Apa yang Dimaksud denga Totemisme dalam Studi Antropologi?

image
Totemisme merupakan aliran religi atau kepercayaan orang-orang terdahulu.

Apa yang dimakud dengan Totemisme?

Sementara suatu bentuk baru religi primitif, telah menampakkan diri di samping animisme, yakni totemisme. Apa sebenarnya totem itu, belum tepat orang mengetahuinya, namun orang telah mengerti bahwa totem itu sering berhubungan dengan klan eksogam dan itulah yang membuatnya istimewa menarik bagi banyak orang. Sementara pemikiran mereka belum begitu jelas mengenai eksogami tersebut, maka melalui totemisme mereka pun berharap akan lebih memahami alasan-alasan yang menyebabkan orang melarang perkawinan dan pergaulan seks dengan orangorang yang paling dekat dan meluaskan larangan itu kepada perempuan-perempuan yang bukan kerabat, semata-mata oleh karena mereka itu adalah tergolong pada bagian kelompok Ego yang sama. Totemisme dengan demikian berkali-kali memainkan peran dalam teori-teori pada waktu itu. Agar teori-teori itu tidak saja dapat dipahami, tetapi juga dapat dinilai, maka ada gunanya, kalau beberapa dari teori-teori yang pertama diteliti terlebih dahulu, kemudian disusul dengan suatu ikhtisar pendek mengenai fakta-fakta yang sebenarnya dan yang lebih penting tentang totemisme.

Totemisme dapat didefinisikan sebagai kepercayaan akan adanya hubungan gaib antara sekelompok orang dan segolongan binatang atau tanaman atau benda materi. Definisi itu tidak terlalu jauh dari definisi yang sudah diberikan oleh G. Frazer dalam tahun 1887 tentang totem, yakni segolongan obyek materi, sangat sering binatang atau tanaman, yang oleh orang liar karena takhyul dipandang dengan rasa hormat, sebab percaya, bahwa antara golongan benda-benda itu dengan dirinya ada suatu relasi yang intim dan sangat khusus (dalam Totemism, buku pertama Frazer).

Kata totem mula-mula dikenal dari karya Long, Voyages and Travels of an Indian Interpreter (London, 1791) yang menulis tentang “totam” di antara orang-orang Indian Chippeway. J.F. McLennan menulis tiga buah artikel mengenai hal itu dalam Fortnightly Review (1869/70), yang berjudul The Worsbip of Animals and Plants. Ia tidak mengemukakan teori khusus, namun dalam majalah yang sama tak lama kemudian teori tersebut diberikan oleh Herbert Spencer. Pengarang ini mengatakan bahwa penyebab kebiasaan itu adalah tidak sempurnanya bahasa. Seorang yang pada masa hidupnya menyandang nama binatang, nantinya menikmati pemujaan sebagai leluhur. Pada waktu itu tidak lagi dipahami bahwa nama bintang itu hanya merupakan nama belaka, dan mengira bahwa leluhur mereka itu benar-benar adalah binatang, yang sekarang akhirnya juga dipuja.

Selain Herbert Spencer, orang lain juga telah menciptakan dongeng semacam itu untuk menerangkan totemisme. Biarlah kita tinggalkan saja dongeng-dongeng semacam itu. Kita harus menyelidiki totemisme itu di sini secara singkat sesuai dengan kenyataan yang sebenamya. Pada hakikatnya, totemisme merupakan aneka ragam persoalan yang besar. Dan pertama-tama kita harus menyelidiki dulu totemisme-klan yang paling terpencar. Suatu klan adalah suatu kelompok unilineal, biasanya eksogam, yang dapat menelusuri asal-usul leluhurnya yang tradisional, atau dikatakan secara lebih tepat: yang para anggotanya dapat menelusuri identitasnya dari suatu simbol bersama, sering lewat asal-usul suatu leluhur atau kelompok bersama.

