Apa yang dimaksud dengan Al-Mutakabbir atau Maha Memiliki Kebesaran ?

Al-Mutakabbir

Nilai yang terkandung di dalam al-Mutakabbir:

Apabila seseorang yang beriman membaca “Ya Mutakabbir” secara istiqamah, sebanyak 693x pada pagi dan sore hari, Insya Allah ia akan terhindar dari kesombongan dan semakin taat kepada Allah SWT serta semakin yakin bahwa Allah-lah Yang Maha Besar.

Apa yang dimaksud dengan Al-Mutakabbir atau Maha Memiliki Kebesaran ?

Al-Mutakabbir adalah lafal yang berarti keagungan atau kemahabesaran Allah SWT, dan merupakan bagian dari Asmā al-Husnā. Kata al-Mutakabbir terbentuk dari wazan takabbara-yatakabbaru, dan asal katanya adalah kabura.

Kata kabira-yakbaru memiliki pola seperti ta‟iba isim fā‟il kabirun jama‟nya kibārun, isim fā‟il kabira untuk jenis perempuan kabiratun, pola superlatif (isim tafdil) kata kabirun yaitu akbarun/al-akbaru yang bentuk pluralnya (jama‟) akābir, dan bentuk plural kabiratun adalah kubrā/al- kubrā, jama‟nya kubarun dan kubrayāt.

Di dalam Alquran , ditemukan berbagai makna tentang kabura dan turunannya, mempunyai beberapa makna yaitu makna berat, besar, dewasa, lanjut usia, tua, kekuasaan, agung, kagum, angkuh sombong enggan, tinggi, pemimpin.

Makna Relasional

Sikap sombong atau angkuh (istakbara) berkaitan dengan fenomena kufur dalam struktur semantik. Dalam konteks pagan Arab kesombongan merupakan aspek penting dalam mempertahankan harga diri sebagai cita-cita tertinggi moral badui, yang dimanifestasikan dalam bentuk keberanian dalam memperoleh kemuliaan, tetapi kesombongan dan keberanian dalam masyarakat badui identik dengan balas dendam yang membuta tanpa mengenal aturan.

Dalam konteks Alquran, kesombongan merupakan indikasi seorag kafir yang meremehkan dan mendustakan Tuhan, ajaran, dan Rasul-Nya. Dengan pengamatan sekilas kesombongan merupakan lawan dari iman, sehingga mereka yang sombong akan menolak keimanan dan tidak percaya terhadap ayat-ayat Tuhan yang disebabkan oleh sikap sombong. Maka kata angkuh (istakbara) berkaitan erat dengan fenomena kekufuran. Hal ini diperjelas oleh ayat yang menunjukkan hubungan yang mendasar antara syirik, kufur dengan sikap sombong dengan konsekuensi ancaman yang sama-sama keras.

Persamaan semantik kesombongan juga berdampingan dengan kebohongan terhadap Tuhan sebagai lawan dari taqwa, termasuk orang yang suka berdebat tentang ayat Allah tanpa argumentasi kecuali sebagai kesombongan belaka.

Untuk memperjelas indikasi sombong sebagai bagian yang integral dengan kufur, harus dilihat beberapa karakter yang terkait dengan kesombongan. Diantara karakter tersebut adalah perbuatan melampaui batas (bagha) sebagai akar kerusakan dan kekerasan (zulm). Akar melampaui batas ialah bersenang-senang (batira), meskipun Alquran tidak banyak memberi keterangan tentang struktur semantiknya yang berkenaan dengan indikasi kufur, tetapi akibat dari sikap ini menunjukkan indikasi yang sama dari akibat kekufuran yaitu dibinasakan dari negeri kediaman.

Salah satu sinonim dari kesombongan (istakbara) adalah 'ata yaitu kesombongan yang keterlaluan dengan sikap penuh kedurhakaan terhadap perintah Tuhan. Sinonim ini dari istakbara adalah tagha dengan bentuk nominal tughyan yaitu sikap yang menunjukkan kekufuran yang amat sangat, karena permusuhannya terhadap rasul dan orang-orang beriman dan kecintaannya terhadap kehidupan dunia sehingga tughyan terkdang dilawankan dengan taqwa.

