Apa yang dimaksud dengan Deprivasi Relatif atau Relative Deprivation?

Deprivasi Relatif atau Relative deprivation adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan ketegangan yang terjadi akibat suatu kesenjangan antara yang harus menjadi (ought) dan yang menjadi/merupakan (is) dalam kepuasan nilai kolektif, dan yang mendorong manusia melakukan kekerasan.

Apa yang dimaksud dengan Deprivasi Relatif atau Relative Deprivation?

1 Like

Relative Deprivation terjadi apabila suatu kelompok atau individu merasa mengalami kekurangan sesuatu dibandingkan dengan kelompok lain yang dianggap mendapatkan lebih.

Menurut Sear & Mcconahay relative deprivasion muncul manakala individu mengukur diri mereka dan membandingkan dengan dunia sekitarnya, khususnya ketika mereka melihat apa yang ditayangkan oleh telivisi.

Sebagai contoh di Amerika Serikat pada tahun '60-an, kelompok minoritas melihat bahwa pertumbuhan ekonomi yang meningkat hanya menguntungkan kelompok tertentu kecuali kelompok mereka.

Pemikiran seperti itu (bahwa impian Amerika tidak dapat mereka raih) menyebabkan munculnya kekerasan dan kejahatan diberbagai daerah urban di Amerika Serikat. Jadi apabila masing-masing kelompok menganggap bahwa mereka sudah mendapatkan sesuatu sesuai dengan yang patut mereka dapatkan maka tidak akan terjadi prasangka.

Pertumbuhan prasangka dengan tidak sadar dan yang berdasarkan kekurangan pengetahuan dan pengertian akan fakta-fakta kehidupan yang sebenarnya dari golongan-golongan orang yang diprasangkai.

Faktor lainnya yaitu untuk kepentingan perseorangan atau golongan tertentu yang akan memperoleh keuntungan atau rezekinya apabila mereka memupuk prasangka social, seperti yang diuraikan oleh Prof. A. M. Rose dalam brosur UNESCO “The roots of prejudice”, prasangka sosial digunakan untuk mengeksploitasi golongan lain demi kemajuan perseorangan atau golongan sendiri (Gerungan,2000).

Deprivasi relatif adalah keadaan psikologis dimana seoranag merasakan ketidakpuasan atau kesenjangan atau kekurangan yang subyektif pada saat keadaan diri dan kelompoknya di bandingkan dengan kelompok lain.

Deprivasi bisa menimbulkan persepsi ketidakadilan yang muncul karena deprivasi akan mendorong adanya ketidakpuasan. Contoh paling bagus adalah daerah transmigrasi dimana penduduk asli tinggal tidak jauh dari sana. Sepanjang kondisi ekonomi penduduk asli masih lebih baik daripada transmigran,penerimaan penduduk asli terhadap transmigran akan berjalan baik. Akan tetapi begitu kondisi ekonomi pendatang menjadi lebih baik daripada penduduk asli maka mulai timbullah deprivasi relatif dari penduduk asli, dan akanmenimbulkan prasangka dan berbagai gejolak lainnya.

Pada teori deprivasi relatif, yang dikemukakan oleh Stouffler, menekankan pada pengalaman individu dan kelompok dalam kondisi kekurangan (deprivasi ) dan “kurang beruntung ‘ (disadvantage). Selanjutnya Konsep ini di kembangkan oleh Davis dan di definisikan sebagai persepsi terhadap adanya perbedaan ( discrepancy ) antara kenyataan dengan harapan atau keinginan.

Menurut pendapat Runciman memformulasikan munculnya deprivasi relatif bila seseorang

  1. tidak mempunyai X ,
  2. dia tahu orang lain mempunyai X,
  3. dia ingin menginginkan X,
  4. dia merasa layak atau mampu memilik X.

Menurut Runciman deprivasi ada dua:

  1. Deprivasi Relatif Egoistical
    Deprivasi Relatif Egoistical terjadi apabila seseoarang merasa kondisinya lebih buruk di banding orang lain dalam kelompoknya.

  2. Deprivasi Relatif Fraternal
    Deprivasi Relatif Fraternal terjadi bila sesorang menilai kondisi kelompoknya lebih jelek dibanding kelompok lain. Dan ada kemungkinan orang tersebut mengalami keduanya sehingga dia menagalami doubly deprived

Menurut Robbin Williams bila terjadi diskrenpasi atau kesenjangan antara apa yang dimiliki seseorang dengan apa yang diinginkan. Meskipun demikian Williams membedakan dengan kekecewaan yang disebabkan tidak terwujudnya harapan bukan keinginan. Di sini Williams juga memasukkan pentingnya perbandingan sosial sehingga muncul deprivasi. Oleh karena itu ia mencontohkan wujud dari deprivasi yaitu protes sosial. menurutnya deprivasi lebih banyak terjadi secara kolektif dari pada individual

