Apa yang dimaksud dengan Adiksi?

adiksi

Adiksi merupakan suatu kondisi ketergantungan fisik dan mental terhadap hal-hal tertentu yang menimbulkan perubahan perilaku bagi orang yang mengalaminya.

Bagaimana penjelasan lebih rinci terkait dengan adiksi ?

Adiksi dapat didefinisikan sebagai suatu pola perilaku yang dapat meningkatkan resiko penyakit dan masalah personal serta masalah sosial. Perilaku adiktif biasanya dialami secara subjektif sebagai “loss of control” dimana perilaku terus muncul meskipun telah adanya usaha untuk menghentikan perilaku tersebut. (Marlatt dkk, 1988 dalam Thombs, 2006).

Menurut Thombs (2006) terdapat tiga persepsi mengenai adiksi yaitu adiksi sebagai perilaku yang tidak bermoral, adiksi sebagai penyakit, dan adiksi sebagai perilaku maladaptif. Adiksi sebagai perilaku tidak bermoral yang sering juga dinamakan dengan adiksi sebagai perilaku dosa ini adalah sebuah set kepercayaan bahwa adiksi merepresentasikan suatu penolakan untuk menerima kode etik atau atau moral.

Minum alkohol yang berlebihan dan penggunaan obat- obatan dianggap sebagai perilaku yang bebas dipilih yang tidak bertanggung jawab dan jahat. Dengan asumsi ini maka manusia dianggap sebagai agen bebas. Pada persepsi adiksi sebagai penyakit mempertahankan pernyataan bahwa alcoholics dan para pecandu adalah korban dari suatu penyakit. Individu yang ketergantungan tidaklah sakit atau bukan tidak bertanggung jawab, hanya sakit saja. Maka penggunaan obat - obatan atau alkohol tidak dipilih secara bebas oleh individu, tetapi perilaku adiksi tersebut berada di luar kontrol korbannya.

Sedangkan pada adiksi sebagai perilaku maladaptif, adiksi tidak dianggap sebagai suatu dosa atau penyakit tetapi merupakan suatu masalah perilaku yang dipengaruhi oleh lingkungan , keluarga, sosial dan kognitif. Pada persepsi ini, pecandu merupakan korban dari destructive learning conditions. Dengan kata “maladaptif”, maksudnya adalah pola perilaku yang memiliki konsekuensi - konsekuensi buruk bagi diri pecandu dan atau keluarganya.

Ciri – Ciri Adiksi

Carnes (1991 dalam Diclemente, 2003) menyebutkan terdapat 10 ciri – ciri perilaku adiktif yaitu :

  • Pola perilaku yang tidak terkontrol
  • Adanya konsekuensi – konsekuensi sebagai akibat dari perilaku
  • Ketidakmampuannya untuk menghentikan perilaku
  • Terjadinya self – destructive yang terus menerus
  • Keinginan atau usaha terus menerus untuk meminimalisir perilaku
  • Menggunakan perilaku sebagai strategi coping
  • Bertambahnya tingkat perilaku dikarenakan tingkat aktivitas dari perilaku selama ini sudah tidak memuaskan lagi atau tidak cukup.
  • Perubahan mood
  • Banyaknya waktu yang digunakan untuk melakukan perilaku tersebut atau berusaha untuk menghilangkan.
  • Aktivitas bekerja, rekreasi dan sosial yang penting menjadi terabaikan karena perilaku tersebut.

Adiksi sebagai Affect Defense

Adiksi sebagai affect defense dapat dilihat asalnya dari perspektif psikoanalisa yang berkaitan dengan struktur kepribadian, kecemasan dan mekanisme pertahanan.

1. Struktur Kepribadian

Dalam Thombs (2006), pada perspektif psikoanalisa tingkah laku manusia adalah hasil dari interaksi tiga subsistem utama dalam kepribadian yaitu id, ego dan superego.

