Apa yang dimaksud dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Hiperaktif ?

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan kondisi kronis berupa kesulitan fokus, hiperaktif, dan impulsif.

ADHD sering dimulai pada masa kanak-kanak dan dapat bertahan sampai dewasa. Dapat menyebabkan rendah diri, hubungan bermasalah, dan kesulitan di sekolah atau dalam pekerjaan.

Apa yang dimaksud dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD)?

Attention-Deficit/Hyperactive Disorder atau ADHD adalah nama yang diberikan untuk anak-anak, remaja, dan beberapa orang dewasa, yang kurang mampu meperhatikan, mudah dikacaukan, dengan over aktif, dan juga impulsif. ADHD adalah suatu gangguan neurobiologi, dan bukan penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik. Banyak macam faktor yang disebut sebagai penyebab ADHD (Millichap, 2013).

Sejalan dengan itu, Baihaqi dan Sugiarman (2006) juga didefinisikan secara umum bahwa, ADHD adalah kondisi anak-anak yang memperlihatkan ciri-ciri atau gejala kurang konsentrasi, hiperaktif dan impulsif yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan sebagian besar aktivitas hidup mereka.

Peters dan Douglas mendiskripsikan “attention deficit hyperactivity disorder” (ADHD), sebagai gangguan yang menyebabkan individu memiliki kecenderungan untuk mengalami masalah pemusatan perhatian, kontrol diri, dan kebutuhan untuk selalu mencari stimulasi.

Menurut Barkley (2006), ADHD adalah hambatan untuk mengatur dan mempertahankan perilaku sesuai peraturan dan akibat dari perilaku itu sendiri. Gangguan tersebut berdampak pada munculnya masalah untuk menghambat, mengawali, maupun mempertahankan respon pada suatu situasi.

Menurut Baihaqi & Sugiarman (2006), ADHD merupakan suatu gangguan kronis (menahun) yang dapat dimulai pada masa bayi dan dapat berlanjut sampai dengan dewasa. Gangguan anak ADHD dapat berpengaruh negatif terhadap kehidupan anak di sekolah, di rumah, di dalam komunitasnya.

Menurut DSM-IV (APA 1994) secara khas menggambarkan bahwa ADHD merupakan kesatuan dari tiga rangkaian kurangnya perhatian, hiperaktif dan juga impulsif. Pengertian itu didukung oleh hasil observasi yang dipimpin Russell Barkley dan kawan-kawan yang menggambarkan ADHD sebagai ketidakmampuan untuk menghambat, bukan ketidakmampuan memperhatikan dalam diri mereka.

Anak ADHD yang tidak mampu melakukan pengereman, maka mereka :

  1. Tidak mampu menahan gangguan : kurang memperhatikan
  2. Tidak mampu mengontrol pemikiran : Impulsif
  3. Tidak mampu mengontrol tindakan seperti gangguan atau :pikiran Hiperaktif.

DSM-IV (APA 2000) menggambarkan ADHD sebagai gangguan yang dapat dideteksi sebelum anak usia 7 tahun, namun dalam prakteknya banyak orang yang tidak mendiagnosis hal ini sampai dengan usianya bertambah. ADHD dibagi menjadi 3 subtipe: tipe predominan tidak adanya perhatian, tipe predominan hiperaktif/impulsif, dan tipe kombinasi yang ditandai oleh tidak adanya perhatian dan hiperaktivitas-impulsivitas tingkat tinggi.

Taraf kecerdasan anak ADHD pada umumnya bervariasi dari di bawah rata-rata maupun lebih tinggi. Anak dengan ADHD cenderung memiliki skor rendah pada subtes WISC dari peringkat terendah, yaitu object assembly, picture arrangement, information, comprehension, digit span, dan block design. Subtes-subtes tersebut mencerminkan berbagai keterbatasan yang dialami dalam hal visual motor coordination, visual perception, organization, visual-spatial relationship and field dependence, sequence ability, planning ability, effects of uncertainty, and social sensitivity. Dengan berbagai keterbatasan tersebut anak dengan ADHD mengalami masalah perilaku, sosial, kognitif, akademik, dan emosional, serta mengalami hambatan dalam mengaktualisasikan potensi kecerdasannya (Ferdinand, 2007).