Menurut Tedd Gurr faktor penyebab yang paling dasar terjadinya tindakan kekerasan masa, politik, revolusi adalah timbulnya ketidakpuasan sebagai akibat adanaya penghayatan atau persepsi mengenai sesuatu yang hilang yang disebut deprivasi relatif. Gurr mendefinisikan deprivasi relatif adalah suatu kesenjanagan yang di persepsikan anatara nilai harapan (value expectation) dan nilai kemampuan (value capabilities). Nilai (value) adalah peristiwa atau kejadian, obyek dan kondisi yang di perjuangkan orang. Gurr membedakan tiga macam nilai, yaitu kesejahteraan, kekuasaan, dan nilai-nilai intrapersonal.

Dari beberapa pendapat beberapa tokoh di atas dapat di simpulkan bahwa deprivasi relatif pada dasarnya merupakan kondisi psikologis yang tidak keadaan tidak menguntungkan, dan ketidakpuasan, Keadaan deprivasi relatif akan memunculkan kondisi psikologis seperti marah, tidak puas, cemburu, putus asa, tidak bahagia dan lain-lain.

Aspek-Aspek Deprivasi Relatif

Gurr menyatakan bahwa depriavasi relatif adalah sinonim dengan frustasi.

Menurutnya ada tiga jenis-jenis deprivasi yaitu :

1) Decremental Deprivation

Decremental Deprivation adalah kehilangan tentang apa yang dipikirkan orang bahwa itu seharusnya mereka miliki. Mereka mengalami deprivasi ini dengan menunjuk pada kondisi masal lalu yang dialaminya. Beragam situasi yang mungkin dapat menyebabkan deprivasi ini, misalnya depresi atau resesi ekonomi, pemberlakuan aturan, kemunduran pada sejumlah kesempatan yang ada ( seperti tenaga kerja yang tidak tampil cakap dalam suatu masyarakat yang meningkat teknologinya ). Sehingga banyak orang yang menderita reduksi status, kesulitan ekonomi dan perasaan tidak aman.

Dengan demikian dapat di katakan decremental deprivation adalah ketika ‘value expepectations “ dan “ value capabilities” dalam waktu tertentu berjalan sejajar, tetapi pada suatu saat tetentu “ value Capabilities” menurun sehingga terdapat jarak antara kedua values itu yang makin lama makin besar.

Bentuk-bentuk dari Decremental Deprivation yaitu seseorang mengalami berbagai mcam keadaan contohnya.

  1. Depresi, :akibat harapan yang tidak pernah terpenuhi sehingga meresa kecewa dan berujung mengalami depresi

  2. Resesi ekonomi: keadaan seseorang mengalami kesulitan ekonomi atau semakin berkurangnya tambahan ekonomi sehingga mengalami kemiskinan

  3. Pemberlakuan aturan : adanya pemberlakuan aturan mengakibatkan seseorang terbatas untuk berekspresi dan di batasi untuk melakukan aktivitas yang berlebihan.

  4. Perasaan tidak aman : perasaan yang timbul dari dalam diri seseorang akibat dari lingkungan yang menunjukkan rasa tidak aman misalnya : terjadi persaingan dalam dunia kerja, permusuhan dalam satu lingkungan, lingkungan yang sering di jadikan ajang perang.

2) Aspirational Deprivation

Aspirational Deprivation yaitu jika jarak antara kedua values values terjadi karena kedua values yang tadinya berjalan sejajar pada suatu saat tertentu tidak lagi sejajar dengan meningkatnya “values expextation“ sedangkan “values capabilities” tetap.

Dalam situasi ini orang tidak merasa kehilangan, tetapi mereka merasa marah karena tidak memiliki alat / sarana untuk memperoleh harapan yang baru atau intensif.harapan-harapan itu dapat berbentuk.

  1. Meningkatanya harapan tentang beberapa komoditas dalam pesediaan yang terbatas
    (komoditas itu bisa dalam bentuk barang, kebebasan pribadi, atau rasa ketidak adilan)

  2. Harapan megenai beberapa nilai baru yang sebelumya tidak pernah mereka miliki, misalanya partisipasi dalam dunia kerja atau kesamaan kelas sosial atau komitmen untuk melakukan sesuatu yang sebelumya tidak mereka pikirkan.

3) Progressive deprivation

Progressive deprivation yaitu deprivasi yang dimulai dengan kenaikan kedua values secara bersama-sama, tetapi pada suatu saat “values Expectation“ terus meningkat sedangkan “values capabilities” justru menurun sehingga terjadi jarak antara kedua values yang makin lama makin besar.

