Apa yang dimaksud dengan citra tau imaji dalam puisi?

Citraan atau imaji dalam karya sastra berperan penting untuk menimbulkan pembayangan imajinatif, membentuk gambaran mental, dan dapat membangkitkan pengalaman tertentu pada pembaca. Citraan kata (imagery) berasal dari bahasa Latin imago (image) dengan bentuk verbanya imitari (to imitate). Citraan merupakan kumpulan citra (the collection of images), yang digunakan untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapan indera yang digunakan dalam karya sastra, baik dengan deskripsi secara harfiah maupun secara kias (Abrams, 1981).

Sejalan dengan Abrams, menurut Sayuti (2000), citraan dapat diartikan sebagai kata atau serangkaian kata yang dapat membentuk gambaran mental atau dapat membangkitkan pengalaman tertentu. Dalam fiksi citraan dibedakan menjadi citraan literal dan citraan figuratif. Citraan literal tidak menyebabkan perubahan atau perluasan arti kata-kata sedangkan citraan figuratif (majas) merupakan citraan yang harus dipahami dalam beberapa arti.

Citraan kata merupakan penggambaran angan-angan dalam karya sastra. Sastrawan tidak hanya pencipta musik verbal, tetapi juga pencipta gambaran dalam kata-kata untuk mendeskripsikan sesuatu sehingga pembaca dapat melihat, merasakan, dan mendengarnya (Scott, 1980). Penggambaran angan-angan tersebut untuk menimbulkan suasana yang khusus; membuat lebih hidup gambaran dalam pikiran dan penginderaan serta untuk menarik perhatian pembaca.

Citraan kata, pada dasarnya, terefleksi melalui bahasa kias. Dengan demikian, ada hubungan yang erat antara pencitraan dengan bahasa kias yang asosiatif dan konotatif. Cuddon (1979:316) menjelaskan bahwa citraan kata meliputi penggunaan bahasa untuk menggambarkan objek-objek, tindakan, perasaan, pikiran, ide, pernyataan, dan setiap pengalaman indera yang istimewa.

Citraan kata dapat dibagi menjadi tujuh jenis yakni: (1) citraan penglihatan (visual imagery), (2) citraan pendengaran (auditory imagery), (3) citraan penciuman (smell imagery), (4) citraan pencecapan (taste imagery), (5) citraan gerak (kinesthetic imagery), (6) citraan intelektual (intellectual imagery), dan (7) citraan perabaan (tactile thermal imagery) (Brett, 1983; Pradopo, 1993; bandingkan Nurgiantoro, 1988).

  • Citraan Penglihatan (Visual imagery) adalah citraan yang timbul oleh penglihatan. Pelukisan karakter tokoh, misalnya keramahan, kemarahan, kegembiraan dan fisik (kecantikan, keseksian, keluwesan, ketrampilan, kejantanan, kekuatan, ketegapan), sering dikemukakan pengarang melalui citraan visual ini. Dalam karya sastra, selain pelukisan karakter tokoh cerita, citraan penglihatan ini juga sangat produktif dipakai oleh pengarang untuk melukiskan keadaan, tempat, pemandangan, atau bangunan, misalnya. Citraan visual itu mengusik indra penglihatan pembaca sehingga akan membangkitkan imajinasinya untuk memahami karya sastra. Perasaan estetis akan lebih mudah terangsang melalui citraan visual itu.

  • Citraan Pendengaran (Auditory imagery) adalah citraan yang ditimbulkan oleh pendengaran. Di samping citraan penglihatan, citraan pendengaran juga produktif dipakai dalam karya sastra. Berbagai peristiwa dan pengalaman hidup yang berkaitan dengan pendengaran yang tersimpan dalam memori pembaca akan mudah bangkit dengan adanya citraan audio. Pelukisan keadaan dengan citraan pendengaran akan mudah merangsang imaji pembaca yang kaya dalam pencapaian efek estetik.

  • Citraan Gerakan (Movement imagery/kinaesthetic) melukiskan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak tetapi dilukiskan sebagai dapat bergerak ataupun gambaran gerak pada umumnya. Citraan gerak dapat membuat sesuatu menjadi terasa hidup dan terasa menjadi dinamis. Citraan gerak sangat produktif dipakai dalam karya sastra karena mampu membangkitkan imaji pembaca. Melalui pelukisan gerak (kinestetik) imaji pembaca mudah sekali dibangkitkan mengingat di dalam pikiran pembaca tersedia imaji gerakan itu.

  • Citraan Perabaan (Tactile/Thermal imagery) adalah citraan yang ditimbulkan melalui perabaan. Berbeda dengan citraan penglihatan dan pendengaran yang produktif, citraan perabaan hanya sedikit dipakai oleh sastrawan dalam karya sastra. Dalam fiksi citraan perabaan terkadang dipakai untuk melukiskan keadaan emosional tokoh, misalnya. Biasanya citraan perabaan digunakan untuk lebih menghidupkan imaji pembaca dalam memahami teks karya sastra sehingga timbul efek estetis.

