Apa yang dimaksud dengan kapitalisme ?

kapitalisme

(DummyAriefky) #1

Kapitalisme

Kapitalisme atau Kapitalis adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Apa yang dimaksud dengan kapitalisme ?


Negara mana saja yang menganut ideologi kapitalisme ?
Apa yang dimaksud dengan Hukum Gerak Kapitalisme ?
(Muhammad Areifky Aditya) #2

image

Kapitalisme atau Kapitalis adalah suatu paham yang meyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, maka pemerintah tidak dapat melakukan intervensi pasar guna keuntungan bersama, tapi intervensi pemerintah dilakukan secara besar-besaran untuk kepentingan-kepentingan pribadi.

Adam smith adalah seorang tokoh ekonomi kapitalis klasik yang menyerang merkantilisme yang dianggapnya kurang mendukung ekonomi masyarakat. Ia menyerang para psiokrat yang menganggap tanah adalah sesuatu yang paling penting dalam pola produksi.

CIRI CIRI KAPITALISME :

  1. Pengakuan yang luas atas hak-hak pribadi
  2. Pemilikan alat-alat produksi di tangan individu
  3. Inidividu bebas memilih pekerjaan/ usaha yang dipandang baik bagi dirinya.
  4. Perekonomian diatur oleh mekanisme pasar
  5. Pasar berfungsi memberikan “signal” kepda produsen dan konsumen dalam bentuk harga-harga.
  6. Campur tangan pemerintah diusahakan sekecil mungkin. “The Invisible Hand” yang mengatur perekonomian menjadi efisien.
  7. Motif yang menggerakkan perekonomian mencari laba
  8. Manusia dipandang sebagai mahluk homo-economicus, yang selalu mengejar kepentingann (keuntungan) sendiri.
  9. Paham individualisme didasarkan materialisme, warisan zaman Yunani Kuno (disebut hedonisme).

KELEBIHAN
Kebaikan-kebaikan Kapitalisme :

  1. Lebih efisien dalam memanfaatkan sumber-sumber daya dan distribusi barang-barang.
  2. Kreativitas masyarakat menjadi tinggi karena adanya kebebasan melakukan segala hal yang terbaik dirinya.
  3. Pengawasan politik dan sosial minimal, karena tenaga waktu dan biaya yang diperlukan lebih kecil.

KELEMAHAN
Kelemahan-kelemahan Kapitalisme :

  1. Tidak ada persaingan sempurna. Yang ada persaingan tidak sempurna dan persaingan monopolistik.
  2. Sistem harga gagal mengalokasikan sumber-sumber secara efisien, karena adanya faktor-faktor eksternalitas (tidak memperhitungkan yang menekan upah buruh dan lain-lain).

(Dinah Lisasari) #3

Para Ilmuan sepakat bahwa Kapitalisme merupakan Revolusi yang bersifat Fundamental dalam pembentukan masyarakat modern. Dewasa ini kapitalisme bukan saja dianggap sebagai sebuah proses ekonomi ; Kapitalisme dianggap sebagai suatu peradaban yang berakar pada sebuah idiologi dan kemudian mencerminkan suatu gaya hidup.

Kapitalisme merupakan sebuah sistem organisasi ekonomi yang dicirikan oleh hak milik privat atas alat-alat produksi dan distribusi yang pemanfaatannya untuk mencapai laba dalam kondisi yang sangat kompetitif (Milton H. Spencer;1990).

Sistem ekonomi kapitalis adalah suatu sistem yang memberikan kebebasan yang cukup besar bagi pelaku-pelaku ekonomi untuk melakukan kegiatan yang terbaik bagi kepentingan individual atas sumberdaya-sumberdaya ekonomi atau faktor-faktor produksi. Pada sistem ekonomi ini terdapat keleluasaan bagi perorangan untuk memiliki sumberdaya, seperti kompetisi antar individu dalam memenuhi kebutuhan hidup, persaingan antar badan usaha dalam mencari keuntungan. Prinsip “keadilan” yang dianut oleh sistem ekonomi kapitalis adalah setiap orang menerima imbalan berdasarkan prestasi kerjanya. Dalam hal ini campur tangan pemerintah sangat minim, sebab pemerintah berkedudukan sebagai “Pengamat” dan “Pelindung” dalam perekonomian (Subandi;2005).

Adam Smith, penggagas Kapitalisme, melalui bukunya yang terbit pada tahun 1776 dengan judul An Inquiry the nature and Cause of the wealth of nation menghendaki setiap orang diberi kebebasan untuk bekerja dan berusaha dalam persaingan sempurna dengan meniadakan sama sekali intervensi pemerintah.

