Apa yang dimaksud dengan Dry socket?

cabut_gigi

(Danniar Reza Firdausy) #1

Cabut gigi adalah salah satu pengalaman seseorang yang terbilang tidak menyenangkan. Dalam keadaan dan situasi tertentu yang sudah parah, maka gigi mau tak mau memang harus dicabut. Ketidaknyamanan saat mencabut gigi adalah salah satu hal yang membuat orang sangat menghindarinya. Dan ternyata bukan hanya saat proses pencabutan gigi saja yang membuat banyak orang merasa takut, tapi juga kondisi setelah cabut gigi. Setelah proses cabut gigi memang bukan berarti masalah selesai, namun ada sebuah keadaan sakit atau nyeri yang disebut dengan dry socket yang bisa saja terjadi. Apa saja yang disebut dengan Dry Socket?


(Novia Fanny Salsabila) #2

Dry socket adalah keadaan nyeri atau sakit yang teramat sangat dan berkepanjangan pada gusi dan sekitarnya setelah pencabutan gigi. Sakit yang bernama dry socket ini sebenarnya bisa terjadi dan bisa juga tidak terjadi. Penyebab yang membuat dry socket ini muncul adalah karena bekuan darah di lokasi pencabutan copot yang seharunya menutup lubang, tidak mampu menutup atau melindungi bagian bekas cabutan gigi tersebut. Karena bekuan darah (blood clot) ini tidak melindungi atau gagal melindungi lubang bekas cabutan gigi (socket), maka terjadinya apa yang disebut dry socket.

Salah satu hal yang membuat gagalnya gumpalan darah menutup dan melindungi socket adalah merokok setelah mencabut gigi. Rokok yang mengandung zat nikotin memang bisa membuat pembuluh darah kapiler mengalami penyempitan. Dan karena kondisi inilah kemudian gumpalan darah yang seharusnya menutup socket jadi gagal tertutup. Pada perempuan yang memakai kontrasepsi oral juga kemungkinan kegagalan gumpalan darah menutup socket juga besar. Hal ini terjadi karena adanya hormon estrogen yang bisa menghambat terbentuknya gumpalan darah.

Nyeri yang bisa timbul dari sakit gusi dry socket ini terbilang luar biasa. Pasalnya nyeri yang terasa bukan hanya pada bagian gusi saja, namun rasa nyeri ini bisa menjalar sampai ke ke telinga, leher, hingga kepala. Artinya jalur di sepanjang saraf gigi akan terkena dampak dari dry socket ini. Selain rasa nyeri berlebih ini, sakit dry socket ini juga bisa menyebabkan mulut berbau (halitosis). Dan horornya lagi, rasa nyeri hebat karena dry socket ini bisa berlangsung lumayan lama antara 2-5 hari.

Untuk menghindari munculnya dry socket ini maka disarankan setelah proses pencabutan gigi Anda tidak merokok. Selain itu Anda juga dianjurkan tidak banyak meludah serta tidak berkumur-kumur. Memakai sedotan ketika minum pun sebaiknya dihindari supaya proses penggumpalan darah untuk melindungi socket ini berjalan dengan baik dan sempurna.


(Arvind Zahair Akalanka) #3

Dry Socket atau Alveolar Osteitis adalah suatu kondisi hilangnya blood clot dari soket gigi.

Komplikasi yang paling sering terjadi, dan paling sakit sesudah pencabutan gigi adalah dry socket. Dry socket terjadi sekitar 3% setelah dilakukan tindakan pencabutan gigi.

Komplikasi ini sering terjadi setelah pencabutan gigi posterior dan lebih sering terjadi pada rahang bawah daripada di rahang atas. Regio molar bawah adalah daerah yang sering terkena, khususnya alveolus molar ketiga.

Dry socket lebih sering terjadi setelah pencabutan gigi yang menggunakan anastesi lokal daripada pencabutan gigi yang menggunakan anastesi umum.

Etiologi

Ada beberapa penyebab dari timbulnya dry socket. Dry socket bisa terjadi karena trauma selama pencabutan gigi, penurunan perdarahan yang diakibatkan karena penggunaan injeksi epinephrine atau vasokonstriktor lainnya. Selain itu penyebab lain dry socket adalah karena adanya infeksi pada soket gigi setelah pencabutan gigi, tulang yang tebal, hilangnya blood clot.

Trauma dan infeksi adalah penyebab utama dari timbulnya dry soket. Adanya trauma dan infeksi menyebabkan timbulnya reaksi inflamasi pada sum-sum tulang dan akan terjadi pelepasan tissue activator. Pelepasan ini akan menyebabkan terjadinya perubahan plasminogen di dalam clot menjadi plasmin. Agen fibrinolitik ini akan menghacurkan blood clot dan pada saat yang bersamaan, terjadi pelepasan kinin dari kinogen, yang juga di dalam clot, sehingga akan menimbulkan terjadinya rasa sakit.

