Apa yang dimaksud dengan groupthink dalam ilmu sosial?

Apa yang dimaksud dengan groupthink dalam ilmu sosial?

menurut Irvin L Janis dalam penelitiannya yang berjudul Victims of Groupthink : A Psychological Study of Foreign Decisions and Fiascoes menjelaskan tentang istilah groupthink proses pengambilan keputusan yang menunjukkan tumbuhnya kemerosotan efisiensi mental, pengujian realitas, dan penilaian moral yang disebabkan oleh tekanan- tekanan kelompok.

image

Teori Pemikiran Kelompok (Groupthink) lahir dari penelitian panjang Irvin L Janis. Melalui karyanya yang berjudul ’Victims of Groupthink : A Psychological Study of Foreign Decisions and Fiascoes’.

Janis menggunakan istilah groupthink untuk menunjukkan suatu mode berpikir sekelompok orang yang sifatnya kohesif (terpadu), ketika usaha-usaha keras yang dilakukan anggota-anggota kelompok untuk mencapai kata mufakat (kebulatan suara) telah mengesampingkan motivasinya untuk menilai alternatif-alternatif tindakan secara realistis.

Dari sinilah groupthink dapat didefinisikan sebagai satu situasi dalam proses pengambilan keputusan yang menunjukkan tumbuhnya kemerosotan efisiensi mental, pengujian realitas, dan penilaian moral yang disebabkan oleh tekanan- tekanan kelompok.

Sementara groupthink menurut Rakhmat (2005) adalah proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, di mana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya menjadi tidak efektif lagi.

image

Dalam definisi tersebut, groupthink meninggalkan cara berpikir individual dan menekankan pada proses kelompok. Sehingga pengkajian atas fenomena kelompok lebih spesifik terletak pada proses pembuatan keputusan yang kurang baik, serta besar kemungkinannya akan menghasilkan keputusan yang buruk dengan akibat yang sangat merugikan kelompok (Sarwono, 1999).

Selanjutnya diperjelas oleh Janis, bahwa kelompok yang sangat kompak (cohesiveness) dimungkinkan terlalu banyak menyimpan atau menginvestasikan energi untuk memelihara niat baik dalam kelompk ini, sehingga mengorbankan proses keputusan yang baik dari proses tersebut.

Esensi Teori

Lahirnya konsep groupthink didorong oleh kajian secara mendalam mengenai komunikasi kelompok yang telah dikembangkan oleh Raimond Cattel, yaitu melalui penelitian yang difokuskan pada kepribadian kelompok sebagai tahap awal.

Teori yang dibangun menunjukkan bahwa terdapat pola-pola tetap dari perilaku kelompok yang dapat diprediksi, yaitu :

  1. Sifat-sifat dari kepribadian kelompok
  2. Struktur internal hubungan antar anggota
  3. Sifat keanggotaan kelompok

Temuan teoritis tersebut masih belum mampu memberikan jawaban atas suatu pertanyaan yang berkaitan dengan pengaruh hubungan antar pribadi dalam kelompok. Hal inilah yang memunculkan satu hipotesis dari Janis untuk menguji beberapa kasus terperinci yang ikut memfasilitasi keputusan-keputusan yang dibuat kelompok.

Hasil pengujian ilmiah yang dilakukan Janis, menunjukkan bahwa terdapat satu kondisi yang mengarah pada munculnya kepuasan kelompok yang tinggi, tetapi tidak dibarengi dengan hasil keputusan kelompok yang baik (ineffective output).