Dalam konteks ini, termasuk karakter orang yang terlalu percaya diri sehingga menganggap dirinya tidak butuh siapapun, dalam kapasitas sebagai makhluk sikap semacam ini termasuk dalam kategori sombong dengan memakai istilah istaghna. Kata ini terkadang disandingkan dengan sikap yang melampaui batas dan dilawankan dengan takwa. Imbas dari sikap sombong biasanya disertai keinginan untuk menguasai orang lain, dan cenderung pada penganiayaan dan kedurhakaan.

Sikap kesombongan semacam ini disebut dengan jabbār yang disandingkan dengan kata mutakabbir sebagai penguat (ta’kid) atas kesombongan seseorang. Sifat tersebut sangat erat dengan karakter orang kafir, yang diindikasikan oleh Alquran dengan terkunci mati hatinya dan dilawankan dengan taqwa. Jadi jelas bahwa sikap kesombongan merupakan perwujudan lain dari kufur.

Menurut ar-Raghib al-Ishfahani dalam kitabnya Mufradāt fȋ gharib Alquran , al- Mutakabbir adalah kata yang diambil dari kata kerja (kata bendanya: Takabbur) memiliki dua kemungkinan makna, yaitu:

  • Yang memiliki tendensi makna positif. Secara hakikat asmā‟ al-ẖusnā al-Mutakabbir masuk pada kategori ini.

  • Yang memiliki makna negatif. Makna negatif ini ketika Alquran menuturkan dengan khitab manusia.
    .
    Ketika kata „takabbur‟ diarahkan pada makna yang pertama (kepada Allah) maka berarti perbuatan yang terpuji. Dan jika diarahkan pada makna yang kedua maka berarti perbuatan yang tercela.

Menurut „Ensiklopedia makna Alquran ‟ kata al-Mutakabbir adalah puncak dalam hal kebesaran dan keagungan (al-mubālighu fȋ al- kibriyā‟ wa al-'uzhmah).

Pengertian takabbur sendiri ialah tidak menghargai kebenaran dan tidak tunduk kepadanya, dan disertai dengan sikap merendahkan oranglain. Orang sombong memandang dirinya tidak patuh dan tidak tunduk kepada kebenaran atau disamakan dengan orang lain. Jika diterapkan kepada manusia, maka manusia yang bersifat demikian sangatlah tercela. Semua sifat-sifat Tuhan itu, walau sama namanya dengan sifat manusia, esensinya berbeda. Sifat Tuhan tak terbatas dan tak terhingga.

Sedangkan kata “orang-orang yang sombong”, merupakan perilaku yang ditampilkan oleh orang-orang yang mempunyai ciri-ciri, antara lain:

  • Pertama, mereka yang tidak beriman dengan negeri akhirat, dan mengingkari ke-Esaan Allah (QS. Al-Nahl [16]: 22);

  • Kedua, mereka yang enggan diajak meminta ampun, dan membuang muka (QS. Al-Munafiqun [63]: 5);

  • Ketiga, mereka yang berpaling dari Alquran, dan melontarkan kata-kata keji terhadapnya (QS. Al-Mu‟minūn [23]: 66-67).

Mutakabbirnya Allah SWT

Makna dari mutakabbir disini mengandung arti kebesaran/ keagungan Allah.
Ibn Mandzur mendefinisikan lafal al-Mutakabbir adalah “Zat yang tidak tersentuh oleh kezaliman hamba-Nya, karena dia Maha Agung lagi Maha Besar”. Kata kibriyā’ jika disandingkan atau disandarkan kepada Allah berarti keagungan Allah SWT. Mutakabbir artinya Agung, bukan sombong. Huruf ta dalam kata mutakabbir menunjukkan “hanya satu-satunya” bukan ta yang mempunyai pengertian sombong, tidak memiliki sedikitpun tentang kesombongan.

Jadi ketika manusia sombong, dia hanya berpura-pura sombong. Karena hanya Allah saja yang berhak memiliki sikap sombong. Karena sombongnya Allah adalah bagian dari kasih sayang-Nya.

Takabburnya Manusia

Menurut Imam al-Ghazali dalam kitab Ihyā’ „Ulumuddin menyebutkan tujuh nikmat yang menyebabkan seseorang menjadi sombong:

  1. Pengetahuan (ilmu). Alangkah cepatnya sifat sombong itu timbul dalam hati orang-orang yang merasa cukup pengetahuannya.

  2. Amal dan ibadah. Ini bisa menimbulkan sombong dan karenanya menarik perhatian orang banyak, kalau dia kurang ikhlas.

  3. Kebangsawanan, karena merasa dirinya turunan bangsawan, dia menjadi sombong dan memandang rendah kapada orang yang dianggapnya rakyat biasa.

