© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan globalisasi?

Globalisasi

Globalisasi adalah sebuah proses sosial yang berakibat bahwa pembatasan geografis pada keadaan sosial budaya menjadi kurang penting, yang telah masuk ke dalam alam bawah sadar manusia.

Menurut Andrew Heywood dalam bukunya yang berjudul “Politik”, Globalisasi adalah sebuah konsep yang licin dan tidak mudah dipahami. Secara tidak langsung, Heywood menyampaikan bahwa tidak mudah untuk mengenal globalisasi lebih dalam. Secara garis besar Globalisasi adalah proses integrasi internasional yang terjadi karena pertukaran produk, pemikiran, dan aspek-aspek kebudayaan lainya.

Adapun definisi lain dari globalisai menurut Anthony Giddens yang dimana berdampat bahwa globalisasi merupakan intesifikasi hubungan sosial dunia yang menghubungkan tempat-tempat jauh sehingga pristiwa di suatu tempat dapat dipengaruhi oleh pristiwa yang terjadi di tempat lain yang jauh dan sebaliknya.

Sedangkan menurut Thomas Larsson menyatakan bahwa globalisasi merupakan proses penyusutan dunia sehingga jarak semakin pendek dan segala hal terasa semakin dekat. Globalisasi mengacu pada semakin mudahnya interaksi antara seseorang di suatu tempat dengan orang lain di belahan dunia yang berbeda.

Referensi :

  • Giddens, Anthony. (1991). The Consequences of Modernity Cambridge: Polity Press. Hal 64. ISBN 9780745609232
  • Heywood, Andrew. 2013. Politik. Pustaka Pelajar. Edisi Ke-empat. Yogyakarta 55167. Hal 244
  • Larsson, Thomas. (2001). The Race to the Top: The Real Story of Globalization Washington, D.C.: Cato Institute. Hal 9. ISBN 978-1930865150

Globalisasi merupakan suatu proses yang menyeluruh atau mendunia yang dimana setiap orang sama sekali tidak terikat oleh negara atau batas-batas wilayah. Dapat diartikan setiap individu dapat terhubung dan saling bertukar informasi dimanapun dan kapanpun melalui media elektronik maupun di media cetak.

Pengertian globalisasi menurut bahasa yaitu suatu proses yang mendunia. Globalisasi merupakan suatu proses masuknya negara ke dalam pergaulan dunia. Adanya globalisasi dapat membuat suatu negara menjadi semakin kecil atau sempit yang dikarenakan kemudahan dalam berinteraksi antarnegara baik itu dalam hal perdagangan , pertukaran informasi, teknologi, dan gaya hidup maupun dengan bentuk-bentuk interaksi lainnya. Jadi, arti Globalisasi secara singkat yaitu untuk menyatukan negara-negara besar yang ada di dunia untuk disatukan menjadi negara yang sangat kecil.

Adapun pengertian globalisasi menurut para ahli maupun ahli pakar internasional yaitu :

  • Globalisasi menurut Laurence E. Rothernberg, globalisasi yaitu percepatan dari intensifikasi interaksi dan integrasi antara orang-orang, perusahaan, dan pemerintah dari negara yang berbeda-beda.

  • Globalisasi menurut Anthony Giddens, mengatakan bahwa globalisasi adalah intensifikasi hubungan sosial secara mendunia sehingga menghubungkan antara kejadian yang terjadi dilokasi yang satu dengan lokasi lainnya serta menyebabkan terjadinya perubahan pada keduanya.

  • Globalisasi menurut Martin Albrow, mengatakan bahwa globalisasi adalah suatu proses dari seluruh penduduk yang terhubung ke dalam komunitas dunia tunggal maupun komunitas tunggal.

  • Globalisasi menurut Dr. Nayef R.F. Al-Rodhan, globalisasi adalah proses yang meliputi penyebab, kasus dan konsekuensi dari integrasi transnasional dan transkultural kegiatan manusia maupun non-manusia.

  • Globalisasi menurut Emanuel Ritcher, mengatakan globalisasi ialah suatu jaringan kerja global yang mempersatukan masyarakat secara bersamaan yang sebelumnya tersebar menjadi terisolasi ke dalam saling ketergantungan dan persatuan dunia.

Globalisasi, sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antar bangsa dan antar manusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin sempit.

Globalisasi adalah sebuah teori yang bertujuan meliputi interpretasi dari kejadian terkini di ranah internasional dalam hal pengembangan, kondisi ekonomi, skenario sosial, dan pengaruh politik dan budaya (Waters 1995). Globalisasi adalah sebuah klaim teoritis yang menggarisbawahi dua kecendrungan utama yaitu:

(a) Sistem komunikasi aktif di seluruh dunia, dan
(b) Kondisi ekonomi lancar, terutama tingginya mobilitas sumber daya keuangan dan perdagangan (Stiglitz 2006).

