© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan infeksi?

Infeksi

Infeksi merupakan suatu gangguan pada kesehatan manusia yang dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, atau parasit. Infeksi sering menyerang manusia, terutama didaerah tropis.

Penyakit infeksi adalah penyakit yang disebabkan oleh mikroba patogen, dan bersifat sangat dinamis. Secara umum proses terjadinya penyakit melibatkan tiga faktor yang saling berinteraksi yaitu : faktor penyebab penyakit (agen), faktor manusia atau pejamu (host), dan faktor lingkungan.

Penyebaran Penyakit Infeksi


Secara garis besar, mekanisme transmisi mikroba patogen ke pejamu (calon penderita) yang rentan melalui dua cara:

  1. Transmisi Langsung
    Penularan langsung oleh mikroba patogen ke pintu masuk yang sesuai dari pejamu (calon penderita). Sebagai contoh adalah adanya sentuhan, gigitan, ciuman, atau adanya droplet nuclei saat bersin, batuk, berbicara atau saat transfusi darah dengan darah yang terkontaminasi mikroba patogen.

  2. Transmisi Tidak Langsung
    Penularan mikroba patogen yang memerlukan media perantara baik berupa barang/bahan, air, udara, makanan/minuman, maupun vektor. Beberapa macam transmisi tidak langsung adalah :

    • Vehicle Borne
      Sebagai media perantara penularan adalah barang/bahan yang terkontaminasi seperti peralatan makan, minum, alat-alat bedah/kebidanan, peralatan laboratorium, peralatan infus/transfusi.

    • Vektor Borne
      Sebagai media perantara adalah vektor (serangga) yang memindahkan mikroba patogen ke pejamu (calon penderita) adalah sebagai berikut:

      • Cara Mekanis
        Pada kaki serangga melekat kotoran/sputum mikroba patogen, lalu hinggap pada makanan/minuman, dimana selanjutnya akan masuk ke saluran cerna pejamu (calon penderita).

      • Cara Bologis
        Sebelum masuk ke tubuh pejamu (calon penderita), mikroba mengalami siklus perkembangbiakkan dalam tubuh vektor/serangga, selanjutnya mikroba dipindahkan ke tubuh pejamu (calon penderita) melalui gigitan.

    • Food Borne
      Makanan dan minuman adalah media perantara yang cukup efektif untuk menyebarnya mikroba patogen ke pejamu (calon penderita), yaitu melalui saluran cerna.

    • Water Borne
      Tersedianya air bersih baik secara kuantitatif maupun kualitatif, terutama untuk kebutuhan rumah sakit adalah mutlak. Kualitas air yang meliputi aspek fisik, kimiawi, dan bakteriologis diharapkan terbebas dari mikroba patogen sehingga aman untuk dikonsumsi. Jika tidak, sebagai media perantara, air sangat mudah menyebarkan mikroba patogen ke pejamu, melalui pintu masuk saluran cerna atau yang lainnya.

    • Air Borne
      Udara sangat mutlak diperlukan oleh setiap orang, namun adanya udara yang terkontaminasi oleh mikroba patogen sangat sulit untuk dideteksi. Mikroba patogen dalam udara masuk ke saluran nafas pejamu dalam bentuk droplet nuclei yang dikeluarkan oleh penderita saat batuk atau bersin, bicara atau bernafas, melalui mulut atau hidung. Sedangkan debu merupakan partikel yang dapat terbang bersama partikel lantai/tanah. Penularan melalui udara ini umumnya mudah terjadi di dalam ruangan yang tertutup seperti di dalam gedung, ruangan/bangsal/kamar perawatan, atau pada laboratorium klinik.

Dalam riwayat perjalanan penyakit, pejamu yang peka akan berinterksi dengan mikroba patogen yang secara alamiah akan melewati 4 tahap:

  1. Tahap Rentan

    Pada tahap ini pejamu masih dalam kondisi relatif sehat namun peka atau labil, disertai faktor predisposisi yang mempermudah terkena penyakit seperti umur, keadaan fisik, perilaku/kebiasaan hidup, sosial ekonomi, dan lain-lain. Faktor predisposisi tersebut mempercepat masuknya mikroba patogen untuk berinteraksi dengan pejamu.

  2. Tahap Inkubasi

    Setelah masuk ke tubuh pejamu, mikroba patogen mulai bereaksi, namun tanda dan gejala penyakit belum tampak. Saat mulai masuknya mikroba patogen ke tubuh pejamu hingga saat munculnya tanda dan gejala penyakit disebut inkubasi. Masa inkubasi satu penyakit berbeda dengan penyakit lainnya, ada yang hanya beberapa jam, dan ada pula yang bertahun-tahun.

  3. Tahap Klinis

    Merupakan tahap terganggunya fungsi organ yang dapat memunculkan tanda dan gejala penyakit. Dalam perkembangannya, penyakit akan berjalan secara bertahap. Pada tahap awal, tanda dan gejala penyakit masih ringan. Penderita masih mampu melakukan aktivitas sehari-hari. Jika bertambah parah, penderita sudah tidak mampu lagi melakukan aktivitas sehari-hari.

  4. Tahap Akhir Penyakit

    Perjalanan penyakit dapat berakhir dengan 5 alternatif, yaitu:

    • Sembuh sempurna
      Penderita sembuh secara sempurna, artinya bentuk dan fungsi sel/jaringan/organ tubuh kembali seperti sedia kala.

