Apa yang Dimaksud dengan Aspek Material Kebudayaan?

image

Kebudayaan dalam pengertian yang material dipahami dengan pengertian yang berangkat dari fakta bahwa kehidupan ini sangatlah material, nyata, dan konkret. Kebudayaan memiliki aspek material di dalamnya.

Apa yang dimaksud dengan aspek material kebudayaan?

Seni dan budaya tidak pernah terlepas dari kondisi material masyarakatnya. Corak kesenian dan kebudayaan d ibentuk oleh suatu kondisi sosial. Jadi, seni budaya maupun mentalitas kebudayaan masyarakat terbentuk, dan bukan sebaliknya, oleh syarat-syarat yang ada dalam masyarakat tersebut. Dinamika seni budaya, dengan demikian, tergantung pada dinamika (perubahan) sosio ekonomi masyarakatnya.

Kebudayaan dibentuk oleh praktik dan makna bagi semua orang ketika mereka menjalani hidupnya. Makna dan praktik tersebut muncul dari arena yang tak kita buat sendiri, bahkan meski kita berjuang secara kreatif membangun kehidupan kita. Kebudayaan tak mengambangkan kondisi material kehidupan. Sebaliknya, apa pun tujuan praktik budaya, sarana produksinya tak terbantahkan lagi selalu bersifat materi.186 Jadi, makna kebudayaan y ang hidup harus dieksplorasi di dalam konteks syarat produksi mereka sehingga menjadi bentuk kebudayaan sebagai “keseluruhan hidup”.

Keseluruhan hidup secara material dibentuk oleh kerja manusia disandingkan dengan alat-alat produksi dan sarana produksi yang tersedia dalam kehidupannya. Inilah yang disebut sebagai tenaga/daya/kekuatan produksi (productive force). Produksi, secara sederhana, dapat didefinisikan sebagai usaha menghasilkan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan aktual (nyata). Tenaga produksi (productive force) adalah akumulasi keseluruhan hasil kerja manusia dan semua benda-benda (teknologi) yang digunakan dalam proses produksi itu.

Tenaga produksi bersifat mendorong dan memengaruhi capaian-capaian baru karena ia memudahkan kerja dan merangsang penemuan-penemuan baru dari kemampuannya memandu memudahkan mengenali dan memperlakukan alam. Misalnya, ditemukannya besi dan cara mengolahnya akhirnya akan meradikalisasi perubahan yang signifi kan dalam peradaban umat manusia. Alat-alat baru ditemukan dan peralatan-peralatan inilah yang pada akhirnya menjadi basis datangnya zaman industrialisasi.

Dari bukti itu, hukum sejarah yang tak dapat disangkal adalah bahwa tenaga produktif selalu berkembang—kekuatan produksi baru pun selalu muncul dalam tiap fase sejarah tertentu. Misalnya, teknologi sebagai alat dan tenaga produksi ditemukan dalam perjalanan sejarah manusia. Buruh (wage labour) baru muncul dalam hubungan produksi kapitalis. Modal juga demikian, baru muncul dan berkembang dalam corak produksi kapitalis.

Sementara, hubungan produksi adalah hubungan antara kerja (buruh), modal, alat-alat, dan sarana produksi yang menjadi basis berjalannya proses produksi (ekonomi). Tenaga produksi dapat maju pesat dan akan menjadikan masyarakat maju sekali pada saat terjadi kesesuaian antara tenaga produksi dan hubungan-hubungan di antara kekuatan material yang ada tersebut. Dalam kaitannya dengan masalah kebudayaan, akan terjadi tingkat kebudayaan yang maju ketika semua masyarakat yang hidup mampu menghasilkan kekayaan material dan memenuhinya secara merata. Akan tetapi, kebudayaan akan mundur ketika capaian material yang ada tidak mampu memenuhi tuntutan material kebanyakan orang.

Tenaga produktif (terutama ilmu pengetahuan dan teknologi) menjadi terhambat ketika hubungan produksinya tidak setara. Ketidaksetaraan hubungan produksi terjadi ketika terjadi monopoli terhadap alat-alat produksi oleh segelintir elite (penguasa). Jadi, dalam kondisi ini, hubungan produksi cenderung mengonservatifkan diri—karena kelas dominan sebagai penguasa alat produksi ingin melanggengkan kekuasaannya penindasannya: kelas kapitalis punya kepentingan untuk mengisap tenaga buruh demi kepentingannya. Maka, ia akan mempertahankan kapitalisme—kapitalisme sebagai hubungan produksi antara modal, kerja (buruh), mesin, sarana, dan sasaran produksi lainnya. Kelas tuan tanah (bangsawan, pendeta, raja) punya kepentingan untuk mengisap tenaga tani hamba dan rakyat jelata, maka ia melanggengkan hubungan produksi feodal.

Hubungan produksi dipertahankan dengan berbagai cara, terutama melalui pelembagaan kebudayaan sebagai ekspresi dari kelas yang menguasai alat-alat produksi. Jadi, dari sini dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah wilayah yang terbentuk oleh basis sejarah masyarakat yang secara konkret berada pada wilayah hubungan produksi. Lebih tegas lagi, kebudayaan adalah bagian keseluruhan kehidupan yang tenaga penggeraknya adalah dinamika tenaga produktif. Generalisasi yang dibuat Marx (1818—1883) dan Engels (1820—1895) ini merupakan generalisasi yang benar-benar dahsyat, yang tanpanya mustahil bagi kita untuk memahami pergerakan kesejarahan umat manusia secara umum.

