Apa yang dimaksud dengan gangguan kepribadian ambang atau Borderline personality disorder ?

Borderline personality disorder

Borderline personality disorder (BPD) atau gangguan kepribadian ambang adalah sebuah kondisi yang muncul akibat terganggunya kesehatan mental seseorang. Kondisi ini berdampak pada cara berpikir dan perasaan terhadap diri sendiri maupun orang lain, serta adanya pola tingkah laku abnormal.

BPD dapat menimbulkan gangguan fungsi seseorang menjalankan kehidupan sehari-hari dan hubungan interpersonal dengan sekitarnya. Gangguan ini umumnya muncul pada periode menjelang usia dewasa, namun dapat juga membaik seiring bertambahnya usia.

Apa yang dimaksud dengan gangguan kepribadian ambang atau Borderline personality disorder ?

1 Like

Penderita BPD dapat memiliki perasaan takut ditinggalkan, ditolak, cemas, marah, merasa tidak berarti, dan kecenderungan menyakiti diri sendiri maupun orang lain. Tindakan impulsif, perubahan mood yang sering terjadi, serta rendahnya citra diri ini menyebabkan penderita kesulitan mempertahankan hubungan yang berkomitmen dan bertahan lama.

Penyebab BPD (Borderline Personality Disorder)


Penyebab pasti BPD belum dapat diketahui dengan jelas. Diperkirakan riwayat pelecehan atau penyiksaan yang dialami semasa kecil memiliki keterkaitan dengan terjadinya BPD. Hal lain yang juga terkait dengan BPD adalah faktor genetik. Menurut beberapa penelitian, riwayat gangguan kepribadian yang dimiliki oleh salah satu anggota keluarga kemungkinan dapat diwariskan melalui gen ke anggota keluarga lain.

Beberapa penelitian juga menunjukkan perubahan pada beberapa area di otak, terutama yang berperan mengatur sisi emosi, agresi, dan impulsif seseorang, dapat dikaitkan dengan kemunculan kondisi BPD. Selain itu, penurunan fungsi dari zat-zat kimia pada otak, seperti serotonin, juga dikaitkan dengan BPD. Serotonin berfungsi mengendalikan suasana hati (mood).

Gejala BPD (Borderline Personality Disorder)


Borderline personality disorder (BPD) dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku seseorang. Gejala-gejala yang dapat muncul antara lain:

  • Merasa takut diabaikan sehingga membuat penderitanya menghindari perpisahan, kritik, atau penolakan.

  • Perubahan citra dan identitas diri yang berlangsung dengan cepat sehingga memengaruhi nilai-nilai dan tujuan yang diketahuinya. Penderita BPD dapat memandang dirinya sebagai sosok yang buruk, menyerupai sosok antagonis di dalam sebuah film.

  • Mengalami periode stres yang memicu paranoia, serta kehilangan hubungan dengan kenyataan yang dapat berlangsung hingga beberapa jam.

  • Mengalami perubahan suasana hati yang berlangsung hingga berhari-hari.

  • Memiliki perilaku impulsif yang berisiko dan terkadang berbahaya, seperti judi, hubungan seksualyang tidak aman, mengemudi dengan ceroboh, atau boros. Seseorang dengan BPD dapat berhenti dari pekerjaannya tanpa alasan yang jelas atau mengakhiri hubungan asmara yang pada dasarnya baik.

  • Mudah kehilangan kesabaran dan menjadi sangat marah hingga dapat memicu pertengkaran atau perkelahian.

  • Merasakan kekosongan secara psikologis yang berlangsung terus-menerus.

  • Dapat berperilaku menyakiti diri sendiri hingga bunuh diri sebagai reaksi dari penyaluran amarah, menghukum diri sendiri, rasa takut ditinggalkan, atau penolakan.


Penderita BPD cenderung berperilaku impulsif saat sakit hati karena setelah melakukannya muncul suatu perasaan lega. Lama kelamaan, penderita BPD semakin terpicu untuk berperilaku impulsif saat sakit hati. Siklus tidak sehat ini dapat dimulai dan terus berlangsung ketika penderita BPD kemudian merasa malu dan bersalah atas tindakannya, lalu kembali melakukan tindakan-tindakan yang bersifat impulsif agar dapat merasa lebih baik. Tindakan ini dapat berkembang menjadi kebiasaan yang dilakukan untuk menghindari rasa sakit secara emosional.

Gangguan kepribadian ambang (Borderline Personality Disorder) adalah gangguan kepribadian yang mempunyai ciri-ciri utama berupa impulsivitas dan ketidakstabilan hubungannya dengan orang lain dan mood (Sanislow, Grilo, & McGlashan, 2000).

