan nilai itu. Misalnya saja ketika seseorang bebrbuat jujur hal itu dilakukukannya karena ia takut dinilai orang lain, bukan karena keinginannya yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri. Oleh sebab itu dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domein affection atau emosi).

Menurut Licona (1992) pendidikan karakter yang baik dengan harus melibatkan bukan saja aspek “knowing the good” ( moral knowing), tetapi juga “desiring the good” atau “loving the good” (moral feeling) dan “acting the good” (moral action). Tanpa itu semua manusia akan sama seperti robot yang akan terindoktrinasi oleh sesuatu paham.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Karakter


Heri Gunawan menyebutkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan karakter ada 2, yaitu:

  • Faktor Intern
    Ada beberapa faktor intern, diantaranya adalah :
  1. Insting atau Naluri
    Insting adalah suatu sifat yang dapat menumbuhkan perbuatan yang menyampaikan pada tujuan dengan berpikir lebih dahulu ke arah tujuan itu dan tidak didahului latihan perbuatan.Naluri merupakan tabiat yang dibawa sejak lahir yang merupakan suatu pembawaan yang asli.

  2. Adat atau kebiasaaan
    Kebiasaan adalah perbuatan yang selalu diulang-ulang sehingga mudah untuk dikerjakan. Sehubungan kebiasaan merupakan perbuatan yang diulang-ulang sehingga mudah dikerjakan maka hendaknya manusia memaksakan diri untuk mengulang-ulang perbuatan baik sehingga menjadi kebiasaan dan terbentuklah akhlak (karakter) yang baik padanya.

  3. Kehendak/Kemauan
    Salah satu kekuatan yang berlindung di balik tingkah laku adalah kehendak atau kemauan keras (azam).

  4. Suara batin atau suara hati
    Suara batin berfungsi memperingatkan bahaya dari perbuatan buruk dan berusaha untuk mencegahnya, di samping dorongan untuk melakukan perbuatan baik. Suara hati dapat terus dididik dan dituntun akan menaiki jenjang kekuatan rohani.

  5. Keturunan
    Keturunan merupakan suatu faktor yang dapat memengaruhi manusia. Sifat yang diturunkan oleh orang tua yaitu ada dua macam yaitu: sifat jasmaniyah dan sifat ruhaniyah.

  • Faktor Ekstern
  1. Pendidikan
    Pendidikan adalah usaha meningkatkan diri dalam segala aspeknya. Pendidikan mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam pembentukan karakter. Betapa pentingnya faktor pendidikan itu, karena naluri yang terdapat pada seseorang dapat dibangun dengan baik dan terarah. Oleh karena itu, pendidikan agama perlu dimanifestasikan melalui berbagai media baik pendidikan formal di sekolah, pendidikan informal di lingkungan keluarga, dan pendidikan nonformal yang ada pada masyarakat.

  2. Lingkungan
    Lingkungan adalah sesuatu yang melingkungi suatu tubuh yang hidup, seperti tumbuh-tumbuhan, keadaan tanah, udara dan pergaulan manusia hidup selalu berhubungan dengan manusia lain atau juga dengan alam sekitar.

Karakter berarti tabiat atau kepribadian seseorang. Coon (Zubaedi, 2011) mendefinisikan karakter sebagai suatu penilaian subjektif terhadap kepribadian seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadian yang dapat atau tidak dapat diterima masyarakat. Karakter merupakan keseluruhan kodrati dan disposisi yang telah dikuasai secara stabil yang mendifinisikan seseorang individu dalam keseluruhan tata perilaku psikisnya yang menjadikan tipikal dalam cara berfikir dan bertindak.

Zainal dan Sujak (2011) menyatakan karakter mengacu pada serangkaian sikap ( attitudes ), perilaku ( behaviors ), motivasi ( motivation ), dan ketrampilan ( skills ). Karakter berasal dari bahasa Yunani yang berarti “to mark” atau menandai dan memfokuskan bagimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku.

Coon mendefinisikan karakter sebagai suatu penilain subjektif terhadap kepribadiaan seseorang yang berkaitan dengan atribut kepribadiaan yang dapat atau tidak dapat di terima oleh masyarakat. Karakter berarti tabiat atau kepribadian. Karakter merupakan keseluruhan disposisi kodrati dan disposisi yang telah di kuasai secara stabil yang mendefinisikan seseorang individu dalam keseluruhan tata perilaku psikisnya yang menjadikannya tipikal dalam cara berpikir dan bertindak.

Dalam tulisan bertajuk Urgensi Pendidikan Karakter, Prof. Suyanto, Ph.D. menjelaskan bahwa "karakter adalah cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, dan Negara.

Dalam istilah psikologi, yang disebut karakter adalah watak perangai sifat dasar yang khas satu sifat atau kualitas yang tetap terus menerus dan kekal yang dapat dijadikan ciri untuk mengidentifikasi seorang pribadi.

Sedangkan didalam terminologi islam, karakter disamakan dengan khuluq (bentuk tunggal dari akhlaq) akhlak yaitu kondisi batiniyah dalam dan lahiriah (luar) manusia. Kataakhlak berasal dari kata khalaqa (ﺧَﻠَﻖَ) yang berarti perangai, tabiat, adat istiadat.

Menurut pendekatan etimologi kata akhlaq berasal dari basaha arab yang bentuk mufradnya adalahkhuluqun ( ﺧُﻠُﻖٌ)yang menurut logat diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat ini mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalqun ( ﺧَﻠْﻖٌ) yang berarti kejadian, serta erat hubungannya dengan khaliq (ﺧَﺎﻟِﻖ) yang artinya pencipta, dan makhluk (ﻣَﺨْﻠُﻖٌ)yang artinya yang diciptakan.

Alghazali menerangkan bahwa khuluq adalah suatu kondisi dalam jiwa yang suci dan dari kondisi itu tumbuh suatu aktifitas yang mudah dan gampang tanpa memerlukan pemikirann dan pertimbangan terlebih dahulu.