Apa yang dimaksud dengan Interpersonal Psychotherapy ?

terapi_psikologis

(Lia Permata Sari) #1

Interpersonal psychotherapy

Interpersonal psychotherapy (IPT) adalah psikoterapi yang dilakukan secara singkat dan berfokus pada keterikatan yang berpusat pada penyelesaian masalah interpersonal dan pemulihan simtomatik.

Apa yang dimaksud dengan Interpersonal Psychotherapy ?


(Dinah Lisasari) #2

Interpersonal Psychotherapy (IPT) adalah sebuah psikoterapi yang memiliki batasan waktu yang jelas, berfokus pada hubungan interpersonal, dan memiliki tujuan untuk menghilangkan gejala dan meningkatkan fungsi interpersonal individu (Robertson, Rushton, & Wurm, 2008). Awalnya IPT dikembangkan oleh Gerald Klerman dan Myrna Weissman pada tahun 1970-an untuk menangani klien dengan kasus depresi yang unipolar dan non-psikotik (Klerman, Weissman, Rounsaville, & Chevron, 1984; Weissman, Markowitz, & Klerman, 2000; Weissman, Markowitz, & Klerman, 2007).

Prinsip utama dalam IPT adalah bahwa depresi dan distres muncul dalam sebuah konteks interpersonal. Depresi mungkin memiliki berbagai macam penyebab dan etiologi, namun trigger dari kemunculan episode-episode depresif yang dialami oleh klien melibatkan adanya gangguan dalam attachment dengan figur-figur yang menurut klien significant, atau hambatan dalam menjalankan peran sosial tertentu.

IPT dikembangkan berdasarkan dasar teori attachment, dikembangkan oleh John Bowlby, yang menjelaskan mengenai konteks interpersonal dari kemunculan depresi. Bowlby mengemukakan bahwa manusia memiliki kecenderungan mendasar untuk membangun ikatan afeksi (attachments) dengan orang lain, dan adanya gangguan atau ancaman terhadap ikatan ini dapat menyebabkan distres emosional, kesedihan, dan pada beberapa kasus mungkin bisa menyebabkan depresi. Untuk itu, sejak masa awal kehidupan, manusia sudah memiliki kebutuhan untuk membangun ikatan yang kuat dan tahan lama dengan caregivers.

Attachments dengan caregiver ini yang kemudian menjadi dasar bagi setiap individu untuk membangun kemampuan mengonstruksi dan mempertahankan konsep mental mengenai ‘diri’ dan ‘orang lain’ serta hubungan antara keduanya. Dengan demikian, secara tidak langsung individu juga belajar untuk mengorganisasi kognisi, afek, dan tingkah laku mereka menyangkut diri mereka dan hubungannya dengan orang lain.

Oleh sebab itu, dalam IPT, konteks interpersonal merupakan fokus utama dalam terapi karena dianggap sebagai faktor yang memunculkan, menyebabkan, dan mempertahankan distres psikologis yang dialami oleh klien. Untuk itu, IPT berusaha membantu klien meningkatkan kualitas hubungan interpersonal mereka atau mengubah ekspektasi klien mengenai hubungan sosial yang dimiliki. Sebagai tambahan, IPT juga membantu klien untuk meningkatkan jaringan dukungan sosial agar klien dapat menghadapi atau mengelola distres yang dialami dengan lebih baik (Stuart & Robertson, 2003).

