Apa yang dimaksud dengan budaya ?

Budaya atau kebudayaan

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi, dan akal manusia.

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi.[1]

Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.[1] Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis.

Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya, dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.[1]

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsur-unsur sosio-budaya ini tersebar, dan meliputi banyak kegiatan sosial manusia.[2]

Beberapa alasan mengapa orang mengalami kesulitan ketika berkomunikasi dengan orang dari budaya lain terlihat dalam definisi budaya: Budaya adalah suatu perangkat rumit nilai-nilai yang dipolarisasikan oleh suatu citra yang mengandung pandangan atas keistimewaannya sendiri.

Citra yang memaksa” itu mengambil bentuk-bentuk berbeda dalam berbagai budaya seperti “individualisme kasar” di Amerika, “keselarasan individu dengan alam” di Jepang dan “kepatuhan kolektif” di Tiongkok.

Citra budaya yang bersifat memaksa tersebut membekali anggota-anggotanya dengan pedoman mengenai perilaku yang layak dan menetapkan dunia makna dan nilai logis yang dapat dipinjam anggota-anggotanya yang paling bersahaja untuk memperoleh rasa bermartabat dan pertalian dengan hidup mereka.

Dengan demikian, budayalah yang menyediakan suatu kerangka yang koheren untuk mengorganisasikan aktivitas seseorang dan memungkinkannya meramalkan perilaku orang lain.

Apa yang dimaksud dengan budaya ?

Referensi :

[1] Human Communication: Konteks-konteks Komunikasi
[2] Deddy Mulyana dan Jalaluddin Rakhmat. Komunikasi Antarbudaya:Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang Berbeda Budaya. 2006. Bandung:Remaja Rosdakarya.

Menurut Koentjaraningrat (2000) kebudayaan dengan kata dasar budaya berasal dari bahasa sansakerta ”buddhayah”, yaitu bentuk jamak dari buddhi yang berarti “budi” atau “akal”.

Budaya adalah “daya budi” yang berupa cipta, karsa dan rasa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa itu.

Koentjaraningrat menerangkan bahwa pada dasarnya banyak yang membedakan antara budaya dan kebudayaan, dimana budaya merupakan perkembangan majemuk budi daya, yang berarti daya dari budi.

Pada kajian Antropologi, budaya dianggap merupakan singkatan dari kebudayaan yang tidak ada perbedaan dari definsi. Jadi kebudayaan atau disingkat budaya, menurut Koentjaraningrat merupakan keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.

Untuk lebih jelasnya mengenai hal diatas, Koentjaraningrat membedakan adanya tiga wujud dari kebudayaan yaitu:

  1. Wujud kebudayaan sebagai sebuah kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai- nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.

  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam suatu masyrakat.

  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia.

Menurut Liliweri (2002) kebudayaan merupakan pandangan hidup dari sekelompok orang dalam bentuk perilaku, kepercayaan, nilai, dan simbol-simbol yang mereka terima tanpa sadar yang semuanya diwariskan melalui proses komunikasi dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Lebih lanjut, Taylor dalam Liliweri (2002: 62) mendefinisikan kebudayaan tersusun oleh kategori-kategori kesamaan gejala umum yang disebut adat istiadat yang mencakup teknologi, pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, estetika, rekreasional dan kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan manusia sebagai anggota masyarakat.

Dengan kata lain, kebudayaan mencakup semua yang didapatkan atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Hawkins (2012) mengatakan bahwa budaya adalah suatu kompleks yang meliputi pengetahuan, keyakinan, seni, moral, adat-istiadat serta kemampuan dan kebiasaan lain yang dimiliki manusia sebagai bagian masyarakat.

Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat yang mana pun dan tidak hanya mengenai sebagian dari cara hidup itu yaitu bagian yang oleh masyarakat dianggap lebih tinggi atau lebih diinginkan. Linton dalam Ihromi (2006: 18).

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem
agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni.

Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari.

Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.

Kebudayaan juga bisa diartikan sebagai keseluruhan symbol, pemaknaan, penggambaran, struktur aturan, kebiasaan,nilai, pemrosesan informasi, dan pengalihan pola-pola konvensi pikiran, perkataan, dan perbuatan atau tindakan yang dibagikan diantara para anggota suatu system social dan kelompok social dalam suatu masyarakat.

Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain- lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.

Ciri-ciri budaya

Kebudayaan mencakup 7 unsur universal sesuai urutan dari yang lebih sukar berubah, yaitu

  1. sistem religi & upacara keagamaan;
  2. sistem dan organisasi kemasyarakatan;
  3. sistem pengetahuan;
  4. sistem bahasa;
  5. sistem kesenian;
  6. sistem matapencarian hidup; dan
  7. sistem teknologi dan peralatan.

Kebudayaan adalah khas hasil manusia, karena di dalamnya, manusiamenyatakan dirinya sebagai manusia, mengembangkan keadaannya sebagaimanusia, dan memperkenalkan dirinya sebagai manusia.

Dalam kebudayaan, bertindaklah manusia sebagai manusia dihadapan alam, namun ia membedakandirinya dari alam dan menundukkan alam bagi dirinya.

Ciri-ciri khas kebudayaan adalah:

  1. Bersifat historis. Manusia membuat sejarah yang bergerak dinamis danselalu maju yang diwariskan secara turun temurun

  2. Bersifat geografis. Kebudayaan manusia tidak selalu berjalan seragam,ada yang berkembang pesat dan ada yang lamban, dan ada pula yangmandeg (stagnan) yang nyaris berhenti kemajuannya. Dalam interaksidengan lingkungan, kebudayaan kemudian berkembang pada komunitastertentu, dan lalu meluas dalam kesukuan dan kebangsaan/ras. Kemudiankebudayaan itu meluas dan mencakup wilayah/regional, dan makin meluasdengan belahan-bumi. Puncaknya adalah kebudayaan kosmo (duniawi) dalam era informasi dimana terjadi saling melebur dan berinteraksinyakebudayaan-kebudayaan;

  3. Bersifat perwujudan nilai-nilai tertentu. Dalam perjalanan kebudayaan, manusia selalu berusaha melampaui (batas) keterbatasannya. Di sinilahmanusia terbentur pada nilai, nilai yang mana, dan seberapa jauh nilai itu bisa dikembangkan dan Sampai batas mana

Keanekaragaman adat istiadat, agama, seni, budaya, dan bahasa yangberkembang di Indonesia melahirkan adanya kebudayaan nasional dan kebudayaandaerah. Kebudayaan daerah memiliki ciri khas tersendiri.

Budaya massa

Secara sederhana budaya massa (mass culture) serupa dengan budaya popular dalam basis penggunanya: Masyarakat kebanyakan. Namun, berbeda dengan budaya popular yang tumbuh dari masyarakat sendiri dan digunakan tanpa niatan profit, budaya massa diproduksi lewat teknik- teknik produksi massal industri. Budaya tersebut dipasarkan kepada massa (konsumen) secara komersial.

Budaya ini kemudian dikenal pula sebagai budaya komersial yang menyingkirkan budaya-budaya lain yang tidak mampu mencetak uang seperti budaya elit (high culture), budaya rakyat (folk culture) dan budaya popular (popular culture) yang dianggap ketinggalan zaman.

Kata budaya atau kebudayaan berasal dari Bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa inggris, kebudayaan disebut culture , yang berasal dari kata latin Colere , yaitu mengolah atau mengerjakan, bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture dalam Bahasa Inggris diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia sebagai “kultur”.

Beberapa definisi budaya menurut beberapa ahli antara lain :

  • Budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar. Budaya atau kebudayaan seperti sebuah piramida berlapis tiga. Lapisan di atas adalah hal-hal yang dapat dilihat kasat mata seperti bentuk bangunan, pakaian, tarian, musik, teknologi, dan barang-barang lain. Lapisan tengah adalah perilaku, gerak-gerik dan adat istiadat yang sering kali dapat juga dilihat. Lapisan bawah adalah kepercayaan-kepercayaan, asumsi, dan nilai-nilai yang mendasari lapisan di atasnya. Koentjaraningrat (1998)

  • Budaya adalah “ Culture or civilization, take in its wide technografhic sense, is that complex whole which includes knowledge, bilief, art, morals, law, custom and any other capabilities and habits acquired by men as a member of society ”. Budaya atau peradaban mempunyai pengertian teknografis yang luas, adalah merupakan suatu keseluruhan yang kompleks mencakup pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat, dan segala kemampuan dan kebiasaan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat. Edward Burnett Tylor

Budaya, menurut Hofstede (1986), merupakan berbagai interaksi dari ciri-ciri kebiasaan yang mempengaruhi kelompok-kelompok orang dalam lingkungannya, terdapat 5 (lima) dimensi budaya yaitu:

  • Individualisme , kecenderungan akan kerangka sosial yang terjalin longgar dalam masyarakat dimana individu dianjurkan untuk menjaga diri mereka sendiri dan keluarga dekatnya.

