© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan ekosistem ?

Ekosistem

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling memengaruhi.

Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada.

Ekosistem merupakan suatu satuan fungsional dasar yang menyangkut proses interaksi organisme hidup dengan lingkungannya. Lingkungan yang dimaksud dapat berupa lingkungan biotik (makhluk hidup) maupun abiotik (non makhluk hidup). Sebagai suatu sistem, di dalam suatu ekosistem selalu dijumpai proses interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya, antara lain dapat berupa adanya aliran energi, rantai makanan, siklus biogeokimiawi, perkembangan, dan pengendalian.

Ekosistem juga dapat didefinisikan sebagai suatu satuan lingkungan yang melibatkan unsur-unsur biotik (jenis-jenis makhluk) dan faktor-faktor fisik (iklim, air, dan tanah) serta kimia (keasaman dan salinitas) yang saling berinteraksi satu sama lainnya. Gatra yang dapat digunakan sebagai ciri keseutuhan ekosistem adalah energetika (taraf trofi atau makanan, produsen, konsumen, dan redusen), pendauran hara (peran pelaksana taraf trofi), dan produktivitas (hasil keseluruhan sistem).

Jika dilihat komponen biotanya, jenis yang dapat hidup dalam ekosistem ditentukan oleh hubungannya dengan jenis lain yang tinggal dalam ekosistem tersebut. Selain itu keberadaannya ditentukan juga oleh keseluruhan jenis dan faktor-faktor fisik serta kimia yang menyusun ekosistem tersebut.

Berbagai konsep ekosistem pada dasarnya sudah mulai dirintis oleh beberapa pakar ekologi. Pada tahun 1877, Karl Mobius (Jerman) menggunakan istilah biocoenosis . Kemudian pada tahun 1887, S.A.Forbes (Amerika) menggunakan istilah mikrokosmos . Di Rusia pada mulanya lebih banyak digunakan istilah biocoenosis , ataupun geobiocoenosis . Istilah ekosistem mula-mula diperkenalkan oleh seorang pakar ekologi dari Inggris, A.G.Tansley , pada tahun 1935. Pada akhirnya istilah ekosistem lebih banyak digunakan dan dapat diterima secara luas sampai sekarang.

Ekosistem

STRUKTUR EKOSISTEM


Bila kita memasuki suatu ekosistem, baik ekosistem daratan maupun perairan, akan dijumpai adanya dua macam organisme hidup yang merupakan komponen biotik ekosistem. Kedua macam komponen biotik tersebut adalah autotrofik dan heterotrofik .

  • Autotrofik , terdiri atas organisme yang mampu menghasilkan (energi) makanan dari bahan-bahan anorganik dengan proses fotosintesis ataupun kemosintesis. Organisme ini tergolong mampu memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Organisme ini sering disebut produsen.

  • Heterotrofik , terdiri atas organisme yang menggunakan, mengubah atau memecah bahan organik kompleks yang telah ada yang dihasilkan oleh komponen autotrofik. Organisme ini termasuk golongan konsumen , baik makrokonsumen maupun mikrokonsumen.

Secara struktural ekosistem mempunyai enam komponen sebagai berikut:

  1. Bahan anorganik yang meliputi C, N, CO2, H2O, dan lain-lain. Bahan-bahan ini akan mengalami daur ulang.

  2. Bahan organik yang meliputi karbohidrat, lemak, protein, bahan humus, dan lain-lain. Bahan-bahan organik ini merupakan penghubung antara komponen biotik dan abiotik.

  3. Kondisi iklim yang meliputi faktor-faktor iklim, misalnya angin, curah hujan, dan suhu.

  4. Produsen adalah organisme-organisme autotrof, terutama tumbuhan berhijau daun (berklorofil). Organisme-organisme ini mampu hidup hanya dengan bahan anorganik, karena mampu menghasilkan energi makanan sendiri, misalnya dengan fotosistesis. Selain tumbuhan berklorofil, juga ada bakteri kemosintetik yang mampu menghasilkan energi kimia melalui reaksi kimia. Tetapi peranan bakteri kemosintetik ini tidak begitu besar jika dibandingkan dengan tumbuhan fotosintetik.

  5. Makrokonsumen adalah organisme heterotrof, terutama hewan-hewan seperti kambing, ular, serangga, dan udang. Organisme ini hidupnya tergantung pada organisme lain, dan hidup dengan memakan materi organik.