Terdapat beberapa hal dalam pelaksanaan IPT yang mungkin ditemukan pula dalam bentuk psikoterapi lain. Pada IPT, terapis juga melakukan klarifikasi mengenai keadaan mood dari klien terkait dengan peristiwa interpersonal, analisis pola komunikasi, dan proses pengambilan keputusan, peningkatan kemampuan interpersonal, dan beberapa pekerjaan rumah yang harus dilakukan oleh klien (Verdeli & Weissman, dalam Corsini & Wedding, 2011). Meskipun demikian, terdapat fokus yang berbeda antara IPT dengan bentuk terapi lain. Pada terapi psikodinamika misalnya, fokus utama terapi adalah pengalaman pada masa-masa awal kehidupan klien sebagai penentu berbagai suatu proses mental yang tidak disadari oleh klien, sehingga menimbulkan konflik intrapsikis yang kemudian mempengaruhi perilaku. IPT tidak mengeksplorasi perilaku klien sebagai bentuk manifestasi dari adanya konflik psikis internal, namun lebih terkait dengan hubungan interpersonal klien pada masa sekarang (Verdeli & Weissman, dalam Corsini & Wedding, 2011).

IPT juga memiliki prinsip-prinsip yang serupa dengan Cognitive Behavioral Therapy (CBT), dimana terapi berfokus pada peristiwa here and now, terstruktur, menggunakan teknik-teknik serupa, dan berusaha membantu klien untuk mengoptimalkan pilihan-pilihan yang dimiliki klien untuk mengatasi masalahnya. Meskipun demikian, IPT tidak fokus untuk berusaha mencari tahu automatic distorted thoughts klien seperti yang dilakukan dalam CBT melalui pemberian pekerjaan rumah yang sistematis. IPT juga tidak berfokus untuk membantu klien berlatih mengembangkan pikiran-pikiran positif sebagai alternatiif dari automatic negative thoughts klien.

IPT lebih berfokus untuk membantu klien mengeksplorasi dan memodifikasi pola-pola komunikasi yang maladaptif yang dapat menyebabkan dan mempertahankan distres yang klien alami. Dalam IPT, automatic negative thoughts dan perilaku seperti rasa bersalah, kurang asertif, dan bias-bias negatif hanya dieksplorasi terkait dengan dampaknya terhadap hubungan dan peran sosial klien (Verdeli & Weissman).

Tujuan Interpersonal Psychotherapy
Gambar Tujuan Interpersonal Psychotherapy

Tujuan IPT


Tujuan utama IPT adalah untuk mengubah pandangan yang salah mengenai hubungan interpersonal yang selama ini diyakini dan dimiliki oleh diri klien, serta untuk membangun kemampuan interpersonal pada diri klien (Anchien & Kiesler, 1982). Berikut adalah beberapa rincian dari tujuan dilakukannya IPT :

  1. Membantu klien mengerti mengenai masalah interpersonalnya dan memperbaiki fungsi sosialnya

  2. Menyadarkan mengenai pentingnya interaksi dengan orang lain, terutama dengan pasangan

  3. Menyadari akan pentingnya memiliki hubungan interpersonal

  4. Memodifikasi hubungan interpersonal yang sudah terdistorsi

  5. Mengubah pandangan yang salah mengenai hubungan interpersonal yang selama ini diyakini dan dimiliki

  6. Menguasai peran sosial agar lebih mampu beradaptasi dalam situasi interpersonal

  7. Membangun kemampuan interpersonal

  8. Menyadari kekuatan diri dan kelemahan diri yang pada akhirnya mengakibatkan dilakukannya perilaku maladaptif selama berhubungan interpersonal

Di dalam IPT, terapis akan mengumpulkan informasi dari klien mengenai kunci permasalahan yang kerap terjadi dalam hubungannya. Setelah itu, bersama dengan klien, terapis akan mendiskusikan dan mengidentifikasi konsep kesulitan yang sering dihadapi dalam hubungan klien. Klien kemudian diminta untuk mengidentifikasi salah satu area masalah yang menjadi fokus IPT. Setelah area masalah sudah teridentifikasi, terapis akan mulai menyusun strategi untuk mengatasi area masalah tersebut, seperti dengan memberikan edukasi konseling, skills, role play, dan lain-lain (Poleshuck dkk, 2010).