  • Kolektivisme, kecenderungan akan kerangka sosial yang terjalin ketat dimana individu dapat mengharapkan kerabat, suku, atau kelompok lainnya melindungi mereka sebagai ganti atas loyalitas mutlak. Isu utama dalam dimensi ini adalah derajat kesaling-tergantungan suatu masyarakat diantara anggota-anggotanya. Hal ini berkait dengan konsep diri masyarakat : "saya" atau "kami".

  • Jarak kekuasaan, merupakan suatu ukuran dimana anggota dari suatu masyarakat menerima bahwa kekuasaan dalam lembaga atau organisasi tidak didistribusikan secara merata. Hal ini mempengaruhi perilaku anggota masyarakat yang kurang berkuasa dan yang berkuasa. Orang-orang dalam masyarakat yang memiliki jarak kekuasaan besar menerima tatanan hirarkis dimana setiap orang mempunyai suatu tempat yang tidak lagi memerlukan justifikasi. Orang-orang dalam masyarakat yang berjarak kekuasaan kecil menginginkan persamaan kekuasaan dan menuntut justifikasi atas perbedaan kekuasaan. Isu utama atas dimensi ini adalah bagaimana suatu masyarakat menangani perbedaan diantara penduduk ketika hal tersebut terjadi. Hal ini mempunyai konsekuensi jelas terhadap cara orang-orang membangun lembaga dan organisasi mereka.

  • Penghindaran ketidakpastian , merupakan tingkatan dimana anggota masyarakat merasa tak nyaman dengan ketidakpastian dan ambiguitas. Perasaan ini mengarahkan mereka untuk mempercayai kepastian yang menjanjikan dan untuk memelihara lembaga-lembaga yang melindungi penyesuaian. Masyarakat yang memiliki penghindaran ketidakpastian yang kuat menjaga kepercayaan dan perilaku yang ketat dan tidak toleran terhadap orang dan ide yang menyimpang. Masyarakat yang mempunyai penghindaran ketidakpastian yang lemah menjaga suasana yang lebih santai dimana praktek dianggap lebih dari prinsip dan penyimpangan lebih dapat ditoleransi. Isu utama dalam dimensi ini adalah bagaimana suatu masyarakat bereaksi atas fakta yang datang hanya sekali dan masa depan yang tidak diketahui. Apakah ia mencoba mengendalikan masa depan atau membiarkannya berlalu. Seperti halnya jarak kekuasaan, penghindaran ketidakpastian memiliki konsekuensi akan cara orang-orang mengembangkan lembaga dan organisasi mereka.

  • Maskulinitas, kecenderungan dalam masyarakat akan prestasi, kepahlawanan, ketegasan, dan keberhasilan material. Lawannya, feminitas berarti kecenderungan akan hubungan, kesederhanaan, perhatian pada yang lemah, dan kualitas hidup. Isu utama pada dimensi ini adalah cara masyarakat mengalokasikan peran sosial atas perbedaan jenis kelamin.

J.J. Hoenigman membedakan wujud kebudayaan menjadi 3 (tiga), yaitu: gagasan, aktivitas, dan artefak, sebagai berikut:

  • Gagasan (Wujud ideal), adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstrak; tidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

  • Aktivitas (tindakan) , adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial . Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.

  • Artefak (karya) , artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda- benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.

Soerjono Soekanto mendefinisikan budaya sebagai : “Sebuah system nilai yang dianut seseorang pendukung budaya tersebut yang mencakup konsepsi abstrak tentang baik dan buruk atau secara institusi nilai yang dianut oleh suatu organisasi yang diadopsi dari organisasi lain baik melalui reinventing maupun re-organizing ”.

