Apa yang dimaksud dengan Bahan Ajar?

Bahan Ajar

Menurut National Centre for Competency Based Training (2007), bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas.

Apa yang dimaksud dengan Bahan Ajar ?

Pengertian Bahan Ajar


Bahan ajar merupakan sesuatu yang tak bisa lepas dalam dunia pendidikan. Sama pentingnya dengan sumber belajar dan tidak dapat lepas dari sarana pembelajaran lain guna meningkatkan hasil belajar siswa. Namun di lapangan sendiri banyak ditemukan kelemahan bahwa sumber belajar hanya dianggap sebagai sarana belaka tanpa mengetahui fungsi lebih lanjut dari pengunaanya dalam pembelajaran.

Untuk memhami maksud bahan ajar, kita dapat menelusuri pandangan dari beberapa ahli tentang pengertian istilah tersebut. Menurut National Centre for Competency Based Training (2007), bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses pembelajaran di kelas. Bahan yang di maksud bisa berupa bahan tertulis maupun tak tertulis. Menurut Wasino (2010) Bahan ajar adalah seperangkat materi yang disusun secara sistematik baik secara tertulis yang digunakan untuk mebantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran di kelas baik bahan ajar berisi pengetahuan, ketrampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Menurut Andi Prastowo (2015) bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan pembelajaran dan penelaahan implementasi pembelajaran.

Bahan ajar juga dapat memberikan pedoman untuk penggunanya, tanpa bahan ajar maka pelajaran tidak menghasilkan apa-apa. Bahan ajar merupakan faktor eksternal siswa yang mampu memperkuat motivasi internal untuk belajar. Salah satu cara pembelajaran yang mampu mempengaruhi aktivitas belajar adalah dengan memasukan bahan ajar saat pembelajaran. Bahan ajar yang di desain secara lengkap, dalam arti unsur media dan sumber belajar yang memadai dapat mempengaruhi suasana pembelajaran sehingga proses belajar yang terjadi pada diri siswa menjadi lebih baik. Melalui bahan ajar yang didesain secara menarik, disertai ilustrasi dan konten isi menjadi jauh menarik, hal ini dapat menstimulasi peserta didik.

Tujuan Bahan Ajar


Bahan ajar disusun dengan tujuan sebagai berikut:

  • Bahan ajar disusun dalam rangka memenuhi kebutuhan bahan ajar yang terdapat dalam materi di kurikulum yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.
  • Bahan ajar disusun untuk menjadi alternatif tambahan dari bahan ajar yang selama ini sudah tersedia, sehingga membangkitkan rasa semangat peserta didik dalam pembelajaran.
  • Bahan ajar disusun agar peserta didik lebih mudah menyerap materi dengan bahan ajar dengan desain menarik dan isi yang lebih jelas dan rinci.
  • Untuk mempermudah guru dalam kegiatan pembelajaran.

Manfaat Bahan Ajar


Adapun manfaat ketika guru mengembangkan bahan ajar sendiri dalam pembelajaran, diantaranya:

  • Bahan ajar yang disusun lebih kaya dengan berbagai sumber dan referensi.
  • Bahan ajar disesuaikan dengan kompetensi dan perkembangan zaman.
  • Tidak terlalu bergantung dengan buku teks yang tersedia dan lebih menguasai materi.
  • Mempererat komunikasi antara guru dan peserta didik secara efektif, karena dapat menambah percaya guru pada peserta didik.
  • Bahan ajar menjadi lebih bervariasi, dengan demikian peserta didik tidak bosan saat pelajaran dan pembelajaran lebih menarik dengan bahan ajar yang dikembangkan tersbut.

Bentuk-Bentuk Bahan Ajar


Bentuk bahan ajar menurut Abdul Majid (2008) adalah:

  1. Bahan ajar pandang (visual) terdiri atas bahan ajar cetak ( printed ) seperti atara lain handout , buku teks, modul, lembar kerja, brosur, leaflet, wallchart , foto/gambar dan non cetak ( non printed ), seperti modul/maket.

  2. Bahan ajar dengar (audio) seperti kaset, radio, piringan hitam dan compact disk audio.

  3. Bahan ajar pandang dengar (audio visual) seperti film dan compact disk audio.

  4. Bahan ajar multimedia interaktif (interkatif teaching material ) seperti CAI ( Computer Assisted Instruction ), compact disk (CD) multimedia pembelajaran interkatif dan bahan ajar berbasis web ( web based learning material ).

