Apa yang dimaksud dengan apresiasi sastra?

Kata “apresiasi” berasal dari bahasa Inggris “appreciation” yang berarti kemampuan mengungkapkan perasaan. Apresiasi sastra mempunyai arti bagaimana perasaan itu muncul dan bagaimana perasaan itu berkembang dalam pengungkapan bentuk karya sastra mendramatisasikan, serta radisional/ sastra. Bagaimana perasaan senang, tergugah, terharu itu muncul ketika menyaksikan ada orang membacakan puisi, mendeklamasikan, serta menghayatinya dan kemudian melakukan sebuah kegiatan beserta, baik menulis atau menciptakan karya puisi baru atau menyalin, menterjemahkan isinya, kemudian ingin mengunjungi acara-acara beserta lainnya.

Sampai sekarang pengertian apresiasi sastra masih sering kacau dan rumpang (overlapping) dengan pengertian kritik sastra dan pengkajian sastra. Namun demikian, para pakar sastra belum juga memberikan batas-batas perbedaan pengertian antara apresiasi sastra, kritik sastra, dan pengkajian sastra secara jelas dan tegas sehingga kekacauan, kerumpangan, dan atau kekaburan pengertian terus berlangsung hingga saat ini.

Pengertian apresiasi sastra yang ada hingga sekarang sangat beraneka ragam. Keanekaragaman ini disebabkan oleh beberapa hal (Saryono, 2009). Pertama, apresiasi sastra memang merupakan fenomena yang unik dan rumit. Kedua, terjadinya perubahan dan perkembangan pemikiran tentang apresiasi sastra. Dari waktu ke waktu dan orang satu ke orang lain pemikiran tentang apresiasi sastra selalu berubah dan berkembang sehingga tak pernah ada satu pengertian apresiasi sastra yang berwibawa dan diikuti oleh banyak kalangan. Ketiga, adanya perbedaan penyikapan dan pendekatan terhadap hakikat apresiasi sastra. Hal ini mengakibatkan munculnya beraneka ragam pengertian apresiasi sastra. Keempat, adanya perbedaan kepentingan di antara orang yang satu dan orang yang lain. Hal ini menyebabkan mereka merumuskan pengertian apresiasi sastra menurut kepentingan masing-masing tanpa menghiraukan dan mengindahkan hakikat apresiasi sastra secara utuh dan lengkap.

Menurut Hornby (dalam Sayuti, 2000), secara leksikal istilah apresiasi (appreciation) mengacu pada pengertian pemahaman dan pengenalan yang tepat, pertimbangan, penilaian, dan pernyataan, yang memberikan penilaian. Istilah apresiasi dapat dimaknai dengan pernyataan seseorang yang secara sadar merasa tertarik dan senang kepada sesuatu, serta mampu menghargai dan memandang hal yang dipilihnya itu mengandung nilai-nilai yang bermanfaat dalam kehidupannya.

Sayuti (2000) menyatakan bahwa apabila sastra dipandang sebagai penjelmaan pengalaman sastrawan ke dalam medium bahasa sehingga membentuk struktur yang rumit, apresiasi sastra dapat diartikan sebagai kegiatan mengenali, memahami, dan menikmati pengalaman dan bahasa yang menjadi jelmaan pengalaman tersebut, serta hubungan antara keduanya dalam stuktur keseluruhan yang terbentuk. Oemarjati (2005) menjelaskan, bahwa apresiasi berarti merespon dengan kemampuan afektif, memahami nilai-nilai, sekaligus berupaya memetakan pola dan tata nilai yang diperoleh dari karya sastra yang diapresiasi ke dalam proporsi yang sesuai dengan konteks persoalannya.

Menurut Panuti Sudjiman (1988) apresiasi sastra yaitu penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan atas pemahaman. Apresiasi sastra adalah penghargaan dan pemahaman atas suatu hasil seni atau budaya (Suparman Natawidaja, 1981). Adapun menurut Tarigan (1984), apresiasi sastra adalah penaksiran kualitas karya sastra serta pemberian nilai yang wajar kepadanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang sadar dan kritis.