Hasil akhir analisis Janis,menunjukkan beberapa dampak negatif dari pikiran kelompok dalam membuat keputusan, yaitu :

  1. Diskusi amat terbatas pada beberapa alternatif keputusan saja.
  2. Pemecahan masalah yang sejak semula sudah cenderung dipilih, tidak lagi dievaluasi atau dikaji ulang.
  3. Alternatif pemecahan masalah yang sejak semula ditolak, tidak pernah dipertimbangkan kembali.
  4. Tidak pernah mencari atau meminta pendapat para ahli dalam bidangnya.
  5. Kalau ada nasehat atau pertimbangan lain, penerimaannya diseleksi karena ada bias pada pihak anggota.
  6. Cenderung tidak melihat adanya kemungkinan-kemungkinan dari kelompok lain akan melakukan aksi penentangan, sehingga tidak siap melakukan antisipasinya.
  7. Sasaran kebijakan tidak disurvei dengan lengkap dan sempurna.

Ilustrasi analisis Janis selanjutnya mengungkapkan kondisi nyata suatu kelompok yang dihinggapi oleh pikiran kelompok, yaitu dengan menunjukkan delapan gejala perilaku kelompok sebagai berikut.

  1. Persepsi yang keliru (illusions), bahwa ada keyakinan kalau kelompok tidak akan terkalahkan.
  2. Rasionalitas kolektif, dengan cara membenarkan hal-hal yang salah sebagai seakan-akan masuk akal.
  3. Percaya pada moralitas terpendam yang ada dalam diri kelompok.
  4. Stereotip terhadap kelompok lain (menganggap buruk kelompok lain).
  5. Tekanan langsung pada anggota yang pendapatnya berbeda dari pendapat kelompok.
  6. Sensor diri sendiri terhadap penyimpangan dari konsensus kelompok.
  7. Ilusi bahwa semua anggota kelompok sepakat dan bersuara bulat.
  8. Otomatis menjaga mental untuk mencegah atau menyaring informasi- informasi yang tidak mendukung, hal ini dilakukan oleh para penjaga pikiran kelompok (mindguards).

Kritik terhadap Teori Groupthink

Sebagaimana teori-teori lainnya, teori groupthink juga tak lepas dari kritik. Mereka yang mengkritik teori ini, antara lain adalah:

  1. Aldag dan Fuller (1993)
    Menurut Aldag dan Fuller, analisis groupthink bersifat retrospektif (berlaku surut), sehingga Janis dapat mengambil bukti-bukti yang mendukung teorinya saja. Keterpaduan kelompok itu sendiri belum tentu menimbulkan pikiran kelompok. Misalnya perkawinan dan keluarga, dapat tetap terpadu atau kohesif tanpa menimbulkan pikiran kelompok, dengan tetap membiarkan perbedaan pendapat tanpa mengurangi keterpaduan itu sendiri.

  2. Tetlock, dkk (1992)
    Tetlock, et.al menilai, fakta sejarah membuktikan bahwa ada juga kelompok-kelompok yang sudah mengikuti prosedur yang baik, namun tetap melakukan kesalahan, misalnya ketika Presiden Carter dan penasehat- penasehatnya merencanakan pembebasan sandera di Iran pada tahun 1980. Operasi itu gagal total dan Amerika Serikat dipermalukan, walaupun kelompok itu sudah mengundang berbagai pendapat dari luar dan memperhitungkan segala kemungkinan secara realistik.

image

Asumsi Teori Groupthink

Dalam hal ini Irving Janis memfokuskan penelitiannya pada Problem- Solving Group dan task-oriented group, yang mempunyai tujuan utamanya yaitu untuk mengambil keputusan dan memberikan rekomendasi kebijakan akan solusi- solusi yang ada.

Berikut merupakan 3 asumsi penting dalam Groupthink Theory :

  1. Kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mempromosikan kohesivitas yang tinggi.
    Ernest Bormann mengamati bahwa anggota kelompok sering kali memiliki perasaan yang sama atau investasi emosional, maka mereka cenderung untuk mempertahankan identitas kelompok.

    Pemikirian kolektif ini biasanya menyebabkan sebuah kelompok memiliki hubungan yang baik, tetap bersatu, memiliki semangat kebersamaan dan memiliki kohesivitas tinggi.

