Apa Yang Dimaksud Dengan Hidayah?

Hidayah, berdasarkan arti kata, mempunyai arti petunjuk atau bimbingan dari Tuhan. Apa yang dimaksud dengan hidayah secara lebih terperinci menurut ajaran Islam ?

Dalam al-qur’an, kata-kata yang berhubungan dengan hidayah disebutkan kurang lebih 276 kali. Hal itu menunjukan akan pentingnya makna yang terkandung di dalamnya buat kehidupan di dunia sekarang ini, lebih-lebih untuk kehidupan di akhirat kelak.

Adapun kata hidayah itu berasal dari bahasa arab (pokok kata) Hada, yang biasa di terjemahkan dalam bahasa indonesia petunjuk atau pimpinan. Namun salinan bahasa Indonesia tersebut (petunjuk atau pimpinan) dari kata-kata hidayah itu tidaklah menggambarkan makna haqiqi yang dalam perkataan hidayah tersebut.sebab arti yang terkandung dalam perkataan Hidayah itu mengandung kekhususan, yaitu satu petunjuk yang datangnya dari yang maha suci (Allah) yang di karuniakan kepada semua mahluk-Nya, baik mahluk insani maupun mahluk hewani dan lain-lain. Jadi perkataan hidayah itu boleh di katakan semacam satu hak prerogatif yang khusus hanya dimiliki oleh Tuhan.

Menurut Syekh Muhammad abduh, pengertian hidayah adalah “Petunjuk halus yang menyampaikan kepada tujuan.”

Maksudnya, petunjuk itu dikaruniakan Tuhan kepada mahluk-Nya, sehingga dengan petunjuk tersebut, seseorang dalam menempuh jalan yang di tujuanya dapat tercapai, lurus tidak terperosok dalam jurang kenistaan.

Dalam masalah ini hendaknya di ketahui, bahwa pemberian hidayah itu tidaklah ada sangkut pautnya/hubunganya misalnya hubungan darah, hubungan turunan dan lain sebagainya. Sekalipun ia seorang raja atau bangsawan, jika Allah tidak memberikan Hidayah, maka tidak ada yang berhak/kuasa untuk memberikanya, sebaliknya bila ia rakyat biasa, apabila ia di beri hidayah, maka tidak ada yang dapat menolaknya/menyesatkanya.

Al-qur’an telah menceritakan dan mengabadikan masalah ini, misalnya Nabi Nuh as, sebagai seorang nabi dan seorang bapak yang telah mendapat Hidayah dari Allah, namun anaknya dan isterinya tidak mendapat Hidayah dari Allah, sehingga ia memilih jalan hidupnya sendiri, tidak mau ikut bersama suami dan bapaknya.

Siti ‘Aisyah, seorang wanita permaisuri Raja Fir’aun, mendapat hidayah dari Allah, sedangkan suaminya (Raja Fir’aun) tidak mendapat hidayah dari Allah, sehingga ia mengikuti jejaknya setan, bahkan ia mengaku sebagai tuhan.

Azar seorang yang terkenal pembuat patung untuk sesembahan oeang-orang musyrik pada zaman Raja Namrudz, bahkan ia sendiri (Azar) ikut menyembahnya, tetapi anaknya (yang ada hubungan darahnya) telah mendapat hidayah dari Tuhan sehingga jalan hidupnya menurut hidayah Allah, di tuntun dengan sinar hidayah-Nya. Anak Azar tersebut bernama Nabi Ibrahim as.

Apabila Allah hendak mengaruniakan hidayah-Nya kepada seorang hamba, maka tidak ada satupun kekuatan yang dapat menyesatkanya., dan sebaliknya, jika Allah menghendaki untuk menyesatkanya (tidak memberikan hidayah-Nya), maka tidak ada satupun kekuatan atau kekuasaan yang dapat menunjukinya. Hal yang demikian telah di tegaskan oleh Allah selaku pemilik Hidayah:

Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya..” (QS. Al-kahfi : 17)

Hidayah berasal dari akar kata hada-hudan-hadyan-hidyatan-hidayatan, yang berarti memberi petunjuk, menunjukkan. Kata hudan/petunjuk juga merupakan bentuk kata jadian/mashdar (infinitive noun). Dalam kamus al-Munjid disebutkan bahwa Hidayah adalah kebalikan dari dhalâl (tersesat). Selain bermakna petunjuk, hidayah juga bermakna bimbingan, keterangan, dan kebenaran. Hidayah mempunyai sinonim dengan dalâlah (petunjuk), dan irsyâd (bimbingan). Dalam kamus bahasa Inggris, Hidayah adalah guidance yang berarti pimpinan, bimbingan, pedoman dan petunjuk. Sedangkan dalam kamus besar bahasa Indonesia, hidayah bermakna petunjuk atau bimbingan dari Tuhan.

As-Suyuti menjelaskan bahwa kata hidayah dan Hudan dalam al-Qur’an terdapat sebanyak 171 ayat dan terdapat pula dalam 52 hadis. Sedangkan pengertiannya dalam al-Qur’an maupun hadis terdapat 27 makna, diantaranya bermakna : penjelasan, agama Islam, pengetahuan, perintah, lurus/cerdas, rasul/ kitab, al-Qur’an, Taurat, taufik/ketepatan, menegakkan argumentasi, tauhid, mengesakan Allah, sunnah/ jalan, perbaikan, ilham/ insting, kemampuan menilai, pengajaran, karunia, mendorong, mati dalam Islam, pahala, mengingatkan, benar dan kokoh/konsisten.