Sejalan dengan itu, Effendi (1973) menyatakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan menggauli cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga timbul pengertian, penghargaan, kepekaan pikiran kritis dan kepekaan perasaan yang baik terhadap cipta sastra. Lebih lanjut Panuti Sudjiman (1988) berpendapat bahwa apresiasi sastra adalah penghargaan (terhadap karya sastra) yang didasarkan atas pemahaman. Menurut Zakaria (1981), apresiasi sastra ialah kegiatan memahami cipta sastra dengan sungguh-sungguh hingga menimbulkan pengertian dan penghargaan yang baik terhadapnya.

Berdasarkan berbagai pendapat para pakar sastra di atas, dapat dinyatakan bahwa apresiasi sastra adalah kegiatan membaca karya sastra disertai dengan penghayatan yang sungguh-sungguh hingga menimbulkan penghargaan yang baik terhadapnya dan menimbulkan pemahaman terhadap nilai-nilai berupa pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya. Termasuk dalam hal ini adalah kepekaan perasaan dan kepedulian akan nilai-nilai kehidupan terutama kemanusiaan sehingga memiliki bukan saja simpati melainkan empati dan toleransi terhadap sesama manusia.

Dengan demikian, kegiatan apresiasi sastra bukan sekedar aktivitas membaca, menikmati, menghayati, menggemari, dan meng- hargai karya sastra. Tahap akhir yang sangat penting dalam sebuah aktivitas apresiasi sastra adalah pemahaman karya sastra sehingga nilai-nilai atau pesan-pesan moral karya sastra yang diapresiasinya dapat dihayati dan ditangkap oleh pembaca. Pemahaman terhadap nilai-nilai atau pesan-pesan moral dalam karya sastra itulah yang membawa pembaca pada penikmatan, penghayatan, dan penghargaan atas karya sastra.

Pada gilirannya akan timbul pada diri pembaca rasa senang bahkan cinta terhadap karya sastra. Oleh karena itu, pendek kata apresiasi sastra merupakan kegiatan untuk membuat pembaca atau penikmat sastra menjadi ”jatuh cinta” kepada karya sastra. ”Cinta terhadap sastra” itu akan mendorong pembaca sastra mau ”bersusah- payah” untuk membaca berbagai karya sastra karena baginya kegiatan membaca sastra merupakan kegiatan ”bercinta dengan sastra” yang mendatangkan perasaan bahagia. Dengan mengapresiasi sastra dia akan menemukan berbagai nilai kehidupan yang bermanfaat untuk memperkaya khasanah batinnya yang tidak ditemukannya dalam karya lain.

Nilai-nilai kehidupan atau pesan-pesan moral karya sastra, tepatnya gagasan-gagasan yang disampaikan oleh sastrawan dalam karya sastra beraneka ragam. Nilai-nilai atau pesan-pesan moral itu bersifat universal meliputi antara lain gagasan yang berkaitan dengan fenomena dan masalah kemanusiaan, budaya, tradisi, sosial, politik, ekonomi, kejiwaan (psikologis), keagamaan (termasuk religiusitas dan sufistik), ideologis, filsafat, dan gender atau keperempuanan. Bahkan, nilai-nilai kearifan lokal (local genius) budaya Nusantara yang memperkaya kebudayaan nasional dan tidak kalah pentingnya dengan kebudayaan global, sering terdapat dalam karya sastra.

Pemahaman terhadap berbagai nilai dan gagasan dalam karya sastra itu akan memperkaya khasanah batin pembaca, memperluas wawasan dan pemikiran pembaca. Kegiatan apresiasi sastra yang berujung pada pemahaman nilai-nilai karya sastra setelah mengalami proses penikmatan, penghayatan, pengindahan, dan penghargaan, itulah agaknya yang dimaksud dengan didactic heresy, menghibur sekaligus mengajarkan sesuatu menurut Edgar Allan Poe atau dulce & utile, menghibur & berguna dalam pandangan Horace.

Tidak berlebihan kiranya jika dikatakan bahwa kegiatan apresiasi sastra yang berpuncak pada pemahaman nilai-nilai atau pesan-pesan moral tersebut memberikan kontribusi penting bagi pembangunan bangsa terutama dalam hal ini adalah pembangunan moral dan kepribadian bangsa (moral engineering and nation building).