    • Sembuh dengan cacat
      Penderita sembuh dari penyakitnya namun disertai adanya kecacatan. Cacat dapat berbentuk cacat fisik, cacat mental, maupun cacat sosial.

    • Pembawa ( carrier )
      Perjalanan penyakit seolah-olah berhenti, ditandai dengan menghilangnya tanda dan gejalan penyakit. Pada kondisi ini agen penyebab penyakit masih ada, dan masih potensial sebagai sumber penularan.

    • Kronis
      Perjalanan penyakit bergerak lambat, dengan tanda dan gejala yang tetap atau tidak berubah.

    • Meninggal dunia
      Akhir perjalanan penyakit dengan adanya kegagalan fungsi–fungsi organ.

Sifat-sifat penyakit infeksi


Sebagai agen penyebab penyakit, mikroba patogen memiliki sifat–sifat khusus yang sangat berbeda dengan agen penyebab penyakit lainnya.8 Sebagai makhluk hidup, mikroba patogen memiliki ciri-ciri kehidupan, yaitu :

  • Mempertahankan kelangsungan hidupnya dengan cara berkembang biak.
  • Memerlukan tempat tinggal yang cocok bagi kelangsungan hidupnya.
  • Bergerak dan berpindah tempat.

Ciri–ciri kehidupan mikroba patogen tersebut di atas, merupakan sifat–sifat spesifik mikroba patogen dalam upaya mempertahankan hidupnya. Cara menyerang/invasi ke pejamu/ manusia melalui tahapan sebagai berikut :

  1. Sebelum pindah ke pejamu (calon penderita), mikroba patogen hidup dan berkembang biak pada reservoir (orang/penderita, hewan, benda–benda lain).

  2. Untuk mencapai pejamu (calon penderita), diperlukan adanya mekanisme penyebaran.

  3. Untuk masuk ke tubuh pejamu (calon penderita), mikroba patogen memerlukan pintu masuk (port d’entrée) seperti kulit/mukosa yang terluka, hidung, rongga mulut, dan sebagainya.Adanya tenggang waktu saat masuknya mikroba patogen melalui port d’entrée sampai timbulnya manifestasi klinis, untuk masing-masing mikroba patogen berbeda-beda.

  4. Pada prinsipnya semua organ tubuh pejamu dapat terserang oleh mikroba patogen, namun berbeda mikroba patogen secara selektif hanya menyerang organ–organ tubuh tertentu dari pejamu/target organ.

  5. Besarnya kemampuan merusak dan menimbulkan manifestasi klinis dari mikroba patogen terhadap pejamu dapat dinilai dari beberapa faktor berikut:

    • Infeksivitas
      Besarnya kemampuan mikroba patogen melakukan invasi, berkembang biak dan menyesuaikan diri, serta bertempat tinggal pada jaringan tubuh pejamu.

    • Patogenitas
      Derajat respons/reaksi pejamu untuk menjadi sakit.

    • Virulensi
      Besarnya kemampuan merusak mirkoba patogen terhadap jaringan pejamu.

    • Toksigenitas
      Besarnya kemampuan mikroba patogen untuk menghasilkan toksin, di mana toksin berpengaruh dalam perjalanan penyakit.

    • Antigenitas
      Kemampuan mikroba patogen merangsang timbulnya mekanisme pertahanan tubuh/antibodi pada diri pejamu. Kondisi ini akan mempersulit mikroba patogen itu sendiri untuk berkembang biak, karena melemahnya respons pejamu menjadi sakit.

Faktor yang mempengaruhi infeksi


Sejumlah faktor yang berperan dalam terjadinya infeksi dibagi menjadi 4, yaitu:

  • Faktor intrinsik: seperti umur, jenis kelamin, kondisi umum, resiko terapi, adanya penyakit lain, tingkat pendidikan dan lamanya waktu kerja.

  • Faktor ekstrinsik: seperti dokter, perawat, penderita lain, bangsal/lingkungan, peralatan, material medis, pengunjung/keluarga, makanan dan minuman.

  • Faktor keperawatan: lamanya hari perawatan, menurunnya standar perawatan, padatnya jumlah penderita.

  • Faktor mikroba patogen: kemampuan invasi/merusak jaringan, lamanya pemaparan.

Upaya Pencegahan Penularan Penyakit Infeksi


Tindakan atau upaya pencegahan penularan penyakit infeksi adalah tindakan yang paling utama. Upaya pencegahan ini dapat dilakukan dengan cara memutuskan rantai penularannya. Rantai penularan adalah rentetan proses berpindahnya mikroba patogen dari sumber penularan (reservoir) ke pejamu dengan/tanpa media perantara.

Kunci untuk mencegah atau mengendalikan penyakit infeksi adalah mengeliminasi mikroba patogen yang bersumber pada reservoir serta mengamati mekanisme transmisinya, khususnya yang menggunakan media perantara.

Sebagai sumber penularan atau reservoir adalah orang/penderita, hewan, serangga (arthropoda) seperti lalat, nyamuk, kecoa, yang sekaligus dapat berfungsi sebagai media perantara. Contoh lain adalah sampah, limbah, ekskreta/sekreta dari penderita, sisa makanan, dan lain-lain. Apabila perilaku hidup sehat sudah menjadi budaya dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, serta sanitasi lingkungan yang sudah terjamin, diharapkan kejadian penularan penyakit infeksi dapat ditekan seminimal mungkin.