Konseling diyakini sebagai wadah asesmen dan identifikasi masalah, serta sebagai kesempatan klien untuk mencurahkan masalahnya sebagai sebuah proses pemulihan dan penyadaran masalah. Baru setelah kesadaran dan pemulihan muncul di dalam diri klien, skills akan diberikan kepada diri mereka sebagai bekal mengatasi permasalahannya. Skills yang biasanya diberikan adalah pelatihan komunikasi ataupun pelatihan asertif.

Kedua hal ini diyakini sebagai hal yang paling menentukan kemampuan interpersonal seseorang terhadap lingkungannya.

Menerjemahkan gejala depresi kedalam konsteks interpersonal
Gambar Menerjemahkan gejala depresi kedalam konsteks interpersonal

Teknik-teknik IPT


Pada dasarnya, sebelum mulai menerapkan IPT dalam penanganan kasus, seorang terapis sebelumnya harus sudah paham mengenai dasar-dasar konseling dan beberapa kemampuan yang dibutuhkan dalam psikoterapi. Selain itu, ada pula teknik-teknik khusus yang dapat digunakan oleh terapis dalam IPT, meskipun teknik ini mungkin tidak digunakan terbatas hanya untuk IPT saja. Teknik-teknik tersebut antara lain ialah, eksplorasi baik secara directive maupun non-directive, klarifikasi, mendorong klien untuk memunculkan afek (encouragement of affect), analisis pola komunikasi, role play, teknik pemecahan masalah (problem solving atau decision analysis), dan tentu saja mengembangkan hubungan terapeutik (Sturat & Robertson, 2003). Beberapa teknik utama dalam IPT akan dijelaskan di bawah ini :

  • Hubungan Terapeutik

    Dalam IPT, pembentukan hubungan terapeutik yang produktif merupakan teknik yang paling penting bila dibandingkan teknik lainnya. Setiap intervensi yang diberlakukan sebaiknya dapat memperkuat hubungan terapeutik yang sudah terbangun meskipun tentu terapis perlu menetapkan batasan dimana ia harus bersikap aktif dan directive kepada klien. Hubungan terapeutik dengan klien dalam IPT tidak sama dengan transference karena dalam IPT hubungan dengan terapis merepresentasikan peristiwa here and now dalam konteks hubungan interpersonal klien. Hubungan terapeutik dengan terapis dalam IPT dapat digunakan sebagai media untuk mengumpulkan informasi mengenai pola interaksi klien selama ini dengan lingkungannya, juga sebagai media dimana klien dapat memperoleh hubungan yang aman dan dengan secure attachment sebagai dasar untuk mengembangkan diri.

  • Mendorong klien untuk memunculkan afek (encouragement of affect)

    Dalam IPT, teknik ini digunakan untuk membantu klien memahami, mengelola, dan mengekspresikan afek mereka (Weissman, dkk., 2007). Beberapa tujuan dari dilakukannya teknik ini menurut Robertson (2003) adalah :

    • Membantu klien untuk mengenali afek yang segera mereka munculkan (immideate affect) sebagai respon terhadap suatu peristiwa

    • Membantu klien mengomunikasikan afek-afek tersebut dengan cara yang lebih efektif

    • Membantu klien mengenali afek-afek yang mungkin selama ini mereka supres atau afek yang tidak diketahui atau justru dihindari oleh klien karena dianggap menyakitkan

    Hal penting lain yang harus diperhatikan adalah bagaimana memunculkan afek-afek yang terjadi selama proses terapi berlangsung (process affect), dan tidak hanya afek mengenai peristiwa yang telah berlalu di luar proses terapi berlangsung (content affect). Dengan demikian, pasien dapat berlatih untuk menyadari adanya perasaan-perasaan tertentu yang sebelumnya tidak mereka sadari keberadaannya, misalnya seperti kekecewaan, marah, atau penyesalan. Melalui teknik ini, klien juga dapat berlatih untuk dapat menyadari bagaimana hubungan antara konteks interpesonal dari segala pola perilaku dan komunikasi yang mereka miliki selama ini.

