Apa yang dimaksud dengan hermeneutika ?

membaca

(Nicky Setyowati) #1

hermeneutika

Hermeneutika adalah salah satu jenis filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna. Apa yang dimaksud dengan hermeneutika ?


Apakah yang dimaksud dengan teori komunikasi?
(thomasdeni81) #2

Hermeneutika adalah bagian ilmu filsafat yang sejak permulaannya di zaman klasik dianggap bertujuan “menerangkan” atau “menerjemahkan” berita atau teks lama atau yang berasal dari kebudayaan lain. Menurut pengertian ini, Hermeneutika adalah “cara memahami teks’.

Kata Hermeneutika secara etimologis berasal dan kata Hermeneuin (bahasa Yunani) yang berarti “seni menerangkan makna.”

Pada zaman klasik sekitar 500 SM, Hermeneutika sudah mulai digunakan sebagai metode untuk memahami dan menerjemahkan tulisan. Pada masa itu, Hermeneutika memiliki tiga pengertian penting, yaitu :

  • Pertama, mengalihkan makna yang dikandung dalam konteks yang agak tertutup, tidak dikenal, sulit dipahami. yang dimaksudkan dengan konteks di sini adalah dalam konteks kebahasaan sehingga secara sederhana hermeneutika berarti menafsirkan ke dalam suatu bahasa yang dapat dipahami orang banyak.

    Dengan kata lain, hermeneutika tidak lagi dibatasi pada interpretasi spekulatif sebagaimana diinginkan oleh dewa atau kekuatan supranatural lainnya yang bahasanya tidak dimengerti oleh orang awam atau kebanyakan. Proses perluasan makna (profesionalisasi) hermeneutika terjadi karena mulai terjadinya pertemuan bangsa Yunani dengan bangsa-bangsa lain yang berbeda bahasa dan kebudayaannya.

  • Kedua, berkaitan dengan hakikat makna yang ingin dipahami. Hal ini berarti bahwa makna tulisan atau berita hanya dapat dipahami sebagian saja, tetapi melalui hermeneutika, makna hakiki yang lebih mendalam akan dapat dipahami. Di sini hermeneutika berarti analisa terhadap makna suatu tulisan.

  • Ketiga, berangkat dari asumsi bahwa suatu tulisan hanya dapat dipahami dengan satu cara saja. Asumsi ini berlaku hanya untuk tulisan-tulisan atau berita-berita spesifik saja, seperti pesan-pesan dewa, dokumen-dokumen politik, yang dibuat hanya untuk tujuan tertentu saja.

Pada zaman pertengahan (renaissance), hermenutika digunakan untuk mempelajari kembali kebudayaan Yunani yang sangat berbeda dengan peradaban Eropa pada masa itu (pertengahan). Pada masa itu, hermenutika terbagi menjadi dua, yaitu :

  • Pertama, adalah para ahli yang cenderung menggunakan hermeneutika untuk mengungkapkan makna murni yang terkandung dalam tulisan zaman klasik (Yunani). Tujuan mereka adalah untuk memperoleh pemahaman yang mendalam dan menyeluruh tentang kebudayaan klasik. Pendekatan seperti itu, pada gilirannya nanti disebut sebagai hermeneutika ilmiah.

  • Kedua, adalah kelompok ahli yang lebih cenderung untuk menangkap makna-makna yang tertangkap dari tulisan-tulisan pada masa klasik untuk digunakan dalam memecahkan rnasalah sosial pragmatis yang dihadapi pada masa itu. Pendekatan seperti itu sering disebut sebagai pendekatan normalif atau dogmatis, mulai abad XVII mulai dikembangkan hermeneutika yang bersifat universal.

Sejak zaman pencerahan, Hermeneutika adalah cabang ilinu filsafat yang khusus mempelajari “pengalaman pikiran manusia”.

Akibatnya, konsep Hermeneutika dipakai dalam arti lebih spesifik, yaitu “Seni membaca dan memahami teks atau tulisan dalam konteks sejarah di mana terjadi.” Pada abad XIX, Hermeneutika oleh W. Dilthey diubah menjadi “teori pemahaman atau teori pengertian.” Menurut filsuf ini, manusia mempunyai kemampuan khas menempatkan diri melalui pikiran dalam situasi dan kondisi orang lain dan mengulangi pengalamannya.

