Apa yang dimaksud dengan Aliran Sastra Absurdisme?

image

Aliran-aliran dalam kesusastraan memiliki kesamaan dengan aliran dalam kesenian yang lain, misalnya dalam seni lukis, seni drama, bahkan dalam dunia filsafat dan kehidupan sosial. Aliran dalam kesusastraan berhubungan erat dengan pandangan hidup dan kejiwaan pengarang dan penyair, serta biasanya terekspresikan dalam karya-karya mereka.

Terdapat aliran Sastra dengan nama Aliran Absurdisme, apakah itu?

Aliran dalam kesusastraan yang menonjolkan hal-hal yang di luar jalur logika, satu kehidupan dan bentang peristiwa imajinatif, dari alam bawah sadar, suasan trans. Pengarang aliran ini punya kesan mengada-ada, sengaja menyimpang dari konvensi kehidupan dan pola penulisan, tetapi pada super starnya, nampak kuat kebaruan dan kesegaran kreativitas mereka, bahkan kegeniusan mereka. Umumnya, mereka ini pernah pula sukses sebagai pengarang konvensional, sebagaimana para pelukis abstrak yang sempat meroket dan malang melintang di langit dunia mereka, bukan sunyi dari penciptaan lukisan-lukisan naturalis. Dramawan kontemporer/absurd yang tersohor, misalnya Putu Wijaya, N. Riantiarno dan Arifin C. Noer, juga punya seabrek karya konvensional.

Di langit sastra Indonesia, absurdisme sudah memancar dan mendarah daging pada karya-karya Iwan Simatupang di dasawarsa 60 an, baik dalam dramanya “ Petang di Sebuah Taman “, dan “ RT 0 RW 0 “, cerpen-cerpennya yang terakit dalam “ Tegak Lurus dengan Langit “, maupun dalam empat novel monumentalnya : “ Kering “, “ Merahnya Merah “, “ Ziarah “, “ Koooong “. Ternyata, kehidupan yang serba mungkin dan dirias renda-renda absurditas ini banyak mengilhami lahirnya sastra absurd, sebagai bisa diciptakan oleh penyair Sutarji Calzoum Bachri dalam “ O Amuk Kapak “, “ Yudhistira Ardi Noegraha dalam “ Omong Kosong “, dan “ Sajak Sikat Gigi “, serta oleh Ibrahim Sattah dan Sides Sudiarto Ds. dalam sanjak-sanjak mereka, oleh pengarang Budi Darma dalam kumcerpen “ Orang-orang Bloomington” “, oleh Putu Wijaya dalam karya-karya sastranya “ Telegram “, “ Stasiun “, “ Lho “, “ Keok “, “ Sobat “, “ Gres “, di samping drama-dramanya “ Anu “, “ Dag Dig Dug “, “ Aduh “, “ Zat “, oleh Arifin C. Noer dalam “ Kapai-kapai “, “ Mega-mega “, “ Dalam Bayangan Tuhan atawa Interogasi “, oleh N. Riantarno dalam “ Bom Waktu “, “ Opera Kecoak “ dan naskah saduran “ Perempuan-perempuan Parlemen “.

Konsep absurd dimunculkan Albert Camus dalam buku esainya yang berjudul Mitos Sisipus dalam bahasa Prancis. Menurut Kasim buku esai ini diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1955 oleh Justin O’Brien dengan judul The MythsofSisyphus and Other Essays. Inti cerita Mitos Sisipus diambil dari mitologi Yunani Kuno. Dalam cerita itu dikisahkan bahwa Sisipus dihukum para dewa. Hukuman yang harus dilakukan Sisipus adalah mengangkut batu besar ke atas gunung yang terjal. Akan tetapi, setelah mengangkut batu yang berakhir di puncak, batu itu menggelinding kembali, kemudian Sisipus mengangkut batu itu kembali ke puncak .Hukuman itu terus berulang dilakukan oleh Sisipus. Hukuman Sisipus itu dimaknai oleh Camus sebagal amsal hidup manusia.

Goenawan Mohamad menulis dalam “Catatan Pinggir”-nya, "Dalam dongeng ini, menurut tafsiran Albert Camus sejarah manusia berlangsung mengasyikkan tapi diujungnya harapan besar apa pun tak akan terpenuhi”. Menurut Esslin hingga akhir Perang Dunia II kemerosotan keyakinan religius yang tersembunyi di balik keyakinan akan kemajuan, nasionalisme, dan kepalsuan berbagai negara totaliter, semua ambruk karena perang, lalu manusia diselimuti oleh perasaan absurditas.
Perasaan absurditas inilah yang kemudian menjadi pokok persoalan dalam sastra dan teater absurd. Akan tetapi, ada yang perlu kita garis bawahi bahwa perasaan absurditas pascaperang Dunia II ini terlontar di belahan Dunia Barat. Jadi, tipikal Dunia Barat. Oleh sebab itu, dapat kita pahami apabila peristiwa teater yang terjadi di penjara San Quentin telah menghebohkan para narapidana di penjara tersebut.

Apabila Istilah “absurd” dalam teater dikembangkan oleh Esslin, maka dalam karya sastra, khususnya fiksi istilah absurd digunakan oleh Dick Penner. Menurut Kasim, Dick Penner telah menulis sebuah buku yang berjudul Fiction of the Absurd terbitan The New American Library pada tahun 1980.Pengarang fiksi yang dikelompokkan absurd di antaranya Franz Kafka, Nobokov, Flan Brien, Samuel Beckett, Eugene Ionesco, dan Albert Camus. Asal-usul absurdisme tidaklah bersumber tunggal dari Mitos Slsipus-nya Camus atau filsafat eksistensialisme-nya Sartre. Menurut Esslin kajian tentang gejala absurd sebagai sastra, teknik panggung, dan manifestasi dari pemikiran zamanya haruslah didahului dengan pengujian karya-karya tersebut. Dengan demikian, kita dapat membuktikan bahwa karya-karya yang kita kaji merupakan bagian dari tradisi atau kebudayaan lama yang pada saat tertentu telah tenggelam, akan tetapi masih dapat diusut kembali sampai ke zaman purbakala. Dengan melakukan kajian historis ini, kemungkinan besar kita dapat menafsirkan dan menetapkan pentingnya fenomena absurd itu dalam pola pemikiran masyarakat kontemporer.