Pilar-pilar Ekonomi Kaitalis


Sistem ekonomi kapitalis merupakan suatu system yang menyandarkan diri sepenuhnya pada :

Hak milik Swasta (Private Property)

Lembaga ini merupakan elemen pokok dari kapitalisme, Ia menjamin bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mencapai barang-barang ekonomi dan sumber-sumber daya melalui cara yang legal, mengadakan perjanjian-perjanjian sehubungan dengan penggunaannya dan apabila perlu menjualnya. "Kekayaan merupakan hak alamiah terlepas dari kekuasaan Negara.Pemberian hak pemilikan atas harta kekayan memenuhi fungsi-fungsi ekonomi penting yaitu: Para individu memperoleh perangsang agar aktiva mereka dimanfaatkan seproduktif-produktifnya.

Hal tersebut sangat mempengaruhi distribusi kekayaan serta pendapatan karena individu-individu diperkenankan untuk menghimpun aktiva dan memberikannya kepada ahli waris mereka apabila mereka meninggal dunia. Selanjutnya memungkinkan laju pertukaran yang tinggi oleh karena orang perlu memiliki hak pemilikan atas barang-barang sebelum hak tersebut dapat dialihkan kepada pihak lain. Konsekuensi-konsekuensi sosial dan ekonomi fungsi-fungsi tersebut sangat mempengaruhi perkembangan kapitalisme.

Dibina oleh tangan yang tak terlihat (The Invisibel Hand)

Setiap individu dalam sebuah masyarakat kapitalistik dimotivasi oleh kekuatan-kekuatan ekonomi sehingga ia akan bertindak sedemikian rupa untuk mencapai kepuasan terbesar dengan pengorbanan atau biaya yang sekecil-kecilnya.

Individualisme ekonomi (Laissez- Faire)

Pernyataan ini menjadi kata kunci kapitalisme. Dalam arti bahwa tiadanya intervensi pemerintah akan menyebabkan timbulnya individualisme ekonomi dan kebebasan ekonomi. Intervensi pemerintah dibatasi pada aktivitas-aktivitas tertentu.

Persaingan dan pasar-pasar bebas (free market competition).

Prinsip bekerjanya mekanisme pasar menyebabkan terjadinya persaingan. Persaingan terjadi antara penjual barang-barang yang serupa untuk menarik pembeli; antara pembeli untuk mencapai barang-barang yang mereka inginkan; antara pekerja untuk memperoleh pekerjaan, antara pihak majikan untuk memperoleh pekerja, antara pembeli dan penjual sumber-sumber daya untuk mencapai syarat yang sebaik-baiknya. Dalam bentuknya yang paling sempurna, pasar bebas menunjukkan ciri-ciri, pembeli dan penjual dalam jumlah cukup banyak yang menjebabkan mereka tidak dapat mempengaruhi harga barang yang bersangkutan kemudian kebebasan para pembeli serta penjual yang tidak dihalangi oleh pembatasan-pembatasan ekonomi atas permintaan dan penawaran.

Kerangka Dasar Ekonomi Kapitalis


Kelangkaan (Scarcity) Sumber-sumber ekonomi

Terciptanya kelangkaan oleh karena adanya benturan antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan terbatasnya (langkanya) barang-barang ekonomi yang tersedia dalam usaha menjembatangi hal tersebut adalah dengan jalan menambah jumlah produksi barang dan jasa sebanyak-banyaknya agar kebutuhan manusia yang tidak terbatas dapat diperkecil,adanya kelangkan sumber-sumber ekonomi maka para ekonomi kapitalis melihat 3 pokok permasalahan ekonomi yang harus dipecahkan, yaitu :

  1. Apa yang harus diproduksi dan dalam jumlah berapa ( What ) ? pertanyaan pertama ini secara umum menyangkut barang dan jasa yang dibutuhkan manusia, dan secara khusus menyangkut singkronisasi antara kebutuhan manusia dengan daya belinya.

  2. Bagaimana sumber-sumber ekonomi (factor-faktor produksi) yang tersedia harus dipergunakan untuk memproduksi barang-barang tersebut (HOW)? jawaban permasalahan yang kedua ini adalah menyangkut tentang tehnik produksi. Yaitu bagaimana mengkombinasikan factor-faktor- factor produksi untuk mendapatkan output yang optimal.

3.Untuk siapa barang tersebut di produksi; atau bagaimana barang-barang tersebut di bagikan di antara warga masyarakat (for Whom) ? jawaban atas permasalahan yang ketiga ini pakar ekonomi kapitalis menjawabnya dengan pembahasan teori harga, yaitu peranan harga dalam menentukan produksi-komsumsi-distribusi. (Boediono: 1993).

