Apa yang dimaksud dengan gerakan sosial?

Gerakan sosial

Gerakan sosial atau social movement merupakan tindakan terencana yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat disertai program terencana dan ditujukan pada suatu perubahan atau sebagai gerakan perlawanan untuk melestarikan pola-pola dan lembaga-lembaga masyarakat yang ada

Banyak sekali para pakar teoritis sosial memberikan definisi mengenai gerakan sosial (social movement) karena beragamnya ruang lingkup yang dimilikinya. Salah satunya definisi gerakan sosial dari Anthony Giddens menyatakan bahwa

“gerakan sosial adalah suatu upaya kolektif untuk mengejar suatu kepentingan bersama atau gerakan mencapai tujuan bersama melalui tindakan kolektif (collective action) di luar lingkup lembaga-lembaga yang mapan”.

Jadi dapat kita tafsirkan mengenai definisi konsep gerakan sosial dari Giddens yang menyatakan bahwa gerakan sosial adalah sebuah gerakan yang dilakukan secara bersama-sama demi mencapai tujuan yang sama-sama diinginkan oleh kelompok atau dengan kata lain gerakan sosial adalah tindakan kolektif untuk mencapai keinginan yang menjadi cita-cita bersama.

Definisi gerakan sosial juga muncul dari Tarrow yang menempatkan gerakan sosial sebagai politik perlawanan yang terjadi ketika rakyat biasa yang bergabung dengan para kelompok masyarakat yang lebih berpengaruh menggalang kekuatan untuk melawan para elit, pemegang otoritas, dan pihak- pihak lawan lainnya.

Konsep gerakan sosial yang didefinisikan oleh Tarrow tersebut memiliki perbedaan dengan apa yang diutarakan oleh Giddens bahwa yang dimaksud dalam gerakan sosial dalam perspektif Tarrow ini adalah dia lebih memfokuskan pada aspek sosial politik dimana dalam pernyataannya gerakan sosial ia definisikan sebagai sebuah tindakan perlawanan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat atau warga biasa yang bergabung dan membentuk alienasi dengan para tokoh atau kelompok yang memiliki pengaruh besar dalam suatu negara, kelompok atau semacamnya bersama-sama bergerak untuk melakukan suatu perlawanan terhadap para pemegang kekuasaan atau para elit politik jika apa yang menjadi sebuah kebijakan dirasa tidak sesuai dengan apa yang diinginkan.

Masih dalam konteks gerakan sosial dari Tarrow, tindakan yang didasari politik perlawanan adalah aksi kolektif yang melawan (contentius collective action). Tindakan kolektif bisa mengambil banyak bentuk, yang singkat maupun yang berkelanjutan, terlembaga atau cepat bubar, membosankan atau dramatis. Umumnya tidakan kolektif berlangsung dalam institusi ketika orang-orang yang tergabung di dalamnya bertindak untuk mencapai tujuan bersama.

Aksi kolektif memiliki nuansa penentangan ketika aksi itu dilakukan oleh orang-orang yang kurang memiliki akses ke institusi-institusi untuk mengajukan klaim baru atau klaim yang tidak dapat diterima oleh pemegang otoritas atau pihak-pihak yang ditentang lainnya. Aksi kolektif yang melawan merupakan basis dari gerakan sosial, karena aksi itu seringkali merupakan satu- satunya sumber daya yang dimiliki oleh orang-orang awam dalam menentang pihak-pihak lain yang lebih kuat seperti negara.

Gerakan sosial bisa beroperasi dalam batas-batas legalitas suatu masyarakat, namun bisa juga bergerak secara ilegal atau sebagai kelompok bawah tanah (undergrounds groups).

Dalam sebuah gerakan sosial ada beberapa komponen-komponen yang harus ada dalam definisi gerakan sosial:

  1. Kolektivitas orang yang bertindak bersama.

  2. Tujuan bersama tindakannya adalah perubahan tertentu dalam masyarakat mereka yang ditetapkan partisipan menurut cara yang sama.

  3. Kolektivitasnya relatif tersebar namun lebih rendah derajatnya daripada organisasi formal.

  4. Tindakannya memunyai derajat spontanitas relatif tinggi namun tak terlembaga dan bentuknya tak konvensional.25

Lebih jauh, gerakan sosial perlu dibedakan dengan sejumlah pengorganisasian sosial berikut, yaitu :

  • Pertama, meskipun berbeda, gerakan sosial dan organisasi formal kadang-kadang memiliki batasan yang kabur, karena gerakan sosial yang berubah menjadi mapan biasanya memiliki karakteristik birokratis. Karena itu, gerakan sosial secara gradual bisa berubah menjadi organisasi formal, sementara itu sangat jarang sekali suatu organisasi formal berubah menjadi suatu gerakan sosial.

  • Kedua, meski tidak terlalu mudah, gerakan sosial juga perlu dibedakan dengan kelompok-kelompok kepentingan (interest groups) yakni suatu asosiasi yang dibentuk untuk mempengaruhi para pembuat kebijakan dalam cara yang menguntungkan para anggota-anggotanya. Asosiasi pengusaha tekstil adalah jelas-jelas kelompok kepentingan yang biasanya mempengaruhi para pembuat kebijakan sehingga kebijakan yang disusun lebih menguntungkan usahanya.