  • Analisis Pola Komunikasi (Communication Analysis)

    Dalam IPT, pola komunikasi yang adaptif diyakini bertindak sebagai alasan utama munculnya permasalahan interpersonal. Selama proses terapi berlangsung, terapis akan mengidentifikasi pola interaksi klien yang cenderung ambigu, dan indirect baik secara verbal atau non-verbal untuk kemudian diubah menjadi pola komunikasi yang lebih direct, dan jelas, baik secara verbal maupun non-verbal (Weissman, dkk., 2007). Tujuan dari teknik analisis pola komunikasi adalah:

    • Mengidentifikasi pola komunikasi dan respon yang dimunculkan oleh klien saat berhadapan dengan orang lain

    • Mengidentifikasi kontribusi klien terhadap permasalahan komunikasi yang dialami

    • Memotivasi klien untuk berkomunikasi secara lebih efektif

    • Mempelajari kemampuan berkomunikasi yang lebih efektif

    Melalui teknik ini, peristiwa yang sudah lalu maupun yang baru terjadi kemudian dieksplorasi secara detail untuk mendeteksi adanya hambatan- hambatan yang dialami klien lalu kemudian dicari alternatif-alternatif untuk berkomunikasi secara lebih efektif. Eksplorasi secara detail dilakukan untuk kemudian melihat kembali peristiwa yang sebelumnya secara bias telah dipersepsi klien sebagai kesalahan dari pihak lain atau justru dihayati sebagai bentuk kesalahan diri sendiri. Analisis komunikasi kemudian dapat berlanjut kepada teknik lain seperti pemecahan masalah atau role-play. Pada kesempatan ini, terapis seringkali berperan sebagai model bagi klien dalam mengembangkan pola komunikasi.

  • Pemberian Skills atau Kemampuan Pemecahan Masalah dan Role-Play

    Biasanya, setelah melakukan beberapa teknik analisis terhadap konteks interpersonal dan pola komunikasi klien, terapis akan bertanya kepada klien apa yang dapat klien lakukan untuk mengatasi kondisinya tersebut. Terapis kemudian membantu klien merumuskan beberapa pilihan alternatif pemecahan masalah untuk membantu mereka menghilangkan rasa ketidakberdayaan ( hopelessness ) dalam menghadapi permasalahan mereka dan membantu mereka untuk memilih mana alternatif yang paling mungkin dilakukan dari pilihan yang tersedia.

    Selain itu, terapis juga membantu klien untuk mencoba mempraktekkan cara-cara berkomunikasi yang telah mereka pilih sebagai pemecahan masalah dengan melakukan role-play berdasarkan beberapa skenario yang didiskusikan bersama. Di sini terapis juga memperkenalkan kepada klien teknik-teknik berkomunikasi seperti komunikasi asertif, dan lain sebagainya. Terapis dapat memberikan umpan balik terhadap latihan yang sudah dilakukan serta kemudian memberikan pekerjaan rumah kepada klien untuk mencoba pola-pola tersebut di luar proses terapi. Terapis juga membantu klien mengubah ekspektasi mereka terhadap respon orang lain terhadap pola komunikasi baru yang telah mereka pelajari bila memang ekspektasi tersebut terkesan tidak realistis.


Gambar Tahapan dalam pelaksanaan Interpersonal Psychotherapy (IPT)

Identifikasi Area Masalah dalam IPT


Dalam IPT, distres psikologis diyakini dapat terjadi karena adanya stresor tertentu yang kemudian dikelompokkan ke dalam empat area masalah, yaitu :

  • (Unresolved) grief

    Dalam mengalami proses kehilangan, individu harus mampu untuk kemudian menerima adanya situasi dan peran baru dan mulai menumbuhkan minat-minat maupun hubungan yang baru untuk menggantikan hubungan yang sebelumnya telah hilang (Stuart & Robertson, 2003, dalam Robertson, Rushton, & Wurm, 2008). Grief dapat menjadi salah satu area permasalahan yang menyebabkan distres bagi individu bila berkepanjangan dan menimbulkan munculnya gejala fisik yang menggangu fungsi sehari-hari.

