© Dictio 2017 - 2019, Inc. All Rights Reserved. Terms of Use | About Us | Privacy Policy


Apa yang dimaksud dengan Agroforestri?

Agroforestri merupakan cabang ilmu pengetahuan baru di bidang pertanian dan kehutanan yang mencoba menggabungkan unsur tanaman dan pepohonan. Ilmu ini mencoba mengenali dan mengembangkan sistem- sistem agroforestri yang telah dipraktekkan oleh petani sejak berabad-abad yang lalu.

Agroforestri dalam bahasa Indonesia disebut sebagai wanatani. Dengan demikian sisem agroforestri adalah sistem wanatani. Wanatani adalah suatu bentuk pengelolaan sumberdaya yang memadukan kegiatan pengelolaan hutan atau pohon kayu-kayuan dengan penanaman komoditas atau tanaman jangka pendek, seperti tanaman pertanian.

Model-model wanatani bervariasi mulai dari wanatani sederhana berupa kombinasi penanaman sejenis pohon dengan satu-dua jenis komoditas pertanian, hingga ke wanatani kompleks yang memadukan pengelolaan banyak spesies pohon dengan aneka jenis tanaman pertanian, dan bahkan juga dengan ternak atau perikanan.

Agroforestri merupakan suatu istilah baru dari praktek- praktek pemanfaatan lahan tradisional (wanatani) yang memiliki unsur-unsur:

  1. Penggunaan lahan atau sistem penggunaan lahan oleh manusia.
  2. Penerapan teknologi.
  3. Komponen tanaman semusim, tanaman keras dan/atau ternak atau hewan.
  4. Waktu bisa bersamaan atau bergiliran dalam suatu periode tertentu.
  5. Ada interaksi ekologi, sosial, ekonomi.

Penyebarluasan agroforestri diharapkan bermanfaat selain untuk mencegah perluasan tanah terdegradasi, melestarikan sumber daya hutan, dan meningkatkan mutu pertanian serta menyempurnakan intensifikasi dan diversifikasi kehutanan.

“Agroforestri” adalah penggunaan lahan terpadu yang memiliki aspek struktur, fungsi, sosial ekonomi dan ekologi, dilaksanakan melalui pengkombinasian pepohonan dengan tanaman pertanian atau ternak baik secara bersama-sama ataupun bergiliran.

Hutan pada hakekatnya merupakan perwujudan dari lima unsur pokok yang terdiri dari bumi, air, alam hayati, udara dan sinar matahari. Memanfaatkan hutan sebenarnya mengarahkan kelima unsur pokok kepada suatu bentuk tertentu pada tempat dan waktu yang diperlukan untuk kesejahteraan dan kebahagiaan manusia lahir dan batin sebesar mungkin tanpa mengabaikan aspek kelestarian.

Sampai saat ini, belum ada kesatuan pendapat di antara para ahli tentang definisi “agroforestri”. Hampir setiap ahli mengusulkan definisi yang berbeda satu dari yang lain. Mendefinisikan agroforestri sama sulitnya dengan mendefinisikan hutan.

Bjorn Lundgren mantan Direktur ICRAF (International Centre for Research in Agroforestri) mengajukan ringkasan dari banyak definisi agroforestri dengan rumusan sebagai berikut : “Agroforestri adalah istilah kolektif untuk sistem-sistem dan teknologi- teknologi penggunaan lahan, yang secara terencana dilaksanakan pada satu unit lahan dengan mengkombinasikan tumbuhan berkayu (pohon, perdu, palem, bambu dll.) dengan tanaman pertanian dan hewan (ternak) atau ikan, yang dilakukan pada waktu yang bersamaan atau bergiliran sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar berbagai komponen yang ada”.

Di kalangan masyarakat berkembang beberapa istilah yang sering dicampur-adukkan dengan agroforestri. Hal ini sangat membingungkan. Ada yang memandang agroforestri adalah suatu kebijakan pemerintah atau status kepemilikan lahan, bukan sebagai sistem penggunaan lahan. Oleh sebab itu, diperlukan adanya batasan yang jelas kapan atau bilamana suatu sistem dapat dikategorikan sebagai agroforestri.