Meskipun jawaban pernasalahan tersebut pada akhirnya harus berbenturan dengan tingkat permintaan konsumen, di mana tingkat permintaan konsumen dipengaruhi oleh banyak factor, sehingga tingkat produksi secara riil bukanlah produksi sebanyak-banyaknya karena dapat mengakibatkan inefisiensi ekonomi dan ketidak seimbangan pasar (market disequilibrium ) akan tetapi filosofi pemecahan masalah ( problem solving) ekonomi dengan cara seperti ini menentukan bagaimana sistem ekonomi kapitalis melihat hakekat permasalahan ekonomi.Dengan cara pandang seperti ini, maka bagi sistem ekonomi kapitalis, solusi ekonomi yang harus ditempuh secara mikro adalah peningkatan produksi sebanyak-banyaknya, dan secara makro mengejar pertumbuhan ekonomi setinggi-tingginya.

Pandangan tentang nilai (value) barang.

Dalam sistem ekonomi kapitalis nilai merupakan sesuatu yang sangat penting. Karena nilai merupakan suatu sarana untuk melihat faedah suatu barang dan jasa, juga untuk menentukan kemampuan produsen dan konsumen. Ada dua kategori tentang nilai barang dan jasa yaitu yang berkaitan dengan nilai kegunaan suatu barang bagi individu yang disebut nilai guna (utility value), dan yang berkaitan dengan nilai suatu barang terhadap barang lainnya disebut nilai tukar (Exchange value).

  • Nilai Guna (utility value) dalam sistem ekonomi kapitalis di wakili pandangan teori kepuasan batas atau teori kepuasan akhir ( marginal saticaction theory). Yang dimaksud dengan teori kepuasan batas (marginal saticfactoin theory) atau guna marginal ( marginal utility ) ialah kepuasan atau nilai kegunaan yang diperoleh seseorang (konsumen) dari mengkomsumsi unit terakhir baran dan jasa yang dikomsumsinya (Reksoprayitno; 2000) nilai guna dalam pandangan kapitalisme disebut juga “nilai subyektif” karena sifatnya yang sangat subyektif bagi setiap individu.Dalam pengukuran nilai guna, diasumsikan bahwa tingkat kepuasan seseorang dapat diukur. Sedangkan satuan ukur untuk mengukur kepuasan seseorang di sebut util (satuan kepuasan).

  • Nilai tukar (Ecchange value) menurut kapitalisme didefinisikan sebagai kekuatan tukar suatu barang dengan barang lainnya atau nilai suatu barang yang diukur dengan barang lainnya misalnya dalam suatu masyarakat nilai satu liter beras setara dengan tiga liter jangung. Untuk mencapai mekanisme pertukaran yang sempurna atau untuk menghindari kesulitan penaksiran nilai tukar suatu barang dengan barang lainnya, maka harus ada alat tukar (medium of exchange) yang menjadi ukuran bagi semua barang dan jasa. Uang merupakan alat tukar yang memudahkan transaksi. Pertemuan antara uang dengan barang yang dinilai dengan sejumlah uang disebut harga (price). Jadi harga merupakan sebutan khusus nilai tukar suatu barang. Atau dapat dikatakan perbedaan antara nilai tukar dengan harga, adalah nilai tukar merupakan penisbatan pertukaran suatu barang dengan barang lainnya secara mutlak, sedangkan harga merupakan penisbatan nilai tukar suatu barang dengan uang.

Peranan harga dalam sistem ekonomi kapitalis.

Dalam sistem ekonomi kapitalis, harga mempunyai peranan dalam kegiatan produksi, konsumsi, dan distribusi melalui struktur harga.

  • Peranan harga dalam kegiatan produksi

    Dalam bidang produksi, harga menentukan siapa saja produsen yang boleh masuk dalam area produksi dan siapa saja yang tidak boleh masuk atau keluar dari area produksi. Struktur harga dengan sendirinya akan megatur dan menyaring produsen berdasarkan tingkat kemampuan produsen dalam menanggung biaya produksi yang meliputi biaya pengadaan barang kemudian struktur harga juga akan menyaring para produsen yang tetap bertahan diarea produksi, ketika beban biaya produksi masih dapat ditanggung produsen yang mungkin disebabkan oleh masih adanya persediaan modal yang dimiliki produsen tersebut, atau karena kemampuan inovasi produsen dalam mengelola manajemen yang efisien dan kualitas produksi yang memenuhi selera pasar , atau juga disebabkan karena produsen tersebut melakukan praktek tidak fair dengan merusak harga pasar, monopoli atau praktek-praktek curang yang membuat produsen saingannya terlempar dari area produksi.