Metode yang lazim dinamakan “metode Verstehen” ini dikembangkan oleh Dilthey menjadi metode mempelajari kehidupan maknawi untuk ilmu-ilmu kemanusiaan. Hermeneutika, oleh Heidegger dan Gadamer, diperluas lagi dengan pemakaian konsep Hermeneutika dalam arti psikologis, tujuannya adalah memberikan pemahaman makna kepada apa saja.

Hal ini berarti bahwa manusia secara eksistensial terikat kepada interpretasi. Tujuan Hermeneutika menurut Heidegger adalah memberikan penerangan melalui pemahaman. Oleh karena itu, Hermeneutika selalu berarti interpretasi.


(Vina Shaw) #3

Kata hermeneutika, menurut Palmer (1969), berasal dari istilah yunani yaitu hermeneuein (kata kerja) yang berarti “menafsirkan” dan hermeneia (kata benda) yang memiliki arti “interpretasi”. Menurut Supena (2005) istilah hermeneuein adalah simbol yang diasosiasikan dewa Hermes dimana dalam mitologi yunani ia bertugas menyampaikan pesan Tuhan kepada manusia. Hermes dituntut untuk mampu mentransformasikan apa yang semula berada diluar wilayah pemahaman manusia kepada format pesan yang bisa dimengerti manusia.

Menurut Gerhard Ebeling, sebagaimana yang dikutip oleh Nassarudin Ummar (2006) Hermes itu merupakan kiasan untuk tiga tugas utama hermeneutika modern.

  • Pertama , mengungkapkan sesuatu yang tadinya masih berada dalam pikiran melalui kata kata (utterance, speaking) sebagai medium penyampaian.

  • Kedua , menjelaskan secara ra- sional (interpretation, explanation) sesuatu yang sebelumnya masih samar samar sehingga maksud atau maknanya dapat dimengerti.

  • Ketiga , menterjemahkan (translating) suatu bahasa yang asing ke dalam bahasa lain yang lebih dikuasai.

Sedangkan Menurut Hardiman (2014) Hermes bertugas menafsirkan kehendak dewata (orakel) dengan bantuan kata-kata manusia. Pengertian dari mitologi ini kerap dapat menjelaskan pengertian hermeneutika teks-teks kitab suci, yaitu menafsirkan kehendak Tuhan sebagaimana terkandung di dalam ayat-ayat kitab-kitab suci. Dalam pemakaiannya, hermeneutika di masa lampau memiliki arti yang luas, yaitu sebagai sejumlah pedoman untuk pemahaman teks-teks yang bersifat otoritatif, seperti dogma dan kitab suci. Teknik pemahaman ini menurutnya lebih merupakan sebuah “seni” pemahaman daripada suatu “teori” atau “science” tentang pemahaman.

Kemudian Palmer (1967) juga mendefenisikan lebih variatif. Menurutnya pada masa modern bidang kajian hermeneutika didefinisikan dalam enam bentuk yang berbeda yaitu :

1.Teori eksegesis bible,
2. Metodologi filologi secara umum,
3.Ilmu pemahaman linguistik,
4.Fondasi metodologis geistewwesenhaften (disiplin yang memfokuskan pada pemahaman seni, aksi dan tulisan manusia)
5. Fenomenologi eksistensi dan pemahaman eksistensial dan
6. Sistem interpretasi yang digunakan manusia untuk meraih makna dibalik mitos dan simbol.

Hermenutika F.D.E. Schleiermacher

Hermeneutika sebagai seni pemahaman menurut Schleiermacher belum menjadi sebuah disiplin umum, hanya menjadi pluralitas dari hermeneutika tertentu. Seni pemahaman yang dikehendakinya sebenarnya sama baik teks itu berupa teks agama, hukum, karya sastra ataupun jenis teks yang lain. Meskipun secara model dan tujuan ada perbedaan antara teks tersebut sehingga muncul seperangkat teoritis yang spesifik pada kekhasan masing-masing teks (Palmer, 1969).