Batasan semacam ini diperlukan untuk menghindari timbulnya pendapat bahwa setiap kombinasi komponen kehutanan, pertanian dan/atau peternakan selalu dapat diklasifikasikan sebagai suatu sistem agroforestri. Beberapa ciri penting agroforestri yang dikemukakan oleh Lundgren dan Raintree, (1982) adalah:

  • Agroforestri biasanya tersusun dari dua jenis tanaman atau lebih (tanaman dan hewan). Paling tidak, satu di antaranya tumbuhan berkayu.

  • Siklus sistem agroforestri selalu lebih dari satu tahun.

  • Ada interaksi (ekonomi dan ekologi) antara tanaman berkayu dengan tanaman tidak berkayu.

  • Selalu memiliki dua macam produk atau lebih (multi product), misalnya pakan ternak, kayu bakar, buah-buahan, obat-obatan.

  • Minimal mempunyai satu fungsi pelayanan jasa (service function), misalnya pelindung angin, penaung, penyubur tanah, peneduh sehingga dijadikan pusat berkumpulnya keluarga/masyarakat.

  • Untuk sistem pertanian masukan rendah di daerah tropis, agroforestri tergantung pada penggunaan dan manipulasi biomasa tanaman terutama dengan mengoptimalkan penggunaan sisa panen.

  • Sistem agroforestri yang paling sederhanapun secara biologis (struktur dan fungsi) maupun ekonomis jauh lebih kompleks dibandingkan sistem budidaya monokultur.

Pada dasarnya agroforestri terdiri dari tiga komponen pokok yaitu kehutanan, pertanian dan peternakan. Ketiga komponen tersebut bisa berupa pepohonan, tanaman keras, semak- semak, tanaman rambat berkayu, tanaman pertanian dan hewan-hewan.

Keberadaan masing-masing komponen tersebut akan menghasilkan beberapa sistem agroforestri, seperti

  • Agrosilvikultural yaitu kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dan pertanian.
  • Silvopastura yaitu kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dan peternakan, dalam hal ini tidak saja hewan ternak untuk pertanian, bisa saja ikan atau lebah.
  • Agrosilvopastura adalah kombinasi komponen atau kegiatan pertanian dengan kehutanan dan peternakan/hewan.

Hairiah, Agung dan Sambas mengemukakan bahwa :

  1. Agroforestry adalah suatu sistem pengunaan lahan yang bertujuan untuk mempertahankan atau meningkatkan hasil total secara lestari.

  2. Pancapaian tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara mengkombinasikan tanaman berkayu (pohon) dengan tanaman pangan atau tanman pakan ternak.

  3. Usahanya dilaksankan pada sebidang lahan yang sama, baik secara bersamaan waktunya atau bergantian.

  4. Pelaksanaan agroforestry (manajemen) harus disesuaikan dengan latar belakang social budaya setempat, kondisi ekonomi dan kondisi ekologi setempat.

  5. Lahan yang diusahakan untuk agroforestry berada dalam suatu unit manajemen yang sama” (Hairiah et al , 2003).

Keuntungan Agroforestri


Vergara menjelaskan bahwa “berbagai keuntungan sistem agroforestri dari aspek ekologi sebagai berikut:

  1. Berkurangnya tekanan terhadap hutan, sehingga akan lebih banyak pepohonan hutan yang dimanfaatkan sebagai pelindung daerah perbukitan.

  2. Daur ulang unsur hara yang lebih efisien dengan terdapatnya perakaran pohon yang sangat dalam.

  3. Perlindungan terhadap lahan berlereng tinggi dengan adanya pengelolaan lahan yang stabil.

  4. Berkurangnya aliran permukaan, pencucian hara dan erosi tanah karena adanya akar dan batang pepohonan yang menghalangi proses-proses tersebut.

