Apa yang dimaksud dengan gas Rumah Kaca?

Gas rumah kaca

Gas rumah kaca adalah gas-gas di atmosfer yang dapat menimbulkan perubahan dalam kesetimbangan radiasi sehingga mempengaruhi suhu atmosfer bumi. Gas-gas tersebut dinamakan gas rumah kaca (GRK) karena kemampuannya dalam menyerap dan memantulkan kembali radiasi gelombang panjang yang bersifat panas seperti yang dilakukan oleh kaca, sehingga menimbulkan efek pemanasan yang disebut efek rumah kaca (ERK).

Gas-gas utama yang yang telah disepakati dalam perjanjian internasional untuk dikurangi konsentrasinya adalah karbon dioksida (CO2), metana (CH4), Nitrous oksida (N2O). Konsentrasi GRK ini semakin meningkat dengan makin meningkatnya kegiatan manusia yang menggunakan bahan bakar fosil (BBF) untuk pembangkit tenaga listrik, transportasi, industri serta kegiatan yang berhubungan dengan alih-guna lahan untuk penyediaan lahan baru bagi pertanian (termasuk perkebunan) dan pemukiman.

Dengan meningkatnya jumlah penduduk dan kegiatan manusia yang makin banyak menggunakan energi, perubahan konsentrasi CO2 menjadi makin tak terkendali hingga menyebabkan peningkatan konsentrasi CO2 yang cukup tajam dari sekitar 280 ppmv pada masa pra-industri hingga konsentrasinya sekarang menjadi 370 ppmv. Peningkatan konsentrasi yang tajam ini membawa dampak langsung terhadap perubahan iklim melalui perubahan suhu dan perubahan distribusi hujan baik dalam skala waktu maupun ruang dengan implikasi sosial-ekonomi yang luas.

Karbon dioksida (CO2) adalah GRK utama yang paling besar jumlahnya yang dihasilkan oleh kegiatan manusia dengan laju emisi yang sangat besar, maka gas ini sering dipakai sebagai standar atau acuan bagi perubahan komposisi atmosfer dan perubahan iklim global. Oleh karena itu pada bab ini, pengkajian hanya dibatasi pada isu pengurangan gas CO2 di atmosfer.

Gas Rumah Kaca adalah gas yang terkandung dalam atmosfer, baik alami maupun dari kegiatan manusia (antropogenik), yang menyerap dan memancarkan kembali radiasi infra merah.

Sebagian radiasi dari matahari dalam bentuk gelombang pendek ini diterima permukaan bumi dan dipancarkan kembali ke atmosfer dalam bentuk radiasi gelombang panjang (radiasi infra merah).

Radiasi gelombang panjang yang dipancarkan matahari yang kemudian oleh GRK (yang ada pada lapisan atmosfer bawah dekat dengan permukaan bumi) akan diserap dan menimbulkan efek panas yang dikenal sebagai “Efek Rumah Kaca”.

Jenis/tipe Gas Rumah Kaca yang keberadaanya di atmosfer berpotensi menyebabkan perubahan iklim global adalah CO2, CH4, N2O, HFCs, PFCs, SF6, dan tambahan gas-gas yaitu NF3, SF5, CF3, C4F9OC2H5, CHF2OCF2OC2F4OCHF2, CHF2OCF2OCHF2, dan senyawa- senyawa halocarbon yang tidak termasuk Protokol Montreal, yaitu CF3I, CH2Br2, CHCl3, CH3Cl, CH2Cl2.

Dari semua jenis gas tersebut, Gas Rumah Kaca utama adalah CO2, CH4, dan N2O.

Dari ketiga jenis gas ini, yang paling banyak kandungannya di atmosfer adalah CO2 sedangkan yang lainnya sangat sedikit sekali.

Pada saat ini, konsentrasi CO2 di atmosfer adalah sekitar 383 ppm (part per million) atau sekitar 0.0383% volume atmosfer. Sedangkan CH4 dan N2O masing-masing 1745 ppb (part per billion) dan 314 ppb atau sekitar 0.000175% dan 0.0000314% volume atmosfer.

Gas Rumah Kaca
Gambar Daftar Gas Rumah Kaca utama

Efek rumah kaca adalah terperangkapnya panas dari radiasi matahari di dalam bumi. Sedangkan gas rumah kaca sendiri adalah gas yang menyebabkan panas itu terperangkap di dalam bumi. Panas dari matahari yang diterima oleh bumi kita seharusnya dipantulkan kembali ke angkasa. Tetapi, adanya gas rumah kaca akan menghalangi sebagian panas tersebut kembali ke angkasa dan membuatnya terperangkap di atmosfer bumi. Sebenarnya, sebagian besar gas rumah kaca adalah gas yang memang secara alamiah ada di atmosfer kita. Namun, karena perubahan perilaku manusia akhir-akhir ini, kadar gas tersebut meningkat sehingga membuat panas yang terperangkap di atmosfer juga lebih banyak lagi. Untuk itulah kita perlu mengatur pola konsumsi kita dalam beberapa hal karena secara tidak langsung dapat meningkatkan kadar gas rumah kaca di udara

Berikut ini adalah empat golongan gas rumah kaca yang ada di atmosfer kita:

  1. Karbon dioksida
    Karbon dioksida adalah gas rumah kaca alami yang paling banyak terdapat dalam atmosfer. Karbon dioksida meningkat seiring dengan bertambahnya pembakaran bahan bakar fosil, limbah, dan sebagainya. Penggunaan alat-alat listrik, transportasi, dan industri dinilai menjadi penyumbang terbesar meningkatnya karbon dioksida. Meski bisa diserap oleh tumbuhan melalui fotosintesis, karbondioksida di atmosfer masih cukup banyak.