Hidayah menurut secara istilah (terminologi), adalah penjelasan dan petunjuk jalan yang akan menyampaikan kepada tujuan sehingga meraih kemenangan di sisi Allah. Allah berfirman:

Artinya :“Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan Pencipta mereka, dan (sebab itu) merekalah orang-orang yang sukses.” (Q.S. Al-Baqarah: 5)

Sedangkan pengertian Hidayah menurut para mufasirin yakni:

Menurut Imam al-Alusi dalam kitab tafsirnya Ruh al-Ma’ani, hidayah merupakan suatu petunjuk dengan kelembutan untuk menunjukkan (membimbing) mereka ( al-muhtadin ) agar dapat mencapai maksud atau sesuatu yang terkandung dari petunjuk yang telah diberikan tersebut. Ini sebagaimana dari penafsiran beliau pada surat al-Fatihah ayat 6,

Artinya : ”Tunjukilah Kami jalan yang lurus” (Q.S. Al-Fatihah : 6)

Lebih jelas lagi beliau menyebutkan perumpamaan secara mutlak bahwa seseorang yang berjalan dengan mudah (tanpa hambatan) maka sesungguhnya ia telah mendapat hidayah (petunjuk). Imam al-Alusi juga menambahkan bahwa pada dasarnya titik tekan dari makna hidayah itu sendiri adalah kelembutan, maka adanya unsur kelembutan dalam lafaz hidayah lebih identik dengan suatu kebaikan, yaitu petunjuk atau bimbingan yang mengarah pada nilai-nilai positif. Namun kenyataanya dalam al-Qur’an dijumpai beberapa ayat yang menggunakan redaksi yang berakar kata hada akan tetapi tidak memberikan kesan makna positif, seperti yang terdapat dalam firman Allah swt.;

Artinya : “Selain Allah; Maka tunjukkanlah kepada mereka jalan ke neraka” (Q.S. Ash-Safat: 23)

Menurut M. Quraish Shihab, penjelasan makna Hidayah dengan cukup rinci adalah sebagai berikut:

Kata hadi terambil dari kata hada yang berarti “memberi petunjuk informasi secara lemah lembut menuju apa yang diharapkan”, bila seseorang sesat di jalan, tidak mengetahui arah yang benar, lalu bertemu dengan seorang hady atau petunjuk jalan, maka dia akan menerima informasi arah mana yang harus ditujunya, ke kanan atau ke kiri. Dia juga diberi tahu tanda-tanda tentang tempat yang dituju atau yang mengantar ke sana. Jika dia sedang berada pada arah yang salah, maka petunjuk jalan itu akan menyampaikan kepadanya bahwa jalan ini keliru lalu memalingkannya dari sana dan mengarahkannya ke arah yang benar.”

Menurut at-Thaba-Thaba’iy bahwa hidayah adalah menunjukkan atau memperlihatkan tujuan akhir dengan cara menunjukkan jalan untuk mencapai tujuan tersebut.

Klasifikasi Hidayah


Hidayah merupakan perkara yang amat penting yang senantiasa diharapkan keberadaanya bagi setiap makhluk, hal ini ditegaskan al-Qur’an dalam surat al-Fatihah ayat 6.

Ayat ini mengandung permohonan untuk senantiasa diberikan hidayah dalam kebenaran, namun keberadaan hidayah pada setiap makhluk tidak sepenuhnya diperoleh dari pemberian Allah swt. secara cuma-cuma akan tetapi juga membutuhkan usaha yang luar biasa untuk mendapatkannya.

Pembahasan tentang klasifikasi hidayah bukanlah hal baru lagi di kalangan ulama’ ahli tafsir ketika berbicara tentang konsep hidayah, ini terlihat dari sebagian besar kitab-kitab tafsir yang telah banyak memberikan keterangan dan ulasan secara terperinci tentang pembagian hidayah berdasarkan tingkatan masing-masing.

Imam al-Alusi dalam kitab tafsirnya Ruh al-Ma’ani beliau mengklasifikasikan hidayah secara umum menjadi dua tingkatan, yaitu ;

  • Pertama, al-Hidayah al-‘Ammah adalah hidayah (petunjuk) yang Allah berikan secara keseluruhan kepada setiap jiwa yang bernyawa sejak awal kejadiannya hingga akhir ajalnya untuk mendapatkan petunjuk yang mengarah pada kebaikan dalam menjalani kehidupan serta mencegah dari keburukan yang menimpa dirinya. Allah swt. berfirman:

    “Dan kami Telah menunjukkan kepadanya dua jalan” QS. al-Balad ayat 10.

    Hidayah ini mencakup diantaranya hidayah indera, hidayah akal dan hidayah agama. Hidayah ini merupakan hidayah yang paling umum yang meliputi seluruh makhluq-Nya. Terkait dengan pembahasan tingkatan hidayah yang pertama ini, Imam al-Alusi mencontohkan dengan proses janin yang mampu menyerap makanan sebagai sumber nutrisi selama berada di dalam rahim ibunya, menurut beliau ini merupakan hidayah yang telah diberikan Allah swt. bagi makhluknya sejak awal kejadiannya.

    Pemberian hidayah secara umum bagi semua makhluk ini dapat difahami dari pengungkapan ayat hidayah yang terdapat dalam al-Qur’an surat al-A’la ayat 1 -3 sebagai berikut:

    Artinya : “Sucikanlah nama Tuhanmu Yang Maha Tinggi, yang menciptakan dan menyempurnakan (penciptaan-Nya), dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk” (Q.S. al-A’la : 1-3)

    Imam al-Alusi menafsirkan ayat ini dengan terlebih dahulu menjelaskan bentuk pengagungan dhat Allah swt. sebagai dhat yang maha tinggi, kemudian beliau menjelaskan tentang penciptaan makhluk yang secara fitrah telah mendapatkan bentuk yang sebaik-baiknya tanpa adanya perbedaan di dalam jenisnya serta telah dibekali hidayah (petunjuk) untuk dapat menemukan kemanfaatan bagi kelangsungan hidupnya dan mencegah segala sesuatu yang membahayakan bagi kehidupannya. Sehingga jika difahami dari ayat ini, maka sesungguhnya keumuman hidayah yang diberikan Allah swt. kepada makhluk-Nya meliputi hidayah yang diberikan bagi manusia, hewan dan juga tumbuhan secara keseluruhan.

  • Kedua, al-Hidayah al-Khassah yaitu hidayah (petunjuk) yang khusus diberikan oleh Allah swt. kepada makhluk-makhluk tertentu sesuai dengan kehendak-Nya. Hidayah ini lebih umum dikenal dengan al-taufiq (pertolongan) atau juga sering disebut dengan ma’unah yaitu pertolongan yang diberikan Allah swt. bagi hamba-Nya untuk menempuh jalan kebaikan menuju kebahagiaan dan kesuksesan ilahiyyah yang telah dijanjikan melalui petunjuk-petunjuk tertentu.

    Maka ketika manusia mengalami kesalahan (tersesat) dalam memahami hakikat agama juga dalam menggunakan indera serta akalnya maka dalam hal ini manusia membutuhkan ma’unah khassah (pertolongan khusus) dari Allah swt. Oleh karenanya, kita selalu diperintahkan untuk memohon agar senantiasa ditetapkan dalam jalan (Agama) yang benar dan diridhai-Nya.

