© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan jilbab?

Jilbab

Banyak yang beranggapan jilbab itu adalah penutup kepala atau sering juga disebut kerudung, tapi sebenarnya jilbab adalah kain mengulur yang menutupi seluruh tubuh dari atas hingga mata kaki. Syaratnya tidak ketat artinya tidak membentuk lekukan tubuh, dan tidak pula terbayang atau transparan

Secara bahasa, kata al-jilbab sama dengan kata al-qamish atau baju kurung yang bermakna baju yang menutupi seluruh tubuh. Ia juga sama dengan al-khimar atau tudung kepala yang bisa dimaknai dengan apa yang dipakai di atas baju seperti selimut dan kain yang menutupi seluruh tubuh wanita (Majma’ Al-Lughah Al-Arabiyyah).

Manzurdalam Lisanul Arab mengatakan bahwa jilbab berarti selendang, atau pakaian lebar yang dipakai wanita untuk menutupi kepada, dada, dan bagian belakang tubuhnya.

Jilbab berasal dari kata kerja jalab yang berarti menutupkan sesuatu di atas sesuatu yang lain sehingga tidak dapat dilihat. Dalam masyarakat Islam selanjutnya, jilbab diartikan sebagai pakaian yang menutupi tubuh seseorang. Bukan hanya kulit tubuhnya tertutup, melainkan juga lekuk dan bentuk tubuhnya tidak kelihatan.

Imam (2013) dalam Tafsir ayat jilbab kajian terhadap QS al-Ahzab (33): 59 mengemukakan bahwa jalabib adalah bentuk jamak kata jilbab, yang merupakan bentuk mashdar dari kata jalbaba, yang berasal dari satu rumpun kata jalaba, yang berarti menghimpun dan membawa. Ia juga berarti menutupkan sesuatu diatas sesuatu yang lain sehingga tidak dapat dilihat. Jalabib sendiri dapat menutupi seluruh anggota badan. Di dunia Arab lebih dikenal dengan jalabiyyah, selain itu juga tajalbaba yang berarti “membajui.”

Penelusuran atas teks Al-Qur’an tentang jilbab agaknya tidak sama dengan pengertian sosiologis tersebut. Para ahli tafsir menggambarkan jilbab dengan cara yang berbeda-beda. Ibnu Katsir mengemukakan bahwa jilbab adalah selendang di atas kerudung. Ini yang disampaikan Ibnu Mas’ud, Ubaidah Qatadah, Hasan Basri, Sa’id bin Jubair Al-Nakha’i, Atha Al-Khurasani dan lain-lain. Ia bagaikan “izar” sekarang. Al-Jauhari, ahli bahasa terkemuka, mengatakan izar adalah pakaian selimut atau sarung yang digunakan untuk menutup badan.

Para ahli tafsir berbeda pendapat dalam masalah mengulurkan jilbab yang dimaksudkan Allah dalam ayat jilbab. Sebagian mereka ada yang menafsirkan dengan menutup wajah dan kepala serta hanya menampakkan satu mata, dan sebagian mereka ada yang menafsirkan dengan menutup muka mereka (Ath-Thabari, 2000). Menurut Al-Qurthubi (tt), jilbab adalah pakaian yang menutup seluruh badan. Ia juga menyebutkan bahwa menurut Al-Hasan, ayat tersebut memerintah kaum wanita untuk menutup separo wajahnya.

Azzamakhsyari merumuskan jilbab sebagai pakaian yang lebih besar daripada kerudung, tetapi lebih kecil daripada selendang. Ia dililitkan di kepala perempuan dan membiarkannya terulur ke dadanya. Menurut Al-Jazairi, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka artinya mengulurkan jilbab ke wajah mereka sehingga yang tampak dari seorang wanita hanyalah satu matanya yang digunakan untuk melihat jalan jika dia keluar untuk suatu keperluan.

At-Tirmidzi menafsirkan mengulurkan jilbab dengan menutup seluruh tubuh, kecuali satu mata yang digunakan untuk melihat. Di antara yang memaknainya demikian ialah Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Abidah As-Salmani, dan lain-lain.

