Apa yang dimaksud dengan Deindividuasi atau deindividuation?

Deindividuasi atau deindividuation adalah keadaan dimana seseorang kehilangan kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan kehilangan pengertian evaluative terhadap dirinya(evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan atau menjauhkan perhatian dari individu.

Apa yang dimaksud dengan Deindividuasi atau deindividuation ?

1 Like

Deindividuasi adalah hilangnya kesadaran diri dan pengertian evaluatif diri sendiri yang terjadi didalam situasi kelompok dimana hal tersebut membantu perkembangan baik atau buruknya norma kelompok. Myers(2008)

Dalam jurnal yang berjudul “The Theories of Deindividuation” Li (2010) mengatakan deindividuasi adalah saat dimana ketika berada dalam kelompok reaksi individu meningkat.

Singer, Brush & Lublin mengungkapkan deindividuasi terjadi ketika seseorang melakukan tindakan anti sosial yang tidak di inginkan karena ketertarikan individu dalam kelompok.

Deindividuasi merupakan tahap psikologis yang ditandai oleh hilangnya self-awareness dan berkurangnya ketakutan individu karena berada dalam kelompok (Hughes, 2013).

Selain itu, Diener mendefinisikan deindividuasi sebagai proses psikologis dimana kesadaran diri (self-awareness) berkurang. Diener menjelaskan Individu merasa terlindungi oleh faktor situasional dalam kelompok yang membuat perilaku individu tidak dapat di identifikasi.

Menurut Diener, terdapat 3 tahapan dimana seseorang mengalamai deindividuasi, yaitu:

  1. Self-awareness hilang dari individu, kelompok menjadi fokus perhatian dan di identifikasi sebagai satu kesatuan.

  2. Untuk menjadi sepenuhnya deindividuasi harus ada perubahan perhatian antara individu. Individu tidak melihat diri mereka secara terpisah tetapi sebagai bagian dari kelompok.

  3. Individu mengalami ketiadaan self-regulation

Deindividuasi
Gambar Self-awareness dan deindividuasi menurut Ed diener

Dari definisi-definisi yang sudah dijelaskan oleh para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa deindividuasi adalah suatu proses dimana terjadi peleburan identitas individu menjadi identitas sosial, yang mengakibatkan hilangnya kesadaran diri dan kontrol diri dari individu atkibat tidak ter-identifikasinya perilaku individu dalam suatu kelompok.

Teori Deindividuasi


Teori deindividuasi menurut Chang (2008) membahas mengenai bagaimana kelompok mempengaruhi perilaku individu. Festinger mengatakan deindividuasi sebagai hasil pengekangan dari perilaku yang diinginkan individu tetapi bertolak belakang dengan norma sosial. Deindividuasi teori juga menegaskan peleburan individu terhadap kelompok membuat individu kehilangan identitas diri yang berakibat seseorang berprilaku agresif atau menyimpang dari perilaku sosial.

Diener mengatakan kondisi anonim didalam grup mengurangi kesadaran seseorang. Semakin besar kelompok semakin besar pula kemungkinan anonimnya. Anonim melindungi individu dari perilaku ketidaktaatan pada norma. Teori deindividuasi fokus pada bagaimana anonim berpengaruh negatif pada perilaku sosial.

Dalam computer mediated communication, Douglas & Mcgarty melakukan penelitian mengenai cara individu yang menggunakan identitas anonim berkomunikasi. Penelitian tersebut menunjukan perubahan perilaku individu menjadi lebih agresif yang mendukung teori bahwa anonim berpengaruh pada perilaku yang tidak di inginkan.

SIDE - Social Indetity Model of Deindividuation Effect


Social Indetity Model of Deindividuation Effect (SIDE) menurut Chang (2008) dijelaskan sebagai teori yang fokus pada efek positif daripada efek negatif dari deindividuasi. Pendekatan ini menjelaskan mengenai konformitas pada norma grup yang menonjol. Tidak seperti teori deindividuasi, SIDE menegaskan bahwa perilaku kelompok lebih dapat diatur, jika individu melihat kelompok sama pentingnya dengan identitas individu, individu akan berprilaku sesuai dengan norma yang telah diatur kelompok.