Tingkatan hidayah ini merupakan hidayah yang secara langsung dianugerahkan oleh Allah swt. bagi hamba-Nya tanpa melalui perantara rasul maupun kitab al-Qur’an, karena Allah memang tidak memberikan kewenangan atas hidayah ini kecuali atas kehendak Allah sendiri, sebagaimana telah disebutkan dalam al-Qur’an :

Artinya : “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya.” (Q.S. Al Baqarah : 272)

Ayat ini menceritakan tatkala Nabi Muhammad saw. melarang memberikan sedekah kepada orang-orang musyrik agar mereka masuk Islam, kemudian turunlah ayat, (bukan kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk), maksudnya yaitu menjadikan mereka masuk Islam, karena kewajibanmu hanyalah menyampaikan belaka, (tetapi Allah-lah yang akan menunjukkan bagi siapa yang dikehendaki- Nya) untuk memperoleh petunjuk agar masuk Islam.

Dari keterangan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa rasul (manusia pilihan) sekalipun tidak dapat memberikan hidayah (taufiq) untuk memeluk Islam sebelum adanya kehendak dari Allah swt., karena pada dasarnya tugas para rasul hanyalah menyampaikan sedangkan hidayah (taufiq) adalah mutlak dari Allah swt.

Sebagai tambahan, Ibn ˋĀsyur juga menjelaskan bahwa hidayah ditandai dengan adanya ketenangan karena adanya kebaikan ( khair ). Hakikat hidayah adalah al-wu ṣūl ilā makān al -maṭlūb (sampai pada tujuan). Menurut istilah syariat hidayah adalah ad-dilālah ˋalā mā yarḍallah min fiˋl al -khair wa yuqābiluhā aḍ -ḍalālah wa hiya tagrīr (petunjuk terhadap apa yang diridhai Allah swt dengan cara mengerjakan kebaikan dan menghindari kesesatan). Kemudian, ia mengklasifikasikan hidayah dalam empat tingkatan, yaitu:

  1. potensi penggerak dan tahu,

  2. petunjuk yang berkaitan dengan dalil untuk membedakan antara yang ḥaq dan batil,

  3. hidayah yang tidak dapat dijangkau akal, diutuslah rasul, dan

  4. hidayah tersingkapnya hakikat rahasia yang tertinggi serta aneka rahasia.

Jenis-jenis Hidayah


Terdapat 2 jenis hidayah yaitu hidayah umum (Hidayah Ammah) dan hidayah khusus (Hidayah Khassah). Hidayah Ammah adalah hidayah yang dikurniakan kepada semua makhluknya dan hidayah terbagi empat peringkat:

  • Hidayah Al-Ilham Al-Fitri

    Firman Allah SWT: (20:50).

    Musa berkata: " Tuhan kami ialah (Tuhan) yang Telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya

    Dalam ayat ini merujuk kepada fasa-fasa proses penciptaan makhluk yang berakhir dengan fasa pemberian petunjuk (hidayah) oleh Allah SWT. Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman (87:2-3).

    Yang Menciptakan, dan menyempurnakan (penciptaan-Nya). Dan yang menentukan kadar (masing-masing) dan memberi petunjuk.

    Ayat ini sekali lagi menjelaskan dengan lebih teliti mengenai fasa-fasa tersebut. Pertama bermula dengan proses takhliq yaitu menciptakan dari tiada kepada ada. Kedua proses taswiyah membentuk rupa paras makhluk tersebut. Ketiga proses taqdir itu penentuan perjalanan hidup suatu makhluk. Keempat proses hidayah itu Allah SWT memberi petunjuk dalam bentuk kehendak yang diperlukan oleh makhluk untuk hidup. Berdasarkan kedua ayat tersebut dapatl kita fahami bahwa :

    Hidayah telah diberikan kepada semua makhluk Allah SWT dalam bentuk kehendak fitrah. Pemberian ini bukannya diminta oleh makhluk tersebut tetapi dikaruniakan kepadanya sebagai pelengkap kepada proses penciptaannya. Dan juga sebagai bukti betapa pengasihnya Allah kepada semua makhluknya.

    Tanpa hidayah mustahil suatu makhluk tahu apa yang ia perlukan untuk hidup yang akhirnya akan membawa kepada kerusakan makhluk tersebut. Dalam arti kata yang lain, hidayah ini penting bagi fitrah suatu makhluk tersebut.

    Sebagai contoh, seekor burung diciptakan secara fitrah bisa terbang tanpa perlu ia belajar untuk terbang, seekor ikan bisa berenang dalam laut tanpa perlu ia belajar cara bernafas dalam air dan berenang di dalamnya dari siapa pun. Seorang bayi secara fitrah bisa bagaimana hendak keluar dari rahim ibu apabila tiba waktunya tanpa perlu dia tahu cara mengira waktu dan cara untuk menendang dari siapa pun, dan apabilasudah keluar bisa pula menangis karena lapar, bisa bernafas, bisa mengedipkan mata dan segala bentuk fitrah manusia. Inilah bukti hidayah Allah SWT kepada makhluknya.

    Namun terdapat kelebihan yang Allah SWT berikan kepada manusia sesuai dengan status manusia sebagai khalifah Allah SWT di muka bumi ini. firman Allah SWT: (3:14).

    Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan Sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).

    Dalil menunjukkan manusia secara fitrahnya suka kepada wanita, anak-anak, emas dan perak yang banyak, binatang ternak yang banyak. Manusia secara fitrahnya makhluk yang materialistik. Maka tidak salah bagi manusia bersifat materialistik kerana itu adalah hidayah Allah SWT. Namun hidayah ini perlu dikawal oleh hidayah akal manusia dan hidayah agama agar manusia tidak merusak diri sendiri dalam memenuhi sifat fitrah itu.

  • Hidayah Al-Hawas

    Hidayah ini adalah pelengkap dari Hidayah Al- Ilham Al-Fitri. Bermaksud petunjuk pancaindera dan perasaan makhluk Allah SWT. Hidayah ini juga diberikan kepada semua makhlukNya. Kedua hidayah ini amat saling berkaitan, tidak boleh dipisahkan. Sebagai contoh manusia perlu makan dan petunjuknya yaitu rasa lapar, manusia perlu istirahat akan ada petunjuknya yaitu rasa letih, manusia perlu harta akan ada petunjuknya yaitu rasa malu menjadi miskin, manusia perlu obat akan ada petunjuknya yaitu rasa sakit. Semua jenis rasa ini adalah petunjuk yang Allah SWT berikan kepada bukan sajamanusia bahkan semua makhlukNya mengikut fitrah masing-masing. Pancaindera kita juga merupakan petunjuk kepada segala macam fitrah. Allah SWT memberi amanah kepada manusia agar jangan menyalahgunkan petunjuk pancaindera kita.