Dalam pandangan teori sistem, semisal fungsionalisme struktural, gerakan sosial tidak akan muncul kecuali karena kekacauan, patologi dan disorganisasi sosial yang dihadapi atau diimbangi oleh mekanisme penyeimbangan sistem. Sebaliknya menurut teori pilihan rasional modern, gerakan sosial menggambarkan cara normal untuk mencapai tujuan politik, sebagai bentuk khusus tindakan politik yang dilakukan sekumpulan orang yang memperjuangkan tujuan mereka karena mereka tak mempunyai lembaga yang mewakili kepentingan mereka.

Untuk penyederhanaan dapat dikatakan bahwa ada dua teori umum masyarakat yang berlawanan secara tradisional yang berkaitan erat dengan dua pendekatan yang berlawanan pula dalam studi gerakan sosial.

  • Teori umum pertama menekankan mobilisasi aktor, gerakan sosial muncul dari bawah ketika volume keluhan, ketidakpuasan, dan kekecewaan rakyat melampaui ambang batas tertentu. (Gurr, 1970).

    Salah satu variasinya semacam citra “ledakan”. Gerakan sosial dilihat sebagai ledakan spontan tindakan kolektif, kemudian baru mendapat pimpinan, organisasi dan ideologi (gerakan terjadi secara spontan). Variasi lain mempunyai citra “kewirausahaan” atau komplotan. Gerakan sosial dipandang sebagai tindakan kolektif yang memunyai tujuan, direkrut, dimobilisasi, dan dikendalikan oleh pimpinan dan ideologi (pemrakarsa persekongkolan, pemrakarsa gerakan dan sebagainya) dalam upaya untuk mencapai tujuan tertentu. Menurut teori ini, gerakan sosial itu dibentuk dengan sengaja.

  • Teori umum kedua yang bertentangan, menekankan pada kondisi struktural yang dapat memudahkan atau menghambat kemunculan gerakan sosial. Singkatnya, gerakan sosial berkobar jika kondisi, keadaan, situasi kondusif. Satu variasinya berasal dari metafora tutup pengaman. Potensi gerakan (dalam setiap masyarakat selalu ada dalam ukuran tertentu dan dipandang konstan) dilepaskan dari atas ketika hambatan, rintangan, dan kendali di tingkat sistem politik melemah (Stockpol, 1979). Variasi lain menekankan pada akses ke sumber daya; gerakan timbul karena terbukanya cara dan peluang baru yang memudahkan tidakan kolektif (McCarty & Zald; Jenkins, 1983)

Munculnya Gerakan Sosial


Gerakan sosial pastilah tidak muncul begitu saja, ada beberapa tahapan yang menlatar belakangi timbulnya sebuah gerakan sosial.

  • Pertama, hubungan antara proses framing dan suatu pemikiran tentang perubahan politik objektif yang memfasilitasi kemunculan gerakan sosial. Perubahan politik tertentu mendorong mobilisasi tidak hanya memalui pengaruh objektif yang diakibatkan oleh perubahan relasi kekuasaan tetapi juga oleh setting dalam pergerakan proses framing yang selanjutnya menggerogoti legitimasi sistem.

    Contoh mengenai hal ini ialah kisah kemunculan gerakan sosial dan revolusi di Eropa Timur sebagai pengaruh reformasi Gorbachev. Ketidakbersediaan Gorbachev untuk mengintervensi secara militer dalam mempertahankan negara Pakta Warsawa mendorong aksi kolektif baik melalui pelemahan secara objektif kekuatan-kekuatan kontrol yang dimiliki rezim-rezim di negara-negara tersebut, maupun melalui penguatan persepsi publik tentang ketidakabsahan dan kerentanan rezim-rezim tersebut. Perluasan kesempatan politik kemudian muncul dari kaitan sebab akibat tersebut, dari interaksi perubahan-perubahan struktural dan perseptual yang terbentuk dalam proses pergerakan.

  • Kedua, suatu gerakan sosial juga bisa muncul kerana kaitan resiprokal antara proses framing dan mobilisasi. Proses framing secara jelas mendorong mobilisasi ketika orang-orang berupaya mengorganisasi dan bertindak pada basis kesadaran yang berkembang tentang ketidakabsahan dan kerentanan sistem. Pada saat yang sama, potensi bagi proses framing yang kritis dikondisikan oleh akses orang-orang kepada berbagai struktur mobilisasi. Dan hal ini akan lebih mungkin terjadi dalam kondisi organisasi yang kuat daripada kondisi organisasi yang lemah. Dengan kata lain, proses framing tidak akan terjadi dalam kondisi ketiadaan organisasi, karena ketiadaan struktur mobilisasi hampir pasti akan mencegah penyebaran framing ke jumlah minimal orang yang diperlukan untuk basis tindakan kolektif.28

Jenis-Jenis Gerakan Sosial


Gerakan sosial memiliki beberapa jenis, yaitu:

  1. Gerakan perpindahan (migratory movement), yaitu arus perpindahan ke suatu tempat yang baru. Individu-individu dalam jenis gerakan ini umumnya tidak puas dengan keadaan sekarang dan bermigrasi dengan harapan memperoleh masa depan lebih baik.