    Mekanisme persaingan ekonomi seperti ini dengan menjadikan harga sebagai alat yang megendalikan produsen dalam area produksi, maka kepemilikan produksi dalam sistem ekonomi kapitalis ditentukan oleh kekuatan modal yang dimiliki para produsen, sehingga rakyat lemah yang tidak memiliki kemampuan modal akan terlempar dari area produksi dan akhirya menjadi masyarakat pinggiran (marginal society ).

  • Peranan harga dalam menentukan konsumsi

    Pada sisi konsumen, harga merupakan alat pengendali yang menentukan kemampuan konsumen dalam memenuhi berbagai kebutuhan dan keinginannya. Harga merupakan mekanisme yang mempersilahkan orang-orang mampu untuk membeli kekayaan yang mereka kehendaki dengan uang yang mereka miliki. Harga pula yang membuat hidup orang pas-pasan, atau harga merupakan mekanisme yang menentukan siapa saja orang yang berhak hidup dan siapa saja yang harus menyingkir dari kehidupan.

    Misalnya adalah kebijakan penghapusan subsidi perguruan tinggi oleh pemerintah yang mengakibatkan biaya pendidikan, terutama biaya pendidikan diperguruan tinggi favorit meningkat tajam sehingga sulit dijangkau oleh masyarakat golongan masyarakat menengah kebawah. Kebijakan ini akhirnya menentukan siapa saja para pemuda Indonesia yang layak melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, bahkan beberapa perguruan tinggi memberikan tempat istimewa bagi orang-orang kaya melalui jalur khusus.

  • Struktur harga sebagai metode distribusi ekonom kapitalis

    Stuktur harga sebagai titik pertemuan antara penawaran produsen dan permintaan konsumen merupakan metode distribusi dalam sistem ekonomi kapitalis. Pertemuan antara tingkat harga yang berlaku di pasar dengan keputusan konsumen untuk membeli barang dan jasa merupakan sarana penyaring mana barang yang laku dan tidak laku. Kedua keadaan tersebut memiliki konsekwensi masing-masing.

    • Konsekuensi pertama terhadap barang yang laku di pasaran adalah kemungkinan keuntungan yang diperoleh produsen. Pada saat produsen untung ia akan memutuskan apakah tingkat produksi (penawaran) tetap ataukah dinaikkan.

    • Konsekuensi kedua terhadap barang yang tidak laku dipasaran adalah kemungkinan kerugian yang dialaminya maka ia tetap melakukan produksi meskipun dengan menurunkan tingkat produksinya. Sebaliknya, ketika produsen tidak mampu lagi menanggung kerugian, maka baginya harus menghentikan produksi atau dengan kata lain menutup usahanya.

    Kombinasi dua konsekuensi tersebut menghasilkan atau mengubah laju produksi sebelumnya. Adapun yang dimaksud dengan laju produksi menyangkut tiga hal, yaitu barang apa saja yang diproduksi, berapa banyak diproduksi, dan untuk siapa barang tersebut diproduksi. Bagi produsen, barang yang diproduksi adalah barang dan jasa yang menghasilkan keuntungan, yakni barang yang laku di pasaran. Sedangkan tingkat produksi disesuaikan dengan tingkat permintaan konsumen dengan berdasarkan kemampuan produksi yang dimiliki produsen. Maksud dari “untuk siapa barang tersebut diproduksi” adalah barang dan jasa tersebt diproduksi untuk memenuhi “permintaan konsumen” Ruang lingkup “permintaan konsumen” bukanlah konsumen secara keseluruhan atau masyarakat pada umumnya, tetapi sekelompok konsumen atau sebagian masyarakat yang melakukan permintaan atas barang dan jasa yang ditawarkan produsen. Dimana kemampuan konsumen melakukan permintaan bergantung pada kekuatan daya belinya. Jadi hanya konsumen yang mampulah barang dan jasa yang diproduksi diperuntukkan, bukan bagi orang yang tidak mampu atau golongan miskin.

Perkembangan Ekonomi Kapitalis


Doktrin utama dari sistem ekonomi kapitalis dan pasar bebas yang merujuk kepada pemikiran ahli ekonomi klasik dimana digambarkan bahwa perekonomian akan berjalan tampa campur tangan pemerintah, model pemikiran ini bertahan cukup lama dari kwartal terakhir abad ke-18 dan pertengahan pertama abad ke-19, pandangan dan pemikiran para tokoh ekonomi pada zaman itu sangat berpengaruh di Eropa dan Amerika serikat hampir satu abad lamanya (Bachrawi Sanusi:2004). Akan tetapi dengan terjadinya depressi dunia pada tahun 1930an, memaksa banyak orang untuk menyadari bahwa telah terjadi perubahan-perubahan dan mengakui bahwa pemikiran-pemikiran lama ternyata sudah tidak sesuai lagi dengan perekonomian pada zaman ini