Spranger menyatakan bahwa kebudayaan (culture) merupakan sistem nilai, karena kebudayaan itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai budaya yang tersusun atau diatur menurut struktur tertentu.

Kebudayaan sebagai sistem nilai oleh Spranger di golongkan menjadi 6 bidang yang secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu :

  1. Bidang-bidang yang berhubungan dengan manusia sebagai individu, yang didalamnya terdapat 4 nilai budaya :

    • pengetahuan
    • ekonomi
    • kesenian
    • keagamaan
  2. Bidang-bidang yang berhubungan dengan manusia sebagai anggota masyarakat, yang didalamnya terdapat 2 nilai budaya :

    • kemasyarakatan
    • politik

Bentuk atau hasil dari budaya antara lain seperti Lagu daerah, Tarian daerah, rumah adat dan lain-lain

Itu hanya baru beberapa hasil dari budaya ini. Di negara indonesia memiliki 34 Provinsi dan setiap provinsinya berbeda-beda budaya dan adatnya. Walaupun sama hanya berbeda aplikasinya saja

Nah, di dalam kesempatan kali ini, saya dapat mengkaji tentang apa itu budaya. Mulai dari pengertian secara umum, dan Konsep Budaya

Pengertian Budaya

Pengertian budaya secara umum ialah suatu langkah hidup yang menyesuaikan supaya tiap tiap insan manusia memahami dan memahami apa yang wajib dilakukan, diperbuat, serta untuk pilih tabiat di dalam menjalin hubungan bersama manusia yang lain.

Jadi Budaya itu langkah cara untuk berinteraksi yang bisa menyesuaikan sesama manusia untuk memahami apa yang harus kita lakukan dalam menjalin hubungan dengan orang lain

Konsep Budaya

Berdasarkan dari pengertian budaya. Istilah ini di masukan sesuai rencana masing-masing seperti bidang sosial, antropologi, politik, ekonomi dan lain-lain

Konsep Budaya akan bisa dirasakan dengan seiring berjalannya waktu yaitu dengan pergantian tingkah laku beserta struktur dari masyarakat tersebut. Perubahannya itu sangat berjalan dengan lancar karena ada sebuah pergantian teknologi dari zaman ke zaman.

Seperti itu salah satu konsep dari budaya ini. Mungkin itu saja yang bisa saya berikan semoga bermanfaat. Sekian dan terima kasih

KONSEP KEBUDAYAAN

Hassan Shadily mengatakan bahwa kebudayaan berarti keseluruhan dari hasil manusia hidup bermasyarakat berisi aksi-aksi terhadap dan oleh sesama manusia sebagai anggota masyarakat yang merupakan kepandaian, kepercayaan, kesenian, moral hukum, adat kebiasaan , dan lain-lain. Menurut E.B Taylor, kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral hukum, adat istiadat, dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat (Suwarno, 2012). Sedangkan kebudayaan menurut Herskovit dan Malinowski adalah suatu yang superorganik, karena kebudayaan yang turun-terumun dari generasi ke generasi tetap hidup terus atau berkesinambungan meskipun orang-orang yang menjadi anggota masyarakat senantiasa silih berganti disebabkan karena kematian dan kelahiran.

Solo Somardjan dan Soeleman merumuskan kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan atau kebudayaan jasmani ( material culture ) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam. Kemudian rasa yang meliputi jiwa manusia, mewujudkan segala kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti yang luas. Dan cipta merupakan kemampuan metal, kemampuan berfikir orang-orang yang hidup bermasyarakat dan yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan (Suwarno, 2012)

Antropolog C. Kluckhohn di dalam sebuah karyanya yang berjudul Universal Catagories of Culture, telah menguraikan ulasan pendapat para sarjana yang merujuk pada adanya tujuh unsur kebudayaan yang dianggap sebagai universal culture , yaitu :

  • Peralatan dan perlengkapan hidup manusia (pakaian, perumahan, alat-alat rumah tangga, senjata, alat-alat produksi, transpor dan sebagainya)
  • Mata pencaharian dan sistem-sistem ekonomi (pertanian, pertenakan, sistem produksi, sistem distribusi dan sebagainya)
  • Pengetahuan
  • Sistem kemasyarakatan (sistem kekerabatan, organisasi politik, sistem hukum, sistem perkawinan)
  • Bahasa (lisan maupun tertulis)
  • Kesenian (seni rupa, seni suara, seni gerak dan sebagainya)
  • Religi (sistem kepercayaan) (Suwarno, 2012)

Ketujuh unsur kebudayaan universal tersebut masing-masing dapat dijabarkan ke dalam sub-unsur. Demikian ke tujuh kebudayaan universal tadi memang mencakup kebudayaan manusia manapun juga di dunia, dan menunjukkan lingkup dari kebudayaan serta isi dari konsepnya.