  6. Mikrokonsumen adalah organisme-organisme heterotrof, saprotrof, dan osmotrof, terutama bakteri dan fungi. Mereka inilah yang memecah materi organik yang berupa sampah dan bangkai, menguraikannya sehingga terurai menjadi unsur-unsurnya (bahan anorganik). Kelompok ini juga disebut sebagai organisme pengurai atau dekomposer .

Komponen-komponen 1, 2, dan 3, merupakan komponen abiotik/ nonbiotik, atau komponen yang tidak hidup, sedangkan komponen- komponen 4, 5, 6, merupakan komponen yang hidup atau komponen biotik.

Secara fungsional ekosistem dapat dipelajari menurut enam proses yang berlangsung di dalamnya, yaitu:

  • Lintasan atau aliran energi.
  • Rantai makanan.
  • Pola keragaman berdasar waktu dan ruang.
  • Daur ulang (siklus) biogeokimiawi.
  • Perkembangan dan evolusi.
  • Pengendalian atau sibernetika.

Konsep ekosistem merupakan konsep yang luas, yang merupakan konsep dasar dalam ekologi. Konsep ini menekankan pada hubungan timbal balik dan saling keterkaitan antara organisme hidup dengan lingkungannya yang tidak hidup.

Setiap ekosistem di dunia ini mempunyai struktur umum yang sama, yaitu adanya enam komponen seperti tersebut di atas, dan adanya interaksi antarkomponen-komponen tersebut. Jadi baik itu ekosistem alami (daratan, perairan) maupun ekosistem buatan (pertanian, perkebunan), semuanya mempunyai kesamaan.

Sering terjadi bahwa proses autotrofik dan heterotrofik, serta organisme yang bertanggung jawab atas berbagai proses tersebut terpisah (secara tidak sempurna), baik menurut ruang maupun waktu. Sebagai contoh dapat disebutkan bahwa di hutan, proses autotrofik, yaitu fotosintesis, lebih banyak terjadi di bagian kanopi; sedangkan proses heterotrofik lebih banyak terjadi di permukaan lantai hutan (hal ini terpisah berdasar ruang). Proses autotrofik juga terjadi pada waktu siang hari, dan proses heterotrofik dapat terjadi baik di siang hari maupun malam hari (terpisah berdasar waktu).

Adanya pemisahan tersebut juga dapat dilihat pada ekosistem perairan. Pada ekosistem perairan, lapisan permukaan yang dapat ditembus oleh sinar matahari merupakan lapisan autotrofik. Dalam lapisan ini proses autotrofik adalah dominan. Lapisan perairan di bawahnya yang tak tertembus sinar matahari merupakan lapisan heterotrofik. Di dalam lapisan ini berlangsung proses heterotrofik.

Dengan adanya pemisahan berdasarkan ruang dan waktu tersebut, lintasan energi juga dibedakan menjadi dua yaitu:

  • Lintasan merumput ( grazing circuit ), meliputi proses yang melalui konsumsi langsung terhadap tumbuhan hidup atau bagian tumbuhan hidup, ataupun organisme hidup yang lain.

  • Lintasan detritus organik ( organic detritus circuit ), meliputi akumulasi dan penguraian sampah serta bangkai.

Pada umumnya komponen abiotik merupakan pengendali organisme dalam melaksanakan peranannya di dalam ekosistem. Bahan-bahan anorganik sangat diperlukan oleh produsen untuk hidupnya. Bahan-bahan ini juga merupakan penyusun dari tubuh organisme, demikian juga bahan organik. Bahan organik sangat diperlukan oleh konsumen (makro maupun mikrokonsumen) sebagai sumber makanan. Produsen dengan proses fotosintesis adalah merupakan komponen penghasil energi kimia atau makanan. Merekalah yang menghasilkan energi makanan yang nantinya juga digunakan oleh konsumen.

Kemudian komponen mikrokonsumen atau pengurai bertanggung jawab untuk mengembalikan berbagai unsur kimia ke alam (tanah), sehingga nantinya dapat digunakan oleh produsen dan keberadaan ekosistem akan terjamin. Bilamana peran setiap komponen tersebut tidak dapat berjalan, kelangsungan ekosistem akan terancam. Demikian pula apabila peran tersebut berjalan pada kecepatan yang tidak semestinya, misalnya tersendat-sendat, keseimbangan di dalam ekosistem akan mudah terganggu.