  2. Gerakan ekspresif (expresive movement), yaitu tindakan penduduk untuk mengubah sikap mereka sendiri dan bukan mengubah masyarakat. Individu- individu dalam jenis gerakan ini sebenarnya hanya merubah persepsi mereka terhadap lingkungan luar yang kurang menyenangkan dari pada mengubah kondisi luar itu sendiri.

  3. Gerakan utopia (utopian movemet), yaitu gerakan yang bertujuan menciptakan lingkungan sosial ideal yang dihuni atau upaya menciptakan masyarakat sejahtera yang bersekala kecil.

  4. Gerakan reformasi (reform movement) yaitu gerakan yang berupaya memperbaiki beberapa kepincangan atau aspek tertentu dalam masyarakat tanpa memperbarui secara keseluruhan.

  5. Gerakan revolusioner (revolutionary movement) yaitu gerakan sosial yang melibatkan masyarakat secara tepat dan drastis dengan tujuan mengganti sistem yang ada dengan sistem baru.

  6. Gerakan regresif (reaksioner) yaitu gerakan yang berusaha untuk mengembalikan keadaan kepada kedudukan sebelumnya. Para individu yang begabung dalam gerakan ini adalah orang-orang yang kecewa terhadap kecenderungan sosial yang sedang berjalan.

  7. Gerakan perlawanan (resistance movement) yaitu gerakan yang berusaha melawan perubahan sosial tertentu.

  8. Gerakan progresif (progressive movement) yaitu gerakan yang bertujuan memperbaiki masyarakat dengan cara mengadakan perubahan-perubahan positif pada lembaga-lembaga dan organisasi-organisasi.

  9. Gerakan konservatif (conservative movement) yaitu gerakan yang berusaha menjaga agar masyarakat tidak berubah. Individu-individu yang mendukung gerakan ini menganggap bahwa kedudukan masyarakat pada saat sekarang sebagai kedudukan yang paling menyenangkan.

Tahap-Tahap Gerakan Sosial


Pola perkembangan gerakan sosial tidaklah sama, namun semua gerakan sosial dimulai dari suatu keadaan krisis, lalu mengalami perkembangan dalam berbagai tingkat, dan kemudian lenyap atau melembaga. Menurut W.E Gettys, kebanyakan gerakan sosial melewati tahap-tahap berikut:

  1. Tahap kegelisahan. Dala tahap ini terjadi ketidakpuasan akibat pergolakan sistem yang kurang baik. Tahap ini bisa meluas dan berlangsung selama beberapa tahun.

  2. Tahap kegusaran. Setelah perhatian dipusatkan pada kondisi-kondisi yang menimbulkan kegelisahan, maka terhimpunlah sebuah kolektivitas. Kegelisahan yang muncul dalam kolektivitas ini digerakkan oleh para agitator atau pemimpin.

  3. Tahap formalisasi. Dalam tahap ini, tidak tampak adanya struktur formal yang terorganisir yang dilengkapi dengan hierarki petugas-petugas. Salah satu tugas penting adalah mejelaskan ideologi gerakan kepada anggota yang telah bersatu. Sebab-sebab terjadinya ketidakpuasan, rencana aksi dan sasaran-sasaran gerakan.

  4. Tahap pelembagaan. Jika geraka tersebut berhasil menarik banyak pengikut dan dapat memenagkan dukungan publik, akhirnya akan terjadi pelembagaan. Selama tahap ini, ditetapkan suatu birokrasi dan kepemimpinan yang profesional yang disiplin mengganti figur-figur kharimatik sebelumnya.

Referensi :

  • Fadillah Putra Dkk. Gerakan Sosial. (Malang. Averrors Press. 2006)
  • Syahrial Syarbaini. Dasar-Dasar Sosiologi. (Yogyakarta. Graha Ilmu.2013)

Gerakan sosial dalam artian luas adalah suatu usaha bersama untuk meningkatkan atau menentang perubahan dalam masyarakat di mana usaha tersebut memainkan peran.

Yang tergolong ke dalam suatu gerakan menurut Bottomore lebih merupakan satu kelompok yang bersimpati terhadap pandangan sosial atau doktrin tertentu, yang menampakkan dirinya dalam perdebatan politik sehari- hari dan yang karenanya siap berperan serta di dalam kegiatan-kegiatan seperti demonstrasi. Bottomore menegaskan bahwa bilamana formasi-formasi politik yang terorganisasi seperti partai misalnya dilibatkan dalam perjuangan merebut kekuasaan, dalam artian untuk menguasai atau merebut kekuasaan unit politik tertentu, maka gerakan-gerakan sosial akan bertindak dalam cara yang lebih menyatu dan jika mereka berhasil membangun prasyarat bagi perubahan-perubahan policy atau rezim dengan mempermasalahkan keabsahan sistem politik yang ada (sebagian atau seluruhnya), dengan menciptakan iklim pendapat yang berbeda, dan dengan mengajukan alternatif.