Aktivitas dan kegelisahan pada anak ADHD menghambat kemampuan mereka di sekolah. Mereka tampak tidak dapat duduk dengan tenang, mereka gelisah dan bergerak-gerak di kursi, mengganggu kegiatan anak lain, mudah marah dan dapat melakukan perilaku yang berbahaya seperti berlari ke jalan tanpa melihat keadaan dijalan terlebih dahulu (Nevid J.F. dkk, 2003: 160).

Karakteristik ADHD (Attention Deficit Hyperactive Disorder)


Menurut DSM IV, kriteria ADHD adalah sebagai berikut :

1. Kurang Perhatian

Pada kriteria ini, penderita ADHD paling sedikit mengalami enam atau lebih dari gejala-gejala berikutnya, dan berlangsung selama paling sedikit 6 bulan sampai suatu tingkatan yang maladaptif dan tidak konsisten dengan tingkat perkembangan.

  1. Seringkali gagal memerhatikan baik-baik terhadap sesuatu yang detail atau membuat kesalahan yang sembrono dalam pekerjaan sekolah dan kegiatan-kegiatan lainnya.

  2. Seringkali mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian terhadap tugas-tugas atau kegiatan bermain.

  3. Seringkali tidak mendengarkan jika diajak bicara secara langsung

  4. Seringkali tidak mengikuti baik-baik intruksi dan gagal dalam menyelesaikan pekerjaan sekolah, pekerjaan, atau tugas ditempat kerja (bukan disebabkan karena perilaku melawan atau gagal untuk mengerti intruksi).

  5. Seringkali mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kegiatan

  6. Sering kehilangan barang/benda penting untuk tugas-tugas dan kegiatan, misalnya kehilangan permainan; kehilangan tugas sekolah; kehilangan pensil, buku, dan alat tulis lainnya.

  7. Seringkali menghindar, tidak menyukai atau enggan untuk melaksanakan tugas-tugas yang menyentuh usaha mental yang didukung, seperti menyelesaikan pekerjaan sekolah atau pekerjaan rumah.

  8. Seringkali bingung/terganggu oleh rangsangan dari luar, dan

  9. Sering lekas lupa dan menyelesaikan kegiatan sehari-hari.

2. Hiperaktivitas Impulsifitas

Paling sedikit enam atau lebih dari gejala-gejala hiperaktivitas impulsifitas berikutnya bertahan selama paling sedikit 6 samapai dengan tingkat yang maladaptif dan tidak dengan tingkat perkembangan.

  1. Hiperaktivitas

    • Seringkali gelisah dengan tangan atau kaki mereka, dan sering menggeliat di kursi

    • Sering meninggalkan tempat duduk di dalam kelas atau dalam situasi lainnya dimana diharapkan anak tetap duduk

    • Sering berlarian atau naik-naik secara berlebihan dalam situasi dimana hal ini tidak tepat. (pada masa remaja atau dewasa terbatas pada perasaan gelisah yang subjektif)

    • Sering mengalami kesulitan dalam bermain atau terlibat dalam kegiatan senggang secara tenang

    • Sering bergerak atau bertindak seolah-olah dikendalikan oleh motor, dan

    • Sering berbicara berlebihan

  2. Impulsifitas

    • Mereka sering memberi jawaban sebelum pertanyaan selesai

    • Mereka sering mengalami kesulitan menanti giliran

    • Mereka sering menginterupsi atau mengganggu orang lain, misalnya memotong pembicaraan atau permainan

Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)

Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) merupakan gangguan perilaku yang ditandai oleh rentang perhatian yang buruk dan tidak sesuai dengan perkembangan atau ciri hiperaktivitas dan impulsif atau keduanya yang tidak sesuai dengan usia (Kaplan dan Sandock, 2007).