    Firman Allah SWT:(7:179)

    Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.

  • Hidayah Al-Aqli

    Hidayah ini hanya diberikan kepada manusia dan tidak kepada makhluk yang lain sesuai sebagai status manusia sebagai khalifahNya dimuka bumi.

    Allah SWT berfirman (2:30-33).

    Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."31. Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, Kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: "Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!"32. Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana."33. Allah berfirman: "Hai Adam, beritahukanlah kepada mereka nama-nama benda ini." Maka setelah diberitahukannya kepada mereka nama-nama benda itu, Allah berfirman: "Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, bahwa Sesungguhnya Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan?"

    Ayat ini jelas membuktikan manusia dilantik menjadi khalifahNya dimuka bumi disebabkan akal fikiran yang dikurniakan kepada kita. Perlu kita fahami hidayah akal ini diberikan bersama tanggungjawab. Sumber hidayah ini ialah ilmu pengetahuan. Tanpa ilmu seseorang akan sesat, rusak, mundur dan dimurkai Allah SWT. Maka menjadi kewajiban (fardu a’in) bagi setiap manusia untuk menuntut ilmu sebagai hidayah dalam kehidupan manusia.

    Namun akal manusia ada hadnya. Ada perkara yang mampu difikirkan dan ada perkara yang diluar kemampuan akal manusia. Kadang-kadang apa yang difikirkan oleh akal baik bagi diri manusia mungkin buruk pada hakikatnya. Inilah bukti betapa lemahnya manusia. Betapa cerdiknya manusia berfikir masih ada lagi ruang kelemahan yang diluar keampuan akal kita. Benarlah firman Allah SWT (2:216).

    Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak Mengetahui.

    Maka kelemahan akal ini manusia memerlukan peringkat tertinggi hidayah Allah kepada makhluknya yaitu hidayah agama.

  • Hidayah Al-Din

    Hidayah ini adalah yang tertinggi dan diberikan kepada manusia juga seperti hidayah akal. Hidayah ini amat penting bagi mengawal segala hidayah yang lain agar ia selari dengan fitrah manusia yang Allah ciptakan. Hidayah ini ialah segala bentuk prinsip dan ajaran agama Islam bersumberkan Al-Quran dan al-sunnah. Islam adalah agama fitrah yang Allah turunkan melalui para rasulnya. Firman Allah SWT (30:30).

    Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang Telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

    Sebagai agama fitrah sudah pasti segala yang diperintahkan dan dilarangNya dalam Al-Quran dan alsunnah adalah benar dan yang terbaik bagi manusia.

Professor Hamka menjelaskan tentang hubungan keempat hidayah ini dalam satu anologi yang amat menarik dan mudah:

"kitapun mengakui bahwa petunjuk itu sejak lahir ke dunia telah diberikan secara beransur. Pertama sejak pertama lahir kita telah diberi persediaan petunjuk pertama, sehingga bila kita terasa lapar kita menangis, bila terasa basah kita pun menangis;dan sejak lahir telah diberi petunjuk bagaimana menyusu ibu. Dan setelah itu dengan beransur-ansur, dari hari ke hari, bulan ke bulan beransur kita dapat membedakan bunyi yang didengar dan warna yang dilihat. Dalam masa pengansuran itu kita diberi naluri untuk pelengkap hidup. Dan manusia diteruskan lagi dengan pertumbuhan akal dan fikiran… Allah yang memperbaiki kesalahan pendapat pancaindera, mata melihat dan lain sebagainya. Mata melihat tongkat yang lurus di dalam air menjadi bengkok, sedang akal menolaknya. Tetapi akal saja belumlah cukup menjadi pedoman. Sebab dalam diri kita sendiri bukan akal dan pancaindera saja yang harus diperhitungkan. Kita perhitungkan juga syahwat dan hawa nafsu kita, demikian juga naluri-naluri yang lain. Kita ingin makan dan minum, supaya hidup. Supaya berketurunan kita ingin mempunyai teman hidup; lelaki mencari perempuan dan perempuan menunggu lelaki. Kita ingin mempunyai apa-apa, kita ingin mempunyai persediaan. Kita ingin dan orang lain pun ingin. Untuk mencari apa yang kita ingini itu kita pergunakanlah akal dan orang lain untuk mencari keinginannya juga mempergunakan akalnya pula. Kadang-kadang seluruh orang mengingini satu macam barang, maka terjadilah perebutan. Dapatlah siapa yang lebih cerdik atau lebih kuat. Dengan demikian maka pengalaman manusia menunjukkan bahwa akal saja tidaklah cukup untuk mencapai keselamatan dan kebahagiaan. Mesti ada tuntunan terhadap akal itu sendiri. Itulah Hidayat Agama. Untuk itulah rasul-rasul diutus dan kitab-kitab wahyu di turunkan. Untuk memperhitungkan perbuatan dalam perjalanan hidup itu, bagaimana pemakaian pancaindera dan bagaimana pemakaian akal, apakah dia membawa maslahat bagi diri sendiri dan bagi sesama manusia dan bagi hubungan dengan Allah SWT.

Hidayah khassah pula merupakan taufiq yang Allah SWT berikan kepada siapa yang dia inginkan untuk menerima agama dan ajaran Islam firman Allah SWT:

Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (28:56).

Ini adalah hak mutlak Allah yang tidak boleh diubah dan dilawan karena Dia berhak atas semua makhluk ciptaanNya. Tidak lah kita sebagai makhluknya mempersoalkan hak Allah dan kebijaksanaanNya dalam memberi hidayah kepada siapa yang diinginkan. Sebagai makhluk, kita hanya berhak memohon hidayah taufiqNya. Maha Suci Allah yang Maha Bijaksana dalam penciptaan makhlukNya, Maha Pemurah, Maha pengasih, Maha Mengetahui.

Selainitu, Ibnul Qoyyim memaparkan makna hidayah secara syar’i dengan membaginya kepada empat macam, yaitu:

  1. Hidayah ‘Ammah, yaitu hidayah yanng bersifat umum yang diberikan kepada seluruh makhluk. Hidayah ini bersifat naluriah, termasuk panca indera untuk bisa hidup, akal, insting, fitrah dan kalbu. Firman Allah dalam surat Thaha ayat 50.

    Artinya: “Musa berkata: "Tuhan Kami ialah (Tuhan) yang telah
    memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk”.

