Apa yang dimaksud dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 ?

image

Diabetes melitus tipe 2, yang dahulu disebut diabetes melitus tidak tergantung insulin (non-insulin-dependent diabetes melitus/NIDDM) atau diabetes onset dewasa, adalah kelainan metabolik yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang tinggi dalam konteks resistensi insulin dan defisiensi insulin relatif.

Penyakit diabetes melitus jenis ini merupakan kebalikan dari diabetes melitus tipe 1, yang mana terdapat defisiensi insulin mutlak akibat rusaknya sel islet di pankreas. Gejala klasiknya antara lain haus berlebihan, sering berkemih, dan lapar terus-menerus. Diabetes tipe 2 berjumlah 90% dari seluruh kasus diabetes dan 10% sisanya terutama merupakan diabetes melitus tipe 1 dan diabetes gestasional. Kegemukan diduga merupakan penyebab utama diabetes tipe 2 pada orang yang secara genetik memiliki kecenderungan penyakit ini.

Apa yang dimaksud dengan Diabetes Mellitus Tipe 2 ?

Diabetes Melitus (DM) tipe 2, menurut American Diabetes Association (ADA) adalah kumulan gejala yang ditandai oleh hiperglikemia akibat defek pada kerja insulin (resistensi insulin) dan sekresi insulin atau kedua-duanya. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, terjadi peningkatan dari 1,1% (2007) menjadi 2,1% (2013). Proporsi penduduk ≥15 tahun dengan diabetes mellitus (DM) adalah 6,9%. WHO memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM tipe 2 di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030.

Senada dengan WHO, International Diabetes Federation (IDF) pada tahun 2009, memprediksi kenaikan jumlah penyandang DM dari 7,0 juta pada tahun 2009 menjadi 12,0 juta pada tahun 2030. Meskipun terdapat perbedaan angka prevalensi, laporan keduanya menunjukkan adanya peningkatan jumlah penyandang DM sebanyak 2-3 kali lipat pada tahun 2030.

Hasil Anamnesis (Subjective)

Keluhan

  1. Polifagia
  2. Poliuri
  3. Polidipsi
  4. Penurunan berat badan yang tidak jelas sebabnya

Keluhan tidak khas:

  1. Lemah
  2. Kesemutan (rasa baal di ujung-ujung ekstremitas)
  3. Gatal
  4. Mata kabur
  5. Disfungsi ereksi pada pria
  6. Pruritus vulvae pada wanita
  7. Luka yang sulit sembuh

Faktor risiko

  1. Berat badan lebih dan obese (IMT ≥ 25 kg/m2)
  2. Riwayat penyakit DM di keluarga
  3. Mengalami hipertensi (TD ≥ 140/90 mmHg atau sedang dalam terapi hipertensi)
  4. Riwayat melahirkan bayi dengan BBL > 4000 gram atau pernah didiagnosis DM Gestasional
  5. Perempuan dengan riwayat PCOS (polycistic ovary syndrome)
  6. Riwayat GDPT (Glukosa Darah Puasa Terganggu) / TGT (Toleransi Glukosa Terganggu)
  7. Aktifitas jasmani yang kurang

Hasil Pemeriksaan Fisik dan penunjang sederhana (Objective)

Pemeriksaan Fisik

  1. Penilaian berat badan
  2. Mata : Penurunan visus, lensa mata buram
  3. Extremitas : Uji sensibilitas kulit dengan mikrofilamen

Pemeriksaan Penunjang

  1. Gula Darah Puasa
  2. Gula Darah 2 jam Post Prandial
  3. Urinalisis

Penegakan Diagnosis (Assessment)

Diagnosis Klinis

Kriteria diagnostik DM dan gangguan toleransi glukosa:

  1. Gejala klasik DM (poliuria, polidipsia, polifagi) + glukosa plasma sewaktu ≥ 200 mg/dL (11,1 mmol/L). Glukosa plasma sewaktu merupakan hasil pemeriksaan sesaat pada suatu hari tanpa memperhatikan waktu makan terakhir ATAU

  2. Gejala Klasik DM + Kadar glukosa plasma puasa ≥ 126 mg/dl. Puasa diartikan pasien tidak mendapat kalori tambahan sedikitnya 8 jam ATAU

  3. Kadar glukosa plasma 2 jam pada tes toleransi glukosa oral (TTGO)> 200 mg/dL (11,1 mmol/L) TTGO dilakukan dengan standard WHO, menggunakan beban glukosa anhidrus 75 gram yang dilarutkan dalam air.

Apabila hasil pemeriksaan tidak memenuhi kriteria normal atau DM, maka dapat digolongkan ke dalam kelompok Toleransi Glukosa Terganggu (TGT) atau Gula Darah Puasa Teranggu (GDPT) tergantung dari hasil yang diperoleh

Kriteria gangguan toleransi glukosa:

  1. GDPT ditegakkan bila setelah pemeriksaan glukosa plasma puasa didapatkan antara 100–125 mg/dl (5,6–6,9 mmol/l)
  2. TGT ditegakkan bila setelah pemeriksaan TTGO kadar glukosa plasma 140–199 mg/dl pada 2 jam sesudah beban glukosa 75 gram (7,8 -11,1 mmol/L)
  3. HbA1C 5,7 -6,4%

Komplikasi

  1. Akut
    Ketoasidosis diabetik, Hiperosmolar non ketotik, Hipoglikemia
  2. Kronik
    Makroangiopati, Pembuluh darah jantung, Pembuluh darah perifer, Pembuluh darah otak
  3. Mikroangiopati:
    Pembuluh darah kapiler retina, pembuluh darah kapiler renal
  4. Neuropati
  5. Gabungan:
    Kardiomiopati, rentan infeksi, kaki diabetik, disfungsi ereksi