    Kohesivitas : batasan dimana anggota-anggota suatu kelompok bersedia untuk bekerja sama. Atau bisa dibilang, rasa kebersamaan dari kelompok tersebut.Kelompok dimana anggotanya saling tertarik dengan sikap, nilai dan perilaku anggota lainnya cenderung dapat dikatakan kohesif.

  2. Pemecahan masalah di dalam kelompok pada dasarnya merupakan proses yang terpadu.
    Para anggota biasanya berusaha untuk dapat bergaul dengan baik.Dennis Gouran mengamati bahwa kelompok-kelompok rentan terhadap batasan afiliatif (affiliative constraints), yang berarti bahwa anggota kelompok lebih memilih untuk menyimpan masukan atau pendapat mereka daripada mengambil risiko pendapat mereka ditolak.

    Menurut Gouran, mereka akan cenderung untuk “memberikan perhatian lebih pada pemeliharaan kelompok daripada isu-isu yang sedang dipertimbangkan”. Oleh karena itu, anggota kelompok lebih tertarik mengikuti pemimpin saat pengambilan keputusan tiba.

  3. Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok sering kalibersifat kompleks.
    Usia, sifat kompetitif, ukuran, kecerdasan, komposisi gender gaya kepemimpinan dan latar belakang budaya dari para anggota kelompok dapat mempengaruhi proses-proses yang terjadi di dalam kelompok.

    Seperti misalnya karna banyak budaya yang tidak menghargai komunikasi yang terbuka dan ekspresif, beberapa anggota kelompok akan menarik diri dari perdebatan atau dialog, dan hal ini mungkin dapat membuat anggota kelompok yang lain heran, serta bisa mempengaruhi persepsi dari para anggota kelompok, baik yang partisipatif ataupun yang nonpartisipatif.

    Oleh karena itu, kelompok dan keputusan kelompok dapat menjadi lebih sulit, tetapi biasanya melalui kerja kelompok, orang dapat mencapai tujuan mereka lebih baik dan efisien.

Teori Pemikiran Kelompok (groupthink) lahir dari penelitian panjang Irvin L Janis. Janis menggunakan istilah groupthink untuk menunjukkan satu mode berpikir sekelompok orang yang sifat kohesif (terpadu), ketika usaha-usaha keras yang dilakukan anggota-anggota kelompok untuk mencapai kata mufakat. Untuk mencapai kebulatan suara klompok ini mengesampingkan motivasinya untuk menilai alternatif-alternatif tindakan secara realistis.

Grouptink dapat didefinisikan sebagai suatu situasi dalam proses pengambilan keputusan yang menunjukkan timbulnya kemerosotan efesiensi mental, pengujian realitas, dan penilaian moral yang disebabkan oleh tekanan-tekanan kelompok (Mulyana, 1999).

West dan Turner (2008: 274) mendefinisikan bahwa pemikiran kelompok (groupthink) sebagai suatu cara pertimbangan yang digunakan anggota kelompok ketika keinginan mereka akan kesepakatan melampaui motivasi mereka untuk menilai semua rencana tindakan yang ada. Jadi groupthink merupakan proses pengambilan keputusan yang terjadi pada kelompok yang sangat kohesif, dimana anggota-anggota berusaha mempertahankan konsensus kelompok sehingga kemampuan kritisnya tidak efektif lagi.

Anggota-anggota kelompok sering kali terlibat di dalam sebuah gaya pertimbangan dimana pencarian konsensus lebih diutamakan dibandingkan dengan pertimbangan akal sehat. Anda mungkin pernah berpartisipasi di dalam sebuah kelompok dimana keinginan untuk mencapai satu tujuan atau tugas lebih penting daripada menghasilkan pemecahan masalah yang masuk akal. Kelompok yang memiliki kemiripan antaranggotanya dan memiliki hubungan baik satu sama lain, cenderung gagal menyadari akan adanya pendapat yang berlawanan.

Mereka menekan konflik hanya agar mereka dapat bergaul dengan baik, atau ketika anggota kelompok tidak sepenuhnya mempertimbangkan semua solusi yang ada, mereka rentan dalam groupthink.

