Apa yang Dimaksud dengan Frasa Nominal?

image

Ilustrasi

https://www.bahasakita.com/id/tata-bahasa/kata-frasa-klausa-dan-kalimat/

Dalam suatu wacana atau teks terdapat bentuk dari kata, frasa, klausa, dan kalimat. Frasa menempati urutan kedua yang berada di atas kata dan di bawah klausa. Frasa merupakan salah satu satuan sintaksis yang berupa gabungan dari dua kata atau lebih namun tidak memiliki ciri klausa dan tidak memiliki predikatif.

Berdasarkan unsur-unsurnya, frasa terbagi menjadi beberapa kategori diantaranya: (1) frasa nominal, (2) frasa adjektival, (3) frasa verbal, (4) frasa numeralia, (5) frasa preposisional.

Apa yang dimaksud dengan frasa nominal?

1 Like

Pengertian Nomina
Nomina merupakan kelas kata yang biasanya digunakan sebagai nama orang, tempat, dan nama benda. Sebagai contoh, nomina dapat berupa gelas, cangkir, pulpen, pensil, buku, dan lainnya. Nomina memiliki ciri-ciri yang dapat dikenali seperti bisa diperluas dengan menggunakan kata yang. Untuk mengenali kata nomina, bisa menggunakan kata bukan misal, ‘bukan mereka’. Namun, penggunaan kata nomina tidak bisa digabungkan dengan kata tidak misal, ‘tidak mereka’. Nomina juga bisa mengalami reduplikasi dan proses majemuk.

Pengertian Frasa Nominal
Frasa adalah gabungan dari dua kata atau lebih yang membentuk sebuah makna, contohnya jam tangan yang termaksuk ke dalam frasa nominal karena terbentuk dari penggabungan kata benda. Frasa nominal adalah frasa yang memiliki fungsi nomina sebagai inti atau unsur pusat. Nomina memiliki fungsi yang sama dengan frasa nominal karena berfungsi sebagai subjek dan objek. Frasa nominal dengan nomina juga memiliki distribusi yang sama sehingga termaksud ke dalam kategori nomina.

Contoh Frasa Nominal
Misal, terdapat satu paragraf yang berisikan:

“Tahun ini, Presiden dan DPR masih membahas rancangan Undang-Undang Fakir Miskin. Mengapa perlu lembaga baru?”

Nah, bisa dilihat frasa nominalnya adalah berupa tahun ini, Presiden dan DPR, Undang-Undang Fakir Miskin, serta lembaga baru. Keempat frasa tersebut memiliki inti atau unsur pusat sebagai frasa nominal.

Hubungan Fungsi Frasa Nominal dan Makna Gramatikalnya
Dalam frasa, terdapat unsur inti pusat dan pewatas. Inti pusat pada frasa nominal merupakan nomina sedangkan pewatasnya bisa berupa numeralia, adverbia, nomina, adjektiva, verba, adverbia, dan determinan (misal, kata ini dan itu). Perlu dipahami, dalam frasa nominal terbagi menjadi dua pewatas yaitu pewatas depan dan pewatas belakang. Pewatas depan terletak sebelum inti pusat dan biasanya berupa numeralia atau adverbia sedangkan pewatas belakang terletak setelah inti pusat dan biasanya berupa nomina, adjektiva, adverbia, determinan, dan verba.

Makna dari Kata-kata yang Menjadi Pewatas Depan

  1. Menyatakan jumlah seperti kata beberapa, sejumlah, sedangkan, semua, segenap, dan lainnya
  2. Menyatakan ingkar seperti kata bukan
  3. Menyatakan pembatasan seperti kata cuma, hanya, dan kecuali
  4. Menyatakan peniadaan seperti kata tanpa.

Peluasan Frasa Nominal
Maksud dari perluasan frasa nominal yaitu dengan menambahkan unsur-unsur pewatas pada nomina inti. Perluasan ini bisa diperluas ke kanan ataupun ke kiri.

  1. Inti pusat bisa diikuti oleh satu atau dua nomina. Misal,

“Dosen Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta itu”

kata dosen sebagai inti pusat nomina, dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta itu merupakan pewatas yang berupa gabungan dari beberapa nomina.

  1. Inti pusat frasa nominal bisa diikuti oleh kelas kata lainnya seperti adjektiva, pronomina, dan determinan. Misal,

“Motor lama saya itu”

kata motor merupakan inti pusat nomina sedangkan frasa lama saya itu merupakan gabungan dari kelas kata yang berupa lama (adjektiva), saya (pronomina persona), dan itu (determinan).

  1. Inti pusat bisa diikuti oleh penggunaan kata ‘yang’. Misal,

“Motor saya yang lama itu”

  1. Suatu inti pusat bisa diikuti oleh penggunaan aposisi. Misal,

“Riva Destira, mahasiswa Universitas Negeri Jakarta”

aposisi pada kata mahasiswa merujuk kepada kata Riva Destira. Aposisi biasanya lebih baik pakai tanda koma dibandingkan dengan tanda kurung.

Sumber

Khairah, Miftahul., dan Sakura Ridwan. 2015. Sintaksis: Memahami Satuan Kalimat Perspektif Fungsi. Jakarta: Bumi Aksara.

1 Like