Tidak seperti teori deindividuasi, penelitian SIDE fokus pada bagaimana anonim dapat meningkatkan pengaruh sosial. SIDE sering digunakan dalam penelitian computer mediated communication untuk mengetahui sosial efek dari grup online.

Aspek-aspek deindividuasi berdasarkan SIDE

Menurut Reicher (dalam Li, 2010) mengenai the social indetity model’s of deindividuation effect (SIDE), ada 3 faktor utama yang membuat seseorang mengalami deindividuasi, yaitu:

  1. Group immersion
    Meleburnya individu didalam kelompok. Dimana individu tidak lagi melihat dirinya sebagai
    self-identity tetapi social identity.

  2. Anonymity
    Anonim adalah saat dimana identitas pribadi seseorang tidak dapat teridentifikasi.

  3. Hilangnya identitas (self- awareness dan self regulation)
    Hilangnya kesadaran diri dan kontrol diri menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang mengalami deindividuasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi deindividuasi


Menurut Myers(2008) ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang mengalami deindividuasi. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Ukuran kelompok

    Kelompok tidak hanya dapat membuat anggotanya bangkit tetapi juga dapat membuat anggotanya tidak ter-identifikasi. Leon Mann mengungkapkan bahwa ketika seorang individu dalam kelompok kecil yang membuat dirinya dapat di identifikasi individu akan lebih tekontrol perilakunya. Sedangkan, pada saat individu dalam kelompok besar dan tidak dapat teridentifikasi individu akan lebih berani untuk melakukan hal yang tidak sesuai aturan.

  2. Physical Anonymity

    Ed Diener melakukan penelitian mengenai efek dari individu berada dalam kelompok dan dalam kondisi anonim. Penelitian tersebut menunjukan bahwa individu yang berada dalam kelompok dan kondisi anonim akan berprilaku seperti yang mereka inginkan. Selain itu, menurut Tom Postmes & Russel Spears, kondisi anonim membuat kesadaran diri individu berkurang menjadi kesadaran dalam kelompok dan bereaksi sesuai situasi negatif maupun positif.

  3. Arousing and Distracting Activities

    Perilaku agresi yang dilakukan oleh kelompok besar biasanya dipicu oleh aksi seseodrang yang mengalihkan perhatian kelompok. Menurut Oliver (1984) aksi impulsif kelompok menyerap perhatian kita. Ketika kita melakukan tindakan agresi kepada seseorang sebenarnya bukan karena untuk membela dirinya tetapi karena pengaruh situasi dan kelompok.

Hilangnya Self-awareness

Pengalaman kelompok mengurangi kesadaran diri (self-awarenes) dan mengurangi self-conciousness yang berdampak pada perilaku yang tidak sesuai dengan norma (Myers, 2008). Ed diener, Prentice-Dunn & Ronald Rogers (dalam Myers, 2008) mengatakan deindividuasi dapat membuat seseorang tidak dapat mengendalikan diri sendiri. Mereka berperilaku tidak sesuai dengan diri mereka.

Menurut Myers(2008) seseorang dapat melakukan self-aware pada saat mereka berada didepan umum atau didepan kamera dan mengendalikan diri mereka. Self-awareness merupakan kebalikan dari deindividuasi.

Meningkatnya Self-awareness dapat mengurangi deindividuasi.

Teknologi deindividuasi

Menurut Khabay (1998) anonim telah menjadi salah satu alasan besar mengapa seseorang menjadi lebih agresif pada saat mengandarai mobil. Kaca mobil yang tebal membuat seseorang tertutup dan terisolasi dari luar sehingga memberikan kekuatan karena mereka merasa identitas mereka tidak diketahui (anonim). Sama seperti pengguna internet yang tidak dapat terlihat langsung oleh orang lain dan tidak diketahui nya identitas pribadi dari pengguna internet dapat meningkatkan perilaku agresif pada pengguna internet.

