© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Ekologi Manusia?

Ekologi Manusia

Ekologi Manusia adalah studi tentang perilaku adaptasi manusia pada lingkungannya (mengumpulkan makanan, reproduksi, ontogeni) dengan perspektif ekologis dan evolusi. Studi ekologi manusia juga disebut dengan studi adaptasi manusia, atau studi tentang respon adaptif manusia (perkembangan fisik, fisiologi, dan genetik) pada tekanan lingkungan dan variasinya.

  • Ekologi Manusia dalam Perspektif

Tahun 1866, Ernst Haeckel - seorang ahli ilmu biologi dari Jerman - untuk pertama kalinya memperkenalkan istilah oekologi yang kemudian dikenal sebagai ekologi. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani, oekos berarti rumah dan /og’atau /agos berarti ilmu. Sehingga secara harfiah ekologi dapat diartikan sebagai ilmu tentang makhluk hidup dalam rumahnya atau dapat diartikan juga sebagai ilmu tentang rumahtangga makhluk hidup. Dari pengertian generik ini selanjutnya berkembang berbagai disiplin yang mempelajari dinamika dan karakter kehidupan berbagai rumahtangga spesies, populasi, komunitas hingga ekosistem alam termasuk ekosistem buatan manusia (man-made ecosystem) (Capra, 1994).

Dalam kajian ekologi manusia dipelajari bagaimana makhluk hidup (manusia) berinteraksi timbal balik dengan lingkungan hidupnya — baik yang bersifat hidup (biotik) maupun tak hidup (abiotik) — sedemikian rupa sehingga terbentuk suatu jaring-jaring sistem kehidupan pada berbagai tingkatan organisasi. Di dalam ekosistem, tumbuhan, hewan. dan mikro- organisme saling berinteraksi - melakukan transaksi materi dan energi — membentuk satu kesatuan sistem kehidupan (Adiwibowo, 2007).

  • Ekologi Manusia: Integrasi ilmu alam & sosial

Memasuki pertengahan abad ke-20 berbagai masalah lingkungan hidup mulai menyeruak ke berbagai belahan bumi. Buku Silent Spring (Musim Semi yang Sunyi) karangan Rachel Carson yang terbit pada tahun 1962 menggugah kesadaran masyarakat, akademisi dan aparat pemerintah bahwa bahaya ketidakseimbangan hubungan manusia dengan lingkungan hidupnya sudah diambang pintu. Keprihatinan Carlson tersebut dengan segera menjadi bahan pembicaraan yang luas. Terlebih tidak lama setelah Carlson menerbitkan bukunya, pernerintah Jepang pada tahun 1968 secara resmi mengakui pencemaran industri merupakan penyebab timbulnya penyakit Minamata dan itasi-tai. Sejak saat itu, masalah lingkungan hidup menjadi narasi dan diskursus baru di tengah-tengah derasnya arus pembangunan yang digalakkan oleh banyak negara maju dan berkembang. Tak heran bila hampir sepanjang dekade 1970an masalah lingkungan hidup menghiasi majalah terkemuka Time dan Vewsweek (Soemarwoto 1989).

Gelombang kesadaran akan seriusnya masalah lingkungan hidup ini juga mulai melanda Indonesia. Namun bila di negara maju masalah lingkungan hidup dipandang merupakan akibat dari gaya hidup makmur, pembangunan ekonomi yang kapitalistik dan aplikasi teknologi modern, maka di negara berkembang seperti Indonesia masalah lingkungan hidup juga dipandang sebagai akibat dari masalah kependudukan dan kemiskinan (Raymond & Bailey, 1997). Sehingga, di negara-negara berkembang termasuk Indonesia masalah lingkungan yang dihadapi tidak hanya seputar masalah pencemaran air dan udara tetapi juga masalah degradasi hutan dan keanekaragaman hayati, erosi tanah, degradasi sumberdaya hayati pesisir dan laut, dan lain sebagainya.

Dalam konteks ekologi manusia, jalinan keterkaitan tersebut menjadi semakin kompleks karena di satu pihak manusia sebagai spesies homo sapiens sp “tunduk” pada hukum-hukum biologi-ekologi. dan di lain pihak sebagai makhluk sosial “tunduk” pada sistem nilai, etika dan norma-norma sosial dan budaya dimana dia tumbuh dan dibesarkan. Sehingga, penyelesaian permasalahan kemanusiaan dalam perspektif ekologi manusia membutukan unit atau perangkat analisis yang kompleks serta multidimensi.

Sumber: Soeryo Adiwibowo. 2007. Ekologi Manusia. Fakultas Ekologi Manusia. Institutut Pertanian Bogor. IPB.