Gangguan ambang ini pada umumnya bermula pada masa remaja atau dewasa awal dan lebih sering terjadi kepada wanita daripada kepada pria dengan prevalensi 1 persen (Swartz dkk, 1990; Torgesen, Kringlen, & Cramer, 2001). Orang dengan gangguan kepribadian ambang cenderung tidak yakin akan identitas pribadi mereka (berupa nilai, tujuan, karier, dan bahkan mungkin orientasi seksual).

Ketidakstabilan dalam self-image atau identitas pribadi membuat mereka dipenuhi perasaan kekosongan dan kebosanan yang terus menerus. Mereka tidak dapat mentoleransi berada dalam keendirian dan akan melakukan usaha-usaha nekat untuk menghindari perasaan ditinggalkan (Gunderson, 1996).

Ketakutan akan ditinggalkan menjadikan mereka pribadi yang melekat dan menuntut dalam hubungan sosial mereka, namun kelekatan mereka sering kali malah menjauhkan orang-orang yang menjadi tumpuan mereka. Tanda-tanda penolakan membuat mereka sangat marah, yang membuat hubungan mereka menjadi lebih jauh lagi. Akibatnya perasaan mereka terhadap orang lain menjadi mendalam dan berubah-ubah.

Mereka silih berganti antara melakukan pemujaan yang ekstrem (saat kebutuhan mereka terpenuhi) dengan memendam kebencian (saat mereka diabaikan). Individu dengan gangguan kepribadian ambang cenderung menilai orang lain sebagai semua tentangnya baik atau semua tentangnya buruk serta dapat berubah-ubah dengan cepat dari satu ekstrem ke ekstrem lain. Sebagai hasilnya, mereka akan terbang dari satu pasangan ke pasangan lain dalam suuatu seri hubungan yang singkat dan menggebu-gebu.

Orang yang dipuja oleh individu dengan gangguan kepribadian ambang akan diperlakukan dengan kebencian saat hubungan berakhir atau saat mereka merasa orang tersebut gagal dalam memenuhi kebutuhan mereka (Gunderson dan Singer, 1986).

Sejumlah teoritikus yakin bahwa kita hidup dalam hidup yang sangat terfragmentasi dan teralienasi yang cenderung menciptakan masalah dalam pembentukan identitas yang kohesif dan hubungan yang stabil yang menandai orang dengan kepribadian ambang (Sass, 1982).

“Tinggal di ujung” (Living in the edge) atau ambang dapat dilihat sebagai metafora bagi suatu masyarakat yang tidak stabil. Gangguan kepribadian ambang diyakini terjadi pada sekitar 2% dari populasi umum (APA, 2000). Meskipun diagnosis diberikan lebih sering (sekitar 75% pada suatu waktu) pada perempuan, perbedaan gender pada tingkat prevalensi BPD dalam populasi umum tidaklah diketahui.

Istilah kepribadian ambang awalnya digunakan untuk merujuk pada individu yang perilakunya berada pada batas antara neurosis dan psikosis. Orang dengan gangguan kepribadian ambang umumnya dapat membina kontak dengan realitas secara lebih baik daripada orang dengan psikosis, meski mereka tampak menunjukkan perilaku psikotik singkat selama masa stress.

Pada umumnya, mereka tampak mengalami hendaya yang lebih parah daripada kebanyakan orang dengan neurosis namun tidak menunukkan disfungsi sebagaimana yang ditunjukkan orang dengan neurosis namun tidak menunjukkan disfungsi sebagaimana yang ditunjukkan orang dengan gangguan psikotik.

Ketidakstabilan mood merupakan karakteristik sentral dari gangguan kepribadian ambang (Sanislow dkk, 2000). Mood berkisar dari kemarahan dan iritabilitas sampai pada depresi dan kecemasaan, yang masing–masing berlangsung dari beberapa jam hingga beberapa hari. Individu dengan BPD memiliki kesulitan dalam mengendalikan kemarahan dan rentan terhadap perkelahian dan perselisihan. Mereka sering bertindak atas dasar impuls. Perilaku impuls dan tidak dapat diprediksi ini sering kali bersifat self- destructive, meliputi perilaku-perilaku seperti self mutilation, isyarat-isyarat bunuh diri, serta percobaan bunuh diri yang aktual.

Self mutilation pada individu dengan gangguan kepribadian ambang terkadang dimunculkan sebagai ekspresi kemarahan atau sebagai sarana memanipulasi orang lain. Tindakan seperti itu mungkin dimaksudkan untuk mengatasi perasaan seperti “mati rasa”, terutama pada saat stress. Tidak mengherankan, self mutilation yang sering terjadi pada individu yang menderita BPD terkait dengan meningkatnya risiko akan pikiran – pikiran untuk bunuh diri (Dulit dkk., 1994)

Individu dengan BPD cenderung untuk memiliki hubungan yang bermasalah dengan keluarga asal mereka dan dengan orang lain. Mereka banyak memiliki riwayat pengalaman traumatis semasa kanak-kanak, seperti kehilangan atau perpisahan dengan orang tua, penganiayaan, pengabaian, atau menyaksikan kekerasan (Liotti, 2000). Merek cenderung melihat hubungan hubungan mereka sebagai wajar bila disertai kekerasan dan cenderung menganggap orang lain telah menolak atau meninggalkan mereka (Benjamin & Wonderlich, 1994).