Etiologi dan Patogenesis dari Alveolitis Fibrinolitik
Gambar Etiologi dan Patogenesis dari Alveolitis Fibrinolitik

Menurut Kruger (1974), penyebab dari munculnya dry socket tidak diketahui, tetapi ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan insiden terjadinya dry socket yaitu truma, infeksi suplai darah dari tulang sekitar, dan kondisi sistemik. Penyebab dari komplikasi ini juga dapat berhubungan dengan faktor-faktor yang dapat menghalangi terbentuknya blood clot di dalam alveolus. Pasien dengan dense osteosclerotic bone, atau gigi dengan osteosclerotic alveolar wall yang disebabkan karena iinfeksi kronik, merupakan faktor predisposisi munculnya dry socket.

Gambaran Klinis

Dry socket biasanya akan muncul pada hari ke 3-5 sesudah tindakan bedah atau pencabutan gigi. Keluhan utamanya adalah timbulnya rasa sakit yang hebat. Pada pemeriksaan terlihat alveolus terbuka, terselimuti kotoran dan disertai dengan munculnya peradangan gingiva.

Gambaran Klinis Dry socket

Menurut Pedlar dan kawan-kawan (2001), akan terlihat adanya sisa clot yang berwarna abu-abu, mukosa sekitar dan alveolus akan berwarna merah dan bengkak. Inflamasi akan menyebar secara mesiodistal melalui alveolus, menyebabkan timbulnya rasa empuk pada gigi disebelahnya jika dilakukan penekanan. Biasanya jika hal ini terjadi pasien akan merasa bahwa telah terjadi salah pencabutan gigi karena akan muncul rasa sakit pada gigi sebelahnya. Selain itu juga akan timbul bau mulut dan terdapat local lymphadenitis.

Pencegahan Komplikasi Dry Socket

Insiden terjadinya komplikasi ini dapat dicegah. Karena ada keterlibatan bakteri yang dapat menimbulkan dry scoket, maka sebelum tindakan pencabutan gigi dilakukan pemberian prophylactic administration berupa metronidazole, atau melakukan irigasi pada gingival crevice.

Menurut Pedlar dan kawan-kawan (2001), pencegahan komplikasi ini dapat dilakukan dengan mengurangi trauma, pembersihan alveolus, dilakukan packing sebagai profilaksis dengan pembalut obat.

Pencegahan lain yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan atraumatic surgery, hindari terjadinya kontaminasi, dan menjaga kesehatan umum pasien dengan baik.

Penatalaksanaan Dry Socket

Apabila tidak dilakukan perawatan, maka komplikasi ini akan hilang secara spontan dengan sendirnya. Biasanya dibutuhkan waktu selama 4 minggu dan selama itu rasa sakit akan tetap timbul. Apabila tidak dilakukan perawatan dengan benar, maka dry socket akan berkembang menjadi osteomyelitis.

Menurut Pederson (1996), perawatan yang dilakukan harus dilakukan dengan hati-hati. Bagian yang mengalami alveolitis dirigasi dengan menggunakan larutan saline yang hangat dan diperiksa. Lakukan palpasi yang hati-hati dengan menggunakan aplikator kapas untuk membantu dalam menentukan sensitivitas. Apabila pasien tidak tahan, maka dilakukan anastesi lokal atau topikal sebelum melakukan packing. Packing ini dilakukan dengan memasukkan pembalut obat-obatan ke dalam alveolus. Pembalut diganti sesudah 24-48 jam kemudian dirigasi dan diperiksa kembali.

obat-obatan untuk dry socket

Kebanyakan dry socket akan sembuh sesudah 4-5 hari, apabila sampai 5-7 hari maka harus dilakukan rontgen, dan diperkirakan terjadi osteomyelitis.

Menurut Pedlar dan kawan-kawan (2001), perawatan yang dilakukan yaitu irigasi soket dengan menggunakan larutan saline hangat untuk menghilangkan debris. Lalu lakukan pemberian antiseptic dressing untuk menutupi tulang yang terekspos. Antiseptic dressing yang digunakan adalah pasta eugenol yang diletakaan di bagian korona dari soket gigi untuk menutup tulang. Biasanya dressing ini tidak perlu diganti karena akan hilang dengan sendirinya dalam beberapa hari. Ada juga dressing alternatif yang dapat digunakan yaitu Whitehead’s varnish pada ribbon gauze, Bismuth iodoform dan parafin paste dalam gauze. Dressing alternatif ini harus diganti setelah satu minggu.

Menurut Laskin (1985), perawatan yang dilakukan bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit yang timbul akibat dari soket. Perawatan yang dilakukan dengan dua cara, yaitu pertama dengan terapi lokal berupa irigasi soket gigi dengan sterile isotonic saline solution atau dilute solution dari hidrogen peroksida untuk menghilangkan material nekrotik dan debris. Lalu diikuti dengan pemberian dressing dengan menggunakan eugenol atau guaiacol, anastesi topikal (butacaine) yang diletakkan pada gauze. Yang kedua sebagai tambahan dari terapi lokal adalah dengan pemberian analgesik seperti codeine sulfate (1/2 gram) atau meperidine (50 gram) setiap 3-4 jam sekali. Pasien harus selalu di evaluasi. Jika rasa sakitnya telah hilang, maka pemberian medikasi di dalam soket tidak harus diganti. Tetapi jika rasa sakitnya masih muncul, maka lakukan irigasi dan dressing di dalam soket harus di ganti. Pemberian analgesik dapat diberikan secara oral maupun parenteral.

Tindakan kuretase tidak boleh dilakukan sebagai perawatan dry socket.