Apa yang di Maksud Kerawanan Pangan? dan Apa Indikator bahwa Rumah Tangga/ Individu Mengalami Kerawanan Pangan?

Apa yang di Maksud Kerawanan Pangan? dan Apa Indikator bahwa Rumah Tangga/ Individu Mengalami Kerawanan Pangan?

1 Like

Rawan Pangan adalah suatu kondisi ketidakmampuan untuk memperoleh pangan yang cukup dan sesuai untuk hidup sehat serta untuk beraktivitas baik untuk sementara waktu ataupun dalam jangka waktu yang panjang.

Indikator atau tanda-tanda rumah tangga/ individu mengalami kerawanan pangan dibagi menjadi 3:

  1. Indikator pada kelompok pertama (berhubungan dengan gejala kekurangan produksi dan cadangan pangan pada suatu tempat):
    -Terjadi eksplosi hama dan penyakit pada tanaman
    -Terjadi bencana alam
    -Terjadi kegagalan tanam dan panen pada tanaman pangan
    -Adanya penerunan ketersediaan bahan pangan

  2. Indikator rawan pangan pada kelompo kedua (akibat kurang gizi dan gangguan kesehatan)
    -Bentuk tubuh individu kurus
    -Adanya penderita kurang kalori protein dan kurang makan
    -Terjadi peningkatan jumlah orang yang sakit pada Balai Kesehatan Puskesmas
    -Peningkatakn kematian bayi dan balita
    -Angka keliharan yang meningkat dengan angka berat badan di bawah standar

  3. Indikator rawan pangan pada kelompok yang ketiga (berhubungan dengan masalah ekonomi):
    -Meningkatkan kriminalitas
    -Peningkatan jumlah ternak dan peralatan produksi
    -Bahan pangan yang kurang

Refrensi:
Penanganan rawan pangan. https://bulelengkab.go.id/assets/instansikab/123/bankdata/penanganan-rawan-pangan-31.pdf

Kerawanan pangan dapat diartikan kondisi suatu daerah, masyarakat atau rumah tangga yang tingkat ketersediaan dan keamanan pangannya tidak cukup untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan sebagian besar masyarakat keadaan rawan pangan dapat dilihat kondisi pada daerah atau wilayah atau rumah tangga yang terganggu ketersediaan pangannya, dan kondisi lain pada masyarakat atau keluarga yang terganggu kemampuan akses terhadap pangan.

Kerawanan pangan dapat dilihat dari sisi produksi, konsumsi dan distribusi. Aspek produksi rawan pangan adalah kemampuan menghasilkan tidak seimbang dengan pemenuhan kebutuhan. Disini hanya dilihat sisi kemampuanproduksi bukan sisi ketersediaan, karena ketersediaan dapat dipenuhi dari adanya pasokan antar wilayah. Aspek konsumsi adalah ketidakmampuan membeli pangan karena tidak ada daya beli atau masyarakat miskin. Aspek distribusi adalah ketidakseimbangan supply memebuhi demand sehingga terjadi kelangkaan pangan pada suatu tempat, waktu, jumlah, dan harga yang memadai. Bahan pangan tidak hanya beras sebagai seumber pangan utama bagi konsumen, tetapi berbagai sumber pangan, yang meliputi diversifikasi pangan sesuai dengan kebiasaan atau budaya masyarakat setempat.

Berdasarkan kondisi kerawanan pangan yang terjadi, maka penetapan kebijakan penanganan rawan pangan dapat dimulai dengan melakukan identifikasi dengan menggunakan instrument yang ada atau yang disepakati secara terkoordinasi di daerah, terhadap kondisi yang melatar belakangi terjadinya rawan pangan. Kelembagaan di daerah untuk menangani kasus rawan pangan merupakan ujung tombak, karena sebenarnya daerah yang lebih dahulu tahu dan mengerti persis penyebab munculnya masalah rawan pangan serta tindakan pencegahan dan penanggulangan yang diperlukan.

Menyangkut kelestarian produksi pangan, mau tidak mau suatu daerah juga harus memiliki wilayah-wilayah pendukung, seperti areal hutan sebagai sumber air. Bila suatu wilayah tidak memiliki wilayah hutan, menjadi pertanyaan bagaimana wilayah itu akan tetap surplus pangan karena tidak ada sumber air yang memadai. Tiadanya areal hutan menjadi sumber kerentanan pangan masa yang akan datang.

Referensi

Sumarsono, H., Nasikh, dan Siti, M. 2017. Indegenous Ekonomi Pembangunan Daerah. Malang : Gunung Samudera