Menurut Bloom (1970), apresiasi berkaitan dengan perasaan, feeling, nada, emosi, serta variasi penerimaan dan penolakan terhadap sesuatu. Sementara itu menurut Gagne (1979), apresiasi berkaitan dengan nilai-nilai toleransi, sikap mencintai, dan rasa tanggung jawab dari seseorang terhadap sesuatu. Berkaitan dengan masalah apresiasi, Bloom (1970), menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan kegiatan apresiasi itu meliputi hal-hal sebagai berikut.

  • Pemberian perhatian yang terkontrol
  • Persetujuan untuk memberikan respons
  • Keputusan untuk memberikan respons
  • Kemauan untuk memberikan respons
  • Menerima nilai
  • Memilih nilai

Langkah-langkah Apresiasi Sastra


Adapun langkah-langkah atau proses dalam apresiasi karya sastra menurut Efendi dkk. (1997) meliputi: pengenalan, pema- haman, penghayatan, dan setelah itu penerapan. Berikut akan dideskripsikan satu persatu langkah-langkah dalam apresiasi sastra tersebut.

  1. Pengenalan
    Tahap pertama apresiasi sastra adalah pengenalan. Pada tahap ini siswa diajak untuk mulai menemukan ciri-ciri umum yang lazim terdapat dalam karya sastra. Misalnya mengenai judul, pengarang, atau genre karya secara umum.

  2. Pemahaman
    Pemahaman dapat dicapai secara mudah oleh siswa tertentu namun dapat juga agak sulit bagi siswa yang lain. Bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam proses pemahaman karya sastra, perlu ditempuh upaya-upaya untuk mencapainya dengan bimbingan guru.

  3. Penghayatan
    Penghayatan dapat dilihat dari indikator yang dialami siswa. Umpamanya, pada saat membaca -dapatnya berulang-ulang-, siswa dapat merasakan sedih, gembira, simpati, empati, atau apa saja karena rangsangan bacaan tersebut, seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan sesuatu seperti dialami oleh para tokoh cerita, misalnya.

  4. Penikmatan
    Pada tahap ini diharapkan siswa telah mampu merasakan secara lebih mendalam berbagai keindahan yang ditemui dalam karya sastra. Perasaan tersebut akan membantu menemukan berbagai nilai, baik yang bersifat literer imajinatif maupun nilai yang langsung berhubungan dengan kehidupan. Kenikmatan yang lahir dalam mengapresiasi sastra terlihat pada siswa dalam kemampuannya merasakan pengalaman pengarang yang tertuang dalam karyanya. Hal itu kemudian dapat menimbulkan rasa nikmat pada pembaca, yang hanya dapat ditemukan dalam karya sastra.

  5. Penerapan
    Penerapan merupakan wujud perubahan sikap pada pembaca yang timbul sebagai hasil adanya penemuan nilai-nilai atau pesan moral. Pada tahap ini diharapkan siswa yang merasakan keindahan dan kenikmatan dalam membaca karya sastra, memanfaatkan nilai-nilai dan pesan moral tersebut dalam wujud nyata berupa perubahan sikap dalam romantika dan dinamika kehidupan.

Agak berbeda dengan pendapat Effendi di atas, langkah-langkah dalam kegiatan apresiasi sastra menurut Sayuti (2000), adalah sebagai berikut.

  1. Interpretasi atau penafsiran
    Penafsiran merupakan suatu upaya untuk memahami karya sastra dengan memberikan tafsiran makna berdasarkan sifat karya sastra itu

  2. Analisis
    Analisis merupakan usaha untuk melakukan penguraian terhadap karya sastra atas unsur-unsur, bagian-bagian atau norma-normanya

  3. Penilaian
    Penilaian merupakan langkah untuk menentukan kadar keberhasilan atau keindahan karya sastra yang diapresiasinya.

