Apa yang dimaksud dengan agromineral?

Agromineral adalah mineral-mineral yang bermanfaat bagi perkembangbiakan tumbuhan (Van Straaten, 1999). Enam belas unsur kimia telah diketahui sebagai unsur penting untuk pertumbuhan dan pertahanan tanaman (Anon-im, 2004c). Keenambelas unsur tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu bukan-mineral dan mineral.

Nutrisi bukan-mineral meliputi hidrogen (H), oksigen (O), dan karbon ©. Nutrisi ini dapat ditemukan baik di udara maupun di dalam air. Dalam poses fotosintesis, tanaman menggunakan energi matahari untuk merubah karbon dioksida (CO2) dan air (H2O) menjadi “starches” dan gula. Keduanya merupakan makanan tanaman.

Nutrisi mineral terdiri atas 13 mineral, yang berasal dari tanah dalam bentuk larutan. Biasanya ketersediaan nutrisi ini pada tanah tidak selalu lengkap. Petani biasanya menambahkannya dengan memberikan pupuk bu- atan. Berdasarkan tingkat kebutuhan tanaman, nutrisi ini dapat dibagi menja- di dua, yaitu nutrisi makro (macronutrients) dan nutrisi mikro (micronutrients) . Kedua kelompok ini akan dibahas secara terpisah setelah bab ini.

Agromineral adalah mineral-mineral yang bermanfaat bagi perkembangbiakan tumbuhan (Van Straaten, 1999). Enambelas unsur kimia telah diketahui sebagai unsur penting untuk pertumbuhan dan pertahanan tanaman (Anonim, 2004c). Keenambelas unsur tersebut dapat dibagi menjadi dua kelompok utama, yaitu bukan-mineral dan mineral.

Nutrisi bukan-mineral meliputi hidrogen (H), oksigen (O), dan karbon ©. Nutrisi ini dapat ditemukan baik di udara maupun di dalam air. Dalam poses fotosintesis, tanaman menggunakan energi matahari untuk merubah karbondioksida (CO2) dan air (H2O) menjadi starches dan gula. Keduanya merupakan makanan tanaman.

Nutrisi mineral terdiri atas 13 mineral, yang berasal dari tanah dalam bentuk larutan. Biasanya ketersediaan nutrisi ini pada tanah tidak selalu lengkap. Petani biasanya menambahkannya dengan memberikan pupuk buatan. Berdasarkan tingkat kebutuhan tanaman, nutrisi ini dapat dibagi menjadi dua, yaitu nutrisi makro (macronutrients) dan nutrisi mikro (micronutrients).

Nutrisi makro

Nutrisi makro dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu nutrisi primer dan nutrisi sekunder (Anonim, 2004c) :

  1. Nutrisi primer meliputi: nitrogen (N), fosfor §, dan potasium (K). Nutrisi ini biasanya paling cepat habis di dalam tanah, karena tanaman menggunakannya dalam jumlah besar untuk perkembangan dan pertahanannya.

  2. Nutrisi sekunder meliputi: kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan belerang (S). Biasanya nutrisi ini cukup banyak di dalam tanah, namun di beberapa tempat diperlukan tambahan kalsium dan magnesium, misalnya pada tanah yang asam. Kalsium dan magnesium diperlukan untuk meningkatkan keasaman tanah.

Nutrisi mikro

Nutrisi mikro merupakan unsur-unsur penting untuk perkembangan tanaman yang dibutuhkan hanya dalam jumlah kecil (mikro). Unsur-unsur ini kadang-kadang disebut sebagai unsur-unsur minor atau jejak (trace elements), namun penamaan nutrisi mikro (micronutrients) sangat disarankan oleh ASA (American Society of Agronomy) dan SSSA (Soil Science Society of America). Unsur-unsur yang termasuk ke dalam nutrisi mikro ini meliputi:

  • boron (B)
    Tanaman tidak membutuhkan boron dalam jumlah besar, tetapi boron dapat mengatur penyerapan makanan dan membantu tanaman untuk membuat jaringan baru. Boron telah dikenal sejak 1923 sebagai nutrisi mikro yang penting untuk tanaman tingkat tinggi (Warington, 1923 dalam Blevins & Lukaszewski, 1994).

  • tembaga (Cu)
    Tembaga adalah unsur yang memberi rasa manis pada beberapa jenis buah. Ini diambil oleh tanaman dalam bentuk kation dan memegang peranan penting di dalam pembentukan vitamin A pada tanaman (Trotter, 2001). Tembaga memberikan kontribusi pada proses alamiah termasuk metabolisme dan reproduksi tanaman. Tembaga juga merupakan aktivator penting pada beberapa enzim pertumbuhan tanaman.

