Apa yang dimaksud dengan Iman?

iman

(Desi Adiani Ashalina) #1

Iman diambil dari kata kerja ‘aamana’ – yukminu’ yang berarti ‘percaya’ atau ‘membenarkan’.

Apa yang dimaksud dengan Iman ?


Apa yang dimaksud dengan Ihsan?
Hal-hal apa saja yang dapat yang merusak Keimanan seseorang?
Apa yang dimaksud dengan Islam?
Apa sejatinya Iman itu ?
Apa yang dimaksud dengan muslim?
(Andrian Daylon Valentino) #2

Kata iman berasal dari Bahasa Arab dari kata dasar amana yu’minu-imanan. Artinya beriman atau percaya. Percaya dalam Bahasa Indonesia artinya meyakini atau yakin bahwa sesuatu (yang dipercaya) itu memang benar atau nyata adanya.

Iman dapat dimaknai iktiraf, membenarkan, mengakui, pembenaran yang bersifat khusus.

Bila kita perhatikan penggunaan kata Iman dalam Al- Qur’an, akan mendapatinya dalam dua pengertian dasar, yaitu:

  1. Iman dengan pengertian membenarkan adalah membenarkan berita yang datangnya dari Allah dan Rasul- Nya. Dalam salah satu hadist shahih diceritakan bahwa Rasulullah ketika menjawab pertanyaan Jibril tentang Iman yang artinya bahwa yang dikatakan Iman itu adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul- rasul-Nya, hari kiamat dan engkau beriman bahwa Qadar baik dan buruk adalah dari Allah SWT.

  2. Iman dengan pengertian amal atau ber-iltizam dengan amal : segala perbuatan kebajikan yang tidak bertentangan dengan hukum yang telah digariskan oleh syara’.

Dalam sebuah ayat Allah :

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. Surat Al-Hujurat Ayat 15

Dari ayat tersebut, dapat dikatakan bahwa Iman adalah membenarkan Allah dan Rasul-Nya tanpa keraguan, berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Pada akhir ayat tersebut “mereka Itulah orang-orang yang benar” merupakan indikasi bahwa pada waktu itu ada golongan yang mengaku beriman tanpa bukti, golongan ini sungguh telah berdusta dan mereka tidak dapat memahami hakikat iman dengan sebenarnya. Mereka menganggap bahwa iman itu hanya pengucapan yang dilakukan oleh bibir, tanpa pembuktian apapun.

Pengertian iman secara istilahi ialah kepercayaan yang meresap ke dalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak (ragu), serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. Jadi, iman itu bukanlah semata-mata ucapan lidah, bukan sekedar perbuatan dan bukan pula merupakan pengetahuan tentang rukun iman.

Sesungguhnya iman itu bukanlah semata-mata pernyataan seseorang dengan lidahnya, bahwa dia orang beriman (mukmin), karena banyak pula orang-orang munafik (beriman palsu) yang mengaku beriman dengan lidahnya, sedang hatinya tidak percaya.

Iman itu membentuk jiwa dan watak manusia menjadi kuat dan positif, yang akan mengejawantah dan diwujudkan dlam bentuk perbuatan dan tingkah laku akhlakiah menusia sehari-hari adalah didasari/ diwarnai oleh apa yang dipercayainya. Kalau kepercayaannya benar dan baik pula perbuatannya, dan begitu pula sebaliknya.

Setiap orang mukmin adalah muslim, dan setiap orang muslim adalah mukmin. Husain bin Muhammad Al-Jisr

Memang antara percaya kepada Tuhan dan menyerahkan diri dengan ikhlas kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan, karena keduanya mempunyai hubungan yang erat, yang satu mendasari dan yang lain melengkapi, menyempurnakan dan memperkuatnya.
Keimanan kepada keesaan Allah itu merupakan hubungan yang semulia-mulianya antara manusia dengan penciptanya. Oleh karena itu, mendapatkan petunjuk sehingga menjadi orang yang beriman, adalah kenikmatan terbesar yang dimiliki oleh seseorang.

Keimanan itu bukanlah semata-mata ucapan yang keluar dari bibir dan lidah saja atau semacam keyakinan dalam hati saja.

Tetapi keimanan yang sebenar-benarnya adalah merupakan suatu akidah atau kepercayaan yang memenuhi seluruh isi hati nurani, dari situ timbul bekas-bekas atau kesan-kesannya, seperti cahaya yang disorotkan oleh matahari.

Sebagai mana disebutkan dalam firman Tuhan:

Di antara manusia ada yang mengatakan: “Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian,” pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan orang- orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. Surah Al-Baqarah Ayat : 8

Iman juga bukan sekedar amal perbuatan ansih yang secara lahiriyah merupakan ciri khas perbuatan orang-orang beriman. Sebab orang-orang munafik pun tak sedikit yang secara lahiriyah mengerjakan amal ibadah dan berbuat baik, sementara hati mereka bertolak belakang dengan perbuatan lahirnya, apa yang dikerjakan bukan didasari keikhlasan mencari Ridha Allah.

Abu Bakar Jabir al-Jazairi, menuturkan bahwa iman adalah membenarkan dan meyakini Allah sebagai tuhan yang memiliki dan yang disembah. Iman sebenarnya merupakan jalan untuk memulyakan akal pikiran manusia, dengan cara menerima semua ketentuan Allh pada setiap sesuatu, baik yang kelihatan atau tidak kelihatan, yang di tetapkan maupun yang di naikan. Iman juga menuntut aktif menggapai hidayah, mendekatkan diri kepada-Nya, dan beraktifitas selayaknya aktifitas para kekasih-Nya (hambanya yang saleh).

Unsur-unsur Iman


Unsur-unsur iman atau disebut juga sebagai rukun iman. Rukun iman itu ada enam, yaitu: iman kepada Allah, malaikat- malaikat Allah, kitab-kitab Allah, Rasul-Rasul Allah, hari kiamat dan takdir baik buruk itu dari Allah.

1. Iman kepada Allah

Yang dimaksud iman kepada Alah adalah membenarkan adanya Allah swt, dengan cara meyakini dan mengetahui bahwa Allah swt wajib adanya karena dzatnya sendiri (Wajib Al-wujud li Dzathi), Tunggal dan Esa, Raja yang Maha kuasa, yang hidup dan berdiri sendiri, yang Qadim dan Azali untuk selamanya. Dia Maha mengetahui dan Maha kuasa terhadap segala sesuatu, berbuat apa yang ia kehendaki, menentukan apa yang ia inginkan, tiada sesuatupun yang sama dengan-Nya, dan dia Maha mengetahui.

Berdasarkan firman Allah;

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan Kami taat.” (mereka berdoa): “Ampunilah Kami Ya Tuhan Kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” QS. Al- Baqarah ;285

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab- Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari kemudian, maka sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. QS. An-Nisa’; 136

Jadi iman kepada Allah adalah mempercayai adanya Allah swt beserta seluruh ke Agungan Allah swt dengan bukti-bukti yang nyata kita lihat, yaitu dengan diciptakannya dunia ini beserta isinya.

2. Iman kepada Para Malaikat

Syaikh Hafizh bin Ahmad Hakami mengatakan, yang di maksud iman kepada malaikat adalah meyakini adanya malaikat, sebagai hamba Allah yang selalu tunduk dan beribadah. Allah Ta’ala berfirman;

Dan mereka berkata: “Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak”, Maha Suci Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), adalah hamba-hamba yang dimuliakan,
Mereka itu tidak mendahului-Nya dengan Perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintahNya. Surat Al-Anbiya Ayat 26-27

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. Surat At-Tahrim Ayat 6

Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi, mengatakan dalam bukunya: malaikat adalah makhluk agung, jumlahnya banyak dan tak terbilang, tidak ada yang bisa menghitungnya selain Allah semata. Allah meciptakan mereka dari cahaya, menciptaka mereka dengan tabiat baik, tidak mengenal kejahatan, dan mereka tidak dperintahkan atapun melakukan itu. Karena itu mereka taat kepada Rabb, tidak mendurhkai apapun yang diperintahkan, dan melakukan perintah yang disampaikan. Mereka bertasbih memahasucikan Allah siang dan malam tanpa kenal lelah, tidak jemu untuk beribadah kepada Allah ataupun sombong.

Beriman dengan para malaikat adalah salah satu rukun iman. Mereka adalah sejenis makhluk Allah yang selalu taat kepada-nya, tidak akan menentang perintahnya dan tidak makan atau minum. Mereka juga senantiasa jaga dan tidak pernah tidur sekejappun, baik siang maupun malam.