Bottomore selanjutnya, mengemukakan bahwa terdapat tiga fase utama di dalam perkembangan gerakan-gerakan sosial modern.

  • Tahap yang pertama , adalah tahap di mana gerakan-gerakan seperti gerakan demokrasi dan gerakan buruh di Eropa, gerakan hak suara yang diajukan oleh wanita, dan gerakan-gerakan kemerdekaan di daerah jajahan di tahun-tahun berikutnya, ataupun sejumlah gerakan yang banyak muncul di negara-negara otokratis dewasa ini, hanya menyediakan sebuah sarana efektif bagi pengungkapan keluhan-keluhan dan usaha untuk melahirkan perubahan- perubahan politik.

  • Tahap yang kedua, muncul ketika pencapaian pemerintahan yang representatif, persamaan hak pilih universal, dan sistem pemilihan umum yang bebas dan rahasia berusaha mengurangi intensitas aksi-aksi politik di luar mekanisme lembaga formal, walaupun dalam periode krisis gerakan sosial, seperti gerakan para penganggur dan kaum fasis di beberapa negara Eropa, dapat berkembang.

  • Tahap yang ketiga, adalah tahap yang kini berlangsung di negara demokrasi-demokrasi Barat. Pada tahap ini dijumpai banyak sekali kebangkitan-kebangkitan dan pembentukan berbagai gerakan sosial sebagai suatu ciri kehidupan politik yang kurang lebih bersifat permanen, yang mencerminkan suatu gerakan yang lebih mendasar untuk memperluas demokrasi. Pemerintahan yang representatif, partai-partai dan pemilihan umum, kini nampaknya semakin intens memberikan kerangka kerja yang esensial namun tidak memadai untuk membangun suatu masyarakat demokratis dalam artian pemerintahan yang radikal yang diselenggarakan oleh rakyat.

1 Like

Gerakan sosial (social movement) adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbentuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial (Elly M. Setiadi dan Usman Kopil,2011).

Gerakan sosial juga merupakan tindakan terencana yang dilakukan oleh suatu kelompok masyarakat yang disertai program terencana dan ditujukan pada suatu perubahan atau sebagai gerakan perlawanan untuk melestarikan pola-pola dan lembaga masyarakat yang sudah ada.

Gerakan Sosial secara teoritis merupakan sebuah gerakan yang lahir dari dan atas upaya masyarakat dalam usahanya menuntut perubahan dalam institusi, kebijakan atau struktur pemerintah. Di sini terlihat tuntutan perubahan itu biasanya karena kebijakan pemerintah tidak sesuai lagi dengan konteks masyarakat yang ada atau kebijakan itu bertentangan dengan kehendak sebagian rakyat. Dengan kata lain, gerakan sosial lahir sebagai reaksi terhadap sesuatu yang tidak diinginkan rakyat atau menginginkan perubahan kebijakan karena dinilai tidak adil.

Gerakan sosial dapat dipahami sebagai tantangan terhadapat pembuatan keputusan-keputusan dalam upaya melakukan perubahan sosial tertentu. Meskipun gerakan sosial sering digerakkan oleh satu atau berbagai organisasi, banyak penekanan bahwa gerakan sosial sebaiknya tidak diidentifikasi hanya pada organisasi-organisasi tersebut.

Tindakan individu, kelompok dan kegiatan para pemimpin yang membentuk opini dan unsur-unsur lain kebudayaan, juga dapat disebut sebagai elemen gerakan sosial. Indikasi awal untuk menangkap gejala sosial tersebut adalah dengan mengenali terjadinya perubahan-perubahan pada semua elemen arena publik dan ditandai oleh kualitas “aliran” atau “gelombang”.

Dalam prakteknya suatu gerakan sosial dapat diketahui terutama lewat banyak organisasi baru yang terbentuk, dan bertambahnya anggota dalam suatu organisasi gerakan. Selain itu menurut John Lofland dua aspek empiris gelombang yang perlu diperhatikan yang pertama adalah aliran tersebut cenderung berumur pendek antara lima sampai delapan tahun. Jika telah melewati umur itu gerakan akan melemah dan meskipun masih ada akan tetapi gerakan telah mengalami proses “cooled down”. Kedua, banyak organisasi gerakan atau protes yang berubah menjadi gerakan sosial atau setidaknya bagian dari gerakan-gerakan tersebut di atas.

Organisasi-organisasi ini cenderung selalu berupaya menciptakan gerakan sosial atau jika organisasinya berbeda maka mereka akan dengan sabar menunggu pergeseran struktur makro yang akan terjadi (misalnya krisis kapitalis) atau pertarungan yang akan terjadi antara yang baik dan yang jahat, atau kedua hal tersebut. Serta menunggu kegagalan fungsi lembaga sentral, kala itulah gerakan itu bisa dikenali sebagai gerakan pinggiran, gerakan awal dan embrio gerakan.