Melalui lima langkah kegiatan apresiasi sastra yang dilakukan secara sungguh-sungguh (Effendi dkk., 1997), diharapkan akan timbul perasaan senang, gembira, menghargai, bahkan cinta terhadap karya sastra dalam diri pembaca sebagai pembaca karya sastra. Dengan demikian pembaca yang sudah memiliki tingkat apresiasi sastra yang tinggi secara otomatis akan memiliki motivasi yang tinggi untuk membaca dan menikmati karya sastra dan mendorong adanya inisiatif untuk memahami dan menghayati karya-karya sastra. Hal itu terjadi karena siswa merasa akan memperoleh manfaat yang besar dan penting bagi kehidupannya dengan membaca sastra terutama dalam memperkaya khasanah batinnya.

Apresiasi sastra merupakan kegiatan internalisasi sastra, dimana kritik sastra dan apresiasi sastra merupakan kegiatan rasionalisasi sastra.

Dalam internalisasi sastra, jarak harus dileburkan dan jurang harus ditimbun antara manusia dan karya sastra, sementara dalam rasionalisasi sastra, jarak justru harus diciptakan-direntangkan dan jurang mesti digali antara manusia-pengritik dan karya sastra.

Hal ini berarti bahwa kegiatan apresiasi sastra lebih merupakan suatu seni (kiat), sedang kritik sastra dan pengkajian sastra lebih merupakan kegiatan keilmuan.

Sebagai suatu seni (kiat), apresiasi sastra menekankan perilaku pengindahan, penikmatan, pemahaman, dan penghargaan sastra. Kritik sastra menekankan perilaku pencarian, penilaian, dan penghakiman kebenaran nilai-nilai atau segala sesuatu yang ada dalam sastra. Pengkajian sastra menekankan perilaku pengamatan (observasi), pemerian (deskripsi), dan penjelasan (eksplanasi) segala sesuatu yang ada dalam sastra. Hal ini mengimplikasikan, dalam apresiasi sastra berlangsung penerimaan sepenuhnya karya sastra, sedangkan dalam kritik sastra dan pengkajian sastra berlangsung pencurigaan atau penyangsian karya sastra.

Dengan demikian, apresiasi sastra lebih meminta keakraban antara pembaca dan karya sastra, sedang kritik sastra dan pengkajian sastra justru meminta keformalan antara pengritik dan peneliti dengan karya sastra. Hal ini dapat diibaratkan bahwa dalam apresiasi sastra, hubungan antara apresiator dengan karya sastra merupakan hubungan dua kekasih (bukan orang lain); sementara dalam kritik sastra dan pengkajian sastra, hubungan kritikus dan peneliti dengan karya sastra merupakan hubungan orang lain.

Agar bidang garap apresiasi sastra, kritik sastra, dan pengkajian sastra yang dikemukakan di atas lebih jelas, saya akan mengilustrasikan dalam sebuah contoh.

”Balada Terbunuhnya Atmo Karpo”
Karya W.S. Rendra

Dengan kuku-kuku besi kuda menebah perut bumi bulan berkhianat gosok-gosokan tubuhnya di pucuk-pucuk para mengepit kuat-kuat lutut punggung perampok yang diburu surai bau keringat basah, jenawi pun telanjang Segenap warga desa mengepung hutan itu dalam satu pusaran pulang-balik Atmo Karpo mengutuki bulan betina dan nasibnya yang malang berpancaran bunga api, anak panah di bahu kiri

Satu demi satu yang maju tersadap darahnya Penunggang baja dan kuda mengangkat kaki muda
-Nyawamu barang pasar, hai orang-orang bebal!
Tombakmu pucuk daun dan matiku jauh orang papa
Majulah Joko Pandan! Di mana ia?
Majulah ia karena padanya seorang kukandung dosa

Anak panah empat arah dan musuh tiga silang
Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang

-Joko Pandan! Di mana ia?
Hanya padanya seorang kukandung dosa
Bedah perutnya tapi masih setan ia
menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala
-Joko Pandan! Di mana ia?
Hanya padanya seorang kukandung dosa

Berberita ringkik kuda muncullah Joko Pandan
Segala menyibak bagi derapnya kuda hitam
ridla dada bagi derunya dendam yang tiba

Pada langkah pertama keduanya sama baja
pada langkah ketiga rubuhlah Atmo Karpo
panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak
angsoka Malam bagai kedok hutan bopeng oleh luka

Pesta bulan, sorak sorai, anggur darah
Joko Pandan menegak, menjilat darah di pedang
Ia telah membunuh bapanya.

