Apa yang dimaksud Building Information Modeling?

Apa yang dimaksud  Building Information Modeling?

Building Information Modeling atau BIM merupakan sebuah proses yang dapat merepresentasikan informasi fisik dan karakteristik suatu proyek bangunan (National Institute of Building Sciences, 2015).

Apa yang dimaksud Building Information Modeling?

Building Information Modeling atau BIM adalah proses yang melibatkan generasi dan manajemen dari sebuah representasi karakteristik fisik dan fungsional suatu fasilitas digital, Prosesnya harus diintegrasikan ke dalam sistem manajemen proyek perusahaan untuk manajer proyek agar dapat memahami implikasi BIM dan secara efektif membuat rencana proyek yang mengalokasikan sumber daya dan jangka waktu yang tepat, dan mengkomunikasikan tugas dan tanggung jawab yang sesuai ( The American Institute of Architects , 2014).

Dalam pedoman rencana kerja BIM mendefinisikan Building Information Modeling (BIM) adalah proses yang berfokus pada pengembangan, penggunaan dan pemindahan model informasi digital dari sebuah proyek bangunan untuk meningkatkan disain, konstruksi dan operasi proyek atau fasilitas ( The Pennsylvania State University , 2010).

Tujuan Penerapan BIM

Tujuan dari penerapan proses BIM dalam dunia AEC ( Architectural, Engeneering, and Construction ) dapat dilihat dari tingkat kematangan penggunaan proses BIM. Tujuan dari penerpan BIM ini pada akhirnya adalah untuk membentuk sebuah proses life cycle information yang mana karakteristik fisik dan fungsi dalam sebuah perancangan dapat bermanfaat dan diteruskan hingga pada facility management bahkan dapat bermanfaat untuk keputusan perancangan yang selanjutnya baik itu untuk renovasi maupun penghancuran.

Dampak BIM pada Manajemen Proyek Perancangan

Menurut ( Royal Institution of Chartered Surveyors , 2017) Karena implementasi BIM dalam sebuah proyek menjadi lebih luas, basis pengetahuan standar manajemen proyek perlu diperbarui lebih jauh.

Sedangkan menurut ( The American Institute of Architects , 2014) terdapat dampak penerapan proses BIM terhadap perancangan yang mempengaruhi manajemen proyek perancangan, dampak tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Dampak Terhadap Team
    Menurut (The American Institute of Architects, 2014) Perancangan berbasis BIM tidak berarti semua anggota tim berada pada tingkat kematangan BIM yang sama. Sebuah perancangan dapat terdiri dari beberapa orang yang menerapkan BIM atau tidak namun didalam perancangan yang menerapkan proses BIM terdapat peran baru yaitu BIM Manager, The Model Manager (BIM Cordinator), The Modeler (BIM Modeler).

  2. Dampak Terhadap Perancangan dan Penyusunan Dokumen
    Perancangan menggunakan proses BIM memberikan alternatif alat perancangan selain 2D digital maupun hand drawing. Perancangan menggunakan proses BIM dapat mendeskripsikan informasi secara 3 dimensional seperti volume, proporsi, visual hingga penerapan analisis energy. Selain itu prosentasi kerja pada skematik dan tahapan development lebih tinggi. Berikut gambar dibawah ini menjelaskan tentang komparasi antara penggunan Traditional Design Process dan BIM Design Process Terhadap upaya tim perancangan.

  3. Dampak Terhadap Kontrak
    Persyaratan BIM juga harus dimasukkan ke dalam perjanjian konsultan, subkontraktor dan vendor. Dengan memiliki persyaratan BIM dalam kontrak, memastikan bahwa semua anggota tim secara hukum harus menyelesaikan pelaksanaan sesuai rencana (The Pennsylvania State University, 2010).

  4. Distribusi Biaya
    Dengan penerapan proses BIM, prosentasi kerja pada tahapan awal lebih tinggi, sehingga biaya pada pada tahapan dokumen konstruksi seharusnya dialihkan ke tahapan skematik dan pengembangan desain.

BIM Execution Plan

  1. Menentukan Tujan dan penggunaan BIM
    Tahap pertama pengembangan proyek berbasis BIM adalah menentukan tujuan dan pengunaan BIM untuk memberikan gambaran kepada tim dan BIM Manager tentang tantangan dan peluang saat ini yang dihadapi oleh tim dan untuk mengidentifikasi penggunaan BIM yang paling tepat untuk sebuah proyek mengingat karakteristik proyek, tujuan dan kemampuan peserta, dan alokasi risiko yang berbeda (The Pennsylvania State University, 2010).

    image

    Diagram diatas merupakan Tahapan dalam menentukan tujuan penerapan BIM. Yaitu Menentukan Penggunaan BIM, Memprediksikan Tingkat Pemanfaatan BIM, dan BIM Use Selection.

    • Menentukan Penggunaan BIM , pada tahapan ini tujuan dari pengembangan sebuah proyek dideskripsikan dan dikonversi kedalam Potential BIM Use . Berikut gambar dibawah ini merupakan contoh table dalam menentukan penggunaan BIM.

    • Memprediksikan Tingkat Pemanfaatan BIM pada tahapan ini merupakan tahap penentuan tingkat penerapan BIM sehingga perlu memahami tentang sikluas penerapan BIM.

    • BIM Use Selection . BIM Use Selection Worksheet telah di kembangkan Untuk membantu memfasilitasi proses peninjauan BIM Use , dan mengidentifikasi nilai untuk masing-masing penggunaan BIM karena secara khusus berkaitan dengan proyek dengan memberikan tingkat prioritas Tinggi, Menengah atau Rendah untuk setiap penggunaan.

  2. Merancang Project Execution Process
    Tahapan yang dilakukan dalam perancangan BIM Execution Plan adalah membuat Pemetaan Project Execution Process . Map dibuat dengan 2 skala, yang pertama yaitu BIM Overview Map yang berisi tahapan-tahapan dan information exchange yang dibutuhkan secara garis besar sedangkan yang kedua merupakan pengembangan BIM Overview Maps ketingkat yang lebih detail yang berisi tahapan dan alur kerja untuk menghasilkan data information exchange.

  3. Pengembangan Standart Informasi (pemodelan)
    Standar informasi dibutuhkan untuk pengembangan model hal ini bermanfaat sebagai Salah satu standart mengatur komunikasi gambar dengan Bahasa yang sama.

  4. Menetapkan Infrastruktur yang Mendukung Penerapan BIM
    Langkah terakhir dalam Prosedur BIM Execution Plan adalah untuk mengidentifikasi dan menentukan infrastruktur proyek yang dibutuhkan untuk menerapkan proses BIM secara efektif sesuai rencana.