Menurut John Lofland, ada variabel yang berpengaruh terhadap gerakan sosial, yaitu :

  1. Perubahan dan ketimpangan sosial
  2. Kesempatan politik
  3. Campur tangan negara terhadap kehidupan warga
  4. Kemakmuran (yang menimbulkan deprivasi ekonomi)
  5. Konsentrasi geografis
  6. Identitas kolektif
  7. Solidaritas antar kelompok
  8. Krisis kekuasaan
  9. Melemahnya kontrol kelompok yang dominan
  10. Pemfokusan krisis
  11. Sinergi gelombang warga negara (penduduk)
  12. Adanya pemimpin
  13. Jaringan komunikasi
  14. Integrasi jaringan di antara para pembentuk potensial
  15. Adanya situasi yang memudahkan para pembentuk potensial
  16. Kemampuan mempersatukan

Herbert Blumer merumuskan Gerakan Sosial sebagai sejumlah besar orang yang bertindak bersama atas nama sejumlah tujuan atau gagasan. Robert Misel dalam bukunya yang berjudul Teori Pergerakan Sosial mendefenisikan Gerakan Sosial sebagai seperangkat keyakinan dan tindakan yang tak terlembaga yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk memajukan atau menghalangi perubahan dalam masyarakat.

Anthony Giddens menyatakan Gerakan Sosial sebagai upaya kolektif untuk mengejar kepentingan bersama atau gerakan mencapai tujuan bersama atau gerakan bersama melalui tindakan kolektif (action collective) diluar ruang lingkup lembaga- lembaga yang mapan(Fadillah putra, dkk,2006).

Sedangkan Mansoer Fakih menyatakan bahwa Gerakan Sosial dapat diartikan sebagai kelompok yang terorganisir secara tidak ketat dalam rangka tujuan sosial terutama dalam usaha merubah struktur maupun nilai sosial (Mansoer fakih,2002). Komponen-komponen dari gerakan sosial yaitu :

  1. Kolektivitas orang yang bertindak sama
  2. Tujuan bersama tindakannya adalah perubahan tertentu dalam masyarakat, mereka yang ditetapkan partisipan menurut cara yang sama
  3. Kolektivitasnya relatif tersebar namun lebih rendah derajatnya daripada organisasi formal.
  4. Tindakannya mempunyai derajat spontanitas relatif tinggi namuntak terlembaga dalam bentuk formal dan bentuknyatak konvensional.

Menurut Sztompka, gerakan sosial adalah tindakan kolektif yang diorganisir secara longgar, tanpa cara terlembaga untuk menghasilkan perubahan dalam masyarakat mereka (Sztompka Piotr,2004). Dalam hal tipe gerakan sosial Timur Mahardika(2002) menjelaskan tipe gerakan sosial menjadi 2 kelompok, yaitu :

  1. Gerakan yang muncul secara spontan, dan gerakan yang terorganisir. Bentuk gerakannya biasa bentuk kritik yang langsung diaplikasikan sebagai bentuk luapan emosi gerakan cepat ketika isu bergulir. Jumlah massanya juga tergantung kadar dan bobot isu, namun lemahnya massar tidak terkontrol karena kurangnya terorganisir.

  2. Gerakan yang telah menggunakan organisasi dan memanfaatkan instrumen demokrasi yang ada, seperti parlemen, pers atau institusi non-pemerintah dalam mengedepankan persoalan yang ada. Jumlah massa dalam gerakan ini relatif sedikit, namun massa dalam gerakan terorganisir adalah massa yang lebih ideologis.

Gerakan sosial dapat dipahami sebagai tantangan terhadap pembuatan keputusan-keputusan dalam upaya melakukan perubahan sosial tertentu. Meskipun gerakan sosial sering digerakkan oleh satu atau berbagai organisasi, banyak penekanan bahwa gerakan sosial sebaiknya tidak diidentifikasi hanya pada organisasi-organisasi tersebut. Tindakan individu, kelompok dan kegiatan para pemimpin yang membentuk opini dan unsur-unsur lain kebudayaan, juga dapat disebut sebagai elemen gerakan sosial.

Menurut Harper (I989) secara formal gerakan sosial dapat didefinisikan sebagai kolektivitas yang tidak konvensional, dengan beragam derajat organisasinya yang berupaya mendorong ataupun mencegah perubahan. Hannigan (1985 dalam Harper 1989) mengemukakan bahwa gerakan sosial dapat dibedakan dari bentuk-bentuk sosial lainnya karena gerakan sosial:

  1. Eksis diluar kerangka institusional kehidupan sehari-hari
  2. Berorientasi pada perubahan sosial tertentu

Jary dan Jary mendefenisikan gerakan sosial sebagai: “any broad social alliance of people who are associated in seeking to effect or to block an aspect of social change within a society” —suatu aliansi sosial sejumlah besar orang yang berserikat untuk mendorong ataupun menghambat suatu segi perubahan sosial dalam suatu masyarakat (Sunarto, 2002).

Anthony Giddens menyatakan gerakan sosial adalah sekelompok orang yang terlibat dalam mencari penyelesaian atau untuk menghambat suatu proses perubahan sosial. Normalnya gerakan sosial ada dalam hubungan konflik dengan organisasi yang tujuan dan pandangan sering bertentangan. Selain itu, Rudolf Herbele mendefinisikan gerakan sosial adalah segala upaya kolektif untuk mengubah kekuasaan sebagai wujud reaksi terhadap tren sosial tertentu. (Robert & Kloss 1979).

