Apa yang dimaksud dengan Gangguan Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit?

Tiga kategori umum yang menjelaskan abnormalitas cairan tibuh adalah :

  • Volume
  • Osmolalitas
  • Komposisi

Ketidakseimbangan volume terutama mempengaruhi cairan ekstraseluler (ECF) danmenyangkut kehilangan atau bertambahnya natrium dan air dalam jumlah yang relatifsama, sehingga berakibat pada kekurangan atau kelebihan volume ekstraseluler (ECF).

Ketidakseimbangan osmotik terutama mempengaruhi cairan intraseluler (ICF)dan menyangkut bertambahnya atau kehilangan natrium dan air dalam jumlah ang relatif tidak seimbang. Gangguan osmotik umumnya berkaitan dengan hiponatremia dan hipernatremia sehingga nilai natrium serum penting untuk mengenali keadaan ini.

Kadar dari kebanyakan ion di dalam ruang ekstraseluler dapat berubah tanpa disertaiperubahan yang jelas dari jumlah total dari partikel-partikel yang aktif secaraosmotik sehingga mengakibatkan perubahan komposisional.

Apa yang dimaksud dengan Gangguan Keseimbangan Cairan Dan Elektrolit ?

image

Gangguan cairan tubuh dapat dibagi dalam tiga bentuk yakni perubahan :

  1. Volume,
  2. Konsentrasi, dan
  3. Komposisi.

Ketiga macam gangguan tersebut mempunyai hubungan yang erat satu dengan yang lainnya sehingga dapat terjadi bersamaan. Namun demikian, dapat juga terjadi secara terpisah atau sendiri yang dapat member gejala-gejala tersendiri pula. Yang paling sering dijumpai dalam klinik adalah gangguan volume.

1. Perubahan Volume

Defisit Volume

Pada keadaan akut, kehilangan cairan yang cepat akan menimbulkan tanda gangguan pada susunan saraf pusat dan jantung. Pada kehilangan cairan yang lambat, lebih dapat ditoleransi sampai defisit volume cairan ekstraseluler yang berat.

Dehidrasi

Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan kadar konsentrasi serum dari natrium menjadi isonatremik (130-150 mEq/L), hiponatremik (<139 mEq/L) atau hipernatremik (.150 mEq/L). Dehidrasi isonatremik merupakan yang paling sering terjadi (80%), sedangkan dehidrasi hipernatremik atau hiponatremik sekitar 5-10% dari kasus.

Dehidrasi isotonis (isonatremik) terjadi ketika kehilangan cairan hampir sama dengan konsentrasi natrium terhadap darah. Kehilangan cairan dan natrium besarnya relatif sama dalam kompartemen intravascular maupun kompartemen ekstravaskular.3 Dehidrasi hipotonis (hiponatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan hipertonis). Sedangkan dehidrasi hipertonis (hipernatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih sedikit dari darah.

Ditinjau dari segi banyaknya defisit cairan dan elektrolit yang hilang, maka dehidrasi dapat dibagi atas :

  1. Dehidrasi ringan (defisit 4%BB)
  2. Dehidrasi sedang (defisit 8%BB)
  3. Dehidrasi berat (defisit 12%BB)
Berat Badan Jumlah Cairan
< 10 kg 100 ml/kg/hari
11 – 20 kg 1000 ml + 50 ml/kg/hari untuk setiap kg di atas 10 kg
> 20 kg 1500 ml + 20 ml/kg/hari untuk setiap kg di atas 20 kg

Tabel Rumatan Cairan menurut rumus Hollyday-Segar

Cara menghitung dehidrasi yaitu hitung cairan dan elektrolit total (rumatan + penggantian defisit) untuk 24 jam pertama. Berikan separuhnya dalam 8 jam pertama dan selebihnya dalam 16 jam berikutnya.