    Dalam IPT untuk menangani (unresolved) grief, terapi bertujuan untuk memfasilitasi proses berduka, dilakukan dengan cara-cara berikut:

    • Mendiagnosis grief sebagai area permasalahan

    • Mengklarifikasi kondisi kehilangan yang dialami oleh klien

    • Membuat klien menyadari adanya hubungan antara kemunculan gejala yang dialaminya dengan konteks kehilangan yang dialami

    • Membantu klien menerima afek yang dirasakan menyakitkan dari proses kehilangan yang berlangsung

    • Membantu klien untuk mengomunikasikan rasa kehilangan tersebut kepada orang lain

    • Memaknai ulang hubungan klien dengan significant others yang telah tiada

    • Membantu klien membangun jaringan dukungan sosialdan membina
      attachment baru dengan orang lain

  • Interpersonal disputes

    Interpersonal disputes dapat ditentukan sebagai area permasalahan bila klien mengalami perselisihan baik secara overt (terbuka)maupun covert (terselubung) dengan tokoh-tokoh significant others. Banyak perselisihan yang terselubung yang tidak dikemukakan klien karena klien merasa terlalu menyakitkan untuk mengakuinya dan menghadapinya, atau dianggap tidak akan ditemukan jalan keluarnya, atau justru dianggap sudah terselesaikan namun ternyata masih terdapat beberapa hal yang mengganjal.

    Beberapa peristiwa yang dapat termasuk ke dalam interpersonal dispute antara lain ialah:

    1. Konflik terbuka yang hostile : kekerasan rumah tangga, kekerasan verbal

    2. Pengkhianatan : ketidaksetiaan, konflik kesetiaan terhadap nilai-nilai tertentu dalam keluarga atau kelompok masyarakat lain yang significant dalam hidup klien

    3. Kekecewaan : ekspektasi yang tidak terpenuhi dalam pekerjaan, pendidikan, atau hubungan dengan orang-orang terdekat

    4. Konflik yang terhambat : kemarahan terhadap penyakit yang diderita pasangan, kecelakaan yang terjadi, dan sebagainya

    Dalam interpersonal dispute, terapi akan membantu klien untuk mengidentifikasi perbedaan dan permasalahan yang terjadi, menyusun rencana yang harus dilakukan untuk mengatasinya, memodifikasi pola perilaku yang kurang tepat untuk dilakukan, dan mengkaji ulang ekspektasi masing-masing. IPT dapat membantu klien dalam menyelesaikan interpersonal dispute yang sedang dialaminya jika sudah berada di luar kemampuan klien.

  • Role transition

    Role transition menjadi pokok area permasalahan untuk ditangani dalam IPT jika klien mengalami kesulitan beradaptasi dengan perubahan hidup yang menuntut klien untuk memiliki peran baru sehingga akhirnya mengalami distres. Secara tidak langsung, perubahan yang terjadi dianggap sebagai hilangnya sesuatu yang sebelumnya dimiliki klien.

    Beberapa peristiwa yang dapat dikategorikan sebagai role transition antara lain adalah :

    1. Situational role transitions : kehilangan pekerjaan, promosi, kelulusan, pindah ke daerah yang baru, dan lain sebagainya

    2. Relationship role transition : pernikahan, perceraian, kemunculan keluarga tiri, dan lain sebagainya

    3. Illness related role transition : diagnosis penyakit kronis, adaptasi terhadap keterbatasan fisik dan rasa sakit

    4. *Post-event role transition : gejala-gejala post-traumatic, dan lain sebagainya

    IPT dalam area permasalahan role transition bertujuan untuk membantu klien dalam:

    • Mendefinisikan ulang peran lama dan peran barunya dengan cara yang realistis

    • Menerima komponen emosional dari hilangnya peran lama dan mengemukakan tantangan yang menurut klien akan dialaminya dari peran barunya. Klien juga dibantu untuk mengekspresikan semua perasaannya berkaitan dengan perubahan yang terjadi