  • Id adalah sumber asli dari kepribadian dan banyak terdiri dari dorongan insting. Id bekerja melalui “the pleasure principle” yaitu tingkat ketegangan yang tinggi membuat Id untuk bereaksi untuk mengurangi ketegangan secepatnya dan mengembalikan individu ke tingkat energi rendah yang nyaman. Tujuan dari Id adalah untuk menghindari rasa sakit dan untuk meningkatkan kesenangan.

  • Ego beranjak dari Id untuk memenuhi kebutuhan individual yang membutuhkan hubungan dengan dunia luar. Untuk bertahan hidup individu perlu mencari makanan, minuman, tempat tinggal, seks, dan kebutuhan dasar lainnya. Ego mengusahakan kebutuhan ini dengan membedakan antara kebutuhan subyektif dari pikiran dan sumber yang tersedia di dunia luar. Tujuan dari ego adalah untuk menahan pleasure principle untuk sementara sampai waktunya dimana ditemukannya tempat dan onjek yang sesuai untuk mengeluarkan ketegangan. Dengan cara ini maka ego merupakan suatu komponen dai kepribadian yang menengahi anatar id dengan kenyataan pada dunia luar.

  • Superego, yaitu komponen moral dari kepribadian. Superego muncul dari pembelajaran akan moral dan kepercayaan sosial. Meskipun ketiga subsistem bekerja sebagai suatu kesatuan namun tiap subsistem merepresentasikan pengaruh yang berbeda - beda pada perilaku manusia.

2. Kecemasan

Kecemasan memegang peranan penting dalam teori psikoanalisa. Tujuan dari kecemasan adalah untuk memberi peringatan pada individu bahwa akan adanya bahaya, seperti rasa sakit. Hal ini juga merupakan sinyal untuk ego melakukan tindakan pencegahan untuk mengurangi ancaman.

Seringkali ego dapat menghadapi kecemasan dengan cara rasional tetapi juga seringkali ego didominasi oleh kecemasan yang tidak terkontrol. Pada situasi tersebut, cara rasional telah gagal dan ego mengeluarkan suatu bentuk pertahanan yang tidak rasional yang disebut dengan mekanisme pertahanan. Mekanisme pertahanan dan proses lainnya beroperasi pada tingkat ketidaksadaran.(Thombs, 2006)

3. Abuse as affect defense

Para psikoanalisis menyatakan bahwa penggunaan suatu substansi merupakan mekanisme pertahanan (Khantzian, 1980; Wurmer, 1980 dalam Thombs, 2006). Pecandu menggunakan alkohol atau obat-obatan untuk melindungi diri mereka dari kecemasan yang berlebihan, depresi, rasa bosan, rasa bersalah, rasa malu dan emosi negatif lainnya.

Selain itu, para psikoanalisis juga memiliki pandangan bahwa emosi negatif bukanlah sebagai suatu konsekuensi dari penggunaan substansi tetapi sebagai penyebabnya (Khantzian, 1980 dalam Thombs, 2006).

4. Addiction to Feelings

Harvey Milkman dan Stanley Sunderwirth dalam Arenson (2003) mengatakan bahwa manusia selalu akan menginginkan tiga macam emosi positif atau perasaan yaitu ketenangan, kesenangan dan fantasi. Terkadang manusia akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan perasaan – perasaan tersebut dan menghilangkan ketidaknyamanan dan kecemasan dalam hidup.