Ekosistem

TIPE EKOSISTEM


Dalam mengenal berbagai tipe ekosistem, pada umumnya digunakan ciri komunitas yang paling menonjol. Untuk ekosistem daratan biasanya digunakan komunitas tumbuhan atau vegetasinya, karena wujud vegetasi merupakan pencerminan penampakan luar interaksi antara tumbuhan, hewan, dan lingkungannya.

Pada dasarnya di Indonesia terdapat empat kelompok ekosistem utama, yaitu :

1. Kelompok Ekosistem Bahari

Ekosistem bahari dapat dikelompokkan lagi ke dalam ekosistem yang lebih kecil lagi, yaitu: ekosistem laut dalam, pantai pasir dangkal, terumbu karang, pantai batu, dan pantai lumpur. Dalam setiap ekosistem pada ekosistem bahari ada perbedaan dalam komponen penyusunnya, baik biotik maupun abiotik.

2. Kelompok Ekosistem Darat Alami

Pada ekosistem darat alami di Indonesia terdapat tiga bentuk vegetasi utama, yaitu

  1. Vegetasi pamah (lowland vegetation)

    Vegetasi pamah merupakan bagian terbesar hutan dan mencakup kawasan yang paling luas di Indonesia, terletak pada ketinggian 0-1000 m. Vegetasi pamah terdiri dari vegetasi rawa dan vegetasi darat. Vegetasi rawa terdapat di tempat yang selalu tergenang air dan membentuk urutan yang menerus dari air terbuka sampai hutan campuran. Di Indonesia terdapat beberapa bentuk vegetasi rawa bergantung pada kedalaman, salinitas dan kualitas air, serta kondisi drainase dan banjir. Beberapa contoh vegetasi pamah adalah hutan bakau, hutan rawa air tawar, hutan tepi sungai, hutan rawa gambut, dan komunitas danau.

  2. Vegetasi pegunungan

    Vegetasi pegunungan sangat beraneka ragam dan sering menunjukkan pemintakatan yang jelas, sesuai dengan pemintakatan flora yang berlaku untuk semua kawasan tropik. Vegetasi pegunungan dapat diklasifikasi menjadi hutan pegunungan, padang rumput, vegetasi terbuka pada lereng berbatu, vegetasi rawa gambut dan danau, serta vegetasi alpin.

  3. Vegetasi monsun .

    Vegetasi monsun terdapat di daerah yang beriklim kering musiman dengan Q > 33,3 % dan evapotranspirasi melebihi curah hujan yang umumnya kurang dari 1500 mm/tahun. Jumlah hari hujan selama empat bulan terkering berturut-turut kurang dari 20. Musim kemarau pendek sampai kemarau panjang terjadi pada pertengahan tahun. Beberapa contoh di antaranya adalah hutan monsun, savana, dan padang rumput.

3. Kelompok Ekosistem Suksesi

Ekosistem suksesi adalah ekosistem yang berkembang setelah terjadi perusakan terhadap ekosistem alami yang terjadi karena peristiwa alami maupun karena kegiatan manusia atau bila ekosistem buatan tidak dirawat lagi dan dibiarkan berkembang sendiri menurut kondisi alam setempat. Ekosistem ini dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu ekosistem suksesi primer dan ekosistem suksesi sekunder.

  • Ekosistem suksesi primer berkembang pada substrat baru seperti permukaan tanah terbuka yang ditinggalkan, tanah longsor atau pemapasan tanah untuk penambangan dan pembuatan jalan, timbunan abu atau lahar yang dimuntahkan letusan gunung berapi, timbunan tanah bekas galian, endapan pasir pantai dan endapan lumpur di tepi danau dan tepi sungai atau muara.

  • Ekosistem suksesi sekunder berkembang setelah ekosistem alami rusak total tetapi tidak terbentuk substrat baru yang diakibatkan khususnya oleh kegiatan manusia, seperti penebangan hutan habis-habisan dan pembakaran. Ekosistem ini juga dapat berkembang dari ekosistem buatan yang ditinggalkan yang kemudian berkembang secara alami seperti yang terjadi pada perladangan berpindah atau sistem rotasi yang meninggalkan lahan garapan untuk diberakan setelah dua atau tiga kali panen.

