Apa yang dimaksud dengan Efikasi Diri atau Self Efficacy ?

kepribadian
self_efficacy

(Lia Permata Sari) #1

Self Efficacy

Self Efficacy adalah perasaan individu terhadap kecukupan, efisiensi, dan kemampuan individu dalam mengatasi kehidupan.

Apa yang dimaksud dengan Self Efficacy ?


Bagaimana hubungan efikasi diri dengan kecemasan ?
Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi perkembangan Self Efficacy ?
(Andrian Daylon Valentino) #2

Self Efficacy merupakan persepsi seseorang bahwa seseorang tersebut mampu untuk melakukan sesuatu yang penting untuk mencapai tujuannya. Hal ini mencakup perasaan mengetahui apa yang harus dilakukan dan juga secara emosional mampu untuk melakukannya. Woolfolk (2004) menambahkan bahwa Self Efficacy adalah penilaian spesifik yang berkaitan dengan kompetensi untuk mengerjakan sebuah tugas yang spesifik, sedangkan Bandura (1997) menyatakan bahwa Self Efficacy adalah keyakinan individu terhadap kemampuan akan memengaruhi cara individu dalam bereaksi terhadap situasi dan kondisi tertentu.

Self Efficacy adalah kemampuan dan keyakinan individu dalam mencapai keberhasilan dalam segala bidang.

Dimensi Self Efficacy


Corsini (1994) menyatakan bahwa Self-Efficacy terdiri dari empat dimensi sebagai berikut:

  • Kognitif, merupakan kemampuan seseorang dalam memikirkan cara-cara yang digunakan dan merancang tindakan yang akan diambil untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

  • Motivasi, merupakan kemampuan seseorang untuk memotivasi diri melalui pikirannya dalam melakukan suatu tindakan dan keputusan untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

  • Afeksi, merupakan kemampuan dalam mengatasi emosi yang mungkin timbul pada diri individu dalam mencapai tujuan yang diharapkan.

  • Seleksi, merupakan kemampuan seseorang untuk menyeleksi tingkah laku dan lingkungan yang tepat sehingga dapat mencapai tujuan yang diharapkan.

Sedangkan menurut Bandura (1997), Self-Efficacy individu dapat dilihat dari tiga dimensi, yaitu:

  • Tingkat ( level )

    Self-efficacy individu dalam mengerjakan suatu tugas berbeda dalam tingkat kesulitan tugas. Individu memiliki Self-Efficacy yang tinggi pada tugas yang mudah dan sederhana, atau juga pada tugas-tugas yang rumit dan membutuhkan kompetensi yang tinggi. Individu yang memiliki Self-Efficacy yang tinggi cenderung memilih tugas yang tingkat kesukarannya sesuai dengan kemampuannya.

  • Keluasan ( generality )

    Dimensi ini berkaitan dengan penguasaan individu terhadap bidang atau tugas pekerjaan. Individu dapat menyatakan dirinya memiliki Self-Efficacy pada aktivitas yang luas, atau terbatas pada fungsi domain tertentu saja. Individu dengan Self-Efficacy yang tinggi akan mampu menguasai beberapa bidang sekaligus untuk menyelesaikan suatu tugas. Individu yang memiliki Self Efficacy yang rendah hanya menguasai sedikit bidang yang diperlukan dalam menyelesaikan suatu tugas.

  • Kekuatan ( strength )

    Dimensi yang ketiga ini lebih menekankan pada tingkat kekuatan atau kemantapan individu terhadap keyakinannya. Self Efficacy menunjukkan bahwa tindakan yang dilakukan individu akan memberikan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan individu. Self Efficacy menjadi dasar dirinya melakukan usaha yang keras, bahkan ketika menemui hambatan sekalipun.

Peran Self Efficacy


Menurut Bandura (1997), Self Efficacy atau efikasi diri akan memengaruhi bagaimana individu merasakan, berpikir, memotivasi diri sendiri, dan bertingkah laku. Berikut ini merupakan peran efikasi diri bagi tiap-tiap individu:

  • Tindakan individu
    Efikasi diri menentukan kesiapan individu dalam merencanakan apa yang harus dilakukanya.

  • Usaha
    Efikasi diri mencerminkan seberapa besar upaya yang dikeluarkan individu untuk mencapai tujuanya.

  • Daya tahan individu dalam menghadapi rintangan atau kegagalan
    Individu dengan efikasi diri tinggi mempunyai daya tahan yang kuat dalam menghadapi rintangan atau kegagalan serta dengan mudah dapat mengembalikan rasa percaya diri setelah mengalami kegagalan.

