Apa yang dimaksud dengan Fitnah Kefakiran atau miskin?

Fitnah dalam bahasa Arab adalah menakjubkan, pemberontakan, pembawa berita yang bohong. Disebutkan juga fitnah dalam literatur bahasa Arab berarti bencana, kekacauan, syirik, cobaan, ujian, siksa.

Apa yang dimaksud dengan fitnah miskin ?

Jika melimpahnya harta membawa pemiliknya kedalam fitnah maka sedikitnya penghasilan atau harta pun tidak lepas dari fitnah. Kemiskinan dan kekayaan adalah marabahaya bagi seorang muslim jika dia tidak bertakwa kepada Allah Azza wa jaala.

Ciri-ciri terfitnah oleh kefakiran:

1. Tidak sabar atas ujian kefakiran dan kemiskinan.

Berupa marah, keluh kesah disertai dengan tidak ridha dan menolak takdir Allah. Maka kefakiran atau kemiskinan ini merupakan musibah besar yang wajib bagi orang yang diuji oleh Allah dengannya untuk bersabar dan sama halnya dengan ujian-ujian yang lain. Allah berfirman dalam QS Al-baqoroh ayat 155-157.

  1. “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
  2. “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”
  3. “Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.”

2. Lancang terhadap harta orang lain:

Sesungguhnya tidak terima terhadap takdir Allah berupa kefakiran dan kemiskinan kadang-kadang mendorong orangnya berani mengintip bahkan menyentuh harta orang lain. Maka orang ini menjadi mangsa setan yang telah menggodanya sehingga ia dengki, menipu dan mencaci. Dampak yang demikian itu sangat buruk bagi pelakunya. Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu sesungguhnya nabi Salallahu alaihi wasalam bersabda:

“Kalian jangan saling mendengki, jangan saling memata-matai, jangan saling membenci dan jangan saling membelakangi. Janganlah sebagian dari kalian membeli barang yang sedang ditawar orang lain dan hendaklah kalian menjadi hamba-hamba Allah yang bersaudara.

Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, maka dia tidak boleh mendzaliminya, menelantarkannya, dan menghinaakaanya. Takwa itu disini, beliau member isyarat ke dadanya tiga kali. Cukuplah keburukan bagi seseorang jika ia menghina saudaranya yang muslim. Setiap seorang muslim terhadap muslim yang lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”

Dari Abu Umamah Radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulaallah Salallahu alaihi wasalam bersabda

“Barang siapa merampas hak seorang muslim dengan sumpahnya, maka Allah mewajibkan dia masuk neraka dan mengharamkan baginya surga.” Salah seorang bertanya; “Meskipun sedikit wahai rasulallah?” Rasulullah Salallahu alaihi wasalam menjawab, “meskipun hanya setangkai kayu siwak.”

3. Hilangnya rasa malu

Sesungguhnya sedikit penghasilan bisa menyeret keperbuatan meminta-minta kepada manusia kecuali yang diberikan oleh Allah Subhanahu wata’ala kehormatan diri. Seperti yang diisyaratkan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dalam firmannya QS al Baqoroh ayat 273.

“(Berinfaqlah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.”

Banyak minta-minta kepada manusia bisa mendorong pelakunya terbiasa dengan masalah ini, walaupun dia telah berkecukupan. Dari sini sumber bahaya dan penyebab fitnah. Nabi Salallahu alaihi wasalam bersabda

“Barang siapa yang meminta-minta padahal dia yang berkecukupan, maka sesungguhnya dia memperbanyak meminta neraka jahanam”.

Para sahabat bertanya apakah ukuran yang menjadikan seseorang berkecukupan? Rasulallahu salallahu alaaihi wasalam menjawab,

“Apa yang bisa membuat dia makan dan menyambung hidupnya”.

Peringatan :

Suatu hal yang patut diingat disini bahwa fitnah harta itu pasti menjangkiti manusia, namun kewajiban setiap muslim untuk membentengi diri dari fitnah ini dengan bertakwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala dan selalu merasa diawasi olehNya juga kembali kepada Allah dengan meminta perlindungan dari fitnah kemiskinan dan kekayaan sebagai bentuk mengikuti contoh rasulallahu alaihi wasalam sebagaiman dalam hadist Aisyah Rodiallahu ta’ala Anha, ia meriwayatkan Rasulullah salallahu alaihi wasalam berdoa:

“Ya Allah seesungguhnya aku berlindung kepadamu dari fitnah api neraka dan dari azab neraka dan aku berlindung kepadamu dari azab kubur dan aku berlindung kepadamu dari fitnah kekayaan, dan aku berlindung kepadamu dari fitnah kefakiran / kemiskinan, dan aku berlindung kepadamu dari fitnah al-masihi dajal”.