Yang dimaksud dengan tren sosial adalah kondisi sosial yang mengkondisikan kemunculan sebuah gerakan (Roberts & Kloss 1979). Tren sosial merupakan produk sejarah, sebuah substruktur yang membangun batasan bagi kelompok-kelompok, baik yang terorganisir maupun tidak. Kondisi sosial tersebut tercipta melalui proses sejarah dan hal ini bukanlah sesuatu yang terjadi atas perencanaan melainkan lebih bersifat tak terelakan (robert & Kloss 1979).

Anthony Giddens menyatakan gerakan sosial sebagai upaya kolektif untuk mengejar kepentingan bersama atau gerakan mencapai tujuan bersama atau gerakan bersama melalui tindakan kolektif diluar ruang lingkup lembaga-lembaga yang mapan. (Putra, 2006) Selain itu, gerakan sosial menurut Robert Misel adalah seperangkat keyakinan dan tindakan yang tidak terlembaga yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk memajukan ata menghalangi perubahan dalam masyarakat (Misel, 2004).

Lebih lanjut lagi, gerakan sosial terdiri dari:

  1. Lahirnya protes baru dengan semangat muda yang dibentuk secara independen
  2. Bertambahnya jumlah dan peserta dan terkumpul secara cepat dan tak terencana
  3. Kebangkitan opini massa
  4. Semua yang ditujukan kepada oknum lembaga sentral
  5. Sebagai bentuk usaha untuk melahirkan perubahan (Lofland, 2003).

Benford dan Snow (2000) menekankan tiga poin kunci dalam gerakan sosial. Pertama, gerakan bersifat kolektif yang di dalamnya terdapat kepentingan dan tujuan kolektif serta tindakan kolektif untuk mewujudkannya. Kedua, gerakan didasarkan pada kepentingan dan tujuan yang sama. Ketiga, gerakan mencari perubahan diluar institusi yang sudah mapan.

Gerlach & Hine (1970 dalam Harper 1989) menguraikan bahwa gerakan sosial memiliki beberapa karakter. Pertama, gerakan sosial memiliki “organisasi-organisasi segmental” yang bersaing untuk memperebutkan loyalitas dari pada pendukungnya. Kedua, gerakan sosial memiliki pola rekrutmen yang personal dalam kelompok-kelompok kecil. Ketiga, gerakan sosial pertisipasi lebih didorong oleh tingginya komitmen personal. Keempat, gerakan sosial membangun ideologi yang menyampaikan segala rasionalisasi atau alasan, tujuan, dan penyebab. Kelima, gerakan sosial seperti memerlukan oposisi yang akan memberikan tekanan dan membantu mereka menciptakan solidaritas di dalam gerakan.

Penyebab Gerakan Sosial


Gerakan sosial lahir dari situasi yang dihadapi masyarakat karena adanya ketidakadilan dan sikap sewenang-wenang terhadap rakyat. Dengan kata lain, gerakan sosial lahir sebagai reaksi terhadap sesuatu yang tidak diinginkan rakyat. Denny JA menyatakan adanya tiga kondisi yang melahirkan gerakan sosial.

Pertama, gerakan sosial lahir dengan kondisi yang memberikan kesempatan bagi gerakan itu. Kedua, gerakan sosial timbul karena meluasnya ketidakpuasan atas situasi yang ada. Perubahan ini juga dapat menyebabkan krisis identitas dan lunturnya nilai-nilai sosial yang selama ini diagungkan. Perubahan ini akan menimbulkan gejolak yang dirugikan dan kemudian meluas menjadi gerakan sosial. Ketiga, gerakan sosial semata-mata masalah kemampuan kepemimpinan dari tokoh penggerak. Sang tokoh penggerak akan menjadi inspirator, membuat jaringan, membangun organisasi yang menyebabkan sekelompok orang termotivasi untuk terlibat dalam gerakan tersebut. (Fauzi, 2005).

Beberapa fungsi dari gerakan sosial, antara lain adalah memberikan kontribusi dalam pembentukan opini publik dengan memberikan diskusi-diskusi masalah sosial dan politik melalui penggabungan sejumlah gagasan-gagasan tentang gerakan sosial dan menghasilkan pemimpin. (Haynes, 2000).

Tipe-tipe Gerakan Sosial


David Aberle, mengklasifikasikan gerakan sosial ke dalam empat kategori berdasarkan tipe perubahan dan besarnya perubahan yang diinginkan. (Giddens, 1989; Light Keller dan Calhoun, 1989). Tipologi Aberle adalah sebagai berikut:

  1. Alternative movement adalah gerakan sosial yang bertujuan mengubah sebagian perilaku perseorangan. Contohnya berbagai kampanye untuk mengubah perilaku tertentu, seperti kampanye anti rokok dan penyalahgunaan narkoba.

  2. Redemptive movement adalah gerakan sosial yang ruang lingkupnya lebih luas daripada alternative movement . Tujuan yang hendak dicapai adalah perubahan menyeluruh pada perilaku perseorangan. Gerakan sosial ini kebanyakan terdapat di bidang keagamaan. Contohnya melalui gerakan ini, misalnya, perseorangan diharap untuk bertobat dan mengubah cara hidupnya sesuai dengan ajaran agama.