  2. Hidayah Dalaalah, yaitu berupa penjelasan tentang kebaikan dan keburukan, kebaikan membawa kepada kebahagiaan dan keburukan yang membawa penderitaan. Dan tidak semua manuisa mengikuti jalan kebaikan. Hidayah dalaalah ini disebut juga al-irsyad. Firman Allah dalam surat Fushshilat ayat 17. Hidayah inilah yang bisa dilaksanakan oleh manusia dalam memberikan dakwah, yakni menjelaskan kebenaran serta menghindarkan manusia dari jalan kesesatan sekalipun hidayah yang paling sempurna, yaitu taufik yang hanya ada di tangan Allah swt. tentunya hidayah inilah sebagai jalan untuk dapat mencapai kebahagiaan manusia dengan harapan mendapat taufik dari Allah swt. Q.S. Asy-Syuura ayat 52.

    Artinya: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami, sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus."

    Para Rasul dan pendakwah hanya memberi petunjuk ilmu ( dalaalah wal irsyad ) dan agama yang benar. Firman Allah dalam surat Al-Fath (26) ayat 28:

    Artinya: “Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. dan cukuplah Allah sebagai saksi”.

    Para ulama Ahli Tafsir menafsirkan al-huda (petunjuk) dalam ayat ini dengan ilmu yang bermanfaat dan dinul haq (agama yang benar) dengan amal shaleh. Maka para da’i berupaya mengajak, menyeru, membimbing, mengajari, mendidik serta menghindari manusia dari kekafiran, kemusyrikan dan kemunafikan untuk mencapai iman dan takwa serta keselamatan duania dan akhirat. Hidayah ini bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadis, sehingga melahirkan ilmu-ilmu Islam seperti Tauhid, fikih, akhlak, sejarah dan sebagainya. Para da’i berusaha menanamkan akidah, mengajarkan fikih, membimbing akhlak karimah berdasarkan petunjuk Allah dalm al-Qur’an dan Sunnah.

  • Hidayah Taufik, yaitu ilham dalam hati manusia untuk mengikuti jalan yang benar serta kelapangan dada untuk menerima kebenaran serta memilihnya, hidayah ini disebut juga dengan hidayah ma’unah . Bila hidayah ini diberikan Tuhan kepada non muslim, maka terjadilah konversi agama, ia akan masuk Islam, bagi seorang muslim akan semakin bertambah iman dan ketakwaannya. Inilah hidayah sempurna yang mesti menjadikan orang yang meraihnya akan mengikuti petunjuk Allah. (Q.S.Fathir ayat 8).

    Kalau hidayah ‘ammah merupakan instrumen untuk menyerap hidayah dalaalah wal irsyad, maka tujuannya tidak lain adalah untuk mencapai hidayah ma’unah Allah berupa iman, Islam dan ihsan. Dengan memperoleh tiga bentuk hidayah inilah manusia akan sampai kepada pucak hidayah jannah yaitu syurga.

    Makna taufik ialah kesesuaian antara dua hal, kemudian maknanya berkembang menjadi kesesuaian antara keinginan (kehendak manusia dengan kehendak Allah. Contohnya ketika suami istri yang sedang konflik berkehendak untuk baik kembali, lalu mereka berupaya melalui mediasi antara kedua belah pihak, maka Allah akan memberi taufik kebaikan kepada keduanya. (Q.S. An-Nisa’ ayat 35). Contoh lain ialah keinginan nabi Syu’aib AS. akan kebaikan ummatnya melalui ikhtiar semaksimal mungkin. (Q.S.Hud ayat 87-88).

    Mencermati kedua ayat tersebut dapat menjadi petunjuk bahwa taufik itu timbul karena adanya iradah dan kasbu (keinginan dan usaha) dari manusia, sehingga Allah memberikan inayah dan taufik-Nya. Dengan kata lain, manusia yang tidak lalai memfungsikan hidayah ‘ammah dan hidayah dalaalah Tuhan dalam terwujudnya kehendak kepada kebahagiaan dunia dan akhirat, maka Allah akan memberikan taufik dan inayahnya kepada keimanan dan ketakwaan.

  • Hidayah Jannah

    Harapan dari hidayah ini adalah diperolehnya syurga dan terhindarnya dari api neraka. (Q.S. Al-A’rof ayat 43).

    Syaikhul Ibnu Taimiyah selanjutnya menjelaskan bahwa hamba kebutuhannya sangat mendesak terhadap kandungan do’a dalam ayat ini “ Ihdina shshirotol mustaqiem”, karena sesungguhnya tidak ada keselamatan dari siksa dan pencapaian kebahagiaan yang abadi di syurga kecuali dengan hidayah dari Allah. Maka barang siapa yang tidak mendapat hidayah dari Allah ini berarti dia termasuk orang-orang yang dimurkai Allah sepeti orang-orang Yahudi an Nashrani.

Disisi lain, M. Quraish Shihab mengelompokkan hidayah ke dalam empat bentuk, yaitu:

  1. hidayah dalam bentuk naluri,

  2. hidayah dalam bentuk indera manusia,

  3. hidayah dalam bentuk akal dan

  4. hidayah dalam bentuk agama.

Pendapat ini pada prinsifnya tidak berbeda dengan pembagian hidayah di atas, hanya saja hidayah pertama, kedua dan ketiga disini merupakan rincian dari hidayah umum pada pendapat di atas. Sedangkan hidayah keempat, yaitu hidayah dalam bentuk agama telah mencakup hidayah dalaalah, hidayah ma’unah serta hidayah syurga dalam pendapat di atas.

Referensi :

  • Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir: Kamus Arab-Indonesia (Surabaya: Pustaka Progressif, 1997)
  • M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah: Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an Vol. 1 Surat Al-Fatihah-Al-Baqarah (Jakarta: Lentera Hati, 2000)
  • Abdul Aziz Dahlan et. al., Ensiklopedi Hukum Islam (Jakarta: PT Ichtiar Baru van Hoeve, 2003)
  • John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (Jakarta: Gramedia, 2000)
  • Al-Alusi, Ruh al-Ma’ani fi Tafsir Al-Qur’an al-'Azim wa al-Sab’i al-Mathani , (Dar Ihya’ al- Turath al-Arabi, Beirut), Vol. 1.
  • As-Suyutiy, Al-Itqon, (Beirut: Dar ats-Tsaqofah), tt.
  • Ibnul Qoyyim al-Jauziyah, Kitab “Al Fawa-id , (Kairo: Muassasah ummil Qura, 1424 H)
  • Muḥammad Ṭahir ibn ˋĀsyur, Tafsīr at -Taḥrīr wa at –Tanwīr , (Tunisia: Dār at-Tunisiyahwa an-Nasyr, 1984), jilid I

Kata Hidayah berasal dari bahasa Arab atau bahasa Al-Qur’an yang telah menjadi bahasa Indonesia. Akar katanya ialah : hadaa, yahdii, hadyan, hudan, hidyatan, hidaayatan.