  2. Metana (CH4)
    Gas metana adalah gas alami yang timbul akibat pembuatan bahan bakar fosil. Gas ini juga timbul dari limbah dan kotoran hewan ternak. Karena itulah gas ini banyak ditimbulkan oleh industri, pertanian, dan peternakan.

  3. Dinitrogen oksida (N2O)
    Gas alami ini juga ditimbulkan dari pembakaran bahan bakar fosil. Gas ini juga dapat ditimbulkan dari penggunaan nitrogen yang berlebihan dalam pertanian (untuk pupuk sintetis) dan industry.

  4. Gas-gas fluorin (HFC, PFC, SF6)
    Gas-gas ini merupakan gas-gas buatan manusia. Meskipun ada di atmosfer dalam jumlah yang kecil, gas-gas ini memiliki dampak yang cukup besar bagi efek rumah kaca. HFC (Hydroflourocarbon) digunakan sebagai pengganti gas CFC yang dinilai dapat merusak ozon. PFC (Perflourocarbon) dihasilkan akibat pembuatan barang alumunium dan semikonduktor. Sedangkan SF6­ (Sulfur heksaflorida) digunakan dalam berbagai peralatan transmisi tenaga listrik.

Sumber:

Matahari sebagai pusat tata surya memberikan pengaruh yang besar bagi planet-planet yang ada termasuk bumi. Energi matahari memiliki pengaruh yang besar bagi kehidupan di bumi. Sebagian sinar matahari yang menuju ke bumi dibelokan oleh atmoster dan dipantulkan kembali ke luar angakasa dan sebagiannya lagi mencapai permukaan bumi dan dipantulkan ke atmosfer sebagai suatu jenis energi yang bergerak lamban dan disebut radiasi inframerah. Radiasi inframerah ini menyebabkan panas dan diserap oleh gas rumah kaca seperti uap air, karbondioksida, ozon serta metana yang kemudian terjebak di atmosfir sehingga terus mempengaruhi kenaikan suhu di permukaan bumi.

Gas rumah kaca (GRK) adalah gas-gas di atmosfer yang berfungsi sebagai mantel bumi untuk menyerap radiasi matahari di atmosfer sehingga menjaga suhu permukaan bumi tetap hangat. Akan tetapi berlebihnya gas-gas tersebut akan menyebabkan pemanasan yang tidak lazim atau pemanasan global. Gas rumah kaca yang berlebihan ini disebabkan oleh proses alam serta berbagai kegiatan manusia.

Karbondioksida yang berasal dari kegiatan manusia dihasilkan dari pembakaran bahan bakar fosil (minyak, gas alam, dan batu bara), limbah padat, penebangan pohon, produksi kayu dan juga sebagai akibat dari reaksi kimia lainnya. Dalam siklus karbon biologis, karbondioksida dapat diserap oleh tanaman, namun pada kenyataannya banyak terjadi penebangan pohon secara liar tanpa pananaman kembali bahkan kebakaran hutan pun terjadi dalam jumlah yang besar pada beberapa tahun terakhir, sehingga pohon atau tanaman yang seharusnya berfungsi menyerap karbon sebaliknya melepaskan karbon dalam jumlah yang besar ke atmosfer.

Konvensi PBB mengenai perubahan iklim ( United Nations Framework Convention on Climate Change /UNFCC) menyatakan enam gas yang digolongkan sebagai GRK yakni Karbon Dioksida (CO2), Dinitroksida (N2O), Metana (CH4), Sulfurheksafluorida (SF6) dan Perfluorokarbon (PFCs). Semua GRK ini memiliki potensi pemanasan global yang berbeda dan dihasilkan oleh berbagai kegiatan manusia terutama pembakaran bahan bakar fosil dan penggundulan hutan. Hal ini berarti, untuk 1 ton CH4, kekuatan destruktif yang diakibatkan akan mencapai 25 kali dari kekuatan destruktif dari 1 ton CO2. Berikut ini tabel Potensi pemanasan global dari berbagai jenis GRK, diantaranya :

Greenhouse gas GWP over 100 year Typical sources
Carbon dioxide (CO2) 1 Energy combustion, biochemical reaction
Methane (CH4) 25 Decoposition
Nitrous Oxide (N2O) 298 Fertilizers, car emissions, manufacturing
Sulfur hexafluoride (SF6) 22.800 Swith gears, substations
Perfluorocarbon (PFC) 7.390-12.200 Aluminium smelting
Hydrofluorocarbon (HFC) 124-14.800 Refrigerants, industrials gases

Inter-governmental Panel on Climate Change (IPCC) mengelompokkan sumber emisi GRK (Gas Rumah Kaca) dalam 5 kategori sumber yakni energi, proses industri, pertanian, tataguna lahan dan kehutanan, dan limbah.