Apa yang dimaksud dengan Halusinasi?

Halusinasi adalah terjadinya persepsi dalam kondisi sadar tanpa adanya rangsang nyata terhadap indera. Kualitas dari persepsi itu dirasakan oleh penderita sangat jelas, substansial dan berasal dari luar ruang nyatanya.

Apa yang dimaksud dengan Halusinasi ?

Halusinasi adalah suatu persepsi sensorik yang memaksa sensasi nyata dari persepsi yang sebenarnya, tetapi terjadi tanpa adanya rangsangan ekstrenal dari organ sensorik yang relevan.

Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi suatu penerapan panca indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu persepsi melalui panca indra tanpa stimulus ekstern : persepsi palsu.

Halusinasi adalah persepsi yang salah, yang muncul tanpa stimulus eksternal : persepsi ini dianggap nyata dan hidup, dan terjadi pada ruang eksternal (yaitu diluar kepala pasien).(9)

Faktor – faktor


Terdapat dua faktor yang memepengaruhi terjadinya halusinasi yaitu:

a. Faktor predisposisi

Faktor predisposisi meliputi:

1) Biologis

Penelitian oleh para ahli menunjukkan tentang abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian-penelitian berikut:

  • Penelitian pencitraan otak menunjukkan keterlibatan otak yang lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal, temporal dan limbik dapat berhubungan dengan perilaku psikotik.

  • Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang berlebihan serta masalah-masalah pada system reseptor dopamin dapat dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.

  • Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal pada otak manusia menunjukkan terjadinya atropi yang signifikan. Pada anatomi otak klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel, atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post- mortem).

2) Psikologis

Keluarga, pengasuh, lingkungan sangat mempengaruhi respon dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan kekerasan dalam rentang hidup klien.

3) Sosial Budaya

Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.

b. Faktor presipitasi

Faktor penyebab halusinasi yang lain adalah faktor presipitasi, yang meliputi :

  1. Biologis
    Yaitu gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, dalam mengatur proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam otak sehingga mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.

  2. Stress lingkungan
    Berhubungan dengan ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor lingkungan dapat menentukan terjadinya gangguan perilaku.

  3. Sumber koping
    Sumber koping dapat mempengaruhi respon individu dalam menanggapi stressor.

Penyebab Halusinasi


Gangguan persepsi sensori halusinasi sering disebabkan karena panic, stress berat yang mengancam ego yang lemah, dan isolasi sosial. Secara umum gangguan halusinasi terjadi akibat adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi, perasaan tidak berguna, putus asa dan tidak berdaya.

Pendapat lain menyebutkan bahwa halusinasi disebabkan oleh beberapa faktor, seperti adanya kegagalan dalam menyelesaikan tahap perkembangan sosial, koping individu tidak efektif, adanya stress yang menumpuk, koping keluaraga tidak efektif, dan hubungan antar anggota keluarga yang kurang harmonis.

Dari tiga pendapat ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat beberapa faktor penyebab halusinasi, meliputi faktor bio, psiko, sosial maupun spiritual yang dialami oleh seseorang dan menjadi stressor yang tidak dapat diatasi oleh orang tersebut, sehingga menyebabkan berbagai manifestasi penyimpangan perilaku perupa halusinasi.

Tanda dan Gejala Halusinasi


Klien dengan gangguan persepsi sensori halusinasi dapat memperlihatkan berbagai manifestasi klinis yang bisa diamati dalam perilaku mereka sehari-hari. Tanda dan gejala halusinasi meliputi : perubahan sensori akut, konsentrasi kurang, kegelisahan, mudah tersinggung, disorientasi waktu, tempat dan orang, perubahan kemampuan pemecahan masalah, perubahan pola perilaku, seperti bicara dan tertawa sendiri, mengatakan melihat dan mendengar sesuatu padahal objek sebebnarnya tidak ada, menarik diri, dan mondar- mandir.

Mengganggu lingkungan juga sering ditemui pada pasien dengan halusinasi. Individu menjadi sulit untuk berpikir dan mengambil suatu keputusan, sebaliknya, beberapa pasien halusinasi justru mengganggu lingkungan karena penyimpangan perilaku tersebut.(28)

Tahapan Halusinasi


Halusinasi dapat dibagi menjadi 5 tahapan, yaitu :

a. Sleep Disorder

Sleep disorder adalah halusinasi tahap awal, atau tahap sebelum muncul halusinasi. Memiliki karakteristik dan perilaku seperti :

  1. Karakteristik
    Klien merasa banyak masalah, ingin menghindar dari lingkungan, takut diketahui orang lain bahwa dirinya banyak masalah. Masalah semakin terasa sulit karena stressor yang terakumulasi dan support system yang kurang serta persepsi terhadap masalah sangat buruk.