Depressi besar mengakibatkan beberapa Negara industri yang maju, menciptakan banyak pengganguran besar-besaran, berbagai perbankan dan perusahaan menjadi bangkrut, para petani banyak yang kehilangan tanah, penghasilan dan pengeluaran merosot. Akibat dari kondisi tersebut, muncul pendapat kebanyakan orang, utamanya ahli-ahli ekonomi pada zaman itu, mereka berpendapat bahwa satu-satunya obat yang paling mujarab adalah perlunya kebijaksanaan pemerintah dalam pembelanjaan besar-besaran

Negara-negara industri, termasuk Amerika Serikat, yang mengalami kesulitan akibat depressi ekonomi,dapat diatasi dengan kebijaksanaan pembelanjaan pemerintah yang cukup besar untuk membangun proyek prasarana. Ahli-ahli ekonomi klasik yang merupakan penganjur dari sistem ekonomi kapitalis tidak mampu menemukan solusinya pada waktu itu. Pada saat yang bersamaan lahirlah buku “General Theory of Employement, Interrest and Money” katya Yohan Maynard Keynes yang mengungkapkan konsep Negara kesejahteraan. Dalam konsep ini sektor swasta dipersilahkan berkembang namun intervensi pemerintah tetap diperlukan untuk menstabilkan perekonomian suatu Negara, khususnya untuk menggerakkan sektor riil dan menciptakan lapangan kerja. Keynes yakin bahwa depressi yang terjadi sangat membutuhkan progam besar untuk membiayai prasarana melalui pinjaman modal. Akibat ganda dari pengeluaran pemerintah akan berakibat pada penghasilan masyarakat, pembelanjaannya dan lowongan kerja yang meningkat.

Keynes menyarankan juga perlunya distribusi penghasilan/pendapatan yang lebih merata serta perlu adanya kebijaksanaan pembatasan penghasilan sebagai suatu cara untuk menyehatkan perekonomian. Dengan lahirnya the General Theori dari Keynes banyak ahli-ahli ekonomi dunia yang menyokong teori ini dan dinilai oleh ahli ahli ekonomi dunia sebagai suatu revolusi dalam pemikiran ekonomi. Pada saat itulah awal dari runtuhnya sistem ekonomi kapitalis. Pemikiran ekonomi Keynesian yang mendominasi Negara-negara industri selama tiga puluh tahun sempat menjadi panutan oleh kebanyakan anggota PBB. Namun dengan terjadinya krisis minyak bumi yang dimulai pada akhir tahun 1973 mengakibatkan resesi ekonomi dunia, pengangguran dan inflasi di atas 20 persen di sejumlah Negara dan membuat negara-negara dunia ketiga tidak mampu membayar utangnya. Sejak saat itu Negara-negara kapitalis memandang doktrin Keynesian tidak mampu memberikan solusi bahkan dianggap sebagai penyebab krisis. Krisis minyak bumi mendorong Negara-negara kapitalis menempuh cara baru di dalam mengelola perekonomiannya. Pembatasan fiscal dan control atas money supply menjadi tren baru di Negara-negara industri maju, inilah yang mengilhami munculnya kembali paham sistem ekonomi kapitalis dengan nama baru “neoliberalisme”. Doktrin ekonomi neoliberalis dikembangkan ke dalam kerangka liberalisme yang lebih sistimatis. Elizabeth Martinez and Arnoldo Garcia menjelaskan lima kerangka utama neoliberalisme, yaitu :

  1. Free market

    Dalam konsep free market, swasta dibebaskan dari keterikatannya terhadap Negara dan tanggung jawab terhadap permasalahan sosial yang terjadi karena aktivitas perusahaan mereka. Pengurangan tingkat upah dengan menghapus serikat-serikat pekerja dan memotong hak-hak buruh Harga dibiarkan bergerak tampa intervensi pemerintah. Kebebasan total dalam perpindahan modal, barang, jasa. Para pengusung free market senantiasa menyatakan: pasar yang tidak diatur adalah jalan terbaik untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, dan memberikan keuntungan bagi setiap orang.

  2. Pembatasan Anggaran Belanja Publik.

    Anggaran publik seperti kesehatan, pendidikan, pemenuhan air bersih, listrik, jalan umum, fasilitas umum, dan bantuan untuk orang miskin harus dikurangi dan dibatasi sehingga tidak membebani APBN. Pandangan ini sama saja dengan mengurangi peranan pemerintah dalam perekonomian dan pemenuhan kebutuhan publik. Namun dibalik paham neoliberal ini, kalangan korporasi dan pemilik modal sangat mendukung subsidi dan pengurangan pajak yang menguntungkan bisnia mereka.