Kelebihan Volume

Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan suatu kondisi akibat iatrogenic (pemberian cairan intravena seperti NaCl yang menyebabkan kelebihan air dan NaCl ataupun pemberian cairan intravena glukosa yang menyebabkan kelebihan air) ataupun dapat sekunder akibat insufisiensi renal (gangguan GFR), sirosis, ataupun gagal jantung kongestif.

2. Perubahan Konsentrasi

Perubahan konsentrasi cairan tubuh dapat berupa hipernatremia atau hiponatremia maupun hiperkalemia atau hipokalemia.

Rumus untuk menghitung defisit elektrolit :

  • Defisit natrium (mEq total) = (Na serum yang diinginkan – Na serum sekarang) x 0,6 x BB (kg)

  • Defisit Kalium (mEq total) = (K serum yang diinginkan [mEq/liter] – K serum yang diukur) x 0,25 x BB (kg)

  • Defisit Klorida (mEq total) = (Cl serum yang diinginkan [mEq/liter] – Cl serum yang diukur) x 0,45 x BB (kg)

3. Perubahan komposisi

Perubahan komposisi itu dapat terjadi tersendiri tanpa mempengaruhi osmolaritas cairan ekstraseluler. Sebagai contoh misalnya kenaikan konsentrasi K dalam darah dari 4 mEq menjadi 8 mEq, tidak akan mempengaruhi osmolaritas cairan ekstraseluler tetapi sudah cukup mengganggu otot jantung. Demikian pula halnya dengan gangguan ion kalsium, dimana pada keadaan hipokalsemia kadar Ca kurang dari 8 mEq, sudah akan timbul kelainan klinik tetapi belum banyak menimbulkan perubahan osmolaritas.

Gangguan Keseimbangan Air dan Elektrolit


Gangguan keseimbangan air dan elektrolit dapat terjadi karena:

  • Gastroenteritis, demam tinggi ( DHF, difteri, tifoid )
  • Kasus pembedahan ( appendektomi, splenektomi, section cesarea, histerektomi )
  • Penyakit lain yang menyebabkan pemasukan dan pengeluaran tidak seimbang ( kehilangan cairan melalui muntah )

Dehidrasi

Dehidrasi merupakan keadaan dimana kurangnya terjadi kekurangan jumlah cairan tubuh dari jumlah normal akibat kehilangan, aasupan yang tidak memadai atau kombinasi keduanya. Menurut jenisnya dehidrasi dibagi atas ;

  • Dehidrasi hipotonik
  • Dehidrasi hipertonik
  • Dehidrasi isotonik

Sedangkan menurut derajat beratnya dehidrasi yang didasarkan pada tanda interstitial dan tanda intravaskuler yaitu ;

  • Dehidrasi ringan ( defisit 4% dari BB)
  • Dehidrasi sedang ( defisit 8% dari BB)
  • Dehidrasi berat ( defisit 12% dari BB)
  • Syok ( defisit dari 12% dari BB)

Defisit cairan interstitial dengan gejala sebagai berikut :

  • Turgor kulit yang jelek
  • Mata cekung
  • Ubun-ubun cekung
  • Mukosa bibir dan kornea kering

Defisist cairan intravaskuler dengan gejala sebagai berikut :

  • Hipotensi, takikardi
  • Vena-vena kolaps
  • Capillary refill time memanjang
  • Oliguri
  • Syok ( renjatan)

Dehidrasi hipotonik ( hiponatremik )

  • Pada anak yang diare yang banyak minum air atau cairan hipotonik atau diberi infus glukosa 5%
  • Kadar natrium rendah ( <130 mEq/L)
  • Osmolaritas serum < 275 mOsm/L
  • Letargi, kadang- kadang kejang

Dehidrasi hipertonik

  • Biasa terjadi setelah intake cairan hipertonik ( natrium, laktosa ) selama diare
  • Kehilangan air >> kehilangan natrium
  • Konsentrasi natrium > 150 mmol/ L
  • Osmolaritas serum meningkat > 295 mOsm/L
  • Haus, irritable
  • Bila natrium serum mencapai 165 mmol/L dapat terjadi kejang

Berikut tabel yang menggambarkan tentang beberapa gangguan elektrolit.