  • Ketahanan individu dalam keadaan tidak nyaman
    Individu dengan efikasi diri menganggap keaadaan tidak nyaman sebagai suatu tantangan, dan bukan sebagai sesuatu yang harus dihindari.

  • Pola pikir
    Pola pikir individu dengan efikasi diri tinggi tidak akan mudah terpengaruh dengan situasi lingkungan.

  • Stress dan Depresi
    Individu dengan efikasi diri tinggi tidak akan mudah mengalami stress atau depresi.

  • Tingkat pencapaian yang akan terealisasi
    Individu dengan efikasi diri tinggi dapat membuat tujuan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.


(Nicky Setyowati) #3

Jeanne Ellis Ormrod menyatakan bahwa self efficacy adalah keyakinan bahwa seseorang mampu menjalankan perilaku tertentu atau mencapai tujuan tertentu. Menurut Albert Bandura, self efficacy adalah evaluasi seseorang terhadap kemampuan atau kompetensinya untuk melakukan sebuah tugas, mencapai tujuan atau mengatasi hambatan. Sedangkan menurut Robert A. Baron & Donn Byrne self efficacy adalah keyakinan seseorang akan kemampuan atau kompetensinya atas kinerja tugas yang diberikan, mencapai tujuan atau mengatasi sebuah hambatan.

Judge dalam Nur Ghufron & Rini Risnawita, menganggap bahwa efikasi diri adalah indikator positif dari core self evaluation untuk melakukan evaluasi diri yang berguna untuk memahami diri. Efikasi diri merupakan salah satu aspek pengetahuan tentang diri atau self knowledge yang paling berpengaruh dalam kehidupan manusia sehari-hari karena efikasi diri yang dimiliki ikut mempengaruhi indifidu dalam menentukan tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai suatu tujuan, termasuk didalamnya perkiraan terhadap tantangan yang akan dihadapi.

Pendapat serupa juga dikemukakan oleh Alwisol, dalam bukunya yang berjudul psikologi kepribadian disebutkan bahwa efikasi adalah penilaian diri, apakah dapat melakukan tindakan baik atau buruk, tepat atau salah, bisa atau tidak bisa mengerjakan sesuai dengan yang dipersyaratkan.

Dengan bahasa yang berbeda Juntika Nurihsan dan Syamsu yusuf mengemukakan bahwa self efficacy merupakan keyakinan diri (sikap percaya diri) terhadap kemampuan sendiri untuk menampilkan tingkah laku yang akan mengarahkannya kepada hasil yang diharapkan.

Self efficacy adalah keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa dia mampu melakukan sesuatu untuk mencapai sebuah tujuan dan mengatasi hambatan.

Sumber -sumber self efficacy


Efikasi diri atau keyakinan kebiasaan diri itu dapat diperoleh, diubah, ditingkatkan, atau diturunkan melalui salah satu atau kombinasi empat sumber, yakni pengalaman menguasai sesuatu prestasi ( performance accomplishment ), pengalaman vikarius ( vicarious experience ), persuasi sosial ( social persuation ) dan pembangkitan emosi ( emotional physiological states ).

  • Pengalaman performansi adalah prestasi yang pernah dicapai pada masa yang telah lalu. Sebagai sumber, performansi masa lalu menjadi pengubah efikasi diri yang paling kuat pengaruhnya. Prestasi (masa lalu) performansi yang bagus meningkatkan ekspektasi efikasi. Mencapai keberhasilan akan memberi dampak efikasi yang berbeda-beda, tergantung proses pencapaiannya :

    • Semakin sulit tugasnya, keberhasilan akan membuat efikasi semakin tinggi.

    • Kerja sendiri, lebih meningkatkan efikasi dibanding kerja kelompok, dibantu orang lain.

    • Kegagalan menurunkan efikasi, kalau orang sudah merasa berusaha sebaik mungkin.

    • Kegagalan dalam suasana emosional atau stress, dampaknya tidak seburuk kalau kondisinya optimal.

    • Kegagalan sesudah orang memiliki keyakinan efikasi yang kuat, dampaknya tidak seburuk kalau kalau kegagalan itu terjadi pada orang yang keyakinan efikasinya belum kuat.

    • Orang yang biasa berhasil, sesekali gagal tidak mempengaruhi efikasi.