Pada sejumlah tempat di dunia kita dapati hubungan antara klan dan suatu jenis tanaman atau binatang, dalam hal ini suatu benda; dan hubungan ini dinamakan totemistis oleh karena anggota-anggota klan itu menyadari adanya suatu relasi khusus dengan totem tersebut, dan relasi ini akan dibahas lebih lanjut. Totem ini, demikianlah mereka berkata, adalah mereka punya. Sering mereka itu menamakan diri mereka menurut totem ini. Kadang-kadang anggota klan dan totem itu berasal dari suatu leluhur bersama, berupa binatang ataupun manusia, atau yang mempunyai anak-anak yang berupa binatang ataupun berupa manusia. Dalam kasus-kasus lain totem itu dibuat oleh leluhurnya atau leluhur itu mengalami suatu peristiwa khusus dengan totem tersebut.

Hubungan istimewa dengan totem dapat dinyatakan dengan sejumlah cara. Kadang-kadang anggota-anggota klan menggunakan suatu lencana pada peristiwa tertentu, yang merupakan lencana totem. Sering terjadi bahwa totem tidak boleh dibunuh atau dimakan. Namun juga sebaliknya bisa terjadi. Kadang-kadang anggotaanggota klan itu bangga bahwa leluhur mereka telah menciptakan semacam makanan tertentu atau telah menciptakan jenis tertentu, yang dengan nikmat mereka makan seperti juga anggota-anggota klan lain. Dalam hal-hal demikian adalah biasa, bila klan totem itu dibebani kewajiban untuk melakukan ritual-ritual tertentu yang mengakibatkan ciptaan jenis tersebut akan terus berlangsung.

Totem tidak selalu binatang atau tanaman. Matahari dan bulan bisa dijadikan totem, kadang-kadang juga gunung atau sungai tertentu. Dalam hal ini, semuanya mungkin, dan sehubungan dengan hal ini, suatu klan tidak mesti mempunyai satu totem, tetapi mempunyai suatu seri totem dengan satu atau dua di antaranya yang karena pentingnya, biasa disebut-sebut. Di mana hal yang semacam itu terjadi (Marind-Anim, beberapa suku di Australia) alamnya sedikit banyak terbagi untuk dan oleh seluruh klan itu. Pembagian itu mendapat bentuk pengklasifikasian, bilamana klan-klan itu terbagi lagi dalam moiety atau pbratri.

Di mana terdapat totemisme yang “multiple”, pengklasifikasian tersebut sering terjadi. Pada suku Marind-Anim terdapat misalnya, separuh-suku yang satu bertalian dengan tenggara, musim kering, matahari, bulan, tanah kering, tanaman tanah kering, dan aktivitas seperti homoseks serta pimpinan ritual besar, sedang pengaruh yang lain bertalian dengan barat laut, musim hujan, air, laut, rawa-rawa dan aktivitas-aktivitas seperti hetero-seks, mengayau, ilmu sihir dan pesta. Hal yang lain bisa juga terjadi. Pada suku Massim Selatan di Irian timur paling ujung, setiap klan memiliki empat totem: seekor burung, seekor ular, seekor ikan, dan sebatang tanaman. Burung selamanya menjadi totem utama. Setiap klan jadi terasosiasi dengan semua segi alam.

Tidak banyak persatuan yang terdapat pada suku Massim Selatan ini. Kemungkinannya sangat beraneka ragam. Juga kelompok-kelompok yang saling berkaitan dengan totem itu, sangat berbeda-beda. Biasanya kelompok itu adalah suatu klan, akan tetapi bisa juga sub-klan, seksi, phratri, dan moiety bisa mempunyai totemnya yang sendiri. Hal ini terjadi di Australia; setiap kelompok nampaknya cenderung untuk mengasosiasikan dirinya dengan suatu simbol totem. Bahkan di Australia terdapat totemisme kelamin. Masing-masing kelamin memiliki totemnya sendiri, misalnya kelelawar dan burung hantu. Bilamana suku Kurnai (Australia Selatan) membunuh totem dari kelamin lain, maka hal ini dianggap sebagai suatu penghinaan yang menantang suatu aksi. Pertempuran di antara kedua kelamin menyusul dan, seperti yang bisa diharapkan dari pertempuran semacam itu, akhirnya menyusul perkawinan.