Menurut Davies, perkembangan ini kebayakan atau pada umumnya terjadi pada masyarakat yang menagalami sejumlah perubahan. Misalnya: seseorang karyawan yang sedang bekerja di salah satu perusahaan mempunyai tanggungan kebutuhan keluarga yang terus meningkat pada suatu saat seorang tersebut di pecat dari perusahaan itu karena kemampuan bekerja nya berkurang. Perubahan yang sebenarnaya tidak melangkah sejajar denagan meningkatnya harapan sehingga mengakibatkan ketidakpuasan.

Dari beberapa bentuk deprivasi relatif dapat disimpulkan bahwa terjadi kesenjangan antara nilai harapan dan nilai kemampuan yang dialami seseorang. Dan orang tersebut akan merasa kehilangan akibat tidak tercapainya suatu harapan dan orang akan mengalami ketidakpuasan dalam hidupnya dan pada beberapa teori di atas deprivasi relatif tidak terlepas self esteem (harga diri) seseorang yang mempengaruhi keadaaan deprivasirelatif untuk self esteem lebih bersifat individual dan untuk deprivasi relatif lebih bersifat kelompok.

Menurut Brown deprivasi relatif adalah keadaan psikologis dimana seoranag merasakan ketidakpuasan atau kesenjangan atau kekurangan yang subyektif pada saat keadaan diri dan kelompoknya di bandingkan dengan kelompok lain. Deprivasi bisa menimbulkan persepsi ketidakadilan yang muncul karena deprivasi akan mendorong adanya ketidakpuasan. Contoh paling bagus adalah daerah transmigrasi dimana penduduk asli tinggal tidak jauh dari sana.

Sepanjang kondisi ekonomi penduduk asli masih lebih baik daripada transmigran,penerimaan penduduk asli terhadap transmigran akan berjalan baik. Akan tetapi begitu kondisi ekonomi pendatang menjadi lebih baik daripada penduduk asli maka mulai timbullah deprivasi relatif dari penduduk asli, dan akanmenimbulkan prasangka dan berbagai gejolak lainnya.

Pada teori deprivasi relatif Konsep ini yang dikemukakan oleh Stouffler menekankan pada pengalaman individu dan kelompok dalam kondisi kekurangan (deprivasi) dan “kurang beruntung ‘ (disadvantage). Dan selanjutnya Konsep ini di kembangkan oleh Davis dan di definisikan sebagai persepsi terhadap adanya perbedaan (discrepancy) antara kenyataan dengan harapan atau keinginan.

Menurut pendapat Runciman memformulasikan munculnya deprivasi relatif bila seseorang (1)tidak mempunyai X ,(2) dia tahu orang lain mempunyai X, (3) dia ingin menginginkan X, (4) dia merasa layak atau mampu memilik X. Menurut Runciman deprivasi ada dua:

  1. Deprivasi Relatif Egoistical
    Deprivasi Relatif Egoistical menurut Runciman terjadi apabila seseoarang merasa kondisinya lebih buruk di banding orang lain dalam kelompoknya.

  2. Deprivasi Relatif Fraternal
    Deprivasi Relatif Fraternal terjadi bila sesorang menilai kondisi kelompoknya lebih jelek dibanding kelompok lain. Dan ada kemungkinan orang tersebut mengalami keduanya sehingga dia menagalami doubly deprived.

Menurut Robbin Williams bila terjadi diskrenpasi atau kesenjangan antara apa yang dimiliki seseorang dengan apa yang diinginkan. Meskipun demikian Williams membedakan dengan kekecewaan yang disebabkan tidak terwujudnya harapan bukan keinginan. Di sini Williams juga memasukkan pentingnya perbandingan sosial sehingga muncul deprivasi. Oleh karena itu ia mencontohkan wujud dari deprivasi yaitu protes sosial. menurutnya deprivasi lebih banyak terjadi secara kolektif dari pada individual.

Menurut Tedd Gurr faktor penyebab yang paling dasar terjadinya tindakan kekerasan masa, politik, revolusi adalah timbulnya ketidakpuasan sebagai akibat adanaya penghayatan atau persepsi mengenai sesuatu yang hilang yang disebut deprivasi relatif. Gurr mendefinisikan deprivasi relatif adalah suatu kesenjanagan yang di persepsikan anatara nilai harapan ( value expectation ) dan nilai kemampuan ( value capabilities ). Nilai ( value ) adalah peristiwa atau kejadian, obyek dan kondisi yang di perjuangkan orang. (Gurr ) membedakan tiga macam nilai, yaitu kesejahteraan, kekuasaan, dan nilai-nilai intrapersonal.

Dari beberapa pendapat beberapa tokoh di atas dapat di simpulkan bahwa deprivasi relatif pada dasarnya merupakan kondisi psikologis yang tidak keadaan tidak menguntungkan, dan ketidakpuasan, Keadaan deprivasi relatif akan memunculkan kondisi psikologis seperti marah, tidak puas, cemburu, putus asa, tidak bahagia dan lain-lain.