Adiksi adalah kondisi yang kompleks, suatu penyakit otak yang dimanifestasikan oleh penggunaan zat secara kompulsif meski dengan konsekuensi merugikan (APA, 2017). Menurut definisi terbaru yang diajukan oleh American Society of Addiction Medicine (ASAM), adiksi bukan hanya perilaku tapi juga penyakit otak kronis. Adiksi meliputi:

  • ketidakmampuan untuk secara konsisten menjauhkan diri;
  • gangguan dalam pengendalian perilaku;
  • keinginan atau peningkatan untuk obat-obatan atau pengalaman berharga;
  • berkurangnya pengakuan akan masalah yang signifikan dengan perilaku dan hubungan interpersonal seseorang; dan
  • disfungsi respons emosional (Sdrulla, dkk., 2014)

Adiksi merupakan suatu kondisi ketergantungan fisik dan mental terhadap hal-hal tertentu yang menimbulkan perubahan perilaku bagi orang yang mengalaminya. Dalam adiksi, terdapat tuntutan dalam diri untuk menggunakan secara terus menerus dengan disertai peningkatan dosis terutama setelah terjadinya ketergantungan secara psikis dan fisik serta terdapat pula ketidakmampuan untuk mengurangi dan/atau menghentikan meskipun sudah berusaha keras (Pramuditya , 2015).

Adiksi merupakan suatu kondisi ketergantungan fisik dan mental terhadap hal-hal tertentu yang menimbulkan perubahan perilaku bagi orang yang mengalaminya. Dalam adiksi, terdapat tuntutan dalam diri penyalahgunaan narkoba untuk menggunakan secara terus menerus dengan disertai peningkatan dosis terutama setelah terjadinya ketergantungan secara psikis dan fisik serta terdapat pula ketidakmampuan untuk mengurangi dan/atau menghentikan konsumsi narkoba meskipun sudah berusaha keras.

Adiksi atau ketergantungan terhadap narkoba merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami ketergantunga secara fisik dan psikologis terhadap suatu zat adiktif dan menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut.

1. Adanya proses toleransi

Individu membutuhkan zat yang dimaksudkan dalam jumlah yang semakin lama semakin besar, untuk dapat mencapai keadaan fisik dan psikologis seperti pada awal mereka rasakan

2. Adanya gejala putus zat (withdrawal syndrome)

Individu akan merasakan gejala-gejala fisik dan psikologis yang tidak nyaman apabila penggunaannya dihentikan. Perasaan yang tidak nyaman fisik seperti sakit, mata berair, lemas, diare, muntah, dan sebagainya. Pada akhirnya gejala fisik tersebut dapat menurunkan berat badan dan menimbulkan katergantungan para narkoba, serta komplikasi medis.

Secara psikologis, gejala putus obat ditandai dengan munculnya perasaan malu, rasa bersalah, curiga, tidak aman, amarah, kesepian, tidak percaya diri, cemas, gangguan kepribadian, tidak toleran, mengalami penolakan, curiga (terutama pada pengguna methamphetamine ), dan halusinasi.

Selain terhadap kondisi fisk dan psikologis, seorang pengguna juga mengalamigangguan pada perilakunya. Dalam kehidupan sosial, seseorang penyalahguna narkoba akan mengisolasi diri, lari dari kenyataan, manipulatif, mengalami kemunduran moral, motivasi rendah, berperilaku anti sosial, kemampuan sosial menurun, egois, pandangan dunia tida realistik, dan lain-lain.

  • Merupakan penyakit primer

Seringkali tidak diperlukan suatu kondisi awal yang khusus untuk dapat menyebabkan seseorang menjadi penyalahguna.

  • Kronis

Penyakit adiksi ini merupakan kondisi yang berulangkali kambuh dan terus menerus menghinggapi pengguna narkoba seumur hidupnya. Yang mendorong dirinya untuk tidak terjerumus adalh dukungan dari lingkungannya, terutama dari keluarga dan teman terdekat, adaptasi yang baik dalam menghadapi masalah ini, dan komitmen pribadi yang selalu muncul selain dari dalam diri penyalahguna, juga dukungan lingkungannya

  • Progresif

Penyakit adiksi dengan kondisi fisik dan psikis dimana semakin lama semakin memburuk

  • Potensial Fatal

Bila tidak ditolong dapat mengakibatkan kematian atau mengalami komplikasi medis, psikologis, dan sosial yang serius.

