© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Dramaturgical Model dalam Ilmu Komunikasi?

Dramaturgi adalah teori yang mengemukakan bahwa teater dan drama mempunyai makna yang sama dengan interaksi sosial dalam kehidupan manusia. Dramaturgi dicetuskan oleh Erving Goffman pada tahun 1959 yang termuat dalam karyanya berjudul “Presentation of Self in Everyday Life” Dramaturgi merupakan pendalaman dari konsep interaksi sosial, yang menandai ide-ide individu yang kemudian memicu perubahan sosial masyarakat menuju era kontemporer Teori dramaturgi muncul sebagai reaksi atas konflik sosial dan rasial dalam masyarakat. Dramaturgi berada di antara interaksi sosial dan fenomenologi.

Teori dramaturgi (Dramaturgical Model) menganalisis interaksi sosial sebagai suatu pertunjukan teatrikal dimana kehidupan digambarkan dengan suatu penampilan atau pertunjukan di atas panggung. Masing-masing manusia memainkan peran dalam kehidupannya.

Peran yang dimainkan manusia adalah bentuk citra atau bayangan yang ingin diwujudkan oleh setiap orang dengan “naskah” sebagai sebuah isi yang dikomunikasikan kepada masyarakat. Tujuan pertunjukan itu sendiri adalah untuk membuat masyarakat percaya terhadap apa yang disajikan dalam pertunjukan tersebut.

Menurut Erving Goffman, setiap individu membuat keputusan untuk mempresentasikan dirinya melalui pengelolaan kesan dan melanjutkan pertunjukannya untuk memastikan bahwa citra atau bayangan tersebut terbentuk.

Dalam teori dramaturgi terdapat dua esensi utama yaitu konsep front stage dan back stage. Dalam interaksi tatap muka, kedua konsep ini saling terhubung satu sama lain tetapi berada pada dua wilayah yang berbeda.

Front Stage

Dalam berinteraksi dengan orang lain, kita akan memberikan penilaian terhadap orang tersebut perdasarkan berbagai petunjuk yang orang lain berikan kepada kita. Begitu juga sebaliknya. Berdasarkan penilaian itulah kita memperlakukan orang lain.

Dengan kata lain, ketika kita berinteraksi dengan orang lain maka secara sengaja kita akan menampilkan diri kita sebagaimana yang kita inginkan.

Hal-hal yang dapat kita gunakan untuk menampilkan diri kita di hadapan orang lain disebut dengan front stage yang terdiri dari panggung, penampilan, dan gaya bertingkah-laku.

Back Stage

Menurut Erving Goffman yang dimaksud dengan back stage adalah bahwa penampil dapat bersantai dimana ia dapat melepaskan diri dari semua peralatan yang digunakan dalam proses menampilkan diri.

Ketika pertunjukan telah selesai, individu kembali ke belakang panggung dan merasa lega bahwa berbagai tindakan yang ditampilkan di atas panggung telah diekspresikan.

Semua tindakannya memang tidak akan memuaskan semua pihak, bahkan mungkin tidak dapat memuaskan dirinya sendiri. Belakang panggung adalah tempat dimana penampil hadir tanpa adanya masyarakat yang menontonnya. Oleh karena itu, di belakang panggung, seseorang dapat keluar dari karakter “yang diperankannya” tanpa merasa takut dapat merusak penampilannya di masyarakat.

Pengelolaan Kesan (Impression Management)

Pengelolaan kesan tidak secara jelas berfokus pada teori, tetapi merupakan sebuah bentukan yang merepresentasikan suatu presentasi dan pengelolaan identitas sosial selama berlangsungnya proses interaksi.

Pengelolaan kesan mengacu pada citra yang ditampilkan oleh seorang individu selama proses interaksi.

Beberapa peneliti menggunakan istilah diri sosial atau diri publik untuk membedakan identitas sosial dengan diri pribadi.

1. Presentasi Diri dan Strategi Presentasi Diri (Self-Presentation and Self-Presentation Strategies)

Istilah presentasi diri dan strategi presentasi diri digunakan oleh Edward Jones dan kawan-kawan untuk menggambarkan konsep pengelolaan kesan. Teori ini mengasumsikan bahwa penampilan seorang individu merupakan sekumpulan perilaku yang koheren selama interaksi, yang menyebabkan orang lain memberikan semacam tipe atribusi terhadap orang tersebut.

Menurut Sandra Metts, terdapat 5 (lima) tipe atribusi serta berbagai karakteristik strategi yang menyertainya, yaitu :

  • Seorang individu yang ingin disukai akan menggunakan strategi kecerobohan serta beberapa taktik untuk menampilkan emosi positif selama interaksi.

  • Seorang individu yang ingin dilihat sebagai seseorang yang kompeten atau memiliki kompetensi tertentu akan menggunakan strategi promosi diri dan beberapa taktik seperti mengatakan kepada lawan bicara tentang berbagai prestasi yang telah dicapai dengan memperlihatkan berbagai penghargaan yang diperoleh kepada publik.

  • Seorang individu yang ingin dilihat sebagai seseorang yang layak atau memiliki kepantasan akan menggunakan strategi contoh atau menggunakan contoh-contoh dan beberapa taktik seperti mendemonstrasikan kemampuan yang dimiliki, kompeten, integritas, atau nilai-nilai dibandingkan dengan menyatakannya secara langsung kepada publik.