Thomas L. Friedman, seorang jurnalis, kolumnis, dan penulis asal Amerika dalam bukunya yang berjudul The World is Flat yang terbit pada 2005 lalu membagi globalisasi dalam tiga fase. Fase pertama, globalisasi 1.0 diawali oleh Columbus pada tahun 1492 ketika melakukan pelayaran untuk menemukan belahan bumi lainnya dan melakukan perdagangan. Era tersebut mengantarkan interaksi antara dunia lama pada dunia baru. Era ini berlangsung sampai tahun 1800-an. Pelaku utama perubahan atau kekuatan yang mendorong proses penyatuan global pada era ini masih sederhana, yaitu bertumpu pada seberapa besarnya kekuatan muscle (otot, tenaga manusia), kekuatan kuda ( horsepower) , kekuatan angin ( windpower ), sampai akhirnya oleh kekuatan mesin-mesin yang digerakkan oleh tenaga uap ( steam power ).

Selanjutnya globalisasi 2.0 berlangsung pada tahun 1800-an sampai tahun 2000. Era ini adalah era menyempitnya dunia dari ukuran medium ( medium size ) menjadi ukuran yang kecil ( small size ). Pelaku utama yang mendorong penyatuan global adalah perusahaan- perusahaan multinasional. Era ini ditandai oleh ekspansi perusahaan-perusahaan Belanda dan Inggris dan terjadinya revolusi industri sejalan dengan ditemukannya berbagai perangkat keras seperti kapal uap dan kereta api, hingga telepon dan komputer.

Terakhir, globalisasi 3.0 berlangsung mulai tahun 2000-an, era ini adalah era menyempitnya dunia dari ukuran yang kecil ( small size ) menjadi ukuran yang sangat kecil ( tiny size ). Pelaku utama yang mendorong penyatuan global adalah kekuatan individu untuk mampu membangun kolaborasi dan kompetisi pada era global.

Friedman dalam bukunya, The Lexus and The Olive Tree yang terbit pada tahun 1999, mengatakan bahwa globalisasi adalah kesempatan bagus bagi semua orang untuk meningkatkan standar hidup dan kebebasan pribadi mereka, termasuk akses informasi dan pilihan ekonomi. Namun, ia juga menyadari bahwa globalisasi dapat menjauhkan individu dari apa yang ia sebut “The Olive Tree”, yaitu akar historis dan identitas kebudayaan mereka. Olive tree tersebut menjadi penyeimbang yang kuat di era globalisasi.

Sedangkan teori selanjutnya yaitu the trickle down theory of fashion yang pertamakali dicetuskan oleh Thoristen Veblen dalam bukunya, The Theory of The Leisure Class , pada 1899. Veblen mencetuskan bahwa teknologi terbaru atau barang mewah awalnya dilepas ke pasar dengan harga tinggi, yang mengakibatkan hanya kelas elit yang dapat membelinya. Seiring berjalannya waktu, perusahaan lain membuat tiruan dari barang-barang tersebut dengan harga yang lebih terjangkau, dan seketika kelas yang lebih rendah mulai membeli barang-barang tersebut. Beberapa tahun setelah Veblen memperkenalkan teori tersebut, tepatnya pada tahun 1904 Georg Simmel mengaplikasikan teori tersebut ke dalam industri mode ( Fashion International Quarterly, issue 10, 1904) . Simmel mengatakan bahwa kelas rendah yang ia sebut dengan kelompok subordinat memiliki kecenderungan untuk melakukan imitasi atau meniru pakaian dan segala simbol kemewahan kelas atas atau kelompok superordinat dengan tujuan untuk mendapatkan status baru yang lebih baik. Sementara kelompok superordinat itu sendiri memiliki kecenderungan untuk tampil beda dengan selalu melakukan diferensiasi.

Globalisasi: Bentuk & Pratik

  • Kenichi Ohmae (1989) mendefinisikan globalisasi sebagai ‘dunia tanpa batas’ yang artinya globalisasi tidak hanya berjalan pada batas - batas suatu wilayah nasional dan negara terhadap batas – batas politik tradisional. Tetapi, globalisasi juga menjadi pembagian – pembagian masyarakat yang sebelumnya terpisahkan oleh waktu dan yang semakin kurang signifikan dan relevan. m Sedangkan Scholte (2005) mengartikan keterkaitan globalisasi dengan pertumbuhan hubungan – hubungan ‘suprateritorial’ antara masyarakat di seluruh dunia dimana dalam kehidupan sosial telah melampaui batas teritorial dngan meningkatnya hubungan komunikasi dan interaksi lintas batas dan lintas global. Makanya, bisa dikatakan konsep dasar dalam globalisasi ialah kompresi ruang dan waktu yang dimana menjadi sebuah keharusan dalam perkembangan zaman sehingga terdapat intensifikasi proses dari masyarakat regional menjadi masyarakat internasional (Jati, 2013).