Model-model Adiksi


Ada beberapa model ketergantungan yang digunakan untuk menjelaskan ketergantungan anrkoba dalamprogram rehabilitasi. Tidak ada model yang dianggap lebih baik dan lebih bermanfaat dalam suatu penyembuhan. Kebanyakan model-model itu digunakan secara gabungan dari beberapa model. Berikut ini adalah beberapa model diantaranya :

  1. Model Belajar Berperilaku (Learning Model)

Model ini beranggapan bahwa seseorang menyalahgunakan narkoba karena pengalaman pertamanya memperoleh “imbalan” yang menyenangkan dan “positif”. Hal-hal yang menyenangkan dan positif tersebut menyebabkan orang mengulang kembali perilaku penyalahgunaan tersebut.

  1. Model kognitif (Cognitive Model)

Model kognitif ini beranggaoan bahwa pikiran dan keyakinan adalah faktor-faktor penyebab utama dalam penyalahgunaan narkoba. Masalah medis, keuangan, dan masalah sosial yang serius bukanlah penyebab seseorang mulai menggunakan narkoba, tetapi merupakan sifat dasar yang membawa seseorang dimana terdorong pada suatu keyakinan adiktif yang menghasilkan perilaku ketergantungan.

  1. Model penyakit (Disease Model)

Dalam model ini penyalahguna narkoba dianggap sebagai kebiasaan menyimpang dimana menyebabkan kondisi menyakitkan pada fisik yang bersangkutan dan ketergantungan. Melalui penggunaan yang terus menerus seseorang penyalahgunaan narkoba akan kehilangan kendali dan perilakunya.

  1. Model Pengaruh Orang Tua (Parental Influence Model)

Penyalahgunaan narkoba dilakukan oleh orang tua dapat menjadi contoh buruk bagi anak-anak. Orang tua dapat menjadi munafik dan mengatakan kepada anak-anaknya.

  1. Model Gaya Hidup (Life Style Model)

Dalam pandangan model ini merupakan imbalan kehidupan yang menyenangkan mengubah kesadaran pada hal-hal yang destruktif, seperti penyalahgunaan narkoba. Orang-orang yang sudah mengalami ketergantungan akan sulit mengulang kebiasaan penyalahgunaan narkoba karena dapat diannggap menghilangkan eksistensi dirinya.

  1. Model Kelompok Sebaya ( Peeabstir Cluster Model )

Model ini beranggapan bahwa penyalahguna narkoba dimulai dan menjadi kebiasaan dalam kelompok sebaya. Dalam rangka menjaga hubungan dalam kelompok, orang meniru perilaku penyalahgunaan narkoba leh kelompok. Kemudian terjadi pembenaran yang akan emngubah keyakinan, nilai, perilaku, dan alasan-alasan.

  1. Model Pintu Gerbang ( Gateway Model )

Penyalahgunaan nerkoba tidak terjadi secara tiba-tiba. Seseorang penyalahgunaan narkoba tidak terjadi secara tiba-tiba. Seorang penyalahguna narkoba mulai menggunakan narkoba dari yang ‘ringan’ seperti rokok, alkohol, ganja sampai yang ‘berat’ seperti morphine, puptaw, shabu-shabu, kokain, dan sebagainya. Semua faktor tersebut menjadi oenentu dalam penyalahgunaan narkoba.

Proses Terjadinya Adiksi


Dapat dijelaskan sebagai berikut:

1. Abstinence (Abstinensia)

Adalah periode dimana seseorang sama sekali tidak menggunakan naroba untuk tujuan rekreasional.

2. Social Use

Adalah periode dimana individu mulai coba-coba menggunakan narkoba untuk tujuan rekreasional namun sama sekali tidak mengalami problem yang terkat dengan aspek sosial, finansial, medis, dan sebagainya. Umunya individu masih bisa mengontrol pengguna zatnya.