Penatalaksanaan komprehensif (Plan)

Penatalaksanaan

Terapi untuk Diabetes Melitus dilakukan dengan modifikasi gaya hidup dan pengobatan (algoritma pengelolaan DM tipe 2)

Algoritma Diagnosis Diabetes Mellitus Tipe 2
Gambar Algoritma Diagnosis Diabetes Mellitus Tipe 2

Keterangan
GDP = Gula Darah Puasa
GDS = Gula Darah Sewaktu
GDPT = Gula Darah Puasa Terganggu
TGT = Toleransi Glukosa Terganggu

image
image
Gambar Algoritma pengelolaan Diabetes Melitus tipe 2 tanpa komplikasi

Catatan: Pemilihan jenis Obat Hipoglikemik oral (OHO) dan insulin bersifat individual tergantung kondisi pasien dan sebaiknya mengkombinasi obat dengan cara kerja yang berbeda.

Dosis OHO

Cara Pemberian OHO, terdiri dari:

  1. OHO dimulai dengan dosis kecil dan ditingkatkan secara bertahap sesuai respons kadar glukosa darah, dapat diberikan sampai dosis optimal.
  2. Sulfonilurea: 15 –30 menit sebelum makan.
  3. Metformin : sebelum/pada saat/sesudah makan.
  4. Penghambat glukosidase (Acarbose): bersama makan suapan pertama.

Penunjang

  1. Urinalisis
  2. Funduskopi
  3. Pemeriksaan fungsi ginjal
  4. EKG
  5. Xray thoraks

Rencana Tindak Lanjut:

Tindak lanjut adalah untuk pengendalian kasus DM berdasarkan parameter berikut:

Tabel Kriteria pengendalian DM (berdasarkan konsensus DM)
image

Keterangan:
Angka-angka laboratorium di atas adalah hasil pemeriksaan plasma vena.
Perlu konversi nilai kadar glukosa darah dari darah kapiler darah utuh dan plasma vena

Konseling dan Edukasi

Edukasi meliputi pemahaman tentang:

  1. Penyakit DM tipe 2 tidak dapat sembuh tetapi dapat dikontrol
  2. Gaya hidup sehat harus diterapkan pada penderita misalnya olahraga, menghindari rokok, dan menjaga pola makan.
  3. Pemberian obat jangka panjang dengan kontrol teratur setiap 2 minggu
    Perencanaan Makan

Standar yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi:

  1. Karbohidrat 45 – 65 %
  2. Protein 15 – 20 %
  3. Lemak 20 – 25 %

Jumlah kandungan kolesterol disarankan < 300 mg/hari. Diusahakan lemak berasal dari sumber asam lemak tidak jenuh (MUFA = Mono Unsaturated Fatty Acid), dan membatasi PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acid) dan asam lemak jenuh. Jumlah kandungan serat + 25 g/hr, diutamakan serat larut.

Jumlah kalori basal per hari:

  1. Laki-laki: 30 kal/kg BB idaman
  2. Wanita: 25 kal/kg BB idaman

Rumus Broca:*
Berat badan idaman = ( TB – 100 ) – 10 %
*Pria < 160 cm dan wanita < 150 cm, tidak dikurangi 10 % lagi.
BB kurang : < 90 % BB idaman
BB normal : 90 – 110 % BB idaman BB lebih : 110 – 120 % BB idaman Gemuk : >120 % BB idaman

Penyesuaian (terhadap kalori basal/hari):

  1. Status gizi:
    a. BB gemuk - 20 %
    b. BB lebih - 10 %
    c. BB kurang + 20 %

  2. Umur > 40 tahun : - 5 %

  3. Stres metabolik (infeksi, operasi,dll): + (10 s/d 30 %)

  4. Aktifitas:
    a. Ringan + 10 %
    b. Sedang + 20 %
    c. Berat + 30 %

  5. Hamil:
    a. trimester I, II + 300 kal
    b. trimester III / laktasi + 500 kal

Latihan Jasmani

Kegiatan jasmani sehari-hari dan latihan teratur (3-5 kali seminggu selama kurang lebih 30-60 menit minimal 150 menit/minggu intensitas sedang). Kegiatan sehari-hari seperti berjalan kaki ke pasar, menggunakan tangga, berkebun, harus tetap dilakukan.

Kriteria Rujukan

Untuk penanganan tindak lanjut pada kondisi berikut:

  1. DM tipe 2 dengan komplikasi
  2. DM tipe 2 dengan kontrol gula buruk
  3. DM tipe 2 dengan infeksi berat

Peralatan

  1. Laboratorium untuk pemeriksaan gula darah, darah rutin, urin rutin, ureum, kreatinin
  2. Alat Pengukur berat dan tinggi badan anak serta dewasa
  3. Monofilamen test

Prognosis
Prognosis umumnya adalah dubia. Karena penyakit ini adalah penyakit kronis, quo ad vitam umumnya adalah dubia ad bonam, namun quo ad fungsionam dan sanationamnya adalah dubia ad malam.

Sumber :
Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan primer

Referensi

  1. Sudoyo, A.W. Setiyohadi, B. Alwi, I. Simadibrata, M. Setiati, S.Eds. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Ed 4. Vol. III. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2006.
  2. Perkumpulan Endokrinologi Indonesia. Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2 di Indonesia. 2011. (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, 2006)
  3. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas FKUI dan Persadia. Penatalaksanaan Diabetes Mellitus pada Layanan Primer, ed.2, 2012. (Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas Indonesia FKUI, 2012)