Firman Alla Ta’ala;

Hampir saja langit itu pecah dari sebelah atas (karena kebesaran Tuhan) dan malaikat-malaikat bertasbih serta memuji Tuhan-nya dan memohonkan ampun bagi orang-orang yang ada di bumi. Ingatlah, bahwa Sesungguhnya Allah Dia-lah yang Maha Pengampun lagi Penyayang. Surat Asy-Syura Ayat 5

Iman kepada Para Malaikat adalah percaya bahwa malaikat adalah makhluk ciptaan Allah swt yang tidak pernah membangkang perintah-Nya, juga makhluk gaib yang menjadi perantara-perantara Allah swt dengan Para Rasul. Kita percaya bahwa malaikat merupakan makhlk pilihan Allah, mereka tidak berbuat dosa, tidak melawan kepada-Nya, pekerjaannya semata-mata menjunjung tinggi tugas yang diberikan kepada mereka masing-masing.

3. Iman kepada Kitab-Kitab Allah

Makna beriman kepada kitab-kitab ilahi yang merupakan bagian dari akidah mukmin ialah membenarkan secara pasti kalam khusus Allah yang Dia Wahyukan kepada Rasul pilihan-Nya, kemudian disatukan dan dsusun menjadi lembaran-lembaran atau kitab-kitab suci.

Lembaran-lembaran dan kitab-kitab yang diketahui wajib diimani secara rinci, dan yang tidak diketahui wajib diimani secara garis besar. Satu-satunya referensi yang menjadi sumber untuk mengetahui kitab-kitab Ilahi secara rinci adalah Al-Qur’an, karena Al-Qur’an dalah kitab yang terjaga sedemikian rupa, tidak ada penambahan ataupun pengurangan, tidak ada pendistorsian, tidak ada perubahan ataupun penggantian sama sekali di dalamnya. Al-Qur’an akan terus terjaga dengan penjagaan Allah hingga mendekati ambang batas akhir kehdupan dunia ini.

Firman Allah

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al- Qu’ran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. QS. Al-Hijr; 9

Beriman kepada kitb-kitab wajib secara syar’i maupun logika. Adapun ia wajib secara syar’i, karena Allah memerintahkannya secara pasti dan tidak menunjukkan apa pun selain harus taat kepada-Nya dalam hal ini, melarang durhaka kepada-Nya, melalui firman terkait perintah untuk beriman.

Yang dimaksud dengan iman kepada kitab-kitab Allah adalah membenarkan bahwa kitab-kitab tersebut telah diturunkan oleh Allah. Kitab tersebut diturunkan melalui firman-firman-Nya. Ada yang disampaikan secara langsung kepaa para Rasul tanpa perantara, ada yang disampaikan melalui perantara malaikat, dan ada yang dia tulis sendiri.

Allah berfirman dalam

Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan Dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir18 atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. Surat asy- syuura; 51

Berdasarkan firman Allah;

Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya. Barangsiapa yang kafir kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab- Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari Kemudian, Maka Sesungguhnya orang itu telah sesat sejauh-jauhnya. Qs. an Nisa 136

4. Iman kepada Para Rasul

Iman kepada Rasul adalah percaya dan yakin bahwa Allah swt telah mengutus para Rasul kepada manusi untuk memberi petunjuk kepada manusia, dan Nabi yang wajib kita percayai itu ada dua puluh lima.

5. Iman kepada Hari Akhir

Hari akhir ialah Hari kiamat, termasuk kebangkitan (alba’ts), yaitu keluarnya manusia dari kubur mereka dalam keadaan hidup, sesudah jazad mereka dikembalikan dengan seluruh bagiannya seperti dulu kala di dunia.

6. Iman kepada Taqdir (Qadha dan Qadhar)

Iman kepada Qadha dan Qadhar adalah percaya bahwa segala hak, keputusan, perintah, ciptaan Allah swt yang berlaku pada makhluknya termasuk dari kita (manusia) tidaklah terlepas (selalu berlandaskan pada) kadar, ukuran, aturan dan kekuasaan Allah swt.

Sebagai manusia biasa yang lemah kita harus percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas izin Allah swt, jadi berserah dirilah kepada Allah swt, dengan cara berusaha, berdoa dan berikhtiar kepada Allah. Karena Allah swt memberi cobaan itu pasti sesuai dengan posisi kita masing-masing, tidak ada yang kurang atau lebih. Artinya manusia hanya bias berusaha dan sesungguhnya Allah swt yang akan menentukan.

Jadi sebagai seorang mu’min kita wajib percaya kepada rukun-rukun iman yang akan menjadi benteng yang kokoh dalam kehidupan kita di sunia. Dan kita memang harus yakin bahwa Alah swt lah Tuhan kita, Islam sebagai agama, Muhammad sebagai Rasul, al-Qur’an sebagai kitabullah dan petunjuk, serta kita berpegang teguh kepada agama islam, beriman kepada semua yang telah diciptakan Allah swt.

Keutamaan dan Pahala Iman


Kewajiban kita yang pertama kali sebagai manusia adalah beriman kepada Allah. Setelah itu beriman kepada yang lain yang jelas telah diperintahkan dalam Al-Qur’a dan Hdits Nabi.

Iman Ibnu Tuslan dalam Azzubad mengatakan:

“Kewajiban pertama kali bagi manusia, adalah mengetahui (ma’rifat) kepada Allah (beriman) dengan yakin (tentang adanya Allah)”.

Dengan iman inilah manusia akan memperoleh martabat yang tinggi dan tingkatan yang mulia di sisi Allah. Sehingga siapa saja yang beriman kepada Allah dan para Rasul-Nya maka akan memperoleh pahala yang besar.

Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an :

“Karena itu berimanlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu beriman dan bertakwa, maka bagimu pahala yang besar”. Q.S Ali Imran ayat 179

Berdasarkan ayat tersebut, maka jelaslah bahwa dengan keimanan seseorang akan memperoleh pahala yang besar. Di dalam Al-Qur’an Allah telah menjanjikan dengan tegas kepada orang-orang yang benar-benar beriman baik laki-laki maupun perempuan akan diberi pahala berupa surga, yaitu suatu tempat di alam akhirat kelak yang penuh dengan segala macam keenangan, ketenangan, kesejahteraan, dan kenikmatan yang kekal abadi selama-lamanya.

Dan itulah merupakan pahala terbesar dan kenikmatan yang hakiki. Sebab kalua kita jumpa manusnia-manusia di dunia yang sudah tercukupi segala-galanya punya rumah yang megah, punya perusahaan yang berkembang pesat, punya segala macam model mobil mewah, punya istri cantik dan seterusnya, sehingga ia merasa tenang dan tentram, merasa bahagia dan merasa nikmat.

Tapi itu semuanya adalah merupakan kepuasan, ketenangan, kebahagiaan, dan kenkmatan yang hanya sementara. Jadi kepuasan, ketenangan, ketentraman, kebahagiaan dan kenikmatan yang hakiki hanyalah di surga. Inilah sebagai pahala orang yang benar-benar beriman, yang telah dijanjikan oleh Allah.

Allah Swt berfirman dalam Al-Qur’an

Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. Qs. At –Taubah : 72

Dan firman Allah Ta’ala:

Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan Itulah kemenangan yang besar. QS. At-Taubah 111

Dari kedua ayat tersebut, memberikan pengertian dengan tegas dan pasti bahwa orang-orang yang benar-benar beriman atau orang-orang yang sempurna imannya (beramal shalih dan bertaqwa kepada Allah) akan memperoleh pahala berupa surga, yang gambarannya di bawah surga itu mengalir sungai-sungai, mereka senantiasa dalam keridhaan Allah dan mereka kekal selama-lamanya di dalam surga itu, yakni tak akan mengalami kematian lagi dan tidak akan kehabisan waktu. Mereka di surga tidak menginginkan pindah tempat maupun ke luar dari padanya.

Jadi keimanan inilah yang akan menentukan nasib bagi seseorang berabad-abad di alam akhirat kelak. Maka siapa saja yang menginginkan pahala surga, hendaklah menjadi orang yang beriman dan konsekuensi terhadap keimanannya.

Orang yang beriman akan memperoleh pahala surga itu, tidak berarti asal beriman atau mempercayai keenam rukun iman itu saja, tapi disamping itu harus juga disertai dengan melakukan amaliah-amaliah (perbuatan-perbuatan) yang telah disebutkan dalam cabang-cabangnya iman. Sebab dalam hadits Nabi disebutkan, bahwa iman itu mempunyai 77 cabang.

Sebagaimana hadits Nabi dari Abu Hurairah ra, bahwasannya Rasulullah saw, bersabda:

“Iman mempunyai 77 cabang. Adapun yang paling utama adalah ucapan Laa Ilaaha Illallah, dan yang paling rendah adalah membuang (menyingkirkan) kotoran (sesuatu yang menyakitkan) di jalan. Dan malu adalah sebagian dari cabangnya iman”.