3. Early Problem Use

Adalah periode dimana individu sudah penyalahgunakan narkoba dan perilaku penyalahgunaan tersebut mulai berpengaruh pada kehidupan sosial individu tersebut, misalnya munculnya malas belajar, malas sekolah, keinginan bergaul hanya dengan orang-orang tertentu saja, dan sebagainya.

4. Early Addiction

Adalah periode dimana individu sampai pada perilaku ketergantungan baik mengganggu kehidupa sosial individu tersebut. Yang bersangkutan sulit mengikuti pola hidup orang normal sebagaimana mestinya dan mulai terlibta pada perbuatan yang melanggar norma dan nilai yang berlaku.

5. Severe Addiction

Adalah periode dimana individu hidup untuk mempertahankan keuntungannya, sama sekali tidak memperhatikan lingkungan sosial dan dirinya sendiri. Pada tahap ini, individu biasanya sudah terlibat pada tindak kriminal yang dilakukan demi memperoleh narkoba yang diinginkan.

Kapan seseorang dinyatakan sampai pada tahap kontinum terakhir (ketergantungan berat/ severe addiction ), sangat tergantung pada beberapa hal, yaitu:

Faktor individu : biologis, psikologis, dan sosial

Jenis zat : opiate adalah jenis zat yang paling cepat menimbulkan ketergantungan.

Dampak Terjadinya Adiksi


Dalam kecanduan seseorang terdapat sebuah siklus yang tidak berhenti kecuali seseorang mulai melakukan intervensi atau memutuskan pola adiksi tersebut. Pada intinya, siklus ini ini menjelaskan ketidaknyamanan yang dialami seorang penyalahguna dimana dia menggunakan narkoba sebagai sarana untuk

meningkatkan kondisinya, yang selanjutnya justru akan mendorong penyalahguna tersebut untuk mengalami rasa tidak nyaman kembali.

Keadaan fisik dan psikis yang muncul ketika penyalahgunaan narkoba mulai mengalami ketergantungan narkoba menyebabkan ketidaknyamanan yang ditunjukkan oleh perubahan perilaku dan ekspresi verbal dan non verbal.

Pola perilaku negatif pada diri penyalahguna narkoba tersebut menambah parah keadaan psikis yang sebaliknya akan juga memperburuk keadaan penyalahguna narkoba tersebut.

Berbagai macam pola negatif mendorong penyalahguna narkoba untuk terus mengkonsumsi narkoba. Hal ini akan memperburuk kembali keadaan fisik dan psikisnya dan akan membentuk perilaku yang semakin negatif.

Adiksi akan semakin parah dan tidak akan berakhir kecuali adanya usaha dari pengguna untuk benar-benar berhenti dari siklus tersebut.

Definisi mengenai adiksi atau kecanduan adalah sebagai berikut:

An activity or substance we repeatedly crave to experience, and for which we are willing if necessary to pay a price (or negative consequences). ” (Arthur T. Hovart, 1989)

Berdasarkan definisi di atas, kecanduan berarti suatu aktivitas atau substansi yang dilakukan berulang-ulang dan dapat menimbulkan dampak negatif. Hovart juga menjelaskan bahwa contoh kecanduan bisa bermacam-macam. Bisa ditimbulkan akibat zat atau aktivitas tertentu, seperti judi, overspending, shoplifting, aktivitas seksual, dsb. Salah satu perilaku yang termasuk di dalamnya adalah ketergantungan video games (Keepers, 1990).

Menurut Lance Dodes dalam bukunya yang berjudul “ The Heart of Addiction ” (dalam Yee, 2002) ada dua jenis kecanduan, yaitu physical addiction , adalah jenis kecanduan yang berhubungan dengan alkohol atau kokain, dan non- physical addiction , adalah jenis kecanduan yang tidak melibatkan dua hal diatas. Kecanduan terhadap internet game online termasuk pada jenis non-physical addiction .