  • Pengalaman vikarius, diperoleh melalui model sosial. Efikasi akan meningkat ketika mengamati keberhasilan orang lain, sebaliknya efikasi akan menurun jika mengamati orang yang kira-kira kemampuannya sama dengan dirinya ternyata gagal. Kalau figur yang diamati beda dengan diri sipengamat, pengaruh vikarius tidak besar. Sebaliknya ketika mengamati figur yang setara dengan dirinya, bisa jadi orang tidak mau mengerjakan apa yang pernah gagal dikerjakan figur yang diamatinya itu dalam jangka waktu yang lama.

  • Persuasi sosial. Efikasi diri juga dapat diperoleh, diperkuat atau dilemahkan melalui persuasi sosial. Dampak dari sumber ini terbatas, tetapi pada kondisi yang tepat persuasi dari orang lain dapat mempengaruhi efikasi diri. Kondisi itu adalah rasa percaya kepada pemberi persuasi, dan sifat realistik dari apa yang dipersuasikan.

  • Keadaan emosi. Keadaan emosi yang mengikuti suatu kegiatan akan mempengaruhi efikasi dibidang kegiatan itu. Emosi yang kuat, takut, cemas stress, dapat mengurangi efikasi diri. Namun bisa terjadi, peningkatan emosi yang tidak berlebihan dapat meningkatkan efikasi diri.

Selain itu menurut Bandura, terdapat 4 sumber ekspektasi efikasi-diri : mastery experience, physiological and emotional arousal, vocarious experiences, dan sosial persuation.

  • Mastery experience adalah pengalaman langsung kita merupakan sumber informasi efikasi yang paling kuat. Kesuksesan menaikkan keyakinan efikasi, sementara kegagalan menurunkan efikasi.

  • Tingkat arousal mempengaruhi efikasi-diri, tergantung bagaimana arousal itu diinterpretasikan. Pada saat anda menghadapi tugas tertentu, apakah anda merasa cemas dan khawatir (menurunka efikasi) atau bergairah " psyched" (menaikkan efikasi).

  • Dalam vocarious experience (pengalaman orang lain), seseorang memberikan contoh penyelesaian. Semakin dekat siswa mengidentifikasi dengan model, akan besar pula dampaknya pada efikasi-diri. Bila sang model bekerja dengan baik, efikasi siswa meningkat, tetapi bila sang model bekerja dengan buruk, ekspektasi efikasi siswa menurun.

  • Persuasi sosial dapat berupa “*pep talk” atau umpan balik spesifik atas kinerja. Persuasi sosial sendiri dapat membuat siswa mengerahkan usaha, mengupayakan strategi-strategi baru, atau berusaha cukupkeras untuk mencapai kesuksesan.

Klasifikasi self efficacy


Self efficacy dibagi menjadi 2 yaitu self efficacy tinggi dan rendah. menurut Robert Kreitner & Angelo Kinicki, ada beberapa perbedaan pola perilaku antara seseorang yang mempunyai self efficacy tinggi dan rendah, yang dapat dilihat pada diagram berikut :

image

Dari diagaram diatas dijelaskan perbedaan pola perilaku (behavioral pattern) antara seseorang yang mempunyai self efficacy tinggi dengan seseorang yang mempunyai self efficacy rendah sebagai berikut :

Self efficacy tinggi :

  • Aktif memilih peluang terbaik
  • Mampu mengelola situasi, menghindari atau menetralisir hambatan
  • Menetapkan tujuan, menetapkan standart
  • Membuat Rencana, persiapan dan praktek
  • Bekerja keras
  • Kreativ dalam memecahkan masalah
  • Belajar dari kegagalan
  • Memvisualisasikan keberhasilan
  • Membatasi stres

Self efficacy rendah :

  • Pasif
  • Menghindari tugas yang sulit
  • Aspirasi lemah dan komitmen rendah
  • Fokus pada kekurangan pribadi
  • Tidak melakukan upaya apapun
  • Berkecil hati karena kegagalan
  • Menganggap kegagalan adalah karena kurangnya kemampuan atau nasib buruk
  • Mudah khawatir, stress dan menjadi depresi
  • Memikirkan alasan untuk gagal

Dimensi - dimensi self efficacy


Konsep self efficacy memasukkan 3 dimensi yaitu besarnya, kekuatan dan generalitas.

  • Besarnya merujuk pada tingkat kesulitan yang diyakini dapat ditangani oleh individu. Sebagai contoh jim mungkin yakin dia dapat menempatkan panah ditarget sebanyak 6 kali dari 10 kali percobaan. Sara mungkin merasa bahwa dia dapat mengenai target 8 kali. Oleh karena itu, sara mempunyai self efficacy yang lebih besar mengenai tugas ini dari pada jim.