Ion dan batas CES normal ( mEq/L) Terganggu ( mEq/L) Gejala- gejala Penyebab
Natrium ( 136- 142) Hipernatremia ( >150) Haus, kulit kering dan mengkerut, penurunan tekanan dan volume darah, bahkan kolaps sirkulasi Dehidrasi, kehilangan cairan hipotonik
Hiponatremia (<130) Gangguan fungsi SSP (intoksikasi air konfusi, halusinasi, kejang, koma, kematian pada beberapa kasus Infuse atau ingesti solusi hipotonik dalam jumlah besar
Kalium ( 3,8-5,0) Hiperkalemia ( >8) Aritmia jantung berat Gagal ginjal, penggunaaan diuretic, asidosis kronik
Hipokalemia ( <2) Kelemahan dan paralysis otot Diet rendah kalium. Diuretik dan hipersekresi aldosteron
Kalsium ( 4,5-5,3) Hiperkalsemia ( >11) Konfusi, nyeri otot, aritmia jantung, batu ginjal, kalsifikasi pada jaringan lunak Hiperparatiroid, kanker, toksisitas vit. D. suplemen kalsium dengan dosis yang

Gangguan Keseimbangan Cairan Tubuh


Tubuh manusia pada kelahiran mengandungi sekitar 75% berat cairan. Di usia satu bulan, nilai ini menurun menjadi 65% dan pada saat dewasa berat cairan dalam tubuh manusia bagi pria adalah 60% dan wanita pula sekitar 50%. Selain itu, faktor kandungan lemak juga mengkontribusi kepada kandungan cairan dalam tubuh. Semakin tinggi jumlah lemak yang terdapat dalam tubuh, seperti pada wanits, semakin ssemakin kurang kandungan cairan yang ada.

Nilai normal ambilan cairan dewasa adalah sekitar 2500ml, termasuk 300ml hasil metabolism tenaga susbtrat. Rata-rata kehilangan cairan adalah sebanyak 2500ml dimana ia terbahagi kepada 1500ml hasil urin, 400ml terevaporasi lewat respiratori, 400ml lewat evaporasi kulit, 100ml lewat peluh dan 100ml melalui tinja. Kehilangan cairan lewat evaporasi adalah penting kerna ia memainkan peranan sebagai thermoragulasi, dimana ia mengkontrol sekitar 20-25% kehilangan haba tubuh. Perubahan pada kesimbanngan cairan dan volume sel bisa menyebabkan impak yang serius seperti kehilangan fungsi pada sel, terutama ada otak.

Bentuk gangguan yang paling sering terjadi adalah kelebihan atau kekurangan cairan yang mengakibatkan perubahan volume

1. Overhidrasi

Air, seperti subtrat lain, berubah menjadi toksik apabila dikonsumsi secara berlebihan dalam jangka waktu tertentu. Intoksikasi air sering terjadi bila cairan di konsumsi tubuh dalam kadar tinggi tanpa mengambil sumber elektrolit yang menyeimbangi kemasukan cairan tersebut.

Overhidrasi terjadi jika asupan cairan lebih besar daripada pengeluaran cairan. Kelebihan cairan dalam tubuh menyebabkan konsentrasi natrium dalam aliran darah menjadi sangat rendah.Penyebab overhidrasi meliputi, adanya gangguan ekskresi air lewat ginjal (gagal ginjal akut), masukan air yang berlebihan pada terapi cairan, masuknya cairan irigator pada tindakan reseksi prostat transuretra, dan korban tenggelam.

Gejala overhidrasi meliputi, sesak nafas, edema, peningkatan tekanan vena jugular, edema paru akut dan gagal jantung. Dari pemeriksaan lab dijumpai hiponatremi dalam plasma. Terapi terdiri dari pemberian diuretik(bila fungsi ginjal baik), ultrafiltrasi atau dialisis (fungsi ginjal menurun), dan flebotomi pada kondisi yang darurat.