  5. Perbaikan mikroklimat seperti menurunnya sehu permukaan tanah dan berkurangnya evaporasi tanah karena adanya naungan dan humus.

  6. Meningkatkan jumlah unsure hara karena adanya penambahan dan dekomposisi bahan organik yang jatuh ke atas permukaan tanah” (Vergara, 1982).

Agroforestri sebagai Upaya Konservasi


Rahmawaty mengutarakan bahwa “pada hutan dengan pengkombinasian tanaman perkayuan dengan tanaman pangan/palawija yang bisa dikenal dengan istilah agroforestri. Pola pemanfaatan lahan seperti ini banyak manfaatnya, antara lain: pendapatan per satuan lahan bertambah, erosi dapat ditekan, hama dan penyakit lebih banyak dikendalikan, biaya perawatan tanaman dapat dihemat, waktu petani di lahan lebih lama” (Rahmawaty, 2004). Sementara itu menurut Atmojo “secara teknis konservasi, adanya variasi antara tanaman pertanian (pangan, hortikultura) dengan rumput diantara tegakan tanaman tahunan, akan meningkatnkan penutupan lahan secara sempurna. Varisasi tanaman tahunan dan tanaman pertanian ini akan mengurangi pengaruh pukulan butir hujan secara langsung ke permukaan tanah (terhindar dari rusaknya struktur tanah), melindungi daya transportasi aliran permukaan, menahan sedimen, meningkatkan pasokan air di dalam tanah dan pengurangi evaporasi sehingga meningkatkan ketersediaan air tanah, dan meningkatkan cadangan air di musim kemarau” (Atmojo, 2008).

Menurut Widiyanto “ agroforestry memiliki dua dimensi utama, yaitu aspek sosial-ekonomi dan aspek lingkungan. Secara ekonomi agroforestry telah terbukti cukup berhasil dalam memenuhi kebutuhan jangka pendek masyarakat melalui agro dan jangka panjang melalui tanaman kayunya. Bahkan diharapkan sistem agroforestry diharapkan dapat menjadi suatu solusi masalah kemiskinan di Indonesia. Dalam kegiatan ini masyarakat dapat memanfaatkan lahan hutan untuk kegiatan yang menghasilkan tanaman pangan di antara tanaman hutan dan pohon jenis serbaguna. Selain itu masyarakat dapat mengembangkan teknologi budidaya mereka melalui teknik (kearifan) lokal. Seperti pengembangan tanaman pekarangan, kebun, pemeliharaan hutan sekunder, dan kawasan lindung sekitar desa untuk perlindungan tata air dan mengelola hasil hutan dengan cara pemanfaatan hasil hutan non-kayu” (Widiyanto, 2013)

Penelitian yang dilakukan oleh Maria, Lestiana dan Mulyono pada lahan agroforestri di Subang menerangkan bahwa “peran agroforestri dalam mengatasi kekritisan lahan antara lain :

  1. Meningkatkan peresapan airtanah,
  2. Mengurangi aliran permukaan,
  3. Mencegah banjir di hilir,
  4. Mengurangi laju evapotranspirasi,
  5. Meningkatkan unsur hara dan memperbaiki struktur tanah,
  6. Menjaga baseflow di musim kemarau,
  7. Perlindungan terhadap ekologi daerah hulu,
  8. Mengurangi suhu permukaan tanah,
  9. Mengurangi erosi tanah” (Maria et al, 2012).

Selanjutnya Maria, Lestiana dan Mulyono menerangkan bahwa “dalam pemilihan jenis tanaman selain memperhatikan faktor klimatis juga diupayakan menentukan vegetasi asli di tempat tersebut sebagai sumber jenis pohon yang dapat tumbuh baik di berbagai tempat. Hal ini dapat menghindarkan pemaksaan pengembangan jenis pohon yang kurang sesuai dengan iklim daerah Subang. Pertimbangan lain adalah penguasaan teknologi pengembangan dan penyediaan benihnya” (Maria et al, 2012).

2 Likes