  • Kekuatan merujuk pada apakah keyakinan berkenaan dengan self efficacy kuat atau lemah. Jika pada contoh sebelumnya jim merasa cukup yakin dia dapat mengenani target 6 kali, sementara sara sangat positif dia dapat mengenai target 8 kali, sara menunjukkan self efficacy yang lebih kuat dari pada jim.

  • Generalitas menunjukkan seberapa luas dimana keyakinan terhadap kemampuan tersebut berlaku. Jika jim berpikir dia dapat mengenai target sama dengan sebuah pistol dan senapan, dan sara tidak berpikiran bahwa dia mampu, jim menunjukkan generalitas yang lebih luas daripada sara.

Referensi

  • Jeanne Ellis Ormrod, Psikologi Pendidikan (Jakarta : ERLANGGA, 2008).
  • Robert A. Baron & Donn Byrne, Psikologi Sosial (Jakarta : ERLANGGA, 2003).
  • Nur Gufron & Rini Risna Wita, Teori-teori Psikologi (Yogyakarta : Aruzz Media, 2012).
  • Alwisol, Psikologi Kepribadian edisi revisi ( Malang : UMM Press, 2009 ).
  • Syamsu yusuf & Juntika Nurihsan, Teori kepribadian ( Bandung : PT REMAJA ROSDA KARYA, 2008 ).
  • Robert kreitner & Angelo kinicki. 1989. Organizational Behavior Second Edition. Boston : Von Hofman press.
  • John M. Ivancevich dkk, Perilaku Dan Manajemen Organisasi (Jakarta : Erlangga, 2006)

(Shinta Amanda) #4

Efikasi diri atau self-efficacy merupakan “keyakinan manusia pada kemampuan mereka untuk melatih sejumlah ukuran pengendalian terhadap fungsi diri mereka dan kejadian-kejadian di lingkungannya” (Bandura (2001).

Sedangkan apabila self-efficacy diaplikasikan ke dalam dunia kerja, maka menurut Stajkovic & Luthans (1998), self-efficacy dapat didefinisikan sebagai “keyakinan seseorang tentang kemampuannya untuk mengerahkan motivasi, sumber daya kognitif dan tindakan yang diperlukan untuk berhasil melaksanakan tugas dan dalam konteks tertentu”.

Keyakinan efficacy dikatakan mempengaruhi bagaimana seseorang melihat dan menginterpretasi suatu kejadian. Mereka yang memiliki self-efficacy yang rendah dengan mudah yakin bahwa usaha yang mereka lakukan dalam menghadapi tantangan yang sulit akan sia-sia, sehingga mereka cenderung untuk mengalami gejala negatif dari stres. Sementara mereka yang memiliki self-efficacy yang tinggi akan cenderung untuk melihat tantangan sebagai sesuatu yang dapat diatasi yang diberikan oleh kompetensi dan upaya yang cukup (Bandura dalam Avey, Luthans & Jensen, 2009).

Pandangan Hughes, Ginnett & Curphy (2009) melihat self-efficacy terdiri dari dua jenis; Positive self-efficacy dan Negative self-efficacy .

  • Self-efficacy dikatakan positif ketika keyakinan yang dimiliki seseorang bahwa ia percaya mempunyai kuasa untuk menciptakan apa yang ia inginkan atau harapkan.

  • Self-efficacy dikatakan negatif ketika keyakinan yang dimiliki seseorang membuat dirinya lemah atau melemahkan dirinya sendiri.

Penelitian mengungkapkan bahwa orang yang secara sederhana percaya bahwa ia dapat menyelesaikan suatu tugas tertentu dengan baik, seringkali mengerahkan usaha yang cukup untuk menyelesaikan tugas tersebut. Sebaliknya, orang yang memiliki self-efficacy yang negatif seringkali menyerah dalam menghadapi kesulitan.

Menurut Feist & Feist (2008), manusia dapat memiliki self-efficacy yang tinggi di satu situasi namun rendah di situasi lain. Hal ini berdasarkan atas faktor-faktor yang membentuk self-efficacy pada satu pribadi. Self-efficacy pribadi itu didapatkan, dikembangkan atau diturunkan melalui satu atau lebih dari kombinasi empat sumber berikut (Bandura, 1997): (1) pengalaman-pengalaman tentang penguasaan ( mastery experiences ), (2) pemodelan sosial ( social modeling ), (3) persuasi sosial ( social persuasion ), (4) kondisi fisik dan emosi ( physical and emotional states ) (dalam Feist & Feist, 2008).