ADHD adalah gangguan yang terjadi mulai sejak masa kanak-kanak, biasanya baru terdeteksi saat usia 7 tahun, atau ketika mulai masuk taman bermain (playgroup) dan taman kanak-kanak. ADHD memiliki tiga ciri utama yaitu:

  1. tidak mampu memusatkan perhatian;
  2. kesulitan mengendalikan impuls;
  3. hiperaktivitas.

ETIOLOGI

  1. Faktor genetik.
  2. Faktor biokimia (dopamin, norefineprin, serotonin).
  3. Kerusakan otak.
  4. Faktor prenatal (ibu merokok saat hamil, keracunan, alkohol).
  5. Perinatal (fetal distres, asfiksia).
  6. Postnatal (kejang, CNS abnormalitas).
  7. Zat makanan (pengawet).
  8. Faktor lingkungan dan psikososial (stres, gangguan jiwa pada ibu saat mengandung, kemiskinan, besar di penjara).

TANDA DAN GEJALA

  • Perhatian Kurang (inattention)

    1. Sering gagal dalam memberikan perhatian secara mendetail.
    2. Sering mengalami kesulitan dalam memberikan perhatian pada tugas atau aktivitas bermain.
    3. Sering tampak tidak memperhatikan jika berbicara secara langsung.
    4. Sering tidak mengikuti instruksi dan gagal menyelesaikan tugas.
    5. Sering mengalami kesulitan dalam menyusun tugas.
    6. Sering menolak dan tidak menyukai dalam tugas yang memerlukan usaha mengendalian mental.
    7. Sering kehilangan hal-hal yang diperlukan untuk aktivitas.
    8. Sering mudah dikacaukan dengan stimulus lain.
    9. Sering lupa dalam aktivitas sehari-hari.
  • Hiperaktif (Hyperactive)

    1. Sering gelisah dan duduk tidak tenang.
    2. Sering meninggalkan tempat duduk di ruang kelas.
    3. Sering lari-lari atau memanjat pada keadaan yang tidak semestinya.
    4. Sering mengalami kesulitan dalam aktivitas bermain atau melakukan aktivitas dengan tenang.
    5. Sering bertindak seolah-olah sedang mengemudikan motor.
    6. Sering berbicara secara berlebihan.
  • Impulsif (impulsive)

    1. Sering berkata tanpa berpikir dalam menjawab sebelum pertanyaan selesai.
    2. Sering mengalami kesulitan dalam menunggu giliran.
    3. Sering menyela atau mengganggu orang lain.

Prognosis

  1. Gejala berkelanjutan sampai remaja atau dewasa.
  2. Membaik pada masa pubertas.
  3. Hiperaktivitas hilang tetapi gangguan pemusatan perhatian dan impulsivitas tetap ada.

https://www.youtube.com/watch?v=nMqR-sIG0wA

Menurut Lumbangtobing (2001:69) hiperaktif adalah kata yang digunakan untuk melukiskan perilaku motorik yang berlebihan, yakni batas gerak motor yang berlebihan. Upaya yang dapat dilakukan untuk memberi nilai dan mencatat gerak anak, misalnya dengan sinar foto elektrik atau melalui sejenis pencatat yang dililitkan pada pergelangan tangan yang dapat mencatat jumlah gerakan tangan.

Menurut Handojo (2003:18) hiperaktif adalah perilaku motorik yang berlebihan. Sedangkan menurut Flanagen (2005:1) hiperaktif adalah kesulitan memusatkan perhatian dan mempertahankan fokus pada kebanyakan tugas.

Hiperaktif adalah pola perilaku pada seseorang yang menunjukkan sikap tidak mandiri, tidak menaruh perhatian, dan impulsif

Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa hiperaktif adalah suatu pola perilaku yang menetap pada seorang anak yang menunjukkan sikap tidak mau diam, tidak bisa konsentrasi, tidak terkendali, tidak menaruh perhatian, dan bertindak sekehendak hati atau impulsif.