Aspek-Aspek Deprivasi Relatif


Gurr menyatakan bahwa depriavasi relatif adalah sinonim dengan frustasi. Menurutnya ada tiga jenis-jenis deprivasi yaitu :

  1. Decremental Deprivation adalah kehilangan tentang apa yang dipikirkan orang bahwa itu seharusnya mereka miliki. Mereka mengalami deprivasi ini dengan menunjuk pada kondisi masal lalu yang dialaminya. Beragam situasi yang mungkin dapat menyebabkan deprivasi ini, misalnya depresi atau resesi ekonomi, pemberlakuan aturan, kemunduran pada sejumlah kesempatan yang ada ( seperti tenaga kerja yang tidak tampil cakap dalam suatu masyarakat yang meningkat teknologinya ). Sehingga banyak orang yang menderita reduksi status, kesulitan ekonomi dan perasaan tidak aman.

    Dengan demikian dapat di katakan decremental deprivation adalah ketika ‘ value expepectations “ dan “ value capabilities ” dalam waktu tertentu berjalan sejajar, tetapi pada suatu saat tetentu “ value Capabilities” menurun sehingga terdapat jarak antara kedua values itu yang makin lama makin besar. Bentuk-bentuk dari Decremental Deprivation yaitu seseorang mengalami berbagai mcam keadaan contohnya.

  • Depresi, :akibat harapan yang tidak pernah terpenuhi sehingga meresa kecewa dan berujung mengalami depresi

  • Resesi ekonomi: keadaan seseorang mengalami kesulitan ekonomi atau semakin berkurangnya tambahan ekonomi sehingga mengalami kemiskinan

  • Pemberlakuan aturan : adanya pemberlakuan aturan mengakibatkan seseorang terbatas untuk berekspresi dan di batasi untuk melakukan aktivitas yang berlebihan.

  • Perasaan tidak aman : perasaan yang timbul dari dalam diri seseorang akibat dari lingkungan yang menunjukkan rasa tidak aman misalnya : terjadi persaingan dalam dunia kerja, permusuhan dalam satu lingkungan, lingkungan yang sering di jadikan ajang perang.

  1. Aspirational Deprivation yaitu jika jarak antara kedua values values terjadi karena kedua values yang tadinya berjalan sejajar pada suatu saat tertentu tidak lagi sejajar dengan meningkatnya “values expextation“ sedangkan “ values capabilities ” tetap. Dalam situasi ini orang tidak merasa kehilangan, tetapi mereka merasa marah karena tidak memiliki alat / sarana untuk memperoleh harapan yang baru atau intensif.harapan-harapan itu dapat berbentuk.

    Meningkatanya harapan tentang beberapa komoditas dalam pesediaan yang terbatas (komoditas itu bisa dalam bentuk barang, kebebasan pribadi, atau rasa ketidak adilan). Harapan megenai beberapa nilai baru yang sebelumya tidak pernah mereka miliki, misalanya partisipasi dalam dunia kerja atau kesamaan kelas sosial atau komitmen untuk melakukan sesuatu yang sebelumya tidak mereka pikirkan.

  2. Progressive deprivation yaitu deprivasi yang dimulai dengan kenaikan kedua values secara bersama-sama, tetapi pada suatu saat “ values Expectation “ terus meningkat sedangkan “ values capabilities ” justru menurun sehingga terjadi jarak antara kedua values yang makin lama makin besar. Menurut Davies, perkembangan ini kebayakan atau pada umumnya terjadi pada masyarakat yang menagalami sejumlah perubahan.

    Misalnya: seseorang karyawan yang sedang bekerja di salah satu perusahaan mempunyai tanggungan kebutuhan keluarga yang terus meningkat pada suatu saat seorang tersebut di pecat dari perusahaan itu karena kemampuan bekerja nya berkurang. Perubahan yang sebenarnaya tidak melangkah sejajar denagan meningkatnya harapan sehingga mengakibatkan ketidakpuasan.

Dari beberapa bentuk deprivasi relatif dapat disimpulkan bahwa terjadi kesenjangan antara nilai harapan dan nilai kemampuan yang dialami seseorang. Dan orang tersebut akan merasa kehilangan akibat tidak tercapainya suatu harapan dan orang akan mengalami ketidakpuasan dalam hidupnya dan pada beberapa teori di atas deprivasi relatif tidak terlepas self esteem (harga diri) seseorang yang mempengaruhi keadaaan deprivasirelatif untuk self esteem lebih bersifat individual dan untuk deprivasi relatif lebih bersifat kelompok.