Deindividuasi adalah keadaan dimana seseorang kehilangan kesadaran akan diri sendiri (self awareness) dan kehilangan pengertian evaluatif terhadap dirinya (evaluation apprehension) dalam situasi kelompok yang memungkinkan anonimitas dan mengalihkan atau menjauhkan perhatian dari individu (Festinger et al., 1952). Deindividuasi berfokus pada bagaimana anonimitas memberi pengaruh negatif pada perilaku sosial individu.

Faktor faktor yang memengaruhi deindividuasi


Menurut Zimbardo (Wicaksono & Irwansyah, 2017) proses deindividuasi dalam diri seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berasal dari kelompok itu sendiri seperti jumlah besar kecilnya suatu kelompok, anonymity, rasa saling memiliki antar individu atau euphoria yang timbul dari kelompok tersebut.

Singer et al., (1965) menyatakan bahwa seseorang dapat mengalami deindividuasi jika:

  • Mempunyai banyak kesamaan dengan anggota kelompok yang lain
  • Merasa yakin bahwa tindakannya tidak akan diperhatikan sebagai tindakan perorangan, namun sebagai tindakan kelompok
  • Tidak akan bertanggung jawab atas aksi yang dilakukannya.

Teori awal dari deindividuasi dikembangkan dari buah pemikiran sosiolog dari Prancis bernama Gustave Le Bon pada tahun 1896 tentang “ crowd ”. Le Bon menyatakan fenomena berkumpulnya individu-individu ke dalam suatu kelompok akan menyebabkan terjadinya proses berkurangnya kesadaran terhadap identitas diri sehingga seseorang akan mengalami perubahan perilaku yang berbeda dibandingkan dengan perilaku kesehariannya.

Individu yang mengalami perubahan perilaku ini cenderung bersikap sesuai dengan norma-norma yang dianut dalam suatu kelompok (Bon, 1896). Hal itu menurut Le Bon disebabkan ketika berada dalam suatu gerombolan (mob), emosi dari satu individu akan menyebar ke seluruh anggota kelompok (Taylor, dkk., 2009).

Dalam kurun waktu 5 dekade, teori ini kemudian berkembang dengan munculnya istilah deindividuasi yang dipublikasikan oleh Festinger, Pepitone dan Newcomb dalam penelitiannya yang berjudul Some Consequences of Deindividuation in a Group pada tahun 1952. Penelitian yang dilakukan Festinger, dkk. tersebut sekaligus menandai sebagai mulainya perkembangan teori modern deindividuasi (Reicher, R, & Postmes, 1995). Istilah deindividuasi dianggap sebagai penyempurnaan dari konsep pemikiran Le Bon tentang “ crowd ” (Li, 2010).

Sementara oleh Singer, Brush & Lublin (dalam Li,2010) mengungkapkan,

Deindividuasi terjadi ketika seseorang melakukan tindakan anti sosial yang tidak di inginkan karena ketertarikan individu dalam kelompok.

Ada pula pendapat tentang definisi deindividuasi yang dikemukakan oleh O’Sears dkk. (1987), yaitu sebuah kondisi hilangnya kesadaran atas identitas serta tanggung jawab pribadi dalam sebuah kelompok yang mendorong mereka untuk melakukan hal- hal yang tidak mereka lakukan saat sendiri.

Lain halnya dengan Aronson, dkk. (2013) yang menyatakan deindividuasi ialah kondisi hilangnya batasan normal dalam berperilaku ketika berada dalam kerumunan, yang meningkatkan perilaku impulsif dan menyimpang. Taylor dkk., (2009) berpendapat deindividuasi merupakan sebuah kondisi ketika anonimitas kelompok dapat menyebabkan orang melakukan hal- hal yang tidak akan mereka lakukan saat mereka sendirian. Anonimitas disini memang terkadang meningkatkan agresifitas dalam deindividuasi akan tetapi ada peran konteks sosial, yang akan menimbulkan perilaku prososial dalam deindividuasi.