Hidayah dalam bahasa berarti irsyad atau tuntunan. Sebagian ahli bahasa menambah arti tuntunan ini dengan adanya keinginan baik. Dengan demikian, hidayah diartikan sebagai tuntunan dan menunjukkan jalan yang disertai dengan keinginan baik.

Hidayah secara bahasa juga berarti memberi petunjuk yang benar. Dalam kitab Tafsir Al-Munir dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan hidayah Allah adalah petunjuk-petunjuk Allah yang diberikan kepada manusia agar manusia berjalan di jalan yang lurus, jalan yang penuh dengan kebenaran bukan jalan orang-orang yang sesat dan menyesatkan. Allah berfirman:

Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus” (QS. Al-Maidah: 16).

Dalam ayat yang lain, Allah berfirman,

“Tunjukanlah kami ke jalan yang lurus!” (QS. Al-Fatihah: 6).

Secara etimologi (bahasa), hidayah berarti petunjuk. Lawan katanya adalah : “ dholalah ” yang berarti “kesesatan”. Antonim makna antara hidayah dan sesat dari sisi arti kata adalah pertentangan dari jenis ada dan tiada. Karena realitanya hidayah itu ada dan terjadi, sementara sesat adalah ketiadaan hidayah dan tidak memiliki realita independen. Mencermati hakikat ini dapat membantu kita menghilangkan kerancuan yang biasa muncul terkait sesat yang dinisbatkan kepada Allah dalam al-Quran.

Kata hidayah, menurut Quraish Sihab, berasal dari kata hadaa yang berarti menunjukkan atau memberi petunjuk (atau) suatu yang mengantar kepada apa yang diharapkan, yang disampaikan kepada manusia secara halus dan lemah lembut. Menurut at-Thaba-Thaba’iy, hidayah adalah menunjukkan atau memperlihatkan tujuan akhir dengan cara menunjukkan jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Sedangkan Abduh menyebutkan hidayah sebagai petunjuk yang halus yang dapat membawa manusia kepada tercapainya sesuatu yang diinginkan.

Adapun pengertian hidayah dengan merujuk pada kata petunjuk yang terdapat dalam al qur’an menggunakan kata “Hidayah” atau “Hudan” diartikan sebagai petunjuk digunakan pada 2 penggunaan; yaitu secara ‘Am (umum) dan Khos (khusus). Contoh penggunaan ‘Am adalah dalam ayat:

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia….”(QS al baqoroh : 185)

Sedangkan contoh penggunaan kata hidayah yang bermakna khos yaitu dalam firman allah SWT:

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”,(QS Al baqoroh : 2)

Pengertian “ hudan ” (petunjuk) disini merupakan suatu petunjuk yang kekhususan bagi orang yang bertaqwa. Sehingga sebagian para ulama mendefinisikan kata “hidayah” dengan makna yang ‘ am (umum) adalah :

“Terangnya jalan kebenaran (Allah) dan jelasnya hujjah allah, walaupun jalan untuk menelusurinya itu sudah jelas atau tidak”

Seperti dalam ayat :

“Dan Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah Kami beri petunjuk tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk, Maka mereka disambar petir azab yang menghinakan disebabkan apa yang telah mereka kerjakan.(QS Al Fushilat : 17)

Maksudnya, Allah telah memberikan petunjuk kepada Kaum Tsamud jalan (ajaran) Allah melalui lisan nabi sholeh walaupun mereka tidak sedikitpun menelusuri jalan-jalan petunjuk Allah tersebut karena dalam keterangan selanjutnya disebutkan bahwa “tetapi mereka lebih menyukai buta (kesesatan) daripada petunjuk” .

Atau dalam ayat lain surat lain :

“ Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”.(QS al Insan : 3)

Maksudnya Allah telah menjelaskan atau menerangkan kepadanya jalan kebaikan dan kejelekan, karena kalimat selanjutnya “ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir”.

Adapun definisi hidayah dengan makna khos (khusus) adalah ;

“Anugerah(kelebihan) yang diberikan oleh Allah kepada seorang hamba dengan Taufiq”.

Makna ini sama seperti dalam ayat :

“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, Maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat.” (QS al an’am :90)

Dan

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam….”(QS. Al an’am :125).

Jika kita telah memahami hal ini, maka kita akan mengerti bahwa hidayah yang khusus bagi orang bertaqwa adalah makna dari hidayah yang khos yaitu pemberian anugerah/ kelebihan dengan taufiq sedangkan hidayah yang diberikan kepada semua manusia merupakan pengertian dari makna yang ‘Am, yaitu telah terangnya jalan-jalan kebenaran dan jalan-jalan Allah.

Oleh karena itu, kita akan mengerti maksud ayat :

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk”.(QS. Al qoshosh:56)

Dan ayat :

“…dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (QS.Asy syuraa’: 52)

Hidayah yang tidak dimiliki oleh Rasulullah SAW adalah hidayah yang khos, karena taufiq merupakan hak preogratif Allah SWT yang tidak dimiliki oleh siapapun, dan hanya Allah SWT pula yang berhak memberikan kepada siapa saja yang allah SWT kehendaki. Dan hidayah yang dimiliki oleh Rasulullah SAW adalah hidayah ‘Am yaitu menjelaskan dan meunjukkan jalan-jalan kebenaran dan jalan-jalan yang akan menuju Allah SWT.

Jenis-Jenis Hidayah


Dr. Wahbah Al-Zuhaily dan Mufassir besar Syaikh Ahmad Mustafa al-Maraghi membagi hidayah dalam kitab tafsirnya menjadi lima macam, sebagaimana yang dihimpun oleh Quraish (1992), bahwa hidayah Allah ada empat macam dengan tahapan yang bertingkat. Tahap pertama adalah naluri disusul dengan pancaindra, kemudian akal dan yang terakhir adalah agama.

  • Pertama, Hidayah al-Ilhami (instink, naluri).

