© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Citra Raga atau Citra Tubuh?

Pada saat sekarang ini, sering sekali masyarakat melakukan diet ketat dan olahraga agar mendapat citra raga yang diinginkan. Apa yang dimaksud dengan citra raga?

Pada tahun 1950, Paul Schilder (Cash & Pruzinsky, 2002) mendefinisikan citra tubuh sebagai gambaran tentang tubuh kita yang dibentuk dalam pikiran kita sendiri. Lebih jauh, citra tubuh digambarkan sebagai citra tridimensional yang dimiliki oleh setiap individu dalam pikirannya sendiri. Pertama, memvisualisasikan diri melalui penampilan fisik. Kedua, merasakan tubuh sebagai persepsi lebih terpadu yaitu melalui dimensi sentuhan dan perasaan. Ketiga, disempurnakan oleh sumber utama dari dimensi itu sendiri, yaitu kesadaran dan pengalaman hidup.

Stuart & Sundeen (1991) mendefinisikan citra tubuh sebagai sikap, persepsi, keyakinan, dan pengetahuan individu secara sadar atau tidak sadar terhadap tubuhnya, baik itu ukuran, bentuk, struktur, fungsi, keterbatasan, maupun objek yang kontak terus menerus saat ini dan yang akan datang. Sementara, Kozier et al. (1995) mengatakan pandangan terhadap citra tubuh adalah bagaimana seseorang memahami ukuran, penampilan, dan fungsi tubuh serta bagian-bagiannya. Berdasarkan definisi yang ada, dapat disimpulkan bahwa citra tubuh merupakan persepsi individu akan tubuhnya yang tercipta melalui penampilan fisik, sentuhan dan perasaan, serta kesadaran dan pengalaman hidup individu tersebut. Citra tubuh bersifat subjektif yaitu berbeda-beda pada setiap individu.

Rudd dan Lennon (2000) melihat 2 komponen yang membangun citra tubuh yaitu komponen persepsi ( perceptual component ) dan komponen sikap ( attitudinal component ). Kedua komponen ini saling mempengaruhi dan mendukung pembentukan citra tubuh yang baik. Komponen persepsi melihat tubuh individu melalui ukuran, bentuk, berat badan, dan penampilannya ( appearance ). Sementara, komponen sikap merasakan tubuhnya sendiri dan mempengaruhi pola tingkah laku individu tersebut. Persepsi individu dimunculkan dengan tingkat kepuasan dan ketidakpuasan terhadap kondisi fisiknya sedangkan sikap dimunculkan dengan suatu tindakan demi mewujudkan harapan seorang individu terhadap ketidakpuasan kondisi fisiknya. Selama hidup, citra tubuh individu dipengaruhi oleh empat faktor (Cash & Pruzinsky, 2002):

  • Sosio-kultural
    Budaya dan media memberikan pengaruh yang cukup besar dalam pembentukan citra tubuh individu. Budaya dan media dalam penyebarannya menciptakan suatu gagasan normatif mengenai hal yang menjadi daya tarik dan hal yang tidak menarik. Anggapan mengenai tubuh ideal seperti: tubuh langsing, kaki panjang, dan wajah menarik yang banyak digambarkan melalui berbagai media, mempengaruhi perkembangan nilai sosial individu (Indriastuti, 1998). Hal inilah yang mempengaruhi individu membuat perbandingan fisik dengan orang lain dan menjadikannya suatu “pakem” untuk citra fisik dirinya.

  • Pengalaman interpersonal
    Pengalaman interpersonal individu dapat berbentuk berupa harapan, pendapat, dan komunikasi. Komunikasi itu sendiri dapat berupa komunikasi verbal dan nonverbal yang disampaikan dalam interaksi dengan lingkungan keluarga, sosial, dan pekerjaan. Interaksi dalam pengalaman interpersonal yang terjadi tidak hanya dengan anggota keluarga dan teman, bahkan orang asing berpotensi dalam membangun standar bagi seseorang untuk membentuk pencitraannya sendiri.

  • Karakteristik fisik
    Perubahan fisik dan penampilan pada setiap fase tumbuh- kembang manusia berpengaruh dalam pembentukan citra tubuh seseorang. Perubahan yang sangat drastis selama masa remaja, menjadi salah satu fase yang diberikan perhatian mendalam. Kurang menghargai dan keinginan individu untuk merasa sempurna dalam setiap aspek hidupnya membawa kepada rasa tidak puas sehingga membentuk citra tubuh yang buruk.

  • Faktor personal
    Faktor personal juga mempengaruhi pembentukan citra tubuh. Pemahaman dan pola pikir yang positif mendukung pengembangan performa yang positif dari tubuh seseorang dan berfungsi sebagai pertahanan terhadap peristiwa yang mengancam citra tubuh seseorang. Perfeksionisme merupakan faktor potensial lain dari kepribadian yang mempengaruhi citra tubuh sehingga menuntut fisik yang ideal.

Kotler (2000) mengatakan citra adalah ide serta impresi seseorang, sangat besar pengaruhnya terhadap sikap dan perilaku serta tindakan yang mungkin akan diperbuat. Chaplin (1995) menambahkan citra atau image berarti gambaran, kesan, serta bayang-bayang yaitu suatu pengalaman sentral atau yang disadari. Drever (1988) juga mengatakan bahwa citra adalah gambaran yang didasarkan oleh pengalaman indera. Tubuh adalah struktural individu dilihat dari proporsi badan secara keseluruhan dan anggota badan (Chaplin, 1995). Selain itu Chaplin (1995) mendefinisikan tubuh sebagai bagian sentral suatu organisme yang mendukung anggota-anggota badan, dan kepala.