Dalam hadits tersebut ucapan Laa ilaaha illallah adalah merupakan caang iman yag paling utama. Oleh karenanya di dalam hadits Nabi ditegaskan bahwa ucapan Laa ilaaha illallah adalah merupakan kunci surga. Siapa yang pada akhir kalimat yang keluar dari lidahnya, kalimat Laa illaha illallah pasti masuk surg. Demikianlah sebagaimana disebutkan dalam hadits Nabi.dari Mu’adz ra. Rasulullah Saw, bersabda:

“Siapa yang akhir kalimat yang keluar dari lidahnya, kalimat "Laa Ilaaha Illallaah” pasti masuk surga”. (HR. imam Abu Dawud dan Al-Hakim)


(Annisa Maulida Zahro) #3

Iman menurut Ibn Taimiyyah ialah tidak cukup hanya sekedar pembenaran hati dan juga lisan, tetapi juga harus disertai amal perbuatan. Banyak orang yang menyatakan dengan lisan-nya bahwa ia telah beriman, tetapi perbuatan mereka banyak yang melakukan hal-hal yang dilarang oleh syari’at.

Sesuai dengan firman Allah SWT:

“Dan mereka berkata: “Kami Telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami mentaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman”. (QS. al-Nur : 47)

Menurut Ibn Taimiyyah ayat ini menafikan iman dari orang-orang yang berpaling dari ketaatan dan tidak mau memikirkannya. Ini merupakan nash al-Qur’ân yang sangat jelas. Ibn Taimiyyah mengatakan jika amal perbuatan disertakan ke dalam iman, dimaksudkan agar tidak ada yang beranggapan bahwa hanya dengan iman saja tanpa amal salih yang merupakan keharusan bagi iman, sudah cukup untuk mendapatkan janji untuk masuk ke dalam surga. Penyebutan amal-amal salih merupakan pengkhususan terhadap nash yang sudah ada, agar dapat diketahui bahwa pahala yang dijanjikan di akhirat, yaitu berupa surga tanpa azab, tidak akan di berikan kepada orang yang beriman tanpa mengerjakan amal shalih.

Adapun yang dimaksud dengan iman menurut Ibn Taimiyyah bahwa iman itu harus diwujudkan dengan amal perbuatan, maksudnya ialah mengerjakan perintah- perintah yang wajib. Artinya jika seseorang muslim yang meninggalkan perbuatan yang sunnah, maka yang demikian itu tidak mempengaruhi iman-nya, tetapi jika meninggalkan hal-hal yang diwajibkan maka itu sangat mempengaruhi iman-nya

iman

Iman Yang Global dan Iman Yang Terinci

Di antara manusia ada yang beriman kepada para Rasul dengan keimanan global dan menyeluruh. Adapun keimanan yang terperinci adalah sebagaian besar apa yang dibawa oleh para Rasul yang sampai kepadanya (ia mengetahuinya) meski sebagian lainnya tidak. Apa yang tidak sampai kepadanya dan ia pun tidak tahu, namun seandainya sampai kepadanya ia tentu beriman kepadanya. Inilah yang disebut beriman kepada apa yang dibawa oleh para Rasul secara global.

Apabila ia mengamalkan apa yang ia ketahui, yaitu apa yang diperintahkan oleh Allah SWT, untuk dilaksanakan dengan keimanan dan ketakwaannya, sesuai dengan apa yang dianjurkan oleh al-Qur’ân dan sunnah, maka itulah yang disebut dengan keimanan yang terinci.

Perlu diketahui bahwa setiap hamba tidak dibebani kewajiban iman yang terinci. Tetapi kata Ibn Taimiyyah apabila seseorang yang mengetahui al-Qur’an dan sunnah serta makna-maknanya, maka ia diwajibkan atas dirinya iman yang terinci, berdasarkan pengetahuannya itu, tidak seperti yang diwajibkan atas orang lain. Tetapi apabila seseorang ini meninggalkan dari keimanan yang terinci maka ia tidak akan diazab oleh Allah. Sebaliknya apabila seseorang mengamalkan keimanan yang terinci ini, maka ia telah mencapai kesempurnaan dalam agamanya, sesuai dengan firman Allah swt:

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (QS. al-Mujadalah : 11)

Ayat tersebut menegaskan bahwa orang yang beriman kepada Rasulullah Saw itu bertingkat-tingkat, sebagian mereka keimanannya itu lebih besar dari pada yang lain sesuai dengan keilmuan yang sampai kepadanya. Demikian juga dari segi amal perbuatan, maka keimanan dari padanya ini adalah amal perbuatan, jika ia mengamalkan apa yang di bawa oleh Nabi Muhammad Saw. maka itu adalah bukti keimanan yang paling besar.

Jadi orang yang mencari pengetahuan secara terinci dan mengamalkannya, maka imannya lebih sempurna daripada orang yang mengetahui apa yang diwajibkan atas dirinya, namun ia tidak mengamalkan semuanya.

Menurut Ibn Taimiyyah, pembenaran yang mengharuskan amal hati (seperti takut kepada Allah SWT, tawakkal, mencintai Nabi Muhammad Saw dan berharap syafaat-nya), lebih sempurna daripada pembenaran yang tidak disertai dengan amal hati. Pengetahuan yang kemudian diamalkan oleh orangnya, lebih sempurna daripada pengetahuan yang tidak diamalkan orangnya. Jika dua orang sama-sama mengetahui bahwa Allah SWT adalah haq, Rasul-Nya adalah haq, surga adalah haq, lalu pengetahuan salah seorang di antaranya mendatangkan rasa cinta kepada Allah SWT, takut kepadanya, mengharapkan surga dan lari dari neraka, sementara pengetahuan yang satunya tidak mendatangkan hal-hal itu, maka dapat diketahui bahwa pengetahuan orang yang pertama lebih sempurna.

Kekuatan akibat merupakan bukti dan kekuatan sebab semua ini muncul dari pengetahuan. Pengetahuan tentang apa yang dicintai mengharuskan pencariannya dan pengetahuan tentang apa yang ditakuti mengharuskan penghindaran darinya. Jika tidak ada sesuatu yang mengharuskan, menunjukkan kelemahan apa yang diharuskan karena itulah Nabi Muhammad Saw bersabda:

“Sesuatu yang dikabarkan tidak seperti yang dilihat dengan mata kepala”.

Karena itulah ketika Allah mengabarkan kepada Musa bahwa kaumnya menyembah anak lembu, maka beliau tidak melempar lembaran al-kitab. Tetapi ketika melihat dengan mata kepala, beliau melemparkannya, itu terjadi bukan berarti Musa menyaksikan pengabaran Allah, tapi seakurat apapun suatu pengabaran dan sebenar apapun pemberi kabar, tetap tidak seperti gambaran ketika hal itu terlihat langsung di depan mata kepala. Bahkan hatinya hanya disibukkan dengan apa yang digambarkan, meski apa yang dikabarkan itu dapat di percaya. Sebagaimana yang diketahui ketika melihat dengan mata kepala itulah tampak apa yang dikabarkan, tidak hanya sebatas pengabaran. Pembenaran ini lebih sempurna daripada pembenaran yang lainnya.

Jadi amal-amal hati seperti mencintai Allah dan Rasul-Nya, taat kepada Allah, berharap kepada-Nya dan lain sebagainya, semua termasuk bagian dari keimanan seperti yang diisyaratkan al-Kitab dan al-Sunnah serta kesepakatan orang-orang salaf. Maka karena itulah manusia ada yang beriman dengan terinci dan ada yang beriman secara global.

Amal Perbuatan Termasuk Syarat Iman


Iman bagi Ibn Taimiyyah ialah pembenaran dalam hati dan pengucapan dengan lisan, serta dibarengi dengan pembuktian yakni dengan amal perbuatan. Ibn Taimiyyah menambahkan konsep iman dengan amal perbuatan, dimaksudkan agar tidak ada orang yang beranggapan bahwa hanya dengan iman saja atau hanya dengan pembenaran dalam hati saja dan pengucapan dengan lisan, seseorang sudah cukup mendapatkan janji masuk surga, tanpa mereka memperdulikan amal perbuatannya. Justru amal shalih ini merupakan keharusan bagi iman.

Dan sesungguhnya iman itu tidak bisa dipisahkan dengan amal salih. Sebagaimana firman Allah swt:

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal shalih dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran, dan nasehat menasehati supaya menetapi kebenaran”. (QS. al-Ashr : 1-3)

Ayat ini jelas bahwa iman itu tidak bisa dipisahkan dengan amal perbuatan salih, atau dengan kata lain yang dikatakan orang yang beriman itu adalah orang mewujudkan amal perbuatannya yang shalih. Tidak hanya pembenaran dalam hati dan pengucapan dengan lisan, tetapi ia membuktikan imannya itu dengan amal perbuatan. Jadi penyebutan amal salih itu merupakan pengkhususan terhadap nash yang sudah ada, agar dapat diketahui bahwa pahala yang dijanjikan di akhirat, yaitu berupa surga tanpa azab, tidak akan diberikan kepada orang yang menyatakan iman tanpa beramal.

