Apa yang dimaksud dengan Al-Jabbaar atau Maha Memaksa ?

Al-Jabbaar

Nilai yang terkandung di dalam al-Jabbaar :

Barangsiapa yang beriman membaca “Ya Jabbaar” sebanyak 226x di kala waktu pagi dan sorehari, Insya Allah ia akan diselamatkan Allah SWT dari ancaman orang-orang zalim.

Apa yang dimaksud dengan Al-Jabbaar atau Maha Memaksa ?

Kata Al-Jabbâr memiliki makna seputar keagungan dan ketinggian. Kata jabbâr dengan semua bentuk ragamnya, terulang dalam Al-Qur`an sebanyak 10 kali. Hanya satu kali kata Al-Jabbâr sebagai salah satu nama Allah, yaitu dalam surat al-Hasyr: 23.

Nama Allah Al-Jabbâr ini dapat diartikan bahwa Allah-lah yang memaksa seluruh hamba-Nya untuk melaksanakan apa yang menjadi kehendak dan keputusan-Nya. Seperti dalam kalam Allah, yang artinya,

“Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan suka hati.” (Fushshilat: 11).

Tidak ada seorang pun yang mampu menolak apa yang Dia kehendaki atau memaksa-Nya untuk menuruti kehendaknya. Dengan ketinggian dan keagungan-Nya, seluruh mahkluk tunduk kepada-Nya. Kewajiban manusia adalah memaksimalkan usaha, karena tidak ada yang tahu pasti apa yang dikendaki Allah.

Menurut Imam al-Biqa’i sebagaimana disebutkan oleh Quraisy Syihab, makna Al-Jabbâr adalah Allah Yang Mahatinggi, sehingga memaksa yang rendah untuk tunduk kepada apa yang dikehendaki-Nya. Tidak terlihat atau terjangkau oleh yang rendah apa yang mereka harapkan untuk diraih dari sisi-Nya. Nama Al-Jabbâr dengan makna seperti itu hanya pantas untuk Allah. Sebab, jika disandang oleh manusia, merupakan sifat buruk yang melahirkan berbagai kerusakan dan kezaliman. Misalnya penguasa yang memaksakan kehendaknya kepada rakyat tanpa memikirkan kepentingan mereka.

Ketika seorang hamba berzikir dengan nama Al-Jabbâr, akan lahir dalam dirinya sifat tunduk dan patuh kepada syariat yang telah ditentukan Allah. Akan lahir pula sifat tawaduk dan mudah sadar untuk mengenali siapa dirinya sebenarnya.

Ketika ingin meneladani nama Allah Al-Jabbâr, maka seseorang dapat melakukannya dengan berusaha menjadi pribadi yang baik, berakhlak mulia, menarik, dan simpatik, sehingga memaksa orang lain untuk mengikutinya, menaatinya, dan menyeganinya, secara sadar atau tidak. Saat itulah, ia menjadi orang yang terhormat dan menempati kedudukan yang tinggi dengan kerendahan hatinya.

Referensi :

Dr. Hasan el-Qudsy, The Miracle of 99 Asmaul Husna, Ziyad Book, 2014