  3. Deregulasi.

    Mengurangi deregulasi atau bahkan menghapus peraturan-peraturan yang menghambat kepentingan bisnis korporasi dan pemilik modal.

  4. Privatisasi.

    Menjual badaan usaha, barang atau jasa yang menjadi milik Negara (BUMN) kepada investor, khususnya aset-aset dalam bentuk bank, industry-industri kunci, kereta api, jalan tol, listrik, sekolah,rumah sakit,dan air bersih. Alasan utama dilakukannya prinatisasi untuk megejar efisiensi. Namun pada faktanya privatisasi justru menciptakan konsentrasi kekayaan ke tangan segelintir orang-orang kaya sedangkan rakyat harus menanggung beban harga-harga public utilitiesyang mahal.

  5. Menghilangkan Konsep Barang Publik.

    Pemindahan tanggung jawab pengadaan barang dan layanan public darai tangan Negara menjadi tanggung jawab individu. Dengan kata lain, masyarakat harus menemukan sendiri solusi dalam pemenuhan kebutuhan hidup mereka akan barang-barang publik.

Kelahiran neoliberalisme memang tidak dapat dipisahkan dari keberadaan ideologi kapitalisme. Karakter liberal yang bertumpu pada kebebasan dan menonjolkan kepentingan individu senantiasa menjadikan kegiatan ekonomi berjalan seperti hukum rimba. Philosuf Inggris Herber Spencer memandang seleksi alam (survival of fittest) sebagai frinsip wajib kegiatan ekonomi dalam sistem kapitalisme. Konsekuensinya, perekonomian berjalan dengan cara menindas yang lemah dan memfasilitasi yang kuat (pemilik modal) agar allokasi sumber daya (resources) dan penguasaan pasar berada di tangan pemilik modal.

Fenomena yang terjadi dengan lahirnya sistem ekonomi neoliberalis ini adalah ditandai kian merajalelanya perusahaan yang menembus batas antar Negara, yang dikenal dengan Trans National Coorporate (TNC) dan Multi National Coorporate (MNC). Menurut Tony Clarke (2001), saat ini, 70 persen dari perdagangan dunia dikontrol oleh hanya sekitar 500 TNC/MNC. Dan setengah dari investasi di dunia ini sahamnya dimiliki oleh hanya satu persen TNC. Lebih lanjut, dari 500 TNC/MNC terkaya didunia tersebut, sebanyak 443 perusahaan, yang berasal dari AS 185, Eropa 158 dan Jepang 100.

Adapun perubahan pemikiran ekonomi dari ekonomi pasar yang liberal ke Keynesian yang sarat intervensi pemerintah, pasca depressi besar 1929, dan kembali liberal pasca krisis minyak dunia 1973 dengan mainstream neoliberal merupakan dinamika pemikiran ekonomi yang berkembang dalam system kapitalisme, dinamika pemikiran ini tidak mengubah ideologi kapitalisme itu sendiri walaupun didalamnya terdapat aliran-aliran pemikiran yang saling bertolak belakang dan kebijakan yang saling kontradiktif.Sebab hakekatnya tidak ada perubahan pada asas sekularisme yang menjadi pokok pikiran dan standar nilai kapitalisme. Perubahan hanya terjadi pada pemikiran cabang ideologi ini, yakni pemikiran ekonomi.

Smber : Agustiati, Sistem ekonomi kapitalisme


(Zahrah Yuan Nisaka) #4

Kapital adalah uang yang menghasilkan banyak uang. Dengan kata lain, kapital lebih merupakan uang yang diinvestasikan ketimbang uang yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Kapitalisme menurut Max Weber bukan sekadar sebuah nilai atau sikap mental untuk mencari keuntungan secara rasional dan sistematis atau sekadar sebuah sistem produksi yang berorientasi pada pencarian keuntungan. Sementara menurut Karl Marx kapitalisme merupakan sebuah cara produksi dan hubungan dalam proses produksi kemudian menimbulkan berbagai implikasi seperti ekonomi politik, sosial psikologis maupun kultural. Ketika feodalisme mulai memudar, kemudian hadir sistem ekonomi yang kapitalistik, maka yang terjadi kemudian adalah perubahan hubungan antarkelas, mode produksi (mode of production), dan perubahan gaya hidup masyarakat.