Gangguan kepribadian ambang ( borderline ) merupakan gangguan dimana penderita ini terkadang memiliki niatan untuk menyakiti diri sendiri, perubahan emosi yang tidak menentu.

Gangguan kepribadian ambang atau gangguan kepribadian emosional tak stabil adalah kecenderungan yang mencolok untuk bertindak secara impulsif tanpa mempertimbangkan konsekuensi, bersamaan dengan ketidakstabilan efek.

Gangguan kepribadian ambang adalah kemampuan merencenakan sesuatu mungkin minimal & ledakan kemarahan yang hebat seringkali dapat menjurus kepada kekerasan atau ledakan perilaku Hal ini mudah ditimbulkan jika kegiatan impulsifnya dikritik atau dihalangi orang lain.

Kriteria-Kriteria Gangguan Kepribadian Ambang

Kriteria-kriteria gangguan kepribadian ambang ini, diantaranya meliputi :

  1. Berupaya keras untuk mencegah agar tidak diabaikan, terlepas dari benar-benar diabaikan atau hanya dalam bayangannya.

  2. Ketidakstabilan dan intenitas ekstrem dalam hubungan interpersonal, ditandai dengan percakapan, yaitu mengidealkan orang lain dalam satu waktu dan beberapa waktu kemudian menistakannya.

  3. Rasa diri yang tidak stabil.

  4. Perilaku impulsif, termasuk sangat boros dan perilaku seksual yang tidak pantas.

  5. Perilaku bunuh diri (baik hanya berupa sinyal maupun sungguh-sungguh mencoba) dan mutilasi diri yang berulang.

  6. Kalabilan emosional yang ekstrem.

  7. Perasaan kosong yang kronis.

  8. Sangat sulit mengendalikan kemarahan.

  9. Pikiran paranoid dan gejala-gejala disosiatif yang dipicu oleh stres.

Pedoman Diagnostik Umum

Keadaan yang tidak disebabkan langsung oleh kerusakan atau penyakit otak berat atau gangguan jiwa lain, tetapi memenuhi kriteria berikut ini:

  1. Sikap & perilaku yang amat tak serasi yang meliputi biasanya beberapa bidang fungsi, misalnya : afek, kesadaran, pengendalian impuls, cara memandang & berpikir, serta gaya berhubungan dengan orang lain.

  2. Pola perilaku abnormal yang berlangsung lama, berjangka panjang & tidak terbatas pada episode penyakit jiwa.

  3. Pola perilaku abnormalnya itu pervasif & jelas maladaptif terhadap berbagai keadaan pribadi & sosial yang luas.

  4. Manifestasi di atas selalu muncul pada masa kanak-kanak atau remaja & berlanjut sampai usia dewasa.

  5. Gangguannya menjurus kepada penderitaan pribadi yang berarti, tetapi hal ini mungkin hanya menjadi nyata kemudian dalam perjalanan penyakitnya.

  6. Gangguan ini biasanya tetapi tidak selalu, berhubungan secara bermakna dengan masalah pekerjaan dan kinerja sosial.

Gangguan kepribadian ambang adalah gangguan kepribadian yang ditandai dengan hubungan yang tidak stabil dengan orang lain. Pengidap gangguan ini biasanya memiliki emosi yang labil. Selain itu, mereka juga memiliki dorongan atau kencenderungan untuk menyakiti dirinya. Misalnya dengan meongonsumsi alkohol atau melakukan seks bebas.
Di samping itu, pengidap gangguan kepribadian ambang juga sulit berinteraksi dengan orang lain. Sebab, mereka dianggap tidak memiliki kepribadian yang baik dalam lingkungan atau keluarga.
Faktor Risiko Gangguan Kepribadian Ambang
Setidaknya ada beberapa faktor risiko yang bisa memicu terjadinya gangguan kepribadian ambang. Misalnya, mereka yang pernah mengalami tindakan kekerasan atau pelecehan. Di samping itu, anak-anak yang diabaikan juga bisa terkena gangguan kepribadian ini.

Penyebab Gangguan Kepribadian Ambang

Sayangnya, hingga kini penyebab gangguan kepribadian ambang belum diketahui dengan pasti. Namun, para ahli meyakini bahwa faktor genetik, psikologis, dan sosial, seperti riwayat pelecehan atau penyiksaan yang dialami semasa kecil, berkaitan dengan terjadinya gangguan kepribadian ini.
Penyakit ini umumnya juga akan semakin berdampak negatif jika disertai dengan gangguan neurologis lain, seperti depresi, rasa cemas, penggunaan narkoba, dan juga suasana hati yang terganggu.