Apa yang dimaksud dengan barang publik (public good)?

Apa yang dimaksud dengan barang publik (public good) ?

Apa yang dimaksud dengan barang publik (public good) ?

3 Likes

Barang publik (public good) merupakan suatu barang maupun jasa diproduksi maka produsen tidak memiliki kemampuan dalam mengendalikan siapa saja yang berhak mendapatkannya. Masalah yang dapat ditimbulkan dalam barang publik adalah ketika produsen tidak mampu meminta kepada konsumen untuk membayar terhadap
konsumsi sutau barang maupun jasa tersebut.

Barang publik menurut Fauzi (2004) memiliki dua sifat antara lain:

  1. Tidak ada ketersaingan (Non-rivalry) atau tidak habis (non-divisible), diartikan bahwa dalam hal mengkonsumsi seseorang terhadap barang publik tidak akan berpengaruh (berkurang) dengan konsumsi orang lain terhadap barang yang sejenis. Contohnya adalah udara yang kita hirup, dalam kondisi tertentu tidak akan berkurang bagi orang lain untuk menghirupnya. Dan contoh lainnya adalah lampu penerangan jalan, dimana sinar lampu yang berada di jalan akan dikonsumsi oleh setiap orang yang melewati jalan tersebut dan memiliki mata. Adapun konsumsi kita terhadap sinar lampu tersebut tidak akan mengurangi bahkan menyebabkan sinar lampu tersebut habis sehingga konsumen lain tetap dapat menikmati sinar lampu tersebut.

  2. Tidak ada larangan (Non-excludable), yaitu tidak ada larangan bagi orang lain dalam mengkonsumsi barang yang sama. Contohnya adalah siaran TV maupun Radio yang merupakan barang publik. Dimana ketika program sudah maupun sedang disiarkan, maka hal ini akan mengakibatkan setiap orang yang memiliki pesawat penerima (TV dan Radio) berhak untuk mendapatkan serta menikmati program yang sama seperti yang kita dapatkan.

Dalam pandangan ekonomi, barang (goods) dapat diklasifikasikan menurut kriteria-kriteria penggunaan atau konsekuensinya dan hak pemilikannya. Dari sisi konsumsinya, kita dapat mengklasifikasikan apakahbarang tersebut menimbulkan ketersaingan untuk mengonsumsinya atau tidak (rivaly). Dalam bahasa ekonomi, kondisi di atas sering disebut sebagai biaya oportunitas yang positif dari segi konsumsi. Dari sisi pemilikan, suatu barang dapat dilihat dari kemampuan si pemilik (Podusen) untuk mencegah pihak lain untuk memilikinya. Sifat ini sering juga disebut sifat yang excludable. Sebaliknya, dari sisi pihak konsumen, kita bisa melihat misalnya, apakah konsumen memiliki hak atau tidak untuk mengonsumsi. Berdasarkan sifat-sifat tersebut, barang publik (Public goods) secara umum dapat didefinisikan sebagai barang dimana jika diproduksi, produsen tidak memiliki kemampuan mengendalikan siapa yang berhak mendapatkannya. Masalah dalam barang publik timbul karena produsen tidak dapat meminta konsumen untuk membayar atas konsumsi barang tersebut. Sebaliknya, di sisi konsumen, mereka tahu bahwa sekali diproduksi, produsen tidak memiliki kendali sama sekali siapa yang mengonsumsinya. Berdasarkan ciri-cirinya, barang publik memiliki dua sifat dominan, yaitu :

  1. Non-rivaly Itidak ada persaingan) atau non-divisible (tidak habis)
    Barang publik memiliki sifat non-rivaly dalam hal mengonsumsinya. Artinya, konsumsi seseorang terhadap barang publik tidak akan mengurangi konsumsi orang lain terhadap barang yang sama. Udara yang kita hirup, dalam derajat tertentu tidak akan berkurang bagi orang lain untuk menghirupnya. Demikian juga halnya dengan lampu penerangan jalanan.

  2. Non-excludable (tidak ada larangan)
    Sifat kedua ini artinya sulit untuk melarang pihak lain untuk mengonsumsi barang yang sama. Pada saat kita menikmati pemandangan laut yang indah di pantai, misalnya, kita tidak bisa atau sulit melarang orang lain untuk tidakmelakukan hal yang sama karena pemandangan adalah public goods.

Referensi

Fauzi, Akhmad. 2006. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.

Bowen mengemukakan suatu teori mengenai penyediaan barang-barang publik dan teorinya didasarkan pada teori harga. Bowen mendefinisikan barang publik sebagai barang di mana pengecualian tidak dapat ditetapkan.

Jadi sekali suatu barang pubilk sudah tersedia maka tidak ada seorang pun yang dapat dikecualikan dari manfaat barang tersebut. Jadi, menurut Bowen, jumlah barang publik yang dikonsumsikan oleh individu A sama dengan jumlah barang publik yang dikonsumsikan oleh individu B (Guritno,1999).

Barang publik disebut juga barang kolektif. Barang jenis ini dapat dikonsumsi oleh beberapa individu secara berkala atau terus-menerus. Hal ini menutup kemungkinan untuk memberlakukan sifat pengecualian bagi siapa saja yang ingin menikmati barang publik. Oleh karena itu, hal ini menimbulkan kesulitan bagi pihak penyedia barang publik untuk mendapatkan pengembalian dari biaya yang telah mereka keluarkan.

Barang publik mempunyai sifat yakni non-persaingan dan non-dikecualikan. Konsep pengecualian dan persaingan ini tidak hanya menuntun kita dalam mengartikan barang publik saja, namun juga untuk membedakan barang publik dengan kategori barang lain.

  1. Barang Publik Murni
    Barang publik murni telah menjadi subjek dari sebagian besar analisis ekonomi barang publik. Dalam beberapa hal, barang publik murni adalah abstraksi yang diadopsi untuk memberikan kasus benchmark terhadap yang lain, yang dapat dinilai. Sebuah barang publik murni memiliki dua sifat berikut:
  • Non-dikecualikan. Jika kepentingan publik diberikan, konsumen tidak dapat dikecualikan dari konsumsi

  • Non-persaingan. Konsumsi barang publik oleh salah satu konsumen tidak mengurangi jumlah yang tersedia untuk dikonsumsi oleh negara lainnya

    Sebaliknya, barang swasta sifatnya dikecualikan dan perlu adanya persaingan di dalamnya, yang artinya jika dikonsumsi oleh satu orang maka tidak ada yang tersisa untuk yang lain. Meskipun barang swasta tidak dibuat eksplisit, sifat-sifat suatu barang swasta secara tidak langsung telah berlaku implisit dalam bagaimana kita telah menganalisis perilaku pasar dalam bab-bab sebelumnya.

  1. Barang Publik Tidak Murni
    Barang tidak murni menempati daerah yang luas antara barang publik murni dan barang swasta murni. Dalam praktik, barang publik akhirnya cenderung menderita kemacetan ketika penggunaan cukup besar. Contoh jelas termasuk taman dan jalan. Kemacetan menghasilkan pengurangan dalam pengembalian barang publik kepada setiap pengguna sebagai akibat meningkatnya penggunaan pasokan yang diiringi oleh peningkatan rumah tangga.

    Barang publik tersebut disebut barang publik tidak murni. Utilitas yang diperoleh setiap rumah tangga dari barang publik murni adalah fungsi naik dari tingkat pasokan dan fungsi penurunan dari segi penggunaannya.