© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Child Abuse?

child abuse

Kekerasan terhadap anak adalah tindak kekerasan secara fisik, seksual, penganiyaan emosional, atau pengabaian terhadap anak.

Bagaimana penjelasan yang lebih rinci terkait dengan child abuse atau kekerasan terhadap anak ?

1 Like

Pada awalnya terminologi tindak kekerasan pada anak atau child abuse berasal dari dunia kedokteran. Sekitar tahun 1946, seorang radiologist Caffey (dalam Tower, 2003) menyebutkan kasus ini dengan Caffey Syndrome.

Henry (dalam Fitri, 2008) menyebut kasus penelantaran dan penganiayaan yang dialami anak-anak dengan istilah Battered Child Syndrome, yaitu setiap keadaan yang disebabkan kurangnya perawatan dan perlindungan terhadap anak oleh orangtua atau pengasuh lain.

Selain Battered Child Syndrome, istilah lain untuk menggambarkan kasus penganiayaan yang dialami anak-anak adalah Maltreatment Syndrome, meliputi gangguan fisik seperti diatas, juga gangguan emosi anak, dan adanya akibat asuhan yang tidak memadai, ekploitasi seksual dan ekonomi, pemberian makanan yang tidak layak bagi anak atau makanan kurang gizi, pengabaian pendidikan dan kesehatan dan kekerasan yang berkaitan dengan medis (Gelles dalam Fitri, 2008).

Papalia (2004) menyatakan bahwa child maltreatment atau lebih dikenal dengan child abuse merupakan tindakan yang disengaja dan membahayakan anak baik dilakukan oleh orang tua atau orang lain.

Maltreatment sendiri terdiri dari beberapa bentuk. Abuse mengarah pada tindakan yang mengakibatkan kerusakan, dan neglect merupakan tidak adanya tindakan atau pengabaian pengasuhan yang dapat mengakibatkan kerusakan.

Bentuk-Bentuk Child Abuse

Terdapat empat bentuk child abuse (Tower, 2003):

  1. Physical Abuse
    Kekerasan yang menyebabkan luka-luka di seluruh tubuh melalui pukulan, gigitan, tendangan, dan pembakaran.

  2. Sexual Abuse
    Aktivitas seksual yang melibatkan anak dan orang lain.
    Menurut Child Abuse Prevention Act (dalam Tower, 2003) sexual abuse meliputi:

    • mempekerjakan, menggunakan, membujuk, merangsang, mengajak, atau memaksa anak untuk ikut dalam perilaku seksual secara nyata (atau berupa rangsangan perilaku) untuk tujuan menghasilkan gambaran visual dari perilaku tersebut

    • pemerkosaan, penganiayaan, prostitusi, atau bentuk lain dari eksploitasi seksual pada anak, ataupun incest pada anak di bawah kondisi yang mengindikasikan bahwa kesehatan atau kesejahteraan anak dirugikan atau terancam oleh hal-hal tersebut

  3. Emotional Abuse
    Meliputi tindakan abuse atau neglect yang menyebabkan gangguan perilaku, kognitif, emosional, atau mental (Papalia, 2004). Garbarino, dan kolega (dalam Tower, 2003) memisahkan emotional abuse dalam dua bagian, yaitu

    • emotional/psychological abuse (meliputi serangan verbal atau emosional, ancaman membahayakan, atau kurungan tertutup)

    • emotional/psycological neglect (meliputi pengasuhan yang tidak cukup, kurang kasih-sayang, menolak memberikan perawatan yang cukup, atau dengan sengaja membiarkan perilaku maladaptif seperti kejahatan ata penggunaan obat-obatan).

    Selanjutnya Garbarino, Guttman, dan Seeley (dalam Tower, 2003) menyatakan bahwa emotional maltreatment atau yang disebut dengan psychological maltreatment merupakan bentuk perilaku merusak secara fisik yang meliputi:

    1. rejecting, orang dewasa menolak untuk mengakui anak berharga dan memenuhi kebutuhan anak.