2. Dehidrasi

Dehidrasi merupakan suatu kondisi defisit air dalam tubuh akibat masukan yang kurang atau keluaran yang berlebihan. Kondisi dehidrasi bisa terdiri dari 3 bentuk, yaitu: isotonik (bila air hilang bersama garam, contoh: GE akut, overdosis diuretik), hipotonik (Secara garis besar terjadi kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan air yang hilang. Karena kadar natrium serum rendah, air di kompartemen intravaskular berpindah ke ekstravaskular, sehingga menyebabkan penurunan volume intravaskular), hipertonik (Secara garis besar terjadi kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan natrium yang hilang. Karena kadar natrium tinggi, air di kompartemen ekstravaskular berpindah ke kompartemen intravaskular, sehingga penurunan volume intravaskular minimal).

Pada pemeriksaan laboratorium menunjukkan hipernatremia dan peningkatan
hematokrit.

Terapi dehidrasi adalah mengembalikan kondisi air dan garam yang hilang. Jumlah dan jenis cairan yang diberikan tergantung pada derajat dan jenis dehidrasi dan elektrolit yang hilang. Pilihan cairan untuk koreksi dehidrasi adalah cairan jenis kristaloid RL atau NaCl.

Gangguan Keseimbangan Elektrolit


Gangguan keseimbangan elektrolit yang umum yang sering ditemukan pada kasus-kasus di rumah sakit hanyalah beberapa sahaja. Keadaan-keadaan tersebut adalah:

1. Hiponatremia
Hiponatremia selalu mencerminkan retensi air baik dari peningkatan mutlak dalam jumlah berat badan ( total body weight , TBW) atau hilangnya natrium dalam relatif lebih hilangnya air. Kapasitas normal ginjal untuk menghasilkan urin encer dengan osmolalitas serendah 40 mOsm / kg (berat jenis 1,001) memungkinkan mereka untuk mengeluarkan lebih dari 10 L air gratis per hari jika diperlukan. Karena cadangan yang luar biasa ini, hiponatremia hampir selalu merupakan efeknya dari akibat kapasitas pengenceran urin tersebut (osmolalitas urin> 100 mOsm / kg atau spesifik c gravitasi> 1,003).

Kondisi hiponatremia apabila kadar natrium plasma di bawah 130mEq/L. Jika < 120 mg/L maka akan timbul gejala disorientasi, gangguan mental, letargi, iritabilitas, lemah dan henti pernafasan, sedangkan jika kadar < 110 mg/L maka akan timbul gejala kejang, koma. Antara penyebab terjadinya Hiponatremia adalah euvolemia (SIADH, polidipsi psikogenik), hipovolemia (disfungsi tubuli ginjal, diare, muntah, third space losses, diuretika), hipervolemia (sirosis, nefrosis). Terapi untuk mengkoreksi hiponatremia yang sudah berlangsung lama dilakukan secara perlahan-lahan, sedangkan untuk hiponatremia akut lebih agresif.

Dosis NaCl yang harus diberikan, dihitung melalui rumus berikut:

NaCl = 0,6( N-n) x BB

N = Kadar Na yang diinginkan

n = Kadar Na sekarang

BB = berat badan dalam kg

Tabel Gradasi Hiponatremia

Gradasi Gejala Tanda
Ringan ( Na 105-118) Haus Mukosa kering
Sedang (Na 90-104) Sakit kepala, mual, vertigo Takikardi, hipotensi
Berat (Na <90) Apatis, koma Hipotermi

Pertimbangan Anestesi
Hiponatremia sering merupakan manifestasi dari gangguan yang medasari sebuah penyakit, justeru memerlukan evaluasi pra operatif yang amat teliti. Konsentrasi natrium plasma lebih besar dari 130 mEq / L biasanya dianggap aman untuk pasien yang menjalani anestesi umum. Dalam sebagian besar keadaan, plasma [Na +] harus diperbaiki untuk lebih dari 130 mEq / L untuk prosedur elektif, tanpa adanya gejala neurologis. Konsentrasi yang lebih rendah dapat menyebabkan edema serebral signifikan yang dapat dimanifestasikan secara intraoperatif sebagai penurunan konsentrasi alveolar minimum atau pasca operasi sebagai agitasi, kebingungan, atau mengantuk. Pasien yang menjalani reseksi transurethral dari prostat dapat menyerap jumlah air yang banyak dari cairan irigasi (sebanyak 20 mL / menit) dan berada pada risiko tinggi untuk pengembangan cepat yang mendalam keracunan air akut.

