Apa yang dimaksud dengan Berpikir Sistematis atau System Thinking ?

System Thinking atau Berpikir Sistematis adalah sebuah pendekatan holistik untuk memandang sebuah masalah secara menyeluruh di mana elemen-elemen di dalamnya saling berinteraksi satu sama lain.

Apa yang dimaksud dengan Berpikir Sistematis atau System Thinking ?

Systems Thinking atau dalam bahasa Indonesia disebut dengan pemikiran sistem merupakan suatu pendekatan untuk dapat memahami berbagai macam sistem dengan menekankan pada hubungan antar elemen yang ada pada suatu sistem. Berbeda dengan cara analisis tradisional yang mempelajari suatu sistem dengan memisahkan elemen-elemennya, systems thinking melihat sistem melalui perspektif yang lebih luas. Hal itu menyebabkan output yang dihasilkan oleh systems thinking lebih akurat dan realistis. Contoh objek dari systems thinking adalah ekosistem makhluk hidup dimana terdapat berbagai unsur seperti udara , air, manusia, tumbuhan hewan dan lain - lain.

Tinjauan Systems Thinking


Sumber : http://sebokwiki.org/wiki/Systems_Thinking

Systems thinking didefinisikan sebagai pendekatan untuk menyelesaikan permasalahan yang membutuhkan pemikiran holistik maupun pemikiran reduksionis secara seimbang. Dengan memahami sistem secara keseluruhan juga secara mendetail dapat menghindari munculnya output yang tidak diinginkan.

Karakter dari Systems Thinking mampu menyelesaikan permasalahan yang sulit dengan sangat efektif apalagi yang didalamnya melibatkan permasalahan kompleks, memiliki banyak feedback baik internal maupun eksternal dan masalah yang sangat bergantung pada kejadian di masa lalu ataupun kejadian lain dibanding dengan cara berpikir linier.

Dalam systems science juga dijelaskan bahwa satu-satunya cara untuk dapat memahami dengan baik bagaimana suatu masalah dapat terjadi adalah dengan memahami hubungannya dalam keseluruhan sistem. Systems science thinking mencoba untuk mengilustrasikan bahwa suatu kejadian kecil yang dipisahkan oleh ruang dan waktu dapat memiliki dapat yang lebih besar pada sistem yang lebih kompleks

Sejarah Systems Thinking


Sumber : http://www.systemswiki.org/index.php?title=Systems_Thinking

Systems thinking memiliki dasar dari berbagai sumber seperti konsep Hollis milik Jan Smuts tahun 1920-an, teori sistem yang dikemukakan oleh Ludwig von Bertalanffy pada tahun 1940-an, dan cybernetics yang dikemukakan oleh Ross Ashby tahun 1950-an. Bidang tersebut kemudian dikembangkan oleh Jay Forrester, seorang professor di MIT , pada tahun 1956. Dalam buku The Fifth Discipline karya Peter Senge, menjelaskan bahwa systems thinking merupakan pilar / konsep dasar dari learning organization.

Dana Meadow (1991) mengatakan bahwa

“… if we want to bring about the thoroughgoing restructuring of systems that is necessary to solve the world’s gravest problems … the first step is thinking differently. Everybody thinking differently. The whole society thinking differently.”

Apa yang dijelaskan oleh Meadow merupakan cara berpikir yang sistematik dan dinamis, sering disebut sebagai systems thinking. Namun pakar sistem dinamis menggunakan istilah systems thinking pada situasi yang berbeda- beda. Contohnya beberapa beranggapan bahwa hal itu merupakan dasar dari sistem dinamis, yang lainnya menganggap sebagai subset dari sistem dinamis.

Pada tahun 1994 George Richardson dalam “Systems Thinkers, Systems Thinking” menunjukkan bahwa ide dari berpikir secara sistematik pada suatu masalah memiliki sejarah panjang di berbagai bidang. Richardson mengatakan istilah systems thinking hanya mulai digunakan pada bidang sistem dinamis akhir tahun 1980-an. Dalam special issues dari “Systems Dinamic Review” selama satu dekade belum ada yang menjelaskan mengenai definisi dari systems thinking yang diterima oleh semua komunitas sitem dinamis, karena itu Richardson mengembangkan sebuah proyek untuk menguji seluruh atribut dari pemikir sistem. Hingga akhirnya system thinking mulai diimplementasikan di semua sekolah selama 20 tahun terakhir.

Banyak peneliti juga menunjukkan pentingnya dari systems thinking untuk meningkatkan kualitas dalam berpikir kritis dan skill mengambil keputusan seperti Chang (2001) , Costello (2001), Costello et al. (2001) Draper (1991) , Grant (1997), Hight (1995) , Lannon-Kim (1991) Lyneis and Fox-Melanson (2001) Lyneis (2000) , Richardson (2001) , dan Waters Foundation (2006).