“Budaya Yanomamo”, “budaya Jepang”, “evolusi budaya”, “alam versus budaya”: para ahli antropologi masih terus menggunakan kata budaya tersebut, dan masih mengira bahwa kata budaya tersebut punya suatu arti. Namun, dengan memperhatikan cara kerabat primate, seperti Chimpanzee, Gorilla, dan Orang Utan mempelajari tradisi-tradisi setempat, menggunakan peralatan, dan menggunakan simbol-simbol dengan cekatan, tidak dapat lagi berkata dengan seenaknya bahwa “budaya” adalah warisan tingkah laku simbolik yang membuat makhluk manusia menjadi “manusia”.

Jadi dengan memperhatikan gerak perubahan dan keanekaragaman individualitas, tidak dapat lagi dengan mudah berkata bahwa “satu budaya” adalah satu warisan yang dimiliki bersama oleh sekelompok manusia dalam suatu masyarakat tertentu. Selanjutnya, semakin menyadari bahwa pandangan yang holistik terhadap budaya seperti yang disimpulkan oleh Kroeber dan Kluckhohn dalam tahun 1950-an adalah mencakup terlampau banyak hal, dan juga kurang tajam, untuk digunakan bagi menelaah pengalaman manusia yang begitu rumit dan untuk menafsirkan pola-pola kerumitan pengalaman manusia tersebut.

Tantangan masa kini adalah menemukan cara untuk mempertajam konsep “budaya”, sedemikian rupa, sehingga konsep itu mempunyai cakupan (terdiri atas bagian-bagian) yang lebih sedikit tetapi mengungkapkan hal yang lebih banyak. Seperti dikatakan oleh Geertz “pemotongan konsep budaya . . . [ke dalam] satu konsep yang tajam, mengkhusus, dan secara teoritis lebih kuat adalah satu tema besar dalam perteorian antropologi modern”.

Dalam pandangan ini, secara tersirat terlihat satu asumsi yang dimiliki oleh hampir keseluruhan dari kita. Konsep budaya (culture) tidak punya satu arti yang benar, dikeramatkan dan tak pernah habis kita coba temukan. Tetapi, seperti halnya simbol-simbol lain, konsep ini mempunyai makna saat kita memakainya; dan sebagaimana konsepkonsep analitik lainnya, pemakai konsep ini harus membentuk (mencoba sedikitnya setuju pada) pengelompokan gejala alam, (di mana) konsep ini dapat diberi label secara sangat strategis.

Tylor adalah salah seorang yang pertama-tama menggunakan kata kultur untuk menunjukkan keseluruhan keterampilan, kebiasaan, dan pengertian yang didapatkan dari belajar, yang berlaku untuk kelompok tertentu. Ini adalah penggunaan kata secara khusus, yang menyimpang dari apa yang pada waktu itu lazim digunakan. Dari aslinya, kata kultur, yang kita terjemahkan dengan kebudayaan, adalah satu istilah pertanian. Kata Latin cultura berarti pemeliharaan, penggarapan, terutama pemeliharaan dan penggarapan tanah (jadi pertanian). Dalam arti kiasnya digunakan untuk pembentukan, pemurnian, misalnya pembentukan dan pemurnian jiwa. Kedua arti itu masih ditemukan kembali dalam pemakaian bahasa dari sejumlah bahasa Eropa.

Dalam bahasa Inggris to cultivate berkali-kali berarti menanam; to cultivate cotton berarti menanam kapas. Dalam bahasa Belanda masih ditemukan penggunaan istilah cultuur yang aneh, ialah dalam kombinasi kata cultuur dengan nama tanamanekspor yang biasa digunakan di zaman kolonial: suikercultuur (kultur gula), koffiecultuur (kultur kopi), dan lain sebagainya. Saya katakan aneh, oleh karena jamak cultuur itu bukannya culturen akan tetapi cultures. Dalam percakapan, orang menggunakan kata berg-cultures (tanaman gunung kopi, teh, dan karet) dan sawahcultures (tanaman persawahan) seperti gula dan nila. Sebaliknya jamak culturen (digunakan dalam arti peradaban-peradaban) seperti culturen van Java en China (peradaban Jawa dan Cina), dan seterusnya.

