Apa yang dimaksud dengan distres psikologis ?

stres
kejiwaan

(Lia Permata Sari) #1

Distres psikologis

Distres psikologis merupakan keadaan negatif kesehatan mental yang mempengaruhi individu baik secara langsung maupun tidak langsung dan berkaitan dengan kondisi kesehatan fisik dan mental lainnya

Apa yang dimaksud dengan distres psikologis ?


(Dinah Lisasari) #2

Distres merujuk kepada suatu istilah yang menggambarkan respon stres subjektif yang dialami oleh individu yang biasanya terwujud dalam bentuk kecemasan atau depresi (Matthews, 2000). Istilah distres juga terkadang digunakan untuk menggambarkan perilaku dan gejala-gejala medis (somatic distress). Konsep distres pertama kali diambil dari teori Hans Selye mengenai General Adaptation Syndrome (GAS), yang menjelaskan mengenai respon-respon fisiologis dan psikologis umum terhadap stres yang diakibatkan oleh peristiwa hidup yang mengancam (Matthews, 2000).

Dalam teori tersebut, distres digambarkan sebagai kesulitan untuk beradaptasi terhadapi stressor eksternal, meskipun sebenarnya stres bisa saja menyebabkan dampak yang membuat seseorang bersemangat ( eustress ). Oleh karena itu, distres dapat pula dikonseptualisasikan sebagai bentuk ‘ketegangan’ internal yang disebabkan oleh stressor eksternal dari lingkungan.

Mirowsky dan Ross (2003) juga mengemukakan bahwa distres adalah sebuah keadaan subjektif yang tidak menyenangkan. Dijelaskan selanjutnya bahwa distres memiliki dua bentuk utama, yaitu depresi dan kecemasan (Mirowsky & Ross, 2003). Depresi merupakan keadaan dimana individu senantiasa merasa sedih, kehilangan semangat, kesepian, putus asa, tidak berharga, mengharapkan kematian, sulit tidur, menangis terus menerus, merasa bahwa segalanya sangat sulit untuk diupayakan sehingga membuat individu sulit untuk memulai melakukan sesuatu. Sementara itu, kecemasan memiliki ciri adanya ketegangan, kegelisahan, khawatir, mudah marah, dan ketakutan.

Depresi dan kecemasan masing-masing memiliki dua komponen, yaitu mood dan tubuh yang senantiasa merasa tidak enak atau tidak nyaman ( malaise ) (Mirowsky & Ross, 2003). Mood direpresentasikan oleh perasaan-perasaan negatif seperti kekhawatiran, kecemasan, mudah marah, tegang, ketakutan, merasa gagal, kesepian, kesedihan, dan perasaan negatif lain. Sementara malaise direpresentasikan oleh keadaan fisiologis seperti hilangnya selera makan, sulit tidur, sulit berkonsentrasi, berkeringat dingin, jatung berdetak kencang, nafas yang pendek, gemetar, tidak bergairah dan gejala penyakit ringan (sakit kepala, sakit perut, pusing).

Faktor-faktor yang mempengaruhi distres psikologis


Dalam Mirowsky dan Ross (2003) dijelaskan bahwa terdapat empat pola sosial dasar yang berpengaruh terhadap distres. Pola sosial yang pertama adalah gender, dimana perempuan lebih mudah mengalami distres bila dibandingkan dengan laki-laki. Kemudian, status pernikahan, dimana dijelaskan bahwa individu yang sudah menikah cenderung lebih resilien terhadap distres bila dibandingkan dengan individu yang belum menikah. Selanjutnya adalah peristiwa hidup yang tidak diinginkan, yaitu bahwa semakin banyak terjadinya perubahan yang tidak diinginkan dalam kehidupan seseorang, maka semakin tinggi tingkat distres yang dialami. Serta terakhir, yaitu kelas sosial ekonomi, dimana disebutkan bahwa

semakin tinggi status sosial ekonomi individu (baik dari segi pendidikan, pekerjaan, maupun pemasukan) maka semakin rendah tingkat distres yang dialami.
Matthews (2000) juga mengemukakan bahwa distres merefleksikan baik pengaruh situasional dari lingkungan (termasuk peristiwa yang terjadi dalam hidup, pengaruuh fisiologis, kognitif dan sosial yang disebabkan oleh peristiwa tersebut) maupun faktor intrapersonal individu seperti kepribadian. Uraian mengenai faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:

  • Pengaruh fisiologis
    Berdasarkan beberapa penelitian, ditemukan bahwa terdapat pengaruh beberapa bagian otak terhadap respon distres yang ditampilkan oleh individu. Misalnya, kerusakan pada amygdala yang dapat menimbulkan respon-respon emosional yang ekstrem. Atau kerusakan pada lobus frontalis individu yang dapat menimbulkan gangguan respon emosional yang disertai dengan hilangnya kontrol perilaku.

  • Pengaruh kognitif
    Model kognitif dari stres mengemukakan bahwa dampak fisiologis dan psikologis dari stressor lingkungan ditentukan juga oleh keyakinan serta harapan individu. Umumnya, distres akan muncul saat individu menilai dirinya tidak memiliki kontrol dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang dianggapnya penting.

  • Pengaruh sosial
    Adanya hambatan atau gangguan dalam hubungan sosial yang dimiliki individu, misalnya seperti situasi berduka, perselisihan keluarga, dan pengangguran, adalah faktor-faktor paling potensial yang dapat memunculkan distres. Dalam hal ini, ketersediaan social supoort seringkali berfungsi untuk membantu menurunkan distres yang dialami individu.

  • Kepribadian
    Beberapa penelitian menunjukkan terdapat beberapa trait kepribadian yang memiliki hubungan dengan kecenderungan individu untuk mengalami emosi negatif. Dalam sebuah penelitian, trait neuroticism terbukti memprediksi suasana hati negatif seperti depresi dan kecemasan. Hal ini berlawanan dengan trait extraversion yang justru berhubungan dengan kebahagiaan dan pengaruh positif.

Gejala psikologis yang menyertai distres


Distres menunjukkan adanya diskrepansi antara tuntutan lingkungan dengan kemampuan individu untuk menyesuaikan diri. Dengan adanya diskrepansi ini, sistem regulasi individu tentu tetap berusaha untuk coping dengan kondisi tersebut.

Sebagai dampaknya, usaha coping yang dilakukan oleh sistem regulasi setiap individu ini dapat menimbulkan gejala-gejala fisik maupun psikologis. Gejala-gejala psikologis yang umumnya menyertai distres (Matthews, 2000) antara lain ialah :

  • Penurunan performa
    Beberapa pengukuran terhadap distres menunjukkan adanya asosiasi dengan penurunan performa individu dalam berbagai jenis kegiatan, misalnya saja performa yang semakin lambat atau menurun akurasinya. Penurunan performa ini menyebabkan individu kehilangan atensi, kemampuan mengontrol, dan memori jangka pendek. Meskpun demikian, dampak distres terhadap performa ditentukan lagi oleh faktor-faktor motivasionalnya. Performa individu dapat tetap terjaga atau justru meningkat saat performa tersebut merupakan cara individu untuk menurunkan distres.

  • Bias kognitif
    Distres seringkali dihubungkan dengan meningkatnya kemampuan untuk memproses stimulus-stimulus yang negatif. Individu yang depresi, misalnya, tampak lebih mudah melakukan recall terhadap kejadian atau stimulus negatif bahkan terhadap kejadian yang sebetulnya positif atau cukup netral. Dengan demikian, bias kognitif ini juga mempengaruhi proses judgment dan pengambilan keputusan individu.

  • Gangguan klinis lain
    Distres merupakan gejala utama dari gangguan mood dan gangguan cemas. Tingkah laku abnormal yang umumnya muncul pada individu yang mengalami distres antara lain adalah tindakan menyakiti diri sendiri, kecenderungan untuk menghindar hingga akhirnya sulit membina hubungan sosial. Dalam kondisi distres yang mendekati kondisi klinis, individu dapat sangat terbantu dengan pemberian latihan coping skill yang memungkinkan individu tersebut mengelola situasi spesifik yang menimbulkan distres.