    Hidâyah al-ilham al-Fithri merupakan hidayah yang diberikan Allâh sejak manusia baru lahir, sehingga butuh dan bisa makan dan minum. Seorang bayi suka menangis jika lapar atau dahaga, padahal tidak ada yang mengajarinya. Tanpa melalui proses pendidikan, bayi juga bisa tertawa tatkala bahagia. Hidâyah ini diberikan oleh Allâh tanpa usaha dan tanpa permintaan manusia.

    Hidayah semacam ini tidak hanya diberikan kepada manusia akan tetapi juga kepada hewan sekalipun. Hidayah al-Ilham ini berarti denyut hati (gerak hati, inplus) yang ada pada manusia dan hewan, hidayah jenis ini merupakan dorongan untuk melakukan sesuatu, dorongan dimaksud tidak berdasar pada suatu fikiran, dorongan yang hanya berupa dorongan animal, yang tidak berdasarkan pada pikiran panjang oleh manusia. Hidayah al-Ilham ini diberikan oleh Allah Swt., kepada manusia sejak masih bayi.

  • Kedua, Hidâyah al-Hawas.

    Hidayah ini diberikan Allâh kepada manusia dan hewan. Bedanya kalau kepada hewan diberikannya secara sekaligus, dan sempurna sejak dilahirkan induknya. Sedangkan pada manusia hidâyah al-hawas diberikan secara berangsur. Dengan hidayah ini, manusia bisa membedakan rasa asin, pahit, manis, enak, lada, bau, harum, kasar atau pun halus, tanpa melalui peroses pembelajaran. Pembelajaran dalam hal ini berfungsi untuk memfungsikan hidâyah al-hawas secara optimal.

    Hidayah al-Hawasi ini bisa juga disebut dengan hidayah pancaindra yang terdiri atas: lidah sebagai alat rasa; mata sebagai alat melihat; telinga sebagai alat mendengar; hidung sebagai alat hirup yang mengetahui bau atau harum; dan kulit bisa merasa panas, dingin atau keras dan lunak . Hawas ialah dria, atau indra, ataupun indria, yaitu alat yang peka terhadap rangsangan yang datang dari luar, seperti rangsangan cahaya, rangsangan bunyi dll.

    Seperti yang Allah jelaskan dalam surat al-Balad (90) , 8-10.

    “Bukankah Kami telah memberikan kepadanya dua buah mata, lidah dan dua buah bibir dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan”.

    Dalam penerimaan hidayah jenis ini, antara manusia dan hewan memiliki persamaan. Hidayah al-Hawasi yang berupa indra ini dianugerahkan Allah Swt., baik kepada manusia maupun kepada hewan. Namun dalam beberapa hal indra hewani lebih sempurna dibandingkan dengan indra manusia. Indra manusia terkadang memberikan informasi dan laporan yang tidak benar, lagi pula sering tidak utuh dan menyeluruh. Mata yang memandang tongkat yang ada di dalam air, seakan benkok padahal kenyataannya tidak demikian.

  • Ketiga, Hidayah al-Aqli.

    Hidayah aqal ini hadir untuk meluruskan kekeliruan-kekeliruan panca indra. Aqal merupakan pengakomodir semua hal yang dihimpun oleh panca indra, kemudian membuat kesimpulan-kesimpulan yang dapat berbeda dengan kesimpulan yang diperoleh indra-indra tersebut. Aqal berperan melebihi peran panca indra. Aqal lebih matang, jauh setelah kematangan panca indra dan karenanya aqal dinyatakan berada pada tingkatan yang ketiga. Aqal merupakan pembeda antara manusia dan hewan, bahkan malaikat sekalipun. Hidayah aqal inilah yang menyebabkan manusia berbudaya dan sekaligus membedakan antara hewan dan insan. Sebagai makhluk yang berbudaya, maka manusia hidup bersama dengan orang lain, hidup bermasyarakat, meningkatkan taraf hidup dan kehidupannya setaraf demi setaraf dari tingkat tertentu ke tingkat yang lebih tinggi dan lebih baik. Namun demikian, aqal saja tidak cukup bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan sejati dan kebenaran hakiki.

    Hal ini diperingatkan oleh Allah pada surat al-Mulk (90), 22-23.

    “Maka apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan tegap di atas jalan yang lurus ? Katakanlah: Dialah yang menjadikan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati (tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.”

    Hidayah al-Aqli ini merupakan hidayah yang dikhususkan oleh Allah Swt., kepada manusia, yang diikuti dengan hidayah al-Adyani sebagai pengendali dan pelurus aqal agar jangan tersesat dari jalan-Nya.

  • Keempat, Hidayah al-Adyani.

    Hidayah ini merupakan petunjuk Allâh berupa ajaran dan hukum-hukum yang meluruskan kekeliruan yang muncul akibat aqal yang dipengaruhi nafsu. Untuk meluruskan pendapat akal itu, maka Allâh memberi manusia Hidâyah al-Din pedoman hidup yang berfungsi membimbing manusia ke jalan yang benar. Allâh berfirman:

    “Dan telah Kami beri petunjuk dua jalan hidup (Qs. QS Al Balad (90):10).”

    Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa menurut ayat ini, Allâh memberikan jalan hidup itu terdiri atas baik dan yang buruk. Manusia dengan aqalnya dipersilakan memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Hidâyah al-din membimbing manusia untuk mengambil jalan yang lurus. Namun hidayah ini tidak bisa diperoleh manusia tanpa melalui peroses pembelajaran. Hanya orang yang mempelajari syari’ah, yang meraih hidâyah al-Din.

    “Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang yang beriman yang beramal shalih, sesungguhnya bagi mereka itu pahala yang maha besar . (QS. AlIsra (17): 9).”

    Sesungguhnya Allâh telah memberikan penjelasan sejelas-jelasnya, bahwa Al-Qur’an itu memberi petujuk ke jalan yang lurus, baik dan mencapai bahagia. Hidayah al-Adyani ini biasa juga disebut dengan hidayah agama. Dengan aqal budi manusia semata-mata, belum merupakan jaminan bagi manusia untuk sampai kepada kebenaran yang hakiki. Dengan agama, Tuhan telah memperkenalkan kebenaran demi kebenaran. Kebenaran wahyu untuk mencapai hasrat citanya, kebahagiaan sejati dan kebenaran hakiki yang disuarakan dalam ayat demi ayat-Nya.

  • Kelima, Hidayah at-Taufiqi.