  2. Perilaku
    Klien susah tidur dan berlangsung terus menerus sehingga terbiasa menghayal, dan menganggap menghayal sebagai awal pemecah masalah.

b. Comforthing

Comforthing adalah halusinasi tahap menyenangkan : Cemas sedang. Karakteristik dan perilaku yang ditunjukkan yaitu :

  1. Karakteristik
    Klien mengalami perasaan yang mendalam seperti cemas, kesepian, merasa bersalah, takut dan mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan cemas. Klien cenderung meyakini bahwa pikirang-pikirang dan pengalaman sensori berada dalam kendali kesadaran jika cemas dapat ditangani.

  2. Perilaku
    Klien terkadang tersenyum, tertawa sendiri, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakkan mata yang cepat, respon verbal yang lambat, diam dan berkonsentrasi.

c. Condemning

Condemning adalah tahap halusinasi menjadi menjijikkan: Cemas berat. Memiliki karakteristik dan perilaku seperti :

  1. Karakteristik
    Klien seolah-olah mengalami pengalaman sensori yang menjijikkan dan menakutkan. Klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan. Klien mungkin merasa dipermalukan oleh pengalaman sensori dan menarik diri dari orang lain.

  2. Perilaku
    Ditandai dengan meningkatnya tanda-tanda sistem syaraf otonom akibat ansietas otonom, seperti peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah. Rentang perhatian dengan lingkungan berkurang, dan terkadang asyik dengan pengalaman sensori dan kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dan realita.

d. Controling

Controling merupakan tahap pengalaman halusinasi yang berkuasa: Cemas berat, dengan karakteristik dan perilaku sebagai berikut:

  1. Karakteristik
    Klien berhenti menghentikan perlawanan terhadap halusinasi dan menyerah pada halusinasi tersebut. Isi halusinasi menjadi menarik. Klien mungkin mengalami pengalaman kesepian jika sensori halusinasi berhenti.

  2. Perilaku
    Perilaku klien yaitu klien tampak taat pada perintah halusinasi, sulit berhubungan dengan orang lain, respon perhatian terhadap lingkungan berkurang, biasanya hanya beberapa detik saja, ketidakmampuan mengikuti perintah dari orang lain, tremor dan berkeringat.

e. Conquering

Conquering adalah tahap halusinasi yang terakhir, pada tahap ini pasien berada dalam tahap halusinasi panik: Umumnya menjadi melebur dalam halusinasi.

  1. Karakteristik
    Pengalaman sensori menjadi mengancam jika klien mengikuti perintah halusinasi. Halusinasi berakhir dari beberapa jam atau hari jika tidak ada intervensi terapeutik.

  2. Perilaku
    Perilaku panik, resiko tinggi mencederai, bunuh diri atau membunuh. Tindak kekerasan agitasi, menarik atau katatonik, ketidak mampuan berespon terhadap lingkungan.

Jenis halusinasi


Ada beberapa jenis halusinasi yaitu sebagai berikut :

  1. Halusinasi Pendengaran (Auditorik)
    Yaitu persepsi bunyi yang palsu, biasanya suara tetapi juga bunyi- bunyi lain seperti musik. Karakteristik ditandai dengan mendengar suara, terutama suara – suara orang, biasanya klien mendengar suara orang yang sedang membicarakan apa yang sedang dipikirkannya dan memerintahkan untuk melakukan sesuatu.

  2. Halusinasi Penglihatan (Visual)
    Yaitu persepsi palsu tentang penglihatan, karakteristik ditandai dengan adanya stimulus penglihatan, bisa dalam bentuk pancaran cahaya, gambaran geometrik, gambar kartun dan / atau panorama yang luas dan kompleks. Penglihatan tersebut dapat menyenangkan atau menakutkan.

  3. Halusinasi Penghidu (Olfaktory)
    Yaitu persepsi membau yang palsu, paling sering pada gangguan organic. Karakteristik ditandai dengan adanya bau busuk, bau amis dan bau yang menjijikkan, misalnya seperti darah, urine dan feses, namun, bisa juga terhidu bau harum.

  4. Halusinasi Peraba (Tactile)
    Yaitu persepsi palsu tentang perabaan atau sensasi permukaan. Karakteristik ditandai dengan adanya rasa sakit atau tidak enak tanpa stimulus yang terlihat, sebagai contoh yaitu merasakan sensasi listrik yang datang dari tanah, dari benda mati ataupun dari orang lain.

  5. Halusinasi Pengecap (Gustatory)
    Yaitu persepsi tentang rasa kecap yang palsu. Karakteristik ditandai dengan merasakan sesuatu yang busuk, amis dan menjijikkan, merasa mengecap rasa seperti rasa darah, urin atau feses.

  6. Halusinasi Sinestetik
    Yaitu persepsi palsu tentang fungsi alat tubuh bagian dalam. Karakteristik ditandai dengan seolah – olah ada persaan tertentu yang timbul seperti darah mengalir melalui vena atau arteri, merasakan makanan dicerna atau merasakan pembentukan urine.