Dari sini, groupthink meninggalkan cara berpikir individu dan menekankan pada proses kelompok. Sehingga pengkajian atas fenomena kelompok lebih spesifik terletak pada proses pembuatan keputusan yang kurang baik, serta besar kemungkinannya akan menghasilkan keputusan yang buruk dengan akibat yang sangat merugikan kelompok. Janis juga menegaskan bahwa kelompok yang sangat kompak dimungkinkan karena terlalu banyak menyimpan energi untuk memelihara niat baik dalam kelompok ini, sehingga mengorbankan proses keputusan yang baik dari proses tersebut. adapun proses dalam pembuatan keputusan dalam kelompok, secara umum dapat digambarkan sebagai berikut:

image

Esensi Teori

Groupthink merupakan teori yang diasosiasikan dengan komunikasi kelompok kecil. Lahirnya konsep groupthink didorong oleh kajian secara mendalam mengenai komunikasi kelompok yang telah dikembangkan oleh Raimond Cattel (Santoso & Setiansah, 2010:66). Melalui penelitiannya, ia memfokuskannya pada keperibadian kelompok sebagai tahap awal. Teori yang dibangun menunjukkan bahwa terdapat pola-pola tetap dari perilaku kelompok yang dapat diprediksi, yaitu:

  1. Sifat-sifat dari kepribadian kelompok
  2. Struktural internal hubungan antar anggota
  3. Sifat keanggotaan kelompok.

Temuan teoritis tersebut masih belum mampu memberikan jawaban atas suatu pertanyaan yang berkaitan dengan pengaruh hubungan antar pribadi dalam kelompok. Hal inilah yang memunculkan suatu hipotesis dari Janis untuk menguji beberapa kasus terperinci yang ikut memfasilitasi keputusan-keputusan yang dibuat kelompok.

Hasil pengujian yang dilakukan Janis menunjukkan bahwa terdapat suatu kondisi yang mengarah pada munculnya kepuasan kelompok yang baik. Asumsi penting dari groupthink, sebagaimana dikemukakan Turner dan West (2008: 276) adalah:

  1. Terdapat kondisi-kondisi di dalam kelompok yang mekmpromosikan kohesivitas tinggi.
  2. Pemecahan masalah kelompok pada intinya merupakan proses yang menyatu
  3. Kelompok dan pengambilan keputusan oleh kelompok sering kali bersifat kompleks

Hasil akhir dari analisis Janis menunjukkan beberapa dampak negatif dari pikiran kelompok dalam membuat keputusan, yaitu.

  • Diskusi amat terbatas pada beberapa alternatif keputusan saja
  • Pemecahan masalah yang sejak semula sudah cenderung dipilih, tidak lagi dievaluasi atau dikaji uang
  • Alternatif pemecahan masalah yang sejak semula ditolak, tidak pernah dipertimbangkan kembali
  • Tidak pernah mencari atau meminta pendapat para ahli dalam bidangnya.
  • Kalau ada nasehat atau pertimbangan lain, penerimaannya diseleksi karena ada bias pada pihak anggota.
  • Cenderung tidak melihat adanya kemungkinan-kemungkinan dari kelompok lain akan melakukan aksi penantangan, sehingga tidak siap melakukan antisipasinya.
  • Sasaran kebijakan tidak disurvai dengan lengkap dan sempurna.