4. Kelompok Ekosistem Buatan

Di samping ekosistem alam ada ekosistem buatan manusia, seperti danau, hutan tanaman, dan agroekosistem (sawah tadah hujan, sawah irigasi, sawah surjan, sawah rawa, sawah pasang surut, kebun pekarangan, kolam, dan lain-lain). Sebagai gambaran dari ekosistem buatan akan diuraikan mengenai ekosistem kolam dan ekosistem padang rumput.

Sumber : Suyud Warno Utomo, Sutriyono, Reda Rizal, Pengertian, Ruang Lingkup Ekologi dan Ekosistem

Ekosistem


Soemarwoto (1983, dalam Irwan, 2007) menjelaskan pengertian ekosistem “Ekosistem merupakan konsep sentral dalam ekologi karena ekosistem (sistem ekologi) itu terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya”. “Ekosistem merupakan satuan fungsional dasar dalam ekologi, mengingat di dalamnya tercakup organisme dan komponen abiotik yang masing-masing saling memengaruhi. Ekosistem juga mempunyai ukuran yang beraneka ragam besarnya bergantung kepada tingkat organisasinya” (Resosoedarmo dkk., 1986 dalam Irwan, 2007, hlm. 22). Undang-Undang Lingkungan Hidup UULH 1982 menjelaskan tentang pengertian ekosistem sebagai berikut :

Ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Perlu diketahui bahwa di dalam ekosistem terdapat makhluk hidup dan lingkungannya. Makhluk hidup terdiri dari tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia. Sedangkan lingkungan adalah segala sesuatu yang berada di luar individu. Menurut UULH tahun 1982 bahwa lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda , daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya (Indriyanto, 2012).

Beberapa penulis lain telah menggunakan istilah yang berbeda, tetapi maksudnya sama dengan ekosistem. Misalnya pada tahun 1877 seorang ahli ekologi bangsa Jerman bernama Karl Mobius telah menulis tentang “Komunitas organisme dalam batu karang, dan menggunakan istilah yang mempunyai makna sama dengan ekosistem yaitu biocoenosis (biokoenosis)”. Pada tahun 1887 seorang ahli ekologi berkebangsaan Amerika bernama S.A. Forbes telah menulis karangan kuno tentang “Danau, dan menggunakan istilah yang mempunyai makna sama dengan ekosistem, yaitu microcosm (mikrokosm)”.

Pada periode tahun 1846-1903 seorang ahli ekologi bangsa Rusia bernama V.V. Dokuchaev dan seorang ahli ekologi hutan bangsa Rusia bernama G.F. Morozov “telah menaruh perhatian besar terhadap “Ekosistem dan menggunakan istilah yang mempunyai makna sama dengan ekosistem yaitu biokoenosis, sedangkan di kalangan ahli ekologi bangsa Rusia sering menggunakan istilah geobiokoenosis yang memiliki makna sama dengan ekosistem”. Demikian juga masih ada ahli-ahli ekologi lainnya yang telah menggunakan istilah yang mempunyai makna sama dengan ekosistem antara lain: Friederichs pada tahun 1930 menggunakan istilah “holocoen/holokoen”, Thienemann pada tahun 1939 menggunakan istilah “biosystem/biosistem”, Vernadsky pada tahun 1944 menggunakan istilah “bionert body” (Irwan, 2007). Indriyanto (2012) menyimpulkan beberapa definisi para ahli tentang ekosistem sebagai berikut :

  1. Ekosistem, yaitu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya (Soemarwoto, 1983). Tingkatan organisasi ini dikatakan sebagai suatu sistem karena memiliki komponen- komponen dengan fungsi berbeda yang terkoordinasi secara baik sehingga masing-masing komponen terjadi hubungan timbal balik. Hubungan timbal balik terwujudkan dalam rantai makanan dan jaring makanan yang pada setiap proses ini terjadi aliran energy dan siklus materi.

  2. Ekosistem, yaitu tatanan kesatuan secara kompleks di dalamnya terdapat habitat, tumbuhan dan binatang yang dipertimbangkan sebagai unit kesatuan secara utuh, sehingga semuanya akan menjadi bagian mata rantai siklus materi dan aliran energy. (Woodbury, 1954 dalam Setiadi, 1983).