  7. Halusinasi Kinestetik
    Yaitu persepsi tentang gerak tubuh. Karakteristik ditandai dengan merasakan pergerakan sementara, seperti badannya bergerak di sebuah ruang tertentu sementara tubuhnya berdiri tanpa bergerak.

Penatalaksanaan


Adanya gangguan persepsi sensori halusinasi dapat beresiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Dengan demikian selain penatalaksanaan yang sama seperti skizofrenia maka diperlukan pula penatalaksanaan lain sebagai berikut untuk mencegah resiko-resiko tersebut. Intervensi untuk halusinasi meliputi:

  • Mengurangi rangsangan dari lingkungan seperti suara yang keras, warna yang terang, atau sinar lampu. Jika terjadi halusinasi visual, instruksikan klien untuk menggambarkan apa yang dilihat.

  • Mengidentifikasi faktor pencetus dengan bertanya pada klien tentang apa yang terjadi sebelum timbulnya halusinasi (onset). Jika terjadi halusinasi pendengaran, tanyakan pada klien tentang apa yang dikatakan suara-suara. Sarankan klien untuk bersenandung, mendengarkan musik, berolahraga, atau berbicara dengan orang lain.

  • Memantau program televisi untuk meminimalkan rangsangan eksternal yang dapat memicu halusinasi

  • Memantau perintah halusinasi yang dapat memicu perilaku agresif atau perilaku kekerasan

  • Mengelola resep obat sesuai dengan instruksi.

Manajemen Halusinasi


Klien dengan halusinasi perlu mendapatkan perawatan secara integrasi baik dari aspek psikofarmakologis maupun aspek psikososial seperti penatalaksanaan pada klien skizofrenia. Penatalaksanaan halusinasi ditekankan agar klien dapat mengontrol halusinasinya sehingga klien tidak larut dalam halusinasi tersebut. Umumnya tindakan tersebut berupa terapi psikologis dan sosial dengan tujuan sebagai promosi terhadap kesembuhan pasien atau mengurangi penderitaan pasien.

Adapun manajemen yang dilakukan untuk mengontrol halusinasi akan diuraikan sebagai berikut:

1. Strategi Pelaksanaan (SP) Keperawatan

Strategi pelaksanaan keperawatan merupakan rangkaian percakapan perawat dengan pasien pada saat melaksanakan tindakan keperawatan. Strategi pelaksanaan keperawatan melatih kemampuan intelektual tentang pola komunikasi dan pada saat dilaksanakan merupakan latihan kemampuan yang terintegrasi antara intelektual, psikomotor dan afektif.

Manajemen halusinasi di dalam strategi pelaksanaan (SP) antara lain :

a. Tindakan Keperawatan, meliputi :

  1. Membantu pasien mengenali halusinasi
    Yaitu dengan cara melakukan diskusi dengan pasien tentang isi halusinasi (apa yang didengar/dilihat), waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadi halusinasi, situasi yang dapat menyebakan munculnya halusinasi dan respon pasien saat terjadi halusinasi.

  2. Melatih pasien mengontrol halusinasi
    Terdapat 4 cara yang terbukti dapat mengontrol halusinasi yang dapat diajarkan, antara lain:

    • Menghardik halusinasi
    • Bercakap-cakap dengan orang lain
    • Melakukan aktivitas yang terjadual
    • Menggunakan obat secara teratur

Strategi pelaksanaan (SP) dapat dilakukan baik pada pasien maupun pada keluarga pasien. Berikut uraian SP pada pasien yang terdiri dari 4 SP :

  1. SP 1 pasien: membantu pasien mengenal halusinasi, menjelaskan cara mengontrol halusinasi, mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara pertama: menghardik halusinasi
  2. SP 2 pasien: melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara kedua: bercakap-cakap dengan orang lain
  3. SP 3 pasien: melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara ketiga: melaksanakan aktivitas terjadual
  4. SP 4 pasien: melatih pasien menggunakan obat secara teratur.

2. Standar Asuhan Keperawatan (SAK)

Sebuah studi menunjukkan bahwa standar asuhan keperawatan halusinasi (SAK) dapat meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi dan juga menurunkan tanda dan gejala halusinasi.

Adapun standar asuhan keperawatan tersebut meliputi proses :

a. Pengkajian

  1. Mengkaji jenis halusinasi
    Mengkaji halusinasi dapat dilakukan dengan mengevaluasi perilaku pasien dan menanyakan secara verbal apa yang sedang dialami oleh pasien.

  2. Mengkaji isi halusinasi
    Mengkaji isi halusinasi yaitu dengan menanyakan suara apa yang didengar, apabila halusinasi yang dialami adalah halusinasi dengar. Apa bentuk bayangan yang dilihat oleh pasien, bila jenis halusinasinya adalah halusinasi penglihatan, bau apa yang tercium untuk halusinasi penghidu, rasa apa yang dikecap untuk halusinasi pengecapan, atau merasakan apa dipermukaan tubuh bila halusinasi perabaan.