Kurniati (2004) menyebutkan bahwa raga adalah salah satu determinan kepribadian yang penting karena mempengaruhi kualitas dan kuantitas tingkah laku individu dan secara tidak langsung mampengaruhi cara individu merasakan tubuhnya sebagai suatu sumber evaluasi diri. Salah satu sumber dalam pembentukan persepsi tentang diri adalah image (gambaran) tentang tubuh atau raga, juga sering disebut sebagai body image, yaitu penampilan diri, sikap terhadap raga sendiri dan konstitusi raga dalam persepsi individu tentang raga. Hal ini menyangkut bagaimana individu melihat tubuhnya pada saat bercermin, dan juga pengalaman yang pernah dialami dan dirasakannya mengenai tubuhnya itu.

Mappiare (1982) mengatakan,

Citra raga merupakan sebagian dari konsep diri yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik. Citra raga khususnya dimaksudkan oleh pemikiran mengenai kecantikan dan kebutuhan wajah.

Menurut Melliana (2006) penampilan merupakan bentuk kontrol sosial yang mempengaruhi bagaimana individu melihat dirinya dan bagaimana ia dilihat oleh orang lain.

Menurut Shafer & Schoben (Hurlock, 1990) raga adalah salah satu determinan kepribadian individu, karena memberikan batasan pada seseorang dalam melakukan penyesuaian diri. Konsep tentang fisik berdasarkan pengalaman dari tubuh seseorang yang lalu dan sekarang, yang nyata atau fantasi inilah yang disebut citra raga. Gambaran terhadap tubuh mencakup ukuran keadaan atau kondisi dan bentuk tubuh. Gambaran tersebut berasal dari sensasi-sensasi internal, perubahan sikap, hubungan dengan objek luar dan orang lain dan pengalaman emosional dan fantasi yang berhubungan dengan norma-norma sosial dan umpan balik dari orang lain.

Menurut Eysenck, dkk (1972) citra raga pada umumnya merupakan wadah pikiran dari tubuh seseorang yang berubah menurut informasi yang diterima dari tubuh dan lingkungan seseorang.

Threes (1996) mengatakan bahwa citra raga atau gambaran seseorang pada dirinya sendiri akan mempengaruhi proses berfikir, perasaan, keinginan, nilai, maupun perilakunya.

Suryanie (2005) citra raga adalah gambaran individu mengenai penampilan fisik dan perasaan yang menyertainya, baik tehadap bagian-bagian tubuhnya maupun mengenai seluruh tubuhnya, berdasarkan penilaian sendiri. Selanjutnya citra raga dapat mendatangkan perasaan senang atau tidak senang terhadap tubuhnya sendiri.

Menurut Honigman dan Castle (Melliana, 2006) body image adalah gambaran mental seseorang terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya, bagaimana seseorang mempersepsi dan memberikan penilaian atas apa yang dia pikirkan dan rasakan terhadap ukuran dan bentuk tubuhnya, dan atas bagaimana penilaian orang lain terhadap dirinya. Sebenarnya, apa yang dia pikirkan dan rasakan, belum tentu benar-benar merepresentasikan keadaan yang aktual, namun lebih merupakan hasil penilaian diri yang subyektif.

Kurniati (2004) menyatakan bahwa citra raga adalah gambaran yang dimiliki individu terhadap tubuhnya yang berhubungan dengan penerimaan diri terhadap keadaan fisiknya yang akan mempengaruhi rasa ketertarikkan orang lain.

Hardy dan Hayes (1988) menambahkan citra raga merupakan sebagian dari konsep diri yang berkaitan dengan sifat-sifat fisik. Konsep diri adalah evaluasi individu mengenai diri sendiri oleh individu yang bersangkutan. Aspek utama dalam konsep diri adalah citra raga yaitu suatu kesadaran individu dan penerimaan terhadap physical self.

Citra raga dikembangkan selama hidup melalui pola interaksi dengan orang lain. Perkembangan citra raga tergantung pada hubungan sosial dan merupakan proses yang panjang dan sering kali tidak menyenangkan, karena citra raga yang selalu diproyeksikan tidak selalu positif.

Citra raga pada umumnya berhubungan dengan remaja wanita daripada remaja pria, remaja wanita cenderung untuk memperhatikan penampilan fisik (Mappiare, 1982). Menurut Suryanie (2005) perubahan-perubahan fisik yang dialami oleh remaja wanita menghasilkan suatu persepsi yang berubah-ubah dalam citra raga dan secara khas menunjukkan kearah penolakan terhadap physical self. Hal-hal yang menyebabkan remaja wanita tidak menerima physical self-nya misalnya : tinggi badan, kemasakkan fisik, jerawat. Remaja wanita sangat peka terhadap penampilan dirinya dan merenung perihal bagaimana wajahnya, apakah orang lain menyukai wajahnya serta selalu menggambarkan dan mengembangkan seperti apa tubuhnya dan apa yang diinginkan dari tubuhnya.