Juga ditemukan suatu bentuk totemisme lain lagi, yakni totemisme perorangan. Maka antara seorang pribadi dan suatu jenis terjadilah relasi totemisme semacam itu. Hal ini terutama terdapat di Amerika-Utara sehubungan dengan apa yang dinamakan vision-quest. Setiap pemuda (kadang-kadang juga gadis) harus berpuasa dalam kesepian untuk mendapatkan suatu ilham dan dari ilham perorangan itu dapat dijadikan suatu totem. Totemisme perorangan terdapat di Australia antara para dukun.

Tentu saja terdapat perbedaan penting antara totemisme klan (atau kelompok) dengan totemisme perorangan. Dalam hal yang pertama relasi dengan totem itu didasarkan atas kelahiran, yaitu asal-usul atau kelamin, tetapi bagaimanapun juga dalam urutan tata alamiah, sedangkan dalam totemisme perorangan, merupakan pengalaman istimewa. Perbedaan itu nampaknya lebih penting dari yang sebenarnya. Pada akhir abad ini ternyata yang terakhir (ialah asosiasi dengan suatu pengalaman istimewa) juga mungkin dengan beberapa totem kelompok tertentu. Pada waktu itu ditemukan kasus, bahwa di Australia Tengah, totem itu ditentukan atas dasar suatu pengalaman seorang ibu. Bilamana ia merasakan hidup pertama dalam kandungannya, maka ia memberitahukan kepada orang tua-tua mengenai tempat kejadiannya. Orang tua-tua itu kemudian mampu menetapkan leluhur totem yang mana telah berjasa dalam peristiwa itu. Persoalannya ialah bahwa pada saat itu suatu benih hidup masuk menembus tubuh wanita itu, ialah benih yang dikirim oleh leluhur totem itu atau yang identik dengannya. Benih ltu menembus kandungan wanita itu dan berinkarnasi lagi di dalam kandungan. Hal semacam itu disebut totemisme-konsepsi.

Di tempat lain totem itu bisa didasarkan atas impian ayah. Hal ini disebut totemisme impian. Dalam kedua hal tersebut, hamilnya wanita itu tidak dikatakan disebabkan oleh ayahnya, akan tetapi oleh leluhur totem. Peran ayah dalam menjadi ayah itu tidak diakui. Namun demikian antara ayah dan anak, benar ada hubungan, sebab juga pada totemisme-konsepsi dan totemisme impian anak tetap menjadi anggota kelompok yang berurusan dengan ritual totem-kultus patri-klannya, yakni totemkultus ayah dari anak tersebut. Totem impian atau totem konsepsi adalah suatu hubungan perorangan yang bersifat superaatural yang bisa menjadi satu atau tidak dengan totem-klan dari sang ayah, namun yang tidak akan merugikan keanggotaan kelompok kultus ayahnya (jadi sekaligus kultus klan) yang juga kelompok kultusnya. Sebelum tahun 1890, hal ini hanya diketahui sedikit sekali, dan member kesempatan untuk segala macam fantasi. Salah seorang di antaranya yang ikut melakukan khayalan itu ialah Robertson Smith. Akan tetapi bukan karena hal itu, ia tetap terkenal dalam sejarah dan dewasa ini pun tetap dikutip. Ia adalah seorang dengan kepribadian yang luar biasa.

Totem atau dikenal dengan penyebutan simbol. Kata simbol sendiri berasal dari kata Yunani yaitu sumballeo, sumballein, atau sumballesthai yang berarti berunding, berdebat, merenungkan, bertemu, membantu, berwawancara, melemparkan menjadi satu, menyusun atau menyatukan, menetapkan, menggabungkan, menyetujui, membandingkan, menjelaskan, menafsir, atau mengapresiasi.