Allah telah menjelaskan di beberapa ayat, bahwa orang-orang yang benar-benar dalam perkataannya. “Aku beriman”, harus melaksanakan kewajiban. Karena banyak orang yang mengaku beriman, tetapi ia tidak melakukan kewajibannya. Sebagaimana Allah berfirman:

“Dan mereka berkata: “Kami Telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami mentaati (keduanya).” Kemudian sebagian dari mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman”. (QS. al-Nur : 47)

Oleh karenanya iman itu perkataan dan perbuatan, keduanya tidak terpisahkan, sebagaimana yang sudah diterangkan di atas. Ibn Taimiyyah mengatakan hanya semata-mata pembenaran oleh hati dan ucapan lisan, tetapi disertai benci kepada Allah dan tidak menjalankan syariat-Nya ini adalah bukan iman, sampai pembenaran oleh hati itu bergandengan dengan amal shalih.

Jadi yang dikatakan dengan iman yang sempurna ialah pembenaran hati, serta mewujudkan dengan amal yang nyata atau secara lahir. Hal ini merupakan harga mati, mustahil di dalam hati ada iman yang sempurna tanpa amal yang lahir. Sebagai misal, ada orang yang berkata, “Di dalam hatinya ada iman seperti iman yang ada di dalam hati Abû Bakar dan Umar”. Padahal dia tidak pernah sujud kepada Allah, tidak puasa Ramadhan, lalu ia berzina. Apakah orang semacam ini adalah orang mukmin yang sempurna. Tentu saja semua orang mukmin menolak pendapat ini.

Bahkan al-Isfirayainy mengatakan, sesungguhnya orang mukmin itu menjadi orang mukmin yang sebenarnya jika dia mewujudkan imannya itu dengan amal salih. Sebagaimana orang berilmu yang disebut orang berilmu sebenarnya jika ia berbuat sesuai dengan ilmu yang dimilikinya, sebagaimana Allah berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu, adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhan-nya lah mereka bertawakkal, yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya”. (QS. Al-Anfal: 2-4).

Lebih lanjut al-Isfayainy mengatakan, bahwa hakikat iman menurut bahasa adalah pembenaran, yang tidak dapat terwujud kecuali dengan ma’rifat dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepadanya, atau dapat dilakukan dengan isyarat dan kepatuhan sebagai ganti dari ungkapan lewat kata-kata (artinya, bagi orang yang bisu umpamanya, dapat melakukannya dengan isyarat, sebagai ganti dari ungkapan dengan kata-kata).

Adapun tentang orang yang melakukan dosa besar, Ibn Taimiyyah mengatakan, dia tidak bisa disebut sebagai kafir di dalam hatinya, kecuali jika dia orang munafik, yang dimaksud dengan orang munafik, ialah dia yang telah mengucapkan syahadat dengan lisannya tetapi masih ada di dalam hatinya keragu- raguan tentang Allah dan Rasul-Nya. Maka kata Ibn Taimiyyah, orang yang seperti ini akan kekal di dalam neraka, adapun bagi orang yang fasik atau melakukan dosa besar, maka orang tersebut tidak kekal di neraka, dan Allah akan masukkan dia ke dalam surga.

Ibn Taimiyyah mengkritik Mu’tazilah yang mengatakan bahwa orang yang melakukan dosa besar dan dia belum sempat bertaubat, maka orang itu akan kekal di dalam neraka. Mu’tazilah menyebut fasik kepada orang yang melakukan dosa besar, dan orang fasik sama seperti orang munafik yang akan kekal di neraka. Kaum Mu’tazilah memakai dalil, bahwasanya Allah berfirman

“Katakanlah: "Nafkahkanlah hartamu, baik dengan sukarela ataupun dengan terpaksa, namun nafkah itu sekali-kali tidak akan diterima dari kamu. Sesungguhnya kamu adalah orang-orang yang fasik”. (QS. al-Taubah : 52)

Menurut kaum Mu’tazilah setelah disebutkan bahwa infaq mereka tidak akan diterima, ini menunjukkan bahwa sebab tidak diterimanya adalah kefasikan mereka. Mu’tazilah mengatakan bahwa bentuk lahiriah dari ayat ini menunjukkan bahwa penafian penerimaan itu terjadi karena kefasikan.

Ibn Taimiyyah mengkritik Mu’tazilah bahwa yang kekal di dalam neraka, adalah orang kafir dan orang munafik, kalau setiap orang yang melakukan dosa besar dikatakan sebagai orang fasik atau munafik dan akan kekal di neraka, lalu apa gunanya syafaat yang akan diberikan kepada Nabi Muhammad Saw kepada umatnya. Sementara Nabi Muhammad Saw apabila didatengi seseorang yang membutuhkan sesuatu, maka beliau bersabda kepada para sahabat-Nya,’ Baiklah dia syafa’at, niscaya kalian akan mendapat pahala, dan Allah akan memenuhi lewat lisan Nabi-nya menurut apa yang di kehendaki-Nya.

Atas dasar ini maka Ibn Taimiyyah membagi kezhaliman menjadi tiga macam:

  • Pertama; kezhaliman yang berupa kemusrikan dan tidak ada syafa’at di dalamnya.,

  • Kedua; kezhaliman sebagian manusia terhadap sebagian yang lain, dengan keharusan pemenuhan hak bagi orang yang dizhalimi, yang harus di lakukan oleh orang yang berbuat zhalim.,

  • Ketiga; orang yang menzhalimi dirinya sendiri, seperti sering melakukan dosa besar, orang yang seprti ini kata Ibn Taimiyyah masih dalam keadaan Islam, dan dia tetap ahli tauhid (masih dalam keadaan bertauhid) meskipun ia zhalim kepada dirinya sendiri, dan dalam hal ini dia termasuk orang yang mendapatkan syafa’at.

iman

Kritik Ibn Taimiyyah Terhadap Aliran Kalam Tentang Makna Iman

Ibn Taimiyyah mengkritik keras terhadap golongan Murji’ah, yang menganggap bahwa iman itu hanya sekedar pembenaran dalam hati dan pengetahuannya dan menganggap bahwa iman seseorang sama semua, dan menganggap seseorang menjadi orang mukmin secara sempurna hanya dengan hatinya. Dengan gambaran ini dia dapat mencaci maki Allah dan Rasul-Nya, bahkan seseorang boleh saja menampakkan perilakunya sebagai orang yang kafir.

Menurut mereka yang hatinya tidak sama dengan perlakuannya, karena seseorang tidak dapat mengetahui hati seseorang.

Ibn Taimiyyah memandang pemikiran mereka ini sangat berbahaya, karena mereka tidak hanya mengabaikan amal perbuatan saja tetapi mereka juga mengabaikan pengakuan dengan lisan. Ibn Taimiyyah tidak segan-segan mengkafirkan mereka, karena sesungguhnya Iblis menjadi kafir dikarenakan kesombongan mereka tidak mau melaksanakan perintah Allah untuk sujud kepada Nabi Adam, bukan karena Iblis mendustakan pengabaran. Begitu pula Fir’aun dan kaumnya. Firman Allah tentang mereka:

“Dan mereka mengingkarinya Karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang berbuat kebinasaan”. (QS. al-Naml : 14)

Ayat ini menegaskan bahwa seseorang itu menjadi kafir, karena amal perbuatannya jelas jelas sudah tidak seperti seorang muslim, walaupun di dalam hatinya mengetahui, dan ayat di atas menunjukkan bahwa Fir’aun tahu Allah menurunkan ayat-ayat dan dia termasuk makhluk Allah yang paling ingkar, karena kehendaknya yang rusak, bukan karena dia tidak mempunyai ilmu.

Ibn Taimiyyah mengutip perkataan Imam Ahmad ibn Hambal yang mengatakan: Golongan Jahmiah berkata, dengan ketetapannya seseorang harus disebut mukmin. Jika dia mengakui zakat secara keseluruhan dan tidak mengeluarkan lima dirham dari dua ratus dirham yang dimilikinya, maka dia tetap mukmin. Maka dia harus mengatakan, jika dia menetapkan pengakuan kemudian main judi, menyembah kepada salib, melakukan dosa besar, namun dia tetap mengakui Allah maka dia harus disebut mukmin. Menurut Imam Ahmad ibn Hambal tentu saja ini pendapat yang batil.