Hal itu juga didukung oleh pendapat Myers (2014) yang mengatakan jika deindividuasi ialah hilangnya kewaspadaan diri dan penangkapan evaluatif diri sendiri dan hanya dapat terjadi didalam situasi kelompok yang mendukung respons terhadap norma kelompok baik atau buruk.

Menurut Postmes & Spears (1995) dalam kondisi deindividuasi membuat self awareness individu berkurang, lebih menyadari dirinya sebagai anggota kelompok, dan lebih responsif terhadap situasi yang ada di dalam kelompok baik negatif (agresifitas) maupun positif (prososial).

Prentice Dunn & Rogers (1982) mengungkapkan bahwasanya deindividuasi lebih dipengaruhi oleh internal diri individu, yaitu self awareness. Menurut mereka deindividuasi hanya dapat terjadi jika identitas diri mereka digantikan dengan identitas kelompoknya.

Deindividuasi merupakan tahap psikologis yang ditandai oleh hilangnya self awareness dan berkurangnya ketakutan individu karena berada dalam kelompok (Hughes, 2013). Selain itu, Diener (dalam Li, 2010) mendefinisikan deindividuasi sebagai proses psikologis dimana kesadaran diri (self-awareness) berkurang.

Menurutnya, proses deindividuasi dapat terjadi apabila seseorang mampu menjauhkan diri dari “self-regulation” dan “self-awareness” yang melekat pada identitasnya sendiri, dimana dalam hal ini fokus dan perhatian hanya diprioritaskan kepada identitas kelompok. Fenomena deindividuasi menurut Diener merupakan proses internal dan cenderung dipengaruhi oleh faktor situasional, internal, dan perilaku kelompok.

Diener menyatakan deindividuasi terjadi melalui 3 tahapan, yaitu:

  1. Self-awareness hilang dari individu, kelompok menjadi fokus perhatian dan di identifikasi sebagai satu kesatuan.

  2. Untuk menjadi sepenuhnya deindividuasi harus ada perubahan perhatian antara individu. Individu tidak melihat diri mereka secara terpisah tetapi sebagai bagian dari kelompok.

  3. Individu mengalami ketiadaan self-regulation.

Aspek- Aspek Deindividuasi


Singer, Brush, dan Lublin (1965) menyatakan bahwa aspek-aspek deindividuasi ialah:

  1. Mempunyai banyak kesamaan dengan anggota kelompok yang lain

  2. Merasa yakin bahwa tindakannya tidak akan diperhatikan sebagai tindakan perorangan, namun sebagai tindakan kelompok.

  3. Individu merasa tidak akan bertanggung jawab atas aksi yang dia lakukan.

Lalu ada pendapat dari Edward Diener (1976) mengenai aspek- aspek deindividuasi meliputi:

  1. Individu berperilaku tidak sesuai keinginannya, hal ini disebabkan individu merespons stimulus yang ada di kelompoknya

  2. Individu melihat dirinya sebagai kelompok

  3. Merasa tidak akan bertanggung jawab terhadap perbuatan yang dilakukannya

  4. Individu tidak merasakan kekhawatiran terhadap evaluasi sosial dari perilakunya

Faktor- Faktor Deindividuasi


Terdapat beberapa pendapat mengenai faktor- faktor penyebab deindividuasi, seperti yang dikemukakan oleh Phillip Zimbardo (dalam Wicaksono & Irwansyah, 2017):

  1. Jumlah besar kecilnya suatu kelompok

  2. Anonimitas

  3. Rasa saling memiliki antar individu atau euphoria yang timbul dari kelompok tersebut

Lain halnya dengan pendapat menurut Reicher mengenai faktor- faktor penyebab deindividuasi yang meliputi:

1. Group immersion

Meleburnya individu didalam kelompok. Dimana individu tidak lagi melihat dirinya sebagai self-identity melainkan social identity .