Menurut Az-Zuhaili (1991), ayat jilbab menunjukkan wajibnya menutup wajah wanita. Karena para ulama dan mufassir seperti Ibnul Jauzi, At-Thabari, Ibnu Katsir, Abu Hayyan, Abu Su’ud, Al-Jashash, dan Ar-Razi menafsirkan mengulurkan jilbab adalah menutup wajah, badan, dan rambut dari orang-orang asing (non mahram) atau ketika keluar untuk sebuah keperluan.

Analisis Munasabah Tentang Jilbab


Dalam memahami persoalan pakaian Muslimah dan jilbab perlu diuraikan ayat-ayat yang membahas batas-batas aurat. Baik yang terdapat pada surat an-Nur maupun yang terdapat pada surat lainnya yang ada munasabahnya.

QS. An-Nur (24): 30

Artinya: Katakanlah kepada kaum mu’minin: Hendaklah mereka menahan pandangannya dan menjaga kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. (an-Nur [24]: 30)

Ayat ini, menjelaskan bahaya pandangan mata, dan memerintahkan kaum beriman untuk menjaga kemaluannya. Karena kelamin/kemaluan hanya diperuntukkan untuk suami-istri mereka saja dalam melestarikan keturunan melalui jalan pernikahan, selain itu tidak diperkenankan oleh syari’at Islam.

Penafsiran Hassan (2007) pada QS. Al Nur (24) ayat 30, ayat ini merupakan perintah bagi orang mukminin untuk memalingkan pandangan mata mereka ketika melihat perempuan serta memelihara kemaluan dari terbuka, terutama daripada melakukan perkara yang tidak halal.

QS. An-Nur (24): 31

Artinya: Katakanlah kepada para wanita yang beriman: Hendaklah mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasanya, kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera- putera mereka atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang- orang yang beriman supaya kamu beruntung. (an-Nur (24): 31)

Ayat ini lebih detail menjelaskan mengenai kewajiban muslimah berjilbab dan kapan saatnya muslimah diperbolehkan tidak berjilbab. Pada QS. Al-Nur (24) ayat 31 ini merupakan perintah untuk menjaga pandangan pada laki-laki bagi
perempuan-perempuan mukminat. Selain itu, juga perintah menjaga kemaluannya daripada terbuka, dan terutama daripada terganggu kehormatannya.

Perempuan mukminat juga dilarang untuk menampakkan perhiasan mereka kepada laki-laki yang halal bagi mereka untuk berkawin, melainkan pakaian luar, muka dan tangan karena inilah yang biasa lahir dan yang demikian ini banyak ditegaskan dalam hadits-hadits Nabi. Kerudung yang sudah tetap dan wajib itu, hendaknya dibelitkan ujung-ujungnya di leher hingga tertutup dada mereka. Dan juga ketika berjalan, tidak boleh menghentakkan kakinya hingga terdengar kepada laki-laki suara gelang mereka, serta aksi-aksi lain yang bisa menarik perhatian laki-laki (El Guindi, 2005)

QS al-Ahzab (33):59

Artinya : Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Dalam ayat ini, Ahmad Hassan menjelaskan pengertian jilbab, yaitu satu pakaian yang menutup segenap badan atau sebagian besar badan sebelah atas. Hal tersebut diperintahkan karena agar perempuan-perempuan mukminat dikenal dan tidak diganggu oleh orang-orang munafik yang jahat (al-Ghaffar, 1984)
Sebab nuzul atau sebab-sebab turunnya kedua ayat tersebut menurut suatu riwayat adalah sebagai berikut:

  • Menurut riwayat yang ditakhrijkan oleh Ibni Mardawaih, dari ‘Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata: Pada masa Rasulullah saw, ada seorang berjalan di suatu jalan di Madinah, kemudian dia melihat seorang wanita, dan wanita itupun melihatnya, lalu syaitan pun mengganggu keduanya sehingga masing-masing melihatnya karena terpikat. Maka ketika laki-laki tersebut mendekati suatu tembok untuk melihat wanita tersebut, hidungnya tersentuh tembok hingga luka. Lalu ia bersumpah: Demi Allah saya tidak akan membasuh darah ini hingga bertemu Rasulullah Saw dan memberi tahu kepadanya tentang masalahku. Kemudian ia datang kepada Rasulullah dan menceritakan peristiwanya. Kemudian bersabdalah beliau: “Itu adalah balasan dosamu”.