Pengembangan Bahan Ajar


Bahan ajar adalah sesuatu yang penting dalam pembelajaran. Diharapkan apabila dikembangkan dengan sistematis dan valid bahan ajar ini mampu memberikan warna dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran pendidik dituntut menggunakan bahan ajar sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku. Sebagai seorang pendidik yang baik, sangat penting apabila kita memiliki kompetensi dalam membuat bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan belajar sehingga materi dapat tersampaikan dengan baik dan membuat siswa lebih mengenal konsep ruang dan waktu secara utuh dan terpadu.

Ada beberapa alasan mendasar mengepa seorang pendidik perlu mengembangkan bahan ajar, seperti yang disebutkan Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (2008) berikut:

  • Ketersediaan bahan sesuai tuntutan kurikulum, dengan kata lain bahan ajar dikembangkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
  • Karakteristik sasaran, artinya bahwa bahan ajar yang dikembangkan sesuai dengan karakteristik dan tahapan perkembangan. Karakteristik tersebut antara lain lingkungan sosial, budaya dan geografis peserta didik.
  • Pengembangan bahan ajar harus dapat menjawab atau memecahkan masalah atau kesulitan dalam belajar. Dalam hal ini siswa dituntut ikut aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Menurut Arif dan Napitupulu (dalam Prastowo, 2015) ada beberapa prinsip yang mesti kita pegang dalam memilih bahan ajar:

  • Isi bahan ajar hendaknya sesuai dengan tujuan pembelajaran,
  • Bahan ajar hendaknya sesuai dengan tujuan kebutuhan peserta didik,
  • Bahan ajar hendaknya betul-betul baik dalam penyajian faktualnya,
  • Bahan ajar hendaknya menggambarkan latar belakang dan suasana yang dihayati oleh peserta didik,
  • Bahan ajar hendaklah mudah dan ekonomis penggunaanya,
  • Bahan ajar hendaklah cocok dengan gaya belajar peserta didik,
  • Lingkungan dimana bahan ajar digunakan harus sesuai dengan jenis media yang digunakan.

Prosedur Pengembangan Bahan Ajar


Ada beberapa acuan yang harus diperhatikan dalam pengembangan bahan, diantaranya adalah

  • Menelaah standar kompetensi, silabus, program semester dan rencana pembelajaran pembelajaran yang berkaitan dengan pembuatan materi dari bahan ajar tersebut,
  • Memilih materi yang sesuai dengan kaidah tahapan pertama dan melakukan permetaan materi,
  • Melakukan kajian sumber mengenai materi yang digunakan,
  • Menentukan bentuk penyajian dan menyusun kerangka penyajian,
  • Menyusun bahan ajar,
  • Merevisi bahan ajar (menyunting setelah mendapat masukan dari para ahli),
  • Menguji coba bahan ajar; dan
  • Finalisasi akhir (menulis akhir dan merevisi).

Pengembangan bahan ajar perlu disusun dengan sistematis dan teliti. Ada beberapa langkah yang harus diperhatikan dalam menghasilkan bahan ajar yang baik, diantaranya:

1 . Memilih tema atau topik yang sesuai

Topik harus dipilih sesuai dengan kebutuhan peserta didik, ada tidaknya bahan ajar pada materi itu dan kemudahan dalam penggunaanya. Selain sesuai, topik yang dipilih juga harus menarik di mata peserta didik, asal daerah juga menentukan menariknya topik yang diangkat dalam mengembangkan bahan ajar. Topik juga harus menggambarkan materi pembelajaran dengan singkat dan padat.

2 . Penetapan kriteria pengembangan bahan ajar

Kriteria yang dimaksud adalah standar bahan pembelajaran yang dikembangkan. Kriteria bahan pembelajaran yang baik, diantaranya:

  • Diawali dengan analisis kebutuhan, didapat konten informasi yang dikembangkan sesuai dengan pengalaman peserta didik.

  • Peserta didik merasa bahwa informasi tersebut penting sehingga layak disajikan dalam bentuk bahan ajar.