    • Mengembangkan kemampuan dan sikap terhadap tantangan yang mungkin akan dihadapi dalam peran yang baru serta membentuk jaringan dukungan sosialuntuk membantu klien dalam menjalani peran barunya

  • Interpersonal deficit (interpersonal sensitivity)

    Area permasalahan interpersonal deficit (selanjutnya digunakan istilah interpersonal sensitivity untuk menyamarkan nilai rasa dari istilah ‘ deficit’ yang dianggap negatif) berkaitan dengan kesulitan yang dialami klien dalam membangun dan mempertahankan hubungan sosial sehingga berakibat munculnya perasaan kesepian dan isolasi sosial. Konsekuensinya adalah, kurang berkembangnya jaringan dukungan sosialsehingga dapat menyebabkan masalah interpersonal yang lebih lanjut dan seringkali juga menyebabkan masalah psikologis lain seperti distres atau bahkan depresi karena kebutuhan akan attachment yang tidak berhasil terpenuhi.

    Modul untuk membantu klien dalam menangani masalah Interpersonal sensitivity merupakan ‘modul dasar’ dari IPT. Modul ini dirancang apabila tidak tampak adanya permasalahan interpersonal lain seperti tiga area permasalahan yang sebelumnya disebutkan. Area permasalahan interpersonal sensitivity dapat tampil dalam berbagai bentuk, mulai dari individu yang melaporkan hanya memiliki teman yang terbatas, hingga individu-individu yang seringkali mengalami kegagalan dalam membina hubungan sosial atau seringkali berkonflik. Dalam pelaksanaan IPT untuk mengatasi area permasalahan ini, perilaku yang ditampilkan klien selama sesi terapi berlangsung dapat menjadi salah satu sumber informasi klinis mengenai pola interaksi klien, termasuk passivity maupun hostility yang ditunjukkan klien terhadap terapis.

    Meskipun pola individu dalam menjalin hubungan sosial telah terbentuk dalam waktu lama, IPT hanya fokus untuk membantu klien dalam mengatasi kesulitan dalam hubungan sosial pada masa sekarang saja. Diharapkan dengan menyelesaikan kesulitan dalam hubungan sosial yang sedang dihadapi sekarang, klien dapat memperoleh kemampuan baru untuk kemudian dapat mereka gunakan dalam mengurangi isolasi sosial di konteks hubungan sosial lain di luar proses terapi. IPT untuk menangani interpersonal sensitivity bertujuan untuk :

    1. Mengoptimalkan fungsi hubungan sosial yang sudah dimiliki oleh klien

    2. Membantu klien membangun hubungan baru yang suportif

    3. Membantu menyelesaikan stresor-stresor akut yang dialami klien

Struktur IPT


Tabel Struktur Interpersonal Psychotherapy
Struktur Interpersonal Psychotherapy

Terdapat lima tahap yang berbeda dalam struktur pendekatan IPT, kelima tahap tersebut antara lain adalah:

  • Initial assessment

    Pada tahap awal ini, dilakukan semacam pengukuran untuk melihat kesesuaian karakteristik klien dengan pendekatan IPT. Beberapa karakteristik klien yang dapat meningkatkan kemungkinan keberhasilan pelaksanaan IPT antara lain ialah:

    1. Secara umum memiliki pola attachment yang cukup secure

    2. Dapat mengemukakan narasi yang cukup koheren dan elaboratif mengenai jaringan interpersonal serta bentuk interaksi interpersonal yang selama ini dimiliki

    3. Adanya fokus distres interpersonal yang spesifik

    4. Akses kepada jaringan dukungan sosial

    Tahap ini kemudian ditutup dengan disepakatinya kontrak mengenai proses terapi dengan menggunakan teknik IPT yang akan dilaksanakan. Termasuk penjelasan mengenai IPT, tujuan IPT, jumlah sesi yang akan dilangsungkan, dan hasil yang diharapkan.