  • Menurut riwayat yang ditakhrijkan oleh Ibnu Kasir, dari Muqatil ibni Hibban, dari Jabir ibni Abdillah al-Ansariy, ia berkata: “Saya mendengar berita bahwa Jabir ibni Abdillah al-Ansariy menceritakan, bahwa Asma’ binti Marsad, ketika berada di kebun kurma miliknya, datanglah kepadanya orang-orang wanita dengan tidak memakai izar (kain), sehingga tampaklah gelang kaki mereka dan dada mereka. Maka berkatalah Asma’: Ini tidak baik.

Sekalipun ayat tersebut diturunkan karena sebab tertentu, namun ayat tersebut berlaku untuk umum, yaitu seluruh kaum mukminin. Allah memerintahkan kepada kaum mukminin agar menahan pandangannya terhadap wanita-wanita yang bukan mahramnya, dan melarang memandang kecuali hanya bagian yang diperbolehkan memandangnya. Juga memerintahkan agar menjaga farjinya (kemaluannya) dari perzinaan dan menutup auratnya hingga tidak terlihat oleh siapa pun, sehingga hatinya menjadi lebih bersih dan terjaga dari kemaksiatan.
Hal ini disebabkan karena pandangan mata dapat menimbulkan syahwat dalam hati, dan sering kali syahwat dapat mengakibatkan kesusahan yang sangat panjang. Apabila dengan tidak sengaja memandang sesuatu yang haram, maka hendaklah segera memalingkan pandangannya, dan jangan mengulanginya dengan pandangan yang penuh syahwat, sebab Allah Maha Mengetahui.

Allah tidaklah hanya memberi peringatan kepada kaum mukminin, melainkan juga kepada kaum mukminat. Bahkan tidak hanya melarang memandang hal-hal yang haram, melainkan juga melarang menampakkan perhiasannya, kecuali kepada mahramnya, agar tidak mudah terpeleset dalam kemaksiatan, namun apabila perhiasan tersebut terlihat tanpa disengaja, maka Allah Maha Pengampun.

Pada masa jahiliyah orang-orang perempuan suka membuka bagian leher, dada dan lengannya, bahkan sebagian tubuhnya hanya sekedar menyenangkan laki-laki hidung belang. Orang-orang pria pun pada masa jahiliyah suka memandang aurat wanita. Sebagaimana masa kini, bahkan pada masa kini mereka lebih berani, maka pantaslah jika masa kini disebut “jahiliyah modern”. Moral yang rendah itulah yang menjadi sumber kejahatan, baik masa lampau maupun sekarang ini.

Seperti yang tertuang dalam surat Al Ahzab ayat 33 yang artinya:

Artinya : Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al Ahzab [33]: 33)

Untuk itulah Allah memerintahkan kepada kaum wanita untuk menutup auratnya dengan sempurna, dan melarang kaum pria mengumbar pandangannya untuk menjaga kejahatan yang lebih parah yang menimbulkan kekacauan dalam masyarakat, maka tugas kita para dai dan daiyah, para guru agama, tokoh masyarakat, stakeholder sekolah, para ustadz-ustadzah, takmir masjid, pelajar dan mahasiswa muslim untuk mendakwahkan Islam. Untuk menyampaikan mengenai tata cara berpakaian dan berjilbab menurut syariat Islam. Hal ini merupakan bentuk riil dari dakwah kolektif yang perlu dilakukan bersama-sama agar hasil dakwah ini bisa kuat mengantarkan para kaum beriman menuju ketaatan kepada Allah dan Rasulnya, kesopanan dan kesantunan dalam hidup bermasyarakat dan beragama.