Ibn Taimiyyah juga mengkritik keras kaum Mu’tazilah yang mengatakan, bahwa orang yang melakukan dosa besar berarti ia telah fasik dan munafik, dan apabila ia mati sebelum bertaubat maka ia akan kekal di neraka. Ibn Taimiyyah mengatakan yang di maksud dengan orang yang munafik dan akan kekal di neraka, bukan orang Islam yang melakukan dosa besar. Tetapi orang munafik yang akan kekal di neraka ialah orang yang mengucapkan dengan lisannya syahadat dan telah mengaku beriman, tetapi di dalam hatinya masih terdapat keragu-raguan tentang keesaan Allah SWT, juga kerasulan Muhammad Saw, dan juga meragukan rukun iman.

Adapun orang yang berdosa besar ia tidak dimasukkan ke dalam golongan itu. Ibn Taimiyyah berpendapat bahwa orang yang berdosa besar itu masih mempunyai iman walaupun hanya sedikit, dan ia setelah di neraka akan di masukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Jadi orang yang berdosa besar dan belum sempat bertaubat, ia masih muslim dan tidak akan kekal di neraka. Sesuai dengan sabda Nabi Saw:

“Seseorang yang di dalam hatinya masih tertinggal setitik iman, tidak akan tetap tinggal di dalam neraka”. (HR, Bukhori, Muslim).

Dengan begitu diketahui bahwa siapa yang memiliki iman, meskipun hanya sedikit, dia tidak akan kekal di neraka. Jika di dalam hatinya banyak kemunafikan, maka dia akan diazab di dalam neraka sebanyak kadar kemunafikan yang dimilikinya, kemudian dia akan dikeluarkan dari neraka. Karena itulah Allah SWT berfirman tentang orang-orang Arab Badui:

“Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami Telah beriman”. Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami Telah tunduk’, Karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. al-Hujarat : 14)

Ibn Taimiyyah mengatakan bahwa dalam ayat ini Allah menafikan masuknya hakikat iman ke dalam hati mereka. Hal ini seperti penafian iman dari orang yang berzina, mencuri, yang tidak mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri, dan lain sebagainya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Ibn Taimiyyah menetapkan orang-orang yang durhaka dan yang melakukan dosa besar, tidak kekal di dalam neraka. Berarti di hadapan mereka masih terbuka pintu harapan kepada Allah. Selagi orang muslim tidak melakukan dosa syirik kepada Allah, maka harapan masih terbuka di hadapannya dan masih ada kesempatan baginya untuk menambal kekurangan dan mendorongnya kembali kepada Allah, karena Allah menerima taubat orang-orang yang berbuat keburukan.

Adapun pandangan Asy’ariyah tentang makna iman, Asy’ari mengatakan bahwa iman itu pembenaran dalam hati dan pengucapan dengan lisan. Tetapi Asy’ari tidak memasukkan amal perbuatan ke dalam konsep iman, dengan alasan bahwa apabila amal perbuatan dimasukkan ke dalam konsep iman, dikhawatirkan nanti orang yang melakukan dosa besar hanya sekali bisa menghapus kebaikan- kebaikannya yang pernah ia kerjakan, dan ia akan kehilangan atribut iman.

Ibn Taimiyyah sependapat dengan Asy’ari, tetapi ia mengkritik pandangan Asy’ari yang mengatakan amal perbuatan tidak dimasukkan ke dalam konsep iman. Menurut Ibn Taimiyyah bahwa iman itu tidak dapat dipisahkan dari amal perbuatan, ia mengatakan bahwa banyak orang yang menyatakan dengan lisan-nya bahwa ia telah beriman tetapi perbuatan mereka telah banyak melakukan hal-hal yang di larang oleh syari’at, yang demikian itu bukanlah iman. Sesuai dengan firman Allah SWT:

“Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan
hari kemudian pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman”. (QS. al-Baqarah : 8)

“Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dan berpaling (dari kebenaran)”. (QS. al-Qiyamah: 31-32)

Berpaling di sini bukan mendustakan, tapi berpaling dari ketaatan. Manusia harus membenarkan Rasul tentang apa yang dikabarkannya, dan harus mentaatinya tentang apa yang diperintahkannya.

Di dalam al-Qur’an dan al-sunnah banyak disebutkan penafian iman dari orang yang tidak beramal, seperti disebutkannya penafian iman dari orang-orang munafik. Orang yang tahu dengan hatinya, namun ia memusuhi dan menyalahi secara

Sumber : Idrus Habsyi, Konsep ıman menurut Ibn Taımıyyah, UIN Syarıf Hıdayatullah

Referensi
  • Ibn Taimiyyah, al-Furqân Baina Auliâ al-Rahmân wa Aulia al-Syaithân (Beirut: Dâr al- Kutub Ilmiyah, tth)
  • Ibn Taimiyyah, al-Amar bi al-Ma’rûf wa an al-Munkar (Kairo: Maktaba Sunnah, tth).
  • Syaikh Sa’id Abdul Azhim, Ibn Taimiyyah Pembaharu Salafi dan Dakwah Reformasi, (terj), Faisal Shaleh Lc (Jakarta: Pustaka Kausar, 2005)
  • Muhsin, al-Qadhi Abd Jabbar Mutasyabih al-Qur’an Dalih Rasionalitas al-Qur’an. Tsuraya Kiswati, al-Juwaini Peletak Dasar Teologi Rasional Dalam Islam (Jakarta: Erlangga, tth).

(Muhammad Iqbal) #4

Iman adalah ketergantungan puncak manusia kepada perkara-perkara maknawi. Iman merupakan sesuatu yang kudus dan suci bagi manusia. Dan untuknya manusia rela menunjukkan kecintaan dan keprawiraannya.

Dalam al-Qur’an disebutkan bahwa iman memiliki dua sayap: Ilmu dan amal. Iman semata (tanpa amal) dapat berhimpun pada satu tempat dengan kekufuran (pagan). Dan amal (tanpa iman) semata ia mudah disusupi kemunafikan dan hipokritas.

Di antara para teolog Islam terdapat tiga pandangan terkait dengan hakikat iman:

  1. Puak Asya’irah berpendapat bahwa iman adalah pembenaran terhadap keberadaan Tuhan, para nabi, perintah dan larangannya.
  2. Kaum Muktazilah berpandangan bahwa iman adalah amal terhadap taklif dan tugas-tugas yang dijelaskan oleh Tuhan kepada manusia.
  3. Dalam perspektif filosof-teolog iman adalah ilmu dan makrifat terhadap realitas-realitas alam dan penyempurnaan jiwa melalui jalan ini.

Namun dari sudut pandang para urafa iman adalah menghadapkan diri kepada Tuhan dan berpaling dari segala sesuatu selain-Nya.

Fideisme dalam bentuk modern di belahan dunia Barat dan Kristen intinya terbentuk dalam dua formasi:

  • Fideisme ekstrem atau kontra akal dan kelompok yang membenci rasionalitas yang berpandangan bahwa tidak tersedia jalan bagi akal dalam ajaran-ajaran agama, iman kepada Tuhan dan alam ghaib.
  • Fideisme moderat atau eskapis dari rasionalitas (ekstra rasional). Mereka berpandangan bahwa dalam menguatkan ajaran-ajaran agama dan fondasi keimanan maka harus bersandar pada rasionalitas dan argumen meski kelompok ini mendahulukan iman atas akal dalam bernalar dan berargumentasi.

Di kalangan pemikir Islam, pandangan-pandangan urafa demikian juga kaum Akhbari dapat disegolongkan dengan pemikiran Fideisme ekstrem dan juga orang-orang seperti Ghazali dan Rumi pada tingkatan tertentu termasuk sebagai kelompok Fideisme moderat.
Nampaknya pelbagai penalaran kering, tanpa jiwa, penuh kerumitan filosofis telah menyediakan jalan melenggangnya dan munculnya Fideisme modern di abad ini.


Apakah yang dimaksud dengan iman ?
(Lia Permata Sari) #5

Menurut bahasa iman berarti pembenaran hati, sedangkan menurut istilah iman itu adalah

“Membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan dan mengamalkan dengan anggota badan”. [1]

Yang dimaksud dengan membenarkan dengan hati adalah menerima didalam hati atau diri kita terkait dengan ajaran Rasulullah Saw.

Yang di maksud dengan mengikrarkan dengan lisan adalah, mengucapkan dua kalimat syahadat (tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah).

Yang di maksud dengan mengamalkan dengan anggota badan adalah, menggunakan anggota badan kita untuk mengamalkan apa yang kita yakini dan ikrarkan dengan cara beribadah sesuai dengan fungsinya [2].