Karakteristik Anak Hiperaktif


Karakteristik anak hiperaktif memiliki kemampuan dan interaksi sosial yang baik, sering bermain dengan jari tangan, tidak bisa duduk diam pada saat anak lain duduk dengan manis. Semuanya ini bukan karena kemauannya sendiri, tetapi disebabkan oleh dorongan yang tidak diketahuinya. Akibatnya, akan menjadi lelah dan frustasi dengan dirinya sendiri (Handojo, 2003:19).

Anak hiperaktif juga memunyai karakteristik lain yakni seringkali kaki dan tangannya tidak dapat tenang dan berteriak-teriak di tempat duduknya, meninggalkan tempat duduknya sewaktu di dalam kelas atau di tempat-tempat lain yang seharusnya diharapkan untuk tetap duduk di tempat, berlari ke sana kemari atau memanjat-manjat dalam situasi yang tidak sesuai, tidak pernah merasakan asyiknya permainan atau mainan yang disukai oleh anak-anak lain sesuai mereka, seakan-akan tanpa henti mencari sesuatu yang menarik dan mengasyikkan namun kunjung datang, berbicara keras, mengacu pada ketiadaannya pengendalian diri, contohnya dalam mengambil keputusan atau simpulan tanpa memikirkan akibat-akibatnya terkena hukuman atau mengalami kecelakaan.

Menurut Handojo, (2003:20) anak hiperaktif mempunyai karakteristik sering menyela pembicaraan atau merusak pekerjaan orang lain. Akibatnya ia akan dijauhi oleh teman-temannya, keadaan ini dapat menyebabkan anak kehilangan percaya diri dan mengalami depresi. Di bidang akademis, anak hiperaktif sering berprestasi rendah, sekalipun mereka memunyai intelegensi normal bahkan superior. Nilai pelajarannya naik turun. Hal ini terjadi karena rendahnya kemampuan pemusatan perhatian serta perilaku impulsif mereka sehingga menyebabkan kegagalan menyelesaikan tugas.

Menurut Lumbatobing (2001:73) anak hiperaktif tidak mampu memusatkan perhatiannya selama jangka waktu yang cukup lama, misalnya tidak dapat berkonsentrasi selama lebih dari beberapa menit, perhatian mudah teralih, rentang waktu pemusatan perhatian yang singkat, kemampuan menyimak yang rendah, tidak memerhatikan hal yang rinci (detail), sering membuat kesalahan karena tidak hati-hati dengan pekerjaan sekolah atau tugas lain, pekerjaannya sering berantakan, dan dilakukan tergesa-gesa tanpa dipikir dengan baik.

Penyebab Anak Hiperaktif


Beberapa penelitian memastikan penyebab anak hiperaktif antara lain:

  • Keturunan atau faktor genetik, yakni banyak anak yang menderita hiperaktivitas memunyai kerabat dekat yang tampaknya memiliki gejala yang serupa. Kerabat tersebut misalnya, orang tua, paman, bibi, dan saudara dekat lainnya (yang disebut lobus frontalis). 90% dari saudara kembar anak hiperaktif juga menyandang kelainan yang sama.

  • Gangguan pada otak bagian depan (yang disebut lobus frontalis), yakni gangguan di otak bagian depan yang disebut lobus frontalis dan sekitarnya, yang mengontrol proses berpikir dan yang memengaruhi perilaku anak. Diduga terjadi kelainan struktural otak dan kemungkinan juga ada masalah biokimia pada otak mereka. Dengan pemeriksaan PET (positron emission tomography), SPECT (sungle photon emission computed tomography) dan MRI (Magnetic resonance imaging), didapatkan hipometabilisme (rendahnya metabolisme zat-zat kimia) dan hipoperfusi (rendahnya proses penyampaian zat-zat biokimia di otak) pada anterior kiri lobus frontalis dan nucleus caudatus.