  3. Mengkaji Waktu, Frekuensi, dan Situasi Munculnya Halusinasi
    Perawat perlu mengkaji waktu, frekuensi, dan situasi munculnya halusinasi yang dialami oleh pasien. Informasi ini penting untuk mengidentifikasi pencetus halusinasi serta untuk menentukan intervensi saat terjadi halusinasi. Dengan menghindari situasi yang dapat menyebabkan munculnya halusinasi, diharapkan pasien tidak larut dengan halusinasi yang dialaminya. Pengkajian dilakukan dengan menanyakan kepada pasien kapan pengalaman halusinasi muncul, berapa kali sehari, seminggu. Bila memungkinkan pasien diminta untuk menjelaskan kapan tepatnya waktu terjadi halusinasi tersebut.

  4. Mengkaji Respon Terhadap Halusinasi
    Hal ini dilakukan untuk menentukan sejauh mana halusinasi telah mempengaruhi pasien. Pengkajian dilakukan dengan cara menanyakan apa yang dilakukan oleh pasien saat terjadi halusinasi. Apakah pasien masih dapat mengontrol stimulus halusinasi atau sudah tidak berdaya lagi terhadap halusinasi.

b. Tindakan Keperawatan pada Pasien Halusinasi

  1. Tujuan tindakan untuk pasien meliputi :

    • Pasien mengenali halusinasi yang dialaminya
    • Pasien dapat mengontrol halusinasinya
    • Pasien mengikuti program pengobatan secara optimal
  2. Tindakan Keperawatan

    a) Membantu Pasien Mengenali Halusinasi

    Untuk membantu pasien mengenali halusinasi, perawat dapat melakukan diskusi dengan pasien mengenai halusinasi (apa yang didengar atau dilihat), waktu terjadinya halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul dan perasaan pasien saat halusinasi muncul.

    b) Melatih Pasien Mengontrol Halusinasi

    Terdapat empat cara yang sudah terbukti dapat mengendalikan halusinasi. Keempat cara tersebut meliputi :

    1. Melatih Pasien Menghardik Halusinasi
      Menghardik halusinasi adalah upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Pasien dilatih untuk mengatakan tidak terhadap halusinasi yang muncul atau tidak memerdulikan halusinasinya. Kalau ini bisa dilakukan, pasien akan mampu mengendalikan diri dan tidak mengikuti halusinasi yang muncul. Mungkin halusinasi tetap ada namun dengan kemampuan ini pasien tidak akan larut untuk menuruti apa yang ada dalam halusinasinya. Tahapan tindakan meliputi :

      • Menjelaskan cara menghardik halusinasi
      • Memperagakan cara menghardik
      • Meminta pasien memperagakan ulang
      • Memantau penerapan cara ini, menguatkan perilaku pasien.
    2. Melatih Bercakap-cakap dengan Orang Lain
      Bercakap – cakap dengan orang lain merupakan salah satu cara yang efektif untuk mengontrol halusinasi. Ketika pasien bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi distraksi, fokus perhatian pasien akan beralih dari halusinasi ke percakapan yang dilakukan dengan orang lain tersebut.

    3. Melatih Pasien Beraktivitas Secara Terjadwal
      Untuk mengurangi resiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan diri dengan aktivitas yang teratur. Dengan beraktivitas secara terjadwal, pasien tidak akan mengalami banyak waktu luang sendiri yang seringkali mencetuskan halusinasi. Untuk itu pasien yang mengalami halusinasi bisa membantu untuk mengatasi halusinasinya dengan cara beraktivitas secara teratur dari bangun pagi sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu. Tahapan intervensi sebagai berikut :

      • Menjelaskan pentingnya aktivitas yang teratur untuk mengatasi halusinasi
      • Mendiskusikan aktivitas yang bisa dilakukan oleh pasien.
      • Melatih pasien melakukan aktivitas
      • Menyusun jadwal aktivitas sehari-hari sesuai dengan aktivitas yang telah dilatih. Upayakan pasien mempunyai aktivitas dari bangun pagi sampai tidur malam, tujuh hari dalam seminggu
      • Memantau pelaksanaan jadwal kegiatan, memberi penguatan terhadap perilaku pasien yang positif.
    4. Melatih Pasien Menggunakan Obat Secara Teratur Untuk mengontrol halusinasi pasien juga harus dilatih menggunakan obat secara teratur sesuai dengan program. Sebab bila pasien mengalami putus obat akibatnya pasien dapat mengalami kekambuhan. Oleh karena itu pasien perlu dilatih menggunakan obat sesuai program dan berkelanjutan untuk menghindari hal tersebut.

