© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan analisis Six Thinking Hats?

Seorang pengambil keputusan yang sukses, cenderung berpikir rasional dan selalu memiliki sudut pandang yang positif terhadap pemasalahan yang dihadapi dan keputusan yang diambilnya. Six Thinking Hat adalah topi imajiner dimana setiap topi merepresentasikan satu sudut pandang, kenakan satu topi berpikir satu per satu untuk berpindah dari sudut pandang yang satu ke sudut pandang lainnya.

Six Thinking Hats bekerja berdasarkan prinsip parallel thinking process. Yaitu proses berpikir yang menempatkan setiap sudut pandang atau pendapat seseorang, paralel (sejajar) dengan sudut pandang atau pendapat yang lainnya. Parallel thinking adalah sebuah alternatif untuk menghindari adu argumentasi yang tidak efektif, dimana argumentasi selama ini menjadi prosedur berpikir paling mendasar. Ini juga merupakan perbedaan konsep berpikir Barat dan Timur (Jepang).

Adapun teknik Six Thingking Hats. Keenam Topi Berpikir itu adalah antara lain :

  1. Topi Putih
    Putih adalah netral dan objektif, kita dapat menggambarkan dengan kertas putih kosong. Mengenakan topi warna putih artinya mengumpulkan informasi yang diperlukan sebanyak-banyaknya. Informasi berupa fakta dan data yang bersifat netral dan objektif. Semakin banyak informasi yang dikumpulkan, maka peta persoalan akan menjadi semain jelas dengan sendirinya.

  2. Topi Merah
    Warna merah melambangkan emosi dan perasaan. Mengenakan topi merah memiliki arti bahwa kita diajak memandang persoalan dari sudut pandang emosi dan perasaan baik yang positif maupun yang negatif tanpa menggunakan alasan atau logika apapun. Emosi juga menyangkut tipe perasaan yang lebih kompleks dan tinggi, yaitu dengan menggunakan naluri dan intuisi. Naluri dan intuisi sering memberi arah akan hal yang tidak bisa dibeberkan dengan fakta dan informasi.

  3. Topi Hitam
    Topi hitam adalah lambang peringatan. Mengenakan topi hitam, kita diajak untuk menjadi sangat berhati – hati. Menganalisa semua sisi negatif dari suatu persoalan, mencari semua faktor risiko, bahaya, kesulitan, dan kelemahan suatu ide serta mempertanyakan berbagai kemungkinan negatif. Topi hitam juga mengajak untuk selalu berada di jalan yang benar dan menguntungkan, tidak melanggar undang-undang, tidak melakukan hal bodoh dan tindakan ilegal. Topi hitam mengajak untuk selalu bersikap logis. Topi hitam memberi arah dan peran sangat penting, tapi jika berlebihan bisa sangat mengganggu juga.

  4. Topi Kuning
    Kuning melambangkan cahaya dan optimism dan aura positif. Berlawanan dengan topi hitam, di bawah topi kuning kita diarahkan untuk hanya berpikir hal yang positif. Topi kuning fokus pada hal-hal positif menguntungkan dan berupa harapan. Topi kuning juga digunakan untuk berpikir konstruktif dan generatif, membuat segalanya bisa dilaksanakan. Topi kuning juga bersifat spekulatif, mencari segala kemungkinan untuk menerjemahkan visi, impian dan harapan. Topi kuning mempunyai spektrum positif yang cukup lebar, terentang dari sisi logis dan praktis pada satu sisi dan impian, visi, misi serta harapan di sisi yang lain.

  5. Topi Hijau
    Topi hijau melambangkan energi, pertumbuhan, produktivitas. Di bawah topi hijau kita menumbuhkan kreativitas, mencari ide baru dan berbagai alternatif. Di bawah topi hijau kita mengcounter kesulitan yang terdeteksi pada topi hitam. Tinggalkan ide lama dan beralihlah kepada hal-hal dan perspektif baru. Topi hijau adalah perubahan.

  6. Topi Biru
    Biru adalah warna angkasa, biru adalah sesuatu di atas segalanya. Topi biru adalah kontrol. Topi biru digunakan untuk mengontrol proses berpikir dan penggunaan topi-topi berpikir lainnya. Biasanya digunakan oleh yang ditunjuk sebagai fasilitator atau pimpinan pada awal pertemuanuntuk memberi arahan tentang situasi yang dihadapi, arah mana yang dituju, serta tujuan dan capaian yang dikehendaki. Pada akhir pertemuan, topi biru juga biasanya meminta hasil pertemuan yang bisa berupa kesimpulan, keputusan, summary, solusi atau apapun. Di bawah topi biru juga ditentukan rencana atau langkah selanjutnya.

Fungsi utama teknik ini adalah membuat kita mampu berpikir lurus dan objektif. Mencapai hasil yang maksimal dalam mengerjakan sesuatu dengan menangkap pola pikir dari berbagai sudut. Misalnya ketika kita menghasilkan sebuah karya, kita merasa karya itu tidak ada cacatnya sehingga butuh orang lain untuk menilai hal itu dengan objektif, tetapi dengan menguasai teknik ini walaupun tanpa bantuan orang lain, kita dapat melihat karya itu secara objektif.