  • Citraan Penciuman (Smell imagery) jarang digunakan dibanding citraan gerak, visual atau pendengaran. Namun demikian, citraan penciuman memiliki fungsi penting dalam menghidupkan imajinasi pembaca khususnya indera penciuman. Pelukisan imajinasi yang diperoleh melalui pengalaman indera penciuman disebut citraan penciuman. Citraan penciuman dipakai sastrawan untuk membangkitkan imaji pembaca dalam hal memperoleh pemahaman yang utuh atas teks sastra yang dibacanya melalui indera penciumannya. Dalam menangkap gagasan sastrawan dalam karya sastra, citraan penciuman membantu pembaca dalam menghidupkan emosi dan imajinasinya.

  • Citraan Pencecapan (Taste imagery) adalah pelukisan imajinasi yang ditimbulkan oleh pengalaman indera pececapan dalam hal ini lidah. Jenis citraan ini jarang digunakan sebanding dengan citraan lainnya. Jenis citraan pencecapan dalam karya sastra dipergunakan untuk menghidupkan imajinasi oembaca dalam hal-hal yang berkaitan dengan rasa di lidah atau membangkitkan selera makan. Dengan citraan ini pembaca akan lebih mudah membayangkan bagaimana rasa sesuatu, makanan atau minuman misalnya yang diperoleh melalui lidah.

  • Citraan Intelektual (Intellectual imagery) adalah citraan yang dihasilkan melalui asosiasi-asosiasi intelektual disebut citraan intelektual. Guna menghidupkan imajinasi pembaca, sastrawan memanfaatkan citraan intelektual. Dengan jenis citraan ini sastrawan dapat membangkitkan imajinasi pembaca melalui asosiasi-asosiasi logika dan pemikiran. Membaca citraan jenis ini, maka intelektualitas pembaca menjadi terangsang sehingga timbul asosiasi-asosiasi pemikiran dalam dirinya. Berbagai pengalaman intelektual yang pernah dirasakannya dapat dihidupkan kembali dengan citraan intelektual. Jenis citraan ini termasuk sering digunakan dalam karya sastra guna merangsang intelektualitas pembaca.

Dalam puisi, untuk memberi gambaran yang jelas, untuk menimbulkan suasana yang khusus,untuk membuat hidup gambaran dalam pikiran dan pengideraan dan juga untuk menarik perhatian, penyair juga menggunakan gambaran-gambaran angan dalam sajak. Gambaran-gambaran angan dalam sajak disebut juga citraan (imagery). Citraan ini ialah gambar-gambar dalam pikiran dan bahasa menggambarkannya (Pradopo, 2007).

Pradopo (2007) menyatakan bahwa gambaran pikiran dalam citraan adalah sebuah efek dalam pikiran yang sangat menyerupai (gambaran) yang dihasilkan oleh penangkapan kita terhadap sebuah objek yang dapat dilihat oleh mata, saraf penglihatan, dan daerah-daerah otak yang berhubungan.

Gambaran-gambaran angan menurut Pradopo (2007) ada bermacam-macam, dihasilkan oleh indera penglihatan, pendengaran, perabaan, penciuman, dan pencecapan. Bahkan juga diciptakan oleh pikiran dalam bentuk sebuah pergerakan.

Dalam puisi Jerman, citraan lebih dikenal dengan nama Die Synästhesie sebagai bagian dari Bildhafter Sprachgebraucht (gambaran angan) yang diungkapkan Marquaβ dengan eine Sonderform der Methapher, der Eigenschaft bezeihungen aus einem Bereich der sinnlichen Wahrnehmungen (hören, sehen, schmeken,…) in einen anderen übertragen warden. Marquaβ mengatakan die Synästhesie adalah bentuk lain dari metafora yang melalui ciri petunjuk dari daerah persepsi panca indera (mendengar, melihat, mencecap,…) dialihkan ke dalam yang lain.

a. Citraan Penglihatan (visual imagery)

Adalah citraan yang timbul oleh penglihatan. Citraan ini member rangsangan kepada indera penglihatan hingga sering hal-hal yang tidak terlihat jadi seolah-olah terlihat.

b. Citraan Pendengaran (auditory imagery)

Citraan pendengaran dihasilkan dengan menyebutkan atau menguraikan bunyi suara (Altenbern via Pradopo, 2007). Penyair banyak menggunakannya disebut penyair auditif.

c. Citraan Perabaan (Tactile/ thermal imagery)

Citraan Perabaan adalah citraan yang menggambarkan angan yang dapat dipegang atau diraba oleh indera perabaan.

d. Citraan Penciuman dan Pencecapan.

Citraan yang menggambarkan angan yang dihasilkan oleh indera penciuman dan pencecapan. Citraan ini tidak terlalu sering digunakan oleh para penyair. Citraan ini menggambarkan seolah-olah objek berbau harum atau busuk dan lain-lain.

e. Citraan Gerak (movement imagery atau kinaesthetic imagery)

Citraan gerak menggambarkan sesuatu yang sesungguhnya tidak bergerak, ataupun gambaran gerak pada umumnya.Citraan gerak ini membuat hidup dan gambaran jadi dinamis.