Jika kita melakukan apresiasi sastra terhadap puisi di atas, maka dengan penuh keakraban tanpa jarak kita menginternalisasinya (membatinkannya) dengan cara mengindahkannya, menikmatinya, memahaminya, kemudian menghargainya. Sesudah itu, kita men- ceritakannya atau melisankannya atau menuturkannya kepada diri sendiri atau orang lain.

Contoh menceritakannya, misalnya demikian: “Seorang perampok perkasa bernama Atmo Karpo, suatu ketika ia mendatangi desa. Kali ini bukan untuk merampok, melainkan didorong oleh kesia- siaan hidup yang dirasakannya sangat pahit dan oleh perasaan berdosa kepada anaknya sendiri, Joko Pandan. Ia datang untuk menantang anaknya … (dan seterusnya). Dapat juga cara menceritakannya demikian: Puisi tersebut bercerita tentang dunia Atmo Karpo, dunia kekerasan yang mesti dijalaninya. Dunia kekerasan penuh permusuhan baik dengan orang-orang kampung maupun dengan orang dekat, bahkan anak kandungnya sendiri. Atmo Karpo memasuki dunia kekerasan itu dengan perkasa meskipun akhirnya binasa juga, justru di tangan anaknya. Akhir kehidupan di dunia kekerasan itu …” (dan seterusnya). Dapat juga wujud kegiatan apresiasi sastranya melisankan puisi tersebut secara ekspresif di muka umum/banyak orang.

Sebaliknya, jika kita melakukan kritik sastra terhadap puisi “Balada Terbunuhnya Atmo Karpo” tersebut di atas, maka dengan penuh “kecurigaan dan keraguan” -ada kesangsian metodis yang direntangi oleh jarak, kita merasionalisasinya dengan cara menyelidikinya, menilainya, dan mungkin menghakiminya secara mendasar. Ini semua kita kerjakan lazimnya dipandu oleh teori kritik tertentu, dapat formalisme, strukturalisme, pragmatisme, semiotika, historisisme baru atau lainnya.

Andaikata puisi tersebut dilakukan kritik dengan teori tekstual, maka kita dapat berbicara tentang susunan tematisnya dan pengembangan tema, waktu, ruang, pola-pola makna, verifikasi, dan sebagainya. Kita dapat menyatakan bahwa subjek lirik puisi tersebut implisit dan dengan demikian juga pendengar. Pengembangan tema puisi tersebut dilakukan dengan sederetan momen perbuatan sebagaimana tampak pada larik-lariknya. Pengembangan tema sekaligus penggambaran tema yang terlihat pada deretan larik tersebut termasuk memikat dan bagus karena kohesif dan koheren serta mampu menciptakan suatu dunia utuh. Demikianlah, kritik sastra bekerja di wilayah yang lebih objektif, teknis, dan juridis (judgement).

Pengkajian sastra bekerja di wilayah yang lebih teoretis, objektif, dan teknis lagi. Ia berusaha menjelaskan puisi tersebut, bukan mengkomunikasikannya. Ia bekerja di wilayah yang harus jelas teori dan metodologinya: teori apa yang digunakan (struktural, semiotika, sosiologis, antropologis, psikologis, feminis, dan sebagainya) dan metodologi apa yang dipakai (kuantitatif atau kualitatif), dan metode berpikir apa yang digunakan (deduktif atau induktif), dan sebagainya).