Pendekatan Systems thinking


Pendekatan systems thinking melibatkan beberapa prinsip sebagai berikut :

  • Holisme – pemikiran bahwa sistem harus dipandang secara keseluruhan
  • Input dan output – dalam sistem tertutup, input ditentukan sekali dan konstan, sedangkan pada sistem terbuka terdapat input tambahan yang berasal dari lingkungan
  • Entropi – satuan untuk mengukur kelainan yang adal dalam suatu sistem
  • Hirarki – sesuatu yang kompleks dibuat dari beberapa subsistem yang lebih kecil
  • Goal seeking – suatu interaksi sistemik harus memiliki goal atau kondisi akhir yang sama
  • Regulasi – metode umpan balik sangat dibutuhkan agar sistem bekerja sesuai yang diharapkan
  • Equifinality – cara alternatif untuk mencapai tujuan yang sama
  • Multifinality – mencapai tujuan alternatif dari input yang sama
  • Differentiation – unit yang dispesialisasi memiliki fungsi yang dispesialisasi juga
  • Dualisme – duan karakter sistem yang berkontradiksi namun sangat penting bagi suatu sistem
  • Modularitas – memisahkan atau menggabungkan elemen dari sistem sesuai keterkaitannya
  • Abstraksi – proses menghilangkan suatu karakteristik sistem untuk menetapkan karakteristik dasar
  • Relasi – hubungan antar elemen dalam suatu sistem
  • Enkapsulasi - menyembunyikan elemen sistem dan interaksinya dari lingkungan eksternal

Karakteristik dari Systems thinker


  • berpikir secara menyeluruh daripada perbagian-bagian
  • melihat sesuatu pada gambaran yang lebih besar
  • mencari tahu efek yang ditimbulkan dari suatu aksi
  • mengidentifikasi bagaimana suatu hubungan bisa mempengaruhi sistem
  • mengerti konsep dari perilaku dinamis
  • mengerti bagaimana cara struktur sistem membentuk perilaku sistem
  • melihat sesuatu dari sudut pandang yang berbeda

Penggunaan dari Systems Thinking


Systems thinking sudah digunakan untuk menyelesaikan banyak permasalahan dari berbagai bidang seperti analisis bisnis, manajemen bisnis, kesehatan, komputasi, manufaktur, pembangunan berkelanjutan, epidomiologi dan lain-lain.

Systems thinking menggunakan simulasi computer , bermacam - macam diagram dan grafik untuk memodelkan, mengilustrasikan dam memprediksi perilaku sistem. Contoh alat systems thinking adalah behavior over time (BOT) graph yang menunjukkan tindakan dari satu atau lebih variabel dalam periode waktu tertentu , causal loop diagram (CLD) yang menggambarkan hubungan antar elemen dalam sistem ,management flight simulator yang menggunakan program interaktif untuk mensimulasi efek dari keputusan manajemen, dan simulation model yang mensimulasi interaksi antar elemen dalam sistem dari waktu ke waktu.

Referensi
  • Senge, Peter (1990). The Fifth Discipline. Doubleday.
  • Bertalanffy, L. von. 1968. General System Theory: Foundations, Development, Applications. Revised ed. New York, NY: Braziller.
  • Meadows, M. 1991. System dynamics meets the press. The Global Citizen, 1-12. Washington DC: Island Press
  • Forrester, J.W. 1994. System dynamics, systems thinking, and soft OR. System Dynamics Review
  • Richardson, G.P. 1994. Introduction: systems thinkers, systems thinking. System Dynamics Review 10(2/3)95-99.
  • Lipson, H. 2007. “Principles of modularity, regularity, and hierarchy for scalable systems.” Journal of Biological Physics and Chemistry. 7: 125–128
  • Wikipedia. “System Thinking” Accessed December 18 2016 at Wikipedia https://en.wikipedia.org/wiki/Systems_thinking
  • Sebokwiki. “Principle of System Thinking” Accessed December 18 2016 at Sebokwiki http://sebokwiki.org/wiki/Principles_of_Systems_Thinking
  • Aronson, Daniel. 1996. “Overview of Systems Thinking”. Accessed December 18 2016 at http://www.thinking.net/Systems_Thinking/OverviewSTarticle.pdf

Berpikir sistemik adalah sebuah cara untuk memahami sistem yang kompleks dengan menganalisis bagian-bagian sistem tersebut untuk mengetahui pola hubungan yang terdapat di dalam setiap unsur atau elemen penyusun sistem. Pada prinsipnya, berpikir sistemik mengombinasikan dua kemampuan berpikir, yaitu kemampuan berpikir analis dan berpikir sintesis.