Ilustrasi Janis selanjutnya mengungkapkan kondisi nyata suatu kelompok yang dihinggapi oleh pikiran kelompok, yaitu dengan menunjukkan delapan gejala perilaku kelompok sebagai berikut:

  1. Persepsi yang keliru (illusions), bahwa ada keyakinan kalau kelompok tidak akan terkalahkan.
  2. Rasionalitas kolektif, dengan cara membenarkan hal-hal yang salah sebagai seakan-akan masuk akal.
  3. Percaya pada moralitas terpendam yang ada dalam diri kelompok.
  4. Streotip terhadap kelompok lain (menganggap buruk kelompok lain).
  5. Tekanan langsung pada anggota yang pendapatnya berbeda dari pendapat kelompok.
  6. Sensor diri sendiri terhadap penyimpangan dari sensus kelompok.
  7. Ilusi bahwa semua anggota kelompok sepakat dan bersuara bulat.
  8. Otomatis menjaga mental untuk mencegah atau menyaring informasi-informasi yang tidak mendukung, hal ini dilakukan oleh para penjaga pikiran kelompok (mindguards).

Berdasarkan penelitian yang berkembang pada periode selanjutnya, ada beberapa hipotesis mengenai faktor-faktor determinan yang terdapat pada pikiran kelompok.

  • Faktor antesenden.
    Kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk meningkatkan pikiran kelompok, maka keputusan yang dibuat oleh kelompok akan bernilai buruk. Akan tetapi kalau hal-hal yang mendahului ditujukan untuk mencegah pikiran kelompok, maka keputusan yang akan dibuat oleh kelompok akan bernilai baik.

  • Faktor kebulatan suara
    Kelompok yang mengharuskan suara bulat justru lebih sering terjebak dalam pikiran kelompok, dari pada yang menggunakan sistem suara terbanyak.

  • Faktor ikatas sosial-emosional
    Kelompok yang ikatan sosial emosionalnya tinggi cenderung mengembangkan pikiran kelompok. Sedangkan kelompok yang ikatannya lugas dan berdasarkan tugas belaka cenderung lebih rendah pikiran kelompoknya.

  • Toleransi terhadap kesalahan
    Pikiran kelompok lebih besar kalau kesalahan-kesalahan dibiarkan dari pada tidak ada toleransi atas kesalahan-kesalahan yang ada.

image

Kajian groupthink menemukan fakta menarik bahwa banyak peristiwa penting yang berdampak luas disebabkan oleh keputusan sekelompok kecil orang, yang mengabaikan informasi dari luar mereka. Misalnya dalam peristiwa Pearl Harbour (1941), keputusan fatal diambil karena mengabaikan informasi penting intelejen sebelumnya.

Minggu-minggu menjelang penyerangan Pearl Harbour di bulan Desember 1941 yang menyebabkan Amerika Serikat terlibat Perang Dunia II, komandan-komandan militer di Hawaii sebetulnya telah menerima laporan intelejen tentang persiapan Jepang untuk menyerang Amerika Serikat di suatu tempat di Pasifik. Akan tetapi para komandan memutuskan untuk mengabaikan informasi itu.

Akibatnya, Pearl Harbour sama sekali tidak siap untuk diserang. Tanda bahaya tidak dibunyikan sebelum bom-bom mulai meledak. Walhasil, perang mengakibatkan 18 kapal tenggelam, 170 pesawat udara hancur dan 3700 orang meninggal.

Berdasarkan gejala-gejala yang ada, umumnya kelompok yang memiliki semangkin banyak gejala yang ada ia akan semakin tidak baik. Para anggota kelompok akan memberikan penilaian yang berlebihan terhadap kelompoknya seperti kelompoknyalah yang paling benar. Selain itu kelompok pemikiran individu akan tertutup oleh pemikiran kelompok.

Ketika suatu kelompok memiliki pikiran yang tertutup, kelompok ini tidak akan mengindahkan pengaruh-pengaruh dari keluar kelompok. Akan selalu ada tekanan untuk mencapai keseragaman, adanya ilusi bahwa akan adanya kebulatan suara meskipun pada dasarnya ada di antara kelompok yang tidak mendukung. Untuk mengatasi gejala-gejala pemikiran kelompok seperti itu adalah dengan lebih banyak berpikir sebelum bertindak.