Hal tersebut sesuai dengan firman Allah:

“Dan mereka berkata, kami telah beriman kepada Allah dan Rasul, dan kami mentaati keduanya. Kemudian sebagian mereka berpaling sesudah itu, sekali-kali mereka itu bukanlah orang-orang yang beriman”. (QS. al-Nur: 47)

Ayat ini menafikan iman dari orang-orang yang berpaling dari ketaatan dan tidak mau memikirkannya. Ini merupakan nash al-Qur’an yang sangat jelas maknanya dan di ayat lain Allah berfirman:

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan. Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang – orang yang benar dan sesungguhnya dia juga mengetahui orang-orang yang dusta”. (QS. al-Ankabut: 2-3).

Jadi sangat jelas bahwa iman itu tidak hanya membenarkan di hati, dan diucapkan dengan lisan, tetapi juga harus di ikuti oleh perbuatan.[3] Apabila seseorang membenarkan dalam hati saja tanpa pengucapan dengan lisan maka orang itu kafir, dan sebaliknya orang yang mengucapkan dengan lisan, sedangkan dia tidak membenarkan di dalam hatinya maka orang itu tergolong kedalam orang yang munafik.

Adapun dengan masalah amal perbuatan apakah ia dapat mempengaruhi imannya atau tidak dan apakah dengan amal perbuatannya yang durhaka apakah ia masih disebut seorang mukmin ataukah dia bukan orang muslim.?

Ini menjadi perbedaan pendapat ulama. Tetapi mayoritas ulama berpendapat bahwa apabila seseorang membenarkan di dalam hati, dan mengucapkan dengan lisan, tetapi tidak dibarengi dengan amal perbuatan yang baik. Maka orang itu masih dalam keadaan muslim tetapi ia bukan disebut orang mukmin. Ulama mengatakan bahwa seorang muslim yang meninggal dalam keadaan maksiat dan belum sempat bertaubat, nasibnya ditentukan oleh Tuhan. Bisa jadi dosanya diampuni atau diberi syafaat, bisa jadi pula ia disiksa dengan api neraka sesuai dengan dosa-dosanya, kemudian dikeluarkan darinya setelah dosanya bersih, lalu dimasukkan ke dalam surga.

Hal itu sesuai dengan sabda Nabi Muhammad yang berbunyi:

“Seseorang yang di dalam hatinya masih tertinggal setitik iman, tidak akan tetap tinggal di dalam neraka”. (HR, Bukhori, Muslim). [4]

Jadi menurut ulama, hadis tersebut sudah jelas menggambarkan bahwa seseorang itu walaupun amal perbuatannya buruk, ia masih seorang muslim yang tetap dalam beragama Islam. Tetapi bukan mukmin yang keimanan yang tinggi di sisi Allah. Sebab seseorang muslim belum tentu mukmin, dan sebaliknya seorang mukmin sudah pasti muslim. Sebab Nabi Muhammad Saw telah membagi pengertian Islam, pengertian iman, dan pengertian ihsan dalam hadis Jibril. Dalam hal ini beliau bersabda:

“Islam adalah jika engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa ramadhan, menunaikan haji di jika engkau sanggup mengadakan perjalanan ke sana”.

“Iman ialah jika engkau beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhirat, beriman kepada qadar yang baik dan yang buruk”.

Perbedaan ini disebutkan di dalam hadis Umar yang diriwayatkan oleh Muslim. Hadis Jibril ini menjelaskan bahwa Nabi Muhammad Saw menjadikan agama pada tingkatan. Yang paling tinggi adalah ihsan, pertengahannya adalah iman dan yang paling bawah adalah Islam [5]. Setiap muhsin adalah mukmin, setiap mukmin adalah muslim, tidak setiap mukmin adalah muhsin, dan tidak setiap muslim adalah mukmin. Jadi jelas menurut jumhur ulama bahwa iman itu berbeda dengan Islam. Mereka melihat bahwa iman dan Islam mempunyai arti masing-masing. Islam semacam pengucapan dua kalimat syahadat dengan pengakuan hati sanubari, sedangkan iman merupakan ketaatan secara totalitas kepada sang pencipta tanpa keragu-raguan terhadap-Nya, atau iman merupakan aplikasi amaliah.

Tetapi ada juga sebagian ulama yang mengatakan bahwa iman dan Islam itu satu makna. Di antara ulama yang mengatakan seperti itu ialah Syaik Muhammad bin Nasr al-Marwazy, ia melihat bahwa iman dan Islam itu satu makna. Dia berpendapat bahwa iman yang disyariatkan Allah kepada hamba-Nya adalah Islam yang dijadikan sebuah agama yang diridhai-Nya sebagai padanan kafir. Allah berfirman:

“Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”. (QS. al-Maidah: 3)

“Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.” (QS. al-Zumar: 7)

“Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”. (QS. al-Zumar: 22)

Dalam beberapa ayat tersebut terlihat betapa Allah memuji Islam sebagaimana ia memuji keimanan dan menjadikannya sebagai nama pujian dan pensucian dengan kata-Nya yang menggambarkan orang yang Islam mendapatkan cahaya dan petunjuk dari Tuhan mereka, juga mengatakan bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang di ridhai-Nya.

Masalah dalam Iman

Masalah-masalah yang erat kaitannya dengan definisi iman adalah masalah bertambah dan berkurangnya keimanan seseorang. Perlu diketahui bahwa istilah bertambah dan berkurangnya iman itu hanya di kenal oleh mereka yang memasukan amal perbuatan ke dalam bagian dari iman. Sedangkan yang memandang iman hanya terdiri dari ikrar dan tasdiq tidak mengenal bertambah dan berkurangnya iman.

Perihal bertambahnya dan berkurangnya iman seseorang itu, banyak nash-nash yang menunjukkannya baik yang bersumber dari al-Qur’an maupun sunnah nabawiyah, di antaranya adalah firman Allah

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan Hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS. al-Anfal: 2).

"(yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: “Sesungguhnya manusia Telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, Karena itu takutlah kepada mereka”, Maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: “Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. Ali Imran: 173).

Getaran dalam hari adalah sesuatu yang dirasakan oleh orang mukmin jika ayat-ayat dibacakan kepadanya, yang akan menambah pemahaman al-Qur’an dan makna-maknanya yang berasal dari ilmu yaqin, yang sebelumnya tidak pernah dirasakan. Sehingga seakan-akan dia tidak pernah mendengar ayat tersebut kecuali pada saat itu. Lalu di dalam hatinya muncul hasrat untuk melakukan kebaikan dan ketakutan jika melakukan keburukan, yang sebelumnya tidak pernah dia rasakan. Dengan begitu, ilmunya tentang Allah semakin bertambah, begitu pula dengan kecintaannya untuk mentaati-Nya. Yang demikian itu merupakan penambahan iman.

Begitu juga dengan ayat yang menyuruh jihad, perintah ini terjadi pada saat ada ancaman dari pihak musuh, dan bukan pada saat suatu ayat diturunkan. Sehingga hal itu menambah keyakinan dan tawakkal kepada Allah, keteguhan hati dalam berjihad dan kesatuan, agar mereka tidak takut kepada makhluk, tapi mereka takut hanya kepada Allah. Dan Nabi Saw bersabda dalam hadisnya [7].

“Orang yang paling zuhud adalah orang yang selalu mengingat kuburan (mati) dan kebinasaan serta meninggalkan perhiasan dunia yang mewah karena memilih pahala (kehidupan akhirat) yang abadi daripada perhiasan dunia yang pasti binasa, juga tidak menganggap bahwa hari esok adalah harinya, dan ia menganggap bahwa dirinya pasti mati”.

Yang dimaksud dalam hadis ini adalah bagaimana seseorang apabila keimanannya ingin bertambah maka ia harus selalu mengingat kematian, serta tidak tertipu dengan dunia yang hanya sementara ini sampai ia melupakan akhiratnya [8].

Di samping nash-nash dan atsar tadi, maka cukup jelas bahwa keimanan seseorang dapat bertambah atau memuncak dan sebaliknya keimanan seseorang dapat berkurang.