  3. Reformative movement adalah gerakan sosial yang bertujuan untuk mengubah masyarakat namun ruang lingkup yang hendak diubah hanya segi-segi tertentu masyarakat. Contohnya gerakan kaum homoseks untuk memperoleh pengakuan terhadap identitas seksual mereka, atau gerakan kaum perempuan untuk memperjuangkan persamaan hak dengan laki-laki.

  4. Transformative movement adalah gerakan sosial yang bertujuan untuk mengubah masyarakat secara menyeluruh. Contohnya adalah gerakan kaum Khmer Merah ( Khmer Rouge ) untuk menciptakan masyarakat Komunis di Kamboja. Gerakan transformasi yang dilancarkan rezim komunis di Uni Soviet pada tahun 30-an serta di Tiongkok pada akhir 40 an. Gerakan orang India yang tidak berkasta untuk menentang diskriminasi oleh orang kasta-kasta bawah, menengah dan di atas.

Sementara itu, Kornblum membuat klasifikasi gerakan sosial berdasarkan tujuan yang hendak dicapai (Sunarto, 2002) :

  1. Revolutionary movement (gerakan revolusioner) adalah gerakan sosial yang bertujuan untuk mengubah institusi dan stratifikasi masyarakat. Revolusi sosial merupakan suatu transformasi menyeluruh tatanan sosial, termasuk di dalamnya institusi pemerintah dan sistem stratifikasi.

  2. Reformist movement (gerakan reformis) adalah gerakan sosial yang hanya bertujuan mengubah sebagian institusi dan nilai. Contohnya gerakan Sarekat Islam yang didirikan di Surakarta tahun 1911-1912 juga dapat dimasukkan dalam kategori ini karena bertujuan meningkatkan kesempatan usaha dan pendidikan bagi pribumi serta pemahaman mengenai agama Islam.

  3. Conservative movement (gerakan konservatif) adalah gerakan sosial yang bertujuan mempertahankan nilai dan institusi masyarakat. Contohnya usaha aktivis feminist di Amerika Serikat di tahun 80-an untuk melakukan perubahan pada konstitusi demi menjamin persamaan hak yang lebih besar antara laki-laki dan perempuan.

  4. Reactionary movement (gerakan reaksioner) adalah gerakan sosial yang bertujuan untuk kembali ke institusi dan nilai masa lampau dan meninggalkan institusi dan nilai masa kini. Contohnya gerakan Klu Klux Klan di Amerika Serikat. Organisasi rahasia ini berusaha mengembalikan keadaan di Amerika Serikat ke masa lampau ketika institusi sosial mendukung atas keunggulan orang kulit putih di atas orang kulit hitam.

Gerakan sosial dapat didefinisikan sebagai pergerakan yang berupa serangkaian tindakan dengan tujuan yang terencana yang dilakukan oleh kumpulan beragam masyarakat, dimana di dalamnya terdapat aktivitas sosial berupa gerakan sejenis tindakan oleh sekelompok orang dalam bentuk organisasi, berjumlah banyak atau lingkup yang besar serta secara khusus berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan tujuan untuk mendukung maupun menolak adanya sebuah bentuk perubahan sosial di dalam kehidupan masyarakat.

Gerakan Sosial

Gerakan sosial berkaitan erat dengan proses perubahan sosial budaya di dalam kehidupan masyarakat sehari- hari, dimana gerakan sosial bertujuan untuk mewujudkan perubahan sosial dalam rangka menghilangkan krisis social. Gerakan sosial merupakan hasil dialektis dari krisis sosial menuju perubahan social.

Istilah Gerakan Sosial sendiri pada mulanya diperkenalkan pertama kali oleh Lorenz Von Stein, yaitu seorang Sosiolog asal Jerman, dalam bukunya yang berjudul “ Socialist & Communist Movement since the Third French Revolution ”. Pada saat awal kemunculannya, gerakan social bersifat mencakup ruang lingkup yang sangat besar, serta muncul dengan tujuan untuk penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat.

Gerakan social pada dasarnya merupakan istilah yang sangat familiar di dalam kajian ilmu sosiologi. Sosiologi memandang gerakan sosial sebagai salah satu dinamika yang memberikan dampak yang ditimbulkan oleh suatu kelompok maupun organisasi social terhadap kehidupan masyarakat.

Pada perkembangannya di era kontemporer, gerakan sosial merujuk pada pada suatu kelompok maupun organisasi yang secara sadar terorganisir, yang berada di luar system pemerintahan yang sebagaimana berlaku di dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. Dengan kata lain gerakan sosial lebih tampak sebagai bentuk tindakan status quo maupun tindakan yang bersifat perlawanan.

Dalam kehidupan masyarakat sehari- hari, gerakan social dipandang dapat berfungsi sebagai pembentukan opini publik dengan menyuguhkan diskusi-diskusi masalah sosial dan politik , serta mengkombinasikan sejumlah gagasan-gagasan yang terdapat pada gerakan sosial kedalam opini publik yang berpengaruh kuat.