Brown (dalam Achmanto, 2012) mendefinisikan deprivasi relatif adalah keadaan psikologis dimana seseorang merasakan ketidakpuasan atau kesenjangan atau kekurangan yang subyektif pada saat keadaan diri dan kelompoknya dibandingkan dengan kelompok lain. Deprivasi bisa menimbulkan persepsi ketidakadilan yang muncul karena deprivasi akan mendorong adanya ketidakpuasan. Contoh paling bagus adalah daerah transmigrasi dimana penduduk asli tinggal tidak jauh dari sana. Sepanjang kondisi ekonomi penduduk asli terhadap transmigran akan berjalan baik. Akan tetapi kondisi ekonomi pendatang menjadi lebih baik daripada penduduk asli , dan akan menimbulkan prasangka dan berbagai gejolak lainnya.

Pada teori deprivasi relatif konsep ini yang dikemukakan oleh Stouffler menekankan pada pengalaman individu dan kelompok dalam kondisi kekurangan (deprivasi) dan ‘kurang beruntung’ (disadvantage). Dan selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh Davis dan didefinisikan sebagai persepsi terhadap adanya perbedaan (discrepancy) antara kenyataan dengan harapan atau keinginan

.

Gurr (dalam Dayaksini, 2009) juga mendefinisikan deprivasi relatif merupakan ketikaadanya kesenjangan yang terjadi dan dipersepsikan antara nilai harapan (value expectation) dan nilai emampuan (value ability). Nilai (value) adalah peristiwa atau kejadian, obyek, dan kondisi yang diperjuangkan orang. Gurr membedakan tiga macam nilai, yaitu kesejahteraan, kekuasaan dan nilai-nilai intrapersonal. Menurut Gurr faktor penyebab yang paling dasar terjadinya tindakan kekerasan masa, politik, revolusi adalah timbulnya ketidakpuasan sebagai akibat adanya penghayatan atau persepsi mengenai sesuatu yang hilang yang disebut deprivasi relatif. Selain itu, Walker & Smith (dalam Sukmana, 2016) mengatakan bahwa deprivasi relatif adalah suatu pengalaman dari seseorang yang merasakan kekurangan sesuatu pedahal dia meyakini bahwa sesuatu tersebut berhak untuk didapatkannya (dimilikinya). Sedangkan Schaefer (dalam Sukmana, 2016) mendefinisikan deprivasi relatif sebagai suatu pengalaman sadar tentangperbedaan negatif antara harapan dengan kenyataan yang ada. Dari beberapa definisi deprivasi relatif yang telah dikemukakan para ahli, peneliti menyimpulkan bahwa deprivasi relatif merupakan terjadinya kesenjangan antara nilai harapan dan nilai kemampuan yang dialami oleh seseorang. Dan orang tersebut akan merasa kehilangan akibat tidak tercapainya suatu harapan dan orang akan mengalami ketidakpuasan dalam hidupnya.

Referensi

Sumber Artikel: https://www.universitaspsikologi.com/2020/02/pengertian-deprivasi-relatif.html

Teori Deprivasi Relatif adalah keadaan psikologis dimana seseorang merasakan ketidakpuasan atau kesenjangan atau kekurangan yang subyektif pada saat keadaan diri dan kelompoknya dibandingkan dengan kelompok lain.

Deprivasi bisa menimbulkan persepsi ketidakadilan yang muncul karena deprivasi akan mendorong adanya ketidakpuasan. Contoh paling bagus adalah daerah transmigrasi dimana penduduk asli tinggal tidak jauh dari sana. Sepanjang kondisi ekonomi pendatang menjadi lebih baik daripada penduduk asli maka mulai timbullah deprivasi relatif dari penduduk asli, dan akan menimbulkan prasangka dan berbagai gejolak lainnya.

Pada teori deprivasi relatif, konsep ini yang dikemukakan oleh Stouffler menekankan pada pengalaman individu dan kelompok dalam kondisi kekurangan (deprivasi) dan “kurang beruntung”(disadvantage). Dan selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh Davis dan didefinisikan sebagai presepsi terhadap adanya perbedaan (discrepancy) antara kenyataan dengan harapan atau keinginan ( Sarlito Wirawan,2010).

Teori Deprivasi Relatif merupakan salah satu teori klasik gerakan sosial dan politik. Dianggap klasik sebab teori ini lebih banyak menjelaskan gejala kolektif dari masyarakat agraris tradisonal. Teori Deprivasi Relatif banyak dipakai untuk menjelaskan gejala gerakan sosiologi politik masyarakat petani, nelayan, dan masyarakat agrarian lainnya. Dalam perkembangannya kemudian teori ini banyak pula dipakai untuk menjelaskan gejala crowd (kerumunan) di perkotaan: menjelaskan gerakan buruh, mahasiswa, dan masyarakat lainnya yang sedang mengalami kekecewaan terhadap realita yang ada.