Referensi
  1. Agus Hasan Bashori Lc, Kitab Tauhid (Jakarta: Uii, 2001), h. 2
  2. Abdul Hafidz, Risalah Aqidah (Jakarta: Aulia Press, 2007), h. 3-4
  3. Ibn Taimiyyah, al-Iman, (terj), Kathur Suhardi (Jakarta: Dâr al-Falah, 2007), h. 119
  4. Tsuraya Kiswati, al-Juwainî Peletak Dasar Teologi Rasional Dalam Islam (Jakarta: Erlangga, tth), h. 185-186
  5. Zein bin Ibrahim bin Sumaith, Hidayatuh al-Tâlibin fi Bayân Muhimmatuddîn (Yaman: Dâr Ilmi wa ad-Da’wa, 2007), h. 15-16
  6. Harapandi Dahri, Pemikiran Teologi Sufistik Syekh Abdul Qadir Jaelani (Jakarta: Wahyu Press, 2004), h. 35-36
  7. Ibn Taimiyyah, al-Iman, (terj), Kathur Suhardi, h. 135-136
  8. Nawawi, Mukhtârul Hadîts (Beirut: Dâr al-Fikr, 2006), h. 17

(Mitha Aryani) #6

Untuk memahami pengertian iman dalam ajaran Islam, salah satu strateginya adalah dengan mengumpulkan ayat-ayat Al-quran atau hadits yang redaksionalnya terdapat kata iman, atau kata lain yang dibentuk dari kata tersebut, seperti “ aamana” (fi’il madhi /bentuk telah), “ yu’minu " (fi’il mudhari /bentuk sedang atau akan), dan mukminun (pelaku/orang yang beriman).

Dalam Al-quran terdapat sejumlah ayat, yang berbicara tentang iman di antaranya.

Artinya: Dan ada di antara manusia mengambil dari selain Allah sebagai tandingan, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah. Dan orang yang beriman, bersangatan cintanya kepada Allah. Dan jika sekiranya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat azab (tahulah mereka) bahwa sesungguhnya seluruh kekuatan itu kepunyaan Allah dan sesungguhnya Allah itu sangat keras azab-Nya (pasti mereka menyesal). QS. Al- Baqarah (2) : 165.

Berdasarkan redaksi ayat tersebut, iman identik dengan asyaddu hubban lillah . Hub artinya kecintaan atau kerinduan. Asyaddu adalah kata superlatif syadiid (sangat). Asyaddu hubban berarti sikap yang menunjukkan kecintaan atau kerinduan luar biasa. Lillah artinya kepada atau terhadap Allah. Dari ayat tersebut tergambar bahwa iman adalah sikap (atitude), yaitu kondisi mental yang menunjukkan kecenderungan atau keinginan luar biasa terhadap Allah. Orang-orang yang beriman kepada Allah berarti orang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya untuk mewujudkan harapan atau kemauan yang dituntut oleh Allah kepadanya.

Ibnu Majah dalam Sunannya meriwayatkan bahwa nabi pernah bersabda sebagai berikut.

“Iman adalah keterikatan antara kalbu, ucapan dan perilaku”. (Menurut Al-Sakawy dalam, Al-Maqasid, Al-Hasanah , hlm 140, kesahihan hadits tersebut dapat dipertanggungjawabkan)

Aqdun artinya ikatan , keterpaduan, kekompakan. Qalbu adalah potensi psikis yang berfungsi untuk memahami informasi. Ini berarti identik dengan pikiran atau akal. Kesimpulan ini berdasarkan firman Allah swt berikut,

Artinya: Dan sungguh Kami telah sediakan untuk (isi) neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati (tetapi) tidak mau memahami dengannya, mereka mempunyai mata, mereka tidak melihat dengannya tetapi mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mendengar dengannya. Mereka itu seperti binatang ternak bahkan mereka lebih sesat. Mereka itulah orang-orang yang lalai. QS. Al-A’raaf (7):179.

Iqrar artinya pernyataan atau ucapan. Iqrar bil lisaan dapat diartikan dengan menyatakan dengan bahasa, baik lisan maupun tulisan. Amal bil arkan artinya perilaku gerakan perangkat anggota tubuh. Perbuatan dalam kehidupan keseharian.

Berdasarkan tafsiran tersebut diketahui, bahwa rukun (struktur) iman ada tiga aspek yaitu; kalbu, lisan, dan perbuatan. Tepatlah jika iman didefinisikan dengan pendirian yang diwujudkan dalam bentuk bahasa dan perilaku. Jika pengertian ini diterima, maka istilah iman identik dengan kepribadian manusia seutuhnya, atau pendirian yang konsisten. Orang yang beriman berarti orang yang memiliki kecerdasan, kemauan dan keterampilan. Kata iman dalam Al-quran, pada umumnya dirangkaikan dengan kata lain. Kata rangkaian itulah yang memberikan nilai tentang sesuatu yang diimaninya. Jika kata iman dirangkaikan dengan kata-kata yang negatif berarti nilai iman tersebut negatif. Dalam istilah Al-quran, iman yang negatif disebut kufur. Pelakunya disebut kafir. Berikut ini dikemukakan beberapa ayat yang mengemukakan kata iman dikaitkan dengan nilai yang negatif di antaranya:

Artinya: Apakah engkau tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Alkitab, mereka percaya kepada jibt (sesembahan selain Allah) dan thagut (berhala) dan mereka berkata kepada orang- orang kafir bahwa mereka lebih benar jalannya daripada orang- orang yang beriman. QS. An-Nisaa’ (4): 51.

Kata iman pada ayat tersebut dirangkaikan dengan kata jibti dan taghut, syaithan dan apa saja yang disembah selain Allah. Kata iman dikaitkan dengan kata batil (yang tidak benar menurut Allah).

Artinya: Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwa Kami telah menurunkan Kitab kepadamu yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya pada yang demikian itu adalah rahmat dan peringatan bagi kaum yang beriman. QS. Al-Ankabut (29): 51.

Adapun kata iman yang dirangkaikan dengan yang positif antara lain;

Artinya: Orang-orang yang beriman kepada (Al-quran) yang diturunkan kepadamu, juga beriman kepada (kitab-kitab Allah) yang diturunkan sebelummu serta mereka yakin akan adanya akhirat. QS. Al-Baqarah (2): 4.

Artinya: Rasul (Muhammad) telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, dan (demikian pula) orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikatNya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya, (seraya mereka berkata), “Kami tidak membeda-bedakan antara seorang (dengan lain) daripada rasul-rasul-Nya.” Dan mereka berkata, “Kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami wahai Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali. QS. Al-Baqarah (2): 285.

Sumber : Drs. Syaiful Mikdar, M.Pd., Tuhan Yang Maha Esa dan Ketuhanan


(Vina Shaw) #7

Iman mempunyai art “kepercayaan atau pembenaran”, yakni sikap membenarkan sesuatu, atau menganggap dan mempercayai sesuatu yang benar.

Berikut berbagai pandangan tentang iman dari para pemikir Islam,

Teori Ma’rifah

Teori atau pandangan ini secara umum dikemukakan oleh para tokoh Murji’ah, terutama golongan Murji’ah ekstrim, dan di antara tokohnya yang terkenal adalah Jahm ibn S{afwan. Menurut pandangan kelompok ini, bahwa iman adalah pengetahuan ( ma’rifah ) terhadap Tuhan dan utusan-Nya serta semua yang datang dari Tuhan. Semuanya yang berada di luar bentuk ”pengetahuan” ini bukanlah iman. Iman tidak ada hubungannya dengan perbuatan lahir, baik pernyataan secara lisan ataupun perbuatan anggota badan yang lain.

Komponen atau faktor iman hanyalah satu, yakni pengetahuan. Dengan demikian, struktur esensial iman adalah ma’rifah.

Teori ma’rifah tampaknya sangat lemah, sehingga banyak mendapatkan kritik. Abu Mansur al-Maturidi, salah satu tokoh pemikir teologi Islam yang diidentifikasi sebagai salah satu tokoh penting dari golongan Ahl al-Sunnah wa-al-Jama’ah, menyatakan bahwa; iman harus dipahami sebagai pembenaran ( taṣdiq ), dan bukan pengetahuan ( ma’rifah ). Bahwa kata iman sendiri secara etimologis berarti ”pembenaran”, dan ini juga harus menjadi makna teologis dasar dari iman.

Teori Amaliyah

Menurut kelompok Mu’tazilah, bahwa iman bukanlah sekedar ma’rifah (mengetahui), dan bukan pula sekedar taṣdiq (membenarkan, meyakini), tetapi amal yang timbul sebagai akibat dari mengetahui Tuhan. Iman tidak hanya mempunyai arti pasif, tetapi mesti mempunyai arti aktif. Iman adalah pelaksanaan perintah perintah Tuhan.

Menurut Abu Huzail, salah seorang tokoh Mu’tazilah, bahwa yang dimaksud dengan perintah-perintah Tuhan adalah semua perintah baik yang wajib maupun yang sunnah. Sedangkan menurut al-Jubba’i, tokoh Mu’tazilah yang lain, bahwa yang dimaksud perintah-perintah Tuhan adalah perintah-perintah Tuhan yang bersifat wajib.

Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa hal yang pokok dari iman adalah amal, dan bukan ma’rifah atau taṣdiq. Sehingga siapa pun yang telah membenarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan membenarkan Muhammad sebagai utusan-Nya, apabila ia tidak melaksanakan perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka ia tidaklah beriman.