Pengertian Gerakan Sosial

Gerakan sosial adalah gerakan yang lahir dari kondisi masyarakat yang menggambarkan ketidakadilan dan adanya sikap semena-mena maupun sikap yang tidak semestinya terhadap rakyat, sebagai reaksi yang bertujuan menginginkan perubahan kebijakan karena dinilai adanya ketidakadilan.

Gerakan Sosial adalah aksi yang terorganisir dari arti kelompok sosial masyarakat tertentu dalam menghadapi adanya ketimpangan, dimana negara mengabaikan hak-hak rakyat, yang ditandai dengan cara-cara oposisi yaitu di luar jalur pemerintahan atau bahkan yang berlawanan dengan kaidah hukum yang berlaku.

Gerakan sosial adalah upaya bersama yang dilakukan oleh rakyat dalam jumlah massa yang besar, bertujuan untuk melakukan pembaruan pada keadaan sosial politik yang stagnan dari waktu ke waktu.

Pengertian Gerakan Sosial Menurut Para Ahli

Adapun pengertian gerakan sosial menurut para ahli, antara lain:

1. Charles Tily

Gerakan sosial adalah serangkaian aksi yang dilakukan secara terus menerus atau berkelanjutan, yang menunjukkan pertentangan dari masyarakat awam terhadap kelompok lainnya, serta dapat dijadikan sarana utama bagi masyarakat awam untuk turut serta pada kegiatan politik publik.

2. Rudolf Haberle

Gerakan Sosial adalah gerakan bersama yang diakibatkan oleh kekacauan yang dirasakan dalam kehidupan masyarakat serta menimbulkan kegelisahan, kemudian muncul usaha bersama- sama dalam mencapai tujuan yang nyata dan tergambar jelas, yang secara spesifik bertujuan merubah ke dalam bentuk kelembagaan social.

3. Blumer

Gerakan Sosial adalah suatu gerakan yang ditandai dengan adanya rasa kegelisahan yang diakibatkan oleh ketidakpuasan terhadap dinamika kehidupan, yang kemudian gerakan ini memunculkan harapan serta keinginan untuk mencapai tatanan kehidupan yang lebih baik yang dapat dicapai secara kolektif.

4. David F. Aberle

Gerakan Sosial adalah usaha yang terorganisir oleh sekolompok manusia dalam mengupayakan adanya perubahan dalam kehidupan masyarakat sehari- hari, yang di dalamnya tidak hanya mencakup individu- individu melainkan sekelompok manusia yang beraksi lewat kerumunan.

Karakteristik Gerakan Sosial

Gerakan sosial memiliki karakteristik yang membedakannya dengan gerakan lainnya, karakteristik tersebut antara lain:

1. Dilakukan secara kolektif

Kolektif berarti dilakukan lebih dari satu individu yang membentuk kesatuan. Gerakan social pada umumnya dilakukan oleh sekompok orang dalam jumlah yang besar atau banyak.

2. Terorganisir

Gerakan sosial diatur dalam suatu kesatuan, sesuai dengan tatanan atau kaidah yang berlaku. Terorganisir berarti memiliki struktur, tata cara, tujuan, anggota, akses yang terarah dan jelas. Dalam hal ini, terorganisir sama dengan sesuai dengan tujuan yang telah ditentukan.

3. Memiliki Ideologi

Adanya ide-ide maupun pemikiran kemudian memunculkan ideologi yang dapat dijadikan dasar pada sebuah gerakan social. Ideology merupakan konsep yang tersistem yang dijadikan dasar yang memberikan arah dalam kehidupan, yang berupa cara berpikir dari sekelompok orang, meliputi kumpulan arti nilai, ide, norma, kepercayaan, dan keyakinan dalam menentukan tindakan dalam dinamika sosial politik.

4. Dilakukan dalam waktu jangka panjang

Gerakan social pada dasarnya dilakukan dalam jangka waktu yang panjang. Jadi tidak dilakukan dalam waktu yang singkat, tetapi berkelanjutan atau dilakukan secara terus menerus.

5. Bersifat dinamis

Salah satu tujuan dari gerakan sosial adalah merubah sistem atau tatanan social yang berlaku di masyarakat. Dinamis dalam hal ini berarti gerakan sosial bertujuan untuk melakukan pembaruan pada keadaan sosial politik yang dinilai stagnan, jadi tidak cenderung kaku. Selain itu, juga untuk mewujudkan tatanan kehidupan sosial yang baru dan sesuai dengan harapan masyarakat.

6. Mengandung nilai- nilai sosial

Secara mendasar, dalam gerakan sosial mengandung nilai- nilai sosial yang dianut oleh para anggotanya. Mengingat salah satu definisi gerakan social yang mengandung makna bahwa gerakan sosial berfokus pada isu- isu sosial maupun berhubungan dengan aktivitas sosial di masyarakat.

7. Mewujudkan kepentingan bersama

Gerakan sosial dilakukan dengan tujuan untuk kepentingan bersama. Adanya persamaan pandangan dalam suatu kelompok masyaakat memunculkan suatu kepentingan yang sama pula, yang dapat diwujudkan dengan adanya gerakan sosial.