  3. Ekosistem, yaitu unit fungsional dasar dalam ekologi yang di dalamnya tercakup organisme dan lingkungannya (lingkungan biotik dan abiotik) dan diantara keduanya saling memengaruhi (Odum, 1993). Ekosistem dikatakan sebagai suatu unit fungsional dasar dalam ekologi karena merupakan satuan terkecil yang memiliki komponen secara lengkap, memiliki relung ekologi secara lengkap, serta terdapat proses ekologi secara lengkap, sehingga di dalam unit ini siklus materi dan arus energy terjadi sesuai dengan kondisi ekosistemnya.

Komponen Ekosistem


Odum (1993, hlm. 5) mengatakan, “Semua ekosistem, baik ekosistem terestrial (daratan) maupun akuatik (perairan) terdiri atas komponen-komponen yang dapat dikelompokkan berdasarkan segi trofik atau nutrisi dan segi struktur dasar ekosistem”. Pengelompokan masing-masing komponen ekosistem dari tiap segi tersebut diuraikan di bawah ini.
Gopal dan Bhardwaj (1979, dalam Irwan, 2007, hlm 27) “Berdasarkan atas segi struktur dasar ekosistem, maka komponen ekosistem terdiri atas dua jenis sebagai berikut :

  1. Komponen biotik (komponen makhluk hidup), misalnya binatang, tetumbuhan, dan mikrobiologi.

  2. Komponen abiotik (komponen benda mati), misalnya air, udara, tanah dan energi”.

2 Likes

Odum, 1996 (Rangkuti, 2017) mengatakan, “Ekosistem merupakan suatu sistem ekologi yang terbentuk dari proses reaksi timbal balik antar makhluk hidup dengan lingkungannya”. Sehingga ekosistem atau sistem ekologi merupakan pertukaran bahan – bahan antara bagian yang hidup dan tak hidup di dalam sistem.

Menurut Tansley, 1935 (Mulyadi, 2010) Ekosistem adalah hubungan tiimbal balik antara komponen biotik (tumbuhan, hewan, manusia, dan mikroba) dengan komponen abiotik (cahaya, udara, air, tanah) di alam, sebenarnya merupakan hubungan komponen yang membentuk suatu sistem”. Yang berarti bahwa baik dalam struktur maupun dalam fungsi komponen-komponen tadi merupakan suatu kesatuan yang tidak terpisahkan. Sebagai konsekuensinya apabila salah satu komponen terganggu, maka komponen-komponen lainnya secara cepat atau lambat akan terpengaruhi.Sistem alam ini oleh Tansley disebutkannya sistem ekologi atau ekosistem.

Dari uraian yang dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa ekosistem merupakan hubungan timbal balik antara komponen biotik (yang terdiri dari makhluk hidup) dan abiotik (yang terdiri dari komponen tak hidup) yang saling mempengaruhi antara yang satu komponen dengan komponen yang lainnya, sehingga ekosistem tidak dapat dipisahkan.

Jenis Ekosistem

Nyabkken, 1992 (Rangkuti, 2017) menjelaskan, secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi dua, yaitu ekosistem darat dan ekosistem perairan sebagai berikut:

  • Ekosistem darat. Ekosistem darat merupakan ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya, ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut:

    • Bioma gurun, yaitu bioma yang banyak dijumpai pada tumbuhan menahun berdaun, seperti duri, contohnya yaitu pada tumbuhan kaktus, atau pada tumbuhan tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Sedangkan hewan yang banyak dijumpai di bioma gurun yaitu rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.

    • Bioma padang rumput, tumbuhan yang terdapat pada bioma tersebut yaitu terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput, sedangkan pada hewannya antara lain: kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.

    • Bioma hutan basah, pada bioma hutan basah sering terdapat tumbuhan khas yaitu, liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit, sedangkan pada hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.

    • Bioma hutan gugur, bioma ini, terdapat di daerah – daerah yang mengalami beberapa musim, seperti musim dingin, semi, panas, dan gugur, dan jenis pohon yang terdapat pada bioma hutan gugur ini tidak banyak, sekitar 10 sampai 20, dan tidak terlalu rapat, sedangkan hewan yang terdapat pada bioma hutan gugur ini antara lain, rusa, beruang, rubah, bajing, burung, pelatuk, dan rakoon.