Marxisme, yang bersandar pada fi lsafat materialisme historis, adalah suatu cara pandang yang mencoba mengaitkan produksi dan reproduksi kebudayaan d engan organisasi kondisi kehidupan materi. Jadi, kebudayaan merupakan suatu kekuatan corporeal (jasmaniah) yang terikat pada produksi sejumlah kekuatan material eksistensi yang ditata secara sosial yang ada di bawah sejumlah kondisi sejarah yang pasti. Gagasan bahwa kebudayaan ditentukan oleh produksi dan organisasi eksistensi material telah digariskan oleh marxisme melalui metafora basis dan suprastruktur, sebagaimana dituliskan Karl Marx:

“Dalam produksi sosial yang dijalankan manusia, mereka masuk ke dalam hubungan yang vital dan bebas dari niat mereka; hubungan-hubungan produksi ini terkait dengan suatu tahapan pasti perkembangan kekuatan produksi material mereka. Totalitas relasi produksi ini membangun struktur ekonomi masyarakat—landasan sejati, di mana supastruktur politis dan legal muncul dan menjadi pengait berbagai bentuk kesadaran sosial. Cara produksi kehidupan materi menentukan karakter umum proses sosial, politik dan spiritual kehidupan. Bukan kesadaran manusia yang menentukan kondisi mereka, melainkan kondisi sosiallah yang menentukan kesadaran mereka.”

Walaupun demikian, bukan berarti bahwa Marx mereduksi segalanya menjadi persoalan ekonomis—seperti yang coba ditunjukkan oleh para penentang marxisme yang tidak jujur dan naif. Materialisme yang dialektis dan historis memperhitungkan sepenuhnya gejala-gejala, seperti agama, seni, ilmu pengetahuan, moralitas, hukum, politik, tradisi, karakter nasional, dan berbagai perwujudan kesadaran manusia. Namun, bukan hanya itu. Marxisme juga menunjukkan hakikat gejala-gejala itu dan bagaimana mereka terhubung dengan perkembangan nyata dari masyarakat, yang pada ujung analisisnya jelas tergantung pada kemampuannya untuk mereproduksi dan mengembangkan kondisi material untuk mempertahankan keberadaannya.

Kebudayaan masyarakat dikatakan maju jika tenaga produktifnya berkembang, misalnya dengan ciri masyarakat tempat ilmu pengetahuan dan teknologi maju, yang memudahkan kehidupannya dan memenuhi aktualisasi dirinya yang disebabkan oleh syarat-syarat material yang ada. Kita akan mengatakan kebudayaan masyarakat terbelakang ketika ilmu pengetahuan dan teknologinya tak berkembang, tidak muncul syarat-syarat material yang memenuhi tuntutan manusiawinya. Kebudayaan yang diidealkan, di mana pun dan kapan pun, adalah kebudayaan yang sesuai dengan tuntutan manusiawi.

Sederhananya, jika manusia telah mampu memenuhi tuntutan alamiahnya sebagai makhluk—terutama yang membutuhkan pemuasan fisiologis (makan, minum, seks, dan kenyamanan fi sik seperti tempat tinggal pakaian), psikologis (nyaman bagi perkembangan jiwa), dan kognitif dan intelektual (informasi, pengetahuan, serta cara pandang), estetis (keindahan/seni)—dapat dikatakan kebudayaan manusia tersebut ideal (maju). Akan tetapi, ketika fakta membuktikan bahwa kebutuhan yang bersifat apa pun (dari yang fi siologis, psikologis—eksistensial, hingga yang kognitif hingga estetis) selalu harus terpenuhi dari relasi ekonomi (produksi, konsumsi, dan distribusi), tesis materialisme-dialektika-historis Marx adalah sahih dan tak terbantahkan.

Bertentangan dengan kebudayaan yang maju, dengan demikian kebudayaan yang terbelakang adalah kebudayaan sebagai bagian dari masyarakat yang tenaga produktifnya rendah—yang ilmu pengetahuan dan teknologinya tak berkembang sehingga masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan materialnya dan, dengan demikian, tak mampu memenuhi aktualisasi dirinya dalam bidang estetis, daya ciptanya rendah dan daya konsumsinya juga demikian. Minimnya pengetahuan membuat manusia di dalamnya bodoh, cara berpikirnya tidak rasional, bahkan ekspresi budaya dalam makna estetisnya juga kurang berkembang. Saat ribuan tahun lalu capaian ilmu pengetahuan dan teknologi manusia rendah, manusia hidup di gua-gua, dan makanan kadang terbatas, mereka melukiskan simbol-simbol dan menyanyikan lagu-lagu yang mencerminkan kebiasaannya menghadapi alam, cara berpikir, dan membangun relasinya juga “aneh”. Berbeda dengan masyarakat modern, tentu juga berbeda. Ilmu pengetahuan dan teknologi membantu manusia mengatasi hambatan-hambatan alam.