Penggunaan kata kultuur dalam arti kias sudah tua. Orang cultiveert zijn geest atau mengembangkan jiwanya. Een man van cultuur orang yang berkebudayaan, adalah seorang yang mempunyai perasaan untuk pengetahuan akan poesi, kesenian, filsafat; orang itu merupakan contoh peradaban. Kultuur di sini berarti suatu pengertian yang menentukan norma, sesuatu yang hanya bisa dicapai oleh mereka yang unggul.

Penggunaan kata kultur yang menentukan norma seperti tersebut di atas, sama sekali tidak terpakai dalam antropologi, juga tidak pada Tylor yang dari permulaan sekali mengartikan kultur sebagai apa yang diperoleh orang dari belajar, “acquired by man as a member of society” (diperoleh manusia dari belajar sebagai seorang anggota masyarakat).

Sebagai ahli antropologi, kata kultur dapat digunakan dengan dua cara, yakni secara umum untuk menunjukkan apa saja yang diperoleh manusia dengan belajar dan pengembangannya dalam pengetahuan, kelembagaan, kebiasaan, keterampilan, dan seterusnya, dan secara khusus sebagai suatu istilah yang mencakup kesemuanya itu untuk menunjukkan bentuk kehidupan secara total dari para anggota suatu kelompok tertentu. Dalam hal yang pertama orang berbicara tentang kultur tanpa ketentuan lebih lanjut, dalam hal yang kedua orang berbicara tentang satu kultur, atau juga kultur para anggota X. Penggunaan yang kedua adalah penggunaan yang paling kongkret, oleh karena kultur itu hanya ada sebagai kultur dari suatu kelompok tertentu.

Mengenai hal ini, harus dicatat, bahwa penggunaan kata kultur atau kebudayaan dalam batas lingkungan kelompok kultur atau kebudayaan Jawa misalnya, bisa juga secara kongkret digunakan untuk membedakan antara kebudayaan pedesaan Jawa Bagelen dan kebudayaan istana Yogya atau istana Cirebon. Penggunaan itu merupakan tiga spesifikasi yang berbeda, suatu pengkhususan dari kebudayaan Jawa, yang mencakup keseluruhannya.

Jadi pengertian kebudayaan Jawa adalah pengertian yang paling umum, yang paling sedikit spesifikasinya; artinya dalam menguraikannya, paling sedikit perinciannya. Cakupan secara umum semacam itu akan berulang, jika saya menguraikan kebudayaan Jawa sebagai spesifikasi atau kasus khusus dari kebudayaan Indonesia. Pengemban kebudayaan (jadi yang memiliki kebudayaan tertentu) selamanya merupakan suatu kelompok sosial tertentu, yang jangkauannya bisa lebih besar atau lebih kecil. Kebudayaan itu terikat pada kelompok. Sesuai dengan kenyataan, bahwa kebudayaan diwaris dan diemban. Lebih dari satu orang diperlukan untuk mengemban suatu kebudayaan.

Kebudayaan itu diperoleh, dipelajari. Ini terjadi setiap kali pada setiap generasi. Belajar di sini adalah jenis belajar yang tidak ada sangkut-pautnya dengan cara belajar di sekolahan. Belajar di sekolahan dilakukan secara sengaja, dan terjadi sebagai jawaban atas suatu instruksi. Belajar dari kebudayaan sendiri lain caranya. Orang bisa sekadar membandingkannya dengan belajar mencontoh atau menirukan. Akan tetapi ini juga melukiskan peristiwa yang terlalu disengaja. Ikut ambil bagian dalam kebudayaan sendiri sebagian terbesar terjadi seperti dengan sendirinya sepanjang pertumbuhan kebudayaan itu sendiri. Sudah tentu tidak seluruhnya demikian, sebab di beberapa bidang tertentu dalam setiap kebudayaan terdapat pengajaran dan instruksi secara sengaja.