Ada beberapa istilah yang sering kita jumpai yang memiliki kemiripan dengan berpikir sistemik ( systemic thinking ), yaitu systematic thinking (berpikir sistematik), systemic thinking (berpikir sistemik), dan systems thinking (berpikir serba-sistem). Jika dikaji, semua istilah itu berakar dari kata yang sama yaitu “sistem” dan “berpikir”, tetapi menunjukkan konotasi yang berbeda karena memiliki tujuan yang berbeda pula.

Konsep sistem setidaknya menyangkut pengertian adanya elemen atau unsur yang membentuk kesatuan, lalu ada atribut yang mengikat mereka, yaitu tujuan bersama. Oleh karena itu, setiap elemen berhubungan satu sama lain (relasi) berdasarkan suatu aturan main yang disepakati bersama. Kesatuan antar elemen (sistem) itu memiliki batas ( boundary ) yang memisahkan dan membedakan dari sistem lain di sekitarnya.

Berpikir sistematik ( sistematic thinking ) artinya memikirkan segala sesuatu berdasarkan kerangka metode tertentu, ada urutan dan proses pengambilan keputusan. Di sini diperlukan ketaatan dan kedisiplinan terhadap proses dan metode yang hendak dipakai. Metode berpikir yang berbeda akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda, tetapi semuanya dapat dipertanggungjawabkan karena sesuai dengan proses yang diakui luas.

Berpikir sistemik ( systemic thinking ) maknanya mencari dan melihat segala sesuatu memiliki pola keteraturan dan bekerja sebagai sebuah sistem. Misalnya, bila kita melihat otak, akan terbayangkan sistem saraf dalam tubuh manusia atau hewan. Bila kita melihat jantung, akan terbayangkan sistem peredaran darah di seluruh tubuh. Sementara itu, berpikir sistemik ( systemic thinking ) adalah menyadari bahwa segala sesuatu berinteraksi dengan perkara lain di sekelilingnya, meskipun secara formal-prosedural mungkin tidak terkait langsung atau secara spasial berada di luar lingkungan tertentu. Systemic thinking lebih menekankan pada kesadaran bahwa segala sesuatu berhubungan dalam satu rangkaian sistem. Cara berpikir seperti berseberangan dengan berpikir fragmented-linear-cartesian.

Berpikir sistemik ( systemic thinking ) mengombinasikan antara:

  • analytical thinking (kemampuan mengurai elemen-elemen suatu masalah); dan

  • synthetical thinking (memadukan elemen-elemen tersebut menjadi kesatuan).

Sistems thinking sedikit berbeda systemic thinking . Berpikir sistemik lebih menekankan pada pencarian pola-hubungan ( Pattern ) maka berpikir serba- sistem lebih menekankan pada pemahaman bagaimana ( How ) elemen-elemen itu berhubungan. Dengan pemahaman How tersebut maka kita dapat menemukan elemen mana yang memiliki pengaruh vital dan solusi yang komprehensif sehingga tidak menimbulkan masalah baru.

Cara berpikir serba-sistem juga akan membentuk sikap yang sistemik dalam merespons permasalahan ( systemic attitude ), yakni suatu pola perilaku yang tidak menabrak aturan main ( rule of game ) yang sudah disepakati dalam satu sistem tertentu. Sebuah aturan yang ditetapkan dalam sistem memang bersifat membatasi ruang gerak ( self constraining ), tetapi pada saat yang sama memampukan ( self enabling ) setiap elemen untuk bekerja sesuai fungsinya dan berinteraksi dengan elemen lain. Jika tak ada batasan fungsi yang jelas, setiap elemen itu akan saling bertabrakan dan malah berpotensi menghancurkan sistem secara keseluruhan. Di sinilah pentingnya, berpikir dan bertindak serba-sistem demi menjaga kesinambungan sistem sendiri. Pengubahan aturan main dimungkinkan dan dapat diperjuangkan melalui cara-cara legal-rasional sehingga sistem itu tumbuh semakin sehat dan matang.

Ilmu berpikir sistemik harus dikuasai agar agar dapat menganalisis setiap masalah dalam penugasan secara ilmiah, tepat guna, dan berhasil guna (efektif dan efisien). Dengan berpikir sistem, kita selalu mampu melihat setiap masalah secara struktural, mampu melihat dan menemukan akar masalah secara objektif dan akurat. Setiap permasalahan harus kita uraikan dalam beberapa katagori/golongan yang disebut sub sistem, kemudian sub sistem kita uraikan lagi menjadi sub-sub sistem. Demikian seterusnya sampai kita temukan akar masalahnya.