Menurut Schleiermacher, hermeneutika adalah kecakapan atau seni memahami (the art of understanding). Schleiermacher menyakini bahwa pada zamannya seni memahami ini „tidak ada lagi yang berupa hermeneutika umum, melainkan hanya ada sebagai hermeneutika- hermeneutika khusus‟. Jadi apa pun macam, ciri-corak dan objek hermeneutika itu, semua hermeneutika adalah seni memahami pikiran atau maksud orang lain dalam bentuk lisan atau tulisan.

Hermeneutika mencari intensi-intensi spesifik yang individual di dalam konteks ucapan (bahasa)

Hermeneutika dapat disebut sebagai sebuah “seni”, karena dua hal:

  • Pertama, karena bertolak dari situasi tanpa pemahaman bersama atau bahkan kesalahpahaman umum, sehingga pemahaman memerlukan upaya atau proses dan tidak dapat secara spontan saja;

  • Kedua, untuk mengatasi kesalahpahaman umum itu dilakukan menurut kaidah-kaidah tertentu. Kata “seni” di sini dimengerti sebagai “kepiawaian” seperti yang dapat kita temukan pada seniman yang menghasilkan fine art.

Schleiermacher berpendapat ada tiga macam seni yaitu seni bicara (retorika), menulis dan memahami. Namun dia hanya membatasi tugas hermeneutika pada seni memahami saja. Hal itu perlu dilakukan karena masih ada hal lain yang kerap dianggap sama dengannya, yaitu dua seni yang lain (berbicara dan menulis). Kedua hal terakhir ini adalah “presentasi atas apa yang telah dikatakan” sementara hermeneutika memusatkan diri pada kesenjangan antara apa yang dikatakan dan apa yang dipikirkan. Seni berbicara dan seni menulis bersangkutan dengan sisi luar pemikiran, yaitu ungkapannya dalam bahasa. Dalam berbicara terjadi gerakan dari dalam pikiran ke luar, yakni ke dalam ungkapannya, tetapi dalam memahami terjadi gerak sebaliknya, yaitu gerak dari luar, yakni ungkapannya dalam bahasa, menuju ke pemikiran, yang dicari adalah pemikiran di belakang sebuah ungkapan.

Hermeneutika adalah sebuah bagian dari seni berpikir. Kesenjangan antara kata dan pikiran diatasi dengan upaya rasional yang disebut “interpretasi”. Dalam arti ini hermeneutika harus lebih dimengerti sebagai seni mendengarkan daripada seni berbicara, seni membaca dari pada seni menulis. (Hardirman, 2014)

Lingkaran Hermeneutis F.D.E. Schleiermacher

Suatu pemahaman apapun objeknya selalu mengausmsikan munculmya daya kreatif dan imajinatif dari subjek agar tidak mudah diberdayakan oleh teks yang dibaca. Daya imajinasi dan kreasi ini bekerja dalam akal dengan mengikuti kaidah dan tahapan penalaran yang runtut dan benar. Pandangan dari Schleiermacher didasarkan pada teori Kant yaitu the possibility of human understanding . (Komaruddin Hidayat, 1996). Daya kreatif dan imajinatif inilah nampaknya yang kemudian dikembangkan Schleiermacher menjadi pemahaman intuitif dalam kajian hermeneutika.

Palmer (1969) berpendapat bahwa pemahaman sebenaranya adalah tindakan referensial. Apa yang dipahami membentuk dirinya sendiri kedalam satuan sistemik atau lingkaran-lingakarn itu membentuk bagian-bagian. Lingkaran secara keseluruhan mendefinisikan bagian-bagian individu, dan bagian-bagian tersebut bersama-sama membentuk lingkaran itu. Semisal satu kalimat utuh adalah satu kesatuan. Kalimat (whole) tersebut bisa dimengerti dilihat dari bagian kalimat tersebut yaitu kata (part) sebagai acuan atau pijakan begitu juga sebaliknya keutuhan makna dari kalimat bisa dimengerti bergantung pada makna kata itu. Adanya interaksi yang dialektis tersebutlah kemudian disebut oleh Schleiermacher sebagai “lingkaran hermeneutis”.