    Hidayah taufiq ini semata-mata berada dalam tangan Allah Swt., tidak ada seorangpun yang dapat memberikannya kepada manusia lain. Dalam sejarah dikisahkan bahwa ternyata Rasulullah Saw., sekalipun tak mampu memberikan hidayah kepada pamannya Abu Thalib, walaupun Abu Thalib telah berusaha dibujuk oleh beliau akan tetapi kenyataan berbicara lain. Abu Thalib meninggal dunia dalam keadaan tidak beriman, padahal Rasul sangat mencintai dan menyayangi beliau. Malah bujukan beliau itu, oleh Allah Swt., dianggap sebagai suatu hal yang salah. Allah Swt., menegur Rasulullah Saw., dengan firman-Nya pada surat al-Qashash (28), 56.

    “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang- orang yang dikehendaki-Nya, dan Dia lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk .”

    Berbeda dengan hidayatul Ilham, Hidayatul-hawas dan Hidayat al-Din Wasyara’i , yang berlaku umum. Setiap manusia menerima hidâyah ilham, hidâyah hawas, hidâyah aqal. Kemudian hidâyah diniyah, bisa diperoleh melalui pembelajaran. Namun tidak setiap manusia mendapat hidâyah al-taufîq , walau belajar atau diajari.

    “Pada kaum Tsamud telah Kami beri petunjuk, namun mereka mengambil jalan buta kesesatan dan meninggalkan petunjuk itu. Maka mereka disambar petir sebagai siksa yang menghina kan, akibat dari perbuatan mereka.” (Qs. Fushilat: 17).

    Dengan demikian orang yang menemukan hidâyah al-Din, tidak dijamin berakhlaq benar. Tidak sedikit, orang yang faham tentang hukum agama, tapi akhlaqnya buruk.

Berbeda dengan Syaikh Ahmad Mustafa al-Maraghi, Al-Balkhi dalam bukunya Al-Asybah wa An-Nazho-ir, Yahya Ibnu Salam dalam bukunya At- Tashoriif , As-Suyuthi dalam bukunya Al-Itqon , dan Ibnul Qoyyim Al-Jawzi dalam bukunya Nuzhatu Al-A’yun An-Nawazhir, secara umum, mengklasifikasikan hidayah menjadi empat bagian utama :

  • Pertama, Hidayah I’tiqodiyah

    Hidayah I’tiqodiyah merupakan petunjuk terkait keyakinan hidup, seperti firman Allah dalam surat An-Nahl berikut :

    “Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka dapat petunjuk (keyakinan hidup), maka sesungguhnya Allah tiada memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya, dan sekali-kali mereka tiada mempunyai penolong” . (Q.S. An-Nahl : 37)

    Atau seperti firman Allah berikut ini :

    “Dan seorang laki-laki yang beriman di antara pengikut-pengikut Firaun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia menyatakan: “Tuhan Penciptaku ialah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhan Penciptamu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan (tetapi) jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk (hidayah) kepada orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta (penolak kebenaran yang datang dari-Nya). (Q.S. Al-Mu’min: 28).

  • Kedua, Hidayah thoriqiyah

    Hidayah thoriqiyah merupakan petunjuk terkait jalan hidup, yakni Islam yang didasari Al-Qur’an dan Sunnah Rasul Saw, seperti Firman Allah dalam surat Al-Hajj berikut ini :

    “Bagi tiap-tiap umat telah Kami tetapkan syariat tertentu yang mereka lakukan, maka janganlah sekali-kali mereka membantah kamu dalam urusan (syariat) ini dan serulah kepada (agama) Tuhanmu. Sesungguhnya kamu benar-benar berada pada jalan yang lurus (Islam)”. (Q.S. Al-Hajj: 67)

    Atau seperti firman Allah di bawah ini :

    “Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengada-adakannya; Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun untuk (menyembah) nya. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka, dan sesungguhnya telah datang petunjuk (Islam/ Al- Qur’an) kepada mereka dari Tuhan mereka”. (Q.S. Annajm: 23)

  • Ketiga, Hidayah ‘amaliyah

    Hidayah ‘amaliyah merupakan petunjuk terkait aktivitas hidup, seperti firman Allah dalam surat Al-Ankabut berikut :

    Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Q.S. Al-Ankabut: 69)

  • Keempat, Hidayah fithriyah*

    Hidayah fithriyah ini terkait dengan kecenderungan alami yang Allah tanamkan dalam diri manusia untuk meyakini Tuhan Pencipta, mentauhidkan-Nya dan melakukan hal-hal yang bermanfaat untuk diri mereka.

    Realisasinya, tergantung atas pilihan dan keinginan mereka sendiri. Sumbernya adalah Qalb (hati nurani) dan akal fikiran yang masih bersih (fithriyah) sebagaimana yang dialami oleh Nabi Ibrahim. Allah menjelaskan dalam firman-Nya:

    “Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: “Inilah Tuhanku”. Tetapi setelah bulan itu terbenam dia berkata: “Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat” . (Q.S. Al-An’am: 77)

Klasifikasi yang berbeda lagi diformulasikan oleh Ar-Raghib Al- Isfahany seorang pakar bahasa Al-Qur’an . Ia membagi hidayah Allah terhadap manusia dalam empat bagian.

  • Pertama, hidayah yang meliputi seluruh manusia mukallaf , yaitu hidayah dalam arti akal, pengetahuan umum, sesuai dengan batas kemampuan masing-masing. sesuai dengan firman Allah dalam surah Thaha ayat 50;

    " (Musa) berkata " Tuhan kami adalah yang telah memberikan kepada tiap-tiap suatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk ".

  • Kedua, hidayah dalam arti ajakan kepada manusia melalui para nabi-Nya dan kitab suci-Nya

    Seperti firman Allah dalam surah Al-Anbiya ayat 73;

    “Kami telah jadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami…"

  • Ketiga, Hidayah dalam arti Taufiq atau persesuaian antar kehendak seseorang dengan kehendak Allah. Ini tentunya hanya khusus bagi mereka yg telah menerima secara baik hidayah kedua yang disebut di atas. Sesuai firman Allah pada surah Maryam ayat 76

    Dan Allah akan menambah petunjuk bagi mereka yang telah mendapat petunjuk

  • Keempat, hidayah di akhirat nanti menuju surga

    Seperti dalam firman Allah pada surah Muhammad ayat 4-5;

    " Orang-orang yang gugur dijalan Allah, maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi petunjuk kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka".

Sumber : Nurseri Hasnah Nasution, Faktor hidayah dalam dakwah, Wardah: No. XXVII/ Th. XIV/ Desember 2013