Pendapat Ulama Tentang Jilbab


1. Sayyid Qutub

Sayyid Qutub berkata Allah memerintahkan Nabi agar menyuruh istri-istrinya, anak-anak wanitanya, dan wanita-wanita orang yang beriman secara umum, bila mereka keluar untuk menuanaikan kebutuhannya, agar menutupi tubuhnya, kepalanya dan belahan baju yang terletak di dadanya, dengan jilbab yang menyelimutinya. Sehingga dengan kostum dan pakaian seperti itu, mereka keliahatan beda dan menjadikan mereka aman dari gangguan orang-orang fasik, karena dengan pengenalan dan ciri khas mereka seperti itu secara bersama-sama mengesankan rasa malu dan bersalah dalam pribadi orang-orang yang biasanya sengaja mencari cela untuk menghina dan menggoda wanita.

Pada surat Al-Ahzab dikatakan “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak wanitamu, dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu.” Mujahid berkata “Mereka mengenakan jilbab agar dikenal sebagai wanita yang merdeka, sehingga tidak seorangpun dari orang- orag fasik yang berani menjadikan mereka sebagai sasaran gangguan dan pelcehan.”

Berkenaan dengan surat Al-ahzab ini as-Suddi berkata "Beberapa orang dari kelompok orang-orang yang fasik di madinah keluar di malam hari ketika gelap menyelimuti malam. Mereka keluar ke jalan yang ada, di madinah dengan sasaran mengganggu wanita, tempat- tempat tinggal di madinah memang sempit-sempit sehingga pada malam harilah biasanya wanita buag hajat ditempat yang ditentukan. Kemudian orang fasik mencari kesempatan dan cela untuk menggoda mereka. Bila mereka melihat wanita yang menggunakan jilbab mereka berkata, wanita ini adaah wanita merdeka. Dan, mereka tidak berani menganggunya. Namun, bila mereka melihat wanita yang tidak mengenakan jilbab mereka berkata wanita ini adalah budak. Dan mereka pun mengganggu dan melecehkannya.

2. Ahmad Musthafa Al-Maraghi

Dalam surat An-Nur “kecuali yang biasa nampak darinya” : beliau mengatakan cincin, celak mata dan lipstick. Maka, dalam hal ini mereka tidak akan mendapatkan siksaan, lain halnya jika mereka menapakkan perhiasan yang harus disembunyikan seperti gelang tangan, gelang kaki, kalung, mahkota, selempang dan anting-anting, karena semua perhiasan ini terletak pada bagian tubuh (hasta, betis, leher, kepala, dada dan telinga) yang tidak halal untuk dipandang, kecuali oleh orang-orang yang dikecualikan dalam ayat.

Menutupi tubuh seperti itu lebih memudahkan pengenalan sebagai wanita terhormat, sehingga mereka tidak diganggu dan tidak menemui hal yang tidak diinginkan dari mereka, karena wanita yang pesolek akan menjadikan pandangan yang mengejek dan mengolok-ngolok.

3. Imam At-Thabari

Imam At-Thabari berkata, pendapat yang paling mendekati kebenaran dalam masalah ini adalah pendapat yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah SWT, “Dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya” adalah wajah dan kedua telapak tangan, termasuk pula celak, cincin, gelang kaki, dan pewarna.

Kami katakana yang demikian itu lebih mendekati kebenaran dengan mentawakkilkan kesepakatan ulama bahwa setiap orang yang menunaikan shalat harus menutup auratnya di dalam shalatnya dan ia harus menutup bagian-bagian badan yang selain itu. Dan apabila yang demikian itu sudah menjadi ijma dari semuapihak, maka dimaklumi bahwa wanita boleh menampakkan badannya selama bukan termasuk aurat, sebagaimana halnya berlaku bagi kaum laki-laki, karena bagian-bagian yang bukan aurat tidak haram menampakkannya.