Interpretasi Gramatis dan Interpretasi Psikologis Schleiermacher


Interpretasi Gramatis

Schleiermacher memandang bahwa sebuah interpretasi membutuhkan pemahaman intuitif tentang teks tujuannnya adalah untuk merekonstruksi secara imajinatif situasi lingkungan dan kondisi batin pengarang sehingga teks tidak terlalu asing dengan penafsir. Ada dua model yang digunakan untuk menuju itu yaitu rekonstruksi objektif- historis dan rekonstruksi subjektif-historis. Rekonstruksi objektif-historis adalah menjelaskan sebuah pernyataan yang beruhubungan dengan bahasa secara keseluruhan sedangkan rekonstruksi subjektif-historis adalah membahas bagaimana asal mula sebuah pernyataan masuk dalam pikiran pengarang.

Pandangan Schleiermacher ini didasarkan pada asumsi bahwa berbicara dan berfikir merupakan dua aktifitas yang berbeda. Berfikir bersifat filisofis-internal, sedangkan berbicara bersifat aktual. Maka “kalimat yang terucap” mempunyai dua pengertian yaitu artikulasi bahasa disatu sisi dan konsep mental yang dipikirkan oleh pembicara disisi yang lain. Maka untuk memahami teks harus melewati proses dialogis diantara dua sisi tersebut secara simultan (Supena, 2012).

Atas dasar pemahaman tersebut mempengaruhi Schleiermacher dalam memahami suatu teks dia menggunakan dua pendekatan yang kemudian ia sebut sebagai dua tugas hermeneutika yaitu : Interpretasi gramatis dan Interpretasi Psikologis. Interpretasi gramatis bekerja untuk memahami dimensi bahasa yang digunakan oleh sebuah teks. Interpretasi secara gramatis ini digunakan menurut aturan yang bersifat objektif dan umum. Aturan ini dibatasi oleh kaidah-kaidah atau prinsip gramatika yang berlaku dalam suatu bahasa tertentu yang digunakan dalam teks (Supena, 2012).

Dalam konsepsi Schleiermacher Persoalan dalam memahami teks dapat disederhanakan menjadi berikut :

  • Memahami apa yang dikatakan dalam konteks bahasa yaitu tulisan itu sendiri

  • Dan memahami apa yang diakatakan itu sebagai sebuah fakta dalam pemikiran penuturnya yaitu pikiran.

Semisal tulisan surat anda dibaca oleh teman atau anak anda Isinya apakah merefkeksikan pikiran anda atau malah terjadi distorsi makna dari yg dikehendaki. Inilah kesenjangan yang dicoba diungkap oleh Schleiermacher dengan interpretasi gramatis dan psikologisnya. Dalam konteks interpretasi gramatis diarahkan untuk memberikan pemahaman yang utuh akan teks dari sisi bahasa teks yang digunakan. Sehingga idealnya semakin baik pemahaman bahasa tersebut kecendrungannya semakin baik pula hasil interpretsinya. Schleiermacher menjabarkan bahwa ada tiga prinsip utama yang harus dipegang dalam analisa interpretasi gramatis yaitu:

  • Pertama, “Everything in given utterance which requires a more precise determination may only be determined from the language area which is common to the author and his original audiences

    (segala hal yang ada dalam ungkapan tertentu yang menuntut penentuan [makna] yang lebih tepat hanya dapat ditetapkan melalui bidang bahasa yang telah diketahui oleh pengarang dan audiens atau pendengar yang orisinal (asli)

  • Kedua, “ the sense of every word in a given location must be determined according to its being together with those that surround it

    (makna setiap kata pada tempat tertentu harus ditentukan sesuai dengan kebersamaannya dengan kata-kata lain yang berada disekitarnya.)

  • Ketiga, the vocabulary and the history of the area of an author relates as the whole from which his writings must be understood as the part, and the whole must, in turn, be understood from the part .

    ( kosakata [bahasa] dan sejarah era pengarang dipandang sebagai keseluruhan [ whole ] yang darinya tulisan-tulisannya harus dipahami sebagai bagian [ part ], dan keseluruhan [ whole ] pada gilirannya harus dipahami dari bagian-bagiannya [ part ].