    2. isolating, orang dewasa memisahkan anak dari pengalaman sosial normal, mencegah anak membentuk persahabatan, dan membuat anak yakin bahwa ia sendirian di dunia ini.

    3. terrorizing, orang dewasa menyerang anak secara verbal, menciptakan suasana takut, mendesak dan menakuti anak, dan meyakini anak bahwa dunia berubah- ubah dan bermusuhan.

    4. ignoring, orang dewasa menghilangkan stimulasi dan respon yang diperlukan sehingga dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan intelektual.

    5. corrupting, orang dewasa ‘mis-socializes’ pada anak, memancing anak untuk melawan dalam perilaku yang merusak dan antisosial, menguatkan penyimpangan, dan membuat anak tidak mampu mengikuti aturan sosial pada umumnya.

    Tower (2003) mengemukakan bahwa psychological abuse merupakan perilaku merusak yang terus-menerus, berulang, dan tidak sesuai ataupun berkurang esensinya, dan dapat mempengaruhi kemampuan atau proses mental anak yang meliputi inteligensi, ingatan, pengenalan, persepsi, perhatian, bahasa, dan perkembangan moral.

    Sedangkan emotional abuse merupakan respon emosional yang terus-menerus, berulang, dan tidak sesuai terhadap ekspresi emosi anak dan beriringan dengan perilaku ekspresif.

  4. Neglect
    Depanfilis dan koleganya (dalam Tower, 2003) menyebutkan bahwa neglect sebagai tindakan kelalaian yang dibagi menjadi tiga kategori, yakni physical neglect, educational neglect, dan emotional neglect. Sedangkan Zuravia dan

    Taylor membagi neglect menjadi delapan bentuk kelalaian orang tua dalam hal:

    • physical health care, gagal memberi atau menolak menyediakan kebutuhan fisik

    • mental health care, gagal atau menolak untuk memenuhi kebutuhan psikis

    • supervision, pengawasan yang tidak cukup di dalam dan luar rumah

    • substitute child care, meninggalkan anak atau tidak kembali selama 48 jam untuk memberikan perawatan

    • housing hazard, tidak melindungi anak dari bahaya seperti obat-obatan atau benda berbahaya

    • household sanitation, tidak memastikan anak terlindung dari makanan basi, sampah, atau kotoran manusia, meliputi toilet yang tidak berfungsi, dan sebagainya

    • personal hygiene, tidak menjaga pribadi anak dan kebersihan pakaian, serta bebas dari kotoran

    • nutrition, gagal untuk memberikan makanan yang cukup dan teratur, serta tidak melindungi anak dari makanan basi atau diet yang dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik.

Definisi Child Abuse

Federal Child Abuse Prevention and Treatment Act dalam Olson & Defrain (2006) mendefinisikan child abuse sebagai berikut :

Child abuse is the physical or mental injury, sexual abuse, or negligent treatment of a child under the age of 18 by a person who is responsible for the child’s welfare. (Olson & Defrain, 2006)

Newberger (1982) memaparkan konsep tentang istilah child abuse yang didasarkan pada penelitian dan pandangan ahli medis yaitu :

Child abuse include neglect, sexual abuse, emotional abuse, and deprivation of necessary physical and moral supports for a child’s development.

Berdasarkan kedua definisi tersebut, child abuse dapat diartikan sebagai penganiayaan mental atau fisik, penganiayaan seksual atau penelantaran terhadap anak serta perampasan hak dalam mendapatkan dukungan fisik dan moral yang layak untuk perkembangan anak di bawah usia 18 tahun, yang dilakukan oleh individu yang seharusnya bertanggung jawab atas kesejahteraan anak tersebut.

Faktor-Faktor Pemicu Child Abuse


Newberger (1982) menjelaskan faktor-faktor yang dapat memicu terjadinya child abuse, yaitu:

1. Adanya Permasalahan Psikologis pada Orangtua Sebagai Pelaku Kekerasan

Permasalahan psikologis disini maksudnya kepribadian yang dimiliki orangtua membuatnya berpotensi melakukan kekerasan pada anak. Lee (1978) menggambarkan beberapa sifat yang ditemukan pada orangtua pelaku child abuse diantaranya tidak dewasa, dependen, egosentrik dan penuntut.