Pasien hiponatremia amat sensitif terhadap vasodilatasi dan efek inotropik negatif dari anestesi uap, propofol, dan agen terkait dengan pelepasan histamin (morfin, meperidine). Persyaratan dosis untuk obat lain juga harus dikurangi untuk mengimbangi penurunan volume distribusi. Pasien hiponatremia sangat sensitif terhadap blokade simpatik dari anestesi spinal atau epidural. Jika anestesi harus diberikan sebelum koreksi yang memadai hipovolemia, etomidate atau ketamin mungkin agen induksi pilihan untuk anestesi umum.

2. Hipernatremia

Hiperosmolalitas terjadi setiap kali total kandungan tubuh terlarut meningkatkan relatif terhadap TBW dan biasanya, tapi tidak selalu, berhubungan dengan hipernatremia ([Na +]> 145 mEq / L). Hiperosmolalitas tanpa hipernatremia dapat dilihat selama hiperglikemia ditandai atau mengikuti akumulasi zat osmotik aktif normal dalam plasma. Konsentrasi natrium plasma dapat benar-benar berkurang karena air diambil dari intraseluler ke kompartemen ekstraseluler. Untuk setiap 100 mg peningkatan / dL pada konsentrasi glukosa plasma, natrium plasma menurun sekitar 1,6 mEq / L. Hipernatremia hampir selalu merupakan hasil dari baik kerugian relatif air lebih dari natrium (hipotonik cairan rugi) atau retensi dalam jumlah besar natrium. Bahkan ketika kemampuan berkonsentrasi ginjal terganggu, haus biasanya sangat efektif dalam mencegah hipernatremia. Hipernatremia karena itu paling sering terlihat pada pasien lemah yang tidak dapat minum, sangat tua, yang sangat muda, dan pasien dengan gangguan kesadaran. Pasien dengan hipernatremia mungkin memiliki konten natrium tubuh total yang rendah, normal, atau tinggi.

Jika kadar natrium > 150 mg/L maka akan timbul gejala berupa perubahan mental, letargi, kejang, koma, lemah. Manifestasi neurologis akan mendominasi dahulu pada pasien dengan hipernatremia dan umumnya diduga hasil dari dehidrasi selular. Gelisah, lesu, dan hyperreflexia dapat berkembang menjadi kejang, koma, dan akhirnya kematian. Gejala berkorelasi lebih dekat dengan laju pergerakan air keluar dari sel-sel otak daripada tingkat absolut hipernatremia. Cepat penurunan volume otak akan menyebabkan pembuluh darah otak pecah dan mengakibatkan fokus perdarahan intraserebral atau subarachnoid. Kejang dan kerusakan saraf serius yang umum, terutama pada anak-anak dengan hipernatremia akut ketika plasma [Na +] melebihi 158 mEq / L. Hipernatremia kronis biasanya ditoleransi lebih baik berbanding dengan bentuk akut.