Ted Robert Gurr, Denton E. Morrison dan James Davis menganggap tingkah laku agresif (khususnya tingkah laku agresif massa) timbul sebagai akibat adanya frustasi dalam masyarakat. Ketika dalam suatu masyarakat terjadi suatu kesenjangan antara nilai yang diharapkan dengan nilai kapabilitas untuk menggapai harapan tadi maka masyarakat yang bersangkutan akan mengalami kekecewaan dan frustasi.

Kondisi ini pada gilirannya akan memunculkan tindakan melawan atau memberontak, semakin besar tingkat kesenjangan yang terjadi, maka semakin besar pula kemungkinan munculnya tindakan melawan dan memberontak tersebut. Dan kesenjangan itu pula yang mengilhami timbulnya aksi-aksi massa. Perasaan deprivasi, dari ketidakpuasan atas situasi seseorang, bergantung apakahyang ingin dimiliki seseorang tersebut atas suatu hal.

Deprivasi Relatif dimaksud tidak hanya terbatas mengenai tujuan yang diberikan kepada seseorang, tetapi juga merasa bahwa dia mempunyai hak untuk mencapai tujuan tersebut, merasa pantas memperolehnya, paling tidak dibawah kondisi tertentu. Kondisi-kondisi demikianlah yang oleh Denton E. Morrison dinamakan sebagai investment.

Investment mendorong bagi timbulnya suatu legitimate expectation yang dapat dicapai atau diberikan melalui status atau peranan tertentu. Karenanya Denton berkeyakinan bahwa muncul dan tumbuhnya suatu gerakan sosial diakibatkan karena adanya pengelompokan dari orang-orang yang sedang mengalami Deprivasi Relatif.

Gerakan sosial bukan muncul dari orang hina dina, yang tidak berdayasama sekali, akan tetapi tumbuh dari kelompok sosial yang relatif “berpengalaman” yang menginginkan perubahan secara kontinyu. Hal senada dikemukakan oleh Eric Hoffer. Menurutnya orang yang hina dina hanyalah menawarkan pengaruh statis, bukan pengaruh dinamis, sehingga tidak terlihat adanya pengaruh potensial bagi tumbuhnya suatu gerakan sosial politik.

Di sisi lain, dengan bahasa yang agak berbeda namun secara substansial sama, James Davis mengemukakan bahwa terjadinya deprivasi relatif adalah karena adanya kesenjangan rasio antara “expected need satisfaction” dan “ actual need satisfaction”, sehingga suatu gerakan sosial atau revolusi biasanya terjadi karena dua kondisi, yakni pertama, adanya harapan dari kepuasan kebutuhan yang selain bertambah, dan kedua, tiba-tiba secara dramatik runtuh sehingga terjadi suatu kepuasan kebutuhan senyatanya. Kesenjangan yang terjadi dan meluas dari unsur tersebut menghasilkan frustasi umum yang merata yang pada akhirnya menghasilkan secara langsung agresi melawan pemerintah.

Sementara itu David F. Aberle menegaskan bahwa Deprivasi bukanlah suatu yang bersifat obyektif, melainkan terletak pada perbedaan antara apa yang diharapkan dengan aktualisasinya yang kurang menyenangkan. Dia mengelompokkan Deprivasi dalam 4 kelompok, yakni Deprivasi yang berkenaan dengan harta benda, status, tingkah laku, dankelayakan, dimana masing-masing dibagi lagi ke dalam Deprivasi pribadi dan Deprivasi kelompok.

Aberle mengesampingkan apa yang disebut Deprivasi pribadi, karena Deprivasi tersebut dianggapnya tidak terlalu penting bagi timbulnya suatu gerakan sosial jika tidak berdampak sosial secara luas. Berbeda halnya dengan Deprivasi kelompok yang merupakan unsur paling penting dalam suatu gerakan sosial politik. Karenanya, lanjut Aberle, suatu gerakan sosial-politik hanya akan terformatkan dengan menggunakan unsur kelompok deprivasi yang merujuk pada klasifikasi pribadi atau kelompok, dengan dilatarbelakangi unsur waktu (saat ini, akan datang dan masalampau).

Dia mencontohkan misalnya, pada suatu etnis tertentu yang sebelum kahadiran masyarakat asing tertentu begitu disegani dan mempunyai kedudukan terhormat, namun tiba-tiba terdesak setelah sekelompok lain, masyarakat asing, tersebut masuk dan mendominasi. Harapanya untuk berperan lebih besar mulai terdesak sehingga dapat menimbulkan deprivasi kelompok yang bersifat status (dan mungkin ada unsur harta benda atau kekayaannya pula).