Teori Taṣdiq

Tokoh pertama dan utama dari kelompok Asy’ariyah adalah Abu Hasan al-Asy’ariy. Dalam Kitab al-Luma, seperti dikutip dan dijelaskan Izutsu, al-Asy’ariy mendefinisikan iman sebagai “taṣdiq kepada Tuhan”. Di sini al-Asy’ary menegaskan bahwa secara linguistik ini merupakan satu-satunya interpretasi yang masuk akal untuk kata iman. Secara etimologis, kata iman berarti taṣdiq (pembenaran). Sementara dalam Kitab al-Ibanah, al-Asy’ariy menyatakan bahwa: “Kami tegaskan bahwa Islam merupakan suatu konsep yang lebih luas dari iman, tidak semua Islam adalah iman (sementara semua iman adalah Islam), dan bahwa iman adalah ”mengatakan” dan “melakukan” ( al-iman qawlwa’ amal), dan dapat naik serta turun”.

Menurut Izutsu, bahwa tidak disebutnya taṣdiq di sini tidak menunjukkan bahwa al-Asy’ariy tidak memandang taṣdiq sebagai unsur yang penting, sebaliknya al-Asy’ary memandang taṣdiq sedemikian penting dan essensial sehingga tidak perlu disebutkan secara eksplisit.

Berkaitan dengan penjelasan al-Asy’ariy tentang iman yang berbeda dalam dua karyanya tersebut, al-Syahrastani dalam Al-Milalwaal-Nihal, memberikan penjelasan bahwa, “Asy’ariy berpendapat: iman secara essensial adalah taṣdiq dengan hati, sementara “mengatakan” dengan lisan dan “melakukan” berbagai kewajiban yang utama sekadar merupakan cabang-cabangnya.

Oleh karena itu, orang yang percaya sesungguhnya adalah mereka yang memberikan pembenaran terhadap ke-Esa-an Tuhan dengan hatinya, yaitu mereka yang mengakui kebenaran-Nya serta menerima utusan-Nya. Iman dari orang semacam itu merupakan kepercayaan yang se- sungguhnya”.

Di sini al-Syahrastaniy menegaskan bahwa, menurut Asy’ariy, taṣdiq (dengan hati) merupakan satu-satunya hal yang penting, sementara qaul dan ’amal sekadar mempunyai makna penting kedua, walaupun keduanya tidak dikeluarkan dari definisi iman .

Pandangan al-Asy’ariy tersebut diikuti dan dijelaskan lebih lanjut oleh para ulama Asy’ariyah, salah satunya adalah al- Ghazali . Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali, seperti ditulis dalam “Kitab Qawa’id al-Aqa’id” yang merupakan karya induk al-Ghazaliy di bidang akidah dan kini menjadi salah satu bab dari Kitab Ihya Ulum al-Din, menjelaskan bahwa iman adalah sikap pembenaran ( taṣdiq ) di dalam hati, sedangkan pernyataan atau pengakuan dengan lidah ( iqrar ) dan perbuatan dengan anggota badan ( amal ) merupakan bagian yang menyempurnakan iman.

Zurkani Jahja menjelaskan bahwa, al-Gazaliy membandingkan status taṣdiq bagi iman seperti status kepala dan badan bagi tubuh manusia. Tanpa badan dan kepala, manusia tidak bisa hidup. Jadi, tanpa taṣdiq iman tidak ada. Iqrar dan amal statusnya hanya sebagaimana status kaki dan tangan bagi manusia. Manusia tanpa kaki dan tangan masih bisa hidup, tetapi tidak sempurna. Dengan demikian, bagian esensial dari iman adalah “taṣdiq” di dalam hati. Dengan “taṣdiq” berarti iman sudah ada, dan dengan amal iman bisa bertambah sempurna dan bisa berkurang, tetapi tidak sampai menghapuskan eksistensinya.

Teori Amal al-Qalb

Menurut Ibnu Taimiyah, secara semantik konsep iman tidak cukup untuk didefinisikan dengan taṣdiq, karena iman tidak sekadar taṣdiq. Taṣdiq bukan sinonim dari iman . Kata taṣdiq berarti ”membenarkan”, yakni menilai bahwa suatu informasi atau laporan tersebut benar. Lawan katanya adalah takzib, yakni menilai bahwa informasi atau laporan tersebut salah.

Kata “iman” merupakan derivasi dari kata ”amn”, yang mempunyai makna “ketenteraman”, “merasa aman dan terlindung”, “pikiran merasa damai”. Dengan demikian, kata iman atau konsep iman tidak saja mengandung unsur taṣdiq (pem- benaran), akan tetapi lebih dari itu adalah mencakup makna “menetapkan keyakinan” ( i’timan ) dan “kepercayaan” ( amanah ).

Lebih lanjut Ibnu Taimiyah menjelaskan, bahwa taṣdiq hanya cukup menetapkan seorang manusia menjadi muslim , akan tetapi tidak dapat menjaminnya untuk menjadi mu’min (orang yang beriman), kecuali disertai dengan perbuatan baik. Jadi, perbuatan atau amal merupakan bagian tak terpisahkan dari iman, atau merupakan struktur esensial dari iman.

Apakah yang dimaksud amal sebagai komponen struktur esensial iman oleh Ibnu Taimiyah?

Menurutnya, bahwa yang dimaksud amal sebagai bagian tidak terpisahkan dari konsep iman adalah ‘ amal al-qalb (perbuatan hati) yang berfungsi sebagai semacam rantai yang menghubungkan antara taṣdiq yang sifatnya murni di dalam dan statik dengan amal jasmaniah yang sifatnya murni di luar dan aktif. Jelas terdapat hubungan iman dengan amal, bahkan amal dimulai pada tingkat yang lebih dalam dibandingkan dari anggota tubuh yang eksternal, yaitu hati ( qalb ) itu sendiri yang mempunyai perbuatannya sendiri. Cinta kepada Tuhan dan utusan-Nya, sebagai contoh, merupakan “tindakan” psikologi, dan berbagai macam tindakan psikologi merupakan amal dalam pengertian kata yang nyata, sebagaimana tindakan tubuh yang bersifat eksternal itu merupakan amal .

Dalam Kitab al Iman, Ibnu Taimiyyah memberikan penjelasan tentang konsep ‘ amal al-qalb dengan ilustrasi sebagai berikut: Pelaku perbuatan zina, ketika dia melakukan perbuatan zina, hanya melakukan hal itu karena dia mencintai perbuatan itu di dalam hatinya. Dia tidak akan melakukan perbuatan zina itu apabila di dalam hatinya terdapat ketakutan nyata ( khasyyah ) terhadap Tuhan yang cukup kuat untuk menekan keinginannya itu, atau terdapat cinta ( mahabbah ) kepada Tuhan yang begitu besar sehingga dapat mengatasi keinginannya itu. Oleh karena itu, orang yang benar-benar mencintai dan yakin terhadap Tuhan maka dia tidak akan pernah melakukan zina. Seseorang yang melakukan zina karena dia tidak mempunyai sifat cinta ( mahabbah ) dan atau takut ( khasyyah ) kepada Allah. Dan ini merupakan jenis iman yang dapat hilang dari hati manusia, walaupun dia tidak akan pernah kehilangan taṣdiq itu sendiri. Itulah sebabnya, orang semacam ini dikatakan seorang muslim, dan bukan seorang mukmin.

Singkatnya, Ibnu Taimiyah menegaskan bahwa barang siapa di dalam hatinya tidak terdapat semua kondisi yang diperlukan dalam iman, walaupun dia mempunyai taṣdiq, maka dia termasuk orang yang dinyatakan oleh Nabi saw., sebagai orang yang di dalam hatinya tidak terdapat iman. Taṣdiq hanya merupakan suatu bagian dari iman. Masih harus ada tambahan lain pada taṣdiq, misalnya kecintaan ( mahabbah ) kepada Tuhan, serta rasa takut ( khasyyah ) kepada Tuhan. Taṣdiq yang mengabaikan hal-hal ini bukan iman sama sekali.

Referensi :

  • Lewis, Bernard et al, The Encyclopaedia of Islam. Volume III, New Edition, (Leiden: E.J. Brill, 1971)
  • Ali Audah, Konkordansi Quran: Panduan Kata dalam Mencari Ayat Qur’an, (Bogor: Pustaka Litera Antar Nusa, 2003)
  • Toshihiko Izutsu, Konsep Kepercayaan dalam Teologi Islam: Analisis Semantik Iman dan Islam, terj. Agus Fahri Husein dkk. (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994)
  • Nasution, Harun, Teologi Islam: Aliran-aliran, Sejarah Analisa Perban- dingan, (Jakarta: UI Press, 2002)
  • Zurkani Jahja, Teologi al-Ghazali: Pendekatan Metodologi, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996).