Andaikata kita mengkaji puisi “Balada Terbunuhnya Atmo Karpo” tersebut, misalnya mengkaji majasnya (teori stilistika), kita dapat berbicara tentang metafora, simile, personifikasi, hiperbola, dan sebagainya. Kita dapat mengulas personifikasi dalam larik ‘bulan berkhianat gosok-gosokkan tubuhnya di pucuk-pucuk para’ atau metafora dalam larik ‘panas luka-luka, terbuka daging kelopak-kelopak angsoka’. Secara stilistik, kita dapat juga menyelidiki gaya bahasa (style) khususnya citraan (imagery) yang terkandung dalam larik ‘Anak panah empat arah dan musuh tiga silang/Atmo Karpo masih tegak, luka tujuh liang’ atau larik ‘Bedah perutnya tapi masih setan ia/menggertak kuda, di tiap ayun menungging kepala’. Sesudah kita jabarkan majas dan citraannya, kita dapat menjelaskan bagaimana pemakaian majas dan citraan dalam puisi tersebut: apakah majas dan citraan dalam puisi tersebut mampu membangun sebuah gambaran kuat, dan apakah gaya puisi tersebut memiliki koherensi dan kohesi yang kuat, dan seterusnya.

Dari contoh langkah-langkah apresiasi sastra, kritik sastra, dan pengkajian sastra tersebut di atas makin jelaslah wilayah garap masing- masing; paling tidak wilayah garap apresiasi sastra. Dari uraian tersebut di atas kita dapat menyimpulkan bahwa yang digarap oleh apresiasi sastra, kritik sastra, dan pengkajian sastra adalah sastra; ketiganya sama-sama menggarap sastra. Namun, ketiganya menggarap sastra secara berbeda-beda. Apresiasi sastra lebih merupakan internalisasi, subjektif, komunikatif, dan tak dapat selalu dipandu oleh teori tertentu, sedangkan kritik sastra dan pengkajian sastra lebih merupakan rasionalisasi, objektif, dan dipandu oleh teori tertentu serta evaluatif. Dengan demikian, jelaslah bidang garap apresiasi sastra, yaitu bidang garap yang menuntut internalisasi, subjektivitas yang jujur dan luhur serta mulia, dan individual bergantung pada apresiator.

Dalam apresiasi sastra terjadi interaksi antara manusia dan sastra. Terjadinya interaksi ini berarti adanya perjumpaan antara manusia-pengapresiasi dan sastra-yang-diapresiasi. Adanya perjumpaan memungkinkan berlangsungnya percakapan dan keakraban antara manusia-apresiator dan sastra-yang diapresiasi. Oleh karena itulah apresiasi sastra dapat dikatakan sebagai dunia-perjumpaan antara dunia-manusia dan dunia-kewacanaan. Selanjutnya, hal ini memungkinkan dibangunnya dunia-perjumpaan dan dunia- percakapan.

Sejalan dengan itu, pada kehadirannya sendiri (by self), apresiasi sastra sesungguhnya mempunyai satu tujuan saja, yaitu membangun dunia-perjumpaan yang memungkinkan adanya dunia-percakapan dan dunia-keakraban sehingga terselenggara percakapan-percakapan dan keakraban manusia-apresiator dengan sastra-yang diapresiasi. Di dalam perjumpaan dan percakapan inilah dunia-kewacanaan sastra menawar-kan, menyuguhkan, dan menghidangkan sesuatu kepada manusia-apresiator. Sebaliknya, pembaca/apresiator boleh dan dapat mene-rima, mencicipi, dan memperoleh sesuatu itu. Sesuatu yang dimaksud di sini setidak-tidaknya dapat dipilah menjadi empat macam, yaitu:

  • Pengalaman
  • Pengetahuan
  • Kesadaran
  • Hiburan

Pada pengkajian sastra tujuannya adalah membongkar struktur karya sastra yang terdiri atas unsur-unsur yang membangun karya sastra dalam keterjalinannya satu dengan lainnya dan mengungkapkan makna sastra berupa gagasan-gagasan yang terkandung di dalamnya.

Dalam pengkajian sastra semua deskripsi tentu harus didasarkan pada teori dan interpretasi sastra secara metodologis. Dengan demikian dalam proses pengkajian sastra, paradigma ilmiah dan koridor akademik harus dikedepankan. Meskipuin interpretasi sastra itu subjektif, pengkajian/analisisnya harus didasarkan pada objektivitas data teks dan dilandasi oleh teori dan argumentasi ilmiah.