Sementara itu, Ted Robert Gurr mengklarifikasikan Teori Deprivasi Relatif ke dalam tiga bagian utama, yakni:

  1. Decremental Deprivation
    Decremental Deprivation menunjukkan kondisi dalam nilai yang diharapkan yang terdapat di masyarakat dalam keadaan stabil, sementara pada keadaan yang bersamaan, nilai kapabilitas justru mengalami penurunan. Akibatnya kesenjangan yang ditimbulkan dengan menurunnya nilai kapabilitas menurut konsep ini akan menimbulkan perasaan kecewa dan frustasi. Dan perasaan semacam inilah yang pada gilirannya mampu berfungsi sebagai pangkal tolak bagi munculnya tindakan “melawan“ atau “memberontak”.

  2. Aspiration Deprivation
    Aspiration Deprivation merupakan penjabaran sisi lain dari konsep Deprivasi Relatif. Aspiration Deprivation menunjukkan kondisi dalam mana nilai yang diharapkan mengalami peningkatan, sementara pada saat yang bersamaan nilai kapabilitas berada dalam keadaan stastis tak berubah. Kesenjangan yang disebabkan naiknya harapan sementara kemampuan untuk mewujudkan harapan tersebut dalam keadaan tidak berubah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Gurr, menjadi penyebab munculnya perasaan kecewadan frustasi. Di mana dalam kondisi seperti ini tindakan melawan atau memberontak dapat muncul ke permukaan.

  3. Progressive Deprivation
    Progressive Deprivation menunjukkan suatu kondisi di mana nilai- nilai yang diharapkan yang terdapat di dalam suatu masyarakat mengalami kenaikkan antara kedua nilai ini untuk sementara waktu memang masih bisa ditoleransi berlangsung), akan tetapi pada waktu tertentu dimana nilai yang diharapkan masih mengalami kenaikan, maka nilai kapabilitas berhenti proses kenaikannya dan justru cenderung bergerak menurun. Adanya kenaikan nilai yang diharapkan secara kontinyu, dan berhentinya proses kenaikan nilai kapabilitas yang malahan disusul dengan gerak menurun, akan menimbulkan kesenjangan yang pada gilirannya dapat juga melahirkan perasaan kecewa atau frustasi.

    Dan kondisi seperti ini, sebagaimana dua konsep Deprivasi Relatif sebelumnya, juga dapat menimbulkan tindakan melawan atau memberontak. Adanya berbagai macam kesenjangan terebut diatas, pada akhirnya telah melahirkan sikap sinis massa misalnya, terhadap pidato-pidato di mimbar yang hanyalah sekedar bersubstansikan nyanyian idealisme dari para penguasa atau penyelenggara negara. Sikap sinis tersebut muncul karena para pendengar sudah terlebih dahulu berprestasi bahwa apa yang dipidatokan dalam mimbar sudahlah pasti akan bergeser dengan apa yangakan terjadi di lapangan.

Brown (dalam Achmanto, 2012) mendefinisikan deprivasi relatif adalah keadaan psikologis dimana seseorang merasakan ketidakpuasan atau kesenjangan atau kekurangan yang subyektif pada saat keadaan diri dan kelompoknya dibandingkan dengan kelompok lain. Deprivasi bisa menimbulkan persepsi ketidakadilan yang muncul karena deprivasi akan mendorong adanya ketidakpuasan. Contoh paling bagus adalah daerah transmigrasi dimana penduduk asli tinggal tidak jauh dari sana. Sepanjang kondisi ekonomi penduduk asli terhadap transmigran akan berjalan baik. Akan tetapi kondisi ekonomi pendatang menjadi lebih baik daripada penduduk asli, dan akan menimbulkan prasangka dan berbagai gejolak lainnya.

Pada teori deprivasi relatif konsep ini yang dikemukakan oleh Stouffler menekankan pada pengalaman individu dan kelompok dalam kondisi kekurangan (deprivasi) dan ‘kurang beruntung’ (disadvantage). Dan selanjutnya konsep ini dikembangkan oleh Davis dan didefinisikan sebagai persepsi terhadap adanya perbedaan (discrepancy) antara kenyataan dengan harapan atau keinginan.

Nerikut adalah definisi deprivasi relatif menurut beberapa ahli :

  • Deprivasi relatif merupakan ketikaadanya kesenjangan yang terjadi dan dipersepsikan antara nilai harapan (value expectation) dan nilai kemampuan (value ability). Nilai (value) adalah peristiwa atau kejadian, obyek, dan kondisi yang diperjuangkan orang. Gurr (dalam Dayaksini, 2009)

    Gurr membedakan tiga macam nilai, yaitu kesejahteraan, kekuasaan dan nilai-nilai intrapersonal. Menurut Gurr faktor penyebab yang paling dasar terjadinya tindakan kekerasan masa, politik, revolusi adalah timbulnya ketidakpuasan sebagai akibat adanya penghayatan atau persepsi mengenai sesuatu yang hilang yang disebut deprivasi relatif.