Simbol juga berarti menyatukan dua hal lalu menjadi satu. Kata ini berasal dari suatu kegiatan praktis pada masa lampau berupa sebuah cincin, koin, atau lempengan tanah liat yang dibagi menjadi dua, yang berarti untuk menggandakan perjanjian antara dua pihak. Setengah berarti pelengkap dari setengah yang lainnya.

Kegiatan praktis dalam bentuk potongan suatu bagian dengan maksud untuk membandingkan dan mencocokkan pasangan adalah awal keberadaan simbol. Potongan-potongan dari suatu unit yang dibagi, keduanya disebut simbol.

Menurut Durkheim sendiri, dalam satu pemujaan terdapat sesuatu yang lebih primitif dan fundamental yaitu apa yang disebut sebagai totemisme. Kata totem baru muncul dalam etnografi menjelang abad ke-18. Pertama kali kata ini muncul dalam buku penafsiran Indian, J. Long yang diterbitkan di London tahun 1791.

Pemujaan totemisme ini ditemukan Durkheim ketika ia meneliti suku di Australia yang terbagi berdasarkan kolektif. Marga adalah satu kelompok yang memiliki tempat istimewa dalam kehidupan kolektif. Ada dua ciri marga yaitu, pertama individu-individu yang menjadi anggotanya merasa terikat oleh hubungan kekeluargaan. Ikatan ini sangat khas, karena mereka terikat dengan mamakai nama yang sama.

Hal ini disebabkan karena secara kolektif mereka ditandai dengan kata atau nama yang sama. Setiap marga suku yang sama memiliki totem yang berbeda-beda dan objek-objek yang dijadikan sebagai totem berasal dari dunia binatang atau tumbuhan. Totem biasanya bukanlah bersifat individual, melainkan spesies atau ragam. Para leluhur dihadirkan dalam bentuk mitos sebagai bagian dari marga yang mengambil bentuk binatang atau tetumbuhan.

Totem biasanya tidak bersifat individual, melainkan beragam. Totem bukan hanya sekedar nama, melainkan sebuah lambang dan mirip dengan lencana pengenal untuk menunjukkan identitas yang tersebut. Jika terdapat dekorasi-dekorasi totemik, hal ini berarti bahwa totem bukanlah sekedar nama atau lambang saja, totem-totem tersebut digunakan dalam upacara-upacara religius sehingga totem itu kemudian memiliki lebel kolektif dan sekaligus memiliki karakter religius.

Segala sesuatu yang diklasifikasikan sebagai yang Sakral dan yang Profan akan merujuk kepada totem tersebut. Tumbuhan atau binatang yang sering dipakai sebagai totem berdasarkan objek yang riil, keprofanan tumbuhan dan binatang terletak pada fungsinya.

Pada tahapan seseorang menggunakan tumbuhan atau binatang sebagai totemnya, keidentikan dalam nama juga menandakan keidentikan dalam hakikat. Bagi masyarakat primitif, nama bukan hanya sebuah kata namun nama menjadi sebuah being dan dia adalah bagian yang sangat esensial.

Totemisme individual muncul setelah totemisme marga, dan pada kenyataannya totemisme turun dari hal itu. Totemisme menempatkan representasi-representasi figuratif totem pada posisi tertinggi dari segala hal yang dianggap sakral, selanjutnya disusul oleh tumbuhan dan binatang.

Perasaan yang muncul lahir dari kesadaran orang yang percaya dan yang membentuk kesakralan, hal-hal tersebut hanya bisa muncul dari satu prinsip yang samasama yang dipegang yaitu lambang-lambang totemik, anggota marga, dan tumbuhan atau binatang tertentu yang dijadikan totemik. Prinsip inilah yang kemudian menjadi titik tuju pemujaan. Totem adalah sumber kehidupan moral dari sebuah marga.