2. Anonimitas

Anonim adalah saat dimana identitas pribadi seseorang tidak dapat teridentifikasi.

3. Hilangnya identitas (self- awareness dan self regulation)

Hilangnya kesadaran diri dan kontrol diri menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang mengalami deindividuasi.

Myers (2014) juga memiliki pendapat sendiri mengenai faktor- faktor deindividuasi, seperti:

1. Ukuran Kelompok

Kelompok tidak hanya dapat membuat anggotanya bangkit tetapi juga dapat membuat anggotanya tidak ter-identifikasi. Leon Mann (dalam Myers, 2014) mengungkapkan bahwa ketika seorang individu dalam kelompok kecil yang membuat dirinya dapat di identifikasi individu akan lebih tekontrol perilakunya. Sedangkan, pada saat individu dalam kelompok besar dan tidak dapat teridentifikasi individu akan lebih berani untuk melakukan hal yang tidak sesuai aturan.

2. Physical Anonymity

Ed Diener (dalam Myers, 2014) melakukan penelitian mengenai efek dari individu berada dalam kelompok dan dalam kondisi anonim. Penelitian tersebut menunjukan bahwa individu yang berada dalam kelompok dan kondisi anonim akan berprilaku seperti yang mereka inginkan.

Selain itu, menurut Tom Postmes & Russel Spears (dalam Myers, 2014) kondisi anonim membuat kesadaran diri individu berkurang menjadi kesadaran dalam kelompok dan bereaksi sesuai situasi negatif maupun positif.

3. Arousing and Distracting Activities

Perilaku agresi yang dilakukan oleh kelompok besar biasanya dipicu oleh aksi seseorang yang mengalihkan perhatian kelompok. Aksi impulsif kelompok menyerap perhatian kita. Ketika kita melakukan tindakan agresi kepada seseorang sebenarnya bukan karena untuk membela dirinya tetapi karena pengaruh situasi dan kelompok.

4. Berkurangnya Self awareness

Self awareness ialah suatu kondisi sadar diri dimana perhatian berfokus pada diri seseorang. Self awareness membuat individu lebih sensitif terhadap sikap dan watak diri mereka sendiri. Seseorang dapat melakukan self-aware pada saat mereka berada didepan umum atau didepan kamera dan mengendalikan diri mereka.

Pengalaman kelompok mengurangi kesadaran diri (self-awareness) yang berdampak pada perilaku yang tidak sesuai dengan norma. Adanya pengalaman kelompok membuat individu berperilaku tidak sesuai dengan diri mereka. Self- awareness merupakan kebalikan dari deindividuasi. Meningkatnya Self-awareness dapat mengurangi deindividuasi.

Deindividuasi oleh Myers(2008) didefinisikan sebagai hilangnya kesadaran diri dan pengertian evaluatif diri sendiri yang terjadi didalam situasi kelompok dimana hal tersebut membantu perkembangan baik atau buruknya norma kelompok. Kemudian, dalam jurnal yang berjudul “The Theories of Deindividuation” Li(2010) mengatakan deindividuasi adalah saat dimana ketika berada dalam kelompok reaksi individu meningkat. Singer, Brush & Lublin (dalam Li,2010) mengungkapkan deindividuasi terjadi ketika seseorang melakukan tindakan anti sosial yang tidak di inginkan karena ketertarikan individu dalam kelompok.

Deindividuasi merupakan tahap psikologis yang ditandai oleh hilangnya self awareness dan berkurangnya ketakutan individu karena berada dalam kelompok (Hughes, 2013). Selain itu, Diener (dalam Li, 2010) mendefinisikan deindividuasi sebagai proses psikologis dimana kesadaran diri (self-awareness) berkurang. Diener menjelaskan Individu merasa terlindungi oleh faktor situasional dalam kelompok yang membuat perilaku individu tidak dapat di identifikasi.