Penyebab Kecanduan (Adiksi)

1. Ditinjau dari teori Belajar Sosial

Teori belajar sosial adalah hasil perkembangan teori belajar tradisional mengenai Stimulus-Respon. Teori ini masih memegang inti dari teori yang dikemukakan oleh para behaviorist: bagaimana belajar terjadi sebagai hasil dari pengaruh lingkungan. Bandura memberikan 3 konsep penting yang menjelaskan bagaimana teori belajar sosial mempengaruhi pembelajaran (Miller, 1993):

Belajar melalui observasi atau pengamatan bukan semata-mata sekedar meniru perilaku orang lain.

Meskipun reinforcement tidak diperlukan dalam pembelajaran, namun hal ini sangat membantu dalam hal pengaturan-diri pada anak.

Reciprocal Determinism menjelaskan model perubahan perilaku. Terdapat tiga sumber pengaruh dalam teori ini yang saling berinteraksi: individu, perilakunya, dan lingkungan.

Kecanduan bisa merupakan hasil observasi penggunaan substansi dan penyalahgunaan yang dilakukan oleh role model seperti orangtua (Eiser, 1985; Fischer & Smith, 2008; Neiss, 1993; Raskin & Daley, 1991, dalam Boden, 2008). Menurut beberapa teori kecanduan, perilaku kecanduan dapat ditimbulkan oleh adanya penggunaan substansi bersama dengan teman sebaya dan orang lain (Bloor, 2006; Duncan, et, al., 1998; Jenkins, 1996; Wills, et, al., 1998, dalam Boden, 2008).

Kriteria Kecanduan

Untuk mengatakan seseorang adalah pecandu bukan hal yang mudah. Namun ada dua hal yang bisa dijadikan tolok ukur seperti halnya kecanduan terhadap substansi. Terdapat dua simtom yang menjadi tolok ukur kecanduan yaitu dependence dan withdrawal (Yee, 2003).

Seseorang yang mengalami dependence pada zat maka dia akan selalu memerlukan zat tersebut untuk membuat hidupnya terus berjalan, tanpa zat maka dia tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Jika penggunaan zat dihentikan maka dia akan mengalami withdrawal (penarikan diri) yang ditandai dengan marah, cemas, mudah tersinggung, dan frustrasi.

Cromie (1999, dalam Kem, 2005) menyebutkan ancaman paling umum saat seseorang kecanduan adalah ketidakmampuannya dalam mengatur emosi. Individu lebih sering merasakan perasaan sedih, kesepian, marah, malu, takut untuk keluar, berada dalam situasi konflik keluarga yang tinggi, dan memiliki self- esteem yang rendah.

Hal ini mempengaruhi hubungan dengan teman sekamar, siswa lainnya, orangtua, teman, fakultas, dan pembimbing. Pecandu juga kesulitan membedakan antara permainan atau fantasi dan realita. Pecandu cenderung menutupi masalah psikologis tersebut.

Adiksi adalah suatu perilaku yang tidak sehat yang berlangsung secara terus menerus yang sulit diakhiri oleh individu yang bersangkutan (Yee, 2006). Seotjipto (2007) menyebutkan bahwa adiksi adalah suatu gangguan yang sifatnya kronis, ditandai dengan perbuatan kompulsif yang dilakukan seseorang secara berulang-ulang untuk mendapatkan kepuasan pada aktivitas tertentu.

Addiction atau adiksi atau kecanduan adalah keadaan dimana seseorang memiliki dorongan tak terkendali, sering disertai dengan hilangnya kontrol, keasyikan dengan penggunaan, dan terus menggunakan meskipun menyebabkan masalah.

Penggunaan kata adiksi sebenarnya lebih tepat digunakan pada kecanduan obat. Meskipun demikian, definisi adiksi telah mengalami pergeseran arti dan mencakup sejumlah perilaku, seperti judi berulang, bermain video game, makan berlebihan, olahraga, hubungan percintaan, dan menonton televisi (Young, 2017).