  • Materi yang disajikan adalah informasi yang ada dilingkungan siswa sehingga mudah diperoleh.

  • Dalam pengembangan bahan ajar, harus memiliki tingkat organisasi yang baik dan menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami.

  • Penyusunan bahan ajar juga harus disesuaikan dengan umur, tingkat sekolah dan kalangan umur serta tingkat perkembangan peserta didik.

  • Kata-kata sulit dan istilah-istilah teknik, harus dijabarkan dan dijelaskan secara rinci.

  1. Mengembangkan bahan pembelajaran baru Informasi sebanyak-banyaknya mengenai kelemahan dan kelebihan bahan ajar yang sudah pernah dikembangkan sebelumnya adalah salah satu syarat utama dalam penyusunan bahan ajar yang baru.

  2. Melakukan uji coba bahan ajar.

  3. Merevisi bahan ajar yang dapat digunakan untuk kalangan umum.

Bahan ajar adalah segala bentuk bahan yang digunakan untuk membantu guru/instruktur dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar di kelas. Bahan yang dimaksud bisa berupa bahan tertulis maupun bahan tidak tertulis, (Ahmadi, 2010).

Bahan ajar adalah seperangkat materi pelajaran yang mengacu pada kurikulum yang digunakan dalam rangka mencapai standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditentukan, (Lestari, 2013).

Bahan ajar merupakan segala bahan (baik informasi, alat, maupun teks) yang disusun secara sistematis, yang menampilkan sosok utuh dari kompetensi yang akan dikuasai peserta didik dan digunakan dalam proses pembelajaran dengan tujuan perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran. Misalnya, buku pelajaran, modul, handout, LKS, model atau maket, bahan ajar audio, bahan ajar interaktif, dan sebagainya (Prastowo, 2014).

Menurut Abdul Majid (2006) Sumber belajar ditetapkan sebagai informasi yang disajikan dan disimpan dalam berbagai media, yang dapat membantu siswa dalam belajar sebagai perwujudan dari kurikulum. Bentuknya tidak terbatas apakah dalam bentuk cetakan, video, format perangkat lunak atau kombinasi berbagai format yang dapat digunakan oleh siswa ataupun guru.

Bahan pembelajaran adalah seperangkat bahan bermuatan materi atau isi pembelajaran yang didesain untuk mencapai tujuan pembelajaran. Sedangkan menurut pendapat ahli lainnya bahan ajar adalah informasi, alat, dan teks yang diperlukan guru atau instruktur untuk perencanaan dan penelaahan implementasi pembelajaran.

Pandangan-pandangan tersebut juga dilengkapi oleh Pannen dalam (Prastowo, 2014) yang mengungkapkan bahwa bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan peserta didik dalam proses pembelajaran.

Tujuan dan Manfaat Penyusunan Bahan Ajar


Bahan ajar disusun dengan tujuan :

  1. Menyediakan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum dengan mempertimbangkan kebutuhan peserta didik, yakni bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik dan setting atau lingkungan sosial peserta didik.

  2. Membantu peserta didik dalam memperoleh alternatif bahan ajar disamping buku-buku teks yang terkadang sulit diperoleh.

  3. Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran.

Manfaat bagi guru :

  1. Diperoleh bahan ajar yang sesuai tuntutan kurikulum dan sesuai dengan kebutuhan belajar peserta didik,
  2. Tidak lagi tergantung kepada buku teks yang terkadang sulit untuk diperoleh,
  3. Memperkaya karena dikembangkan dengan menggunakan berbagai referensi,
  4. Menambah khasanah pengetahuan dan pengalaman guru dalam menulis bahan ajar,
  5. Membangun komunikasi pembelajaran yang efektif antara guru dengan peserta didik karena peserta didik akan merasa lebih percaya kepada gurunya,
  6. Menambah angka kredit jika dikumpulkan menjadi buku dan diterbitkan.

Manfaat bagi peserta didik :

  1. Kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik.
  2. Kesempatan untuk belajar harus disusun secara mandiri dan mengurangi ketergantungan terhadap kehadiran guru.
  3. Mendapatkan kemudahan dalam mempelajari setiap kompetensi yang harus dikuasainya. (Ahmadi, 2010).