Hipernatremi dapat disebabkan oleh kehilangan cairan (yang disebabkan oleh diare, muntah, diuresis, diabetes insipidus, keringat berlebihan), asupan air kurang, asupan natrium berlebihan. Pengobatan hipernatremia bertujuan untuk mengembalikan osmolalitas plasma normal serta mengoreksi penyebab yang mendasari. Defisit air umumnya harus diperbaiki dalam 48 jam dengan larutan hipotonik seperti 5% dextrose dalam air. Kelainan pada volume ekstraseluler juga harus diperbaiki. Namun, koreksi yang cepat dari hipernatremia dapat mengakibatkan kejang, edema otak, kerusakan saraf permanen, dan bahkan kematian. Justeru pemberian serial Na + osmolalitas harus diperoleh selama pengobatan. Secara umum, penurunan konsentrasi natrium plasma tidak harus melanjutkan pada tingkat yang lebih cepat dari 0,5 mEq / L / jam.1 Terapi keadaan ini adalah penggantian cairan dengan 5% dekstrose dalam air sebanyak {(X-140) x BB x 0,6}: 140.

Pertimbangan anestesi
Hasil kajian mendapatkan hipernatremia akan meningkatkan konsentrasi alveolar minimum pada anestesi inhalasi pada hewan percobaan, tetapi signifikasi klinisnya lebih mendekati dengan defisit cairan yang terkait. Hipovolemia akan lebih terlihat pada setiap vasodilatasi atau depresi jantung dari agen anestesi dan predisposisi hipotensi dan hipoperfusi jaringan. Penurunan volume distribusi untuk obat memerlukan pengurangan dosis untuk sebagian besar agen intravena, sedangkan penurunan cardiac output meningkatkan penyerapan anestesi inhalasi. Operasi elektif harus ditunda pada pasien dengan hipernatremia yang signifikan (> 150 mEq / L) sampai penyebabnya didirikan dan defisit cairan dikoreksi. Air dan defisit cairan isotonik harus diperbaiki sebelum operasi elektif.

3. Hipokalemia

Nilai normal Kalium plasma adalah 3,5-4,5 mEq/L. Disebut hipokalemia apabila kadar kalium <3,5mEq/L. Dapat terjadi akibat dari redistribusi akut kalium dari cairan ekstraselular ke intraselular atau dari pengurangan kronis kadar total kalium tubuh. Tanda dan gejala hipokalemia dapat berupa disritmik jantung, perubahan EKG (QRS segmen melebar, ST segmen depresi, hipotensi postural, kelemahan otot skeletal, poliuria, intoleransi glukosa. Terapi hipokalemia dapat berupa koreksi faktor presipitasi (alkalosis, hipomagnesemia, obat-obatan), infuse potasium klorida sampai 10 mEq/jam (untuk mild hipokalemia >2 mEq/L) atau infus potasium klorida sampai 40 mEq/jam dengan monitoring oleh EKG (untuk hipokalemia berat;<2mEq/L disertai perubahan EKG, kelemahan otot yang hebat).

Rumus untuk menghitung defisit kalium:

K = K1 - (K0 x 0,25 x BB)

K = kalium yang dibutuhkan

K1 = serum kalium yang diinginkan

K0 = serum kalium yang terukur

BB = berat badan (kg)

Pertimbangan anestesi

Hipokalemia merupakan temuan pra operasi umum. Keputusan untuk melanjutkan dengan operasi elektif sering didasarkan pada plasma lebih rendah [K +] antara 3 dan 3,5 mEq/ L. Keputusan, bagaimanapun, juga harus didasarkan pada tingkat perkemkembangan hipokalemia serta ada atau tidak adanya disfungsi organ sekunder. Secara umum, hipokalemia ringan kronis (3-3,5 mEq / L) tanpa perubahan EKG tidak meningkatkan risiko anestesi. Namun ini mungkin tidak berlaku untuk pasien yang menerima digoksin, yang mungkin mempunyai peningkatan risiko mengembangkan lagi toksisitas digoxin dari hipokalemia tersebut. Maka nilai plasma [K +] di atas 4 mEq / L yang diinginkan pada pasien tersebut. Manajemen intraoperatif hipokalemia membutuhkan pemantauan EKG yang teliti dan berwaspada. Kalium intravena harus diberikan jika atrium atau ventrikel aritmia terjadi. Solusi intravena glukosa bebas harus digunakan dan hiperventilasi harus dihindari untuk mencegah penurunan lebih lanjut dalam plasma [K +]. Peningkatan sensitivitas terhadap blocker neuromuskuler (NMBS) akan dapat dilihat pada status hipokalemia, oleh karena itu dosis NMBS harus dikurangi 25-50%, dan stimulator saraf harus digunakan untuk mengikuti tingkat kelumpuhan dan kecukupan reversinya.