Referensi

  1. Six Thinking Hats . By Edward de Bono. Published by Back Bay Books. Revised and updated edition, 1999. Paperback. 173 pages. ISBN 0-316-17831-4 (pb). First published in hardcover by Little, Brown and Company, 1985.
  2. E. De Bono, Six Thinking Hats (New York: Little Brown Company, 1999).
  3. E. De Bono, Six Thinking Hats (Lancaster: The de Bono Group, 2011).
1 Like

Metode Enam Topi Berpikir (Six Thinking Hats) merupakan suatu metode berpikir yang diciptakan oleh Dr. Edward De Bono. Edward De Bono merupakan seorang pakar dalam mengajarkan keterampilan berpikir. Enam Topi Berpikir (Six Thinking Hats) adalah metode untuk mengerjakan satu jenis kegiatan berpikir pada satu saat. Metode ini merupakan alat untuk mengarahkan perhatian karena metode ini mengarahkan perhatian kita kepada aspek tertentu saja dalam berpikir.

Enam Topi Berpikir (Six Thinking Hats) merupakan sebuah metode yang melihat bahwa otak manusia memiliki berbagai sudut pandang yang berbeda dalam berpikir. Edward De Bono (2007) menyatakan bahwa ada enam topi dengan warna yang berbeda-beda. Setiap warna mewakili satu jenis kegiatan berpikir. Keenam warna tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Topi Putih
    Fakta, angka-angka, informasi. Informasi apa yang kita punya? Informasi apa yang perlu kita cari?
  2. Topi Merah
    Emosi, perasaan, intuisi. Bagaimana perasaan saya tentang hal ini sekarang?
  3. Topi Hitam
    Kehati-hatian. Kebenaran, penilaian, pencocokan data. Apa datanya cocok? Apakah akan berhasil? Apakah aman? Apakah bisa dilaksanakan?
  4. Topi kuning
    Sisi yang menguntungkan, manfaat, penghematan. Mengapa ini bisa dilaksanakan? Apa keuntungannya? Mengapa ini baik dilaksanakan?
  5. Topi Hijau
    Eksplorasi, proposal, saran-saran, ide-ide baru. Tindakan-tindakan alternatif. Apa yang bisa kita lakukan di sini? Adakah ide lain?
  6. Topi Biru
    Berpikir tentang berpikir. Kendalikan kegitan berpikir. Simpulkan posisi kita sekarang. Tetapkan langkah berpikir selanjutnya. Tetapkan program. Pandangan menyeluruh yang mengontrol proses.

Berdasarkan uraian tersebut dapat dilihat terdapat perbedaan karakter pada masing-masing topi. Tujuan dari konsep topi tersebut bukan untuk menempatkan seseorang dalam golongan-golongan yang tertentu, melainkan untuk mendorong seseorang menggunakan semua jenis pikiran itu.

Kelebihan Menggunakan Enam Topi Berpikir (Six Thinking Hats)

Metode Enam Topi Berpikir (Six Thinking Hats) merupakan metode alternatif yang mudah dipahami dan digunakan dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis. Sebagaimana Dana (2007) menyatakan bahwa:

Keenam konsep topi berpikir amat sederhana untuk ditangkap dan dimengerti. Keenam konsep tersebut juga mudah diterapkan. Terdapat dua tujuan utama terhadap keenam konsep berpikir itu. Tujuan yang petama adalah menyederhanakan berpikir dengan mengijinkan seorang pemikir menyelesaikan suatu hal pada suatu saat. Tujuan utama yang kedua dari keenam konsep topi berpikir yaitu mengijinkan suatu peralihan dalam berpikir.

Dari pendapat tersebut, dikemukakan bahwa metode Enam Topi Berpikir (Six Thinking Hats) ini mudah diterapkan. Keuntungan metode Enam Topi Berpikir (Six Thinking Hats) juga diungkapkan oleh Hidayat (2008), sebagai berikut:

  1. Menciptakan kesamaan kondisi pemikiran, sehingga tercipta “bahasa pemikiran” yang sama, mengoptimalkan kerja otak dan fokus.
  2. Diversi keragaman pemikiran orang banyak akan menghasilkan pemikiran lebih baik.
  3. Membantu anggota tim untuk berpikir tanpa dipengaruhi kerakternya. Setiap orang yang menggunakan metode ini sudah mempunyai jalur berpikir yang sudah ditentukan oleh warna topi, sehingga seseorang yang berpikir menggunakan metode ini akan sulit untuk menghadirkan karakternya.
  4. Menghilangkan “Ego” masing-masing orang. Setiap orang yang berpikir akan memikirkan suatu masalah secara objektif, sehingga “Ego” yang ada akan terhapus dikarenakan setiap orang berpikir dengan jalur berpikir metode ini.
  5. Mengurangi perdebatan. Metode ini mempunyai aturan main yang jelas, sehingga setiap orang dapat mengungkapkan pendapatnya.
  6. Metode ini mengoptimalkan fungsi otak kita karena keterpaksaan untuk berpikir di masing-masing jalur topi.