Apa yang Dimaksud dengan Cinta dan Keterasingan dalam Interaksi Sosial Eksklusif?


Dalam ilmu Sosiologi terdapat istilah cinta dan keterasingan.

Apa yang dimaksud dengan cinta dan keterasingan dalam interaksi sosia eksklusif?

Tidak ada ahli sosiologi dan ilmuwan sosial satu pun yang tidak berpandangan bahwa tugas kita semua untuk menciptakan harmoni sosial, kesatuan organisme sosial yang humanis, yang juga mendukung potensi-potensi manusia yang nyata. Pendekatan psikologi sosial memberikan analisis tentang kemungkinan terciptanya peradaban yang humanis dengan melihat hubungan cinta di antara sesama manusia.

Bahkan, seorang ilmuwan sosial mazhab Frankfurt yang bernama Erich Fromm meyakini bahwa jawaban untuk mengatasi keterasingan yang paling dalam antara sesama manusia adalah dengan mewujudkan cinta. Dalam bukunya, The Art of Loving, menegaskan pentingnya relevansi cinta untuk menjadi solusi bagi masyarakat kapitalis modern yang telah terdisintegrasi oleh ketimpangan sosial. Bagi Fromm, disintegrasi itu adalah cerminan eksistensi manusia yang tidak dapat mengatasi keterpisahan (separateness) ketika cinta itu tidak mungkin dibahas tanpa menganalisis eksistensi manusia. Menurut Fromm, teori apa pun tentang cinta harus mulai dengan teori tentang manusia, tentang eksistensi manusia.

Peradaban yang baik ditentukan oleh interaksi manusia yang dihiasi dengan penuh perhatian (mutual understanding) dan penghormatan. Fromm, misalnya, memberikan contoh mengenai hubungan dua orang yang sedang jatuh cinta. Tentunya mereka berdua saling memerhatikan. Cinta mereka bisa menyatukan individu dalam sebuah integrasi sosial. Cinta tidak membedakan ras, suku bangsa, agama, dan kelas sosial karena cinta membuat segalanya menjadi mungkin.

Cinta adalah jawaban bagi problem eksistensi manusia yang berasal secara alamiah dari kebutuhan untuk mengatasi keterpisahan dan “meninggalkan penjara kesepian”. Akan tetapi, penyatuan dalam cinta melebihi suatu simbiosis karena cinta yang dewasa adalah penyatuan di dalam kondisi tetap memelihara integritas seseorang, individualitas seseorang. Cinta adalah kekuatan aktif dalam diri manusia, kekuatan yang meruntuhkan tembok yang memisahkan manusia dari sesamanya.

Cinta sebenarnya adalah seni dalam kehidupan. Disebut seni karena manusia memerlukan kemampuan (untuk mencintai), ketelatenan, dan kedisiplinan sebagaimana cinta adalah tindakan aktif dan produktif, bukan hanya menerima, melainkan memberi. Jadi, sebagai sebuah seni, yaitu untuk membentuk suatu eksistensi yang produktif dan dapat menyambungkan cintanya dengan dunia sekitarnya, kepercayaan terhadap cinta tampaknya harus dimiliki terlebih dahulu. Menurut Fromm, cinta adalah:

“…suatu kekuatan aktif dalam diri manusia; suatu kekuatan yang mendobrak tembok pemisah antara seseorang dan sesamanya dan menyatukannya; cinta adalah kekuatan yang sanggup mengatasi rasa keterasingan dan keterpisahan, tetapi dengan tetap membebaskan seseorang untuk tetap menjadi dirinya, untuk tetap mempertahankan keutuhannya.”

Namun, bukan berarti bahwa cinta harus diwujudkan dengan cara yang tidak sehat, yang menjadikan manusia hanya digerakkan untuk berinteraksi dengan orang yang dicintainya saja. Cinta jenis itu juga hanya akan menjadikan interaksi sosial dalam era modern menjadi basis bagi terhambatnya pembentukan nilai-nilai cinta yang seharusnya bersifat universal. Interaksi sosial antara dua orang yang mencintai biasanya diwarnai dengan pola dominatif. Selain itu, interaksi yang terlalu intensif kadang juga membuat kedua orang yang berhubungan menjadi (ter)lemah(kan). Ini karena kekuatan jiwa dan potensi-potensi kemanusiaan tertinggi dapat terwujud karena manusia terlibat secara intens dalam interaksi sosial yang lebih luas, yang memungkinkannya banyak belajar dan mendapatkan pemahaman dan pengalaman. Semakin manusia banyak berinteraksi dengan pergaulan yang luas, dia meninggalkan keterasingannya dan memfungsikan kemanusiaannya: kebebasan.