      Berikut tindakan keperawatan agar pasien patuh menggunakan obat:

      • Jelaskan pentingnya penggunaan obat pada gangguanjiwa
      • Jelaskan akibat bila obat tidak digunakan sesuai program
      • Jelaskan akibat bila putus obat
      • Jelaskan cara mendapatkanm obat/ berobat
      • Jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 5B (benar obat, benar pasien, benar cara, benar waktu, dan benar dosis)

c. Evaluasi

Evaluasi keberhasilan tindakan keperawatan yang sudah Perawat lakukan untuk pasien halusinasi adalah sebagai berikut :

1) Pasien Mempercayai Perawatnya sebagai terapis, ditandai dengan:

  • Pasien mau menerima perawat sebagai perawatnya
  • Pasien mau menceritakan masalah yang dia hadapai kepada perawatnya, bahkan hal-hal yang selama ini dianggap rahasia untuk orang lain
  • Pasien mau bekerja sama dengan perawat, setiap program yang perawat tawarkan ditaati oleh pasien

2) Pasien menyadari bahwa yang dialaminya tidak ada obyeknya dan merupakan masalah yang harus diatasi, ditandai dengan:

  • Pasien mengungkapkan isi halusinasinya yang dialaminya
  • Pasien menjelaskan waktu, dan frekuensi halusinasi yang dialaminya
  • Pasien menjelaskan situasi yang mencetuskan halusinasi
  • Pasien menjelaskan perasaannya ketika mengalami halusinasi
  • Pasien menjelaskan bahwa ia akan berusaha mengatasi halusinasi yang dialaminya

3) Pasien dapat Mengontrol Halusinasi, ditandai dengan:

  • Pasien mampu memperagakan empat cara mengontrol halusinasi

  • Pasien menerapkan empat cara mengontrol halusinasi:

    1. Menghardik halusinasi
    2. Berbicara dengan orang lain disekitarnya bila timbul halusinasi
    3. Menyusun jadwal kegiatan dari bangun tidur di pagi hari sampai mau tidur pada malam hari selama tujuh hari dalam seminggu dan melaksanakan jadwal tersebut secara mandiri
    4. Mematuhi program pengobatan

4) Keluarga mampu merawat pasien dirumah, ditandai dengan:

  • Keluarga mampu menjelaskan masalah halusinasi yang dialami oleh pasien
  • Keluarga mampu menjelaskan cara merawat pasien dirumah
  • Keluarga mampu memperagakan cara bersikap terhadap pasien
  • Keluarga mampu menjelaskan fasilitas kesehatan yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah pasien
  • Keluarga melaporkan keberhasilan merawat pasien

3. Nursing Intervention Classification (NIC)

Nursing Intervention Classification atau (NIC) merupakan bahasa standar komprehensif yang menggambarkan treatment atau perawatan yang dilakukan oleh seorang perawat. Hallucination management (manajemen halusinasi) adalah mempromosikan keamanan, kenyamanan, dan orientasi realitas terhadap pasien yang mengalami halusinasi. Manajemen halusinasi NIC meliputi:

  1. Bangun kepercayaan, hubungan interpersonal dengan pasien

  2. Pantau dan mengatur tingkat aktivitas dan stimulasi dalam lingkungan

  3. Jaga lingkungan yang aman

  4. Sediakan tingkat pengawasan/supervise untuk memantau pasien

  5. Catatan perilaku pasien yang menunjukkan halusinasi

  6. Pertahankan rutinitas yang konsisten

  7. Tetapkan care giver yang konsisten setiap hari

  8. Promosikan komunikasi yang jelas dan terbuka

  9. Berikan kesempatan pada pasien untuk mendiskusikan halusinasinya

  10. Dorong pasien untuk mengekspresikan perasaan yang tepat

  11. Kembalikan focus pasien ke topic, jika komunikasi pasien tidak sesuai dengan keadaan

  12. Pantau isi halusinasi yang bersifat kekerasan atau membahayakan diri

  13. Dorong pasien untuk mengembangkan kontrol / tanggung-jawab atas perilaku sendiri, jika memungkinkan.

  14. Dorong pasien untuk mendiskusikan perasaan dan dorongan, daripada bertindak pada mereka (halusinasi)

  15. Dorong pasien untuk memvalidasi halusinasi dengan yang dipercaya orang lain (misalnya, uji realitas)

  16. Tunjukkan, jika ditanya, bahwa Anda tidak mengalami rangsangan sama

  17. Hindari berdebat dengan pasien tentang validitas halusinasi

  18. Fokus diskusi pada perasaan yang mendasari, bukan isi dari halusinasi (misalnya, “tampaknya Anda merasa takut”)

  19. Sediakan obat antipsikotik dan antiansietas secara rutin dan dasar PRN

  20. Berikan edukasi tentang pemberian obat kepada pasien dan hal penting lainnya

  21. Monitor pasien untuk efek samping obat dan efek terapeutik yang diinginkan

  22. Sediakan keamanan dan kenyamanan pasien dan orang lain, ketika pasien tidak mampu mengontrol perilaku (misalnya, pengaturan batas, pembatasan wilayah, menahan fisik, dan seclution)