  • Mastery Experiences

    Sumber yang paling kuat atau berpengaruh bagi self-efficacy adalah pengalaman-pengalaman tentang penguasaan ( mastery experiences ), yaitu kinerja yang sudah dilakukan di masa lalu (Bandura dalam Feist & Feist, 2008). Biasanya, kesuksesan suatu kinerja akan membangkitkan harapan terhadap kemampuan diri untuk mempengaruhi hasil yang diharapkan, sedangkan kegagalan cenderung merendahkannya (Feist & Feist, 2008).

    Dalam pekerjaan, menurut Gist & Mitchell (dalam Avey, Luthans & Jensen, 2009) keberhasilan dalam melakukan suatu tugas (performa/kinerja) sebelumnya akan meningkatkan self-efficacy mengenai tugas tersebut, dan kesalahan yang berulang saat melakukan suatu tugas maka membuat ekspetasinya menjadi lebih rendah. Dengan kata lain, kinerja seseorang dalam melakukan suatu tugas akan sangat mempengaruhi self-efficacy .

  • Social Modeling

    Social modeling atau pemodelan sosial, yaitu berbicara mengenai pengalaman-pengalaman tak terduga ( vicarious experiences ) yang disediakan atau dilakukan oleh orang lain. Self-efficacy akan meningkat ketika seseorang mengamati pencapaian orang lain yang setara kompetensinya, tetapi akan menurun ketika melihat kegagalan seorang rekan kerja (Feist & Feist, 2008).

    Menurut Bandura (1977); Gist & Mitchell (1992), social modeling adalah pemodelan perilaku orang lain yang telah berhasil menyelesaikan suatu tugas. Dengan mengamati atau mengobservasi orang lain yang berhasil menyelesaikan tugasnya, observer dapat meningkatkan atau memperbaiki performance mereka (dalam Avey, Luthans & Jensen, 2009).

  • Social Persuasion

    Menurut Bandura (1997), self-efficacy dapat juga diraih atau dilemahkan melalui persuasi sosial. Efek persuasi sosial agak terbatas, namun apabila dalam kondisi yang tepat akan sangat berdampak dalam meningkatkan atau menurunkan self-efficacy . Kondisi yang dimaksud ialah seseorang harus percaya kepada sang ‘pembicara’ ( persuader ). Bandura (1986) berhipotesis bahwa efek sebuah nasihat bagi self-efficacy berkaitan erat dengan status dan otoritas dari pemberi nasihat (dalam Feist & Feist, 2008).

    Social persuasion terjadi ketika seseorang memberitahu kepada seorang individu bahwa mereka dapat menyelesaikan tugas dengan berhasil. Bentuk umum dari social persuasion yaitu; dorongan verbal , coaching dan menyediakan performance feedback (Bandura dalam Avey, Luthans & Jensen, 2009).

  • Physical and Emotion States

    Sumber terakhir dari self-efficacy adalah kondisi fisik dan emosi (Bandura, 1997). Emosi yang kuat biasanya menurunkan tingkat performa/kinerja seseorang. Ketika mengalami rasa takut yang besar, kecemasan yang kuat dan tingkat stres yang tinggi, seseorang akan memiliki self-efficacy yang rendah. Bagi beberapa psikoterapis sudah lama menyadari bahwa pereduksian/pengurangan rasa cemas atau peningkatan relaksasi fisik dapat meningkatkan kinerja (dalam Feist & Feist, 2008).

Keempat sumber self-efficacy tersebut digunakan untuk menentukan apakah seseorang dikatakan kompeten atau mampu melakukan perilaku tertentu (Friedman & Schustack, 2008). Pada penelitian ini, diasumsikan bahwa melalui keempat sumber self-efficacy tersebut seorang karyawan baru dikatakan dapat berhasil menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja baru atau dengan kata lain keempat informasi tersebut menjadi indikator dalam menggambarkan self-efficacy seorang karyawan baru.

Antara self-efficacy dan performance atau kinerja kerja seseorang dikatakan saling menguntungkan atau mempengaruhi satu sama lain. Self-efficacy memimpin atau mengarahkan seseorang ke performance kerja yang lebih baik, dan sebaliknya performance kerja yang baik akan meningkatkan self-efficacy seseorang (Larsen & Buss, 2008).