  • Seorang individu yang ingin dilihat sebagai seseorang yang perlu pertolongan akan menggunakan strategi permohonan dan taktik dengan menampilkan kelemahan atau kesedihan untuk memperoleh simpati dan empati orang lain atau menganggap tidak memiliki kecakapan atau pengetahuan atau pengalaman untuk menghindari tanggung jawab melakukan tugas.

  • Seorang individu yang ingin dilihat sebagai seseorang yang memiliki kekuasaan atau kendali akan menggunakan strategi intimidasi dan taktik seperti menampilkan amarah atau mendemontrasikan keinginan untuk menghukum atau melukai orang lain. (Baca juga: Komunikasi Dakwah)

2. Identitas Sosial Bersituasi (Situated Sosial Identity)

Istilah situated social identity diperkenalkan pertama kali oleh ahli sosiologi Erving Goffman. Secara sederhana ia menyatakan bahwa prinsip-pinsip yang mengorganisasi seluruh interaksi sosial adalah pengelolaan identitas sosial yang terkoordinasi atau disebut juga dengan face.

Erving Goffman menggunakan metafora sebuah permainan untuk menjelaskan pandangan tentang pengelolaan kesan. Ia berpendapat bahwa ketika manusia berinteraksi, mereka membentuk dan mengelola face sebagaimana yang ditampilkan oleh para penampil dalam sebuah scene atau panggung.

Karenanya manusia mempersiapkan penampilan mereka di belakang panggung, kemudian membawanya ke atas panggung dengan melakukan manipulasi terhadap berbagai properti dan kostum yang digunakan sesuai dengan peran yang dimainkan. Para penampil lainnya bertindak sebagai khalayak yang mendukung jalannya pertunjukan.

Tidak selamanya suatu pertunjukan berjalan dengan lancar karena itu diperlukan suatu strategi yang dikenal dengan sebutan facework. Terdapat dua macam strategi facework yaitu preventive facework dan corrective facework.

  • Preventive facework
    Strategi Preventive facework dirancang untuk mempersiapkan berbagai kemungkinan hilangnya face yang dimiliki atau orang lain. Misalnya, kita menahan diri untuk tidak berbicara ketika berada dalam sebuah rapat untuk menghindari kita mengatakan sesuatu yang dapat mendiskreditkan diri kita sendiri sehingga merusak face kita.

  • Corrective facework
    Strategi Corrective facework dapat membantu memperbaiki sebuah scene mengembalikan face setelah kita kehilangannya. Misalnya ketika kita kehilangan muka dan merasa malu maka kita akan meminta maaf dan mencoba untuk memperbaikinya.

Pengelolaan kesan atau impression management merupakan konsep yang secara luas telah digunakan dalam konteks komunikasi interpersonal dan komunikasi organisasi. Sementara itu, face dan facework dikaji dalam konteks komunikasi antar budaya (Metts, dalam Littlejohn dan Foss).

Model Pengelolaan Kesan (Impression Management Model)

Menurut Sandra Metts, Model ini dapat diintegrasikan ke dalam suatu model hierarki proses pengelolaan kesan yang ditandai dengan tujuan diadakannya sebuah interaksi. Terdapat 4 (empat) meta tujuan, yaitu :

  • Demonstrating social competence – para pelaku interaksi saling berinteraksi secara mulus sehingga terbentuk identitas sosial tanpa melakukan banyak usaha untuk mencapainya

  • Impression construction – keterampilan mengintepretasi suatu situasi kemudian diwujudkan dalam strategi pengelolaan kesan yang diasumsikan dapat membentuk kesan yang sesuai. Kunci agar suatu proses interaksi berjalan dengan mulus adalah kemampuan untuk melakukan pengawasan terhadap kesan yang dibuat

  • Protecting impression integrity – para pelaku interaksi hendaknya menaruh perhatian terhadap berbagai ancaman yang mungkin ada dan harus dapat menghindari ancaman tersebut atau meminimalisir ancaman yang ada baik ancaman ke diri maupun orang lain

  • Restoring impression integrity – hal ini dilakukan ketika para pelaku interaksi merasa bahwa segala daya upaya untuk menghindari kehilangan muka menemui kegagalan. Strategi restorasi menitikberatkan pada restorasi karakter moral atau perilaku yang tidak sesuai.

Cermin Diri (Looking-Glass Self)

Konsep cermin diri dikenalkan pertama kali oleh Charles Horton Cooley yang menyatakan bahwa relasi diri atau bagaimana seorang individu memandang dirinya bukan sebagai fenomena soliter tapi lebih melibatkan orang lain. Cooley menyatakan bahwa masyarakat dan individu bukan merupakan fenomena yang terpisah tetapi merupakan kumpulan berbagai aspek.

Menurut Cooley, dalam berinteraksi dengan orang lain, kita tidak hanya memberikan tanggapan terhadap apa yang dilakukan oleh orang lain. Lebih dari itu, secara bersamaan juga kita melakukan persepsi terhadap diri kita. Diri kita bukan lagi sebagai pribadi yang memberikan tanggapan tetapi juga sebagai pribadi stimuli sekaligus.

Cooley menyebut hal ini dengan sebagai looking-glass self. Terdapat 3 (tiga) elemen dalam cermin diri atau looking-glass self, yaitu (Rakhmat, 2001) :

  • Kita membayangkan bagaimana kita terlihat dimata orang lain.
  • Kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita.
  • Kita mengalami perasaan bangga atau kecewa.