  • Globalisasi merupakan sebuah proses yang bersifat top down, yakni pembentukan sebuah sistem global tunggal yang bergerak keseluruh belahan dunia. Artinya globalisasi terkait pula dengan homogenisasi terkait kecendrungan yang terdiri dari seluruh bagian atau unsur untuk menjadi bagian yang sama dan identik. Akan tetapi, globalisasi seringkali beriringan dengan lokalisasi, regionalisme dan multikulturalisme. Hal tersebut terjadi dikarenakan keberagaman alasan yang muncul, diantaranya :

    • Kemampuan negara – nasional yang menurun untuk pengorgannisasian kehidupan ekonomi dan politik dalam cara yang bermakna sehingga menyebabkan kekuasaan menjadi tersedot ke bawah ataupun sebaliknya tergencet keatas.
    • Ketakutan akan ancaman homogenisasi
    • Pembentukan pola-pola keragaman sosial dan kebudayaan bagi negara berkembang dan negara maju.
  • Maka saling berketerkaitan yang dimunculkan oleh globalisasi harus berdasarakan sifat multidimensional yang artinya globalisasi berjalan secara sistematik dan saling berketergantungan memberikan makna bagi kehidupan kita yang semakin ditentukan dan dipengaruhi oleh keputusan – keputusan serta tindakan – tindakan yang berlangsung disebuah tempat. Munculnya anggapan tentang globalisasi yang telah melemahkan negara dan telah mereduksi dengan segala atribut baik itu teritori maupun kedaulatan, yaitu kemampuan sebuah negara dalam merespon kondisi eksternal negara, kapasitas dari negara tersebut dalam menghadapi globalisasi, dan pentingnya power dari negara itu sendiri dalam menghadapi dinamika dunia internasional (Weiss 2000 dalam Kusumawardhana & Zulkarnain, 2016)

Bentuk globalisasi

4

  1. Globalisasi Ekonomi
  • Hal ini menjadikan berkurangnya kapasitas pemerintahan nasional dalam mengatur dan mengelola ekonomi – ekonomi pemerintahan tersebut dan penolakan terhadap rekstruksi pemerintahan selaras dengan garis – garis besar pasar bebas dalam perkembangan globalisasi ekonomi. Sehingga tidak adanya ekonomi nasional yang terpisah maupun menyendiri dikarenakan saling terkaitnya dalam ekonomi global. Globalisasi ekonomi mencerminkan aliran – aliran modal dan barang lintas negara, menghancurkan ide tentang kedaulatan ekonomi. Proses dari globalisasi ekonomi sendiri ialah terjadinya suatu perubahahan perekonomian dunia yang bersifat mendasar atau secara terstruktur dan berkembang dengan pesat yang mengikuti kemajuan teknologi dengan proses yang semakin cepat.

  • Perkembangan globalisasi ekonomi terlihat dengan meningkatnya hubungan saling ketergantungan dan juga memperkuat persaingan antar negara yang tidak hanya bergerak di perdagangan internasional melainkan juga dalam investasi, finansial dan produksi. Globalisasi ekonomi sendiri ditandai dengan semakin tipisnya batas kegiatan ekonomi atau pasar baik dalam skala nasional maupun regional, tetapi harus bergerak dalam skala internasional yang melibatkan banyak negara. Globalisasi ekonomi pun dapat diartikan sebagai pengaturan sosial untuk produksi, pertukaran, distribusi dan konsumsi lahan, modal, barang dan layanan tenaga kerja(Waters, 2011).

  • Berbagai alasan penyebab semakin menipisnya batas – batas kegiatan ekonomi secara nasional maupun regional, seperti yang dikatakan oleh (Halwani,2002) ialah komunikasi dan transportasi yang semakin canggih dan murah, lalu lintas devisa yang semakin bebas, ekonomi negara yang semakin terbuka, keunggulan komparatif dan keunggulan kompetitif yang digunakan oleh berbagai negara, metode produksi dan perakitan dengan organisasi manajemen yang semakin efisien, dan pesatnya perkembangan perusahaan multinasional di sebagian negara. (Zaroni, 2015)

  1. Globalisasi Kebudayaan
  • Pertumbuhan globalisasi kebudayaan didasari karena informasi dan gambaran dari suatu wilayah dalam pemasaran yang dilakukan telah masuk sebagai sebuah aliran global yang cenderung menipisikan perbedaan budaya antara suatu bangsa, wilayah, dan individu. Hal tersebut biasanya digambarkan dengan suatu proses komoditas – komoditas global dan praktek perdagangan terkait pemasaran. Munculnya istilah revolusi informasi didasari dengan dorongan globalisasi kebudayaan. Akan tetapi, kekuatan globalisasi kebudayaan dapat dibatasi dan diloloskan karena penyebaran sebuah perdagangan memerlukan kepekaan terhadap kebudayaan dan praktek sosial pribumi suatu bangsa. Maka globalisasi kebudayaan merupakan sebuah kekuatan yang mampu meloloskan dan membatasi kekuatan – kekuatan globalisasi.