Interpretasi Psikologis

Interpretasi Psikologis adalah interpretasi untuk memahami wilayah pemikiran pengarang atau penulis teks. Dan interpretasi ini bersifat subjektif dan individual. Maksudnya adalah jika ingin memahami teks harus pula memahami subjektifitas dan individualitas pengarang atau memahamai proses mental yang menyertai pengarang ketika menuliskan gagasannya dalam bentuk teks. (Supena, 2012) Karena seseorang tidak mungkin memahami sebuah teks hanya berdasarkan dimensi bahasa saja, melainkan juga harus memperhatikan dimensi kejiwaan pengarangnya.

Schleiermacher mengatakan bahwa dalam memahami teks penafsir harus re-living and re-thinking the thought and feeling of an author. Yaitu penafsir harus berempati dan menempatkan diri pada posisi kehidupan, pemikiran dan perasaan dari sang pengarang agar memperpendek jarak antara the world of reader and the world of author. (Hidayat, 1996)

Berangkat dari pemahaman tersebut seorang penafsir teks harus memahami dengan baik latar belakang pengarangnya. Untuk mengerti suatu teks dari masa lampau, penafsir harus keluar dari zamannya, merekonstruksi zaman pengarang dan menampilkan kembali keadaan dimana pengarang dahulu berada pada saat ia menulis teksnya. Penafsir harus menyamakan diri dengan pembaca yang asli, yang menjadi sasaran utama tulisan tersebut. Penafsir merekonstruksi pemikiran, perasaan, dan maksud si pengarang, gaya bahasa yang dipakainya, dan keunikannya. Dengan demikian, penafsir seolah-olah harus pindah ke dalam hidup batin pengarang ( self-transformation )

Menurut Lawrence K. Schmidt sebagaimana yang dikutip oleh F Budi Hardiman (2014), interpretasi psikologis Schleiermacher dapat dibagi menjadi empat tahap:

  • Pertama, menangkap keutuhan dan arah tulisan itu untuk menemukan “ide sentral” yang menggerakkan pengarang.

  • Kedua, mengidentifikasi tulisan itu dalam konteks obyektif, yakni misalnya, termasuk dalam genre mana.

  • Ketiga, menemukan cara bagaimana si pengarang menata isi pikirannya.

  • Keempat, menemukan pikiran-pikiran sekunder yang berkesinambungan dengan kehidupan pengarang.

Keempat tahap ini dilakukan untuk merekonstruksi “genesis karya” itu. Dalam merekonstruksi genesis sebuah karya tulis tidak cukup dengan memahami kalimat-kalimat yang tertulis di sana, melainkan juga dengan mengambilalih posisi pengarang atau apa yang lalu disebut “empati” psikologis. Untuk itu kita sebagai pembaca harus keluar dari teks itu untuk menemukan konteks penciptaannya. Seluruh proses pengenalan konteks dan penciptaan karya itu adalah sebuah keahlian atau apa yang disebut Schleiermacher “seni”, dan keahlian menjalankan seni itulah yang membuat seorang penafsir memungkinkan memahami karya itu lebih baik daripada penulisnya.

Jadi target yang ingin didapat oleh Schleiermacher dengan menggunakan interpretasi gramatis dan psikologis adalah re-experiencing mengalami kembali apa yang pernah dialami oleh pengarah teks penafsir mencoba untuk mentransformasikan dirinya menjadi pengarang. Dengan demikian tujuannya adalah mendapatkan pemahaman yang utuh dari teks tersebut.

Referensi :

  • E.Palmer, Ricrad. Hermeneutics, Interpretation Theory in Schleirmacher, Dilthey, Heidegger and Gadamer. 2005 . ( Evenston : Northwestern University press, 1969) Diterjemah oleh Masnur Hery dan Damanhuri. Hermeneutika Teori Baru Mengenal Interpretasi . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
  • Hardirman, F. Budi. 2014. Seni Memahami: Hermeneutika dari Schleiermacher sampai Gadamer, makalah sekolah filsafat disampaiakan di Serambi Salihara. Jakarta
  • Hidayat, Komaruddin. 1996. Memahami Bahasa Agama: Sebuah kajian hermeneutic . (Jakarta: Paramadina.