Teori Pemikiran Kelompok ini menjelaskan dimana pemeliharaaan kelompok atau solidaritas kelompok lebih dipentingkan daripada evaluasi konflik atau kritis terhadap suatu masalah. Kelompok akan dipengaruhi oleh beberapa variabel kunci penting yang berkaitan dengan masukan dan perubahan yang akan terjadi di dalam kelompok (Goldhaber, 1993). Seperti misalnya, peran fungsional yang dibagi atas peran tugas dan peran pemeliharaan, konformitas kelompok, pola komunikasi, serta proses kelompok dalam mengambil keputusan. Komunikasi kelompok dilihat sebagai sebuah aktivitas yang menunjukkan dinamika atau pergerakan terutama pada interaksi antara dua atau lebih orang menyampaikan pesan secara tatap muka, dan menyadari keberadaan anggota lain di dalam kelompok serta adanya kesamaan kepentingan untuk mencapai kesepakatan bersama (Goldhaber, 1993).

Penyampaian dan penerimaan pesan dalam kelompok membentuk sebuah pola atau jaringan, yang menjelaskan mengenai garis-garis yang terbuka atas arus pesan yang disampaikan (Goldhaber, 1993).

Gejala Teori Pemikiran Kelompok


Janis (dalam Littlejohn, 2009) mengungkapkan adanya sejumlah gejala dalam fenomena teori pemikiran kelompok, yaitu:

  • Solusi kebal (illusion of invulnerability), ditunjukkan dari upaya anggota menciptakan optimisme yang kuat dalam kelompok.

  • Kelompok menciptakan usaha kolektif untuk merasionalkan serangkaian tindakan yang diputuskan.

  • Kelompok menjaga sebuah kepercayaan yang tidak terpatahkan dalam moralitas bawaannya, dan membuat kelompok termotivasi dan bekerja untuk hasil yang terbaik.

  • Kelompok memiliki stereotipe yang negatif terhadap kelompok-kelompok luar, kelompok saingan atau musuh.

  • Tekanan langsung (direct pressure) mendesak anggota untuk tidak mengungkapkan pendapat yang berbeda.

  • Sensor diri (self-censorship), membuat individu mengurungkan niat untuk menyampaikan pendapat yang berlawanan dan akhirnya menekan mereka untuk diam.

  • Ilusi mufakat (illusion of unanimity) terjadi dengan keputusan yang seolaholah disepakati bersama, dan membuat kelompok merapatkan solidaritas.

  • Munculnya pikiran waspada (mindguards) untuk melindungi kelompok dan pemimpin dari opini maupun informasi yang berlawanan dan tidak diinginkan.

Upaya-upaya Pemeliharaan Kelompok


Upaya pemeliharaan kelompok dalam proses pengambilan keputusan menurut groupthink theory dapat ditunjukkan dengan beberapa fenomena, misalnya:

  • Kelompok mengalami kesamaan perasaan sebagai bentuk kohesi secara sosial-emosional sehingga cenderung mempertahankan identitas kelompok (West dan Turner, 2008).

  • Anggota kelompok cenderung menarik diri dari proses pemecahan masalah, dan akhirnya mengikuti pemimpin karena mereka takut ditolak (West dan Turner, 2008) serta adanya beberapa tekanan untuk tidak mengungkapkan pendapat mereka yang berbeda (Littlejohn, 2009).

  • Anggota kelompok berorientasi pada tugas masing-masing dalam proses pengambilan keputusan (West dan Turner, 2008).

  • Kelompok menunjukkan optimisme dalam proses pengambilan keputusan (Littlejohn, 2009).

  • Kelompok melakukan usaha bersama-sama dan memberikan kepercayaan untuk memotivasi kelompok dan bekerja demi hasil yang terbaik (Littlejohn, 2009).

  • Kelompok memiliki stereotipe negatif terhadap kelompok luar dan berwaspada akan adanya informasi yang berbeda yang tidak diinginkan kelompok (Littlejohn, 2009).

  • Keputusan akhir yang dicapai seolah-olah merupakan kesepakatan
    bersama (Littlejohn, 2009).