Esensi kapitalisme adalah pemilikan, persaingan, dan rasionalitas. Berbeda dengan feodalisme dimana modal dan sumber pembentukan kelas tergantung pada kepada pemilikan luas lahan dan tradisi, dalam kapitalisme sumber perbedaan dan pembagian kelas adalah modal dan kepemilikan aset industri. Hal ini berdampak buruk bagi kelas proletar yang cenderung teralienasi dan mengalami proses eksploitasi yang menyebabkan posisi mereka benar-benar marginal.

Esensi lain yang mendasar dari kapitalisme, menurut Robert Lekachman dan Borin Van Loon, antara lain :

  1. Modal adalah bagian dari kekayaan suatu bangsa yang merupakan hasil karya manusia dan karenanya bisa diproduksi berulang kali (reproducible).

  2. Dibawah sistem kapitalisme, suatu perlengkapan modal masyarakat, alat- alat produksinya dimiliki oleh segelintir individu yang memiliki hak legal untuk menggunakan hak miliknya guna meraup keuntungan pribadi.

  3. Kapitalisme bergantung pada sistem pasar, yang menentukan distribusi, mengalokasikan sumber daya dan menetapkan tingkat pendapatan, gaji, biaya sewa, dan keuntungan dari kelas-kelas yang berbeda.

Kapitalisme

Ciri-Ciri Khusus Ekonomi Kapitalis


Kapitalis adalah orang-orang yang memiliki alat-alat produksi. Mereka adalah orang yang memberi upah. Sistem kapitalis adalah struktur sosial yang muncul dari dasar hubungan eksplotatif tersebut. Para kapitalis adalah orang-orang yang hidup dari keuntungan kapital mereka melalui eksploitasi proletariat.

Adapun karakteristik pokok ekonomi kapitalisme menurut Mandel (2006) adalah sebagai berikut :

  1. Produksi terdiri dari produksi komoditas, yaitu produksi yang bertujuan untuk dijual di pasar. Jika komoditi yang diproduksi tidak terjual diatas harga yang ada, perusahaan kapitalis dan kelas borjuis secara keseluruhan tidak akan mendapatkan nilai lebih yang dihasilkan pekerja melalui komoditi.

  2. Produksi dijalankan dalam kondisi dimana alat produksi dimiliki secara pribadi. Adanya kekuasaan untuk mengatur tenaga produktif (alat produksi dan tenaga kerja) bukan milik kolektif, melainkan terbagi-bagi antara perusahaan-perusahaan yang dikontrol oleh kelompok-kelompok kapitalis yang berbeda (kepentingan individu dan keluarga, perusahaan terbatas dan kelompok-kelompok financial).

  3. Produksi dijalankan untuk sebuah pasar yang tidak terbatas dan dibawah tekanan persaingan. Setiap individu kapitalis (pemilik pribadi, tiap perusahaan atau kelompok kapitalis) berusaha untuk mendapatkan keuntungan terbesar tanpa mempertimbangkan hasil keseluruhan dari keputusan serupa yang diambil oleh perusahaan lain yang beroperasi dalam bidang yang sama. Hal ini dilakukan untuk memperoleh bagian keuntungan terbesar dari keuntungan yang bisa dikeruk dari pasar.

  4. Tujuan produksi kapitalis adalah memaksimalkan keuntungan. Kelas pemilik prakapitalis hidup dari produk surplus sosial, umumnya mengkonsumsi dalam cara yang tidak produktif. Kapitalis harus merendahkan biaya produksi (biaya dan harga) serta menggunakan teknologi mesin yang canggih untuk mendapatkan jumlah kapital yang besar. Karenanya dibawah cambukan kompetisi, kapitalisme diwajibkan untuk mencari maksimalisasi keuntungan agar mengembangkan investasi produktif hingga maksimum.

  5. Produksi kapitalis muncul menjadi produk yang tidak hanya untuk memperoleh keuntungan akan tetapi akumulasi kapital.

Ciri-ciri kapitalisme lainnya adalah :

  1. Produksi untuk dijual dan bukannya untuk dikonsumsi sendiri,

  2. Adanya pasar dimana tenaga kerja dibeli dan dijual dengan alat tukar upah melalui hubungan kontrak,

  3. Penggunaan uang dalam proses tukar menukar yang selanjutnya memberikan peranan yang sistematis kepada bank dan lembaga keungan nonbank,

  4. Proses produksi atau proses kerja berada dalam kontrol para pemilik modal atau agen- agen manajerialnya,

  5. Kontrol dalam keputusan keuangan berada ditangan pemilik modal, dimana para pekerja tidak ikut serta dalam proses pengambilan keputusan,

  6. Berlakunya persaingan bebas diantara pemilik kapital.

Kapitalisme

Akumulasi Modal


Kapitalisme adalah suatu paham yang menyakini bahwa pemilik modal bisa melakukan usahanya untuk meraih keuntungan sebesar-besarnya. Demi prinsip tersebut, kapitalis mengembangkan jaringan usaha produksinya dengan memaksimalkan sirkulasi kapital tersebut atau sirkulasi komoditas, yaitu keinginan untuk memperoleh banyak keuntungan dan lebih banyak nilai-surplus melalui ekspansi bisnis. Karl Max menyebutkan hal ini sebagai “ hukum akumulasi modal kapitalis ”.