  4. Kecantikan rupa. Ini lebih banyak pada kaum wanita. Bukan saja membawanya kepada kesombongan, tetapi juga suka mencela, merendahkan dan menyebut aib orang lain.

  5. Harta dan kekayaan. Karena merasa diri serba cukup, dia menjadi sombong dan memandang rendah dan melecehkan orang lain, terutama orang-orang miskin.

  6. Kekuatan dan kekuasaan. Seseorang bisa menjadi sombong karena di tangannya ada kekuatan dan kekuasaan, memandang rendah terhadap orang-orang yang lemah.

  7. Banyak pengikut, teman sejawat, karib kerabat yang mempunyai kedudukan dan jabatan-jabatan penting.

Sifat takabbur merupakan penyakit yang bisa membinasakan amal kebaikan manusia. Orang yang berlaku takabbur atau sombong adalah orang yang sakit secara mental, yang sedang menderita kesakitan secara jiwa. Hal tersebut pada sisi Allah SWT adalah terkutuk dan sangat dimurkai.

Meskipun sifat sombong merupakan sifat yang jika dimiliki oleh manusia mengandung sifat yang tercela, tetapi ada ungkapan yang mengatakan bahwa sombong terhadap orang yang sombong adalah shadaqah.

Ada juga hadits yang beda redaksi tetapi maknanya sama yang diriwayatkan dari Ibn Umar.

“Apabila kalian semua melihat orang- orang yang bersikap tawadhu‟ dari umatku, maka bersikap tawadhu‟lah kalian kepada mereka. Dan apabila kalian mendapati orang-orang yang menyombongkan diri, maka sombongkanlah diri kalian di hadapan mereka, karena sesungguhnya yang demikian itu merupakan bentuk penghinaan, dan menganggap mereka kecil.” (status riwayat hadits ini adalah ghārib).

Di dalam atsar para sahabat sepeninggal Rasulullah Saw disebutkan, bahwa Umar pernah berkata “sesungguhnya seorang hamba apabila ia bersikap tawadu} ‟ karena Allah, niscaya Allah pasti akan meninggikan (mengangkat) derajatnya dan memberinya hikmah atas perilakunya. Dan berkatalah malaikat yang menangani masalah hikmah itu, „bangunlah dari jatuhmu, niscaya engkau telah diangkat oleh Allah.‟ Apabila hamba itu berbuat takabur serta melampaui batas, niscaya ia ditolak oleh Allah di muka bumi. Lalu, berkatalah malaikat yang menangani masalah hikmah, enyahlah engkau dari sini, niscaya Allah akan mengusirmu. Ia pada anggapannya, adalah orang besar. Akan tetapi, pada pandangan manusia hina. Sehingga ia sesungguhnya lebih hina daripada hewan pada sisi manusia.”

Manusia boleh sombong dalam catatan untuk menunjukkan kepada orang yang sombong bahwa ada yang lebih dari dia, baik lebih kaya, lebih berkuasa, ataupun dari segi hal yang lainnya. Dan orang yang melakukannya juga ingat bahwa dia sombong untuk mengingatkan saja dan dia yakin bahwa yang lebih kuasa atau agung hanyalah Allah SWT. Seperti ketika menghadapi musuh dalam perang, manusia boleh berlaku sombong kepada lawan bahwa kita bisa menang dalam berperang. Supaya lawan tidak menganggap kita sebagai lawan yang lemah bagi mereka.

Meskipun begitu sikap takabbur memiliki banyak madharatnya dibanding dengan manfaatnya. Karena sedikit sikap takabbur ada dalam hati kita akan mengantarkan ke dalam neraka. Begitupula hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari hadits Ibnu Mas‟ud Rasulullah Saw bersabda

“Tidak akan dimasukkan ke surga orang yang di dalam kalbunya terdapat seberat biji sawi dari sikap takabbur. Sebagaimana tidak pula dimasukkan ke neraka orang yang di dalam kalbunya terdapat seberat biji sawi dari keimanan.”