Jenis Bahan Ajar


Menurut Amri dan Ahmadi (2010) jenis bahan ajar juga harus disesuaikan dulu dengan kurikulumnya, setelah itu barulah dibuat rancangan pembelajarannya. Berikut ini salah satu jenis bahan ajar berdasarkan bentuknya, meliputi:

  1. Bahan ajar pandang (visual) yakni sejumlah bahan yang disiapkan dalam kertas, yang berfungsi untuk keperluan pembelajaran atau penyampaian informasi. Bahan ajar pandang (visual) terdiri atas bahan cetak (printed) seperti Handout, buku, modul, lembar kerja siswa, brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar dan bahan non cetak (nonprinted) seperti model/maket.

  2. Bahan ajar dengar (audio), yakni semua sistem yang menggunakan sinyal radio secara langsung, yang dapat dimainkan atau didengar oleh seseorang atau sekelompok orang. Contohnya seperti kaset, radio, piringan hitam dan compact diskaudio.

  3. Bahan ajar pandang dengar (audiovisual), yakni segala sesuatu yang memungkinkan sinyal audio dapat dikombinasikan dengan gambar bergerak secara seuensial. Contohnya video compact disk dan film.

  4. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material), yakni kombinasi dari dua atau lebih media yang oleh penggunanya dimanipulasi atau diberi perlakuan untuk mengendalikan suatu perintah dan/atau perilaku alami suatu presentasi. Contohnya compact disk interactive dan bahan ajar berbasis web (web based learning materials).

Fungsi Bahan Ajar


Bahan ajar memiliki fungsi dalam pembelajaran dan berpengaruh terhadap proses pendidikan. Bahan ajar dapat mempengaruhi kualitas pembelajaran termasuk kualitas hasil belajar. Oleh karena itu, bahan ajar memiliki fungsi dalam pembelajaran dan memegang peranan yang sangat strategis dan turut menentukan tercapainya tujuan pendidikan.

Menurut Hamdani (2011) dalam bukunya disebutkan bahwa bahan ajar berfungsi sebagai :

  1. Pedoman bagi guru yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa.

  2. Pedoman bagi siswa yang akan mengarahkan semua aktivitasnya dalam proses pembelajaran, sekaligus merupakan substansi kompetensi yang seharusnya dipelajari atau dikuasainya.

  3. Alat evaluasi pencapaian atau penugasan hasil pembelajaran.

Menurut Chomsin dan Jasmadi (2008), bahan ajar merupakan seperangkat sarana atau alat pembelajaran yang berisikan materi pembelajaran, metode, batasan-batasan dan cara mengevaluasi yang didesain secara sistematis dan menarik dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan, yaitu mencapai kompetensi atau sub-kompetensi dengan segala kompleksitasnya.

Majid (2006) mengemukakan bahwa tujuan dari penyusunan bahan ajar adalah: (1) membantu siswa dalam mempelajari sesuatu; (2) memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran; (3) agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik; dan (4) menyediakan berbagai jenis bahan ajar.

Dalam mencapai tujuan tersebut, bahan ajar hendaknya memiliki karakteristik dan sifat bahan ajar, antara lain:

  1. Mampu membelajarkan sendiri para siswa ( self instructional ), artinya bahan ajar harus mempunyai kemampuan menjelaskan yang sejelas-jelasnya untuk membantu siswa dalam proses pembelajaran, baik dalam bimbingan guru maupun secara mandiri;

  2. Bahan ajar bersifat lengkap ( self – contained ), artinya memuat hal-hal yang sangat diperlukan dalam proses pembelajaran;

  3. Mampu membelajarkan peserta didik ( self-instructional material ), artinya dalam bahan pembelajaran harus mampu memicu siswa untuk aktif dalam proses belajar, bahkan membelajarkan siswa untuk dapat menilai kemampuan belajarnya sendiri (Djauhar Siddiq, 2008).

Jenis Bahan Ajar

Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas (2008), bahan ajar dikategorikan menjadi 4 (empat) yaitu:

  1. Bahan cetak ( printed ), seperti handout, buku, modul, lembar kerja siswa (LKS), brosur, leaflet, wallchart, foto/gambar, model/maket, dsb.