  23. Hentikan atau kurangi obat (setelah berkonsultasi dengan pembuat resep) yang mungkin menyebabkan halusinasi

  24. Berikan edukasi tentang penyakit kepada pasien / orang lain, jika halusinasi penyakit didasarkan penyakit (misalnya, delirium, skizofrenia, dan depresi)

  25. Berikan edukasi kepada keluarga dan orang lain tentang cara – cara mengangani pasien yang mengalami halusinasi

  26. Monitor self-care keluarga

  27. Bantu perawatan diri, sesuai kebutuhan

  28. Monitor status fisik pasien (misalnya, berat badan, hidrasi, dan telapak kaki pasien)

  29. Berikan istirahat yang cukup dan nutrisi yang cukup

  30. Libatkan pasien dalam kegiatan nyata yang mungkin dapat mengalihkan perhatian: dari halusinasi (misalnya, mendengarkan musik).

Halusinasi adalah gangguan persepsi sensori dari suatu obyek tanpa adanya rangsangan dari luar, gangguan persepsi sensori ini meliputi seluruh pancaindra. Halusinasi merupakan salah satu gejala gangguan jiwa yang pasien mengalami perubahan sensori persepsi, serta merasakan sensasi palsu berupa suara, penglihatan, pengecapan perabaan, atau penciuman. Pasien merasakan stimulus yang sebetulnya tidak ada.

Pasien gangguan jiwa mengalami perubahan dalam hal orientasi realitas. Salah satu manifestasi yang muncul adalah halusinasi yang membuat pasien tidak dapat menjalankan pemenuhan dalam kehidupan sehari-hari.

RENTANG RESPONS NEUROBIOLOGI

Halusinasi merupakan gangguan dari persepsi sensori, waham merupakan gangguan pada isi pikiran. Keduanya merupakan gangguan dari respons neorobiologi. Oleh karenanya secara keseluruhan, rentang respons halusinasi mengikuti kaidah rentang respons neorobiologi.

Rentang respons neorobiologi yang paling adaptif adalah adanya pikiran logis dan terciptanya hubungan sosial yang harmonis. Rentang respons yang paling maladaptif adalah adanya waham, halusinasi, termasuk isolasi sosial menarik diri.

Berikut adalah gambaran rentang respons neorobiologi.

Rentang Respons Neurologi - Halusinasi
Gambar Rentang Respons Neurologi - Halusinasi

INTENSITAS LEVEL HALUSINASI

TAHAP I
Memberi rasa nyaman. Tingkat ansietas sedang. Secara umum halusinasi merupakan suatu kesenangan. .

Karaktersitik Halusinasi

  • Mengalami ansietas kesepian, rasa bersalah, dan ketakutan
  • Mencoba berfokus pada pikiran yang dapat menghilangkan ansietas.
  • Pikiran dan pengalaman sensori masih ada dalam kontrol kesadaran (jika kecemasan dikontrol).

Perilaku Pasien

  • Tersenyum/tertawa sendiri.
  • Menggerakkan bibir tanpa suara.
  • Penggerakan mata yang cepat.
  • Respons verbal yang lambat.
  • Diam dan berkonsentrasi.

TAHAP II
Menyalahkan. Tingkat kecemasan berat secara umum halusinasi menyebabkan rasa antipati.

Karaktersitik Halusinasi

NON PSIKOTIK

  • Pengalaman sensori menakutkan.
  • Mulai merasa kehilangan kontrol.
  • Merasa dilecehkan oleh pengalaman sensori tersebut.
  • Menarik diri dari orang lain.

Perilaku Pasien

  • Peningkatan sistem saraf otak, tanda-tanda ansietas, seperti peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah.
  • Rentang perhatian menyempit.
  • Konsentrasi dengan pengalaman sensori.
  • Kehilangan kemampuan membedakan halusinasi dari realita.

TAHAP III
Mengontrol tingkat kecemasan berat pengalaman sensori tidak dapat ditolak lagi.

Karaktersitik Halusinasi

PSIKOTIK

  • Pasien menyerah dan menerima pengalaman sensorinya.
  • Isi halusinasi menjadi atraktif.
  • Kesepian bila pengalaman sensori berakhir.

Perilaku Pasien

  • Perintah halusinasi ditaati.
  • Sulit berhubungan dengan orang lain.
  • Rentang perhatian hanya beberapa detik atau menit.
  • Gejala fisika ansietas berat berkeringat, tremor, dan tidak mampu mengikuti perintah.

TAHAP IV
Menguasai tingkat kecemasan panik secara umum diatur dan dipengaruhi oleh waham.