    • Bioma taiga, merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies, sepeti konifer, pinus, dan sejenisnya, pada bioma taiga terdapat semak dan tumbuhan basah, tetapi jumlahnya hanya sedikit. Sedangkan hewan yang terdapat pada bioma ini antara lain, moose, beruang hitam, ajag, dan burung – burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.

    • Bioma tundra, contoh tumbuhan yang dominan yang terdapat pada bioma tundra yaitu, sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput, sehingga pada umumnya, tumbuhan yang terdapat pada bioma tundra ini merupakan tumbuhan yang mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.

  • Ekosistem perairan. Ekosistem perairan ini dibedakan menjadi dua ekosistem, antara lain, ekosistem tawar dan ekosistem air laut sebagai berikut:

    • Ekosistem air tawar, merupakan ekosistem yang mempunyai variasi suhu yang tidak mencolok, penetrasi cahaya kurang, dan dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Tumbuhan yang banyak dijumpai pada ekosistem ini adalah tumbuhan jenis ganggang dan tumbuhan biji, sedangkan hewan yang terdapat pada ekosistem air tawar ini yaitu terdiri dari semua jenis filum pada hewan, dan organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi. Adaptasi pada organisme air tawar yaitu: Adaptasi tumbuhan dan adaptasi hewan. Ekosistem air tawar juga digolongkan menjadi dua, yaitu ekosistem air tawar tenang dan ekosistem air tawar mengalir.

    • Ekosistem laut, merupakan ekosistem yang habitat nya di laut (oseanik) dan berada pada kedalaman lebih dari 2000 m dari permukaan laut.

    • Ekosistem estuari (muara), merupakan ekosistem tempat bersatunya air sungai dengan air laut, sehingga menyebabkan ekosistem pada daerah estuari ini bersalinitas lebih rendah dari pada lautan terbuka.

    • Terumbu karang, merupakan ekosistem yang dangkal, dimana sinar matahari masih dapat masuk, sehingga terumbu karang di dominasi oleh jenis karang (koral) yang merupakan kelompok dari Cnidaria yang mensekresikan kalsium karbonat, sedangkan hewan yang hidup di terumbu karang ini memakan organisme mikroskopis dan sisa – sisa dari organisme lain.

    • Ekosistem pantai, dikenal sebagai salah satu jenis ekosistem yang unik, karena memilki beberapa unsur, yaitu tanah di daratan, air di lautan dan juga udara, letak ekosistem pantai berbatasan dengan ekosistem darat, ekosistem laut, dan daerah pasang surut, sehingga ekosistem pantai berada di tepi laut.

Terdapat beberapa satuan ekosistem yang termasuk kedalam ekosistem pantai, antara lain:

  • Ekositem terumbu karang (Corall Ref) merupakan ekosistem bawah laut yang terdiri dari sekelompok hewan karang yang memebentuk struktur kalsium karbonat (batu kapur), ekosistem batu karang ini menjadi habitat bagi hewan laut, sehingga terumbu karang dengan hutan mangrove dijadikan sebagai dua ekosistem yang sangat penting terhadap keanekaragaman hayati laut.

  • Ekosistem padang lamun (Sea Grass) merupakan ekosistem yang tinggi produktivitas organiknya, karena hamir di semua jenis substrat dapat ditumbuhi lamun, seperti substrat berlumpur sampai berbatu.

  • Ekosistem muara sungai (Estuari) merupakan daerah atau lingkungan perairan tempat bercampurnya air sungai dan air laut, sehingga adanya perubahan salinitas tersebut mengakibatkan organisme-organisme laut tidak dapat hidup di daerah estuari,

  • Ekosistem pantai berpasir (Sandu Beach) yaitu ekosistem yang pantainya berbentuk datar dan di dominasi oleh pasir yang sangat banyak, pada ekosistem pasir ini memiliki gerakan ombak yang berpengaruh terhadap ukuran partikel, pergerakan substrat, dan kandungan oksigen.

  • Ekosistem pantai berbatu (Rocky Beach) merupakan pantai yang dapat dijumpai pada daerah panati yang berbatu keras dan tahan terhadap benturan ombak laut.

  • Ekosistem hutan bakau (Mangrove) merupakan suatu kawasan ekosistem yang rumit, karena berkaitan dengan ekosistem darat dan ekosistem lepas pantai di luarnya, sehingga hutan mangrove ini dikatakan sebagai interface ecosystem, yang menghubungkan antara daratan dengan pedalaman serta daerah pesisir muara.