  2. Bahan ajar dengar (audio), seperti kaset, radio, piringan hitam, audio compact disk, dsb.

  3. Bahan ajar pandang dengar ( audio visual ), seperti video campact disk, film, dan lain-lain.

  4. Bahan ajar multimedia interaktif (interactive teaching material), seperti CAI ( Computer Assisted Instruction ), seperti compact disk (CD) multimedia pembelajaran interaktif.

  5. Bahan ajar berbasis web (web based learning materials).

Desain Pengembangan Bahan Ajar

Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam penyusunan bahan ajar meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan (Direktorat PSMA, 2006). Ketiga prinsip tersebut dijelaskan sebagai berikut.

  1. Prinsip relevansi

Dalam menyusun bahan ajar hendaknya relevan atau ada kaitan/hubungan dengan pencapaian standar kompetensi (SK) dan kompetensi dasar (KD).

  1. Prinsip konsistensi

Penyusunan bahan ajar hendaknya konsisten dengan pencapaian SK dan KD. Apabila kompetensi dasar yang akan dicapai terdapat dua macam, maka bahan ajar yang disusun juga memuat dua macam kompetensi dasar.

  1. Prinsip kecukupan

Bahan ajar hendaknya disusun sesuai dengan kebutuhan materi yang akan dipelajari siswa. Materi yang termuat dalam bahan ajar tidak terlalu sedikit dan tidak terlalu banyak. Jika terlalu sedikit akan berpengaruh pada pencapaian kompetensi dasar yang tidak maksimal. Jika terlalu banyak akan berpengaruh pada saat penggunaan bahan ajar yang cenderung akan membuang-buang waktu dan tenaga.

Salah satu desain pengembangan dalam menyusun bahan ajar yaitu model pengembangan ADDIE ( Analysis, Design, Development, Implementation, and Evaluation ). Sesuai dengan namanya, model ini terdiri dari lima fase/tahap, yaitu analysis (analisis), design (desain), development (pengembangan), implementation (implementasi), dan evaluation (evaluasi). Kelima tahap tersebut digambarkan dengan diagram pada gambar berikut.

image

Penjelasan dari kelima tahap ADDIE tersebut diuraikan sebagai berikut.

  1. Analisis

Pada langkah analisis ditetapkan tujuan pengembangan bahan ajar melalui analisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran. Selain itu, tahap analisis dilakukan pula melalui analisis kurikulum. Melalui analisis kurikulum, tujuan pengembangan bahan ajar akan lebih terperinci melalui analisis SK dan KD yang ditetapkan. Hasil analisis SK dan KD inilah yang akan dijadikan sebagai bahan untuk melakukan tahap berikutnya.

  1. Desain

Pada tahap ini, hal mendasar yang perlu dilakukan adalah penentuan kompetensi yang harus dikuasai siswa. Selanjutnya, hal-hal yang dilakukan adalah penentuan metode, strategi, pendekatan, dan jenis bahan ajar yang akan dipakai dalam proses pembelajaran. Penentuan unsur-unsur yang perlu dikembangkan dalam penyusunan bahan ajar juga merupakan bagian dalam tahap desain ini. Rancangan struktur bahan ajar menjadi hasil akhir dari tahap kedua dalam model pengembangan ADDIE.

  1. Pengembangan

Dalam tahap ini, hal-hal yang dilakukan adalah memproduksi bahan ajar yang akan digunakan dalam proses pembelajaran. Selanjutnya, dilakukan penilaian terhadap bahan ajar yang telah selesai diproduksi sebelum diimplementasikan lebih lanjut.

  1. Implementasi

Tahap ini merupakan proses pembelajaran sesungguhnya dengan menerapkan metode, strategi, dan pendekatan yang telah ditetapkan. Penggunaan bahan ajar dalam proses pembelajaran menjadi inti dari tahap keempat dalam model pengembangan ADDIE.

  1. Evaluasi

Tahap ini dilakukan untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan dari bahan ajar yang telah dikembangkan dan diimplementasikan. Tujuan dari tahap evaluasiadalah untuk mengetahui sikap siswa terhadap kegiatan pembelajaran (metode, strategi, pendekatan, dan bahan ajar) secara keseluruhan dan peningkatan kompetensi siswa yang merupakan dampak dari keikut-sertaan siswa dalam proses pembelajaran.