4. Hiperkalemia

Kalium (K+) memainkan peran utama dalam elektrofisiologi dari membran sel serta karbohidrat dan protein sintesis. Potensial membran sel istirahat biasanya tergantung pada rasio intraseluler dan ekstraseluler konsentrasi kalium. Konsentrasi kalium intraseluler diperkirakan 140 mEq / L, sedangkan konsentrasi kalium ekstraseluler biasanya sekitar 4 mEq / L. Dalam beberapa kondisi, redistribusi K+ antara cairan ekstraselular dan kompartemen cairan intraselular dapat mengakibatkan perubahan yang nyata dalam ekstraseluler K+ tanpa perubahan total konten kalium tubuh.

Hiperkalemia adalah jika kadar kalium > 5 mEq/L. Hiperkalemia sering terjadi karena insufisiensi renal atau obat yang membatasi ekskresi kalium (NSAIDs, ACE-inhibitor, siklosporin, diuretik). Tanda dan gejalanya terutama melibatkan susunan saraf pusat (parestesia, kelemahan otot) dan sistem kardiovaskular (disritmik, perubahan EKG). Efek paling penting dari hiperkalemia berada di otot rangka dan jantung. Kelemahan otot rangka pada umumnya tidak terlihat sampai plasma [K +] lebih besar dari 8 mEq / L, dan karena depolarisasi berkelanjutan spontan dan inaktivasi kanal Na + membran otot, akhirnya mengakibatkan kelumpuhan.3 Perubahan EKG berlaku secara berurutan dari simetris memuncak gelombang T (sering dengan interval QT memendek) → pelebaran kompleks QRS
→ perpanjangan interval P-R → hilangnya gelombang P → hilangnya amplitudo R-gelombang
→ depresi segmen ST (kadang-kadang elevasi) → EKG yang menyerupai gelombang sinus,

sebelum perkembangan fibrilasi ventrikel dan detak jantung. Kontraktilitas dapat relatif baik dipertahankan sampai akhir dalam perjalanan hiperkalemia progresif. Hipokalsemia, hiponatremia, dan asidosis menonjolkan efek jantung hiperkalemia

Tabel Gambaran EKG berdasarkan Kadar K Plasma

Kadar K plasma Gambaran EKG
5,5-6 mEq/L Gelombang T tinggi
6-7 mEq/L P-R memanjang dan QRS melebar
7-8 mEq/L P mengecil & takikardi ventrikel
>8 mEq/L Fibrilasi ventrikel

Bila kadar K plasma <6,5mEq/L diberikan: Diuretik, Natrium bikarbonat, Ca glukonas, glukonas-insulin, Kayekselate. Bila dalam 6 jam belum tampak perbaikan, dilakukan hemodialisis. Bila fungsi ginjal jelek, pertimbangkan hemodialisis lebih dini. Pada kadar K plasma >6,5 mEq/L, segera lakukan dialisis.

Pertimbangan Anestesi

Operasi elektif sebaiknya tidak dilakukan pada pasien dengan hiperkalemia signifikan. Manajemen anestesi pasien bedah hiperkalemia diarahkan pada menurunkan konsentrasi kalium plasma dan mencegah kenaikan lebih lanjut. EKG harus hati-hati dipantau. Suksinilkolin merupakan kontraindikasi, seperti penggunaan setiap solusi intravena yang menagndungi kalium seperti injeksi Ringer laktat. Menghindari asidosis metabolik atau respiratorik sangat penting untuk mencegah kenaikan lebih lanjut dalam plasma [K +]. Ventilasi harus dikontrol dengan anestesi umum, dan hiperventilasi ringan mungkin diinginkan. Terakhir, fungsi neuromuskular harus dipantau secara ketat, karena hiperkalemia dapat menonjolkan efek NMBS.