  • Initial session

    Sesi-sesi pertama mencakup beberapa jenis tugas, antara lain adalah mengembangkan hipotesis detail mengenai penyebab klien mengalami kesulitan dalam hubungan interpersonalnya. Dalam tahap ini, klien juga diberikan ‘ sick role’ terkait kondisinya dan diberikan penekanan bahwa gejala-gejala yang ia rasakan tidak berbeda halnya dengan penyakit fisik yang dapat ‘disembuhkan’ bila klien mau bekerja sama dengan terapis. Dalam tahap ini terapis dan klien kemudian juga mengembangkan interpersonal inventory (IPI) yang merupakan catatan terstruktur mengenai konteks interpersonal klien terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi, di dalamnya tercakup informasi mengenai :

    1. Hubungan sosial yang sekarang dimiliki klien

    2. Riwayat kemunculan permasalahan klien terkait dengan hubungan sosial yang dimiliki

    3. Informasi lain yang relevan dengan proses penyelesaian masalah, misalnya pola attachment, pola komunikasi, dan sebagainya

    4. Kembali menegaskan hasil yang diharapkan dan merumuskan tujuan terapi secara realistis

  • Middle session

    Pada tahap ini, berdasarkan perumusan IPI dalam tahap sebelumnya, terapis kemudian dapat mengambil kesepakatan dengan klien mengenai area permasalahan yang akan disasar untuk ditangani. Terapis kemudian juga mengumpulkan lebih banyak informasi mengenai area permasalahan yang telah ditentukan tersebut dan mengklarifikasi temuan yang didapatkan dalam sesi. Terapis semakin menekankan keterkaitan antara konteks interpersonal dengan permasalahan yang dialami klien untuk kemudian bersama-sama merumuskan pilihan-pilihan solusi yang dapat dilakukan. Beberapa teknik IPT seperti analisis pola komunikasi, pengembangan kemampuan problem solving, memodifikasi ekspektasi klien mengenai hubungan sosial yang dimilikinya, dan pemberian edukasi serta melatih keterampilan sosial baru dengan role-play . Dalam sesi-sesi selanjutnya, solusi yang telah dipilih kemudian terus menerus dilatih dan dikaji bagaimana pengaruhnya terhadap hubungan sosial klien.

  • Conclusion/termination sessions

    Tujuan utama dari tahap ini adalah untuk mengembangkan kemandirian klien setelah mengikuti proses terapi. Pada tahap ini diharapkan klien merasa telah mengembangkan kompetensinya untuk berinteraksi dalam hubungan sosial. Idealnya, klien telah memperoleh kemampuan komunikasi yang baru, telah berhasil mengembangkan insight mengenai pola komunikasi mereka dan kaitannya dengan permasalahan yang timbul, dan telah mulai membangun jaringan dukungan sosialuntuk membantu mereka jika nantinya menemui permasalahan baru.

    Pada tahap ini, terapis akan melakukan review terhadap perkembangan yang telah dicapai oleh klien dan memberikan umpan balik positif terhadap perkembangan tersebut. Perkembangan yang dimaksud adalah penyelesaian masalah yang telah berhasil dilakukan, juga perkembangan kemampuan klien dalam membina hubungan sosial secara umum. Perlu ditekankan bahwa segala bentuk keberhasilan adalah hasil dari usaha klien, bukan karena terapis, meskipun terapis memang bertindak sebagai coach yang membantu.

    Terapis juga mendiskusikan dengan klien kemungkinan kemunculan permasalahan serupa dan perencanaan soal bagaimana klien akan mengatasinya, termasuk juga mengantisipasi kemungkinan munculnya permasalahan-permasalahan interpersonal baru. Terapis juga mendiskusikan dengan klien mengenai permasalahan yang belum terselesaikan melalui terapi dan mempertimbangkan proses maintenance terapi dengan melakukan pembaharuan kontrak kesepakatan terapi.