Karaktersitik Halusinasi

PSIKOTIK

  • Pengalaman sensori menjadi ancaman.
  • Halusinasi dapat berlangsung selama beberapa jam atau hari (jika tidak diinvensi).

Perilaku Pasien

  • Perilaku panik.
  • Potensial tinggi untuk bunuh diri atau membunuh.
  • Tindakan kekerasan agitasi, menarik diri, atau katatonia.
  • Tidak mampu berespons terhadap perintah yang kompleks.
  • Tidak mampu berespons terhadap lebih dari satu orang.

KLASIFIKASI HALUSINASI

1. Halusinasi dengar/ suara

Data Objektif

  • Bicara atau tertawa sendiri.
  • Marah-marah tanpa sebab.
  • Mengarahkan telinga ke arah tertentu.
  • Menutup telinga.

Data Subjektif

  • Mendengar suara-suara atau kegaduhan.
  • Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap.
  • Mendengar suara menyuruh melakukan sesuatu yang berbahaya.

2. Halusinasi penglihatan

Data Objektif

  • Menunjuk-nunjuk ke arah tertentu.
  • Ketakutan pada sesuatu yang tidak jelas.

Data Subjektif

  • Melihat bayangan, sinar, bentuk geometris, bentuk kartun, melihat hantu, atau monster.

3. Halusinasi penciuman

Data Objektif

  • Mencium seperti sedang membaui bau-bauan tertentu.
  • Menutup hidung.

Data Subjektif

  • Membaui bau-bauan seperti bau darah, urine, feses, dan kadang- kadang bau itu menyenangkan.

4. Halusinasi pengecapan

Data Objektif

  • Sering meludah
  • Muntah

Data Subjektif

  • Merasakan rasa seperti darah, urine, atau feses.

5. Halusinasi perabaan

Data Objektif

  • Menggaruk-garuk permukaan kulit.

Data Subjektif

  • Mengatakan ada serangga di permukaan kulit.
  • Merasa seperti tersengat listrik.

Faktor Predisposisi

  1. Faktor perkembangan
    Hambatan perkembangan akan mengganggu hubungan interpersonal yang dapat meningkatkan stres dan ansietas yang dapat berakhir dengan gangguan persepsi. Pasien mungkin menekan perasaannya sehingga pematangan fungsi intelektual dan emosi tidak efektif.

  2. Faktor sosial budaya
    Berbagai faktor di masyarakat yang membuat seseorang merasa disingkirkan atau kesepian, selanjutnya tidak dapat diatasi sehingga timbul akibat berat seperti delusi dan halusinasi.

  3. Faktor psikologis
    Hubungan interpersonal yang tidak harmonis, serta peran ganda atau peran yang bertentangan dapat menimbulkan ansietas berat terakhir dengan pengingkaran terhadap kenyataan, sehingga terjadi halusinasi.

  4. Faktor biologis
    Struktur otak yang abnormal ditemukan pada pasien gangguan orientasi realitas, serta dapat ditemukan atropik otak, pembesaran ventikal, perubahan besar, serta bentuk sel kortikal dan limbik.

  5. Faktor genetik
    Gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi umumnya ditemukan pada pasien skizofrenia. Skizofrenia ditemukan cukup tinggi pada keluarga yang salah satu anggota keluarganya mengalami skizofrenia, serta akan lebih tinggi jika kedua orang tua skizofrenia.

Faktor Presipitasi

  1. Stresor sosial budaya
    Stres dan kecemasan akan meningkat bila terjadi penurunan stabilitas keluarga, perpisahan dengan orang yang penting, atau diasingkan dari kelompok dapat menimbulkan halusinasi.

  2. Faktor biokimia
    Berbagai penelitian tentang dopamin, norepinetrin, indolamin, serta zat halusigenik diduga berkaitan dengan gangguan orientasi realitas termasuk halusinasi.

  3. Faktor psikologis
    Intensitas kecemasan yang ekstrem dan memanjang disertai terbatasnya kemampuan mengatasi masalah memungkinkan berkembangnya gangguan orientasi realitas. Pasien mengembangkan koping untuk menghindari kenyataan yang tidak menyenangkan.

  4. Perilaku
    Perilaku yang perlu dikaji pada pasien dengan gangguan orientasi realitas berkaitan dengan perubahan proses pikir, afektif persepsi, motorik, dan sosial.

Sumber :

Ah. Yusuf, Rizky Fitryasari PK, Hanik Endang Nihayati, Buku Ajar Keperawatan Kesehatan Jiwa, Penerbit Salemba Medika, 2015.

Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran ) dan rangsangan ekternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai contoh klien mendengarkan suara padahal tidak ada orang yang berbicara ( Kusumawati & Hartono 2010).

Tanda dan gejala

Karakteristik perilaku yang dapat ditunjukan klien dan kondisi halusinasi menurut Direja (2011).