Hal ini membuat orangtua sulit mentoleransi tingkah laku anak yang tidak sesuai dengan keinginannya sehingga memicu terjadinya kekerasan. Orangtua yang abusive, seringkali memiliki pengharapan yang tidak masuk akal terhadap anak, punya kebutuhan sangat besar untuk bergantung, mengisolasi diri sendiri, dan punya pengalaman dianiaya sewaktu kecil (Newberger, 1982). Hal ini yang membuat orangtua merasa memiliki alasan melakukan kekerasan.

2. Faktor Sosiokultural

Latar belakang budaya keluarga besar memiliki pengaruh pada terjadinya child abuse. Orangtua yang biasa dididik dengan cara tertentu pada masa kecilnya cenderung menerapkan cara yang sama dalam mendidik anaknya. Hal ini didukung dengan penelitian Conger (2003) yang telah disinggung sebelumnya, bahwa anger dan agresi dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orangtua yang masa kecilnya dididik dengan menggunakan kekerasan akan cenderung menerapkan hal yang sama pada anaknya. Selain itu, latar belakang pekerjaan orangtua juga dapat menjadi faktor pemicu . Orangtua yang memiliki latar belakang militer misalnya, dapat menurunkan budaya militer yang dimilikinya terhadap cara memperlakukan anak.

3. Pola Asuh

Pemicu lain terjadinya child abuse adalah sikap orangtua yang menerapkan hukuman fisik terhadap anak jika berbuat salah. Zigler (1982) menyatakan bahwa pengaruh paling dominan terjadinya child abuse adalah keinginan orangtua menerapkan hukuman fisik terhadap anak dengan mengatasnamakan sikap disiplin. Orangtua membenarkan perilakunya melakukan kekerasan pada anak dengan menganggap hal itu perlu dilakukan untuk menanamkan disiplin, yang secara lebih tepat dimaksudkan agar anak mengakui otoritas mutlak yang dimiliki orangtua. Pola asuh yang dicirikan dengan sikap orangtua yang membuat peraturan sangat ketat terhadap anaknya dan tidak mensosialisasikan alasan dari dibuatnya peraturan tersebut serta cenderung menggunakan hukuman jika peraturannya dilanggar akan lebih rentan melakukan tindak child abuse.

4. Stres dalam Keluarga

Terdapat beberapa potensi stres yang dapat dialami tiap anggota keluarga dalam kehidupan rumah tangga. Stres yang muncul juga tergantung dari peran yang dimiliki masing-masing anggota keluarga. Newberger (1982) menyebutkan stres yang dapat muncul terbagi atas beberapa bentuk seperti :

  • Stres sosial- situasional

  • Anak sebagai sumber stres

  • Orangtua sebagai sumber stres

Stres sosial-situasional terbagi atas ; faktor struktural, hubungan antar orangtua, dan hubungan antar orangtua-anak.

Faktor struktural berdasarkan situasi seperti pengangguran, perpindahan tempat tinggal, dan tingkat pendidikan orangtua yang rendah meningkatkan risiko terjadinya child abuse. Hubungan antar orangtua turut mempengaruhi child abuse. Straus (1980) menjelaskan bahwa pada anak yang menyaksikan kekerasan antara kedua orangtua, tingkat kemungkinan melakukan kekerasan menjadi lebih tinggi dibanding anak yang tidak pernah menyaksikan kekerasan tersebut (Straus, Gelles, & Steinmetz, dalam Newberger, 1982).

Hubungan orangtua-anak turut andil dalam terjadinya kekerasan. Komunikasi yang tidak terjalin baik meningkatkan risiko kekerasan. Stres yang disebabkan anak dapat terjadi pada kondisi anak yang memiliki kecacatan fisik, penyakit kronis, keterbelakangan mental dan temperamen yang tidak dapat ditoleransi orangtua. Stres yang disebabkan orangtua dalam hal ini pelaku abuse dapat disebabkan diantaranya perasaan kesepian dan depresi yang didukung dengan temperamen tinggi (Newberger, 1982).