Akan tetapi sangat banyak yang terjadi dengan sendirinya, dan hanya sedikit saja yang diatur sebagai tambahan oleh orang tua. Yang terbaik dalam hal ini dapat dilihat pada bahasa. Si anak mulai meracau yang sedikitpun tidak jelas dan tidak dimengerti oleh siapa pun. Seakan-akan anak itu berlatih dalam musik bahasa, dan sambil lalu beberapa bunyi mulai membentuk wujud yang agak jelas: kata-kata atau kombinasi kata. Meski tidak tahu sedikit pun tentang tata bahasa atau ilmu bunyi, anak itu dalam beberapa tahun sudah belajar menggunakan bahasa tanpa salah. Di samping itu orang tua mereka juga sedikit pun tidak tahu tata bahasa. Tata bahasa itu diterapkannya tanpa disadarinya. Bahkan orang tidak dapat sekaligus berbicara dan memikirkan aturan-aturan bahasa yang diterapkannya. Dan lagi aturan-aturan yang sebenarnya hanya seorang spesialis yang mengetahuinya, setelah melakukan pelacakan lewat analisa yang disengaja.

Bahasa adalah kebudayaan dan merupakan bagian yang teramat penting. Karenanya bahasa adalah contoh yang baik dari hal-hal yang juga terjadi pada bidang-bidang kebudayaan lainnya, yaitu penerapan aturan-aturan yang tidak diketahui oleh mereka yang menerapkannya. Di negeri Belanda anak-anak didorong keberaniannya untuk memajukan pertanyaan-pertanyaan, sebab dengan bertanya orang tidak akan sesat di jalan. Akibatnya ialah, bahwa anak-anak terus bertanya tidak ada henti-hentinya, tidak dengan maksud agar tidak sesat di jalan, akan tetapi agar menarik perhatian atau ikut berperan. Di kebudayaan-kebudayaan lain, di mana hal itu dianggap tidak perlu (atau bahkan kurang ajar) bertanya tidak dianjurkan (kadang-kadang jelas-jelas dibuat jera dengan tidak memberikan jawaban) dengan akibat, bahwa tidak ada atau tidak banyak dijumpai anak-anak yang bertanya-tanya. Di negeri Belanda orang mengira, bahwa bertanya adalah “wajar, tidak dibuat-buat”, sama juga halnya dengan tidak bertanya anak desa di Pulau Jawa. Hal itu adalah reaksi sederhana atas keadaan-keadaan budaya yang kebanyakannya dapat diramalkan.

Proses pengambilalihan cara-cara yang normal dalam suatu kebudayaan, sehingga perilaku itu menjadi wajar bagi yang berkepentingan (dalam bahasa Belanda itu dinamakan twede natuur = mendarah daging = ginowo mati Jawa), dinamakan enkulturasi. Enkulturasi itu paling efektif, bilamana terjadi tanpa disadari dan tanpa disengaja. Belajar dengan kesadaran mengimbau kritik, dan merangsang pikiran, bahwa hal itu dapat juga dilakukan dengan cara yang lain. Di mana imbauan kritik tidak terjadi dan pola-pola perilaku itu dengan begitu saja diambil alih, maka hal itu terjadi, oleh karena tindakan yang demikian itu dialaminya sebagai sesuatu yang wajar, yang tidak memerlukan pemikiran. Dan memang itulah yang terjadi dengan tindakan-tindakan budaya kita, hingga tingkat yang jauh lebih tinggi, tanpa kita sadari.

Dalam suatu kebudayaan seperti kebudayaan Belanda, di mana kritik dianjurkan dan membantah dianggap sebagai normal, maka membantah dan mengkritik itu bagi terlalu banyak orang tidak lebih daripada suatu reaksi yang terbina oleh kebudayaan, yang dapat dikenali perbedaannya antara sikap mengkritik yang sebenarnya dan kecenderungannya untuk melakukan hiper-kritik. Dengan demikian, tiap kebudayaan mengenal sikap-sikap khusus yang spesifik bagi kebudayaan tersebut. Oleh karena itu kita juga bisa mendefinisikan kebudayaan sebagai bentuk hidup, suatu cara yang digunakan untuk menerima lingkungannya dan berperilaku di dalamnya.