5. Hipokalsemia

Meskipun 98% dari total kalsium tubuh dalam tulang, pemeliharaan konsentrasi kalsium ekstraseluler normal adalah penting untuk homeostasis. Ion kalsium terlibat dalam fungsi biologis hampir semua penting, termasuk kontraksi otot, pelepasan neurotransmitter dan hormon, pembekuan darah, dan metabolisme tulang, dan kelainan pada keseimbangan kalsium dapat mengakibatkan derangements fisiologis yang mendalam.

Asupan kalsium pada orang dewasa rata-rata 600-800 mg / d. Penyerapan kalsium terjadi di usus terutama di usus kecil proksimal tetapi adalah variabel. Kalsium juga disekresi ke dalam saluran usus, dimana sekresi ini tampaknya konstan dan independen dari penyerapan. Hingga 80% dari asupan kalsium harian biasanya hilang dalam feses. Ginjal bertanggung jawab untuk sebagian besar ekskresi kalsium. Rata-rata ekskresi kalsium ginjal 100 mg / d namun dapat bervariasi dari serendah 50 mg / d ke lebih dari 300 mg / d. Biasanya, 98% dari kalsium disaring dan diserap kembali. Reabsorpsi kalsium paralel dengan natrium dalam tubulus ginjal proksimal dan loop menaik Henle. Di tubulus distal, bagaimanapun, reabsorpsi kalsium tergantung pada hormon paratiroid (PTH) sekresi, sedangkan reabsorpsi natrium tergantung pada sekresi aldosteron. tingkat PTH meningkat meningkatkan reabsorpsi kalsium distal dan dengan demikian menurunkan ekskresi kalsium urin.

90% kalsium terikat dalam albumin, sehingga kondisi hipokalsemia biasanya terjadi pada pasien dengan hipoalbuminemia. Hipokalsemia disebabkan karena hipoparatiroidism, kongenital, idiopatik, defisiensi vit D, defisiensi 125(OH)2D3 pada gagal ginjal kronik, dan hiperfosfatemia. Manifestasi dari hipokalsemia termasuk kulit kering, parestesia, gelisah dan kebingungan, gangguan irama jantung, laring stridor (spasme laring), tetani dengan spasme karpopedal (tanda Trousseau), masseter spasme (Tanda Chvostek), dan kejang. kolik bilier dan bronkospasme. EKG dapat mengungkapkan irritasi jantung atau interval QT perpanjangan yang mungkin tidak berkorelasi antara tingkat keparahan dengan tingkat hipokalsemia. Penurunan kontraktilitas jantung dapat mengakibatkan gagal jantung, hipotensi, atau keduanya. Penurunan respon terhadap digoxin dan β-adrenergik agonis juga dapat terjadi.

Seperti yang diketahui, hipokalsemia adalah suatu kondisi yang gawat darurat karena menyebabkan kejang umum dan henti jantung. Dapat diberikan 20-30 ml preparat kalsium glukonas 10% atau CaCl 10% dapat diulang 30-60 menit kemudian sampai tercapai kadar kalsium plasma yang optimal. Pada kasus kronik, dapat dilanjutkan dengan terapi per oral.

Pertimbangan anestesi
Hipokalsemia yang signifikan harus diperbaiki sebelum operasi. Kadar kalsium terionisasi harus dipantau intraoperatif pada pasien dengan riwayat hipokalsemia. Alkalosis harus dihindari untuk mencegah penurunan lebih lanjut dalam Ca 2+. Kalsium intravena mungkin diperlukan seiring transfusi darah sitrat atau pada solusi albumin dengan jumlah besar. Potensiasi efek inotropik negatif dari barbiturat dan anestesi volatile harus diintipasi. Respon untuk NMBS adalah tidak konsisten dan memerlukan pemantauan ketat dengan stimulator saraf.