  • besi (Fe)
    Besi digunakan untuk menyehatkan tanaman dan pertumbuhan hijau tua. Seperti halnya magnesium, besi merupakan mineral utama untuk fotosintesis. Tanaman harus mendapatkan besi untuk membuat klorofil.

  • klor (Cl)
    Klor berfungsi untuk menolong metabolisme tanaman. Klor sering tersedia lebih dari cukup untuk tanaman, sehingga suplementasi nutrisi ini tidak diperlukan lagi bagi tanah. Klor sangat penting bagi tanaman, karena dibutuhkan dalam reaksi fotosintesis dalam tanaman. Nutrisi ini diambil dalam bentuk anion klorida (Cl-).

  • mangan (Mn)
    Mangan berfungsi mengatur sistem enzim, yang termasuk di dalam memecah karbohidrat dan metabolisme nitrogen. Selain itu mangan sangat penting untuk pembentukan klorofil. Tanpa mangan, tanaman tidak dapat melakukan fungsi selnya (Anonim, 2004).

  • molibdenum (Mo)
    Tanaman membutuhkan molibdenum untuk memproduksi protein esensial dan membantu dalam pemakaian nitrogen. Molibdenum diambil tanaman dalam bentuk anion negatif molibdat. Tanpa molibdenum, tanaman tidak dapat mengolah nitrogen menjadi asam amino. Tumbuh-tumbuhan polong (legumes) dan tanaman yang membutuhkan nitrogen lainnya tidak dapat mengambil nitrogen dari atmosfer tanpa molibdenum (Trotter, 2001).

  • seng (Zn).
    Seng merupakan unsur esensial untuk transformasi karbohidrat, mengatur pemakaian gula. Tanaman menggunakan seng dalam hubungannya dengan nutrisi lainnya untuk mengatur proses-proses termasuk membentuk klorofil.

Daur ulang material organik, seperti rumput dan daun-daunan merupakan cara yang paling baik untuk mempertahankan jumlah nutrisi mikro (dan juga nutrisi makro) untuk
pertumbuhan tanaman.

Ringkasan

Van Straaten, P. (1999) From rocks to crops: The use of geological resource to improve soils (Agrogeology).

Batuan dan mineral dapat berperan cukup potensial di bidang pertanian, karena di dalam beberapa mineral dan batuan terkandung nutrisi-nutrisi penting yang dapat digunakan untuk mempertahankan dan menambah produktivitas lahan maupun hasil pertanian yang disebut sebagai agromineral.

Agromineral adalah mineral-mineral yang bermanfaat bagi perkembangbiakan tumbuhan, seperti mineral-mineral yang mengandung Nitrogen, Karbon, Fosfor, Potasium, belerang, Kalsium, Magnesium, Boron, Zeolit, dan Perlit (Van Straaten, 1999 dalam Basyuni, 2009).

Batuan alam mengandung banyak unsur hara esensial yang dibutuhkan bagi pertumbuhan tanaman. Hampir semua pupuk buatan berasal dari batuan yang diproses secara kimiawi, yaitu batuan yang telah dimodifikasi secara kimia, ditambah dengan beberapa nutrisi mikro yang sering dibutuhkan oleh tanaman, seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), sulfur (S), tembaga (Cu), kobalt (Co), besi (Fe), dan sebagainya (Basyuni, 2009).

Agromineral pada umumnya hanya diubah secara fisik, misalnya dengan penumbukan dan pemecahan. Walaupun kadang perlu pengolahan untuk beberapa batuan dan mineral turunan yang mempergunakan sejumlah zat kimia tertentu digabungkan dengan agromineral, akan tetapi hanya merupakan teknik sederhana dan bertujuan agar pemakaian dapat lebih optimal.

Oleh karena itu agromineral diharapkan menjadi satu alternatif pengganti pupuk yang lebih murah dan lebih mudah diperoleh untuk menambah nutrisi tanaman serta memperbaiki struktur tanah, dengan cara memanfaatkan sumber daya geologi yang terdapat di sekitar lahan pertanian tersebut (Warmada dan Titisari, 2004).

Beberapa dari batuan dan mineral tersebut hanya dapat agak larut dalam waktu yang pendek tetapi dapat melepaskan kandungan nutrien ke dalam tanah untuk waktu yang lama dan memasok nutrisi secara perlahan (slow release). Beberapa cara yang dapat dilakukan agar unsur hara cepat tersedia bagi tanaman, yaitu memperhatikan tingkat kehalusan batuan dan penggunaan pelarut berupa larutan asam kuat yang mampu mempercepat ketersediaan hara (Priyono, 2005).