Diener (dalam Li, 2010) memiliki 3 tahapan dimana seseorang mengalamai deindividuasi, yaitu:

  1. Self-awareness hilang dari individu, kelompok menjadi fokus perhatian dan di identifikasi sebagai satu kesatuan.
  2. Untuk menjadi sepenuhnya deindividuasi harus ada perubahan perhatian antara individu. Individu tidak melihat diri mereka secara terpisah tetapi sebagai bagian dari kelompok.
  3. individu mengalami ketiadaan self-regulation.

Kesimpulan deindividuasi adalah suatu proses dimana terjadi peleburan identitas individu menjadi identitas sosial, yang mengakibatkan hilangnya kesadaran diri dan kontrol diri dari individu atibat tidak ter-identifikasinya perilaku individu dalam suatu kelompok.

Pada saat individu diketahui identitasnya, maka akan beertindak lebih anti sosial. Menurut Koeswara (1988) menyatakan bahwa deindividuasi bisa mengarahkan individu pada kekuasaan, dan perilaku agresif yang dilakukan menjadi lebih intens. Deindividuasi memiliki efek memperbesar keleluasaan individu untuk melakukan agresi, karena deindividuasi menyingkirkan atau mengurangi peranan beberapa aspek yang terdapat pada individu, yakni identitas diri atau personalitas individu perilaku maupun identitas diri korban agresi, serta keterlibatan emosional individu perilaku, agresi terhadap korban.

Dalam kondisi deindividuasi, individu menjadi kurang memperhatikan nilai-nilai perilakunya sendiri dan lebih memusatkan diri pada kelompok dan situasi. Deindividuasi mencangkup hilangnya tanggung jawab pribadi, dan menigkatnya kepekaan terhadap apa yang dilakukan kelompok. Dalam arti, setiap orang dalam kelompok beranggapan bahwa tindakan mereka adalah bagian dari perilaku kelompok (Koeswara, 1988). Hal ini menyebabkan orang kurang merasa bertanggung jawab atas tindakannya dan kurang menyadari konsekuensinya sehingga akan memberi kesempatan yang luas bagi munculnya agresivitas.

Teori Deindividuasi


Teori deindividuasi menurut Chang(2008) membahas mengenai bagaimana kelompok mempengaruhi perilaku individu. Festinger (dalam Chang, 2008) mengatakan deindividuasi sebagai hasil pengekangan dari perilaku yang diinginkan individu tetapi bertolak belakang dengan norma sosial. Deindividuasi teori juga menegaskan peleburan individu terhadap kelompok membuat individu kehilangan identitas diri yang berakibat seseorang berperilaku agresif atau menyimpang dari perilaku sosial.

Diener (dalam Chang, 2008) mengatakan kondisi anonim didalam grup mengurangi kesadaran seseorang. Semakin besar kelompok semakin besar pula kemungkinan anonimnya. Anonim melindungi individu dari perilaku ketidaktaatan pada norma. Teori deindividuasi fokus pada bagaimana anonim berpengaruh negatif pada perilaku sosial.

Dalam computer mediated communication douglas & Mcgarty (dalam Chang, 2008) melakukan penelitian mengenai cara individu yang menggunakan identitas anonim berkomunikasi. Penelitian tersebut menunjukan perubahan perilaku individu menjadi lebih agresif yang mendukung teori bahwa anonim berpengaruh pada perilaku yang tidak di inginkan.

SIDE Social Indetity Model of Deindividuation Effect


SIDE menurut Chang (2008) dijelaskan sebagai teori yang fokus pada efek positif daripada efek negatif dari deindividuasi. Pendekatan ini menjelaskan mengenai konformitas pada norma grup yang menonjol. Tidak seperti teori deindividuasi, SIDE menegaskan bahwa perilaku kelompok lebih dapat diatur, jika individu melihat kelompok sama pentingnya dengan identitas individu, individu akan berperilaku sesuai dengan norma yang telah diatur kelompok. Tidak seperti teori deindividuasi penelitian SIDE fokus pada bagaimana anonim dapat meningkatkan pengaruh sosial. SIDE sering digunakan dalam penelitian computer mediated communication untuk mengetahui sosial efek dari grup online.