Efek Child Abuse


Beberapa efek yang dapat diderita korban child abuse (Newberger, 1982):

1. Efek Psikologis

  • Berpotensi menjadi pelaku kekerasan

Orangtua yang menjadi pelaku kasus child abuse banyak yang mengaku juga mengalami kekerasan pada masa kecilnya. Hal yang dipelajari saat masa kecilnya yang kemudian diterapkan dalam kehidupan berkeluarganya. Penelitian lain juga menemukan adanya hubungan positif antara pemberian hukuman fisik pada anak dengan tindak agresif. Ini menunjukkan bahwa kekerasan yang ditunjukkan pada anak dapat membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang kejam atau keras. Anak yang tumbuh dewasa dalam keadaan demikian akan sangat rentan menunjukkan sikap kejam pula pada rumah tangga yang dimilikinya kelak.

  • Menyimpan anger yang mendalam pada pelaku kekerasan.

Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang abusive terbiasa melihat orangtuanya mengekspresikan anger dengan cara tertentu, yang akan mempengaruhi mereka dalam mengekspresikan anger. Tiap dari mereka akan menyalurkan anger tersebut dalam cara yang berbeda. Engel (2004), yang pernah disebutkan sebelumnya, mengekspresikan anger pada pelaku yang melakukan kekerasan padanya dengan tidak sengaja bersikap mirip dengan cara si pelaku mengekspresikan anger.

Berbeda dengan Engel, Carrie, salah seorang klien Engel yang diceritakan dalam bukunya Honor Your Anger, menunjukkan amarah pada ayahnya yang sering lepas kontrol dalam mengekspresikan rasa marah dan menyakiti dirinya membuat ia menghindari rasa marah dengan sekuat tenaga karena tidak ingin terlihat lepas kontrol seperti ayahnya.

  • Memiliki masalah attachment dengan orang lain.

Bowlby (1969) mengajukan bahwa bertahannya seorang manusia, khususnya saat bayi, bergantung pada kepemilikan figur attachment (dalam Oates, 1996). Proses attachment berkembang pada bulan dan tahun awal kehidupan, yang berkaitan erat dengan respon dan tingkah laku ibu (Oates, 1996). Ibu dan caregiver lain yang tidak berespon pada anak saat bayi atau berespon dengan tidak layak membuat anak cenderung menjadi cemas dan merasa tidak aman dalam attachment nya. Individu yang memiliki hubungan attachment yang tidak aman saat masa kecil akan cenderung kurang fleksibel, lebih pencemas dan hostile.

Mereka cenderung menjadi penyendiri dan memiliki lebih sedikit dukungan dari keluarga dan peer. Pengalaman attachment pada masa awal kehidupan memiliki peran dalam kualitas hubungan interpersonal yang dibangun pada masa kanak- kanak akhir dan masa dewasa (Oates, 1996). Individu yang sedari bayi telah mengalami child abuse akan berpotensi memiliki masalah attachment dengan orang lain, yang berdampak pada hubungan interpersonalnya.

2. Efek Kognitif

  • Menurunnya kecerdasan mental dan intelektual

Anak yang mengalami penganiayaan cenderung mengalami kesulitan belajar serta skor IQ, nilai pendidikan, dan performa di sekolah yang lebih rendah dibanding anak yang tidak mengalami penganiayaan (Olson & Defrain, 2006). Hal ini dapat disebabkan kecemasan dan ketidakamanan yang dirasakan anak, sehingga sulit baginya berkonsentrasi pada pendidikan.

3. Efek Sosial

  • Melakukan tindakan berisiko

Beberapa penelitian menunjukkan kekerasan yang dialami pada masa kecil dapat menjadi penyebab tindakan berisiko. Salah satu tindakan berisiko yang dilakukan terutama oleh remaja adalah penyalahgunaan obat-obatan seperti yang disinggung oleh Brown & Finkelhor (1986). Hal ini dilakukan anak untuk melarikan diri dari rasa cemas dan depresi disebabkan pengalaman kekerasan.