Rasulullah Saw juga pernah bersabda,

“Ada tiga perkara yang dapat membinasakan manusia, yaitu: sikap bakhil yang dipatuhi, hawa nafsu yang diikuti, dan kekaguman sseorang kepada diri sendiri”

Keagungan dan keluhuran Allah SWT memecahkan punggung-punggung para Kisra (yang dimaksudkan adalah raja-raja Parsi). Keagungan dan kebesaran-Nya memendekkan tangan para Kaisar (yang dimaksudkan adalah raja-raja Romawi). Keagungan merupakan selimut bagi Allah. Sedangkan sikap takabbur menjadi selendang-Nya. Siapa saja yang melawan Allah pada kedua sifat tersebut, niscaya Dia akan memecahkannya dengan penyakit mati. Kemudian akan dilemahkan dari pengobatan atasnya. Mahaagung keagungan-Nya, dan Mahasuci nama-nama- Nya.

Sumber : Nuri Meilan, Kholid Al-Walid, Solehudin, Makna al-mutakabbir dalam alquran (studi kajian semantik), UIN Sunan Gunung Djati

Kata mutakabbir dalam Al-Qur`an diulang 3 kali dan hanya satu kali menjadi nama Allah, yaitu dalam surat al-Hasyr: 23.

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Akar kata mutakabbir yaitu kabura-yakburu, mengandung makna kebesaran, yang lawan katanya adalah kecil. Kata ini juga sering diartikan sombong atau angkuh.

Nama Allah “Al-Mutakabbir” dapat diartikan, bahwa hanya Allah satu-satunya yang memiliki keagungan, kebesaran, dan ketinggian, yang tidak dapat dicapai oleh makhluk-Nya. Tidak ada kebesaran kecuali milik-Nya dan seluruh makhluk tunduk kepada keagungan-Nya. Allah berkalam, yang artinya,

“Maka bagi Allahlah segala puji, Rabb langit dan Rabb bumi, Rabb semesta alam. Dan bagi-Nya-lah keagungan di langit dan bumi, Dialah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (al-Jâtsiyah: 36-37).

Sifat kebesaran atau kesombongan hanya diperbolehkan bagi Allah. Rasulullah saw bersabda, yang artinya,

“Allah berkalam (dalam hadis qudsi), “Kemuliaan adalah pakaian-Ku, keangkuhan adalah selendang-Ku. Siapa yang mencoba merebutnya, akan Ku-siksa.” (HR. Muslim).

Sifat ini Allah tunjukkan kepada mereka yang berbuat sombong dan angkuh kepada yang lainnya. Sombong tidak hanya seputar membanggakan diri. Termasuk sombong adalah tidak mau menerima kebenaran yang disampaikan, seperti tersebut dalam kalam Allah, yang artinya,

“…dia mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya kemudian dia tetap menyombongkan diri seakan-akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan azab yang pedih.” (al-Jâtsiyah: 8).

Perilaku semacam itu sama dengan apa yang dilakukan oleh kaum ‘Âd, Tsamûd, Firaun, dan lain-lain. Penyebab kekafiran dan berbagai kemaksiatan di antaranya adalah kesombongan. Allah kalamkan, yang artinya,

“Rabb kamu adalah Rabb Yang Maha Esa. Maka, orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong.” (an-Nahl: 22).

Sedang iblis adalah makhluk pertama yang mengajarkan kesombongan. (alBaqarah:34).

Seorang hamba yang selalu berzikir dengan asma “AlMutakabbir”, akan sadar bahwa sifat sombong hanya pantas dimiliki Allah. Manusia dengan segala kehebatannya harus mampu bersifat tawaduk atau rendah hati. Kecongkakan dan kesombongan hanya akan membawa kehancuran manusia itu sendiri. Karena, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong

Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. (an-Nahl: 23).

Seorang hamba yang mampu meneladani nama “Al-Mutakabbir”, akan selalu bersikap zuhud, menganggap rendah segala kemewahan dan gemerlap dunia. Ia tidak akan larut dalam kenistaan syahwat dan kesenangan duniawi yang menyeretnya ke dalam penyesalan abadi dan membuatnya lupa mengingat kebesaran Rabbnya. Jika dalam meneladani nama “Al Mutakabbir” belum bisa demikian, maka jauhilah sifat kesombongan dan keangkuhan. Karena, barangsiapa di dalam dirinya terdapat kesombongan walaupun sedikit, niscaya ia tidak akan masuk surga (HR. Muslim).

Al Mutakabbir

Referensi :

Dr. Hasan el-Qudsy, The Miracle of 99 Asmaul Husna, Ziyad Book, 2014