Apa yang dimaksud dengan Agile Roadmaps oleh Atlassian?

Atlassian memiliki layanan di website-nya (Atlassian Agile Coach) yang membahas mengenai Agile Product Roadmap by Atlassian. Apa yang dimaksud dengan hal tersebut?

1 Like

Atlassian merupakan perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan produk, sofware dan teknologi. Salah satu layanan yang ditawarkannya adalah Agile Coach, semacam kumpulan artikel, materi dan pembelajaran mengenai manajemen produk, scrum, dan sebagainya. Agile product roadmap sendiri merupakan rencana tindakan untuk suatu produk atau solusi akan berkembang seiring waktu. Pemilik produk (product owner) menggunakan roadmap (peta jalan) untuk menjelaskan fungsionalitas masa depan produk dan kapan fitur baru akan dirilis. Ketika digunakan dalam pengembangan yang sifatnya lincah dan cepat (agile), peta jalan menyediakan konteks yang penting untuk pekerjaan sehari-hari tim, dan harus responsif terhadap pergeseran dalam lanskap pasar produk yang kompetitif. Beberapa tim agile dapat berbagi satu peta jalan produk.

Membangun Roadmap (Peta jalan)
Untuk membangun roadmap, pemilik produk memperhitungkan pasar, value propositions, dan batasan-batasan didalam tekniknya. Setelah faktor-faktor ini dipahami dengan baik, mereka diekspresikan di sebuah roadmap sebagai inisiatif dan timeline. Dibawah ini merupakan contoh roadmap sederhana untuk tim produk. Inisiatif ditandai dengan warna biru dan timeline diinidkasikan oleh milestone-markers berwarna merah.

Membagikan Roadmap
Setelah roadmap dibuat, roadmap tersebut butuh untuk dibagikan pada seluruh tim produk, jadi setiap member didalamnya paham akan visi dan direksi dari produk tersebut dibuat. Di banyak organisasi, pemilik produk membuat roadmap-roadmap mereka dengan PowerPoint atau spreadsheet, dan mengirimnya ke tim. Meski maksud dan tujuannya baik, strategi ini salah dari awal. Semua member dari tim member memiliki copy masing-masing dari roadmap tersebut, dan bagaimana jika roadmap mengalami perubahan yang cukup kompleks? Bagaimana pula pemilik produk tetap mendapatkan informasi terkait akan perubahan-perubahan tersebut? Sederhana. Kebanyakan dari tool yang menyediakan fitur collab akan memberitahu semua member atau partisipan akan perubahan pada roadmap. Ketika menambahkan sebuah inisiatif kedalam roadmap, pertimbangkan beberapa pertanyaan berikut ini:

Sebelum kita membahas mengenai solusi forecasting yang sifatnya dinamis, mari kita bicarakan tahapan membangun sebuah rencana long-term agile dengan menggunakan pembangunan rumah sebagai metafora:

  • Apa yang merupakan prioritas relatif dari setiap inisiatif?
  • Kapan kita bermaksud untuk bekerja pada setiap inisiatif?
    • Apakah terdapat tanggal-tanggal tertentu yang tim perlu untuk hit?
    • Apa dependensi yang dimiliki program - baik internal, atau pada tim lain?
  • Tim yang mana yang akan mengerjakan setiap inisiatif?
    • Apakah tim yang sekarang memiliki ketersediaan didalam jadwal dan kapasitas mereka?
  • Dapatkan kita membuat tim agile yang sekarang tetap stabil? Jika tidak…
    • Bagaimana tim ini akan di re-organisir?
      • Apakah kita memperhitungkan tim-tim yang baru terbentuk dalam timeline proyek?

Menggunakan Roadmap
Sangat penting untuk tetap mengubungkan pekerjaan tim ke roadmap supaya tim produk dan pemilik produk mendapatkan keseluruhan ‘konteks’ seperti yang sudah diulas diatas. Cara yang terbukti dan benar dalam melakukan hal ini adalah untuk mem-break down inistiatif kedalam epic-epic pada product backlog, lalu mendekomposikan mereka kedalam requirement dan user stories. Menerapkan hal tersebut secara bersamaan dapat memudahkan pemilik produk dan development team untuk membuat keputusan jangka pendek yang tidak membahayakan pekerjaan dan rencana di masa depan. Katakan saja, jika seseorang bersama timnya meluncurkan sebuah fitur profil yang ekstensif di website mereka. Lalu mereka menemukan bahwa customer mereka tidak engage dengan fitur tersebut, lalu apa yang harus mereka lakukan? Melanjutkan investasi tersebut atau tidak? Mungkin, mungkin tidak. Mereka harus paham bahwa engagement fitur tersebut rendah. Jadi, alih-alih meneruskan fitur tersebut, mereka mungkin bisa menerapkan beberapa A/B testing dengan harapan bisa memperoleh beberapa insight mengenai low engagement tersebut --dimana hal tersebut mungkin bisa mengarahkan mereka ke sebuah hal yang mungkin jauh lebih sulit. Kemampuan untuk mundur (step back) dan melakukan riset sebelum melakukan keputusan yang pivotal merupakan intisari dari agile roadmap itu sendiri. Hal tersebut memberikan tim sebuah kemampuan untuk mengembangkan fitur sembari mereka mempelajari lebih banyak mengenai produk dan pasar produk mereka.

Mengembangkan Roadmap
Waterfall project membutuhkan investasi yang besar pada awalnya. Sebagai hasilnya, member tim menjadi secara emosional terikat dengan roadmap-nya dan mengorbankan untuk membuat keputusan yang tepat, dan mereka akan merasa tersiksa untuk kembali (undo) ke pekerjaan yang telah mereka kerjakan, waterfall tentu sangat berbeda dengan agile.

Pengembangan produk dengan agile memuat 3 (tiga) resiko yang berbeda-beda:

  1. Tim dapat kehilangan kepercayaan pada kemampuan pimpinan untuk membuat keputusan strategis jika peta jalan diperbarui terlalu sering.
  2. Produk mungkin tiba terlambat di pasar dan kehilangan permintaan jika peta jalan tidak diperbarui dengan cukup sering.
  3. Upaya jangka panjang dapat tampak “terlalu besar dan terlalu sulit” untuk iterasi yang lebih pendek. Tim mengimbangi hal yang berlebihan tersebut dengan memecah pekerjaan menjadi beberapa bagian yang lebih kecil, dan akhirnya terlalu berfokus pada hasil jangka pendek.

Untuk memerangi dan mengimbangi resiko-resiko yang negatif, peta jalan dapat dibuat dengan terfokus pada taktik jangka pendek dan strategis, dan tujuan jangka panjang. Cara terbaik untuk melakukan ini adalah dengan meninjau peta jalan setiap tiga bulan, menyesuaikan sesuai kebutuhan, dan berbagi pada setiap partisipan dan member tim. Ini dapat berfungsi dengan baik dalam berbagai ukuran organisasi, tetapi ingat: satu peta jalan dapat menjangkau beberapa tim yang gesit, jadi periksa, beradaptasi, dan komunikasikan dengan tepat.

Sumber: https://www.atlassian.com/agile/product-management/roadmaps