  • Lain halnya ketika globalisasi budaya diartikan dalam pengaturan sosial untuk produksi, pertukaran dan ekspresi simbol (tanda-tanda) yang mewakili fakta, mempengaruhi, makna, keyakinan, komitmen, preferensi, selera dan nilai-nilai. (Waters, 2011). Dalam hal ini bisa dikatakan bahwa globalisasi kebudayaan dapat dikaitkan dengan gaya hidup yang ada disuatu wilayah berkembang sehingga diikuti oleh masyarakat diwilayah yang berbeda. Seperti masyarakat yang menikmati McDonald, Coca Cola, Kintucky Fried Chicken, serta mode pakaian dan bergaya yang beredar disuatu wilayah dan diikuti masyarakat luar sesuai trendnya (Siswanto,2010 dalam(Yuniarto, 2014).

  • Untuk membendung globalisasi kebudayaan yang semakin marak masuk ke kebudayaan lokal, maka perlunya mempertahankan nilai – nilai kebudayaan lokal, dengan cara (Annafie & Nurmandi, 2016):

    • Pilar Regulatif, yakni dengan adanya Peraturan pemerintah setempat yang berkaitan dengan nilai kebudayaan, sanksi, dan monitoring. Sehingga menjadi pendukung pelaksanaan nilai – nilai budaya yang mampu mendorong dan mengaplikasikannya kepada masyrakat tentang nilai – nilai kebudayaan yang dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
    • Pilar Normatif, yakni setelah dikeluarkannya peraturan pemerintah setempat perlu dilakukannya evaluasi dan kewajiban serta tanggung jawab.
    • Pilar cultural, yakni melihat dari sisi budaya lokal, kategori, tipikasi dan skema lembaga dengan mempertahankan kebudayaan yang ada di wilayah tersebut agar tetap dilestarikan dan dijalankan agar tidak hilang seiring jalannya arus globalisasi.
  1. Globalisasi Politik
  • Globalisasi politik masih jauh tertinggal dengan globalisasi ekonomi dan globalisasi kebudayaan ketika diartikan dari sebuah komitmen idealis pada skala internasionalisme dan sebagian bentuk pemerintahan dunia, dikarenakan penekanan – penekanan antar negara dari globalisasi poltik terpisah dari konsep globalisasi ekonomi dan kebudayaan yang terlihat dari peran pelaku non-negara dan berbasis pasar. Globalisasi politik pun sebagai pengaturan sosial untuk konsentrasi dan penerapan kekuasaan yang dapat menetapkan kendali atas populasi, wilayah dan aset lainnya, terutama sejauh dimanifestasikan sebagai pertukaran yang dipaksakan dan pengawasan terorganisir (militer, polisi, birokrasi, dll.); praktek-praktek transformasi institusionalisasi ini sebagai otoritas, regulasi, administrasi dan diplomasi; dan sumber daya seperti dukungan elektoral, sumbangan politik, kapasitas untuk redistribusi, hak kewarganegaraan, dukungan perpajakan, lobi, dan kepatuhan (Waters, 2011).

  • Maka globalisasi politik sangat berharap dengan peran dari organisasi – organisasi yang bersifat transansional yang mencakup wilayah kerja beberapa negara. Seperti Perserikatan Bangsa – Bangsa, NATO, Komunitas Ekonomi Eropa dan berbagai penerusnya, Dewan Ekonomi dan Uni Eropa, Bank Dunia, Dana Moneter Internasional (IMF), Organisasi Kerja Sama dan Pengembangan Ekonomi (OECD) dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Pengaruh organisasi – organisasi internasional sangat penting dalam perkembangan globalisasi politik. (Heywood, 2014).

Referensi

Heywood, A. (2014). Politik (Edisi Ke 4). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Jati, W. R. (2013). Memahami Globalisasi sebagai Evolusi Kapitalisme. Global & Strategis , 7 , No. 2 , 241–258.

Kusumawardhana, I., & Zulkarnain. (2016). Globalization And Strategy: “Negara, Teritori & Kedaulatan di Era Globalisasi,” (54).

Waters, M. (2011). Globalization (2nd ed.). Routledge.

Yuniarto, P. R. (2014). Masalah Globalisasi di Indonesia : Antara Kepentingan, Kebijakan, dan Tantangan. Jurnal Kajian Wilayah , Vol. 5 , No (1), 29.