Aspek-aspek deindividuasi berdasarkan SIDE


Menurut Reicher (dalam Li, 2010) mengenai the social indetity model’s of deindividuation effect (SIDE), ada 3 faktor utama yang membuat seseorang mengalami deindividuasi, yaitu:

  1. Group immersion
    Meleburnya individu didalam kelompok. Dimana individu tidak lagi melihat dirinya sebagai self-identity tetapi social identity.
  2. Anonymity
    Anonim adalah saat dimana identitas pribadi seseorang tidak dapat teridentifikasi.
  3. Hilangnya identitas (self- awareness dan self regulation)
    Hilangnya kesadaran diri dan kontrol diri menjadi salah satu faktor yang membuat seseorang mengalami deindividuasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi deindividuasi


Menurut Myers(2008) ada beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang mengalami deindividuasi. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Ukuran kelompok
    Kelompok tidak hanya dapat membuat anggotanya bangkit tetapi juga dapat membuat anggotanya tidak ter-identifikasi. Leon Mann (dalam Myers, 2008) mengungkapkan bahwa ketika seorang individu dalam kelompok kecil yang membuat dirinya dapat di identifikasi individu akan lebih tekontrol perilakunya. Sedangkan, pada saat individu dalam kelompok besar dan tidak dapat teridentifikasi individu akan lebih berani untuk melakukan hal yang tidak sesuai aturan.

  2. Physical Anonymity
    Ed Diener (dalam Myers, 2008) melakukan penelitian mengenai efek dari individu berada dalam kelompok dan dalam kondisi anonim. Penelitian tersebut menunjukan bahwa individu yang berada dalam kelompok dan kondisi anonim akan berperilaku seperti yang mereka inginkan. Selain itu, menurut Tom Postmes & Russel Spears (dalam Myers, 2008) kondisi anonim membuat kesadaran diri individu berkurang menjadi kesadaran dalam kelompok dan bereaksi sesuai situasi negatif maupun positif.

  3. Arousing and Distracting Activities
    Perilaku agresi yang dilakukan oleh kelompok besar biasanya dipicu oleh aksi seseorang yang mengalihkan perhatian kelompok. Menurut Oliver (1984) aksi impulsif kelompok menyerap perhatian kita. Ketika kita melakukan tindakan agresi kepada seseorang sebenarnya bukan karena untuk membela dirinya tetapi karena pengaruh situasi dan kelompok.

Hilangnya Self-awareness


Pengalaman kelompok mengurangi kesadaran diri (self-awarenes) dan mengurangi self-conciousness yang berdampak pada perilaku yang tidak sesuai dengan norma (Myers, 2008). Ed diener, Prentice-Dunn & Ronald Rogers (dalam Myers, 2008) mengatakan deindividuasi dapat membuat seseorang tidak dapat mengendalikan diri sendiri. Mereka berperilaku tidak sesuai dengan diri mereka. Menurut Myers(2008) seseorang dapat melakukan self-aware pada saat mereka berada didepan umum atau didepan kamera dan mengendalikan diri mereka. Self-awareness merupakan kebalikan dari deindividuasi. Meningkatnya Self-awareness dapat mengurangi deindividuasi.

Teknologi deindividuasi


Menurut Khabay (1998) anonim telah menjadi salah satu alasan besar mengapa seseorang menjadi lebih agresif pada saat mengandarai mobil. Kaca mobil yang tebal membuat seseorang tertutup dan terisolasi dari luar sehingga memberikan kekuatan karena mereka merasa identitas mereka tidak diketahui (anonim). Sama seperti pengguna internet yang tidak dapat terlihat langsung oleh orang lain dan tidak diketahui nya identitas pribadi dari pengguna internet dapat meningkatkan perilaku agresif pada pengguna internet.