  • Berat badan lahir yang kurang, gangguan pernafasan bayi waktu lahir, keracunan dalam rahim dan trauma kepala (Handojo, 2003:21). Menurut Flanagen (2005:3) kelambatan perkembangan sistem pembangkitan di otak adalah kelambatan pembangkitan yang membuat mereka tidak sensitif terhadap rangsangan yang datang. Jadi, hiperaktivitas yang mereka alami mungkin mencerminkan pencarian rangsangan dan bukan karena rangsangan berlebihan. Tidak berfungsinya lobus frontalis adalah area pada otak yang mengumpulkan input auditory dan visual yang berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa lobus ini di bombardir dengan banyak informasi yang tidak tersaring dan tidak sesuai.

Perilaku Hiperaktif


Perilaku (behavior), menurut Handojo (2003:53), merupakan kelakuan seseorang yang dapar dilihat, didengar, atau dirasakan oleh orang lain atau diri sendiri. Timbulnya suatu perilaku selalu (didahului) oleh suatu sebab atau anteccedent . Kemudian suatu perilaku selalu didahului oleh suatu akibat atau konsekuensi. Menurut Haniman, (1999:2) perilaku hiperaktif mempunyai ciri khas muncul pada usia dini, terjadi pada setiap situasi dengan gejala utama dalam gangguan pemusatan perhatian dan overaktivitas dengan variasi luas, ceroboh, impulsif serta cenderung mengalami kecelakaan.

Mereka juga sering mendapat kesulitan terutama karena kecenderungan melanggar aturan-aturan tanpa memikirkan akibat-akibatnya bukan semata-mata merupakan tindakan kesengajaan.

Menurut Handojo, (2003:19) indikator-indikator perilaku anak hiperaktif yang tercantum dalam DSM-IV tahun 1994 terdiri atas tiga gejala utama yaitu:

  • Inantensivitas atau tidak perhatian atau tidak menyimak terdiri atas :

    • gagal menyimak hal yang rinci,
    • kesulitan bertahan pada satu aktivitas,
    • tidak mendengarkan sewaktu diajak bicara,
    • sering tidak mengikuti instruksi kesulitan mengatur jadwal tugas dan kegiatan,
    • sering menghindar dari tugas yang memerlukan perhatian lama,
    • sering kehilangan barang yang dibutuhkan untuk tugas,
    • sering beralih perhatian oleh stimulus dari luar,
    • sering pelupa dalam kegiatan-kegiatan sehari-hari
  • Impulsifitas atau tidak sabar, bisa impulsif motorik dan impulsif verbal atau kognitif terdiri atas :

    • sering mendapat jawaban sebelum pertanyaan selesai,
    • sering mengalami kesulitan menunggu giliran,
    • sering memotong atau menyela pembicaraan orang lain,
    • ceroboh,
    • sering berteriak di kelas,
    • tidak sabaran,
    • suka menganggu anak lain,
    • permintaannya harus segera dipenuhi,
    • mudah frustasi dan putus asa.
  • Hiperaktivitas atau tidak bisa diam, terdiri atas :

    • sering menggerakan kaki atau tangan dan sering menggeliat,
    • sering meninggalkan tempat duduk di kelas,
    • sering berlari dan memanjat,
    • mengalami kesulitan melakukan kegiatan dengan tenang,
    • sering bergerak seolah diatur oleh motor penggerak, dan sering berbicara berlebihan.

Referensi :

  • Lumbangtobing, S.M. 2001. Anak Terbelakang Mental. Jakarta: FKUI
  • Handojo, Y. 2003. Autisme. Jakarta: Bhuana Ilmu Popular.
  • Flanagen, R. 2005. ADHD Kids. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher.
  • Haniman, F. Penatalaksanaan terhadap Anak dengan Hiperaktifitas. Surabaya: Gramedia