Akumulasi modal adalah proses yang dilakukan oleh para pemilik modal dalam memperbesar faktor produksinya. Dalam buku pertama Kapital, Marx menjelaskan tiga tipe sirkulasi komoditas. Sirkulasi bentuk pertama adalah ciri kapital, yaitu uang→Komoditas→Uang (dengan jumlah yang lebih besar), jika disimpulkan maka formulanya adalah M1-C-M2 . Operasi ini disebut “ membeli untuk menjual” atau “kapitalisasi nilai lebih” masuk akal hanya jika penjual tersebut membawa nilai tambah atau sebuah nilai lebih. Dalam hal ini M2 merupakan nilai lebih, jumlah peningkatan dalam nilai M. Sedangkan sirkulasi bentuk kedua bukan ciri kapital, yaitu Komoditas→Uang→Komoditas, maka formulanya adalah ( C1-M-C2 ).

Dengan demikian perumusan bagi sirkuit kapital uang adalah MC…P…C’-M’ ( money-comodity…production…commodity’-money’ ). Titik tersebut menandakan proses peredaran (sirkulasi) telah diinterupsi, sedangkan C’ dan M’ menandakan peningkatan pada C dan M sebagai hasil nilai-lebih. Nilai lebih dalam bentuk uang ini kemudian bisa dijadikan oleh pemilik modal untuk pembiayaan faktor produksinya, keuntungan untuk konsumsi pribadinya ataupun sebagai modal untuk pengembangan usaha sang pemilik modal yang kemudian awam dikenal dengan akumulasi modal (Engels, 2007).

Seorang kapitalis mengeluarkan uang (M) untuk merekrut pekerja dan membeli alat-alat produksi, kemudian menjual output yang dihasilkan untuk uang yang cukup untuk menutupi pengeluaran awalnya dan memperoleh keuntungan “nilai-surplus”. Dalam proses ini nilai tampil dalam berbagai-bagai bentuk seperti uang dan nilai melalui input produksi (tenaga kerja, bahan mentah, mesin-mesin dan gedung), setelah memproduksi maka dihasilkan nilai dari hasil komoditi yang diproduksi kemudian komoditi tersebut dijual akhirnya memperoleh nilai uang surplus.

Adapun hal yang mendasari akumulasi modal yang dilakukan oleh pemilik modal tidak lain lagi karena adanya persaingan bisnis waralaba yang dirangkum dalam Sistem Ekonomi Kapitalis. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Adam Smith, Sistem Ekonomi Liberal Kapitalis adalah sistem ekonomi yang terbentuk dengan sendirinya sebagai akibat persaingan yang sehat antar individu dalam memenuhi kepentingan ekonominya. Sebuah perusahaan akan kalah dalam persaingan apabila produk-produk yang dihasilkannya memiliki kualitas yang kalah bagus dibanding pesaingnya, atau mereka akan gagal mendapatkan keuntungan maksimal apabila kuantitas produksi mereka tidak mampu memenuhi pemintaan pasar. Solusinya adalah akumulasi kapital dalam bentuk teknologi mesin dan perkakas produksi muthakir yang akan meningkatkan kapasitas produksi perusahaan (Suyanto, 2011).

Marx pada dasarnya berpendapat bahwa struktur dan etos mendorong kapitalis dalam mengarahkan akumulasi pada penumpukan kapital yang lebih banyak lagi. Untuk melakukan ini, kerja merupakan sumber nilai, kapitalis digiring untuk meningkatkan eksploitasi terhadap proletariat (Ritzer, 2003). Sementara menurut Karl Marx menyatakan bahwa dalam masyarakat kapitalis, persaingan yang terjadi antara kapitalis dengan kapitalis lainnnya dalam memperebutkan daerah pemasaran. Persaingan itulah yang mendorong akhirnya akumulasi modal, konsentrasi perusahaan, kesengsaraan proletar, kelebihan produksi dan krisis ekonomi, sosial, dan politik. Salah satu bentuk aplikasi sirkulasi modal Karl Marx adalah melalui ekspansi jaringan Indomaret di berbagai daerah. Dalam proses sirkulasi komoditas juga dipengaruhi harga, yaitu harga barang itu sendiri menjadi tidak sama persis dengan nilainya sendiri.