Dalam interaksi (cinta) eksklusif kedua orang, dibangun oleh kepentingan yang bersifat sempit dan mendesak, misalnya kepentingan seks, kepentingan untuk membangun rumah tangga, untuk melahirkan keturunan, atau kebutuhan psikologis. Ikatannya sangat individual, terbatas pada kepuasan fi sik dan psikis. Seorang remaja perempuan atau perempuan muda perlu dekat dan bersama pacarnya karena ia merasa tenang—artinya kepentingannya agar tenang. Jika ia terbiasa tenang, nyaman, dan nikmat saat berhubungan fi sik, kebutuhannya juga tidak jauh-jauh dari—atau didukung oleh ikatan—itu. Seorang suami harus bersama dengan istri dalam satu kamar dan satu rumah karena kebutuhannya adalah untuk seksualitas, melahirkan, dan merawat anak, melanjutkan keturunan (regenerasi), atau kebutuhan yang disusun dan dikerjakan antara dua orang itu.

Sedangkan, jika kita membicarakan interaksi universal, antara kita dan orang-orang yang kita ajak berhubungan berkaitan yang sifatnya lebih luas dan universal. Misalnya, penulis selalu ingin bertemu dengan kawan-kawan penulis di berbagai kota untuk berbicara soal hukum, negara dan perubahan, sastra, musik, dan lain sebagainya. Mungkin Anda juga berhubungan dengan orang lain untuk berbicara tentang hal-hal yang lebih berkaitan dengan urusan-urusan besar dan berhubungan dengan orang banyak.

Akan tetapi, merupakan kecenderungan umum bahwa hubungan yang kita bangun dengan orang-orang yang kepentingannya lebih sama dengan kita biasanya akan membuat hubungan mengalami eksklusivitas. Karena penulis menyukai sastra, maka penulis lebih sering berinteraksi dengan orang-orang yang juga suka sastra dan penulis. Interaksi universal membuat pola pikir kita lebih luas, sedangkan interaksi eksklusif membuat cara pandang kita sempit. Logikanya, semakin kita berinteraksi dengan banyak orang dan mendapatkan informasi-informasi atau pandangan baru, wawasan kita bertambah. Akan tetapi, jika kita hanya berinteraksi dengan orang yang “itu-itu saja”, apalagi orang yang tidak memiliki informasi dan tak memiliki pandangan luas, wawasan kita akan mandeg (stagnan), bahkan mundur.

Harus kita sepakati pula bahwa yang membedakan sebuah hubungan itu sempit atau universal, bukan pada dengan berapa banyak orang kita membangun hubungan. Sempit atau luas makna hubungan juga ditentukan secara kualitatif, bukan kuantitatif. Tepatnya, penulis ingin mengatakan bahwa yang penting adalah atas tujuan—atau landasan ideologis—apakah suatu hubungan dibangun. Setiap orang yang bersedia berbagi dengan banyak orang dan ingin memberikan waktu dan kegiatannya pada banyak orang adalah orang yang mempunyai tujuan universal.

Tujuan universal adalah suatu hal yang dapat dijadikan satu ukuran untuk menilai kualitas suatu hubungan. Bisa saja kita tak mempunyai waktu untuk bertemu dengan banyak orang dalam harihari kita, tetapi meskipun berhubungan dengan sedikit orang, kita punya tujuan yang maju. Lebih baik bertemu dengan sedikit orang yang sama-sama memiliki tujuan yang maju untuk mendiskusikan tindakan-tindakan dan kerja-kerja yang terprogram dan dilaksanakan secara konsisten daripada bertemu dengan banyak orang yang tujuannya tak sama dengan tujuan kita atau orang yang tak memiliki tujuan, yang dipastikan tidak menghasilkan hasil.

Lihatlah dari fakta sejarah. Cita-cita universal kemerdekaan negeri kita dimulai dari sedikit orang yang memiliki cita-cita maju (universal) yang sering bertemu, bahkan awalnya mereka tak dikenal oleh rakyat yang sedang diperjuangkannya. Cita-cita universal membuat orang tak hanya memikirkan dirinya, tetapi mengabdikan pikiran dan perbuatannya untuk orang lain, masyarakat banyak. Bahkan, saking kuatnya perasaan universal mereka, kebutuhankebutuhan dan kepentingan-kepentingan sempit dikorbankan. Demi cita-cita universal, mereka tak takut penjara, tak takut mati, juga tak gentar diancam akan dibuang dan diasingkan. Para pejuang, seperti Soekarno harus rela meninggalkan istrinya (Inggit) untuk memperjuangkan cita-cita kemerdekaan.

Selain adanya tujuan sebagai dasar hubungan, kualitas hubungan diukur dengan tingkat komitmen. Komitmen adalah tingkat keseriusan tiap-tiap orang yang berniat menjalin hubungan. Komitmen, selain dapat diukur dari ucapan (janji, sumpah, dan lainlain), juga dapat diukur dari tindakan dan kegiatan dalam menjalani hubungan tersebut. Suatu hubungan yang didasari komitmen yang kuat biasanya akan berlangsung secara baik. Tindakan harus sesuai dengan ucapan. Kuatnya komitmen, tentu saja, tak semata-mata tergantung pada ucapan, tetapi dapat dirasakan dari pemahamannya tentang tujuan, cara-cara mencapai tujuan, serta adanya sikap kritis terhadap dinamika hubungan yang sedang dibangun.