1. Halusinasi pendengaran

Data subyektif :

Klien mendengarkan suara atau bunyi tanpa stimulus nyata, melihat gambaran tanpa stimulus yang nyata, mencium nyata stimulus yang nyata, merasa makan sesuatu, merasa ada sesuatu pada kulitnya,takut terhadap suara atau bunyi yang di dengar,ingin memukul dan melempar barang.

Data obyektif :

Klien berbicara, senyum dan tertawa sendiri,pembicaraan kacau dan terkadang tidak masuk akal, tidak dapat membedakan hal yang nyata dan tidak nyata, menarik diri dan menghindar dari orang lain, disorientasi, tidak bisa memusatkan perhatian atau konsentrasi menurun, perasaan curiga, takut,gelisah, bingung, ekpresi wajah tegang, muka merah dan pucat,tidak mampu melakukan aktifitas mandiri dan kurang mengontrol diri, menunjukan perilaku, merusak diri dan lingkungan.

2. Halusinasi penglihatan

Data subyektif:

Klien akan menunjuk-nunjuk kearah tertentu, akan merasa ketakutan terhadap sesuatu yang tidak jelas.

Data obyektif:

Klien melihat bayangan seperti melihat hal-hal yang lain hantu atau lainya yang sebenarnya tidak ada.

3. Halusinasi penghidu

Data Subyektif :

Klien membau-bauan seperti merasakan bau darah, urine kadang-kadang bau terasa menyenangkan.

Data Objektif :

Klien menghidung seperti sedang membaui bau-bauan tertentu klie akan menutup hidung.

4. Halusinasi pengecap

Data Subyektif :

Klien merasakan seperti rasa darah, urin atau yang lainya dalam mulutnya.

Data Obyektif :

Klien sering meludah, dan muntah- muntah tanpa sebab.

5. Halusinasi Perabaan

Data Subyektif :

Klien mengatakan merasa ada hewan atau ada sesuatu yang melekat pada permukaan kulitnya.

Data Obyektif :

Klien sering mengusap-usap kulitnya berharap hewan atau yang lainya pergi dari kulitnya.

Penatalaksaaan medis

Terapi dalam jiwa bukan hanya meliputi pengobatan dan farmakologi, tetapi juga pemberian psikoterapi, serta terapi modalitas yang sesuai dengan gejala atau penyakit klien yang akan mendukung penyembuhan klien jiwa.

Pada terapi tersebut juga harus dengan dukungan keluarga dan sosial akan memberikan peningkatan penyembuhan karena klien akan merasa berguna dalam masyarakat dan tidak merasa diasingkan dengan penyakit yang di alaminya (Kusmawati & Hartono, 2010).

  1. Psikofarmakologis
    Farmakoterapi adalah pemberian terapi dengan menggunakan obat. Obat yang digunakan untuk gangguan jiwa disebut dengan psikofarmaka atau psikotropika atau pherentropika. Terapi gangguan jiwa dengan menggunakan obat-obatan disebut dengan psikofarmakoterpi atau medikasi psikotropika yaitu obat yang mempunyai efek terapeutik langsung pada proses mental penderita karena kerjanya pada otak / sistem saraf pusat. Obat bias berupa haloperidol, Alprazolam, Cpoz, Trihexphendyl.

  2. Terapi Somatis
    Terapi somatis adalah terapi yang diberikan kepada klien dengan gangguan jiwa dengan tujuan mengubah perilaku yang maladatif menjadi perilaku adaptif dengan melakuakn tindakan yang di tujukan pada kondisi fisik kien.Walaupun yang di beri perilaku adalah fisik klien,tetapi target adalah perilaku klien. Jenis somatic adalah meliputi pengingkatan, terapi kejang listrik,isolasi, dan fototerapi.

    • Pengingkatan
      Pengikatan adalah terapi menggunakan alat mekanik atau manual untuk membatasi mobilitas fisik klien yang bertujuan untuk melindungi cedera fisik sendiri atau orang lain.

    • Terapi kejang listrik / Elekrto convulsive Therapy (ECT)
      Adalah bentuk terapi pada klien dengan menimbulkan kejang (grandma) dengan mengalirkan arus listrik kekuatan rendah (2- 8joule) melalui elektroda yang ditempelkan beberapa detik pada pelipis kiri / kanan (lobus frontal) klien (Stuart, 2007).

  3. Terapi Modalitas
    Terapi Modalitas adalah terapi utama dalam keperawatan jiwa.Tetapi diberikan dalam upaya mengubah perilaku klien dan perilaku yang maladaftif menjadi perilaku adaftif.Jenis terapi modalitas meliputi psikoanalisis, psikoterapi.terapi perilaku kelompok, terapi keluarga, terapi rehabilitas, terapi psikodrama, terapi lingkungan (Stuart, 2007).