  • Deprivasi relatif adalah suatu pengalaman dari seseorang yang merasakan kekurangan sesuatu pedahal dia meyakini bahwa sesuatu tersebut berhak untuk didapatkannya (dimilikinya). Walker & Smith (dalam Sukmana, 2016)

  • Deprivasi relatif sebagai suatu pengalaman sadar tentang perbedaan negatif antara harapan dengan kenyataan yang ada. Schaefer (dalam Sukmana, 2016)

Kesimpulannya adalah deprivasi relatif merupakan terjadinya kesenjangan antara nilai harapan dan nilai kemampuan yang dialami oleh seseorang. Dan orang tersebut akan merasa kehilangan akibat tidak tercapainya suatu harapan dan orang akan mengalami ketidakpuasan dalam hidupnya.

Aspek-aspek Deprivasi Relatif Gur (dalam Dayaksini, 2009) menyatakan bahwa deprivasi relatif adalah sinonim frustasi. Menurutnya ada tiga jenis deprivasi yaitu:

  • Decremental Deprivation
    Decremental Deprivation adalah kehilangan tentang apa yang dipikirkan orang bahwa itu seharusnya mereka miliki. Mereka mengalami deprivasi ini dengan menunjuk pada kondisi masa lalu yang dialaminya. Beragam situasi yang mungkin dapat menyebabkan deprivasi ini, misalnya depresi atau resesi ekonomi, pemberlakuan aturan, kemunduran pada sejumlah kesempatan yang ada (seperti tenaga kerja yang tidak tampil cakap dalam suatu masyarakat yang meningkat teknologinya). Sehingga banyak orang yang menderita reduksi status, kesulitan ekonomi dan perasaan tidak aman.

    Dengan demikian dapat dikatakan decremental deprivation adalah ketika “value expectations” dan “value capabilities” menurun sehingga terdapat jarak antara kedua value itu yang makin lama makin besar. Bentuk-bentuk dari decramental deprivation yaitu seseorang mengalami berbagai macam keadaan, contohnya :

    1. Depresi Akibat harapan yang tidak pernah terpenuhi sehingga merasa kecewa dan berujung mengalami depresi

    2. Resesi Ekonomi Keadaan seseorang mengalami kesulitan ekonomi sehingga mengalami kemiskinan

    3. Pemberlakuan aturan Adanya pemberlakuan aturan mengakibatkan seseorang terbatas untuk berekspresi dan dibatasi untuk melakukan aktivitas yang berlebihan.

    4. Perasaan tidak aman Perasaan yang timbul dari dalam diri seseorang akibat dari lingkungan yang menunjukkan rasa tidak aman. Misalnya, terjadi persaingan dalam dunia kerja, permusuhan dalam satu lingkungan, lingkungan yang sering dijadikan ajang perang.

  • Aspirational Deprivation
    Aspirational Deprivation yaitu jika jarak antara kedua value terjadi kedua values yang tadinya berjalan sejajar pada suatu saat tertentu tidak lagi sejajar dengan meningkatnya “values expextation” sedangkan “values capabilities” tetap. Dalam situasi ini orang merasa kehilangan. Tetapi mereka merasa marah karena tidak memiliki alat / sarana untuk memperoleh harapan yang baru atau intensif. Harapan-harapan itu dapat berbentuk :

    1. Meningkatnya harapan tentang beberapa komoditas dalam persediaan yang terbatas (komoditas itu bisa dalam bentuk barang, kebebasan pribadi, atau rasa ketidakadilan)

    2. Harapan mengenai beberapa nilai baru yang sebelumnya tidak pernah mereka miliki, misalnya partisipasi dalam dunia kerja atau kesamaan kelas sosial atau komitmen untuk melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak mereka pikirkan.

  • Progressive Deprivation
    Progressive deprivation yaitu deprivasi yang dimulai dengan kenaikan kedua values secara bersama-sama, tetapi pada suatu saat “values expectation” terus meningkat sedangkan “values capabilities” justru menurun sehingga terjadi jarak antara dua values yang makin lama makin besar. Dari beberapa bentuk deprivasi relatif dapat disimpulkan bahwa terjadi kesenjangan antara nilai harapan dan nilai kemampuan yang dialami seseorang, dan orang tersebut akan merasa kehilangan akibat tidak tercapainya suatu harapan dan orang akan mengalami ketidakpuasan dalam hidupnya. Beberapa teori diatas deprivasi relatif tidak terlepas dari self esteem (harga diri) seseorang yang mempengaruhi keadaan deprivasi relatif untuk self esteem lebih bersifat individual dan untuk deprivasi relatif lebih bersifat kelompok.